Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Sempurna

Naiklah tanpa berhenti

hingga ke lantai tertinggi

dengan tangga ini

Jangan menoleh ke belakang

meski tak ada saingan

meski ternyata kau sendirian

Teruslah maju

meski lelah dan jemu

meski muak menderamu

Tangga ini tak berujung

Kau mulai bingung

sebelum kembali jatuh tanpa untung

Sempurna?

Tiada

Hanya fatamorgana

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

Tentang Kejujuran Brutal versus Stereotyping

Mari kita akui saja; stereotyping sulit diatasi. Generalisasi selalu ada, entah kita mau mengakuinya atau tidak. Mencoba melawannya sama sulitnya dengan memaksa seekor singa menjadi vegan.

Kita mengalami ini di mana-mana – setiap hari dalam hidup kita. Tidak peduli latar belakang gender, ras, kepercayaan, agama, bangsa, atau lainnya. Beberapa memang diucapkan dengan niat jahat, yaitu sengaja untuk membuat Anda merasa sedih.

Ada yang jadi kesal dengan apa yang dilakukan beberapa orang tertentu dan yang hobi menyederhanakan masalah, mengkategorikan semuanya sebagai ‘sama saja’. Yang lain tidak mungkin tahu apa-apa, terutama karena mereka dibesarkan dengan semua “-isme” negatif mengenai beberapa tipe orang tertentu. (Seksisme, rasisme … sebutkan saja semuanya.)

Kategori pertama adalah yang murni bermusuhan. Bisa jadi ini pengaruh dari cara mereka dibesarkan. Bisa jadi dari pengalaman buruk – kebanyakan berulang – saat berurusan dengan tipe orang tertentu. Yang terburuk bahkan bisa kombinasi keduanya. Mereka lebih dari cukup untuk mendorong kebencian yang tumbuh dan tak tertahankan di dalam.

Setelah itu, nggak berpengaruh juga bila orang-orang yang sangat mereka benci itu sebenarnya tidak semuanya jahat. Mereka bahkan tidak perlu repot-repot menambahkan bilangan tertentu seperti ‘sebagian’ atau ‘banyak’ untuk menjelaskan bahwa mereka nggak bermaksud menyatakan ‘semua’ sama saja.

“Saya hanya mengatakan yang sebenarnya,” kata mereka biasanya. “Kaum kalian ya, seperti itu. Maaf kalau kalian tidak bisa menangani kejujuran saya. “

Orang lain terkadang tidak bermaksud untuk melakukan stereotyping secara kasar. Mereka punya beberapa – jika tidak terlalu banyak – pengalaman yang mengerikan dengan tipe orang yang sama.

“Sulit untuk tidak membuat stereotipe atau menyamaratakan mereka,” seorang teman pernah mengaku. “Saya terus bertemu dengan mereka yang bertindak buruk terhadap orang lain. Apa aku salah? ”

Itu sulit, bukan? Tidak masalah jika Anda menggunakan bilangan seperti ‘sebagian’, ‘banyak’, atau apa pun. Beberapa orang pasti bakalan salah paham, nggak peduli niat Anda.

Pada akhirnya, Anda harus sesamar mungkin dan nggak terlalu detil agar tidak menyinggung siapa pun. Mungkin cara ini akan mengganggu keahlian bercerita Anda sedikit, tapi…ya, sudahlah. Toh, ini juga demi ‘kebaikan bersama’, bukan?

Beberapa orang lain tumbuh dengan ‘keyakinan salah, menyesatkan, dan sepihak’ tentang beberapa jenis orang tertentu. Budaya beracun telah memainkan peran utama dalam membentuk pikiran mereka. Orang tua mereka telah mengajari mereka demikian.

“Jangan berteman dengan orang-orang dari agama itu. Mereka akan melakukan apa pun di dunia hanya untuk mengubah Anda. “

“Jangan berkencan dengan gadis-gadis dari ras itu. Mereka terkenal matre. “

“Orang gemuk selalu makannya rakus … wajah cantik biasanya tidak punya otak … semua laki-laki begini … semua perempuan begitu …”

Capek banget, ya? Tidak ada yang mendengarkan. Setiap orang selalu punya pendapat tentang sesamanya. Yang terbiasa punya privilege (selalu diistimewakan) merasa terancam, karena sudah kelewat nyaman dengan posisi mereka sekarang dan menolak berbagi beban sosial dipaksakan kepada pihak lain – hanya karena dianggap memang itu sudah seharusnya.

Sementara itu, kaum tertindas sudah lama muak dengan ketidakpedulian pihak lain. Mereka lelah diremehkan, direndahkan, diragukan, dan bahkan lebih buruk lagi … dianggap nggak masuk akal.

“Kamu kelewat baperan. Harusnya belajar cuek dong, meskipun orang hanya mau jujur soal kenyataan tentang kaummu. ”

“Oh, ngerti deh. Elo ngomongin kalangan gue karena nggak terima gue udah jujur soal kalangan elo. Sekarang stereotyping? ”

Bahkan meskipun beberapa pendapat tersebut ternyata benar, percuma juga. Beberapa orang masih tersinggung, bahkan meskipun mereka yang memulai topik ini duluan. Pastilah ada yang bakalah sakit hati.

Jadi apa yang kita lakukan sekarang? Jujur saja, saya lebih fokus pada solusi daripada memaksakan bahwa saya benar (meskipun sebenarnya saya memang pas lagi benar).

Pada dasarnya, Anda tidak dapat benar-benar mengubah siapa pun. Jika beberapa orang memilih untuk percaya bahwa orang-orang di golongan Anda mengerikan, maka mereka akan selalu mempercayainya. Saya tidak bermaksud membuat Anda putus asa, tetapi terkadang percuma juga jika Anda mencoba membuktikan sebaliknya. Mereka bahkan tidak sepadan dengan waktu dan energi Anda. Mereka sudah memutuskan dan tidak akan mendengar apa pun lagi dari Anda.

Jika beberapa orang berpendapat bahwa banyak dari golongan kita buruk bagi mereka dan / atau orang lain, semenyakitkan apa pun kedengarannya – mungkin kita perlu menganggapnya sebagai teguran serius. Mungkin itu memang kenyataan, bahkan ketika kita tidak termasuk yang ikut digunjingkan. Saya sadar nggak semua orang berpikir seperti ini – atau apakah ada yang harus berterima kasih kepada mereka karena telah bergunjing. (Saya tahu saya tidak akan melakukannya, meskipun gunjingan mereka ada benarnya juga.)

Namun, hal ini menyedihkan tetapi nyata. Apa yang kita lakukan tidak selalu hanya tentang kita sendiri. Kadang-kadang, kalau nggak sampai sering, yang kita lakukan dianggap hanya sebagai patokan untuk orang lain dalam menilai kaum yang terkait dengan kita – baik berdasarkan jenis kelamin, ras, agama, keyakinan, bangsa, atau beberapa atau semua hal tersebut.

Anda benar tentang satu hal dan saya (mungkin harus) setuju. Beberapa orang tidak bisa menolong diri sendiri. Ada yang tidak mau, karena mengedukasi diri sendiri adalah pilihan pribadi.

Kita tidak dapat mengendalikan semua orang. Satu-satunya hal yang dapat kita lakukan adalah berusaha untuk tidak jatuh ke dalam stereotipe mengerikan mengenai golongan kita. Bersikap baiklah kepada orang lain, meskipun sulit. Setelah itu, jika mereka masih memilih untuk tidak peduli dan bersikap bebal, maka itu masalah mereka – bukan kita.

Lalu bagaimana kita mendeskripsikan seseorang yang kebetulan kejam kepada kita – tanpa terdengar begitu bias gender atau rasis atau semacamnya, daripada hanya melaporkan apa yang nyata? Yah, itu mungkin tergantung pada konteksnya.

Misalnya, jika orang itu kasar kepada Anda, jangan mengaitkannya dengan latar belakang atau asal orang itu. Hanya bagaimana mereka, walaupun beberapa dari mereka mungkin melakukan hal yang sama.

Namun, ketika Anda harus menggambarkan seorang tersangka kejahatan kepada polisi, Anda tidak boleh terlalu samar-samar tentang deskripsi fisik dan bahasa yang mereka gunakan. (Ya, Anda diizinkan untuk membuat apa yang disebut tebakan cerdas sesuka Anda, tetapi selama masih memungkinkan.) Sisanya tergantung pada penegak hukum. (Yah, meskipun banyak dari mereka yang tampaknya lebih bermasalah daripada membantu belakangan ini. Lihat, barusan saya hanya menggunakan kata ‘banyak’ untuk menghindari stereotyping atau generalisasi.)

Selain itu, simpan saja sendiri pendapat Anda jika takut disalahpahami. Nggak peduli  jika Anda benar atau Anda tidak bermaksud jahat. Nggak peduli juga ada yang suka standar ganda, misalnya: kalau mereka yang ngomong berarti jujur, tapi giliran Anda yang ngomong langsung dicap nggak sopan. ‘Kan curang?

Pasti bakalan ada yang tersinggung. Nggak peduli maksud ucapan Anda. Anda tidak bisa menyenangkan seluruh dunia.

R.(Ditulis dengan perasaan muak luar biasa.)

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Penunggu yang Jemu

Penunggu yang Jemu

Mungkin kita harus pulang

meski jalanan belum lengang

Ini malam akhir pekan

namun pestanya membosankan

Kita sepasang penunggu

yang lama-lama jemu

oleh kesenangan semu

dan senyum-senyum palsu

Acara ini hanya pelarian

dari pahitnya kenyataan

semua ingin jadi bintang

haus perhatian

gila pengakuan

Kamu benar, aku juga bosan

Ayo, kita pulang

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

7 Alasan Nggak Perlu Iri Sama Anak Manja

7 Alasan Nggak Perlu Iri Sama Anak Manja

Entahkenapa kita harus berurusan dengan model begini. Kalau masih hanya teman, bisa sih, nggak perlu terlalu dekat. Kalau hanya kenalan biasa, masih bisa dihindari alias berurusan seperlunya.

Kalau keluarga sendiri? Ya, lain lagi. Mau menghindar, kok nggak enak hati. Padahal,model begini hobinya nyusahin sekali – baik sama diri sendiri maupun orang lain di sekitar mereka.

Ada yang kemudian bisa berubah, terutama dengan pendidikan yang tepat dan kemauan keras dari diri sendiri. Namun, sisanya memang keras kepala karena merasa sudah kelewat “nyaman” nyuruh-nyuruh orang.Kalau nggak diturutin, ngambek. Malas bergerak, padahal secara fisik masih mampu.

Kalau dikira jadi anak manja (atau yang dimanja) itu selalu enak, sebenarnya enggak juga. Ini dia tujuh (7) alasannya:

Mereka manusia paling merepotkan di dunia.

Okelah kalau mereka masih bayi, kanak-kanak, atau bahkan berkebutuhan khusus. (Bahkan, yang berkebutuhan khusus pun seringnya lebih mandiri daripada yang enggak. Malu nggak, sih?) Mungkin mereka sendiri nggak peduli, selama masih ada yang melayani. Hanya dengan cara itu mereka merasa lebih penting dan tinggi.

Padahal,sebenarnya mereka sangat merepotkan. Syukur-syukur kalau bisa segera sadar.Kalau enggak? Tinggal tunggu makin banyak yang menjauh. Susah sendiri, deh.

Mereka nggak peduli sama kesehatan diri sendiri.

“Tolong, dong. Aku capek, nih.”

Sering disuruh-suruh sama model begini, bahkan untuk hal paling remeh sekali pun? Apa iya mereka selalu selemah itu? Mungkin awalnya mereka enak, nggak perlu capek dan nggak perlu mikir. Tinggal nyuruh-nyuruh orang lain dan terima jadi.

Kalau ada yang salah? Tinggal omelin yang mereka suruh-suruh. Gampang banget, ‘kan?Apalagi bagi yang merasa itu memang hak mereka.

Tunggu saja sampai mereka tua. Karena malas bergerak dan lebih banyak tidur serta makan, otot mereka jadi kendor. Daya tahan tubuh rendah, makanya makin cepat capek dan gampang sakit pula. Tuh, malah makin nyusahin diri sendiri sama orang lain, ‘kan?

Soal otak? Jangan tanya. Yang ada malah bahaya makin lemot, gara-gara males gerak dan mikir. Nggak usah yang ribet seperti masalah kelas dunia, yang simpel seperti mengurus diri sendiri saja ogah.

Mereka lebih rentan kena depresi.

Memang,nggak semua depresi timbul karena rasa malas. (Untuk isu kesehatan mental, sebaiknya cek sumber lain yang lebih terpercaya. Jangan tanya saya.) Namun, lama-lama terlalu menuruti rasa malas juga bisa bikin depresi. Lha, kok bisa?

Begitulah bila orang sulit menerima kenyataan bahwa hidup bukan melulu soal mereka.Lama-lama semua orang bisa kehilangan sabar juga kali, harus selalu melayani kemauan si anak manja yang tanpa henti.

Jelas-jelas mereka termasuk jenis paling ‘ganggu’.

Apa yang biasa dilakukan orang aktif bila bosan? Ya, mereka terus cari kegiatan.Kadang, kalau perlu sampai capek sekalian.

Kalau enggak? Ya, mereka akan memanfaatkan waktu untuk santai. Toh, manusia memang sebaiknya hidup seimbang. Jangan sibuk terus.

Nah,kalau anak manja? Gara-gara kebiasaan malas mikir sendiri, biasanya mereka langsung gelisah dan malah merecoki orang lain.

“Bosen, nih. Enaknya ke mana, ya? Ngapain, ya?”

Tuh,‘kan? Saking kebiasaan dimanja, sampai lupa berpikir untuk dirinya sendiri.Padahal, bisa jadi kerjaan di depan mata mereka banyak yang harus mereka selesaikan. Payah…eh, kasihan.

Mereka jadi kurang bersyukur dengan yang sudah didapatkan.

Selain dikit-dikit ngeluh, mereka kurang bersyukur dengan yang sudah mereka dapatkan.Padahal mudah lho, tinggal nyuruh-nyuruh orang. Siapa juga sih, yang tahan lama-lama sama model begini? Malah nyebar-nyebarin aura negatif. Ih!

Mereka nggak mudah bertahan sendirian.

Gambar: julian-santa-ana-111265-unsplash

Ya,gimana mau tahan? Namanya juga anak manja. Kecuali mereka sadar dengan shock therapy ini dan mau berubah.

Mereka teman ngobrol paling membosankan di dunia.

Gimana nggak bosen, kalau topik bahasan mereka nggak jauh-jauh dari keluhan ‘capek’ hingga “Kok orang nggak mau pada ngertiin gue, ya?”

Jadi,nggak ada gunanya iri sama anak manja, apalagi sampai pakai kata ‘banget’. Justru hidup Anda lebih berharga, berwarna, dan bahagia…karena selalu bergerak dan berusaha.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

“37

“37”

Tiga tahun menjelang 40

Apa yang masih utuh di benakmu?

Manfaatkan waktu

Tak usah banyak menunggu

Lakukansesuatu

Jangan lama termangu

Bukan masalah tua

Hanya angka

Semoga banyak berguna

Semoga tidak sia-sia

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

Dari Perempuan Lajang Berusia 37 Tahun

Apa rasanya menjadi seorang perempuan lajang berusia 37 tahun? Apakah ada yang istimewa? Haruskah dibawa nelangsa, bahagia, atau malah biasa saja?

Mungkin banyak yang langsung stres saat menyadari belum meraih hal-hal yang sudah didapatkan perempuan lain dalam usia sama – atau bahkan malah lebih muda. Ya, menikah. Ya, punya anak. Ya, entah apa lagi yang (dianggap) sesuai standar (sempurna?) masyarakat.

Haruskah saya juga merasa demikian? Untuk apa? Bukankah bahagia itu (seharusnya) pilihan, apa pun kondisinya?

Pada kenyataannya, manusia akan selalu berkomentar dan berpendapat mengenai sesamanya. Yang nyinyir dan menghakimi (sialnya) akan selalu ada. Mereka juga nggak bisa berbuat banyak, apalagi saya. Takdir hanya milik-Nya. Bukan kita yang pegang nomor urut dan sebagainya. Manusia hanya bisa berusaha.

Saat ini, saya hanya ingin menikmati hidup saya, apa pun kondisinya. Mungkin saya hanya sering pulang ke kamar kosong dan menulis. Mungkin saya memang bekerja setiap hari.

Banyak teman seangkatan saya yang udah menikah dan punya anak. Banyak juga yang lebih muda dan sudah mencapai fase hidup tersebut.

Lalu, apa yang jadi masalah? Nggak ada. Terima saja bahwa hidup setiap orang memang berbeda-beda. Nggak akan ada yang bisa 100 persen sama, bahkan meskipun dipaksa. Hanya karena beda, bukan berarti hina. Sesederhana itu saja.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Sejurus Prasangka dan Dengki Ratu Drama

Sejurus Prasangka dan Dengki Ratu Drama

Untuk apa kau ciptakan drama

demi menarik perhatian sesama?

Kejinya prasangka

Dengki luar biasa

 

Kau pikir kau tahu segalanya

Kau kira kau sempurna

Begitu cepat menghina

tanpa mencari tahu fakta

 

Astaga!

Kau pasti sangat kesepian

hingga begitu putus asa

dalam mencari perhatian

 

R.

 

Categories
#catatan-harian #menulis

Pahlawan Sehari-hari

Pahlawan Sehari-hari

Jika saya harus menulis surat cinta kepada seorang pahlawan, satu aja nggak akan cukup. Bagaimana bisa? Simpel aja. Orang lain mungkin melakukannya dengan mudah. Ketika orang diminta untuk berbicara tentang pahlawan mereka, jawaban mereka bervariasi. Itu sudah pasti. Banyak yang mungkin akan menyebutkan orang tua mereka. Orang lain akan mengatakan itu adalah guru mereka.

Sesekali, Anda bisa bilang salah satu teman atau lebih adalah pahlawan Anak kecil mungkin akan menyebut pahlawan super favorit mereka, meskipun mereka jelas-jelas fiksi. Saya nggak akan memulai dengan anti-heroes, meskipun kayaknya lagi trend banget.

Jika Anda meminta saya untuk melakukan ini, saya mungkin akan cepat kehabisan kertas. Tangan saya bakalan sakit karena menulis surat cinta kepada banyak pahlawan.

Sebenarnya, sulit untuk memilih. Saya tahu bahwa beberapa orang dalam kehidupan kita akan memiliki lebih banyak energi, waktu, kemauan, kemampuan – sebagian atau semuanya – untuk berbuat lebih banyak bagi kita.

Terkadang, mereka tidak bisa atau tidak mau. Terkadang kita yang harus menyelamatkan diri dan nggak gampang kesal saat mereka menolak menolong kita. Lagi pula, mereka hanya manusia biasa, sama seperti kita. Ada saat-saat mereka merasa capek banget.

Namun, haruskah kuantitas – seperti seberapa banyak atau seberapa sering – menjadi faktor di sini? Bagaimana dengan orang asing yang papasan sama kita di jalanan? Kita mungkin tidak akan pernah melihat mereka lagi, tetapi bagaimana jika momen yang sangat langka itu – mereka melakukan sesuatu yang heroik, tidak peduli seberapa kecil dan apakah waktunya tepat? Bukankah itu berarti sesuatu? Bukankah itu juga penting?

Apakah mereka tidak layak dianggap sebagai ‘pahlawan’ juga?

Jika saya harus menulis surat cinta kepada seorang pahlawan, yang pasti nggak mungkin hanya satu. Jadinya banyak … dan nggak akan pernah selesai. Karena kenyataannya, kita akan selalu bertemu dengan mereka di mana-mana.

Pahlawan setiap hari Anda akan selalu ada, terutama jika Anda (ingin) melihat lebih dekat. Orang-orang terdekat Anda, seperti keluarga dan teman-teman, pasti bisa dianggap pahlawan.

Orang asing bisa menjadi pahlawan Anda juga. Mereka bisa jadi orang yang memanggil Anda karena Anda telah menjatuhkan dompet Anda. Mereka bisa jadi menghadang penumpang laki-laki cabul di kereta, jadi bajingan itu tidak akan meraba-raba dada Anda hanya karena dia pikir dia bisa. Mungkin Anda akan melihatnya lagi, mungkin tidak. Mungkin kalian akan menjadi teman atau lebih.

Mungkin kalian akan tetap saling nggak kenal, tetapi siapa yang tahu?

Kita juga sering lupa bahwa terkadang, kita bisa menjadi pahlawan kita sendiri. Bagaimanapun, kita harus menjadi yang pertama untuk mencintai diri kita sendiri tanpa syarat.

Jadi, siapa pahlawan Anda sehari-hari?

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Kembalilah…

Kembalilah…

Lupakan anyir darah

panas amarah

pedihnya kalah

atau kejamnya lelah

 

Masa lalu tak bisa kau ubah

namun kembalilah

ke masa kini

Tiada monster di sini

Hanya kasih dan damai

Doa agar kau bangkit kembali

 

Kembalilah

Jangan biarkan hantu-hantu itu

menyeretmu kembali ke masa lalu

Kau lebih kuat dari itu…

 

R.

 

Categories
#catatan-harian #menulis

5 Tanda Teman Sejati

5 Tanda Teman Sejati

Saya beruntung sudah bertemu dengan banyak teman baik. Beberapa bahkan sudah masuk ke dalam kategori sejati. Mungkin definisi saya tentang ‘teman sejati’ berbeda dengan Anda. Tapi, inilah lima (5) ciri teman sejati menurut saya:

  1. Menghargai perbedaan pendapat.

Waktu remaja dulu, mungkin persepsi kita akan teman sejati masih dangkal. Pokoknya, apa-apa harus sama. Harus suka dan benci sama orang-orang/band/hal-hal yang sama. Kalo beda, dianggap nggak setia kawan.

Padahal, yang musuhan sama si A hanya si teman, masa kita yang nggak ada urusan apa-apa disuruh ikut ngejauhin? Payah, ah.

Bagi saya, teman sejati harus bisa bersikap dewasa dan menerima perbedaan, termasuk pendapat. Ini bukan lagi masalah suka film atau band yang beda atau semacamnya. Prinsip kadang memang nggak bisa diganggu, apalagi sampai digugat. Daripada berantem terus, mending terima aja kenyataannya kalau yah, kalian nggak selalu sepakat.

Nggak perlu pake drama. Nggak mau gila, ‘kan?

  1. Menghargai privasi dan ruang gerak masing-masing.

Mungkin waktu remaja, kita suka saling curhat sama teman. Kita saling berbagi rahasia, bahkan sampai ada yang tahu A – Z aib masing-masing.

Kedengaran familiar, yah? Eh, pas tahu ternyata teman menyimpan rahasia sendiri dan enggan berbagi seperti biasanya, kita jadi kesal. Ada rasa nggak nyaman dan nggak aman yang kemudian bikin baperan.

Padahal, baik Anda maupun teman sama-sama berhak akan privasi, lho. ‘Kan, nggak semua hal kalian harus selalu saling tahu. Toh, belum tentu juga kalian suka bila akhirnya dikasih tahu.

  1. Belajar menerima saat lagi sama-sama sibuk dan susah punya waktu untuk ketemu.

Gambar: julian-santa-ana-111265-unsplash

Nah, nah. Jangan mudah baperan kalau udah kayak gini. Semakin dewasa, mau nggak mau hidup bakalan tambah kompleks. Prioritas berubah. Beda dengan waktu masih sama-sama single dulu, apalagi kalau tinggalnya deket dan kerjanya bareng. Mau ketemuan buat nongkrong sampai malam lebih gampang. Tinggal bikin rencana, usaha, dan jadilah.

Sekarang? Boro-boro. Seringnya, rencana tinggal wacana. Kalau sudah begini, biasanya hanya kesal yang tersisa.

Terimalah kenyataan. Nggak ada yang berlangsung selamanya. Mungkin ini lagi belum saatnya kalian bisa ketemuan dan ngumpul lagi seperti biasa. Nggak berarti ada yang lupa, memutuskan untuk lupa, atau karena benci dan udah nggak mau temenan lagi. Hidup ‘kan, nggak sesederhana itu, kali.

  1. Memaafkan dan saling mengingatkan.

Gambar: https://unsplash.com/photos/17yojkc2so4

Rasanya mustahil kalau berharap semua orang akan bisa ‘memaafkan sekaligus melupakan’. Bagian ‘memaafkan’ – nya sih, harus – kalau memang mau tetap jadi teman. Bagian ‘melupakan’ – nya itu yang susah dan bahkan nggak mungkin. Yang benar adalah menerima bahwa ‘berusaha berdamai dengan masa lalu’. Toh, manusia juga nggak ada yang sempurna.

  1. Membuat Anda tumbuh menjadi sosok yang lebih baik.

Nggak masalah kalian tumbuh bareng terus atau beda lokasi. Nggak masalah juga kalian lagi pada sama-sama sibuk dan sulit meluangkan waktu untuk ketemu atau sekadar ngobrol. Yang pasti, giliran bisa, rasanya seperti kemarin saja baru ngobrol dan ketemuan. Nggak ada bedanya.

Yang pasti, beruntunglah bila sudah menemukan teman seperti ini. Meski bukan satu-satunya, belum tentu semua orang seberuntung Anda.

 

R.