Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Apa yang Kau Cari?

Apa yang Kau Cari?

Apa yang kau cari

di ruangan ramai ini?

Ada yang hilang dari cantikmu

Senyum palsu

Mata sendu

Aku tak tertipu

Kau lingkarkan lengan di setiap lelaki yang menarik minatmu

Di matamu, mungkin aku cupu dan lugu

Jangan tertipu tampak luarku

Kau mungkin tak peduli

lelaki mana yang akan pulang denganmu malam ini

Apa pun untuk mengusir sepi

Toh, pendapatku tak berarti

Aku juga enggan menghakimi

Bersyukurlah dia bukan kekasihku

Aku sudah cukup melihat malam itu

Saatnya pulang

Jiwa ini lelah bukan kepalang

melihatmu rakus merampas kebahagiaan semu

tanpa peduli sekelilingmu…

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #tips

5 Kebiasaan Ini Nggak Akan Bikin Anda Lebih Baik Meski Sudah Married


5 Kebiasaan Ini Nggak Akan Bikin Anda Lebih Baik Meski Sudah Married

Beginilah risiko hidup di Indonesia. Sampai melewati batas kemuakan siapa pun, perdebatan soal kualitas hidup si lajang versus yang sudah menikah beneran awet tenan. Yakin nih, udah nggak ada topik lain yang lebih penting?

Sebenarnya, saya juga bosan menulis soal ini. Tapi gimana ya, kalau kualitas berpikir orang Indonesia masih banyak yang kayak begini? Saya juga nggak anti pernikahan, tapi…tolong, deh. Ini lima (5) kebiasaan yang nggak akan bikin Anda lebih baik meskipun sudah married:

  • Merasa sudah ‘laku’.
Gambar: thedesignerprotraitstudio.com

Hadeuhh…hari gini masih mau menyamakan diri dengan barang dagangan? Merasa lebih ganteng/cantik/baik, hanya karena ada yang suka dan mengajak/menerima tawaran hidup bersama dalam ikatan pernikahan? Kok menyedihkan?

Sebelum dihargai orang lain, hargailah diri sendiri dulu. Jadi, Anda nggak akan terjebak dengan anggapan bahwa pasangan adalah sumber kebahagiaan paling utama di dunia bagi Anda, mengalahkan Sang Pencipta kalian berdua.

  • Langsung merasa bahwa “Dunia nggak seburuk itu, kok.”

Oke deh, bila Anda memang lagi happy banget. Dunia terasa lebih indah dan sempurna dengan adanya si dia. Semua kebahagiaan dan masalah dibagi bersama. (Semoga ini beneran lho, ya.)

Tapi, kayaknya naif banget bila lantas beranggapan bahwa dengan menikah, semuanya akan selalu baik-baik saja. Apalagi kalau menikahnya belum lama, hihihi…

Mungkin dari kacamata Anda, dunia sepertinya sudah tanpa cela. Namun, sayangnya Anda jadi terkesan tidak punya empati dan menutup mata sama realita.

Pernikahan Anda bahagia? Baguslah. Jangan lupa, tidak semua orang seberuntung Anda (dan maksud saya bukan selalu karena mereka masih jomblo, ya.) Ada pernikahan yang dirusak perselingkuhan dan KDRT. Ada yang berakhir dengan perceraian atau kematian salah satu pasangan.

Ada juga yang menikah karena paksaan. Tahu anak-anak perempuan yang dipaksa menikah di usia remaja, terutama karena keluarga mereka dalam kemiskinan dan harus bayar banyak utang? Yakin dunia nggak seburuk itu?

Tentu saja, ini kembali pada pilihan Anda. Kalau mau cari aman dan nyaman, silakan tetap di dalam lingkaran kecil Anda. Bila masih mau memperluas pergaulan, silakan juga. Minimal mainnya ‘agak jauhan dikit’ – lah, biar pengetahuan bertambah dan (semoga) kepekaan empati terasah.

Siapa tahu juga, pasangan Anda sebenarnya juga masih butuh kehidupan lain, alias nggak hanya menjadikan Anda pusat dunia mereka 24 jam sehari. Masa, sih? Ya, tanya mereka dong, jangan saya.

  • Masih hobi nyinyir sama yang masih single (apalagi bila mereka perempuan di atas usia 30).

Kalau masih percaya bahwa perempuan yang masuk dalam kategori ‘perawan tua’ (masih lajang di usia 30 ke atas) adalah tukang nyinyir, mending cek akar permasalahannya dulu, deh. Intinya, siapa sih, yang mulai cari gara-gara dengan mereka, padahal bisa jadi mereka tengah mengurus urusan mereka sendiri?

Ngomong-ngomong, barusan pertanyaan retoris. Masa masih harus saya jawab di sini, sih? Yang dialami salah seorang teman bukan cerita baru. Ada tetangga yang kebetulan bermasalah dengannya dan malah sengaja mencari-cari ‘cacat’ si teman.

“Kayaknya perempuan kayak kamu harus buruan nikah deh, biar nggak nyinyir dan jahat sama orang!”

Padahal, kalau tahu masalahnya, Anda pasti bakal bilang bahwa argumen di atas sama sekali nggak ada hubungannya. Tapi memang dasar masyarakat Indonesia suka masih ada yang begitu. Kalah argumen, yang diserang malah status seseorang. Kekanak-kanakan.

Pada kenyataannya, semua orang berpotensi nyinyir, kok. Ya, termasuk Anda yang dengan sangat bangganya pamer status nikah, lantas mengerdilkan pendapat orang lain hanya karena kebetulan mereka masih single. Bukankah itu sangat dangkal?

  • Merasa bahwa dengan menikah berarti dapat menghindari perkosaan.

Ini lagi logika absurd. Kesannya selama masih single, Anda berpotensi jadi pelaku (terutama bila laki-laki) atau korban (terutama bila perempuan). Bukankah ini namanya penghinaan?

Jujur, saya paling ngeri dengan orang yang berpikir menyimpang seperti ini. Mungkin mereka menganggap bahwa orang yang masih single sulit mengendalikan diri dan bernapsu seperti binatang liar. Pasangan hanya jadi pelampiasan seksual di ranjang. Asli, seram.

Padahal, kalau mau ‘melek statistik’ sedikit saja, banyak kok, korban yang statusnya ternyata sudah menikah. Banyak pelaku yang ternyata punya istri di rumah. Istri (dianggap) ‘kurang melayani’? Belum tentu.

Masih mau menyalahkan perempuan yang keluar rumah sendirian? Lalu apa kabar mereka yang jadi korban perkosaan di rumah, oleh keluarga sendiri pula? Tolong, deh. Stop cari-cari alasan untuk membenarkan pelaku pelecehan seksual apa pun, termasuk perkosaan.

Lagipula, siapa sih, manusia waras yang senang bila harus menikah karena diancam-ancam atau ditakut-takuti?

  • Intinya, selalu merasa lebih baik daripada yang masih single, apalagi janda.

Saya lebih sering mendengar ejekan untuk para lajang. Jomblo ngenes (jones) adalah salah satunya. Seolah-olah status itu begitu hina dan Anda yang sudah terbebas darinya (dengan menikah) berhak mencela-cela. Mungkin karena merasa di atas angin, mengingat kultur di Indonesia begitu memuja-muja pernikahan, terlepas ada yang selingkuh atau babak-belur di belakangnya.

Lalu, apa bedanya Anda dengan orang kaya yang pamer harta di depan mereka yang Anda anggap tak berpunya?

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Semalam dalam Euforia

Mungkin aku bukan dia

gadis pesta yang main mata

membelaimu saat kita bicara

seakan aku tak ada

Aku sudah cukup bahagia

saat mereka berkata:

“Dia tetap menghadap

dirimu yang mengajaknya bercakap.”

Padahal, waktu itu aku tidak ber-makeup

Itu sudah lebih dari cukup bagiku

Tak perlu berharap semu

Toh, belum tentu selanjutnya kita bertemu

R.

Categories
#catatan-harian #lomba #menulis

Perjalanan Saya Sebagai Narablog pada Era Digital

Jika ada yang bertanya mengenai pengalaman saya menjadi seorang narablog atau blogger, ceritanya panjang. Yang pasti, saya mengawalinya saat kuliah di tahun 2000. Waktu itu, blog pertama saya ada di dalam sebuah website berbahasa Inggris. Saya juga menulisnya dalam bahasa Inggris.

Seperti halnya mahasiswi, blog saya awalnya hanya berisi curhatan khas anak kampus. Biasa, cerita hidup saya dan orang-orang di sekitar saya. Ya, soal keluarga, kuliah, teman-teman, sosok lelaki yang saya taksir, hingga tentang pandangan hidup saya sendiri.

Selepas lulus kuliah dan mulai bekerja, saya baru menyadari fungsi dan manfaat lain dari menjadi seorang narablog. Pertama, saya sadar bahwa seharusnya saya tidak secara utuh memperlakukan blog saya sebagai ‘buku harian digital’ yang malah dapat dibaca dan dikomentari oleh semua orang.

Yah, kurang lebih seperti banyak netizen yang hobi curhat atau memaki di media sosial mereka, hehehe.

Secara perlahan, saya mulai sedikit mengubah gaya dan tema penulisan saya kadang-kadang. Makanya, ini yang bikin banyak orang membedakan profesi blogger dengan seorang content writer. Bila seorang blogger masih lebih banyak memasukkan unsur diri mereka ke dalam cerita, maka content writer berbeda.

Seorang content writer bisa menulis tentang review produk, film, buku, atau bahkan resto dan lokasi nge-hits lainnya. Apa bedanya dengan narablog?  Menurut pengamatan awam saya, mereka lebih mengandalkan narasumber selain diri mereka agar lebih objektif.

Kurang-lebih, seperti jurnalis – tapi lebih seperti citizen journalist. Tapi, yang saya tulis barusan hanyalah segelintir dari banyak contoh yang ada. Selanjutnya, kalau mau jadi blogger, content writer, atau malah keduanya juga terserah. Tidak perlu saling membatasi diri bila memang suka dan bisa melakukan keduanya.

Intinya, saya percaya bahwa content writer dan narablog punya rezeki mereka masing-masing. Tidak perlu ada yang merasa iri atau tersaingi.

Momen-momen Spesial Saya Saat Nge-Blog:

Saat membahas momen-momen spesial nge-blog, pasti langsung banyak yang mengaitkannya dengan kemenangan saat ikut lomba menulis blog. Jujur, saya tidak pernah menolak rezeki seperti itu. Kebetulan, saya memang juga suka mengikuti lomba menulis blog maupun yang lain.

Bisa dibilang, saya termasuk pecandu writing challenge. Sebagai seorang narablog, saya sudah pernah memenuhi berbagai tantangan menulis. Mulai dari blog tentang opini, fiksimini, cerpen, puisi, hingga review produk. Kadang ada yang berhadiah uang, voucher, hingga sekadar acknowledgment.

Mungkin kesannya saya tidak punya gaya menulis yang tetap atau ciri khas. Padahal, saya masih tetap berusaha konsisten. Misalnya: saya tidak akan berusaha selalu memakai bahasa gaul kekinian bila memang tidak nyaman. Untuk apa memaksakan diri? Pembaca juga cerdas-cerdas, kok.

Selain itu, saya juga tidak akan memaksakan diri mengikuti lomba blog dengan produk yang saya tidak kenal dan tidak pernah pakai. Saya bahkan tidak mau berbohong, bahkan meskipun hadiah lombanya sangat menggiurkan, seperti uang jutaan rupiah, voucher, hingga produk gadget incaran saya.

Beberapa momen spesial saya saat nge-blog tidak selalu berkaitan dengan menang, dapat uang, atau belanja dengan voucher pemberian. Membaca komentar-komentar seru dari para pembaca, hingga pernah mendapatkan klien juga momen-momen spesial saat nge-blog.

Hingga kini, sebisa mungkin saya masih terus menyempatkan menulis blog. Selain sebagai latihan, saya memang menyukainya. Saya juga banyak belajar dari para rekan blogger yang saya kenal agar kemampuan saya tidak mandek di situ-situ saja. Pada kenyataannya, semua orang memang harus berkembang.

Harapan Saya Sebagai Narablog atau Blogger di Tahun 2019:

Sumber foto: Steve Johnson via Unsplash.com

Di awal bulan Januari 2019 ini, saya memutuskan untuk memulai aktif lagi menulis blog. Saya mulai mencoba-coba mengikuti lomba menulis blog yang ada. Tidak perlu memikirkan ingin mendapatkan hadiahnya dulu (meski nggak bakal menolak kalau memang sudah rezekinya, hehehe.) Yang penting mencoba.

Selain itu, saya berusaha lebih update dengan berita terkini (meskipun menurut saya kadang isunya ‘enggak banget’ alias ‘sampah’). Saya suka menulis opini saya. Orang boleh setuju, boleh tidak. Asal, kalau tidak setuju, bahasanya tidak usah kasar, karena tidak akan saya ladeni sampai kapan pun.

Untuk berlatih variasi menulis, kadang saya juga menjadi seorang blogger tamu di website-website lain. Yang pasti, aturannya berbeda dengan menulis di blog milik sendiri. Tidak boleh egois. Saya harus mengikuti tata cara yang berlaku di dalam website yang ada.

Tidak seperti di blog sendiri, tulisan saya pasti masih akan dikurasi editor dulu sebelum tayang.

Banyak yang menjadi seorang narablog atau blogger demi mendapatkan penghasilan dan ketenaran. Bagi saya, selain penghasilan tentunya (hehehe lagi), saya ingin agar siapa pun yang membaca blog saya merasa menemukan manfaat dan mendapatkan inspirasi, hihihi…

Selain itu, saya punya cita-cita bahwa suatu saat ingin menjadi penulis fulltime yang mandiri. Ya, seperti penulis-penulis favorit saya yang bahkan sudah berjaya sebelum era digital muncul. Tapi, tentu saja saya tidak akan bisa menyamakan diri saya dengan mereka. Pastinya tidak mungkin.

Saya juga tidak mau. Kagum sama mereka boleh, namun lebih baik tetap menjadi diri sendiri dan menemukan gaya menulis sendiri.

Semoga suatu saat blog ini dapat saya monetisasi dengan sepenuhnya. Yang pasti, saya bangga menjadi narablog pada era digital ini.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Manja

Manja

Mengejutkan, kamu masih hidup,

meskipun lamban

raja di istana khayalan

Sungguh membingungkan

Tidak semuanya tentangmu

Kamu tahu

Yang lain harus melakukan sesuatu

Kenapa kamu tidak ikut?

Bocah tua manja

Kemalasan telah mengubahmu jadi petaka

Berhentilah jadi beban semua orang

Dewasalah dan mulai bekerja,

Bahkan meski harus mati-matian

sampai ke tulang …

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

Catatan Tentang dan Untuk Siapa pun Atau Bukan Siapa-siapa

Catatan Tentang dan Untuk Siapa pun Atau Bukan Siapa-siapa

Apa yang biasanya saya lakukan ketika pikiran saya mulai berkeliaran? Saya mencoba menyimpan beberapa pemikiran saya – terutama yang saya anggap paling penting – dalam tulisan saya.

Tentu saja, Anda tidak akan terlalu terkejut. Saya memang memiliki momen “Dear Diary” saya sebagai seorang gadis remaja. Beberapa orang mungkin masih beranggapan bahwa menulis jurnal adalah hal yang biasa-biasa saja, tetapi kita semua tahu itu tidak benar. Sama seperti saya, beberapa orang merasa perlu untuk mendokumentasikan pikiran dan perasaan mereka dengan cara ini. Hanya sesederhana itu.

Saya mungkin hanya salah satu dari mereka yang menulis karena memang ingin melakukannya. Saya jarang khawatir tentang apa yang mungkin dipikirkan pembaca. Jika mereka suka apa yang mereka baca dari saya, bagus. Jika tidak … ya, sudah.

Seiring waktu, saya telah belajar untuk tidak menulis semua tentang saya. Ada baiknya mencoba variasi. Ini juga membantu menjaga diri saya agar tidak terlalu fokus sama diri sendiri atau sedikit narsis … Moga-moga, sih. Jadi, inilah “Catatan Tentang dan Untuk Siapa Pun atau Bukan Siapa-siapa”. Jika Anda curiga bahwa saya mungkin sedang membicarakan Anda juga, barangkali memang benar.

Darimana Anda tahu? Ya, bertanyalah langsung – dan jangan main asumsi.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Yang Akan Kutinggal di Tahun 2018

Jangan tanyakan

tentang bajingan

yang pernah jadikan

hati ini mainan

emosi ini bahan tertawaan

Jangan lancang

sebut aku bermain korban

karena aku masih bertahan

bangkit dari kehinaan

Darimu atau siapa pun,

aku tak butuh penghakiman

Doakan

aku tidak terus diikuti bajingan

hingga 2019

Aku ingin bebas

dari terkutuknya kenangan

tentang si bajingan

di tahun 2018…

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

Resolusi Tahun Baru: Masih Perlu?

Resolusi Tahun Baru: Masih Perlu?

Wah, tahu-tahu sudah di akhir tahun saja. Sudah ngapain saja kita? Apakah semua rencana atau resolusi tahun ini sudah tercapai? Ada yang belum atau baru setengah jalan? Ada yang malah belum mulai sama sekali, padahal sih, rencananya mau tahun ini?

Hmm, coba cek dulu prioritas Anda. Yakin sudah benar? Yakin sudah mengambil cukup banyak kegiatan atau apakah ini hanya masalah manajemen waktu? Apa pun penyebabnya, nggak perlu terlalu keras sama diri sendiri. Jangan-jangan memang ada yang harus diubah atau disusun ulang.

Mungkin, saat ini ada yang tengah berlibur. Ada yang memilih di luar kota atau keluar negeri. Ada yang bersama keluarga, teman-teman, atau pasangan. Selamat bersenang-senang.

Lagi nggak mau pergi terlalu jauh dan memilih merayakannya di rumah saja? Ya, nggak apa-apa juga. Namanya juga pilihan pribadi. Yang penting Anda senang.

Lalu, bagaimana dengan mereka yang terpaksa bekerja di akhir tahun? Ya, beruntunglah bila Anda masih punya pekerjaan. Bersyukurlah bila Anda tidak perlu mengalami yang namanya dipecat, apalagi dengan cara tidak adil. Tanpa sisa gaji, apalagi kompensasi.

Apalagi, sampai digunjingkan ke sana kemari. Sakit hati? Itu pasti. Namun, percuma juga melawan. Sudahlah, relakan saja dan serahkan semuanya pada Ilahi. Biar Beliau yang membalas mereka nanti, hihihi…

Kadang meskipun tidak adil, kita memang harus mengalami hal pahit ini. Kita bisa menjadikannya pelajaran agar lain kali lebih hati-hati dalam mempercayai orang lain. Nggak hanya itu. Kita bisa belajar untuk tidak berubah menjadi seperti mereka. Pilihan untuk mengedukasi diri sendiri itu selalu ada.

Semoga di tahun 2019 nanti, Anda tidak perlu menderita seperti di tahun 2018. Cukup.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Tsunami

Tsunami

Takdir itu berbentuk tirai air

terangkat tinggi ke langit

sebelum jatuh, pecah membanjir

Bangunan tak lagi aman

Lahan tergenang

Jenazah bergelimpangan

Tsunami meraja

Manusia tak berdaya

dikirim pulang ke Sang Pencipta…

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

Teguran untuk yang Gila Kerja

Teguran untuk yang Gila Kerja

Apa yang membuat seseorang gila kerja? Alasannya mungkin beragam. Beberapa hanya menyukai pekerjaan itu sendiri. Itu yang membuat mereka merasa hidup.

Bagi sebagian orang lain, mereka lebih mencintai uang. Mereka mungkin tidak selalu menyukai pekerjaan dan jenis pekerjaan lain yang mereka lakukan. Yang membuat mereka tetap bekerja adalah pemikiran (dan mungkin kemungkinan) untuk menghasilkan uang lebih banyak.

Beberapa orang lain menjadi pecandu kerja untuk menghindari penderitaan mereka saat ini. Entah itu patah hati, kematian seseorang yang mereka cintai, atau bahkan kehilangan uang. (Tidak, saya tidak bercanda pada bagian terakhir.)

Ada perasaan menyenangkan ketika Anda menyadari bahwa Anda masih bisa melakukan sesuatu, terlepas dari semua itu. Anda tidak bisa membiarkan diri Anda menjadi lemah, menjadi berantakan. Terlalu banyak yang dipertaruhkan di sini.

Anda tidak bisa mendapatkan istirahat sekarang, tidak peduli betapa Anda menginginkannya.

Jadi Anda terus memaksakan diri dan berpura-pura semuanya selalu baik, sampai suatu hari … Anda mencapai TITIK JENUH! Tidak, itu tidak selalu berarti Anda marah, tetapi Anda tetap kehilangan sesuatu. Salah satu pekerjaan lepas Anda mulai menderita karenanya.

Hingga saat Anda kehilangan pekerjaan tersebut.

Anehnya, Anda tidak terlalu banyak mengeluh tentang hal itu. Faktanya, yang hanya Anda rasakan akhir-akhir ini adalah dingin. Ada kesadaran yang sudah lama Anda takuti:

Terkadang tidak masalah seberapa bagus Anda pikir tentang kemampuan Anda. Saat Anda lelah, maka Anda lelah. Ketika selesai, itu selesai. Jika Anda lelah, sesuatu selalu berantakan. Paling tidak yang bisa Anda lakukan sekarang adalah memastikan bahwa tidak semuanya berantakan.

Setelah seseorang meninggal, tidak ada jalan untuk kembali. Tidak ada jumlah uang yang dapat mengisi ruang kosong yang mereka tinggalkan. Mereka pergi. Terimalah dan lanjutkan hidup.

Patah hati menyebalkan. Patah hati membuat Anda menyadari bahwa pada akhirnya, Anda akan selalu sendiri lagi. Orang bisa membuat dan mengingkari janji. Seperti itulah adanya. Hadapi saja.

Mereka dapat mengatakan apapun yang mereka suka dan tidak menyadari konsekuensinya. Mereka tidak peduli bahwa mereka memberi Anda harapan palsu sebelum akhirnya menghancurkan semua harapan tersebut.

Terkadang uang lebih penting. Anda hanya perlu belajar merawat diri sendiri dengan lebih baik. Jika tidak, Anda bisa / akan terinjak-injak dengan terlalu mudah, lagi-lagi.

Lupakan siapa saja yang berani menjanjikan Anda seluruh dunia. Rayuan dangkal itu seharusnya tidak pernah berhasil dari awal. Tidak seharusnya mudah termakan gombalan picisan macam itu sekarang – dan jangan pernah lagi.

Jangan repot-repot membalas dendam terhadap mereka yang telah menyakiti Anda. Terkadang mereka tidak layak. Mereka tidak pernah benar-benar peduli dengan Anda, jadi apa yang Anda pedulikan? Kenapa harus peduli? Mereka sudah melanjutkan, menciptakan sesuatu yang baru. Beberapa orang menyarankan Anda untuk melakukan hal yang sama.

Ya, ini satu hal yang pasti. Kemarahan adalah sesuatu yang sangat kuat. Anda masih harus mengandalkannya saat ini agar tetap kuat.

Tidak, Anda tidak akan mencoba menghancurkan mereka. Untuk apa? Mereka tidak layak, bahkan ketika mereka berpikir terlalu tinggi tentang diri mereka sendiri. Anda memiliki banyak hal yang lebih baik untuk dilakukan daripada mengurusi mereka lagi.

Pertama, cobalah untuk tidak pernah bertemu orang-orang seperti mereka lagi. Kedua, cobalah untuk tidak menjadi seperti mereka, terutama saat Anda sudah bangkit kembali. Ketiga, pastikan Anda melakukannya – dan singkirkan orang-orang seperti mereka. Jangan biarkan mereka menguasai pikiran Anda … untuk selamanya. Mereka tidak pantas berada dalam hidup Anda.

Segera, Anda tidak akan lagi membutuhkan mereka – dan uang yang sudah Anda peroleh sebagai hak, tetapi mereka entah bagaimana masih menolak untuk membayar. Mungkin mereka tidak memilikinya dan kabur dari tanggung jawab mereka. Siapa peduli? Anda lebih baik tanpa mereka!

R.