Kenapa sih, orang pada suka banget travelling? Alasannya pasti beda-beda. Ada yang penasaran dengan budaya lain dan ingin menambah teman. Ada yang hanya ingin jalan-jalan. Ada juga yang ingin membunuh rasa bosan. Apa enaknya sih, berada di tempat yang sama terus-terusan?
Namun, ada juga yang travelling demi kelihatan keren, alias atas nama gengsi. Yang penting sering-sering keluar negeri, sekalian pamer foto-foto selfie. Ada yang sampai berhutang di sana-sini, terus nggak tahu malu lagi.
Bagaimana dengan Anda? Semoga bukan termasuk golongan yang terakhir.
Ada yang menyamakan travelling dengan kebutuhan spiritual. Tujuannya untuk menenangkan diri, entah setelah kehilangan orang terdekat, patah hati, hingga entah apa lagi. Apa pun alasannya, semoga travelling mendatangkan bahagia dan manfaat (serta nggak perlu pake ngutang maupun bikin berang orang.)
Kita semua pasti pernah kenal model begini di kota-kota besar. Mungkin, pada satu masa dalam hidup kita, kita juga pernah begini. Kita semua kenal mereka. Bisa jadi mereka keluarga sendiri atau teman. Bisa jadi mereka kenalan – atau hanya beberapa selebriti lokal yang sedang naik daun yang ingin buru-buru mengesankan semua orang.
Siapa pun mereka bagi kita, polanya sudah kelihatan. Cara mereka berusaha terlihat selalu meyakinkan dan bersikap baik di awal. Pakaian mewah mereka, selera tinggi mereka untuk hampir … semuanya dalam hidup. Mereka bakalan bilang mereka nggak mau yang kurang dari itu. Ini jenis gaya hidup yang ingin mereka pertahankan mati-matian.
Nggak salah sih, kalau ingin hidup mewah dan nyaman. Saya sendiri nggak mau munafik; saya juga ingin. Rasanya memang jauh lebih nyaman. Cuma, cara itu hanya berhasil kalau Anda memang beneran mampu. Kalau enggak, ya bisa ketahuan juga akhirnya. Anda hanya akan membodohi diri sendiri. Lebih buruk lagi, Anda juga mungkin menyakiti orang lain. Mungkin ini ada hubungannya dengan rasa minder Anda. Tolong, jangan salahkan kota besar ini. Alasan itu udah terlalu basi.
Ada cara untuk mengatasi minder akan penampilan diri sendiri. Jika Anda berusaha nggak membuatnya jadi masalah (meskipun masyarakat memang hobi banget menghakimi), banyak senyum ramah dan bersikap baik sama orang merupakan solusi.
Nggak merasa jelek? Baguslah. Harusnya semua orang bisa merasa seperti itu. Persetan dengan standar kecantikan! Namun, tantangan berat sebenarnya adalah masalah kepribadian. Sori, tapi ini beneran. Saya sendiri nggak pernah percaya sama orang yang mengaku diri mereka baik. Semua orang juga bisa mengaku-ngaku.
Namun, kayaknya nggak mungkin mengaku-ngaku begitu tanpa kedengeran sombong. Bagaimana Anda tahu Anda orang baik? Jawabannya: enggaklah. Anda hanya bisa berusaha menjadi baik. Kalau mengaku baik, siap-siap saja dimanfaatkan orang. Pada akhirnya, sikap Anda terhadap orang lain jadi bukti atau patokan.
Jadi pembohong itu capek. Anda harus selalu berpura-pura dan berbohong, mungkin selama sisa hidup Anda. Anda berbohong, menipu, dan memanipulasi. Anda mengeksploitasi orang. Anda memakai topeng yang menutupi wajah asli Anda. Terus saja tampil palsu, apalagi demi menyenangkan orang yang sama sekali nggak tahu aslinya Anda.
Anda juga bisa sampai menjelek-jelekkan korban supaya mereka nggak berani bicara. Menurut benak sinting Anda, Anda nggak akan pernah salah. Anda-lah korbannya. Mereka seharusnya memahami Anda, termasuk alasan dari yang Anda lakukan. Egois? Tidak, Anda hanya bersikap realistis. Itu soal kebutuhan Anda.
Itu semua soal bertahan hidup. Orang mungkin ingin melakukan apa pun yang Anda minta – atau tuntut. Anda dapat meninggalkan mereka, begitu mereka nggak ada gunanya lagi buat Anda. Nggak peduli itu menyakiti mereka. Ini ‘kan soal Anda, bukan mereka. Bukan siapa-siapa.
Semua pembohong memang pendongeng yang luar biasa. Mereka akan selalu menemukan cara untuk memikat Anda. Hanya orang-orang yang skeptis yang mempertanyakan motif mereka. Cerita-cerita mereka memang hebat, tapi apa iya selalu bisa dipercaya?
Saya nggak pernah kepikiran bakalan menulis sesuatu seperti ini. Berkah kegelapan? Saya pasti gila. Bagaimana bisa kegelapan penuh berkah? Bukankah seharusnya penuh dengan hal-hal yang mematikan dan kejam? Jika Anda ingin melihatnya secara berbeda, bukankah seharusnya kegelapan berarti kosong?
Sebenarnya, kegelapan tidak selalu jahat. Sebagai contoh: gelap dapat membantu Anda sembunyi dari lawan yang selalu berlagak sempurna. Tentu saja, Anda tidak bisa bersembunyi selamanya. Ada saatnya Anda harus keluar dari kegelapan, menghadap mereka secara langsung. Melawan mati-matian.
Kegelapan mengajarkan Anda untuk memilih teman dengan bijak. Suara mereka yang manis dan menenteramkan nggak cukup meyakinkan. Anda juga perlu memperhatikan apa yang sebenarnya mereka lakukan.
Seperti biasa, beberapa orang hanya ingin memanfaatkan dan yang lain hanya teman sementara, hanya saat baik. Apa pun mereka, cobalah untuk nggak terlalu dimasukin ke hati. Yang hobi memanfaatkan akan selalu segera pergi dan – jika mereka pernah kembali, Anda tahu apa yang harus dilakukan. Biarkan mereka membuktikan kata-kata mereka jika mereka bersumpah mereka telah berubah atau usir saja mereka.
Tipe yang satunya lagi hanya memiliki energi terbatas. Anda tidak dapat memaksa mereka untuk melakukan lebih dari kemampuan dan kemauan mereka yang sebenarnya.
Namun, jangan berkecil hati dengan mudah dengan adanya mereka. Faktanya adalah, masih ada orang di luar sana yang benar-benar peduli. Anda seharusnya tidak pernah mengusir mereka. Anda harus bersyukur bahwa mereka ada. Bersikap sok tegar kayak nggak butuh siapa-siapa nggak akan bikin Anda menjadi orang yang lebih baik dan lebih kuat.
Terkadang, Anda membutuhkan mereka lebih dari yang ingin Anda akui – bahkan sama diri sendiri. Terkadang harga diri lebih banyak nyusahin.
Sekali-sekali nggak apa-apa kok, ngebiarin mereka membantu. Biarkan mereka menjaga Anda sejenak, sampai Anda cukup kuat untuk jalan sendiri lagi.
Namun, berhati-hatilah terhadap perangkap halus ini yang disebut ‘mengasihani diri sendiri’. Nggak usah muna, semua orang pada dasarnya senang dimanjakan. Senang rasanya kalau ada orang – atau beberapa orang – yang merawat Anda. Saya nggak akan berbohong; itu zona nyaman. Saya aja juga suka.
Tetap saja, Anda tahu nggak bisa kayak gitu terus. Ada titik di mana Ada saatnya Anda harus mandiri lagi. Orang-orang yang seharusnya baik ini juga bisa lelah. Mereka juga manusia, sama seperti Anda.
Kegelapan juga mengajarkan Anda bahwa ya, kepercayaan itu lemah dan hidup terkadang nggak adil. Anda nggak tahu segalanya dan nggak apa-apa juga. Anda nggak bisa melihat semuanya, karena memang bukan takdir Anda. Nggak ada yang bisa.
Akhir kata, kegelapan juga mengajarkan Anda untuk menemukan atau menciptakan cahaya sendiri. Jangan bisanya hanya baperan dan bete. Lakukan sesuatu, apa saja. Nggak usah maki-maki. Berhentilah mengasihani diri sendiri.
Coba jalan, deh. Nggak usah lari, karena masih berisiko menabrak benda-benda dalam kegelapan. (Belajarlah menerima dan) nikmati prosesnya. Dalam kegelapan, Anda memang harus bertarung. Dengan atau tanpa siapa pun, Anda harus menemukan jalan kembali ke tempat terang lagi.
Sering banget saya ditanya begini. Jawabannya nggak bakalan pendek, alias lebih mirip kisah perjalanan hidup lewat tulisan.
Gimana sih, caranya biar bisa nulis lebih banyak dan sering? Kenapa harus?
Soal nulis, banyak yang berawal dari hobi hingga panggilan. Ada juga yang awalnya nggak suka, karena lebih kayak tugas sekolah. Ada seorang penulis lokal yang novel pertamanya langsung jadi film hits. Dengan jujur dia bilang kalo novel itu awalnya tugas mengarang sebagai hukuman di sekolah.
Ada yang menulis karena ingin didengar tanpa dihakimi. Masalahnya selalu sama. Nggak semua orang mau selalu dengerin kita tanpa menghakimi. Bahkan, ada juga yang enggan membuang-buang waktu. Meskipun demikian, kayaknya nggak adil juga kalo kita berharap agar selalu dimengerti orang lain. Udah egois, mustahil pula.
Ada beberapa orang yang begitu dominan sampai nyaris jadi egois dan narsisistik. Pokoknya, dunia seakan hanya berputar di sekitar mereka. Masalah mereka lebih penting dan berat daripada masalah-masalah orang lain. Kemauan mereka harus selalu diturutin. Suara mereka harus selalu didengar, meskipun yang dikeluhkan itu-itu lagi tanpa perubahan berarti.
Anda menulis untuk berbicara tentang pengkhianatan dan rasanya menjadi korban ghibah. Padahal, Anda sendiri sebenarnya sudah lama melupakan masalah tersebut dan ikhlas menerima apa pun hasilnya. Istilah kerennya move on gitu. Mereka seharusnya lebih bersyukur karena Anda tetap diam. Anda pada dasarnya membiarkan mereka lolos, bahkan ketika Anda tahu bahwa Anda tidak seharusnya melakukannya.
Namun, mereka sangat nggak tahu terima kasih. Karena masih ngomongin Anda di belakang dan beberapa orang penasaran dan bertanya langsung pada Anda, mau nggak mau Anda harus menjelaskan masalah sebenarnya. Kadang karena terlalu emosi, menulis menjadi salah satu cara. Yang pasti, nggak ada yang perlu ngajarin Anda soal kejujuran, karena Anda sendiri sebenarnya nggak bodoh. Toh, udah sama-sama dewasa ini.
Beberapa orang emang mesti ngaca dulu sebelum asal menuding.
Paling sebal bila sudah menulis tentang patah hati. Ada yang bilang, terlalu diumbar bahaya. Anda bisa dianggap (dan kelihatan) lemah.Tapi kalo enggak, yang ada pada khawatir juga Anda bisa depresi.
Menulis adalah proses penyembuhan Anda. Selain itu, menulis bertujuan untuk menghasilkan uang – dan semoga menyebarkan pengaruh yang lebih positif kepada dunia.
5 Alasan Saya Lebih Suka Menulis yang Panjang Daripada Bikin dan Komen di Status
Ada yang bilang, sekarang orang pada makin sibuk. Saking sibuknya, mereka udah nggak sempet lagi baca-baca yang (menurut mereka, sih) terlalu panjang.
Ah, masa? Yakin bukan karena males aja? (Maaf, saya jadi nyinyir, nih. Hihihi.)
Intinya, untuk konten digital, saya sering diminta agar kalo bikin tulisan tuh, mbok ya yang pendek-pendek aja gitu. Soalnya kalo kepanjangan malah jadi ngebosenin. Orang malah jadi pada males baca. Apalagi, konten digital emang sengaja dibikin ringkas dan efektif. Capek juga kelamaan liat layar ponsel atau laptop.
Makanya, udah nggak mengherankan lagi kalo banyak yang lebih suka bikin status (alias micro-blogging) dan meme. Foto-foto dan video-video pendek? Itu juga pasti.
Komentar? Apalagi. Biasanya malah jauh lebih semangat (bahkan sampai suka lupa baca artikelnya gara-gara judul sudah ‘heboh’ atau statusnya dulu baik-baik. Hehe, suka pada gitu, ah.)
Nah, ini dia lima (5) alasan saya lebih suka menulis yang panjang daripada bikin dan komen di status:
Sudah menjadi kebiasaan.
Bagi yang suka menulis buku harian seperti saya dari kecil pasti sudah tahu rasanya. Menulis itu bukan beban. Nggak hanya hobi, tapi udah lebih kayak panggilan. Sehari nggak nulis apa-apa aja rasanya ada yang kurang.
Dapat mengumpulkan data lebih lengkap dan menyusun argumen lebih jelas.
Oke, saya memang bukan mahasiswa S2. Menulis esai saja jarang-jarang dan masih perlu banyak latihan. Mungkin juga ini masalah kecepatan berpikir yang kadang nggak selalu sama. Pada kenyataannya, memang nggak semua masalah bisa diselesaikan secepat mungkin.
Kita bisa lihat sendiri. Kebanyakan yang suka bikin maupun komen di status media sosial sering nggak siap dengan respons yang didapat. Buntutnya lebih banyak yang main pakai emosi daripada berargumen secara cerdas dan lebih beradab. Lebih mudah melontarkan makian, hingga menyerang kepribadian lawan bicara yang bahkan dikenal pun belum tentu.
Malah tambah riweuh, ‘kan?
Malas berdebat terlalu panjang.
Sebenarnya saya nggak anti-anti amat bikin sama komen di status. Kalau yang berdebat cenderung keras kepala dan merasa paling benar sendiri, kok rasanya percuma, ya? Buang-buang waktu saja. Selain itu, yang model begini biasanya juga nggak peduli sama argumen orang yang bahkan sudah dilengkapi dengan data valid sekali pun.
Muak dengan tukang komen yang kasar dan hobinya mengancam.
Mereka ini termasuk yang paling ‘meramaikan’ media sosial, suka nggak suka. Topik paling receh pun bisa jadi viral banget berkat kejulidan mereka. (Yang mau kasih mereka award, wis monggo. Saya mah ogah.)
Semakin kasar semakin seru? Buat saya mah, nggak level, tahu.
Gambar: https://unsplash.com/photos/RdmLSJR-tq8
Takut kebiasaan baik hilang.
Ada rasa tenang setiap kali menulis. Ibarat terapi begitu.
Kalau Anda termasuk yang juga suka menulis, kira-kira lebih milih yang mana? Apa alasannya?