Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Bah!

Aku lelah!

Semakin hari semakin resah

Terlalu banyak sampah

menggunung, tak tertampung, tak terbendung

menyesakkan dada

bau busuk tiada tara

 

Sumpah!

Aku mau muntah

Dimana-mana makin banyak sampah

Bantar Gebang tak lagi cukup, tak dapat menutup

Tak hanya benda dan sisa-sisa

namun yang keluar dari hati dan otak manusia

 

Ah, semakin banyak yang membuang sampah

Janji-janji palsu, omong-kosong para bedebah

Semua tak mau kalah

Jiwa-jiwa yang terbakar amarah

terus menyampah

tak kenal lelah

mulai dari menyampah dengan sumpah

hingga menyampah dengan sumpah-serapah

tanpa henti bagai air bah

BAH!

 

R.

(Jakarta, 30 September 2014)

 

Categories
#catatan-harian #lomba #menulis

Banyak Pilihan Kursus Online di Baba Studio, Lho!

Zaman digital telah mempermudah kita untuk melakukan banyak hal. Tidak sempat baca koran, banyak media online yang menawarkan konten berita. Berkabar dengan keluarga jauh bisa lewat media sosial. Ingin belajar hal baru namun sulit waktu, tinggal mengikuti kursus online.

Apa saja sih, yang tersedia lewat kursus online? Dikenal juga dengan e-learning atau online course dalam Bahasa Inggris, di sini kita bisa belajar sesuatu tanpa harus datang ke kelas. Cukup andalkan perangkat gawai seperti ponsel atau laptop dengan koneksi internet yang cepat, belajar online pun lancar seketika.

Apa saja yang bisa kita dapatkan lewat belajar online? Wah, banyak sekali, tergantung yang ditawarkan platform tersebut. Untuk fitur-fiturnya juga beragam. Ada yang awalnya bisa hanya berupa akses membaca e-book dengan gratis, kemudian berkembang menjadi unduhan file video hingga webinar.

Semula mungkin ada kekhawatiran bahwa kursus online akan terasa membosankan dan hanya satu arah. Misalnya: mengunduh materi pelajaran berupa e-book atau menonton video webinar. Padahal, yang namanya belajar online lebih dari sekadar itu. Masih ada fitur chat, sehingga kita bisa langsung berinteraksi dengan pengajar.

Dengan aplikasi dan tools yang sesuai, belajar online dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja. Bahkan, meskipun sedang belajar di rumah atau kantor, ada alat yang dapat membuat kita serasa berada di dalam kelas betulan. Yang pasti, jangan lupa pakai mikrofon dan pelantang (headphone) agar bisa lebih berkonsentrasi.

Kursus online juga memiliki sistem seperti layaknya kursus biasa atau offline, yang disebut juga dengan LMS. LMS adalah singkatan dari Learning Management System atau Sistem Manajemen Pengajaran. Tidak hanya belajar online seperti di kelas biasa, lho. Banyak hal lain yang dapat kita lakukan.

Kita juga bisa membaca konten, mengikuti tes, hingga mendapatkan sertifikat. Bagi pekerja kantoran yang super sibuk, jadwal kursus online bisa disesuaikan dengan waktu luang mereka. Jadi, meskipun kegiatan sedang banyak sekali, kita masih bisa mendapatkan ilmu (knowledge) serta keahlian (skills).

Ada lagi keuntungan dari belajar online. Selain tidak perlu berurusan dengan macet di jalan (karena harus datang ke kelas), biayanya cenderung lebih terjangkau. Bahkan, bila kita pengusaha yang ingin memberi pelatihan pada karyawan, kursus online dapat menghemat tempat dan mudah dalam soal pengaturan waktu.

Jadi, enaknya belajar online di mana, ya?

Banyaknya pilihan berarti banyak referensi. Salah satu yang cocok jadi pertimbangan bagi yang ingin kursus online adalah mendaftar di Baba Studio. Banyak sekali paket kursus yang ditawarkan oleh Baba Studio, sehingga pengalaman dalam belajar online dapat lebih bervariasi. Apa sajakah?

  1. Kursus Animasi Online.

Suka dengan film animasi dan ingin membuat film sendiri? Baba Studio punya kelas ini. Dengan bermodalkan stok cerita buatanmu sendiri, kursus online ini dapat mewujudkan impianmu menjadi filmmaker berikutnya. Indonesia butuh banget film-film animasi yang berkualitas.

  1. Kursus Website Online.

Ingin perusahaan punya website resmi sendiri, tapi bingung karena merasa belum ahli? Baba Studio menawarkan kelas ini untuk yang ingin belajar online. Setelah selesai, semoga website perusahaan segera jadi dan dapat meningkatkan promosi serta penghasilan.

  1. Kursus Bisnis Online.

Sekarang berbisnis pun bisa dari mana saja dan dengan siapa saja berkat era digital. Untuk itu, kursus online ini dapat membantumu lebih lancar mengatur jalannya bisnis, meskipun dalam kondisi remote hingga bertransaksi lintas benua. Seru banget, bukan? Sekarang bukan saatnya hanya mengandalkan rupiah.

  1. Kursus Web Design Online.

Sekarang nggak hanya desainer biasa yang banyak dicari. Baik secara freelance, paruh-waktu, atau fulltime, profesi web designer banyak diminati. Apalagi, sekarang sudah banyak sekali perusahaan startup berbasis digital. Dijamin pasti banyak yang membutuhkan keahlian ini.

  1. Kursus Toko Online.

Ingin berjualan secara online, tapi masih bingung mulai dari mana? Meskipun bisa memanfaatkan media sosial atau blog pribadi (terutama yang berdomain khusus), pastinya lama-lama ingin juga dong ya, punya toko online yang resmi? Baba Studio menawarkan belajar online ini untuk para calon pengusaha berbasis digital.

Baba Studio sebenarnya juga masih punya banyak paket kursus online lainnya, seperti: kursus flash animasi online, kursus SEO online, kursus game online, dan masih banyak lagi. Tinggal pilih yang sesuai dengan kebutuhan dan nikmati proses belajarmu secara digital bersama Baba Studio.

Yuk, belajar online sekarang.

R.

 

 

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Cinta? Bedebah!

Jangan lancang mengatasnamakan cinta

bila hanya napsu yang ada

dan ego yang selalu bicara

mulut penuh dusta

 

Dasar bedebah!

 

R.

 

Categories
#catatan-harian #CSW-Club #menulis

Malam Pertama di Sydney

Andai semua ini adalah mimpi, aku tidak ingin segera bangun. Masih mau terus di sini.

Gelap sekali malam itu, terutama oleh pepohonan rimbun layaknya di taman kota. Jakarta tidak punya ini. Rerumputan kering  bergemerisik karena terinjak oleh kaki-kaki kami saat melangkah.

Angin dingin di musim gugur bulan Mei berembus. Brrr…aku menggigil. Kenapa kutinggalkan jaketku di Honda putihnya tadi? Kaos hitam berlengan panjang dan scarf merah tuaku tidak cukup menghangatkan. Kulitku mulai meremang.

Kubuka mulut dan mulai menghirup. Astaga, rasanya seperti berada di dalam kulkas raksasa. Hidungku mengendus aroma rumput kering. Begitu asing. Lidahku juga jadi dingin. Tenggorokanku ikutan kering.

“Lihat.” Abangku menunjuk ke seberang perairan. Kurasakan mataku melebar takjub.

Opera House dan sekitarnya tampak begitu kecil. Lampu-lampu gedung kota yang berwarna-warni begitu kontras dengan Mrs. Macquarie’s Chair yang malam itu minim cahaya, tempatku dan Abangku berada malam itu.

“Kamu baru saja melihat keseluruhan kota Sydney,” katanya. Dia tampak tidak terganggu dengan angin dingin yang berembus, meski hanya berkemeja. Sudah biasa pastinya.

“Wow,” desahku. Entah apa yang harus kukatakan. Yang kutahu, aku telah jatuh cinta. Aku ingin kembali ke sini suatu saat nanti. Secepatnya kalau bisa.

“Sudah kuduga kamu akan menyukainya.”

Kami memang tidak sedarah, tapi aku sering berharap bahwa dia adalah abangku. Sangat lama kami berdua sudah saling mengenal, sampai-sampai dia bisa membaca perasaanku dengan mudah. Bahkan, seringnya sebelum aku berbicara.

Angin masih berembus, namun ada hangat yang menyeruak di hati. Aku tahu, dia sudah bisa menebak ucapanku berikutnya:

“Aku nggak mau pulang.”

Abangku tertawa. Dia menganggapku lucu dan konyol.

“Ya, ampun. Baru juga malam pertamamu di sini.”

Iya juga. Aku tersenyum geli, seiring celotehan samar flying fox di antara pepohonan.

 

R.

(Jakarta, 5 Juli 2018, pukul 21:00 – 21:30, MacDonald’s, Sarinah-Thamrin – Tantangan Menulis Mingguan Klub Penulis Couchsurfing Jakarta: “Gambarkan satu tempat favoritmu dengan menggunakan lima panca indera”.)

 

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Kejam

Aku tahu,

aku takkan kurus di bawah kakimu

Tidak ada yang secepat itu

Semua perlu waktu

 

Kau anggap aku pijakan

Mudah, tinggal kujatuhkan

Mungkin aku kejam

Kau yang mulai duluan

 

Aku tahu,

kau butuh merendahkan sesama

hanya agar kau tampak istimewa

seakan kau segalanya

 

Kau anggap aku tak berharga,

namun kau yang lupa berkaca.

 

R.

 

Categories
#catatan-harian #menulis

Syarat di Balik Sebuah Pemberian

“No free lunches.”

Memang, nggak pernah benar-benar ada makan siang gratis. Kalo pun ada, rasanya jarang sekali. Anggap saja itu keberuntungan langka, terutama bagi Anda yang hidup di kota besar.

Mungkin saya terdengar sinis dan seperti kehilangan harapan. Tapi, jangan salah. Ada juga kok, yang beneran ikhlas membantu. Salah satu contohnya seorang teman yang semalam berhasil ‘menghidupkan’ kembali blog ini. Untuk itu, saya hanya mengucapkan banyak terima kasih. Apalagi, syarat darinya hanya satu:

“Teruslah menulis. Kamu udah di jalur yang tepat.”

Beruntunglah saya yang masih dikelilingi teman-teman yang baik ini. Tanpa mereka…ah, sudahlah. Nggak perlu jadi kelewat sentimental begini, dasar baperan! Hehehe…

Mungkin nggak semua seberuntung saya. Ada yang ditawarkan sesuatu oleh seseorang, namun syaratnya berat. Bisa jadi mereka harus membayar sejumlah uang, melakukan sesuatu, hingga mengorbankan waktu dan tenaga. Berbagai kemungkinan itu ada. Berhubung lagi membahas ini, saya penasaran:

Apa yang akan Anda lakukan bila seseorang ingin memberikan sesuatu, namun dengan syarat tertentu yang harus dipenuhi?

Bagaimana pula bila pemberian tersebut sesungguhnya memang sudah menjadi hak Anda, namun mereka menahannya dengan banyak alasan? Apakah Anda akan terus memperjuangkannya, terutama bila memang lagi butuh dan syaratnya nggak begitu berat?

Bagi saya, semua itu tergantung konteksnya. Bila pemberian itu bagian dari kuis, mungkin saya akan mempertimbangkan beberapa hal sebelum memutuskan. Misalnya: manfaat dari hadiah tersebut, persyaratannya tidak berat, hingga waktu dan tenaga yang ingin saya luangkan. Jadi, jawaban saya bisa iya atau tidak.

Namun, bagaimana bila yang mau diberikan sebenarnya sudah hak saya? Bila si pemberi masih aja menetapkan syarat untuk memperolehnya, apakah saya akan tetap memperjuangkannya, terutama bila emang lagi butuh banget dan syaratnya juga nggak berat-berat amat?

Jawaban saya: tidak. Untuk apa, bila sejak awal sudah terlihat jelas bahwa si pemberi hanya setengah hati atau tidak berniat memberikan hak saya? Mungkin ini harga diri yang berbicara. Namun, pada dasarnya, saya memang paling benci dan tidak sudi mengemis.

Berilah bila memang berniat, apalagi yang sudah menjadi hak mereka. Tidak perlu memperpanjang masalah dan membuat mereka susah.

R.

 

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

“AKU BERMIMPI MEMBUNUHMU”

“AKU BERMIMPI MEMBUNUHMU”

 

Kau tersenyum

Aku kalem

Kau ingin mencium

Kau kupentung

Kau pun berhenti tersenyum

 

Ah, terlalu keras?

Astaga, kau tewas!

Kenapa aku tampak puas?

Sorot mataku keras

Giliranku menyeringai buas

 

Matilah kau, tukang selingkuh

Maaf, harus kubunuh

Amarah membuat otak keruh

Matilah, tukang selingkuh

 

Matilah…

Matilah…

Matilah…

 

…dan aku terbangun

tanpa senyum…

 

Aduh.

 

R.

(Jakarta, 27 Juni 2018 – 12:15)

 

 

Categories
#catatan-harian #fiksimini #menulis

“PUISI ROMANTIS UNTUK GADIS SKEPTIS”

“PUISI ROMANTIS UNTUK GADIS SKEPTIS”

Aku bukan perempuan romantis. Dulu mungkin iya, sebelum realita mengubahku menjadi sinis. Sebelum luka mengubahku menjadi seorang skeptis.

Bahkan, sejak remaja pun, fantasiku akan hal-hal romantis sudah keburu ‘dibunuh’ oleh cibiran. Mulai dari tubuh gendutku yang selalu dipermasalahkan, dianggap jelek, hingga diprediksi bakal selalu jadi penyebab susah dapat pacar.

“Jangan mau dibodohi rayuan cowok,” kata kakak perempuanku waktu itu. Ironisnya, dia sendiri pencinta lagu-lagu dan film-film romantis. Dia juga paling senang diberi bunga dan dirayu oleh pacarnya. “Itu hanya ada di fiksi.”

Jadilah aku termakan semua ucapan negatif tersebut. Lagipula, sebenarnya dulu aku juga tidak begitu suka dengan konsep pacaran. Untuk apa, sih? Jadinya kayak membatasi pertemanan. Sedikit-sedikit cemburuan. Terlalu banyak aturan.

Lalu, pada akhirnya berantem dan jadi drama. Kemudian putus dan musuhan. Mana masih satu sekolah lagi. Apa enaknya, sih?

Belum lagi kalau cowoknya sakit hati dan memutuskan untuk balas dendam. Misalnya: bikin gosip yang jelek-jelek soal si mantan pacar, bahkan sampai yang tingkat parah seperti: “Dia selingkuh”, “Dia matre”, hingga “Dia gampangan” dan “Eh, dia ‘kan udah nggak perawan lagi, bahkan sebelum sama gue.”

Maka rusaklah reputasi si cewek, bahkan sebelum ada bukti yang kongkrit. (Kalau pun memang benar, apa urusannya dengan seluruh dunia?)

Yang tahan mungkin akan cuek. Yang enggak, tahu-tahu keluar dari sekolah atau diam-diam depresi. Paling parah bunuh diri, seperti yang banyak diekspos di media sosial akhir-akhir ini.

Apa gunanya jatuh cinta kalau akhirnya terluka?

— // —

Aku bukan perempuan romantis. Pada suatu masa, barangkali iya. Puluhan, bahkan mungkin ratusan puisi dan prosa, sudah pernah kutulis atas nama cinta. Meskipun demikian, pada kenyataannya, aku tetap seorang lajang yang begitu takut memberi kesempatan pada cinta.

Di sinilah, mereka mulai menyalahkanku. Mengapa aku hanya termangu, tanpa sekali pun berusaha maju? Takut patah hati menjadi alasan basiku.

“Dari mana kamu tahu kalau belum pernah sekali pun mencobanya?”

“Jatuh cinta boleh, tapi tetap harus pakai otak! Hati-hati.”

Ah, sesederhana itukah? Buktinya, aku jadi serba salah. Terlalu hati-hati dibilang kelewat pemilih dan pengecut. Giliran mengambil risiko terus gagal, daftar hinaan bertambah. Mulai dari dianggap kurang hati-hati, kegeeran, sama desperate dan…nggak pake otak.

Begitu pula bila cowok yang kusukai mereka anggap ‘di bawah standar’:

“Nggak ada yang lain?”

Giliran sebaliknya:

“Yakin dia beneran suka sama kamu? Jangan-jangan hanya manfaatin kamu doang.”

Maka kamu tahu jadinya aku seperti apa. Aku kembali ragu. Maju-mundur. Makanya, pada akhirnya semua cowok yang kusukai selalu pergi. Mungkin ini terdengar cengeng, tapi inilah kenyataannya. Aku tidak tahu cara membuat mereka mau tinggal. Aku juga tidak mau memohon. Gengsi. Apa kabar harga diri?

Tanpa kusadari, lama-lama semua tulisanku berubah muram, kering, dan basi. Lebih banyak kisah patah hati dan dendam kesumat (kepada mereka yang dianggap menyakiti dan cari mati). Banyak juga kisah bunuh diri karena depresi.

Aku tidak romantis lagi. Lama-lama tulisanku mulai sering dikeluhkan pembaca: terlalu gloomy.

— // —

Aku bukan perempuan romantis. Dulu pernah, meski hanya sebentar. Habis itu, tidak lagi.

“Kutunggu kamu, cinta

Bagai lelaki menanti pengantinnya…”*

Apa maksudnya itu? Kamu mengirimiku puisi dengan dua bait itu sebagai sebagian isinya, tanpa penjelasan apa-apa. Apakah kamu sedang mencoba melamarku? Astaga, kamu bahkan belum kukenalkan pada Ibu.

Kita bahkan belum pernah sekali pun bertemu. (Maaf, Sayangku. Video chat tidak dihitung.) Masih kurang, karena kita belum pernah berinteraksi di dunia nyata, saling melihat bagaimana masing-masing di keseharian, dan semacamnya.

Mengapa dua bulan lalu kuputuskan untuk menerima ajakanmu membina hubungan jarak jauh ini?

Ada teman-teman yang lagi-lagi menyarankanku. Cobalah. Siapa tahu kali ini kamulah laki-laki baik yang memang untukku, jodohku.

Ya, aku percaya kamu laki-laki baik. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, ada laki-laki di luar sana yang membuktikan mereka salah. Aku pun cantik, berharga, dan patut dicintai. Sejak awal, kamu bahkan tidak takut atau gengsi untuk jujur mengenai kekuranganmu sebagai manusia.

Namun, apakah lantas aku bisa langsung jatuh cinta padamu dan menjawab ya, aku akan mengikutimu ke mana pun kau pergi? Apakah aku akan senaif itu, lalu tega meninggalkan keluarga dan melupakan aturan agama?

Aku mungkin mulai sayang padamu, namun akalku masih menjejak di bumi. Kita masih harus bertemu. Masih banyak yang harus kita bahas.

Mungkin, ada untungnya juga aku bukan perempuan romantis lagi. Aku jadi lebih hati-hati.

Semoga kamu serius. Aku muak kembali merasa (di)bodoh(i).

Mungkin, bila memang kamu orangnya, setelah ini aku bisa kembali menulis sesuatu yang romantis…

– Selesai –

(Jakarta, 4 Februari 2018)

 

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

“ATAS NAMA DENDAM”

“ATAS NAMA DENDAM”

1001 alasan kau kemukakan

atas nama dendam

yang penting ada pembalasan

agar dia selalu terkecam

 

“Dia bajingan.

Dia pikir dia pujaan.

Kenapa tidak mati saja?

Aku ingin bahagia.”

 

1001 alasan dan pemakluman

banyak pembenaran

kau terluka

harusnya dia juga

mata dibalas mata

semakin panas api angkara

 

bukan, bukan cahaya

semuanya buta…

 

R.

(Jakarta, 26 Juni 2018 – 15:30)

Categories
#catatan-harian #menulis

“TENTANG TUKANG SELINGKUH DAN KORBAN-KORBAN MEREKA”

“TENTANG TUKANG SELINGKUH DAN KORBAN-KORBAN MEREKA”

Apa pun alasannya, dari dulu saya memang paling nggak tahan sama tukang selingkuh. Apalagi yang dengan bangganya memamerkan korban-korban mereka yang sama sekali nggak tahu apa-apa. Kayak piala aja.

Entah kenapa, masih banyak yang menganggap tukang selingkuh itu juara – apalagi yang wajahnya dianggap rupawan (cantik buat cewek atau ganteng buat cowok). Bahkan, banyak yang nggak segan-segan malah ‘mengamini’ perilaku mereka yang justru malah jauh banget dari kata ‘rupawan’.

“Ooh, karena sadar dia ganteng / cantik sih, makanya selingkuh. Coba kalo jelek, nggak tau diri namanya.”

Mereka nggak sadar, pujian menyesatkan maca itu (meski mungkin maksudnya bercanda, meski menurut saya norak!) justru malah menyuburkan perilaku menyakitkan bernama selingkuh. Menyakitkan? Ya iyalah, buat korban-korbannya! Mereka juga rakus, sih. Karena satu aja nggak cukup, mereka sampai harus ambil jatah orang lain.

Selain itu, ucapan tersebut juga dapat menimbulkan stigma bagi mereka yang dianggap berparas rupawan. Ada yang langsung dicurigai sebagai player. Ada juga yang meski jelas-jelas sudah berpasangan, masih dideketin dan dirayu-rayu juga sama yang lain.

Harapan mereka? Tentu saja agar yang dirayu dan dideketin mau-mau aja diajak selingkuh. Apalagi kalo kebetulan mereka juga punya rasa percaya diri yang sangat rendah, sehingga harus selalu dikagumi banyak orang.

Mau pelakunya laki-laki atau perempuan, menurut saya sama saja. Menyebalkan! And please, jangan bawa-bawa istilah ‘pelakor’ (perebut laki orang) yang norak itu. Kesannya hanya perempuan pihak yang bersalah, sementara laki-laki nggak berdaya menolak rayuan.

Nggak berdaya? Bah, lucu! Banyak juga perempuan yang nggak sadar telah dipermainkan, lalu langsung ditumbalkan dengan tuduhan ‘penggoda’ saat affair terkuak dan tercium pasangan sah (istri), sementara laki-laki yang berulah berlagak setia. Padahal, cadangan mereka di mana-mana. Benar-benar perilaku pengecut dan nggak bertanggung jawab!

Brengsek banget, ‘kan? Berarti tidak semua yang disebut ‘perempuan idaman lain’ atau apalah namanya yang menjadi biang keladi perselingkuhan. Bisa jadi selama ini mereka emang beneran nggak sadar udah ditipu mentah-mentah (bahkan sampai busuk pula) sama laki-laki yang mengaku cinta dan ingin setia hanya sama mereka. Bah!

Lalu, bagaimana dengan korban perselingkuhan? Selain patah hati, merasa tolol karena udah (di)bodoh(i) dengan sedemikian rupa, bersalah, jelek, nggak cukup baik, marah, dan benci – bisa jadi mereka malah sulit percaya cinta lagi. Emang tukang selingkuh peduli? Kebanyakan malah 11-12 sama psikopat / sosiopat sejati!

R.