Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Semalam dalam Euforia

Mungkin aku bukan dia

gadis pesta yang main mata

membelaimu saat kita bicara

seakan aku tak ada

Aku sudah cukup bahagia

saat mereka berkata:

“Dia tetap menghadap

dirimu yang mengajaknya bercakap.”

Padahal, waktu itu aku tidak ber-makeup

Itu sudah lebih dari cukup bagiku

Tak perlu berharap semu

Toh, belum tentu selanjutnya kita bertemu

R.

Categories
#catatan-harian #lomba #menulis

Perjalanan Saya Sebagai Narablog pada Era Digital

Jika ada yang bertanya mengenai pengalaman saya menjadi seorang narablog atau blogger, ceritanya panjang. Yang pasti, saya mengawalinya saat kuliah di tahun 2000. Waktu itu, blog pertama saya ada di dalam sebuah website berbahasa Inggris. Saya juga menulisnya dalam bahasa Inggris.

Seperti halnya mahasiswi, blog saya awalnya hanya berisi curhatan khas anak kampus. Biasa, cerita hidup saya dan orang-orang di sekitar saya. Ya, soal keluarga, kuliah, teman-teman, sosok lelaki yang saya taksir, hingga tentang pandangan hidup saya sendiri.

Selepas lulus kuliah dan mulai bekerja, saya baru menyadari fungsi dan manfaat lain dari menjadi seorang narablog. Pertama, saya sadar bahwa seharusnya saya tidak secara utuh memperlakukan blog saya sebagai ‘buku harian digital’ yang malah dapat dibaca dan dikomentari oleh semua orang.

Yah, kurang lebih seperti banyak netizen yang hobi curhat atau memaki di media sosial mereka, hehehe.

Secara perlahan, saya mulai sedikit mengubah gaya dan tema penulisan saya kadang-kadang. Makanya, ini yang bikin banyak orang membedakan profesi blogger dengan seorang content writer. Bila seorang blogger masih lebih banyak memasukkan unsur diri mereka ke dalam cerita, maka content writer berbeda.

Seorang content writer bisa menulis tentang review produk, film, buku, atau bahkan resto dan lokasi nge-hits lainnya. Apa bedanya dengan narablog?  Menurut pengamatan awam saya, mereka lebih mengandalkan narasumber selain diri mereka agar lebih objektif.

Kurang-lebih, seperti jurnalis – tapi lebih seperti citizen journalist. Tapi, yang saya tulis barusan hanyalah segelintir dari banyak contoh yang ada. Selanjutnya, kalau mau jadi blogger, content writer, atau malah keduanya juga terserah. Tidak perlu saling membatasi diri bila memang suka dan bisa melakukan keduanya.

Intinya, saya percaya bahwa content writer dan narablog punya rezeki mereka masing-masing. Tidak perlu ada yang merasa iri atau tersaingi.

Momen-momen Spesial Saya Saat Nge-Blog:

Saat membahas momen-momen spesial nge-blog, pasti langsung banyak yang mengaitkannya dengan kemenangan saat ikut lomba menulis blog. Jujur, saya tidak pernah menolak rezeki seperti itu. Kebetulan, saya memang juga suka mengikuti lomba menulis blog maupun yang lain.

Bisa dibilang, saya termasuk pecandu writing challenge. Sebagai seorang narablog, saya sudah pernah memenuhi berbagai tantangan menulis. Mulai dari blog tentang opini, fiksimini, cerpen, puisi, hingga review produk. Kadang ada yang berhadiah uang, voucher, hingga sekadar acknowledgment.

Mungkin kesannya saya tidak punya gaya menulis yang tetap atau ciri khas. Padahal, saya masih tetap berusaha konsisten. Misalnya: saya tidak akan berusaha selalu memakai bahasa gaul kekinian bila memang tidak nyaman. Untuk apa memaksakan diri? Pembaca juga cerdas-cerdas, kok.

Selain itu, saya juga tidak akan memaksakan diri mengikuti lomba blog dengan produk yang saya tidak kenal dan tidak pernah pakai. Saya bahkan tidak mau berbohong, bahkan meskipun hadiah lombanya sangat menggiurkan, seperti uang jutaan rupiah, voucher, hingga produk gadget incaran saya.

Beberapa momen spesial saya saat nge-blog tidak selalu berkaitan dengan menang, dapat uang, atau belanja dengan voucher pemberian. Membaca komentar-komentar seru dari para pembaca, hingga pernah mendapatkan klien juga momen-momen spesial saat nge-blog.

Hingga kini, sebisa mungkin saya masih terus menyempatkan menulis blog. Selain sebagai latihan, saya memang menyukainya. Saya juga banyak belajar dari para rekan blogger yang saya kenal agar kemampuan saya tidak mandek di situ-situ saja. Pada kenyataannya, semua orang memang harus berkembang.

Harapan Saya Sebagai Narablog atau Blogger di Tahun 2019:

Sumber foto: Steve Johnson via Unsplash.com

Di awal bulan Januari 2019 ini, saya memutuskan untuk memulai aktif lagi menulis blog. Saya mulai mencoba-coba mengikuti lomba menulis blog yang ada. Tidak perlu memikirkan ingin mendapatkan hadiahnya dulu (meski nggak bakal menolak kalau memang sudah rezekinya, hehehe.) Yang penting mencoba.

Selain itu, saya berusaha lebih update dengan berita terkini (meskipun menurut saya kadang isunya ‘enggak banget’ alias ‘sampah’). Saya suka menulis opini saya. Orang boleh setuju, boleh tidak. Asal, kalau tidak setuju, bahasanya tidak usah kasar, karena tidak akan saya ladeni sampai kapan pun.

Untuk berlatih variasi menulis, kadang saya juga menjadi seorang blogger tamu di website-website lain. Yang pasti, aturannya berbeda dengan menulis di blog milik sendiri. Tidak boleh egois. Saya harus mengikuti tata cara yang berlaku di dalam website yang ada.

Tidak seperti di blog sendiri, tulisan saya pasti masih akan dikurasi editor dulu sebelum tayang.

Banyak yang menjadi seorang narablog atau blogger demi mendapatkan penghasilan dan ketenaran. Bagi saya, selain penghasilan tentunya (hehehe lagi), saya ingin agar siapa pun yang membaca blog saya merasa menemukan manfaat dan mendapatkan inspirasi, hihihi…

Selain itu, saya punya cita-cita bahwa suatu saat ingin menjadi penulis fulltime yang mandiri. Ya, seperti penulis-penulis favorit saya yang bahkan sudah berjaya sebelum era digital muncul. Tapi, tentu saja saya tidak akan bisa menyamakan diri saya dengan mereka. Pastinya tidak mungkin.

Saya juga tidak mau. Kagum sama mereka boleh, namun lebih baik tetap menjadi diri sendiri dan menemukan gaya menulis sendiri.

Semoga suatu saat blog ini dapat saya monetisasi dengan sepenuhnya. Yang pasti, saya bangga menjadi narablog pada era digital ini.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Manja

Manja

Mengejutkan, kamu masih hidup,

meskipun lamban

raja di istana khayalan

Sungguh membingungkan

Tidak semuanya tentangmu

Kamu tahu

Yang lain harus melakukan sesuatu

Kenapa kamu tidak ikut?

Bocah tua manja

Kemalasan telah mengubahmu jadi petaka

Berhentilah jadi beban semua orang

Dewasalah dan mulai bekerja,

Bahkan meski harus mati-matian

sampai ke tulang …

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

Catatan Tentang dan Untuk Siapa pun Atau Bukan Siapa-siapa

Catatan Tentang dan Untuk Siapa pun Atau Bukan Siapa-siapa

Apa yang biasanya saya lakukan ketika pikiran saya mulai berkeliaran? Saya mencoba menyimpan beberapa pemikiran saya – terutama yang saya anggap paling penting – dalam tulisan saya.

Tentu saja, Anda tidak akan terlalu terkejut. Saya memang memiliki momen “Dear Diary” saya sebagai seorang gadis remaja. Beberapa orang mungkin masih beranggapan bahwa menulis jurnal adalah hal yang biasa-biasa saja, tetapi kita semua tahu itu tidak benar. Sama seperti saya, beberapa orang merasa perlu untuk mendokumentasikan pikiran dan perasaan mereka dengan cara ini. Hanya sesederhana itu.

Saya mungkin hanya salah satu dari mereka yang menulis karena memang ingin melakukannya. Saya jarang khawatir tentang apa yang mungkin dipikirkan pembaca. Jika mereka suka apa yang mereka baca dari saya, bagus. Jika tidak … ya, sudah.

Seiring waktu, saya telah belajar untuk tidak menulis semua tentang saya. Ada baiknya mencoba variasi. Ini juga membantu menjaga diri saya agar tidak terlalu fokus sama diri sendiri atau sedikit narsis … Moga-moga, sih. Jadi, inilah “Catatan Tentang dan Untuk Siapa Pun atau Bukan Siapa-siapa”. Jika Anda curiga bahwa saya mungkin sedang membicarakan Anda juga, barangkali memang benar.

Darimana Anda tahu? Ya, bertanyalah langsung – dan jangan main asumsi.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Yang Akan Kutinggal di Tahun 2018

Jangan tanyakan

tentang bajingan

yang pernah jadikan

hati ini mainan

emosi ini bahan tertawaan

Jangan lancang

sebut aku bermain korban

karena aku masih bertahan

bangkit dari kehinaan

Darimu atau siapa pun,

aku tak butuh penghakiman

Doakan

aku tidak terus diikuti bajingan

hingga 2019

Aku ingin bebas

dari terkutuknya kenangan

tentang si bajingan

di tahun 2018…

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

Resolusi Tahun Baru: Masih Perlu?

Resolusi Tahun Baru: Masih Perlu?

Wah, tahu-tahu sudah di akhir tahun saja. Sudah ngapain saja kita? Apakah semua rencana atau resolusi tahun ini sudah tercapai? Ada yang belum atau baru setengah jalan? Ada yang malah belum mulai sama sekali, padahal sih, rencananya mau tahun ini?

Hmm, coba cek dulu prioritas Anda. Yakin sudah benar? Yakin sudah mengambil cukup banyak kegiatan atau apakah ini hanya masalah manajemen waktu? Apa pun penyebabnya, nggak perlu terlalu keras sama diri sendiri. Jangan-jangan memang ada yang harus diubah atau disusun ulang.

Mungkin, saat ini ada yang tengah berlibur. Ada yang memilih di luar kota atau keluar negeri. Ada yang bersama keluarga, teman-teman, atau pasangan. Selamat bersenang-senang.

Lagi nggak mau pergi terlalu jauh dan memilih merayakannya di rumah saja? Ya, nggak apa-apa juga. Namanya juga pilihan pribadi. Yang penting Anda senang.

Lalu, bagaimana dengan mereka yang terpaksa bekerja di akhir tahun? Ya, beruntunglah bila Anda masih punya pekerjaan. Bersyukurlah bila Anda tidak perlu mengalami yang namanya dipecat, apalagi dengan cara tidak adil. Tanpa sisa gaji, apalagi kompensasi.

Apalagi, sampai digunjingkan ke sana kemari. Sakit hati? Itu pasti. Namun, percuma juga melawan. Sudahlah, relakan saja dan serahkan semuanya pada Ilahi. Biar Beliau yang membalas mereka nanti, hihihi…

Kadang meskipun tidak adil, kita memang harus mengalami hal pahit ini. Kita bisa menjadikannya pelajaran agar lain kali lebih hati-hati dalam mempercayai orang lain. Nggak hanya itu. Kita bisa belajar untuk tidak berubah menjadi seperti mereka. Pilihan untuk mengedukasi diri sendiri itu selalu ada.

Semoga di tahun 2019 nanti, Anda tidak perlu menderita seperti di tahun 2018. Cukup.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Tsunami

Tsunami

Takdir itu berbentuk tirai air

terangkat tinggi ke langit

sebelum jatuh, pecah membanjir

Bangunan tak lagi aman

Lahan tergenang

Jenazah bergelimpangan

Tsunami meraja

Manusia tak berdaya

dikirim pulang ke Sang Pencipta…

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

Teguran untuk yang Gila Kerja

Teguran untuk yang Gila Kerja

Apa yang membuat seseorang gila kerja? Alasannya mungkin beragam. Beberapa hanya menyukai pekerjaan itu sendiri. Itu yang membuat mereka merasa hidup.

Bagi sebagian orang lain, mereka lebih mencintai uang. Mereka mungkin tidak selalu menyukai pekerjaan dan jenis pekerjaan lain yang mereka lakukan. Yang membuat mereka tetap bekerja adalah pemikiran (dan mungkin kemungkinan) untuk menghasilkan uang lebih banyak.

Beberapa orang lain menjadi pecandu kerja untuk menghindari penderitaan mereka saat ini. Entah itu patah hati, kematian seseorang yang mereka cintai, atau bahkan kehilangan uang. (Tidak, saya tidak bercanda pada bagian terakhir.)

Ada perasaan menyenangkan ketika Anda menyadari bahwa Anda masih bisa melakukan sesuatu, terlepas dari semua itu. Anda tidak bisa membiarkan diri Anda menjadi lemah, menjadi berantakan. Terlalu banyak yang dipertaruhkan di sini.

Anda tidak bisa mendapatkan istirahat sekarang, tidak peduli betapa Anda menginginkannya.

Jadi Anda terus memaksakan diri dan berpura-pura semuanya selalu baik, sampai suatu hari … Anda mencapai TITIK JENUH! Tidak, itu tidak selalu berarti Anda marah, tetapi Anda tetap kehilangan sesuatu. Salah satu pekerjaan lepas Anda mulai menderita karenanya.

Hingga saat Anda kehilangan pekerjaan tersebut.

Anehnya, Anda tidak terlalu banyak mengeluh tentang hal itu. Faktanya, yang hanya Anda rasakan akhir-akhir ini adalah dingin. Ada kesadaran yang sudah lama Anda takuti:

Terkadang tidak masalah seberapa bagus Anda pikir tentang kemampuan Anda. Saat Anda lelah, maka Anda lelah. Ketika selesai, itu selesai. Jika Anda lelah, sesuatu selalu berantakan. Paling tidak yang bisa Anda lakukan sekarang adalah memastikan bahwa tidak semuanya berantakan.

Setelah seseorang meninggal, tidak ada jalan untuk kembali. Tidak ada jumlah uang yang dapat mengisi ruang kosong yang mereka tinggalkan. Mereka pergi. Terimalah dan lanjutkan hidup.

Patah hati menyebalkan. Patah hati membuat Anda menyadari bahwa pada akhirnya, Anda akan selalu sendiri lagi. Orang bisa membuat dan mengingkari janji. Seperti itulah adanya. Hadapi saja.

Mereka dapat mengatakan apapun yang mereka suka dan tidak menyadari konsekuensinya. Mereka tidak peduli bahwa mereka memberi Anda harapan palsu sebelum akhirnya menghancurkan semua harapan tersebut.

Terkadang uang lebih penting. Anda hanya perlu belajar merawat diri sendiri dengan lebih baik. Jika tidak, Anda bisa / akan terinjak-injak dengan terlalu mudah, lagi-lagi.

Lupakan siapa saja yang berani menjanjikan Anda seluruh dunia. Rayuan dangkal itu seharusnya tidak pernah berhasil dari awal. Tidak seharusnya mudah termakan gombalan picisan macam itu sekarang – dan jangan pernah lagi.

Jangan repot-repot membalas dendam terhadap mereka yang telah menyakiti Anda. Terkadang mereka tidak layak. Mereka tidak pernah benar-benar peduli dengan Anda, jadi apa yang Anda pedulikan? Kenapa harus peduli? Mereka sudah melanjutkan, menciptakan sesuatu yang baru. Beberapa orang menyarankan Anda untuk melakukan hal yang sama.

Ya, ini satu hal yang pasti. Kemarahan adalah sesuatu yang sangat kuat. Anda masih harus mengandalkannya saat ini agar tetap kuat.

Tidak, Anda tidak akan mencoba menghancurkan mereka. Untuk apa? Mereka tidak layak, bahkan ketika mereka berpikir terlalu tinggi tentang diri mereka sendiri. Anda memiliki banyak hal yang lebih baik untuk dilakukan daripada mengurusi mereka lagi.

Pertama, cobalah untuk tidak pernah bertemu orang-orang seperti mereka lagi. Kedua, cobalah untuk tidak menjadi seperti mereka, terutama saat Anda sudah bangkit kembali. Ketiga, pastikan Anda melakukannya – dan singkirkan orang-orang seperti mereka. Jangan biarkan mereka menguasai pikiran Anda … untuk selamanya. Mereka tidak pantas berada dalam hidup Anda.

Segera, Anda tidak akan lagi membutuhkan mereka – dan uang yang sudah Anda peroleh sebagai hak, tetapi mereka entah bagaimana masih menolak untuk membayar. Mungkin mereka tidak memilikinya dan kabur dari tanggung jawab mereka. Siapa peduli? Anda lebih baik tanpa mereka!

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Sempurna

Naiklah tanpa berhenti

hingga ke lantai tertinggi

dengan tangga ini

Jangan menoleh ke belakang

meski tak ada saingan

meski ternyata kau sendirian

Teruslah maju

meski lelah dan jemu

meski muak menderamu

Tangga ini tak berujung

Kau mulai bingung

sebelum kembali jatuh tanpa untung

Sempurna?

Tiada

Hanya fatamorgana

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

Tentang Kejujuran Brutal versus Stereotyping

Mari kita akui saja; stereotyping sulit diatasi. Generalisasi selalu ada, entah kita mau mengakuinya atau tidak. Mencoba melawannya sama sulitnya dengan memaksa seekor singa menjadi vegan.

Kita mengalami ini di mana-mana – setiap hari dalam hidup kita. Tidak peduli latar belakang gender, ras, kepercayaan, agama, bangsa, atau lainnya. Beberapa memang diucapkan dengan niat jahat, yaitu sengaja untuk membuat Anda merasa sedih.

Ada yang jadi kesal dengan apa yang dilakukan beberapa orang tertentu dan yang hobi menyederhanakan masalah, mengkategorikan semuanya sebagai ‘sama saja’. Yang lain tidak mungkin tahu apa-apa, terutama karena mereka dibesarkan dengan semua “-isme” negatif mengenai beberapa tipe orang tertentu. (Seksisme, rasisme … sebutkan saja semuanya.)

Kategori pertama adalah yang murni bermusuhan. Bisa jadi ini pengaruh dari cara mereka dibesarkan. Bisa jadi dari pengalaman buruk – kebanyakan berulang – saat berurusan dengan tipe orang tertentu. Yang terburuk bahkan bisa kombinasi keduanya. Mereka lebih dari cukup untuk mendorong kebencian yang tumbuh dan tak tertahankan di dalam.

Setelah itu, nggak berpengaruh juga bila orang-orang yang sangat mereka benci itu sebenarnya tidak semuanya jahat. Mereka bahkan tidak perlu repot-repot menambahkan bilangan tertentu seperti ‘sebagian’ atau ‘banyak’ untuk menjelaskan bahwa mereka nggak bermaksud menyatakan ‘semua’ sama saja.

“Saya hanya mengatakan yang sebenarnya,” kata mereka biasanya. “Kaum kalian ya, seperti itu. Maaf kalau kalian tidak bisa menangani kejujuran saya. “

Orang lain terkadang tidak bermaksud untuk melakukan stereotyping secara kasar. Mereka punya beberapa – jika tidak terlalu banyak – pengalaman yang mengerikan dengan tipe orang yang sama.

“Sulit untuk tidak membuat stereotipe atau menyamaratakan mereka,” seorang teman pernah mengaku. “Saya terus bertemu dengan mereka yang bertindak buruk terhadap orang lain. Apa aku salah? ”

Itu sulit, bukan? Tidak masalah jika Anda menggunakan bilangan seperti ‘sebagian’, ‘banyak’, atau apa pun. Beberapa orang pasti bakalan salah paham, nggak peduli niat Anda.

Pada akhirnya, Anda harus sesamar mungkin dan nggak terlalu detil agar tidak menyinggung siapa pun. Mungkin cara ini akan mengganggu keahlian bercerita Anda sedikit, tapi…ya, sudahlah. Toh, ini juga demi ‘kebaikan bersama’, bukan?

Beberapa orang lain tumbuh dengan ‘keyakinan salah, menyesatkan, dan sepihak’ tentang beberapa jenis orang tertentu. Budaya beracun telah memainkan peran utama dalam membentuk pikiran mereka. Orang tua mereka telah mengajari mereka demikian.

“Jangan berteman dengan orang-orang dari agama itu. Mereka akan melakukan apa pun di dunia hanya untuk mengubah Anda. “

“Jangan berkencan dengan gadis-gadis dari ras itu. Mereka terkenal matre. “

“Orang gemuk selalu makannya rakus … wajah cantik biasanya tidak punya otak … semua laki-laki begini … semua perempuan begitu …”

Capek banget, ya? Tidak ada yang mendengarkan. Setiap orang selalu punya pendapat tentang sesamanya. Yang terbiasa punya privilege (selalu diistimewakan) merasa terancam, karena sudah kelewat nyaman dengan posisi mereka sekarang dan menolak berbagi beban sosial dipaksakan kepada pihak lain – hanya karena dianggap memang itu sudah seharusnya.

Sementara itu, kaum tertindas sudah lama muak dengan ketidakpedulian pihak lain. Mereka lelah diremehkan, direndahkan, diragukan, dan bahkan lebih buruk lagi … dianggap nggak masuk akal.

“Kamu kelewat baperan. Harusnya belajar cuek dong, meskipun orang hanya mau jujur soal kenyataan tentang kaummu. ”

“Oh, ngerti deh. Elo ngomongin kalangan gue karena nggak terima gue udah jujur soal kalangan elo. Sekarang stereotyping? ”

Bahkan meskipun beberapa pendapat tersebut ternyata benar, percuma juga. Beberapa orang masih tersinggung, bahkan meskipun mereka yang memulai topik ini duluan. Pastilah ada yang bakalah sakit hati.

Jadi apa yang kita lakukan sekarang? Jujur saja, saya lebih fokus pada solusi daripada memaksakan bahwa saya benar (meskipun sebenarnya saya memang pas lagi benar).

Pada dasarnya, Anda tidak dapat benar-benar mengubah siapa pun. Jika beberapa orang memilih untuk percaya bahwa orang-orang di golongan Anda mengerikan, maka mereka akan selalu mempercayainya. Saya tidak bermaksud membuat Anda putus asa, tetapi terkadang percuma juga jika Anda mencoba membuktikan sebaliknya. Mereka bahkan tidak sepadan dengan waktu dan energi Anda. Mereka sudah memutuskan dan tidak akan mendengar apa pun lagi dari Anda.

Jika beberapa orang berpendapat bahwa banyak dari golongan kita buruk bagi mereka dan / atau orang lain, semenyakitkan apa pun kedengarannya – mungkin kita perlu menganggapnya sebagai teguran serius. Mungkin itu memang kenyataan, bahkan ketika kita tidak termasuk yang ikut digunjingkan. Saya sadar nggak semua orang berpikir seperti ini – atau apakah ada yang harus berterima kasih kepada mereka karena telah bergunjing. (Saya tahu saya tidak akan melakukannya, meskipun gunjingan mereka ada benarnya juga.)

Namun, hal ini menyedihkan tetapi nyata. Apa yang kita lakukan tidak selalu hanya tentang kita sendiri. Kadang-kadang, kalau nggak sampai sering, yang kita lakukan dianggap hanya sebagai patokan untuk orang lain dalam menilai kaum yang terkait dengan kita – baik berdasarkan jenis kelamin, ras, agama, keyakinan, bangsa, atau beberapa atau semua hal tersebut.

Anda benar tentang satu hal dan saya (mungkin harus) setuju. Beberapa orang tidak bisa menolong diri sendiri. Ada yang tidak mau, karena mengedukasi diri sendiri adalah pilihan pribadi.

Kita tidak dapat mengendalikan semua orang. Satu-satunya hal yang dapat kita lakukan adalah berusaha untuk tidak jatuh ke dalam stereotipe mengerikan mengenai golongan kita. Bersikap baiklah kepada orang lain, meskipun sulit. Setelah itu, jika mereka masih memilih untuk tidak peduli dan bersikap bebal, maka itu masalah mereka – bukan kita.

Lalu bagaimana kita mendeskripsikan seseorang yang kebetulan kejam kepada kita – tanpa terdengar begitu bias gender atau rasis atau semacamnya, daripada hanya melaporkan apa yang nyata? Yah, itu mungkin tergantung pada konteksnya.

Misalnya, jika orang itu kasar kepada Anda, jangan mengaitkannya dengan latar belakang atau asal orang itu. Hanya bagaimana mereka, walaupun beberapa dari mereka mungkin melakukan hal yang sama.

Namun, ketika Anda harus menggambarkan seorang tersangka kejahatan kepada polisi, Anda tidak boleh terlalu samar-samar tentang deskripsi fisik dan bahasa yang mereka gunakan. (Ya, Anda diizinkan untuk membuat apa yang disebut tebakan cerdas sesuka Anda, tetapi selama masih memungkinkan.) Sisanya tergantung pada penegak hukum. (Yah, meskipun banyak dari mereka yang tampaknya lebih bermasalah daripada membantu belakangan ini. Lihat, barusan saya hanya menggunakan kata ‘banyak’ untuk menghindari stereotyping atau generalisasi.)

Selain itu, simpan saja sendiri pendapat Anda jika takut disalahpahami. Nggak peduli  jika Anda benar atau Anda tidak bermaksud jahat. Nggak peduli juga ada yang suka standar ganda, misalnya: kalau mereka yang ngomong berarti jujur, tapi giliran Anda yang ngomong langsung dicap nggak sopan. ‘Kan curang?

Pasti bakalan ada yang tersinggung. Nggak peduli maksud ucapan Anda. Anda tidak bisa menyenangkan seluruh dunia.

R.(Ditulis dengan perasaan muak luar biasa.)