Kunjungan
Aku datang kembali
‘tuk bersihkan hati
Sambutlah aku
lebih ramah dan tanpa ragu
Berdoalah…
Semoga ini bukan kunjungan terakhirku…
Salam,
Ramadan
R.
Aku datang kembali
‘tuk bersihkan hati
Sambutlah aku
lebih ramah dan tanpa ragu
Berdoalah…
Semoga ini bukan kunjungan terakhirku…
Salam,
Ramadan
R.
Ramadan sudah hadir, nih. Dakwah rohani yang intens sudah mulai di mana-mana, termasuk di social media. Umat Muslim menyambut dengan suka cita. Saatnya berpuasa untuk menahan hawa napsu dan godaan lainnya di dunia.
Tentu saja, ada harapan untuk berhijrah, yang (seharusnya) berarti berubah menjadi lebih baik. Sama seperti usulan untuk memindahkan ibukota.
Haaah, pindah ibukota? Sebenarnya, ini sudah bukan usulan baru lagi. Kabar terakhir yang saya dengar, ada usul bahwa sebaiknya cukup pusat administrasinya saja yang (di)pindah(kan). Yang lain nggak usah.
Seperti biasa, ada pro dan kontra soal usulan ini. Yang setuju mungkin termasuk mereka yang sudah lama muak dengan kondisi Jakarta. Ada yang bosan dan ingin segera cari suasana baru. Mungkin juga ada yang punya alasan-alasan lain yang saya tidak tahu.
Jujur, saya termasuk yang kurang setuju dengan usul ini. Memang sih, usul seperti ini bisa diwujudkan, meskipun pastinya nggak secepat mungkin. Ibaratnya, Jakarta nanti akan seperti LA, NY, atau Sydney – alih-alih Washington DC atau Canberra.
Menurut saya, percuma pindah/hijrah bila manusianya sendiri enggan berubah. Bukan hanya soal penampilan luar lho, ya. Nggak usah muluk-muluk mau pindah ibukota deh, kalau manusianya masih:
Belum lagi soal berapa hektar hutan yang akan dihancurkan demi memindahkan ibukota. Kalau kelakuan manusianya aja masih pada kayak gini, ya…maaf-maaf aja kalo saya jadi ikutan nyinyir bin skeptis. Habis, masih suka pada ngeyel, sih!
R.
Seharusnya kalian audisi saja
Banyak sinetron di layar kaca
Tak perlu pura-pura
Jadi diri sendiri dan apa adanya
Banyak cara mencari perhatian
dari wajar hingga berlebihan
Ada yang gila penghargaan
sampai kejam atau jadi anak kecil ngambekan
Silakan audisi
biar muncul di TV
Jangan di sini
mengganggu dan menyakiti
memaksa semua harus mengerti
Memangnya kalian ini siapa, sih?
Ingin selalu dianggap benar?
Yang ada, penonton bubar
Senang bersikap culas dan kasar,
bahkan hingga barbar?
Sudah, main saja di film drama
Bikin berisik dunia saja
Sebagai penonton, saya bosan luar biasa
Plotnya selalu sama
Lebih baik saya pulang
Macam kalian terlalu memuakkan!
R.
Rasanya kok, ini udah kayak tradisi tahunan aja, yah? Tahun lalu, saat “The Avengers: Infinity War” tayang di bioskop, banyak yang jadi berantem hanya gara-gara perkara spoiler. Garis besarnya begini:
Yang tukang spoiler merasa sah-sah aja membocorkan sebagian atau bahkan seluruh isi cerita film yang kebetulan sudah mereka tonton duluan. Toh, mereka hanya merasa senang dan pengen ‘berbagi kegembiraan’. Ya, sekalian rada pamer dikitlah. Hehe.
Yang nggak suka tentu saja langsung menyebut para penyebar spoiler sebagai perusak mood orang yang mau nonton, egois, nggak asyik, hingga sombong – mentang-mentang udah nonton duluan.
Penyebar spoiler ternyata juga punya alasan lain. Ada yang kecewa dengan alur film yang mereka tonton duluan hingga langsung curhat di media sosial. Niatnya sih, baik – pengen menyelamatkan uang orang lain agar nggak terbuang percuma saat nonton film yang sama, karena menurut mereka nggak sesuai harapan.
Cuma, bisa aja orang berpendapat lain.
Tapi…ah, sudahlah. Itu terserah pilihan masing-masing. Terus, di mana posisi saya dalam drama pencinta versus pembenci spoiler ini?
Golput.
Saya bukan tipe yang akan dengan semangat nyebarin spoiler meskipun udah nonton film yang lagi ngehits dan menurut saya juga bagus. Toleran sedikitlah sama mereka yang belum sempat nonton. Nggak perlu juga ngatain mereka baperan hanya karena kesal dengan banyaknya spoiler.
Saya juga nggak akan protes dengan yang suka nyebarin spoiler. Silakan aja, mungkin lagi pada pengen viral dan ini satu-satunya cara…
R.

Banyak tabir di setiap wajah
Tak perlu pikir
Usahlah gundah
Ada sindir di balik senyum ramah
Tiada guna berbalas
Hanya bikin lelah dan malas
Banyak tabir untuk buatmu kalah
Sosok sempurna, nihil cela
Sembunyi cacat, rapi adanya
Gemar menghujat, mudah menghina
sesama tapi yang dianggap beda
direndahkan sedemikian rupa
demi tampak jaya
bebas merdeka
Sungguh jumawa
Tunggulah tabir terkuak
saat topeng sempurna mulai retak
Mereka akan berhenti tertawa
Aib terbuka, tak lagi jaya
Jatuhlah mereka
ke dalam hina yang sama
atau malah lebih tercela…
R.
Seperti apakah peran keluarga dalam PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di era digital ini? Yang pasti semakin penting. Apalagi, dengan kemajuan teknologi saat ini yang kian pesat, anak dapat mengakses informasi apa pun. Bila tidak dibatasi sesuai umur, hal ini dapat berakibat perkembangan anak yang kurang baik.
Banyaknya sekolah berbasis PAUD menunjukkan kesadaran masyarakat mengenai pendidikan anak sejak dini. Salah satunya adalah Apple Tree Pre-school BSD. Selain itu, alangkah baiknya bila orang tua sendiri juga tetap mendidik dan mengasuh anak dari rumah.

Bersama Apple Tree Pre-School BSD, inilah lima (5) cara yang dapat dilakukan orang tua untuk mendidik si kecil di era teknologi:
Baik ayah maupun bunda sama-sama punya peran penting dalam pendidikan anak di usia dini. Meskipun salah satu atau kedua orang tua sibuk, saat di rumah, luangkan waktu bersama anak. Dengan begini, Anda bisa sama-sama memantau perkembangan anak.
Anda bisa memulainya dengan selalu menyapa anak lebih dulu saat tiba di rumah. Alih-alih langsung bertanya soal tugas-tugas sekolah mereka, tanyakan kabar anak. Dengan begitu, mereka akan merasa diperhatikan tanpa terlalu dituntut. Memeluk mereka juga menambah kedekatan orang tua dan anak.
Biasakan agar anak selalu jujur dan terbuka, meskipun mereka melakukan kesalahan. Ada kalanya anak merasa malu karena tanpa sengaja melakukan sesuatu. Misalnya: memecahkan barang di rumah atau bertengkar dengan teman di sekolah. Pastinya, ini bukan pengalaman yang menyenangkan bagi mereka.
Meskipun ulah mereka bisa membuat Anda kesal, kurangi langsung bereaksi dengan marah-marah – apalagi sampai berlebihan. Jelaskan pada anak bahwa kesalahan apa pun yang mereka lakukan, lebih baik jujur mengakuinya. Setelah itu, Anda bisa mengajak si kecil untuk melakukan sesuatu, belajar dari kesalahannya.
Di era digital ini, kegiatan mendongeng anak sebelum tidur tampaknya mulai jarang dilakukan. Anak malah lebih banyak dijejali dengan tontonan di televisi atau bermain gawai (gadget), bahkan hingga larut malam.
Padahal, kegiatan ini dapat mendekatkan orang tua dengan anak. Selain itu, anak akan punya kebiasaan senang membaca karena mencontoh kedua orang tuanya. Sering mendengar dongeng sebelum tidur juga akan meningkatkan daya khayal anak, sehingga mempertajam sisi kreatif mereka.
Bila belum terlanjur kecanduan, segera batasi penggunaan gawai (gadget) pada anak. Bahkan, sebaiknya anak jangan dibiarkan menggunakan gawai pada usia yang terlalu dini. Selain dapat mengganggu penglihatan mereka, gawai juga berpotensi membuat anak menjadi enggan bersosialisasi.
Daripada hanya menyuruh dan memaksa, berilah contoh dengan tidak selalu memegang gawai saat berada di dekat mereka. Bahkan, untuk mengalihkan perhatian anak dari gawai, ajaklah mereka berkegiatan di luar, seperti bersepeda, berolahraga, hingga sekadar jalan-jalan santai. Anak juga jadi lebih sehat.
Lakukan kegiatan tersebut setiap akhir pekan. Bila anak sudah terlanjur memegang gawai, terapkan peraturan dengan tegas. Misalnya: stop main gawai dua jam sebelum waktu tidur. Hal ini dapat mencegah anak mengalami susah tidur.
Alih-alih hanya menyalahkan dunia luar dan memboikot konten yang dianggap merusak mental anak-anak, mulailah semuanya dari rumah. Batasi konten yang dapat mereka akses dengan mengaktivasikan perangkat pelindung seperti nanny sites pada semua perangkat gawai di rumah.
Sebenarnya, PAUD (pendidikan anak usia dini) harus dimulai dari yang mendasar, seperti memperkuat gerak motorik mereka (melalui kegiatan fisik dan menulis) dan interaksi sosial (berkomunikasi dengan orang lain). Boleh saja membiarkan anak memegang dan bermain dengan gawai, asal ada batasnya.
#appletreebsd
R.
Suatu hari nanti,
semua akan diketahui
Dia akan tertangkap
terhukum dengan layak
Suatu hari nanti,
senyum palsunya takkan berguna lagi
Penggemarnya akan muak setengah mati
Tak semua orang akan bodoh selalu
selama mau melihat lebih jauh
Suatu hari nanti,
semua topengnya akan luruh
dan sosoknya akan jadi cemooh
Sudah ada beberapa
yang lebih dekat mengenalnya
Lebih baik?
Tidak
Suatu hari nanti,
kata-kata manisnya akan berubah pahit
keburukannya semakin menguasai
Sang jahanam akan dimunculkan
Segera, tiada lagi tempatnya melarikan diri
Dia sudah ditemukan
Nasibnya selesai
Untuk sekarang,
kita harus tetap tenang
agar dia tak bisa permainkan perasaan
Biarlah kita tampak bodoh di matanya
hingga saat dia kehilangan semua
termasuk kendali dirinya
Dia mungkin dapat menipu dunia yang buta
seakan dia lebih baik di mata semua
Suatu saat nanti, segera,
panggung takkan lagi miliknya
Semua aibnya akan terbuka
demi keadilan bagi semua korbannya
Munculkanlah si jahanam
beserta keburukannya yang nyata.
R.
Hidup ini penuh pilihan. Bahkan, saat merasa tidak punya pilihan pun,sebenarnya kita masih bisa punya pilihan sendiri. Tidak memilih pun sebenarnya juga sebuah pilihan.
Hehe, jangan bingung begitu, ah.
Ada beberapa pilihan hidup yang memang harus diceritakan. Apalagi bila pilihan itu tidak hanya akan mempengaruhi diri sendiri, tapi juga orang-orang terdekat.
Tapi, ada juga pilihan yang tidak perlu dilaporkan ke semua orang – dan bahkan ke siapa pun. Bukannya takut, ya. Tapi, untuk apa juga, sih?
Setiap pilihan pasti ada perbandingan. Ada juga pilihan yang akan membuat kita dibanding-bandingkan dengan orang lain. Ada yang menuai pujian, ada juga yang membuat kita dipandang sedemikian rendah.
Yang pasti, semua menginginkan pilihan terbaik untuk diri masing-masing maupun orang-orang terdekat. Sayangnya, ada kalanya kita tidak bisa menyenangkan semua pihak. Yang baik menurut kita belum tentu demikian bagi orang lain, begitu pula sebaliknya. Akan ada yang kecewa, namun itulah hidup. Wajar saja.
Ada juga yang menerima dan bahkan mendukung pilihan Anda. Mungkin mereka sepaham dan punya kebutuhan yang sama. Mungkin juga, mereka mengerti betapa berartinya pilihan itu bagi Anda. Tidak perlu selalu harus sepakat dalam segala hal kok, untuk akur. Tapi, itu bila semua pihak sama-sama mau mencoba saling memahami, ya.
Anda juga bisa memilih untuk bercerita atau diam saja mengenai pilihan hidup Anda. Kadang, demi menghindari perdebatan yang tidak perlu dan melelahkan, diam itu lebih baik. Ini bagi mereka yang memilih untuk menghindari drama buatan sesama.
Apalagi bila sudah main perbandingan dan caranya tidak adil pula. Manusia kadang memang suka lucu. Katanya mengakui perbedaan, tapi diam-diam (atau malah terang-terangan) berharap semua bisa sama seperti maunya mereka.
Yang paling parah, ada yang caranya pakai memaksa lagi. Kalau nggak mengejek, menyindir, ya mengancam-ancam. Mending jauh-jauh saja deh, sama orang-orang yang seperti ini.
Jadi, apa pilihan hidup Anda saat ini? Seperti biasa, boleh cerita atau enggak lho, ya. Saya mah, bebas.
R.
Kau begini
Aku begitu
Menurutku A
B bagimu
Kita saling beropini
Sekalian sebar polusi
Tiada yang setuju
Semua punya mau
Enggan mengalah
Maunya marah
Padahal, belum tentu dapat apa-apa
Ah, sudahlah…
R.
Ada apa dengan satu kata itu? Mengapa saya sangat membencinya? Sempurna. Mendengarnya saja sudah bikin bergidik.
Lebay? Bodo amat.
Memang, setiap orang punya ‘standar sempurna’ masing-masing. Misalnya: anak yang patuh pada orang tua selalu (bahkan tanpa syarat satu pun) dianggap sempurna bagi banyak orang.
Tapi, benarkah selalu demikian? Bagaimana bila anak itu jadinya selalu tergantung pada orang tua dan tidak bisa berpikir untuk diri mereka sendiri? Bagaimana bila sepeninggal mereka, si anak malah jadi sosok yang tidak mandiri, karena terlalu terbiasa didikte?
Bukannya saya menyuruh untuk melawan orang tua, ya. Memang, semua orang tua (yang baik, tentunya) pasti menginginkan yang terbaik bagi anak-anak mereka.
Tapi, kadang kriteria ‘sempurna’ bisa sangat menjebak.
Patriarki, Feodalisme, dan Kriteria Sempurna yang Menyiksa Perempuan
Saya mulai membenci kata itu begitu menyadari banyak standar ganda yang berlaku di masyarakat. Ada yang menurut mereka sempurna, ada yang tercela luar biasa. Bukannya tidak mau menghormati orang yang lebih tua, ya. Namun, kadang feodalisme bikin mereka merasa lebih sempurna hingga – ahem! – jadi gila hormat.
Contoh: ini pengalaman seorang teman yang pernah tinggal dengan keluarga pasangan. Selama itu, dia kerap disindir dan dihina-hina karena dianggap tidak memenuhi kriteria ‘istri sempurna’ menurut mereka. (Sayangnya, kasus semacam ini di Indonesia sudah kelewat banyak!) Bikin stres deh, pokoknya.
Bahkan, teman pernah dituntut secara terang-terangan oleh salah satu tetua di keluarga itu, di depan yang lain pula. Tuntutannya masa begini:
“Kalau dikritik sama yang lebih tua nggak boleh sakit hati. Harus terima!”
Enak ya, kalau usia yang lebih tua selalu jadi patokan untuk selalu merasa paling benar?
Pokoknya, banyak sekali alasan saya membenci kata sempurna. Intinya, kita tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang. Harapan yang mustahil. Apa pun kebaikan yang sudah kita coba lakukan, pasti ada saja yang masih menganggap kita tercela.
Saya sadar, saya tidak dianggap cantik sesuai standar ideal masyarakat patriarki dan media massa. Saya tidak kurus, kurang putih, kurang feminin, dan entah apa lagi. Saya juga berpikir kritis dan suka bertanya dan mendebat bila dirasakan perlu. Ada yang menganggap saya terlalu bawel, berisik, dan banyak maunya. Ada yang bilang saya terlalu serius dan nggak bisa santai.
Terserah sih, kalau mereka beranggapan begitu. Yang pasti, saya bukan orang yang senang dipaksa, apalagi pakai disindir dan diancam-ancam segala. Saya juga bukan robot yang asal menurut saja. Saya tidak mau dan tidak suka seperti itu, apalagi hanya untuk menyenangkan orang lain yang sebenarnya teramat rapuh.
Intinya, saya hanya mau mengalah bila menurut saya sudut pandang mereka masuk akal. Kasih saran boleh, tapi sisanya tetap keputusan saya. Mungkin di mata banyak orang, saya bukan perempuan sempurna. Terus kenapa? Apa hak mereka untuk mendikte saya? Kenapa mereka tidak membiarkan saya berproses dengan cara saya sendiri?
Sempurna hanya milik Tuhan. Kenapa manusia sering lupa? Mungkin karena mereka tidak sempurna, namun cenderung pelupa dan jumawa.
R.