Categories
#catatan-harian #menulis

Efek Domino

Efek Domino

Dibutuhkan satu tragedi besar untuk menciptakan efek domino. Hanya sekali dorong pada satu blok paling ujung. Sisa barisan domino lainnya langsung runtuh.

Efek domino dapat bertahan beberapa saat, tergantung pada jumlah blok. Tergantung pada panjang barisannya juga. Kerusakan biasanya dilakukan dengan buruk. Bahkan ketika hampir semuanya hancur, bisa butuh selamanya untuk membangun semua kembali.

Anda tidak dapat mengontrol segalanya dan semua orang. Mereka akan punya pendapat berbeda-beda, beberapa bahkan lebih ekstrim daripada yang lain.

Korban dari setiap tragedi besar itulah yang harus lebih kita perhatikan. Itulah cara untuk menghentikan efek domino ini, mengurangi kerusakan. Seharusnya semudah itu, bukan?

Cara lain adalah berhenti menyebarkan kebencian yang tidak masuk akal. Untuk apa? Apa gunanya? Sudah terjadi.

Anda mungkin mengeluh tentang semua sejarah kelam yang ada. Sebelum menyadarinya, Anda sudah membuang-buang waktu dengan tidak melakukan apa pun yang nyata. Yang terus Anda lakukan adalah mengeluh, marah-marah, dan menuduh. Berdebat dan ribut. Selalu mencari orang lain – jika bukan sesuatu – untuk disalahkan. Anda berusaha merasa superior atau lebih penting.

Lalu bertingkah seperti orang yang tahu segalanya. Ngotot harus menang argumen demi hanya ingin menang (dan tentu saja, demi ego Anda sendiri yang sudah membengkak) – alih-alih mencari solusi untuk masalah tersebut. Nggak produktif, ‘kan?

Sementara itu, kejahatan telah menang … sekali lagi. Itulah yang selalu diinginkannya, untuk membuat kita saling bertentangan. Kejahatan ingin kita saling membenci, secara bertahap menghancurkan kedamaian.

Banyak orang memilih untuk terlalu terbawa suasana. Mereka sudah terlalu tertekan oleh masalah sehari-hari. Mereka perlu curhat … banget. Mereka ingin marah dan kadang-kadang menjadi sangat jahat. Sayangnya, beberapa memang suka begitu, hanya karena mereka sedikit kayak ‘psikopat’.

Jangan khawatir, karena kebaikan tidak hilang. Pertarungan masih berlangsung.

Anda masih bisa melihatnya setiap hari. Masih banyak orang yang berfokus pada para korban dan memulihkan perdamaian. Menggerutu bukanlah yang kita semua butuhkan. Bantulah perbaiki yang rusak.

Anda memilih skeptis? Terserah. Anda bisa menjadi orang yang sinis dengan mengatakan hal-hal seperti: “Ah, hanya pura-pura!” dan “Mari kita lihat berapa lama ini akan berlangsung.”

Coba tebak. Orang-orang ini ada untuk mengatasi kesinisan Anda. Mereka masih percaya pada belas kasih yang tulus. Setidaknya, mereka melakukan sesuatu yang nyata. Apakah itu akan bertahan atau tidak, itu tidak masalah. Apa yang mereka lakukan, tidak peduli seberapa kecilnya bagi Anda, sudah cukup untuk mengurangi kerusakan besar yang disebabkan oleh efek domino ini. Itu masih lebih baik daripada tidak sama sekali.

Sementara itu, apa yang Anda lakukan untuk membuat segalanya lebih baik? Hanya duduk dan menonton, sebelum mengetik komentar? Apakah Anda bahkan keluar dari sana dan melakukan sesuatu yang nyata, sesuatu yang lebih produktif?

Anda yang memutuskan, bukan saya. Ingatlah bahwa Anda adalah bagian dari efek domino, baik untuk yang bagus maupun yang buruk. Setiap kata itu penting. Apa yang Anda katakan / ketik mencerminkan Anda, bukan mereka atau orang lain.

R.

Categories
#catatan-harian #lomba #puisi

Setia?

Setia?

Setiamu, wahai istri

bakal surgawi

Tiada tuntut maupun tanya

Tinggal terima

harus dengan sukacita

Narkoba mengubah semua

Suami gelap mata

namun istri masih dituntut harus setia

membela martabat keluarga

meski haram adanya

Istri berakhir di penjara

berpisah dengan anak-anaknya

Sementara,

suami di luar sana

entah di mana

namun telah mendua hatinya

Setia?

Surga apanya?

Hanya neraka dunia

menuruti suami bedebah

Akhirnya, suami juga terpenjara

akibat narkoba

Ada syukur di hati terluka

dan istri yang berhenti setia

Untuk apa?

Percuma,

bila khianat balasannya…

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

Susah Tidur?

Susah Tidur?

Bagaimana mengatasi susah tidur? Apakah dengan memaksakan diri menutup mata? Apakah dengan mengendalikan pernapasan, sambil menjernihkan pikiran? Apakah dengan berdoa kepada Tuhan di malam hari?

Bagaimana jika masih tidak bisa tidur? Mungkin ada yang mencoba membuat diri sendiri sibuk sampai akhirnya terlalu lelah untuk tetap terjaga. Bisa membaca atau menulis. Bisa menonton TV, menjelajahi saluran untuk menemukan program paling membosankan yang mungkin bisa membuat Anda tertidur.

Beberapa mungkin lebih suka mendengarkan musik. Apakah itu membantu? Saya juga berharap begitu, tetapi bagaimana jika tidak? Bagaimana jika masih terjaga, bahkan ketika benar-benar kelelahan?

Terkadang Anda dapat menemukan teman untuk menemani. Namun, tidak harus mereka. (Selain itu, tidak semua orang cocok untuk peran ini – tidak peduli seberapa baik mereka.) Seringkali, satu orang saja sudah cukup.

Teman seperti ini tidak punya masalah begadang semalaman seperti Anda. (Mungkin, mereka juga tidak bisa tidur.) Anda berdua dapat chatting online atau di telepon. Lebih baik lagi jika kalian berdua tinggalnya dekat, lalu kenapa tidak bertemu langsung? Kalian bisa nongkrong di teras depan rumah, dengan minuman favorit Anda. Mungkin kalian akan tetap terjaga sampai subuh.

Mungkin tidak. Meski begitu, pastikan hari berikutnya adalah akhir pekan. Anda tidak ingin melalaikan pekerjaan. Sebaiknya jangan.

Saat ini adalah hari-hari yang berat bagi beberapa. Tidak punya cukup uang untuk hampir semuanya selalu menjadi salah satu penyebabnya.

Boleh merasa gelisah, lelah tetapi tidak bisa tidur. Namun, tidak semua memiliki kemewahan untuk bersantai. Beberapa hanya harus terus bekerja.

Mungkin beberapa teman baik Anda telah menyarankan beberapa pil … hanya untuk membantu Anda tidur. Gagasan itu mungkin terdengar menggoda, tapi hati-hati. Anda mungkin bisa kecanduan.

Anda mungkin juga gagal mengabaikan hantu itu, suara jahat di dalam kepala Anda – di sudut yang paling gelap. Anda tahu apa yang sering memberitahu Anda saat sedang putus asa:

“Ayo. Tambah saja lagi. Jangan khawatir. Pil-pil ini akan menyelamatkanmu dari rasa sakit … “

Jadi, Anda hanya mengkonsumsinya sekali. Setelah itu, tidak lagi.

Ini hanyalah beberapa pilihan untuk mengatasi susah tidur. Pilih salah satu – atau beberapa? Seperti biasa, semuanya terserah Anda.

Jadi, bagaimana Anda mengatasi susah tidur?

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Tertawa Dalam Diam

Tertawa Dalam Diam

Tidak perlu menang

dalam perdebatan

dengan anak kecil ngambekan

yang enggan disalahkan

Cukup tertawa dalam diam

melihat mereka tenggelam

dalam kebodohan…

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #tips

5 Cara Payah untuk Minta Maaf

5 Cara Payah untuk Minta Maaf

Ketika sadar bahwa kita telah membuat kesalahan – besar atau kecil – minta maaflah. Itulah yang harus dilakukan oleh semua orang dewasa yang benar-benar berakal. Kecuali yang narsis, karena mereka tidak peduli telah menyinggung orang lain.

Atau, apakah mereka masih minta maaf? Bahkan jika mereka melakukannya, apakah mereka benar-benar tulus? Apakah mereka melakukan itu karena sadar telah melakukan kesalahan – atau hanya untuk menyelamatkan muka?

“Tapi setidaknya mereka sudah minta maaf, ‘kan? “

Tentu saha. Namun, waspadalah terhadap beberapa ciri yang “mungkin cukup halus”. Nah, berikut adalah lima (5) cara payah untuk meminta maaf:

1. Alasan, alasan.

“Sori, tapi lo harus mengerti. Gue melakukan ini karena … “

“Aku minta maaf, tapi aku punya alasan kenapa harus begini.”

Jika alasannya masih masuk akal, mungkin masih dapat diterima. Namun, terlalu sering beralasan macam-macam bisa bikin orang lain kehilangan respek sama Anda, bahkan saat Anda bersungguh-sungguh.

Mengakui kesalahan, seburuk apa pun, jauh lebih terhormat daripada mencari-cari alasan. Serius.

2. Menyindir bahwa Anda bukan masalahnya, tetapi justru orang-orang yang telah Anda sakiti.

“Gue minta maaf ya, kalo udah bikin kalian merasa nggak nyaman.”

Kesan awalnya tulus. Sepertinya Anda benar-benar peduli dengan perasaan orang lain sehingga Anda meminta maaf kepada mereka. Anda khawatir sudah melukai mereka.

Namun, Anda lupa menyebutkan satu faktor yang sangat penting: perbuatan Anda. Jika tidak secara spesifik mengakui kesalahan yang telah Anda lakukan, ucapan di atas terdengar sama buruknya dengan menuduh mereka karena terlalu sensitif.

3. Mengolok-olok mereka saat meminta maaf.

“Oke, oke. Sori. Gue nggak nyangka elo se-sensi ini. “

“Ayolah. Saya ‘kan sudah minta maaf. Apakah semua orang kayak saya segitu rendahnya buat kamu? “

Ini juga sama buruknya dengan membiarkan orang menang argumen, tetapi Anda juga kekanak-kanakan dengan mengatakan: “Iya deh, gue terus yang salah dan elo selalu bener.” Mau tahu terdengar seperti apa saat Anda mengolok-olok sembari meminta maaf?

Penghinaan.

Bila melakukan ini, Anda tidak menganggapnya serius. Anda juga meremehkan perasaan mereka. Dengan kata lain, seolah-olah meminta maaf kepada mereka hanyalah lelucon. Jika itu pendapat Anda, maka jangan repot-repot. Anda hanya bersikap brengsek dan itulah yang disebut permintaan maaf ‘setengah niat’.

4. Mengatur-atur mereka.

“Sori, tapi elo nggak usah jahat gini juga dong, sama gue.”

Jika masih kecil, mungkin permohonan ini masih dapat diterima. Jika tidak lagi, inilah masalahnya: setelah mengganggu dan menyinggung mereka, Anda tidak bisa mengatur-atur mereka sesuai kemauan Anda. Memangnya siapa Anda, masih berani berharap/menuntut hak istimewa itu?

Anda tidak dapat mengontrol reaksi orang terhadap Anda, tetapi cara Anda harus memperlakukan mereka. Saat mereka marah, hadapi saja. Bagaimana jika mereka masih tidak akan memaafkan dan malah memberi lebih banyak kerepotan – bahkan setelah Anda meminta maaf? Maka itu masalah mereka, bukan And. Anda sudah melakukan semua yang Anda bisa.

5. Mencoba mencari-cari kesalahan mereka sebagai perbandingan.

Sori, tapi sebenernya elo juga sama aja kali, malah lebih parah. Jadi apa hak lo marah-marahin gue kayak gini? “

Kenyataannya, ada orang yang benar-benar bodoh dan egois. Mereka senang standar ganda dan hanya memikirkan diri sendiri. Saya tahu mereka bisa sangat menyakitkan. Kadang rasanya ingin menunjukkan ketololan mereka. Sulit rasanya untuk tidak menjadi seperti mereka.

Namun, Anda dapat mencoba yang terbaik. Daripada mencoba mencari-cari kesalahan mereka sebagai perbandigan, fokuslah dengan yang terjadi sekarang. Ini bukan soal mereka; ini soal Anda yang harus mengakui kesalahan Anda. Minta maaflah dengan bersungguh-sungguh.

Jika Anda masih ingin mengungkit-ungkit kesalahan mereka, lakukan di lain waktu. Kenali perbedaannya agar tidak mengaburkan penilaian Anda, karena Anda mungkin menggunakannya sebagai alasan untuk tidak harus meminta maaf kepada mereka sama sekali.

Istilah populernya? Playing victim.

Begitu banyak orang sering menggunakan lima (5) cara payah ini untuk meminta maaf. Kadang-kadang Anda memang tidak harus merasa bersalah (seperti ketika Anda membela hak-hak Anda yang dilanggar dan saat mereka meremehkan penilaian Anda.)

Namun, mari kita hadapi kenyataan bahwa Anda juga manusia dan mampu menjadi brengsek juga. Bila menurut mereka Anda begitu dan ada bukti valid untuk mendukung pendapat mereka, terima saja fakta yang tidak menyenangkan itu dengan dewasa. Tidak perlu mengarang alasan atau bahkan mencoba mengeksploitasi orang lain untuk mendukung Anda.

Bagaimana jika Anda tidak ingin meminta maaf? Maka jangan repot-repot. Percayalah apa pun yang Anda ingin tentang diri sendiri. Ingat, permintaan maaf yang tidak tulus sama buruknya dengan penghinaan. Orang tahu kok, bedanya.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Ada Setan di Tempat Ibadah

Ada Setan di Tempat Ibadah

Dia datang dengan senjata

membantai para penyembah

Yang Maha Kuasa

di tempat ibadah

Lalu dia pamerkan dosa

dengan bangga, ke seluruh dunia

demi VIP ke neraka

Setan berwujud manusia

atau manusia berhati setan?

Ah, persetan!

Semoga tiada lagi yang sepertinya…

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

Tentang Lingkaran Kecil Pertemanan

Tentang Lingkaran Kecil Pertemanan

Banyak yang bilang begini. Semakin tua, semakin sedikit teman yang (cenderung) kita miliki. Seperti itulah adanya. Pertahankan lingkaran kecil Anda. Semua orang pintar (harus) melakukannya.

Saya sudah sering mendengar ini. Di satu sisi, ada benarnya. Ini bukan soal waktu dan energi Anda dengan bijak.

Ini juga soal memilih untuk tetap bersama orang-orang yang tidak akan merusak hidup Anda terlalu banyak dengan drama dan racun mereka. Tidak seperti ketika masih remaja dan berusia 20-an. Anda mungkin masih tahan dengan omong-kosong macam itu. Sebut saja kesabaran, toleransi, atau apa pun itu.

Seiring bertambahnya usia, (semoga) Anda (bisa) memilih lebih baik dan menjadi lebih bijaksana. Anda hanya ingin bersama orang-orang yang dapat memberi tujuan hidup lebih baik. Di satu sisi, itu bagus. Itulah hal paling masuk akal yang dilakukan orang dewasa.

Namun, hanya mengandalkan lingkaran kecil teman dekat yang itu-itu saja juga punya  kekurangan. Pertama, Anda berhenti mendapatkan pengetahuan yang lebih bervariasi. Anda merasa lebih nyaman dan mapan. Jika itu yang Anda inginkan, tidak apa-apa. Tidak ada yang buruk dengan keinginan untuk menjaga diri agar tetap aman.

Tetap saja, orang berubah. Kalian mungkin tidak selalu akur. Kalian semua bisa lagi sama-sama sibuk. Teman-teman Anda mungkin punya urusan lain yang belum tentu melibatkan Anda dan juga sebaliknya. Ada saat-saat ketika Anda harus terima, alih-alih merengek seperti diva pencari perhatian: “Mereka akan meluangkan waktu jika benar-benar peduli sama aku.” Kalian mungkin tidak selalu bisa saling mendampingi.

Lagipula, tidak ada yang larangan untuk punya lebih dari satu lingkaran kecil pertemanan. Kenapa tidak punya beberapa? Dengan begitu, jika satu lingkaran pertemanan lagi tidak bisa diajak hangout saat ini, ajak saja yang lain.

Kalau mereka semua lagi pada sibuk? Santai. Tak ada pilihan selain bertahan sendiri. Jadilah mandiri. Jika memungkinkan, mulailah lingkaran baru lagi. Selalu ada cadangan.

Menjaga lingkaran pertemanan tetap kecil adalah pilihan. Begitu juga memiliki beberapa … untuk berjaga-jaga.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

Cara Mengenali Monster di Tengah Kerumunan Manusia

Cara Mengenali Monster di Tengah Kerumunan Manusia

Apakah ini paranoia – atau Anda hanya bersikap realistis?

Tahun lalu telah mengajarkan Anda dengan sangat baik. Tidak hanya itu, sayangnya. Anda melihat sekeliling dan menyadari bahwa dunia semakin gila.

Para monster keluar. Sebenarnya, mereka sudah lama keluar. Masalahnya? Semakin sulit untuk menemukan mereka dan membedakannya. Sebagian besar dari mereka terlihat benar-benar seperti manusia. Beberapa tampak tidak berbahaya dari luar.

Yang berbahaya adalah benak mereka. Pikiran mereka tidak bisa mudah ditebak.

Ini melibatkan pengajaran dan pembagian ideologi yang dipaksakan. Yang harus dilakukan dan cara menyebarkan kepercayaan palsu. Uang yang didapat, orang-orang tertentu yang dihujat. Ajaklah ‘massa yang tepat’ untuk mendukung ‘perjuangan’ Anda.

Yang mana mereka? Sayangnya, Anda tidak benar-benar tahu. Mereka bisa dimana saja dan siapa saja. Kadang-kadang Anda menghabiskan terlalu banyak waktu dan energi untuk mencurigai orang asing sehingga melupakan satu kemungkinan penting:

Mereka bahkan mungkin tidak se-asing itu. Bisa jadi Anda mengenal mereka atau bahkan lebih buruk – mereka teman terpercaya yang telah lama Anda percayai.

Menakutkan, bukan? Dikira Anda sudah mengenal semua orang cukup lama. Mungkin sampai batas tertentu, Anda benar-benar kenal. Mungkin ada sesuatu yang mengubah mereka. Anda mungkin telah pernah berbuat salah pada mereka dan tidak menyadarinya.

Mungkin mereka hanya memandang hidup dengan pahit. Kejahatan adalah pilihan – dan begitu pula kesombongan. Sama juga dengan ketidakpedulian. Siapa tahu? Siapa yang bisa benar-benar menebak? Dengan kemungkinan suram ini di dunia, terkadang sulit untuk tetap positif dan hanya main percaya orang lain. Rasanya menyulitkan untuk menemukan orang yang baik, tetapi bukan berarti itu tidak mungkin.

Harapan itu masih mungkin, tidak peduli seberapa kritis situasinya. Namun, harus ada keseimbangan. Tidak apa-apa untuk merasa bahagia dan memiliki keyakinan pada orang-orang lain. Lagipula, hal-hal itulah yang membuat harapan tetap hidup. Selalu ada alasan yang lebih baik untuk hidup.

Namun, jangan terlalu naif dalam mempercayai orang lain. Anda masih perlu mempersiapkan diri untuk ‘skenario terburuk’. Bukannya Anda menjadi pesimis. Anda hanya sseeorang yang realistis!

Jika orang mengolok-olok dan menyebut Anda paranoid karena menjadi seperti ini, maka mereka tidak tahu. Entah tidak tahu – atau memilih untuk menutup mata dan telinga. Entah mana yang lebih buruk.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Mati Rasa?

Mati Rasa?

Kadang hanya mati rasa

yang ada di dalam dada

Lelah sudah lewat

Muak teramat pekat

Tuntutan demi tuntutan

tanpa keadilan

Pengkerdilan rasa

saat kau keberatan

Kata mereka,

kau (bisanya) emosi saja

Sulit meyakinkan otak bebal

yang suaranya selalu keras

meskipun opininya dangkal

Lama-lama malas

Edukasi itu pilihan

namun mereka utamakan

harga diri dan kesombongan

Mungkin juga sudah terlalu nyaman

Ada yang protes dan tak suka?

Merasa tertindas?

Bagi mereka, peduli setan

Yang penting mereka senang

dan selalu (di)menang(kan)

R.

Categories
#catatan-harian #lomba #menulis

Resolusi Traveling 2019 Saya: Ingin Mengunjungi Semarang

Resolusi Traveling 2019 Saya: Ingin Mengunjungi Semarang

Resolusi Traveling 2019? Jujur, saya tidak pernah serius menyusun rencana traveling. Bila kebetulan sedang ada biaya dan waktu, barulah saya bergerak. Biasanya, bila bukan traveling sendiri, saya akan pergi bersama keluarga atau sahabat dekat. Intinya, orang-orang yang paling saya percaya dan membuat saya merasa aman.

Bila traveling tidak sedang dalam rangka liburan, biasanya saya pergi untuk memenuhi undangan acara tertentu. Misalnya: acara kumpul penulis dalam komunitas. Alasan lain adalah ingin mengunjungi sahabat atau keluarga yang tinggal di kota atau negara lain.

Lalu, bagamana Resolusi Traveling 2019 saya kali ini? Tadinya saya ingin kembali ke Sydney, namun tidak yakin ada RedDoorz yang bisa saya andalkan selama liburan. Saya mungkin akan merepotkan sahabat lagi dengan menginap di rumah mereka, meskipun mungkin mereka akan bilang tidak keberatan.

Hmm, enaknya ke luar negeri lagi atau ke luar kota dulu saja, ya? Mungkin untuk Resolusi Tahun 2019 kali ini, saya akan memilih kota Semarang sebagai destinasi wisata. Pertama, saya punya sahabat yang sekarang tinggal di sana sejak menikah dan punya anak. Hanya sesekali kami dapat berjumpa, itu pun dia yang lebih sering ke Jakarta.

Alasan kedua, setiap kali ingin ke sana, entah kenapa rencana saya selalu batal. Mungkin karena memang belum jodoh kali, ya. Terakhir kali, seorang teman yang menikah di sana mengundang saya untuk datang, namun detik-detik terakhir saya malah berhalangan hadir.

Kata sahabat saya, Semarang punya banyak tempat wisata yang seru. Contohnya, ada Ayana Gedong Songo di Krajan, Banyukuning, Bandungan, yang tempatnya Instagrammable banget. Saya ingin menggunakan bubble tent, balon udara, hingga merasakan duduk di tengah kolam.

Berhubung Ayana Gedong Songo jauh dari pusat kota Semarang, sekalian refreshing. Sebagai mahluk ibukota, saya perlu dong, menjauh sementara dari hingar-bingar Jakarta.

Saya juga penasaran dengan Pondok Kopi Umbul Sidomukti. Terletak di kaki Gunung Ungaran (wah, ini lokasi rumah keluarga suami sahabat saya), saya ingin merasakan pengalaman ngopi di area terbuka yang adem.

Lalu, satu lokasi lagi di Ungaran yang ingin saya jajal adalah Watu Gunung. Terletak di Desa Lerep, Ungaran Barat, ada kolam pemandian dengan pemandangan Ungaran yang hijau dan sejuk di mata. Buat saya yang mudah stres karena kesibukan kerja yang seakan tiada habisnya di Jakarta, kabur sejenak ke sini kayaknya oke juga.

Masih banyak tempat-tempat wisata di Semarang yang ingin saya kunjungi, tapi bisa tidak habis-habis kalau dibahas semuanya di tulisan ini. Yang pasti, saya akan memilih naik kereta api untuk pergi ke Semarang. Selain lebih murah, saya juga tidak ingin terburu-buru dan menikmati perjalanan.

Lalu, di Semarang nanti akan menginap di mana?

Karena rencananya adalah Resolusi Traveling 2019 untuk diri sendiri, kali ini saya tidak mau merepotkan sahabat. Lagipula, lebih enak menginap sendiri dan bepergian sesuka hati tanpa merepotkan yang punya rumah. Untuk itu, saya akan memilih untuk menginap di RedDoorz.

Saya bersyukur RedDoorz tersebar di banyak lokasi di Indonesia. Di Semarang, saya bisa menemukan hotel RedDoorz di banyak tempat. Ada yang di Kota Lama, RedDoorz Plus di dekat Universitas Diponegoro, dekat Sam Poo Kong, dekat Java Mall hingga di Sultan Agung. Pokoknya, nuansa merah-putih yang menjadi logo mereka tidak akan mudah terlewat, deh.

Meskipun belum pernah sekali pun menginap di RedDoorz, saya sudah mendapatkan rekomendasi dari berbagai artikel yang saya lihat secara online. Dari fotonya tampak meyakinkan. Kamar tampak bersih terawat, hingga ke linen. Itu baru satu dari 6 guarantee services yang bisa didapatkan bila menginap di sana.

Lalu, bagaimana dengan yang lima lagi? Memang, meskipun kemungkinan besar saya akan lebih banyak jalan-jalan di luar ketimbang mendekam di kamar hotel, saya tetap membutuhkan kamar yang nyaman. Meskipun harga terjangkau, RedDoorz tidak akan membiarkan kamar mandinya kotor dan tampak mengerikan.

Servis lain yang menyenangkan termasuk perlengkapan mandi untuk tamu yang menginap. Bukannya saya tidak mau membawa shampo, sabun, dan pasta gigi sendiri, ya. Tapi, bisa saja tiba-tiba saya kehabisan di tengah jalan atau tanpa sengaja tertinggal. Daripada jauh-jauh belanja lagi, kamar hotel RedDoorz sudah menyediakannya.

Untuk menghemat konsumsi air minum, air mineral selalu tersedia di RedDoorz. Saya tinggal berbekal tumbler dan mengisinya sebelum bepergian. Saya juga bisa langsung membawanya bila air mineral berada dalam kemasan botol plastik. Jadi, saya tinggal memesan makanan saat bertualang kuliner selama di Semarang. Lagipula, minum air putih jauh lebih menyehatkan, bukan? Sehat di badan sekaligus hemat di pengeluaran.

Malam setiap kali habis berjalan-jalan mungkin bikin saya memilih untuk tetap berada di kamar hotel. Agar tidak kekurangan hiburan, ada televisi yang bisa saya tonton. Bila bosan, RedDoorz juga menyediakan koneksi wifi gratis. Jadi, saya masih bisa online meskipun sedang liburan. Hitung-hitung posting foto-foto hasil liburan ke akun media sosial saya, meskipun mungkin bagi beberapa orang telat.

Apakah saya akan berhasil memenuhi Resolusi Liburan 2019 ini dengan pergi ke Semarang? Semoga saja bisa, karena selain memang sedang membutuhkan istirahat, saya ingin berjumpa dengan sahabat sekaligus mencari ide tulisan yang menarik di blog saya.

Yang pasti, dengan menginap di RedDoorz, traveling jadi terasa lebih nyaman dan menyenangkan. Bisa jadi saya akan semakin ketagihan untuk traveling lagi sesudahnya.