“MEMORI SYDNEY 2”
Ke sanalah aku berlari
meninggalkan sakit hati
menenangkan diri
berburu inspirasi
Akankah ke sana lagi?
Aku rindu jalan-jalan sepi
Aku harus kembali
semoga dengan restu Ilahi…
R.
“MEMORI SYDNEY 2”
Ke sanalah aku berlari
meninggalkan sakit hati
menenangkan diri
berburu inspirasi
Akankah ke sana lagi?
Aku rindu jalan-jalan sepi
Aku harus kembali
semoga dengan restu Ilahi…
R.
“MEMORI SYDNEY”
Entah kapan lagi
aku bisa kembali
saat ini
hanya ingin bekukan memori
Aku gagal hentikan waktu
di luar kuasaku
ada rindu
untuk kalian selalu
Satu akhir pekan di Sydney
sejuk dan hangat di hati…
R.
“DRASTIS”
Hanya butuh satu kata cinta
untuk mengubah gaya bercerita
menjadi lebih optimis dan ceria
sehingga pembaca ikut bahagia
Hanya butuh sepercik dusta
untuk merusak semua
mengubah alur cerita
kembali gelap dan bergelimang duka
Ah, cinta…
Betapa drastis pengaruhnya…
R.
(Jakarta, 30 April 2018 – 9:15)
“YANG MANA DIRIMU?”
Terombang-ambing
kau tunjukkan diri
kadang hangat, kadang dingin
bagai cuaca di bumi
selepas efek rumah kaca
kadang gerah, kadang bikin merinding
Yang mana dirimu?
Aku harus tahu
Mengapa cinta ibarat catur?
Setiap langkah harus diatur
Apakah kau hanya ingin
aku takluk secara utuh
agar kau dapat berkuasa penuh?
Jangan frustrasi
Yang ada malah lelah sendiri
sementara aku sudah muak sekali
Masa semua harus maunya laki-laki?
Katanya perempuan dihargai
bukan ditindas setengah mati
Jadi, yang mana dirimu?
Tak perlu takut terlihat lemah di hadapanku
R.
“BISAKAH? MAUKAH? SIAPKAH?”
Bisakah aku menjadi pahlawanmu,
meski tanpa kekuatan super
atau kostum dan topeng itu?
Bisakah?
Mungkin tidak
meski tetap mau
dan cinta terdengar semu
Maukah aku menjadi pahlawanmu,
meski mungkin tidak perlu
karena bisa saja kau meninggalkanku
dan ilusi cinta hanya menyisakan sembilu
Mungkin itu bukan peranku
dan kamu hanya ada
pengisi beberapa bab saja
namun bukan sebagai tokoh utama
dan cinta hanya fatamorgana
impian remeh gadis remaja
Siapkah aku
bila akhir kisah ini
hanyalah aku yang kembali
dan lagi-lagi sendiri?
R.
(Jakarta, 19/9/2017 – 10:05 am)
“PINTU HATI”
Dahulu,
aku pernah peringatkanmu
Tak banyak yang beruntung
Tak semua bisa masuk
Banyak yang pulang dengan murung
Kini,
bisakah kamu memegang janji
takkan menyakiti?
Jangan buatku memohon pada Ilahi
untuk mengusirmu pergi.
R.
“BANYAK YANG INGIN KUUCAP”
Banyak yang ingin kuucap
meski tak selalu cakap
dan cenderung gagap
Banyak, namun selalu gagal
Kamu membuat nyaliku mental
Kadang aku sebal
Banyak, hingga kini masih saja
terkunci, namun liar bergerilya di hati dan kepala
Ada rasa benci pada diri yang tak berdaya
Banyak yang ingin kuucap
terutama kata cinta
khusus untukmu saja…
R.
“SAHABAT SEMPURNA”
Sampai kapan pun,
kau takkan menemukannya
sosok yang selalu santun
sahabat sempurna
Kau ingin dia tanpa cela
selalu membuatmu bahagia
seiya sekata
tiada bantah maupun usul berbeda
Selamat mencari
meski lupa berkaca diri
karena kamu pun manusia
yang tak luput dari cela…
R.
(Jakarta, 15/10/2017 – 22:00)
“CUKUP UNTUKMU”
Terima kasih
Kau tidak berharap
aku harus secantik bidadari
Tuntutanmu tak pernah kalap
Kau biarkan aku melihat
kilasan-kilasan lampau
dalam bait-bait sajak
berisi semua lukamu
Aku tidak bisa berjanji
akan sempurna setengah mati
Yang kutahu,
kuingin kau merasa aman di hatiku
Begitu pula aku di hadapanmu
Semoga aku cukup baik untukmu
seperti kamu yang telah baik padaku
dan ada dari-Nya, berupa restu…
R.
(Jakarta, 26 Februari 2018 – 11:15)
“TAKUT YANG NYATA”
Aku tidak ingat
kapan terakhir kali menangis di pelukan seseorang.
Mungkin aku hanya berusaha lupa
agar selalu kuat.
Ada kalanya, semua harus dijalani sendirian.
Mungkin kamu akan bertanya-tanya
apakah aku sedingin ini adanya.
Aku bukan orang yang mudah
apalagi terbuka untuk urusan cinta.
Ada takut yang nyata
seperti kembali ditinggal saat mulai merasa.
Semoga kamu nyata
bukan cuma janji dan akhirnya sama
atau malah lebih parah dari mereka.
#puisiJanuari2018
#tentangakudanpujangga
#takutyangnyata