Entahkenapa kita harus berurusan dengan model begini. Kalau masih hanya teman, bisa sih, nggak perlu terlalu dekat. Kalau hanya kenalan biasa, masih bisa dihindari alias berurusan seperlunya.
Kalau keluarga sendiri? Ya, lain lagi. Mau menghindar, kok nggak enak hati. Padahal,model begini hobinya nyusahin sekali – baik sama diri sendiri maupun orang lain di sekitar mereka.
Ada yang kemudian bisa berubah, terutama dengan pendidikan yang tepat dan kemauan keras dari diri sendiri. Namun, sisanya memang keras kepala karena merasa sudah kelewat “nyaman” nyuruh-nyuruh orang.Kalau nggak diturutin, ngambek. Malas bergerak, padahal secara fisik masih mampu.
Kalau dikira jadi anak manja (atau yang dimanja) itu selalu enak, sebenarnya enggak juga. Ini dia tujuh (7) alasannya:
Mereka manusia paling merepotkan di dunia.
Okelah kalau mereka masih bayi, kanak-kanak, atau bahkan berkebutuhan khusus. (Bahkan, yang berkebutuhan khusus pun seringnya lebih mandiri daripada yang enggak. Malu nggak, sih?) Mungkin mereka sendiri nggak peduli, selama masih ada yang melayani. Hanya dengan cara itu mereka merasa lebih penting dan tinggi.
Padahal,sebenarnya mereka sangat merepotkan. Syukur-syukur kalau bisa segera sadar.Kalau enggak? Tinggal tunggu makin banyak yang menjauh. Susah sendiri, deh.
Mereka nggak peduli sama kesehatan diri sendiri.
Sumber: https://unsplash.com/photos/iI4sR_nkkbc oleh: Johnson Wang
“Tolong, dong. Aku capek, nih.”
Sering disuruh-suruh sama model begini, bahkan untuk hal paling remeh sekali pun? Apa iya mereka selalu selemah itu? Mungkin awalnya mereka enak, nggak perlu capek dan nggak perlu mikir. Tinggal nyuruh-nyuruh orang lain dan terima jadi.
Kalau ada yang salah? Tinggal omelin yang mereka suruh-suruh. Gampang banget, ‘kan?Apalagi bagi yang merasa itu memang hak mereka.
Tunggu saja sampai mereka tua. Karena malas bergerak dan lebih banyak tidur serta makan, otot mereka jadi kendor. Daya tahan tubuh rendah, makanya makin cepat capek dan gampang sakit pula. Tuh, malah makin nyusahin diri sendiri sama orang lain, ‘kan?
Soal otak? Jangan tanya. Yang ada malah bahaya makin lemot, gara-gara males gerak dan mikir. Nggak usah yang ribet seperti masalah kelas dunia, yang simpel seperti mengurus diri sendiri saja ogah.
Mereka lebih rentan kena depresi.
Photo via Unsplash
Memang,nggak semua depresi timbul karena rasa malas. (Untuk isu kesehatan mental, sebaiknya cek sumber lain yang lebih terpercaya. Jangan tanya saya.) Namun, lama-lama terlalu menuruti rasa malas juga bisa bikin depresi. Lha, kok bisa?
Begitulah bila orang sulit menerima kenyataan bahwa hidup bukan melulu soal mereka.Lama-lama semua orang bisa kehilangan sabar juga kali, harus selalu melayani kemauan si anak manja yang tanpa henti.
Jelas-jelas mereka termasuk jenis paling ‘ganggu’.
Sumber: Isaiah Rustad
Apa yang biasa dilakukan orang aktif bila bosan? Ya, mereka terus cari kegiatan.Kadang, kalau perlu sampai capek sekalian.
Kalau enggak? Ya, mereka akan memanfaatkan waktu untuk santai. Toh, manusia memang sebaiknya hidup seimbang. Jangan sibuk terus.
Nah,kalau anak manja? Gara-gara kebiasaan malas mikir sendiri, biasanya mereka langsung gelisah dan malah merecoki orang lain.
“Bosen, nih. Enaknya ke mana, ya? Ngapain,
ya?”
Tuh,‘kan? Saking kebiasaan dimanja, sampai lupa berpikir untuk dirinya sendiri.Padahal, bisa jadi kerjaan di depan mata mereka banyak yang harus mereka selesaikan. Payah…eh, kasihan.
Mereka jadi kurang bersyukur dengan yang sudah didapatkan.
Selain dikit-dikit ngeluh, mereka kurang bersyukur dengan yang sudah mereka dapatkan.Padahal mudah lho, tinggal nyuruh-nyuruh orang. Siapa juga sih, yang tahan lama-lama sama model begini? Malah nyebar-nyebarin aura negatif. Ih!
Mereka nggak mudah bertahan sendirian.
Gambar: julian-santa-ana-111265-unsplash
Ya,gimana mau tahan? Namanya juga anak manja. Kecuali mereka sadar dengan shock therapy ini dan mau berubah.
Mereka teman ngobrol paling membosankan di dunia.
Gimana nggak bosen, kalau topik bahasan mereka nggak jauh-jauh dari keluhan ‘capek’ hingga “Kok orang nggak mau pada ngertiin gue, ya?”
Jadi,nggak ada gunanya iri sama anak manja, apalagi sampai pakai kata ‘banget’. Justru hidup Anda lebih berharga, berwarna, dan bahagia…karena selalu bergerak dan berusaha.
Apa rasanya menjadi seorang perempuan
lajang berusia 37 tahun? Apakah ada yang istimewa? Haruskah dibawa nelangsa,
bahagia, atau malah biasa saja?
Mungkin banyak yang langsung stres
saat menyadari belum meraih hal-hal yang sudah didapatkan perempuan lain dalam
usia sama – atau bahkan malah lebih muda. Ya, menikah. Ya, punya anak. Ya,
entah apa lagi yang (dianggap) sesuai standar (sempurna?) masyarakat.
Haruskah saya juga merasa demikian?
Untuk apa? Bukankah bahagia itu (seharusnya) pilihan, apa pun kondisinya?
Pada kenyataannya, manusia akan
selalu berkomentar dan berpendapat mengenai sesamanya. Yang nyinyir dan
menghakimi (sialnya) akan selalu ada. Mereka juga nggak bisa berbuat banyak,
apalagi saya. Takdir hanya milik-Nya. Bukan kita yang pegang nomor urut dan
sebagainya. Manusia hanya bisa berusaha.
Saat ini, saya hanya ingin menikmati
hidup saya, apa pun kondisinya. Mungkin saya hanya sering pulang ke kamar
kosong dan menulis. Mungkin saya memang bekerja setiap hari.
Banyak teman seangkatan saya yang
udah menikah dan punya anak. Banyak juga yang lebih muda dan sudah mencapai
fase hidup tersebut.
Lalu, apa yang jadi masalah? Nggak
ada. Terima saja bahwa hidup setiap orang memang berbeda-beda. Nggak akan ada
yang bisa 100 persen sama, bahkan meskipun dipaksa. Hanya karena beda, bukan
berarti hina. Sesederhana itu saja.
Jika saya harus menulis surat cinta kepada seorang pahlawan, satu aja nggak akan cukup. Bagaimana bisa? Simpel aja. Orang lain mungkin melakukannya dengan mudah. Ketika orang diminta untuk berbicara tentang pahlawan mereka, jawaban mereka bervariasi. Itu sudah pasti. Banyak yang mungkin akan menyebutkan orang tua mereka. Orang lain akan mengatakan itu adalah guru mereka.
Sesekali, Anda bisa bilang salah satu teman atau lebih adalah pahlawan Anak kecil mungkin akan menyebut pahlawan super favorit mereka, meskipun mereka jelas-jelas fiksi. Saya nggak akan memulai dengan anti-heroes, meskipun kayaknya lagi trend banget.
Jika Anda meminta saya untuk melakukan ini, saya mungkin akan cepat kehabisan kertas. Tangan saya bakalan sakit karena menulis surat cinta kepada banyak pahlawan.
Sebenarnya, sulit untuk memilih. Saya tahu bahwa beberapa orang dalam kehidupan kita akan memiliki lebih banyak energi, waktu, kemauan, kemampuan – sebagian atau semuanya – untuk berbuat lebih banyak bagi kita.
Terkadang, mereka tidak bisa atau tidak mau. Terkadang kita yang harus menyelamatkan diri dan nggak gampang kesal saat mereka menolak menolong kita. Lagi pula, mereka hanya manusia biasa, sama seperti kita. Ada saat-saat mereka merasa capek banget.
Namun, haruskah kuantitas – seperti seberapa banyak atau seberapa sering – menjadi faktor di sini? Bagaimana dengan orang asing yang papasan sama kita di jalanan? Kita mungkin tidak akan pernah melihat mereka lagi, tetapi bagaimana jika momen yang sangat langka itu – mereka melakukan sesuatu yang heroik, tidak peduli seberapa kecil dan apakah waktunya tepat? Bukankah itu berarti sesuatu? Bukankah itu juga penting?
Apakah mereka tidak layak dianggap sebagai ‘pahlawan’ juga?
Jika saya harus menulis surat cinta kepada seorang pahlawan, yang pasti nggak mungkin hanya satu. Jadinya banyak … dan nggak akan pernah selesai. Karena kenyataannya, kita akan selalu bertemu dengan mereka di mana-mana.
Pahlawan setiap hari Anda akan selalu ada, terutama jika Anda (ingin) melihat lebih dekat. Orang-orang terdekat Anda, seperti keluarga dan teman-teman, pasti bisa dianggap pahlawan.
Orang asing bisa menjadi pahlawan Anda juga. Mereka bisa jadi orang yang memanggil Anda karena Anda telah menjatuhkan dompet Anda. Mereka bisa jadi menghadang penumpang laki-laki cabul di kereta, jadi bajingan itu tidak akan meraba-raba dada Anda hanya karena dia pikir dia bisa. Mungkin Anda akan melihatnya lagi, mungkin tidak. Mungkin kalian akan menjadi teman atau lebih.
Mungkin kalian akan tetap saling nggak kenal, tetapi siapa yang tahu?
Kita juga sering lupa bahwa terkadang, kita bisa menjadi pahlawan kita sendiri. Bagaimanapun, kita harus menjadi yang pertama untuk mencintai diri kita sendiri tanpa syarat.
Saya beruntung sudah bertemu dengan banyak teman baik. Beberapa bahkan sudah masuk ke dalam kategori sejati. Mungkin definisi saya tentang ‘teman sejati’ berbeda dengan Anda. Tapi, inilah lima (5) ciri teman sejati menurut saya:
Menghargai perbedaan pendapat.
Waktu remaja dulu, mungkin persepsi kita akan teman sejati masih dangkal. Pokoknya, apa-apa harus sama. Harus suka dan benci sama orang-orang/band/hal-hal yang sama. Kalo beda, dianggap nggak setia kawan.
Padahal, yang musuhan sama si A hanya si teman, masa kita yang nggak ada urusan apa-apa disuruh ikut ngejauhin? Payah, ah.
Bagi saya, teman sejati harus bisa bersikap dewasa dan menerima perbedaan, termasuk pendapat. Ini bukan lagi masalah suka film atau band yang beda atau semacamnya. Prinsip kadang memang nggak bisa diganggu, apalagi sampai digugat. Daripada berantem terus, mending terima aja kenyataannya kalau yah, kalian nggak selalu sepakat.
Nggak perlu pake drama. Nggak mau gila, ‘kan?
Menghargai privasi dan ruang gerak masing-masing.
Mungkin waktu remaja, kita suka saling curhat sama teman. Kita saling berbagi rahasia, bahkan sampai ada yang tahu A – Z aib masing-masing.
Kedengaran familiar, yah? Eh, pas tahu ternyata teman menyimpan rahasia sendiri dan enggan berbagi seperti biasanya, kita jadi kesal. Ada rasa nggak nyaman dan nggak aman yang kemudian bikin baperan.
Padahal, baik Anda maupun teman sama-sama berhak akan privasi, lho. ‘Kan, nggak semua hal kalian harus selalu saling tahu. Toh, belum tentu juga kalian suka bila akhirnya dikasih tahu.
Belajar menerima saat lagi sama-sama sibuk dan susah punya waktu untuk ketemu.
Gambar: julian-santa-ana-111265-unsplash
Nah, nah. Jangan mudah baperan kalau udah kayak gini. Semakin dewasa, mau nggak mau hidup bakalan tambah kompleks. Prioritas berubah. Beda dengan waktu masih sama-sama single dulu, apalagi kalau tinggalnya deket dan kerjanya bareng. Mau ketemuan buat nongkrong sampai malam lebih gampang. Tinggal bikin rencana, usaha, dan jadilah.
Sekarang? Boro-boro. Seringnya, rencana tinggal wacana. Kalau sudah begini, biasanya hanya kesal yang tersisa.
Terimalah kenyataan. Nggak ada yang berlangsung selamanya. Mungkin ini lagi belum saatnya kalian bisa ketemuan dan ngumpul lagi seperti biasa. Nggak berarti ada yang lupa, memutuskan untuk lupa, atau karena benci dan udah nggak mau temenan lagi. Hidup ‘kan, nggak sesederhana itu, kali.
Memaafkan dan saling mengingatkan.
Gambar: https://unsplash.com/photos/17yojkc2so4
Rasanya mustahil kalau berharap semua orang akan bisa ‘memaafkan sekaligus melupakan’. Bagian ‘memaafkan’ – nya sih, harus – kalau memang mau tetap jadi teman. Bagian ‘melupakan’ – nya itu yang susah dan bahkan nggak mungkin. Yang benar adalah menerima bahwa ‘berusaha berdamai dengan masa lalu’. Toh, manusia juga nggak ada yang sempurna.
Membuat Anda tumbuh menjadi sosok yang lebih baik.
Nggak masalah kalian tumbuh bareng terus atau beda lokasi. Nggak masalah juga kalian lagi pada sama-sama sibuk dan sulit meluangkan waktu untuk ketemu atau sekadar ngobrol. Yang pasti, giliran bisa, rasanya seperti kemarin saja baru ngobrol dan ketemuan. Nggak ada bedanya.
Yang pasti, beruntunglah bila sudah menemukan teman seperti ini. Meski bukan satu-satunya, belum tentu semua orang seberuntung Anda.
Kenapa sih, orang pada suka banget travelling? Alasannya pasti beda-beda. Ada yang penasaran dengan budaya lain dan ingin menambah teman. Ada yang hanya ingin jalan-jalan. Ada juga yang ingin membunuh rasa bosan. Apa enaknya sih, berada di tempat yang sama terus-terusan?
Namun, ada juga yang travelling demi kelihatan keren, alias atas nama gengsi. Yang penting sering-sering keluar negeri, sekalian pamer foto-foto selfie. Ada yang sampai berhutang di sana-sini, terus nggak tahu malu lagi.
Bagaimana dengan Anda? Semoga bukan termasuk golongan yang terakhir.
Ada yang menyamakan travelling dengan kebutuhan spiritual. Tujuannya untuk menenangkan diri, entah setelah kehilangan orang terdekat, patah hati, hingga entah apa lagi. Apa pun alasannya, semoga travelling mendatangkan bahagia dan manfaat (serta nggak perlu pake ngutang maupun bikin berang orang.)