‘Moving on’ atau ‘move on’ adalah sebutan untuk fase ‘melanjutkan hidup’ sesudah berakhirnya suatu hubungan. Biasanya sih, setelah melewati masa berduka, fase ini akan datang dengan sendirinya. Ada juga yang sekalian mengusahakannya, bahkan dengan sedikit ‘memaksa’.
Apa pun pilihan setiap orang, nggak apa-apa juga, sih. Terserah nyamannya masing-masing aja. Seperti biasa, yang jadi masalah adalah saat adanya usaha menyamakan (bahkan lagi-lagi dengan sedikit maksa atau sikap arogan) proses ‘move on’ mereka dengan orang lain. Tahu sendiri ‘kan, komentar-komentar menghakimi semacam:
“Galau melulu. Gue aja udah move on, masa elo belum?”
Padahal, satu jenis obat belum tentu cocok untuk semua jenis penyakit. Ya, bahkan meskipun gejalanya bisa dibilang nyaris mirip.
Oke, salah kaprah soal ‘moving on’ atau ‘move on’ termasuk:
1.Pokoknya harus cepat.
Emang, sebaiknya galau karena patah hati juga jangan kelamaan. Selain nggak baik buat kesehatan jiwa, jadinya juga malah ganggu orang. Nggak semua tahan terus-terusan dengerin curhatan Anda tentang si mantan. Nggak usah maksa atau baperan. Ini kenyataan.
Namun, pura-pura kuat dan berkoar-koar ke semua orang bahwa Anda sudah total melupakan si mantan juga bukan tindakan bijak. Mengapa? Apa ini gara-gara harapan mereka agar Anda bisa move on secepat mungkin? Relakah sampai harus membohongi diri sendiri?
Nggak masalah. Akui saja bahwa Anda masih sangat sakit hati. Meskipun nggak berarti harus selalu membicarakannya setiap hari, setidaknya itu langkah awal. Sisanya biar berproses secara alami. Fase penyembuhan memang nggak bisa dipaksa, bahkan dari pihak luar yang benar-benar sayang sama Anda.
2.Harus langsung jadian sama yang baru.
Gambar: https://unsplash.com/photos/Mx5kwvzeGC0
“Makanya, buruan cari yang baru biar cepet move on!”
Banyak yang percaya dengan teori ini. Kesannya jadi lajang lagi kok, menakutkan sekali? Sampai-sampai banyak yang menyangka bahwa dengan melajang kembali karena putus / cerai / ditinggal wafat berarti belum move on, karena terkesan enggan memberi kesempatan pada orang baru.
Padahal, bisa jadi mereka sedang senang-senangnya single lagi. Terus, ngapain jadi pada berisik, sih? Nggak perlulah, bikin mereka jadi merasa kurang sama diri sendiri.
Lagipula, memangnya ada jaminan, langsung jadian sama yang baru berarti udah move on? Yakin yang baru itu malah nggak jadi rebound?
3.Udah 100% nggak pernah sedih lagi.
Maunya semua orang juga gitu, tapi harapan kadang memang terlalu tinggi.
Kalau sesekali masih suka merasa sedih karena teringat mantan (terlepas seperti apa kelakukan mereka di masa lalu), biarkanlah. Nggak akan mungkin bisa 100% lupa, kecuali Anda robot yang selalu siap diprogram ulang atau korban kecelakaan hingga amnesia. Nggak mau juga, ‘kan?
Seperti biasa, asal jangan bablas dan malah jadi kelewat baperan. Ingat, semua ada batasnya.
4.Udah berhenti dengerin lagu-lagu dan pergi ke tempat-tempat yang penuh kenangan bersama mantan.
Nah, kalo yang ini sih, mau nggak mau bisa 50-50. Bisa jadi, yang bersangkutan beneran masih belum bisa move on. (Please, tahan dulu komentar nyinyirnya. Merasa lebih tegar nggak perlu juga dibarengi sama sikap brengsek ke orang lain!)
Tapi, bisa jadi sebenarnya mereka sudah lama move on, namun masih menyukai lagu-lagu dan tempat-tempat yang sama. Prinsip mereka adalah, nggak semua harus selalu dikaitkan dengan mantan. Jangan sampai kenangan tentang mantan merusak kesenangan mereka yang sudah lama ada.
Nah, jadi siapa yang baperan?
5.Enggan menerima mantan kembali, meski hanya sebagai teman.
“Kenapa sih, kayaknya kok dendaman amat? Masih belum maafin? Masih ada rasa? Namanya belum move on, dong!”
Nah, ini lagi asumsi sotoy banyak orang. Memang, terlalu mendendam dan kelamaan juga sama nggak baiknya dengan curhat terus-terusan soal mantan.
Tapi, ada kalanya perumpamaan ala lagu The Corrs, “Forgiven, Not Forgotten”, berlaku dalam hal ini. Maafin mantan? Udah. Nerima dia balik lagi, meski hanya sebagai teman? Belum tentu. Ya, harus lihat-lihat dulu. Gimana kalau sebelumnya, si mantan sudah terbukti lebih banyak menyebabkan kerugian daripada manfaat dalam hidup mereka?
Contoh: dulu mantan pernah sering bikin muka mereka babak belur atau hobi morotin. Nah, siapa yang cukup waras untuk menerima mereka kembali, meski sebagai teman?
Sekian dulu lima (5) salah kaprah soal moving on atau move on. Mau nambahin lagi? Boleh. Yang jangan kebiasaan sotoy.
Sesungguhnya saya teramat muak dan geram, karena lagi-lagi (harus) menulis tentang perselingkuhan. Namun, karena masih ada saja yang menumpahkan seluruh kesalahan perselingkuhan pada satu pihak saja – dalam hal ini si perempuan lain yang kerap langsung dicap sebagai ‘pelakor’ (perebut laki orang), baiknya saya kasih dua contoh berlawanan, deh. Biar apa? Nggak ada yang salah kaprah lagi meski gampang emosi.
Contoh ‘Pelakor’:
Ada yang udah pernah nonton film “The Greatest Showman”? Kalo belum, maaf ini jadi spoiler.
Penyanyi Swedia bernama Jenny Lind bersuara bening dan menarik minat P.T.Barnum, seorang pengusaha sirkus. Barnum menawarkan kerjasama dengan Lind. Keduanya sempat melakukan banyak tur bersama. Saat itu, Barnum sudah beristri dan punya dua anak perempuan yang selalu menunggunya di rumah.
Meskipun terinspirasi dari kisah nyata, dalam film ini, Jenny Lind digambarkan menaruh hati pada P.T. Barnum, meskipun sudah pernah dikenalkan pada istri dan anak-anaknya. Rupanya penyanyi ini menyalahartikan kedekatan mereka selama ini dan perhatian Barnum padanya.
Singkat cerita, Barnum menolak dan Lind pun sakit hati. Kerja sama mereka berakhir di tengah kontrak. Meskipun Barnum menolak rayuan Lind, intinya adalah Jenny Lind termasuk contoh jelas yang bisa kita sebut sebagai pelakor.
Lalu, bagaimana dengan perempuan-perempuan lain yang sebenarnya tukang selingkuh yang beneran minta di-dor?
Ngakunya Begini, Padahal Begitu
“Cowok kayak gini tuh, emang culas. Makanya jadi cewek jangan bego, gampang kemakan rayuan cowok. Harus pake otak!”
Jujur, saya sudah teramat muak dengan kebiasaan buruk masyarakat patriarki yang selalu lebih mudah nyalahin perempuan, tapi kelakuan bejad laki-laki dimaklumi saja. Bahkan, yang sering terjadi jauh lebih menyedihkan lagi. Mereka lebih suka mendengarkan salah satu pihak saja (dalam hal hal ini laki-laki hidung belang nan pengecut dan pendukung mereka) dan enggan mendengarkan pembelaan perempuan lain yang sudah tertipu dengan ulah mereka. Pokoknya, perempuan lain udah pasti fixed seorang pelakor. Habis perkara!
Contohnya udah kelewatan banget banyaknya. Mulai dari kekasih yang sok misterius (enggak mau dikenalin ke keluarga dan teman-teman si perempuan), hingga yang kelihatan baik di depan padahal diam-diam menelantarkan istri sebelumnya.
Jangan heran kalo pas pacar atau istri sah muncul dan melabrak perempuan lain yang ‘dasar kena sial’ ini, si laki-laki malah buang badan dan kabur begitu saja. Mana si perempuan lain tahunya doi masih single, makanya bengong pas dimaki-maki perempuan lain.
Ada juga yang pengecut banget dengan langsung bilang bahwa mereka tak berdaya karena terlanjur tergoda. (Idih!) Tinggal fitnah aja, bilang si perempuan lain yang ngejar-ngejar duluan. Padahal, sebenarnya dia juga yang kegatelan.
Mungkin yang dengan gampangnya nuduh perempuan lain sebagai ‘pelakor’ enggan mengakui bahwa pacar atau suami mereka sendiri yang bermasalah. Mungkin juga mereka nggak pernah ngalamin jadi pihak yang udah pernah ditipu mentah-mentah sama laki-laki hidung belang, terus masih disalahin juga karena nggak tahu? Padahal, bisa jadi mereka itu udah hati-hati banget, lho!
Semoga dua contoh di atas membantu mengenali yang mana beneran ‘pelakor’ dengan yang korban lelaki hidung belang. Sesungguhnya, tidak ada yang jauh lebih hina dan menyakitkan daripada dituduh sesama perempuan mencoba merebut kekasih mereka, – padahal laki-laki itu juga yang cari gara-gara, tebar pesona ke mana-mana…
Mengapa Harus Konveksi Seragam Kerja Jakarta Surewi?
Mungkin banyak yang merasa bahwa seragam hanya cocok untuk anak sekolah. Bahkan, ada rasa lega saat akhirnya lulus dan kuliah. Kalau harus seragam, palingan hanya seputar mengenakan kemeja putih dan bawahan (celana atau rok) hitam, terutama bila Anda di jurusan tertentu. Lalu bagaimana dengan seragam kerja, seperti yang berasal dari konveksi seragam kerja Jakarta Surewi?
Seragam kerja tidak hanya sebagai bagian dari identitas perusahaan. Dengan atribut tersebut, karyawan tidak perlu repot-repot memikirkan yang akan mereka kenakan setiap hari. Selain itu, ada kebanggaan tersendiri bila seragam yang dikenakan tampak menarik, baik dari segi desain maupun warna. Bahan yang nyaman juga jadi pertimbangan.
Untuk konveksi seragam kerja, memang sebaiknya jangan pilih yang sembarangan. Apalagi, seragam tersebut akan dipakai karyawan sepanjang hari, baik saat di kantor maupun di pabrik. Bila bahannya tidak terasa nyaman, pastinya mereka merasa segan mengenakannya, meskipun termasuk peraturan dari perusahaan. Apalagi bila harus berada di pabrik atau luar ruangan dalam waktu lama dan saat cuaca panas pula.
Untuk itu, memilih konveksi seragam kerja Jakarta Surewi merupakan pilihan tepat. Selain sudah berpengalaman selama bertahun-tahun, Surewi Wardrobe juga punya banyak klien. Bayangkan, klien mereka tidak hanya ada di Indonesia, lho. Banyak yang membutuhkan seragam perusahaan, bahkan termasuk yang dari luar negeri.
Lalu, apakah bahan-bahan yang dipilih oleh Surewi Wardrobe untuk seragam kerja Anda? Tentu saja, mereka akan menyesuaikannya dengan kebutuhan, dana yang tersedia, hingga fungsi seragam tersebut. Banyak jenis kain yang mereka gunakan, mulai dari American drill, taipan, kanvas, katun, dan masih banyak lagi. Selain itu, kita juga bisa meminta warna dan desain yang sesuai dengan image dan brand perusahaan yang bersangkutan.
Bahkan, kalau ingin atau memerlukan seragam lebih dari satu jenis, kenapa tidak gunakan juga jasa konveksi seragam kerja Jakarta Surewi? Misalnya: perusahaan Anda mempunyai dua jenis seragam dengan kombinasi warna berbeda. Satu untuk di dalam ruangan dan satu lagi saat harus berkunjung ke pabrik.
Lalu, bagaimana cara mengukur badan karyawan, agar seragam kerja yang dibagikan nanti tidak akan kesempitan atau terlalu besar untuk mereka? Untuk konveksi seragam kerja Jakarta Surewi, teknik pengukuran yang digunakan ada dua (2), yaitu:
Langsung mengukur badan.
Teknik ini sebenarnya paling efektif meski mungkin agak memakan waktu. Pihak Surewi Wardrobe bisa langsung datang ke kantor dan mengukur badan setiap karyawan sebelum seragam kerja dibuat. Enaknya, selain nggak perlu kerja dua kali, setiap karyawan langsung mendapatkan seragam yang benar-benar sesuai dengan ukuran badan mereka.
Kecuali, tentu saja, kalau karyawannya sendiri mengalami kenaikan atau penurunan berat badan, ya. Hihihihi…
2. Mengandalkan standar ukuran yang sudah ada.
Cara ini termasuk lebih cepat, terutama karena biasanya tebakan soal ukuran badan tetap bisa tepat. Entah mau pakai nomor (4,5,6,11,12,13, dan seterusnya) atau huruf (S,M,L,XL,XXL, dan lebih besar lagi), semua sama saja. Kadang tanpa perlu mengukur badan secara langsung, tebakan bisa tepat.
Masalahnya, kadang cara ini juga belum tentu akurat. Contohnya: bisa jadi ukuran XL di toko A sama dengan ukuran L-nya orang Asia Timur (Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok.) Tahu sendiri ‘kan, kalau postur mereka rata-rata ramping? Nah, mendingan pakai cara yang pertama aja.
Jadi, sudah siap memesan konveksi seragam kerja Jakarta Surewi? Dijamin, pilihan Anda tidak akan salah.
Sekarang lagi banyak kampanye online dengan tagar semacam #jangansisakanmakanan hingga #piringbersih. Ada juga artikel yang viral mengenai sumbangan makanan sisa dari acara kawinan (serius!). Yang paling saya ingat adalah postingan di media sosial soal orang Indonesia yang kena semprot warga Jerman pas ketahuan nggak ngabisin pesanan mereka di restoran sana.
Komentar saya?
“DARI DULU, KEK! MASA NUNGGU MALU DI MATA INTERNASIONAL DULU?!”
*krik krik*
*tarik napas sebentar*
Oke, andai dulu saya cukup tegas dan berani untuk mulai kampanye begini duluan, siap-siap aja dicaci sesama sebagai sok alim dan diketawain, terus dibecandain: “Emang elo mo ngabisin semua makanan sisa? Nggak kurang gendut apa?”
Ada juga yang nyinyirnya defensif banget dan 11-12 sama mereka yang dengan enaknya nyampah atau bikin meja kafe atau resto berantakan, lalu main tinggal begitu aja:
“Kita ‘kan, udah bayar mereka.” (Baca: ‘mereka’ yang dimaksud di sini adalah pelayan restoran dan tim oranye alias petugas kebersihan di jalanan – meski yang ini lewat uang pajak rakyat, semoga. Kalo soal makanan gratis di kawinan, paling alasannya lebih konyol lagi: “Mumpung bisa makan banyak gratis.”)
Mungkin banyak yang sebal – dan bahkan muak – dengan perilaku ‘sok kaya’ dan “mentang-mentang ada uang” orang-orang model begini. Nah, meskipun mungkin juga udah banyak yang pada tahu, saya ingetin lagi deh, lewat lima (5) tips ini agar tidak membuang-buang makanan:
1.Dari rumah: Masak dan Belanja Seperlunya
Gambar: https://unsplash.com/photos/Mx5kwvzeGC0
Ayo, kita bisa belajar untuk tidak membuang-buang makanan mulai dari rumah. Silakan hitung jumlah orang yang tinggal bersama Anda plus kebiasaan makan mereka, termasuk porsi dan jenis menu favorit. Ini bisa mencegah adanya makanan sisa karena kekenyangan atau rasa tidak suka.
Bila ada sisa makanan di kulkas dan Anda ingin memanaskannya, sesuaikan dengan porsi makan Anda. Jangan langsung panaskan semuanya, lalu begitu kekenyangan, sisa makanan yang sudah dipanaskan ulang Anda kembalikan ke kulkas. Yang pasti, kualitas makanan tersebut sudah masuk kategori ‘diragukan’.
2. Jangan kalap saat melihat banyak makanan enak di kondangan.
Nah, ini dia salah satu kebiasaan yang wajib dikurangin. Meskipun datang dalam kondisi lapar atau banyak yang disuka, jangan lantas jadi norak, ah. Apalagi bila yang menikah juga keluarga sendiri atau sahabat dekat.
Daripada malu-maluin, mending ambil dulu dikit-dikit. Kalo masih laper atau mau coba menu lain, ya ngantri lagi. Inget, bukan Anda saja yang diundang ke kawinan itu. Kasihan tamu-tamu lain yang mungkin datang telat karena halangan di jalan, lalu nggak kebagian makanan gara-gara Anda justru tega membuang-buang jatah mereka.
3. Jangan ngelunjak juga saat ditraktir makan.
Meski pacar/teman/saudara/anggota keluarga lain/bos dengan suka rela mentraktir (di tempat mahal pula!) Anda, tahu dirilah sedikit. Jangan terlalu artikan secara harafiah saat mereka bilang Anda boleh pesan apa pun yang Anda suka. Ingat ya, “apa pun” itu beda dengan “sebanyak apa pun”.
Malu-maluin banget kalo semua menu pesanan udah di atas meja, namun Anda hanya sanggup menghabiskan sebagian. Wuih, padahal tadi pas mesen semangat banget. Lima deret menu ampe disebut. Ketahuan banget aji mumpungnya kalo gitu.
4. Bila porsi makanan emang kegedean, berbagilah sama teman atau minta dibungkus, terus dibawa pulang.
Gambar: https://unsplash.com/photos/inDRPMBfX8M
Niatnya emang hanya pesan seporsi. Apa daya, seporsi pun gedenya amit-amit (apalagi kalo makan di resto internasional atau malah di luar negeri). Daripada kelihatan konyol, mending lihat-lihat dan tanya-tanya dulu ukurannya di menu. Jangan sampai Anda jadi merasa kepaksa sendiri ngabisin semuanya sekaligus sekali duduk.
Kalo lagi pergi sama teman atau rombongan masih enak. Masih ada yang bisa diajak berbagi makanan. Kalo enggak, kita tinggal minta pelayan agar membungkus sisa makanan yang kemudian bisa kita langsung bawa pulang. Gampang, ‘kan?
5. Sering-seringlah memberi makanan kepada mereka yang kelaparan namun tidak punya akses semudah Anda ke sumber makanan.
“Orang masih banyak yang kelaparan, kamu malah buang-buang makanan.”
Nasihat ini mungkin terdengar klise. Tapi coba bayangin deh, kalo situasinya dibalik: Anda yang kelaparan dan nggak punya uang buat beli makanan. Lalu, orang lain dengan enaknya membuang sisa makanan pas di depan mata Anda. Hayo, kira-kira gimana reaksi Anda?
Mending itu makanan sisa dikasih ke Anda yang lagi kelaparan. Iya, nggak?
Nah, gimana kalo Anda nggak yakin makanan sisa yang dibungkus dari resto itu bakal kemakan dan nggak hanya ngendon di kulkas kelamaan? Daripada buntutnya kedaluarsa dan dibuang juga, mending segera kasih ke anak jalanan.
Berusaha agar tidak membuang-buang makanan ternyata nggak susah, kok. Cukup ikuti lima (5) tips di atas. Bahkan, kalo mau nambah tips lagi yang lebih oke juga boleh banget!
Banyak teman dan kenalan yang bertanya mengenai cara saya bisa menulis begitu banyak. (Haduh, padahal belum sempet nerbitin buku lagi, nih!) Dari mana semua idenya? Kenapa saya memilih topik tersebut? Apakah saya punya ritual khusus atau harus berada dalam kondisi tertentu? Hmm, kayaknya harus dijawab satu-satu ini.
Daftar ini bisa bertambah panjang. Banyak alasan untuk menulis topik tertentu. Ritual khusus? Hmm, kayaknya enggak ada, tuh. Untuk lebih jelasnya, inilah lima (5) sumber ide menulis andalan sejauh ini:
1.Memperhatikan keadaan sekitar.
Apa iya hidup saya selalu seru? Nggak juga. Kadang biasa aja. Kalo terlalu seru, salah-salah saya malah nggak sempet nulis apa-apa dan dalam waktu lama.
Kadang banyak hal menarik di sekitar yang justru sering kita acuhkan. Misalnya: salah seorang editor saya paling suka mendokumentasikan kebiasaan dua kucing peliharaannya yang aneh-aneh. Saya hobi nguping obrolan orang-orang nggak dikenal yang kebetulan semeja makan saat di warung.
Kayaknya udah keniscayaan kalo mau nulis banyak harus banyak baca (dan nonton film). Intinya, belajar juga dari karya orang lain (bukannya nyontek lho, ya. Beda banget.) Bahkan, ada seorang teman yang pernah menyarankan saya untuk menambah variasi bacaan dan tontonan. Jadi, jangan hanya mau dengan yang saya suka dan sudah terbiasa.
3.Mimpi dan khayalan.
Gambar: julian-santa-ana-111265-unsplash
Jangan pernah menganggap diri terlalu tua untuk kedua hal ini kalo mau bisa sering menulis. Memang, tetap menjejak realita itu penting. Namun, jangan sampai kreatifitas kita jadi kering, gara-gara kita ‘membunuh’-nya dengan anggapan kita terlalu tua untuk bermimpi, berkhayal, dan menganalisa keduanya. Justru, dari situlah ide-ide segar dan kadang gila tercipta.
Makanya, saya juga punya jurnal mimpi atau dream journal. Sebisa mungkin, setiap mimpi yang saya ingat begitu bangun langsung saya catat. Siapa tahu bisa jadi ide cerita seru.
Ada yang butuh dorongan untuk menulis, terutama bila sedang bingung atau mengalami writers’ block. Solusinya bisa dengan banyak ikutan tantangan menulis. Nggak hanya lomba berhadiah dan pekerjaan sampingan (sebagai penulis konten), saya juga mendapatkannya dari klub menulis dan komunitas puisi yang saya ikuti.
5.Postingan media sosial.
Suka pusing baca status curhatan atau meme aneh-aneh yang diposting orang lain? Eneg baca twitwar atau sindiran #nomention? Geli ama curhatan yang kayaknya…ah, kok lebih cocok jadi konsumsi pribadi, apalagi seputar urusan ranjang? Percaya deh, bukan hanya kita yang merasakannya. Bahkan, sadar nggak sadar, kita juga suka melakukan hal serupa.
Jadi, hati-hati ya, sebelum main tuding ke wajah sesama.
Selain dengan harapan bisa sekalian numpang viral, kadang ini juga cara saya memberi komentar dengan lebih hati-hati. Daripada cenderung reaktif dan langsung menjawab di kolom komentar (apalagi bila yang ngajak debat sebenernya hanya mau cari menang), mending saya kasih tulisan panjang sekalian.
Nah, ini baru lima (5), lho. Kalo kamu sumber ide nulisnya dari mana aja?