“POPMAMA.COM: Media Digital untuk Para Mama Generasi Milenial”
Belum jadi mama, tapi udah suka baca artikel tentang parenting, terutama buat para ibu? Kenapa enggak? Itulah yang saya lakukan, terutama demi kepentingan riset tulisan. Salah satunya, tentu saja, adalah membaca artikel konten dari media digital bernama PopMama.
Apa yang menarik dari media digital yang cocok untuk para mama generasi milenial ini? Yuk, kita ulik satu-persatu:
1.Desain website PopMama.
Meskipun tampil dengan konsep feminin dan lembut demi mendukung karakter sosok mama atau keibuan, nggak ada kesan kaku di sana. Malah sesuai dengan kata ‘pop’ yang diusung brand ini. Warnanya juga segar, jadi semakin enak dipandang.
Latar putihnya bikin tulisan artikel konten PopMama mudah dan enak dibaca. Bila ‘adik’-nya, PopBela, dikombinasikan dengan warna merah, maka PopMama pakai warna ungu yang lembut.
2.Konten-konten PopMama.
Menjadi mama pasti sibuk sekali. Bahkan untuk mama yang paling suka membaca sekali pun, meluangkan waktu untuk melirik barang satu-dua artikel saja mungkin sudah sulit. Nggak hanya si kecil, bahkan papa pun minta perhatian mama.
Karena itulah, konten-konten PopMama cocok sekali untuk dibaca Mama yang super sibuk. Ringkas, padat, dan tidak terlalu bertele-tele. Tiap artikel membahas topik seputar kebutuhan mama, entah dalam mengurus keluarga maupun merawat diri.
3.Desain hurufnya enak dilihat.
Berhubung nge-pop dan untuk para mama generasi milenial, PopMama juga perhatian sama desain hurufnya. Harus yang enak dilihat, biar mama nggak pusing bacanya. Apalagi bila harus berlama-lama menatap layar ponsel atau laptop Mama. Belum lagi bila mata Mama lelah karena bergadang menjaga si kecil yang sedang tidak enak badan.
Terus, apa lagi ya, yang seru dari PopMama?
4.Banyak artikel konten pilihan yang mewakili kebutuhan mama di PopMama.
Mama baru punya anak pertama dan jadi orang tua? Pastinya ada rasa deg-degan dong, ya. Jangan khawatir. Selain bisa tanya-tanya sama para mama lain yang sudah lebih berpengalaman, Mama juga bisa baca-baca artikel konten di PopMama.
Si kecil sedang sakit atau mogok makan? Ada juga tips cara menanganinya. Mama juga selalu diingatkan untuk tetap menjaga kesehatan tubuh dan merawat penampilan diri. Kalau bukan Mama, siapa lagi? Dengan tubuh sehat dan penampilan yang enak dilihat, Mama pasti lebih merasa nyaman dan makin bahagia dengan diri sendiri. Ingat, bila Mama happy, keluarga juga ikutan happy.
Ada juga kisah-kisah nyata tentang keluarga lain. Ada yang bahagia, ada yang bikin sedih. Nah, semoga kisah-kisah yang sedih tidak ikut bikin Mama sedih. Semoga Mama tidak perlu mengalami masalah yang sama dan tetap berbahagia dengan keluarga Mama.
Setelah itu, masih ada nggak ya, kelebihan PopMama lainnya? Oh, ternyata masih ada lagi, yaitu:
5.Tiga (3) fitur / tools andalan PopMama.
Apa sajakah ketiga (3) fitur atau tools tersebut?
Baby Names Finder buat Mama yang lagi mempersiapkan nama untuk calon bayi kecil Mama nanti.
Ovulation Calendar untuk membantu Mama mengecek perhitungan masa subur, terutama bila Mama ingin segera memiliki anak.
Due Date Calculator. Bingung menghitung masa kehamilan Mama, terutama yang baru pertama kali? Ada fitur ini yang dapat membantu Mama memperkirakan jadwal lahir si kecil. Tapi, jangan lupa cocokkan juga dengan perkiraan ahli ginekologi Mama, ya.
PopMama memang media digital sahabat untuk para mama generasi milenial.
“3 HAL YANG BIKIN ILFIL PEREMPUAN SAAT KENALAN LEWAT ONLINE DATING”
Oke, kemungkinan besar bakal ada yang kesinggung dengan tulisan ini. Gimana enggak? Selama ini, mungkin mereka menganggapnya biasa aja.
Sebagai perempuan lajang yang kadang menggunakan aplikasi online dating (masalah pilihan, nggak ada yang hina, kok!), saya bisa memahami rasa frustrasi seorang teman. Gimana enggak? Saya juga kadang mengalaminya. Ini dia tiga (3) hal yang bikin ilfil perempuan saat kenalan lewat online dating:
1.Mengandalkan sapaan standar “Salam kenal dariku, ya.”
“Memang apa yang salah, sih? Terus harusnya gimana?” Mungkin itu reaksi pertama Anda. Namun, coba perhatikan, deh. Setelah mengandalkan greeting template di atas, habis itu apa yang terjadi?
*krik krik*
Persis. Yang ada malah ‘mematikan’ kelanjutan percakapan. Habis ‘salam kenal’, terus apa? Berharap si dia langsung melanjutkan pembicaraan dan mengumbar cerita tentang dirinya? Sori, Anda nggak bisa berharap dia akan membaca pikiran Anda dan berinisiatif seketika. Apalagi bila Anda menulis pesan dengan gaya super alay seperti: “Lam knal daryq y.”
Duh, bisa nggak sih, nulis pesan kayak orang normal? Padahal udah nggak zaman SMS dengan batasan 140 karakter, lho.
Saran: Beneran tertarik sama si dia? Jangan setengah hati. Baca profilnya di akun baik-baik. Bisa kok, memulai obrolan dari situ.
Contoh: si dia ternyata menulis bahwa beberapa film yang sudah pernah dia tonton termasuk “The Avengers: Infinity War” dan “The Incredibles 2”. Awali saja percakapan dengan: “Kamu suka film superhero juga? Menurutmu bagusan DC apa Marvel?”
2. Kebanyakan basa-basi ‘remeh’ tapi ganggu.
Sumber: me.me
“Udah makan?”
“Baru pulang kantor?”
“Belum tidur?”
Okelah, niatnya baik, yaitu memberi perhatian. Bahkan, hal ini udah dianggap lumrah sama orang Indonesia.
Sayangnya, kebanyakan basa-basi remeh begitu lama-lama jadi terasa basi. Membosankan. Rasanya nggak beda dengan kayak dianggap anak kecil. Ya, kurang lebih kayak ortu yang hobi nanya-nanya interogatif gitu.
Kalo ortu sih, masih wajar, ya. Beda cerita kalo baru dalam hitungan hari kenalan, belum apa-apa udah sering berlaku sama. Hmm, nggak ada topik lain, ya? Mungkin saya terdengar kejam karena sejujur ini. Tapi, saya juga bukan tipe pengeluh tanpa kasih solusi.
Saran: Bolehlah sesekali berbasa-basi seperti itu. Namun, jangan sampai berlebihan, sehingga membuatnya merasa diperlakukan seperti anak kecil atau tahanan kota. Caranya? Mari kita lihat contoh di bawah ini:
Anda: “Sudah makan?”
Dia: “Sudah.”
Anda: “Barusan aku nyoba menu baru di (nama resto atau kafe). Udah pernah ke sana belum? Gimana kalo weekend berikutnya kita makan di sana?”
Tuh, lebih enak, ‘kan? Nggak hanya basa-basi remeh tanpa ujung jadinya.
3.Belum apa-apa udah nunjukin gejala posesif.
Sama kayak kenalan di dunia nyata, ssemua ada prosesnya. Nggak bisa diburu-buru, apalagi dipaksa.
Jujur, saya langsung ilfil seketika saat laki-laki yang baru saja saya kenal (entah lewat online dating atau dunia nyata) udah mulai menunjukkan gejala ‘haus perhatian’ alias posesif. Mulai dari menuntut agar saya segera membalas pesan WA-nya, mengeluhkan kesibukan saya, hingga kepo banget soal teman-teman saya yang kebetulan juga laki-laki.
Yang paling bikin saya murka – alias nggak hanya ilfil – adalah waktu seorang laki-laki dengan seenaknya menelepon ke rumah ortu saya…tiga kali sehari. Ya, betul. Serius, dari pagi, siang, hingga malam. Nggak beda sama jadwal makan dan minum obat.
Saya sampai kena tegur ibu saya yang merasa amat terganggu. Malunya bukan main. Mending telepon sering-sering karena urusan penting. Ini hanya ngajakin ngobrol ngalor-ngidul, padahal saya juga lagi banyak kerjaan…banget. Mana nggak sensitif lagi pas saya lagi kena radang tenggorokan dan diminta dokter istirahat ngomong sampai benar-benar sembuh.
“Kangen…pengen denger suara kamu…”
Astaga, creepy banget. Mungkin dia kira dia perhatian dan romantis banget. Padahal, saya malah curiga dia nggak punya kerjaan lain.
Akhirnya, saya meminta dengan tegas agar dia jangan pernah menelepon lagi. Benar-benar mengganggu. Memangnya orang nggak punya kegiatan?
Saran: Mentang-mentang online dating, jangan lantas berharap hasilnya bakalan instan. Bolehlah ingin lebih saling mengenal, tapi nggak usah buru-buru – apalagi sampai terlalu menggebu-gebu. Perlakukankah dia sebagai manusia atau individu dengan kehidupan sendiri, termasuk privasi yang harus Anda hargai.
Dengan kata lain, nggak usah grusa-grusu ala pemburu mengejar target. Jadinya malah rusuh dan nakutin, tahu?
Kalo ada chemistry dan sama-sama suka (serta keluarga pada suka juga), siapa tahu memang jodohnya. Kalo enggak, masih bisa jadi temen aja kalo mau. Nggak perlu maksa, apalagi sampai nyindir dan ngancem-ngancem segala. Nggak oke, ah.
Terus, tinggal cari yang lain lagi. Nggak usah terlalu ‘kemakan’ sama deadline bikinan sesama manusia mengenai kapan Anda harus menikah. Lha, ‘kan yang nentuin jodoh juga tetap Tuhan?
Sebagai perempuan yang gemar membaca dan menulis, artikel konten digital sudah jadi salah satu pilihan saya sehari-hari. Selain sebagai hiburan, saya juga tidak ingin ketinggalan info terkini yang berkaitan dengan kebutuhan perempuan. Salah satunya adalah gaya hidup, terutama bagi perempuan lajang. Karena itulah saya memilih membaca PopBela.
Apa yang menarik dari PopBela? Banyak. Yuk, kita cek satu-satu:
Desain website-nya rapi, bersih, dan sederhana. Latarnya putih, sehingga semua tulisan dapat terbaca dengan mudah dan jelas. Dengan kombinasi warna merah dan tulisan hitam, fiturnya juga nggak macem-macem.
2. Artikel konten yang ada sesuai dengan kebutuhan perempuan.
Sekilas, mungkin artikel konten yang ada mirip-mirip dengan media digital lain yang diperuntukkan bagi perempuan. Ada tentang kecantikan, rubrik gaya hidup, relationship, kesehatan…pokoknya semua yang dibutuhkan perempuan, deh.
Lalu apa bedanya? Bahasa yang digunakan juga ringan, namun tanpa terkesan alay. Meski masih menggunakan Bahasa Indonesia dengan EYD (Ejaan yang Disempurnakan), kata-kata yang dipilih tidak terkesan kaku. Makanya, saya betah membaca artikel konten PopBela sebanyak-banyaknya saat waktu luang.
3.Desain hurufnya enak dilihat.
Selain nggak terlalu besar atau terlalu kecil, bentuknya juga enak dipandang. Pokoknya, membaca artikel konten PopBela nggak perlu pake acara pusing, apalagi bila harus berlama-lama melototi layar ponsel atau laptop.
4.Banyak pilihan artikel konten yang mewakili berbagai tipe perempuan.
Jujur, saya bukan perempuan yang gemar membaca tips kecantikan. Selain cepat bosan, tidak semua tips kecantikan cocok diterapkan oleh semua perempuan. Ibaratnya, bila jenis kulit muka saya normal cenderung kering, pastinya saya nggak butuh kertas minyak dong, ya.
Salah satu fitur konten yang sering saya baca adalah ‘Rubrik Single’. Untungnya, isinya nggak melulu soal bagaimana mendapatkan pacar atau tips untuk terlihat lebih menarik di mata lawan jenis. Memangnya semua perempuan lajang selalu identik dengan kesepian, nggak bahagia, dan desperate ingin segera punya pacar?
Pada kenyataannya ya, nggak gitu-gitu amat, kok. Perempuan lajang juga tetap harus bahagia dan menikmati hidup. Masih ada keluarga, teman-teman, pekerjaan, hingga waktu luang lebih untuk menekuni hobi yang paling disukai.
Nah, udah terbukti banget ‘kan, kenapa semua perempuan Indonesia harus baca PopBela? Eh, tapi masih ada satu lagi deh, alasan media digital ini benar-benar sahabat yang baik bagi perempuan Indonesia.
5.Ada tujuh (7) pilar yang menjadi panduan isi PopBela.
Ketujuh (7) pilar tersebut adalah:
Kesetaraan gender.
Anti pelecehan seksual.
Anti perundungan /
Anti
Persatuan di antara perbedaan ras dan etnis.
Persatuan di antara perbedaan agama.
Redefinisi kecantikan.
Tuh, keren-keren banget ‘kan, pilarnya? Makanya, PopBela memang pas banget jadi bacaan ringan namun tetap menginspirasi bagi perempuan Indonesia. Terutama sih, bagi perempuan Indonesia yang peduli dengan Bhinneka Tunggal Ika, kesetaraan gender, hingga menghargai perbedaan – terutama untuk definisi kecantikan. Pastinya, semua perempuan di dunia ini cantik dengan versi masing-masing.
Itulah misi yang dibawakan oleh media digital bernama PopBela.
Ini bukan cerita horor maupun kasus pembunuhan, meskipun judulnya mungkin lumayan bikin Anda bergidik. Ini hanyalah satu dari sekian banyak kejadian tragis akibat minimnya pemahaman maupun penanganan masalah kesehatan mental.
Saya mendengar cerita ini dari Ibu saat pulang ke rumah liburan Lebaran kemarin:
Salah satu tetangga ada yang punya anggota keluarga dengan kebutuhan sangat khusus. Sebut saja A. Lelaki berusia di atas 40 tahun ini tidak hanya tuna rungu (tuli) dan tuna wicara (bisu), namun juga menderita gangguan mental. A tidak bekerja dan diurus oleh kedua kakaknya. Karena merasa malu dengan kondisinya, A sangat jarang keluar rumah.
Kedua kakak A sama-sama bekerja, bahkan kadang hingga larut malam. Seorang tetangga lain sering datang suka rela untuk memberi A makan sebelum pulang lagi sorenya.
Satu malam, kedua kakak sama-sama terkena lemburan dan belum pulang. Satu-dua tetangga sekilas melihat A keluar rumah sendirian, namun tidak begitu memperhatikan.
Keesokan harinya, kedua kakak A yang pulang larut malam dan langsung tidur tanpa mengecek kamar adiknya panik. Setiap tetangga yang ditanyai mengenai keberadaan A hanya menggeleng. Tidak ada yang tahu.
Barulah, sorenya terjadi kehebohan. Seorang tetangga lain, sebut saja B, hendak menyalakan mobilnya. Saat membenarkan kaca spion tengah, B melihatnya dan menjerit kaget.
A ditemukan telah tak bernyawa…di bangku belakang mobilnya. Mulutnya menganga dan kemejanya terbuka.
Rekonstruksi TKP
Polisi pun dihubungi dan sekompleks heboh. Sesuai rekonstruksi TKP (Tempat Kejadian Perkara), kejadiannya kira-kira begini:
Malam itu A gelisah. Entah apa yang membuatnya memutuskan untuk masuk ke dalam mobil B yang kebetulan diparkir di luar pagar rumah pemiliknya. Pintunya juga tidak terkunci.
Menurut kesaksian B, pukul satu pagi dia terbangun. Khawatir lupa mengunci pintu mobilnya, B memencet tombol kunci elektronik dari balik jendela rumahnya. Klik. Setelah itu, B kembali tertidur.
Paginya, B mengajak anaknya pergi. Karena sang anak sedang malas, akhirnya B memilih naik sepeda motornya ke pasar seorang diri. Barulah sorenya B memutuskan untuk menggunakan mobil. Namun, bau bangkai yang tercium membuatnya was-was.
“Jangan-jangan kaleng berisi cacing untuk umpan ikan tertinggal di mobil,” pikir B, yang kebetulan juga punya hobi memancing ikan. Di situlah B kemudian menemukan jenazah A. Sepertinya, A tewas karena kehabisan napas sekaligus kepanasan setelah 12 jam terkurung di dalam mobil. Setengah hari! Selain panik, mungkin A tidak tahu cara membuka kunci mobil dan tidak bisa berteriak minta tolong…terutama di malam yang sepi.
Merasa kasihan dengan keluarga A, B akhirnya membantu membayar biaya pemakaman dan memberi santunan. Setelah itu, B bahkan langsung memutuskan untuk menjual mobilnya sekalian. Alasannya?
Bagi sebagian orang, menulis tidak hanya soal menulis. Ada proses panjang dan alasan tertentu di baliknya. Sama seperti menggambar atau melakukan hal lain yang dianggap hobi.
Bagi saya, menulis adalah pelarian sejati dari banyak hal di dunia ini. Terlalu banyak yang tertampung di dalam hati dan otak, sehingga kadang sulit sekali untuk keluar dan membicarakannya dengan orang lain. Kalau pun bisa, kadang disertai rasa sakit secara emosional yang sebenarnya cukup mengganggu dan menakutkan.