Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Paranoia Dalam Dialog Kepasrahan

Paranoia Dalam Dialog Kepasrahan

Tuhan…
Aku…
Aku takut…
Aku ketakutan…
Takut apa?
Banyak.
Salah satunya jatuh…
Apalagi jatuh cinta…
Jatuh cinta?
Iya.
Kenapa?
Jatuh bukannya selalu sakit, ya?
Ah, masa?
Iya.
Ah, tidak juga.
Masa??
Ah, kamu ternyata masih sama,
padahal sudah dewasa.
Tapi, orang dewasa ‘kan, juga bisa terluka.
Memang iya. Terus kamu mau apa?
Aku tetap ingin cinta…
Lha?
…tapi tanpa perlu jatuh segala. Bisa nggak, ya?
Bisa, bisa saja.
Bagaimana?
Bagaimana apanya?
Bagaimana caranya?
Kita harus sering-sering mengobrol kayak begini,
nanti biar Aku yang kasih Solusi.
Bagaimana?
Oke.

R.

(Jakarta, 30 September 2015 – 21:45)

 

 

Categories
#catatan-harian #menulis

Tentang Perempuan Lajang yang Bekerja dan yang Menikah

Tentang Perempuan Lajang yang Bekerja dan yang Menikah

Sepanjang sisa September kemarin sempat ramai soal ini di media sosial. Singkat cerita, semua gara-gara meme bergambar seorang perempuan yang inti dialognya adalah merasa lelah bekerja dan ingin menikah saja.

Jujur, saya bacanya juga lelah. Belum lagi dengan ragam komentar yang entah kenapa langsung mengaminkannya begitu saja. Sungguh benar-benar bikin geleng-geleng kepala.

Apakah saya anti pernikahan? Eits, jangan langsung asal menuduh. Saya hanya anti kalau pernikahan dipakai buat ajang pamer status sosial. “Lihat, gue udah laku, nih.” Biasa banget, ‘kan? Sampai mereka tidak sadar kalau tengah merendahkan diri sendiri. Lha, istilah ‘laku’ bukannya buat barang jualan, ya? Mereka ‘kan, manusia.

Saya juga anti kalau pernikahan hanya dipakai sebagai solusi kilat masalah ekonomi atau sekadar membunuh sepi. Yang lebih populer lagi di sini, banyak yang buru-buru menikah hanya gara-gara takut tidak bisa menahan diri dari godaan zina. Hiii…

Sudah paham, ya? Jadi, jangan ada lagi yang asal menuduh.

Untungnya, masih banyak yang waras menanggapi meme dengan pesan ajaib itu. Saya sendiri juga gregetan, karena masalah-masalah cetek yang ditulis di meme tersebut sebenarnya masih punya solusi lebih logis lain daripada sekadar “melepas masa lajang”:

  1. Bokek?

Ya, jangan ke mana-mana sama beli apa-apa dulu. Belajar lebih hemat lain kali. Jangan jadi perempuan yang tahunya hanya berbelanja dan menghabiskan uang, karena dunia ini serba salah. Kita akan selalu diejek dan direndahkan. Mendingan disangka sombong karena sudah bisa menghasilkan uang sendiri daripada tergantung terus sama orang lain.

Padahal bekerja dan berkarya itu suatu keniscayaan semua manusia bukan, apa pun jenis kelaminnya? Heran deh, orang-orang.

  1. Lelah bekerja?

Ya, ampun. Ngapain pakai drama segala? Tinggal istirahat di rumah. Tidur atau leha-leha barang sebentar. Belanja atau ke salon buat refreshing. Main sama binatang peliharaan kalau punya. Baca komik atau nonton film lucu. Ambil cuti buat liburan. Travelling ke tempat kesukaan.

Sudahlah. Jangan meracuni otak perempuan Indonesia agar malah jadi lemah, manja, dan mata duitan. Setahu saya sih, menikah itu buat ibadah. Lagipula, lajang atau menikah, perempuan sama-sama wajib berkontribusi buat masyarakat. Bekerja dan menikah capeknya juga beda. Ya, tidak mungkin bisa dibandingkan.

Kerja ‘kan, lazimnya minimal delapan jam sehari. Kalau pun ada lemburan, biasanya ada gaji tambahan dan belum tentu sering-sering juga. Pulang tinggal istirahat, tiap bulan digaji pula. Kalau bos bikin stres dan memang sudah tidak kuat lagi, ya tinggal cari pekerjaan lain sebelum resign.

Namanya juga perjuangan. Mana ada leha-leha doang? Kalau mau mendapatkan sesuatu yang berguna (dan nggak cuman uang), pastilah ada capeknya.

Begitu pula dengan menikah. Kata siapa nggak ada capeknya? Hidup bukan cerita dongeng. Meskipun mendapatkan jodoh yang tajir melintir, bagaimana kalau ternyata dia laki-laki yang pelit? Bagaimana kalau ternyata dia abusive, nggak pernah peduli maunya Anda, ternyata tukang selingkuh, dan buntutnya meninggalkan Anda juga?

“Ih, mikirnya jelek-jelek amat deh, soal pernikahan.”

Tuh, ‘kan? Padahal saya hanya bicara kemungkinan dan kenyataan. Bayangkan perempuan dengan pola pikir demikian menikah. Yang ada malah gampang berantem sama suaminya saat suaminya lagi nggak punya uang banyak. Buntutnya? Perempuan juga yang disalahkan karena mata duitan dan kurang pengertian. Susah, ya?

Mau menikah, wis monggo. Tapi, pastikan alasannya tepat dan Anda (dan si dia, siapa pun orangnya yang sudah memilih dan dipilih Anda) sudah benar-benar siap lahir dan batin.

Yang pasti, tidak perlu menakut-nakuti yang masih lajang dan bersenang-senang juga. Masih ada cara lain yang lebih cerdas, bukan?

R.

 

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Geram

Geram

Aku sangat membenci kalian

wahai, lelaki yang suka permainkan

hati dan pikiran perempuan

lalu menghina mereka baperan

demi kabur dari pertanggung jawaban.

 

Benci, benci sekali

Kadang ingin kalian mati

demi rasa aman kami

hidup di dunia ini

Kadang enggan peduli dengan sepi

 

Lalu, argumen itu lagi:

“Halooo, tidak semua laki-lakiii!”

Aku butuh bukti

bukan retorika basi

dan semua pemakluman yang memuakkan sekali:

 

“Namanya juga laki-laki.”

Mau sampai kapan nalar pincang begini?

Sesama manusia, tapi seperti tidak punya hati

mendewakan napsu hewani

Kenapa harus menunggu punya saudari, istri, atau putri?

 

Sialnya, masyarakat ini masih membela kalian

lalu menyalahkan korban

yang begitu mudah ‘termakan’

Berkat macam kalian,

kami harus selalu waspada

 

Jangan berani bawa-bawa cinta

Jangan lancang mengumbar kata sayang

bila bagimu, kami hanya mainan

atau sekadar menghangatkan ranjang

lalu dengan kejam, kalian tinggalkan

seperti sampah yang dibuang

 

Tahu dirilah,

sebelum menuntut perawan di pelaminan

Berkacalah,

untuk melihat penyebab terbesar kerusakan

 

Ya, kalian.

Sayang, tetap kami yang disebut “MURAHAN”!

 

R.

 

 

Categories
#catatan-harian #lomba #menulis #tips

Yuk, Aktif Jadi Pendonor Darah untuk #AksiSehatCeria

“Yuk, Aktif Jadi Pendonor Darah untuk #AksiSehatCeria”

Semua pasti sudah tahu, kesehatan adalah anugerah tak terhingga. Bila termasuk yang bugar dan tahu cara menjaga kesehatan, pasti lebih mudah melakukan #AksiSehatCeria. Sebagai rasa syukur atas kesehatan tubuh, boleh dong, berbagi dengan sesama. Tidak perlu uang, bisa juga dengan donor darah.

Sumber: biologimu.com

Nah, apa saja manfaat donor darah? Anda yang bergolongan darah O (universal) adalah pendonor yang paling dibutuhkan, terutama dalam kondisi darurat. Bayangkan banyaknya orang yang dapat tertolong, bahkan yang berbeda golongan darah.

Beberapa manfaatnya pasti sudah Anda ketahui bila sudah rajin melakukannya, yaitu:

  1. Mengurangi kadar zat besi dalam darah dan menyelamatkan kesehatan jantung Anda.

Kelebihan zat besi dalam darah sangat berbahaya bagi jantung, karena menyebabkan kardiovaskular. Jangan sampai Anda mendadak terkena serangan jantung atau stroke, hanya karena jarang – atau malah tidak pernah – menjadi pendonor darah.

  1. Tidak hanya jantung yang selamat, hati pun juga.

Zat besi yang berlebih di dalam darah tidak hanya membahayakan jantung. Organ lain yang terancam olehnya adalah hati. Karena hati berfungsi menetralisir racun, jangan sampai hati teracuni oleh banyaknya zat besi di dalam darah.

  1. Menambah pasokan sel darah merah.

Mungkin sewaktu kecil ada yang pernah takut kehabisan darah hanya gara-gara menjadi pendonor. Padahal, yang terjadi justru sebaliknya. Ibarat daur ulang, darah yang didonorkan akan langsung diganti dengan yang baru berkat fungsi sumsum tulang belakang.

  1. Sebagai program diet yang aman.

Percaya atau tidak, menjadi pendonor darah juga dapat membantu menurunkan berat badan. Yang pasti, bukan berarti Anda harus menguras darah lebih banyak lagi, ya. Cukup 450 ml saja dan 650 kalori sudah bisa dibakar. Ini setara dengan usaha merampingkan pinggang dengan olahraga biasa.

  1. Merasa lebih positif dan bahagia karena bisa membantu sesama.

Beramal tidak melulu dikaitkan dengan uang. Bahkan, manula yang masih rajin jadi pendonor darah (ini dengan catatan kondisi tubuh mereka masih memungkinkan, ya) mengaku merasa lebih sehat, bugar, dan bahagia. Positif sekali, bukan?

  1. Hitung-hitung sekalian tes kesehatan gratis.

Ini berlaku bagi yang suka lupa untuk melakukan medical checkup. Saat mau mendonor darah, sebelumnya Anda akan dites kesehatan dulu. Tes ini untuk menentukan kelayakan kondisi fisik Anda sebagai pendonor darah.

Jika belum sempat melakukan medical checkup, ini dia manfaat donor darah untuk Anda. Anda bisa sekalian memeriksakan diri, terutama mulai dari: nadi, tekanan darah, suhu tubuh, hingga kadar Hb atau Hemoglobin.

Semoga setelah dicek, Anda tidak menemukan beberapa virus penyebab penyakit membahayakan, termasuk: Hepatitis B dan C, HIV, sifilis, dan masih banyak lagi. Bila sampai ada, sayangnya Anda sudah tidak boleh mendonorkan darah lagi.

  1. Menurunkan risiko kanker.

Bagi yang rajin menjadi pendonor darah, Anda bisa sekalian mencegah sel-sel kanker agar tidak berkembang di dalam tubuh.

Lalu, bagaimana cara menjadi pendonor darah yang baik?

Yang pasti, jangan sampai kurang tidur sebelum mendonorkan darah. Sebagai pemilik golongan darah O (universal), saya suka sedih saat ditolak menjadi pendonor hanya gara-gara kurang tidur. Selain itu, perbanyak minuman air putih dan makanan sehat (jangan yang berlemak seperti menu cepat saji dan es krim).

Menu seperti daging merah dan sayuran yang kaya akan zat besi sangat penting bagi pendonor darah.

Khusus perempuan usia produktif dan subur: pastikan tidak sedang datang bulan, karena termasuk yang dilarang untuk mendonorkan darah. Jika sudah selesai, beri jeda minimal seminggu sebelum boleh menjadi pendonor darah.

Jangan lupa, pakailah baju yang lengannya mudah digulung untuk mempermudah proses pendonoran darah.

Selesai mendonorkan darah, bangunlah ke posisi duduk pelan-pelan. Jangan langsung memaksakan diri bila merasa pusing atau mual. Tunggulah lima jam sebelum melepas perban. Angkat lengan lebih tinggi bila darah masih keluar dan tekan sampai pendarahan berhenti.

Kompres es selama 24 jam setelah perban dibuka dapat mengurangi nyeri pada luka terbuka. Bila masih nyeri, ganti dengan kompres air hangat.

Tuh, manfaat donor darah ternyata banyak, lho. Ingin melakukan #AksiSehatCeria lainnya? Cek saja DokterSehat untuk inspirasi Anda.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Balasan yang Lamban

Balasan yang Lamban

Silakan tinggalkan pesan di teleponku

Mungkin nanti akan kubalas,

segera setelah tak terlalu sendu.

Kirimkan pesan untukku,

namun takutnya akan kubalas tanpa gegas.

Malam ini,

aku hanya ingin bersua dengan diri sendiri.

 

Silakan email bila mau,

tapi maaf kau harus menunggu.

Malam ini, aku sedang malas berpikir.

Bagaimana bila kita serahkan semua pada Sang Pencipta Takdir?

Hanya untuk malam ini?

 

Boleh, ya?

 

R.

(Jakarta, 20 November 2015 – 22:45)

 

Categories
#catatan-harian #menulis

Pemerkosaan Bukan Bahan Bercandaan!

Pemerkosaan Bukan Bahan Bercandaan!

Satu malam, saya pergi ke sebuah warung indomie dan roti bakar. Saat itu memang sedang cukup ramai, sehingga butuh waktu agak lama untuk mendapatkan roti bakar cokelat favorit saya.

Malam itu, saya duduk di antara dua pengunjung yang kebetulan sama-sama menjengkelkan. Lelaki besar di samping kanan saya merokok sambil bercanda dengan teman-teman se-gengnya. Tidak masalah sih, namun nggak perlulah sampai harus heboh menggebrak-gebrak meja beberapa kali.

Sialnya, lelaki itu tidak peduli saat saya meliriknya dengan tatapan sinis, sambil berusaha memastikan teh hangat saya tidak tumpah oleh ulahnya. Apalagi, kaki mejanya juga sudah agak reyot. Dasar sial, lelaki itu malah balas melirik saya dengan ekspresi terganggu. Huh!

Awalnya, saya kira perempuan di samping saya masih mendingan. Namun, telinga saya langsung sakit seketika saat dia bercanda dengan teman lelakinya yang duduk pas di depannya. Sepertinya mereka sedang membahas teman mereka yang juga seorang lelaki, hingga tahu-tahu perempuan itu mencela dan menakut-nakuti sambil tertawa:

“Jangan mau dateng sendirian ke rumah cowok itu kalo diundang. Ntar diperkosa, lho!”

Entah apa mereka sedang mengejek teman lelaki mereka yang mungkin termasuk kategori LGBT. Yang pasti, saat itu juga saya gatal ingin langsung menegur:

“Pemerkosaan bukan bahan bercandaan, Mbak!”

Sayangnya, saya bukan orang yang mudah mau ribut sama orang yang nggak dikenal, bahkan meskipun saya yakin saya benar. Dengan miris saya harus menerima, bahwa masih banyak sekali manusia Indonesia yang nggak peka. Nggak lelaki maupun perempuan. Masih banyak yang berasumsi bahwa korban pemerkosaan pasti HANYA perempuan.

Kalau sampai lelaki jadi korban pemerkosaan, pasti gara-gara LGBT. Pasti gara-gara lelakinya lemah sehingga tidak bisa melawan.

Pokoknya, di benak mereka, motif pemerkosaan pasti dan selalu seksual. Padahal, jelas-jelas karena relasi kuasa.

Saya harap banyak yang mau lebih membuka mata, hati, dan berempati. Bukan, bukan meminta untuk mengasihani mereka, seolah-olah mereka sudah tidak berharga lagi.

Cobalah mendengarkan cerita mereka tanpa interupsi. Kurangi menghakimi. Apa pun yang pernah mereka alami, mereka masih manusia berharga yang berhak untuk hidup bahagia.

Tidak ada yang minta diperkosa. Tidak ada yang lucu juga dari tindakan kekerasan, tak terkecuali secara seksual. Bayangkan Anda dipaksa melakukan sesuatu oleh orang lain dengan ancaman dan hinaan, hanya karena mereka merasa bisa dan berkuasa.

Bayangkan tubuh, jiwa, pikiran, dan perasaan Anda dijajah dan disakiti sedemikian rupa, hanya demi kesenangan mereka. Bayangkan perjuangan mereka untuk merebut hidup kembali. Transisi dari merasa jijik, kotor, malu, dan bersalah – menuju benci dan amarah – hingga usaha berdamai dengan diri sendiri.

Tidak bisa atau tidak mau membayangkan? Ya, sudah. Saya juga tidak mau memaksa. Namun, jadilah manusia yang baik dengan tidak lagi menertawakan penderitaan sesama. Sekali lagi, jangan jadikan pemerkosaan, pelecehan seksual, dan isu kekerasan lainnya sebagai bahan bercandaan.

Buat yang berprofesi sebagai komedian, semoga bisa mencari topik yang lebih cerdas dan tidak menyakiti perasaan sesama, ya. Saya tahu, profesi Anda harus selalu punya bahan bercandaan yang up-to-date atau sebisa mungkin lebih kekinian.

Kalau sudah kehabisan bahan, mungkin bisa beralih profesi. Pasti juga sudah pada tahu ‘kan, pepatah ini?

“Diam saja bila tidak yakin bisa berbicara yang baik.”

Masa perlu menunggu jadi korban dulu supaya tahu? Saya yakin Anda tidak ada yang mau.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Usai untuk yang (Sudah) Usang

Usai untuk yang (Sudah) Usang

Kita sudah lama tiba

di halaman terakhir kisah yang sama

Kau ingin kembali membaca

sementara aku sudah hapal di luar kepala

 

Yakin ingin mengulang yang sudah pasti?

Ah, kau begitu cinta ilusi

sementara aku bosan dan muak setengah mati

dengan egomu yang rapuh sekali

 

Aku ingin usai

Sudah lama kisah ini usang

Tiada sisa lagi

Hanya kemuakan

 

Masih banyak perempuan

yang siap menghangatkan

ranjang yang bagimu selalu dingin

bukan aku, meski kau ingin

Jangan terus meminta seperti orang sinting

 

Kita sudah lama usai

Mengapa kau ingin meneruskan lagi?

Tidak bila maumu sendiri

dari dulu hingga kini

tidak pernah pasti…

 

R.

 

 

Categories
#catatan-harian #menulis

5 Keuntungan Jadi Tukang Nyinyir

5 Keuntungan Jadi Tukang Nyinyir

Hah, untung di mananya? Bukankah tukang nyinyir itu lebih banyak menuai masalah, ya? Percaya atau tidak, ternyata beneran ada keuntungan bagi orang yang hobi mengomentari segala sesuatu atau setiap orang dengan pedas. Bisa sampai lima (5) lagi. Serius.

Nah, inilah lima (5) keuntungan jadi tukang nyinyir:

  1. Lebih kreatif dalam menyentil pihak tertentu yang enggan menerima ‘kebenaran pahit’ dari Anda.

Mungkin ini salah satu hal yang paling dipercaya mereka yang masuk ke dalam kategori ini. Mereka yakin peran mereka di dunia ini adalah menyampaikan kejujuran, sepahit apa pun itu. Kalau sudah bicara baik-baik namun yang bersangkutan tidak terima, mereka masih punya cara lain.

Hasilnya? Bisa jadi yang disindir makin tidak terima dan melawan. Namun, jangan-jangan yang hobi nyinyir memang tidak berani terus terang sama yang mereka mau sindir. Hmm…

  1. Berbagi pahala. (Semoga, ya.)

Wah, karena saya bukan orang yang tepat untuk berasumsi soal pahala dan dosa, makanya saya tambahkan selipan “Semoga, ya” di atas. Hehehe.

Hmm, mungkin beberapa pihak yang masih berbaik hati “mengingatkan” si tukang nyinyir termasuk yang bisa mendapatkan pahala. (Mungkin lho, ya.)

“Udah, nggak usah terlalu ngurusin orang lain. Toh, udah pada gede dan tau konsekuensi tindakan sendiri.”

“Mbok ya, mulai kurang-kurangin dong, ghibah-nya. Apalagi di medsos. Emang situ udah sempurna apa?”

“Kalo nggak suka ‘kan bisa ngomong langsung baik-baik, nggak usah nyinyir kayak gini?”

Lalu, bagaimana dengan si tukang nyinyir sendiri? Dapat pahala juga nggak, ya? Wah, kalau itu jangan tanya saya. Bilang saya ‘semoga’, bila niatnya memang hanya ingin menyampaikan kebenaran pahit, meski caranya asli julid bikin perut melilit.

Gambar: https://unsplash.com/photos/RdmLSJR-tq8
  1. Minimal paham sedikit job desc-nya Malaikat Atid (pencatat amal buruk alias dosa).

Yah, meskipun dalam hal ini, fokusnya masih lebih banyak ke dosa-dosa yang dilakukan orang lain. Dosa-dosa sendiri? Mana sempat, hihihihi…

  1. Lebih cepat mendapatkan perhatian (terutama dari pihak yang tersindir).

Semua yang punya hobi nyinyir – terutama di media sosial – pasti sudah hapal risiko ini. Sama seperti skandal atau tragedi, topik sindiran pasti langsung mendapatkan perhatian. Ragam reaksi pasti juga ada, banyak malah.

Yang pasti, terutama dari pihak yang merasa tersindir. Sisanya paling hanya mereka yang cari hiburan gratis sekaligus baru belajar realita hidup. (Jiahh, bahasanya!) Ya, ibarat saksi-saksi mata namun juga bisu (kecuali bila mereka sedang bergosip dengan sesamanya soal topik sindiran si tukang nyinyir.)

  1. Kedua belah pihak berada pada posisi ‘cukup sama-sama tahu’.

Menurut tukang nyinyir, minimal sudah ketahuan mana yang keras kepala dan mana yang baperan. Menurut pihak yang tersindir (apalagi sampai berkali-kali), lain kali mereka tidak perlu terlalu banyak bercerita pada yang suka nyinyir. Bahkan, kalau perlu tidak usah bercerita apa-apa sekalian.

Nggak cerita apa-apa juga sama, tetap jadi bahan sindiran. (Kalau ini mah, sentimen akut namanya.)

Jadi, itulah lima (5) keuntungan jadi tukang nyinyir. Ada tambahan lain, mungkin?

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Lelahku Olehmu

Lelahku Olehmu

Silakan gantung harapmu

pada angan yang semu.

Jangan salahkan aku

bila semua berakhir pilu.

 

Tak perlu murka,

bila aku tak sempurna.

Memangnya kau siapa

berharap aku serba bisa?

 

Maaf, aku terlalu lelah.

Tak berarti aku telah menyerah.

Aku belum sudi mengaku kalah,

meski bagimu aku selalu salah.

 

Percayalah…

Hanya kepada Tuhan aku pasrah.

Bagiku, kau bukan segalanya.

Tanpamu pun, aku akan baik-baik saja.

 

R.

 

 

(Jakarta, 22 Maret 2014)

Categories
#catatan-harian #menulis

Budak Statistik Sosial

“Budak Statistik Sosial: Tentang Persepsi, Generalisasi, dan Stigmatisasi”

Statistik ada karena penelitian. Statistik dibuat oleh manusia. Mereka ada untuk mengidentifikasi masalah, menemukan solusi, dan menemukan fakta atau temuan ilmiah dan sosial.

Sebagai contoh: di Indonesia, lebih banyak mahasiswa di fakultas teknik, sedangkan mahasiswi sebagian besar di fakultas sastra. Kebanyakan perempuan menghabiskan lebih banyak waktu untuk berbelanja, sementara laki-laki hanya membeli yang mereka butuhkan.

Baik secara langsung atau tidak, statistik sosial seperti ini membentuk persepsi kita. Salah satunya termasuk lebih mudah percaya dengan suara mayoritas.

 

Generalisasi

Lalu apa yang membuat seseorang menjadi budak statistik sosial? Pertama-tama, tidak ada yang salah dengan meyakini statistik. Statistik tidak berbohong. Anggap saja sebagai petunjuk ketika Anda menghadapi subjek yang sama di lain waktu.

Sayangnya, beberapa orang cenderung menjadi budak statistik sosial. Salah satu gejalanya adalah betapa mudah bagi mereka untuk menyamaratakan semuanya.

Misalnya: Saya secara pribadi malu untuk mengakui bahwa ya, orang Indonesia telah dikenal sebagai ‘jam karet’. Mintalah mereka ketemuan pukul tujuh dan mereka mungkin akan muncul setidaknya 30 menit kemudian. Yang terburuk mungkin mereka yang datang dengan permintaan maaf ‘ala kadarnya’ atau tidak sama sekali. Hanya cengar-cengir tanda senewen.

Tidak heran ada yang kagum ketika saya datang tepat waktu atau lebih awal. Masih ada lebih banyak lagi.

Banyak yang agak kaget begitu tahu saya tidak suka memakai make-up dan belanja. Jika ingin melihat saya lebih ‘dandan’, tunggu saja sampai saya datang ke pernikahan. Saya juga hanya berbelanja sesuai kebutuhan. Rasanya percuma bicara ketika komentar paling umum yang saya dapatkan adalah:

“Kamu orang Indonesia yang aneh.”

“Elo aneh. Bukankah perempuan biasanya … “

Tuh, ‘kan?

 

Stigmatisasi

Apa yang salah dengan generalisasi? Tidak ada. Namanya juga reaksi manusia normal. Karena mengandalkan statistik dan yang biasanya kita lihat setiap hari, kita cenderung merasa lebih aman dengan cara itu. Setidaknya kita tahu sesuatu yang umum tentang orang berjenis kelamin ini atau ras itu, hewan dari spesies tertentu, produk yang terbuat dari bahan-bahan ini-itu, dan sebagainya.

Merasa kaget dan agak terkejut ketika tahu bahwa beberapa dari mereka mungkin sedikit berbeda juga normal. Berikut contoh lain berdasarkan pengalaman pribadi saya:

Beberapa lelaki Indonesia masih terkejut ketika tahu saya juga mendengarkan heavy metal. Langsung saya dicap ‘tomboy’. Seorang rekan lelaki saat itu bahkan seperti tidak terima sehingga sampai berkomentar begini:

“Lo ‘kan cewek. Harusnya dengerin grup-grup pop menye-menye, seperti boyband atau semacamnya. ”

Yah, saya juga mendengarkan musik seperti itu sih, namun bukan itu intinya. Siapa dia, mengatur-atur saya harus mendengarkan musik apa?

Menggeneralisir adalah reaksi spontan yang normal. Sayangnya, reaksi ini jadi tidak asyik begitu berubah menjadi stigmatisasi. Berdasarkan contoh sebelumnya, melihat sesuatu yang berbeda selalu membuat kita merasa tidak aman – bahkan cenderung mengancam bagi sebagian orang. Dunia terasa jauh lebih aman ketika semuanya berjalan sesuai dengan yang selalu kita tahu dan yakini. Bukannya yang tidak bisa ditebak.

“Kenapa cewek suka heavy metal? Bukankah itu terlalu keras untuk telinga sensitif mereka? ”

“Kenapa cowok tidak suka olahraga? Kamu cowok atau bukan, sih? ”

“Produk ini tidak apa-apa, kok. Kamu saja yang aneh sendiri. “

Sekadar mengingatkan, statistik sosial itu bikinan manusia. Yang membuat kita rentan jadi budak statistik sosial adalah ketika kita memilih untuk hanya peduli pada suara mayoritas. Mereka menjadi satu-satunya suara yang kita dengarkan dan percaya dengan sepenuh hati. Yang berbeda itu aneh. Harusnya mereka semua (setidaknya mencoba) menyesuaikan diri. Pengalaman pribadi mereka (dianggap) tidak relevan.

Di masyarakat, orang berbeda dan mampu berevolusi secara alami, bukan oleh tuntutan sosial. Akan selalu ada statistik sosial baru yang mungkin menyanggah statistik sosial sebelumnya. Siap-siap saja.

Bagaimanapun, kita tidak selalu tahu (dan memahami) segalanya.

 

R.