Categories
#catatan-harian #menulis

Menuju 2020, Apa yang Harus Ditinggalkan?

Menuju 2020, Apa yang Harus Ditinggalkan?

Foto: https://unsplash.com/photos/-d6kTMGXV6E

Kali ini, sepertinya saya hanya akan menulis pendek sebelum tahun berganti. Tidak banyak yang harus dibahas, kecuali satu hal:

Apa yang harus kita tinggalkan sebelum tahun 2020 nanti?

Pertanyaan itu mungkin membutuhkan jawaban panjang. Mungkin juga akan susah dijawab. Namun, saya tidak akan memaksa kalian untuk menjawab di sini. Saya percaya, kita semua sibuk dengan alam pikiran masing-masing.

Mungkin sudah banyak yang membuat resolusi. Ingin inilah, akan berbuat begitulah. Seperti biasa, terserah. Saya hanya bisa mendoakan agar semua resolusi yang positif akan terwujud, tidak hanya berakhir wacana – catatan di halaman usang. Pastikan kalau Anda tahu bedanya keinginan sama rencana yang sudah benar-benar mantap.

Lebih mudah membuat rencana-rencana baru daripada berusaha melakukan yang sudah lalu. Padahal, kenapa yang sudah baik tidak dipertahankan? Kenapa yang buruk harus dibawa-bawa dengan alasan: “Namanya juga manusia” atau “Ini bagian dari diri saya”? Bila bisa menjadi sosok yang lebih baik – setidaknya demi diri sendiri dulu – kenapa tidak?

Mungkin saya termasuk yang terlalu idealis, seperti biasa. Tapi, boleh dong, berusaha se-ideal mungkin dalam hidup? Okelah bila ada yang selalu punya semangat untuk bikin resolusi baru. Perkara mereka akan berhasil menjalaninya itu urusan nanti. Yang penting bikin dulu. Nggak salah juga, kok.

Ada juga yang berusaha tetap realistis. Daripada bikin sepuluh resolusi tahun baru tapi nggak ada yang jadi, mendingan bikin satu hingga tiga dulu – terus ditekuni benar-benar. Kalau sudah kelar, baru boleh tambah lagi. Mau itu di tengah tahun atau bulan ketiga juga tidak masalah. Toh, nggak ada aturan khusus untuk itu.

Ya, kurang-lebih seperti saya, hehehe…

Kalau pun saya punya resolusi tahun baru atau semacamnya, kali ini nggak akan saya bagikan di sini atau di mana pun. Rahasia. Toh, nggak semua hal harus selalu diceritakan pada semua orang, bukan?

Tapi, saya mau sedikit curang, nih. Siapa yang masih bikin resolusi tahun baru?

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Undur Diri

Undur Diri

Kau tak pernah tahu

aku, yang diam-diam mengagumi,

membaca semua puisimu

mencari celah di hati.

Kau tak pernah tahu

perjuangan berat ini

melawan perasaan sendiri

demi satu yang tak tentu.

Kau tak tahu,

aku, mulai beranjak mundur,

enggan maju,

apalagi sampai terlalu jauh.

Takut jatuh.

Kurasa,

kau, takkan pernah tahu.

Akhirnya aku undur diri.

Biarlah sepi kembali menjadi sesuatu yang pasti.

Aku enggan bersaing dengan hantu,

dia, yang masih gentayangan di hatimu,

meski sudah berupa masa lalu…

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

Tentang Lengkungan di Persimpangan Jalan

Tentang Lengkungan di Persimpangan Jalan

Bagaimana memutuskan arah tujuan – dengan banyak pilihan di depan Anda? Apakah Anda akan duduk dan meluangkan waktu, sebelum akhirnya mengambil keputusan? Apakah Anda hanya akan langsung mencobanya, cukup dengan modal percaya?


Bagaimana perasaan Anda jika hidup seperti sedang jeda? Ambil langkah mundur dan lihat sekeliling. Sukakah dengan yang Anda lihat? Apakah Anda ingin mengubah sesuatu? Jika menyukai yang Anda lihat dan merasa cukup puas dengan semuanya sekarang, baguslah. Jika tidak, Anda mungkin ingin mencari sesuatu yang setidaknya tidak begitu buruk di luar sana.


Bagaimana jika Anda tidak bisa menemukan yang baik? Bagaimana jika Anda sudah tidak tahan lagi? Bagaimana jika situasi Anda saat ini tidak membuat Anda merasa baik-baik saja, tidak cukup nyaman? Bagaimana jika ‘saat sekarang’ hanya membuat Anda merasa lebih … terjebak? Tentu saja, Anda harus melakukan sesuatu tentang hal itu – tetapi apa?


Beberapa orang menemukan cara untuk mengekspresikan frustrasi mereka. Mereka dapat terus mengeluh tentang betapa mereka membenci hidup mereka, baik diam-diam atau secara terang-terangan. Mereka dapat mengatakan bahwa mereka ingin berhenti dari pekerjaan mereka yang menyedihkan, berhenti bersikap baik kepada orang-orang, dan hanya … berhenti hidup.


Sayangnya bagi mereka, kehidupan mereka masih belum berubah. Mereka masih menjalani hidup yang sama, melakukan pekerjaan yang secara jujur mereka benci. Mereka masih melihat orang-orang yang bahkan tidak ingin mereka hadapi.


Dengan kata lain, mereka ada hanya sebagai gangguan bagi orang lain.


Beberapa orang lain tahu lebih baik daripada hanya terus berbicara – atau lebih tepatnya, terus merengek. Mereka melakukan apa saja untuk mengubah hidup mereka (yang semoga menjadi lebih baik.) Mereka mencari alternatif.


Setelah memutuskan, mereka mengambil risiko. Mereka memilih untuk bergerak maju dengan satu pilihan tersebut, meninggalkan yang sebelumnya. Apakah ini langkah yang tepat? Apakah itu salah? Bagaimana Anda tahu yang mana yang benar, jika belum pernah mencobanya? Lagipula, inilah hidup. Segala sesuatu selalu sering terjadi ketika Anda tidak mengharapkannya.


Selalu ada pilihan di depan Anda. Baik atau buruk, itu tergantung. Kita semua memiliki kebutuhan yang berbeda. Saat memutuskan segala sesuatu, intinya selalu sama:


Pilih salah satu … jangan semuanya. Jangan tanggung-tanggung. Anda tidak dapat memiliki semuanya.


Itulah yang terjadi dengan lengkungan. Anda tidak akan pernah tahu ke mana Anda akan pergi. Anda memang masih dapat merencanakan semuanya, tetapi selalu ada kejutan di menit-menit terakhir.


Selalu ada semacam bencana dalam sesuatu yang indah. Keindahan itu sendiri tidak pernah sempurna, karena membutuhkan ilusi. Pertanyaannya adalah, seberapa siap Anda menerima kenyataan ini?


Siaplah selalu untuk apa pun yang ada di depan. Rintangan, jalan memutar, belokan yang salah … sebut saja. Sama seperti peluang, mereka semua ada di sana juga.


Selalu ada lebih banyak lengkungan …

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Diva

Diva

Tak perlu selalu begitu

bergaun rancangan ternama.

Semua tercermin dari perilaku

ingin dikagumi sesama

sekarang dan selalu.

Dia lupa akan waktu

dan mungkin segala sesuatu.

Tiada yang abadi.

Suatu saat nanti,

panggung itu akan sepi.

Penonton pergi.

Tinggal dia sendiri

tampil di depan barisan kursi

enggan berpisah dengan memori

sosok dirinya yang (pernah) dipuja-puji…

Ah, Diva…

Bukalah mata…

Kau bukan segalanya…

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

5 Alasan Anda Bahagia Tapi Egosentris

5 Alasan Anda Bahagia Tapi Egosentris

Bahagia … tapi juga egosentris? Beberapa orang memang seperti itu. Mereka sangat senang dengan pilihan dan hasil kehidupan mereka. Nggak ada yang salah sih, kecuali saat mereka sampai mulai menganggap bahwa pengalaman mereka mewakili situasi semua orang di dunia. Yang terburuk, mereka cenderung membutakan diri terhadap ragam realitas di sekitar mereka.


Orang-orang ini tidak selalu dingin dan egois. Bahkan, mereka masih peduli dengan kesejahteraan orang lain … dengan cara yang agak tidak menyenangkan. Niat mereka sebenarnya baik sih, namun jadi buruk karena yang mereka lakukan dan katakan membuat orang lain merasa sangat tertekan. Semoga Anda tidak seperti itu. Untuk mengetahuinya, berikut adalah lima (5) alasan Anda bahagia tetapi juga egosentris:


1. Karena pilihan Anda menyelesaikan masalah Anda, Anda pikir itu juga cocok untuk orang lain.


Bisa jadi Anda ibu rumah tangga yang bahagia atau wanita karier. Anda dapat terbang dengan maskapai yang sama atau mencoba yang berbeda. Anda bisa makan makanan tertentu atau melakukan beberapa jenis olahraga yang orang lain mungkin tidak kenal. Apa pun itu, ini adalah pilihan pribadi Anda yang menurut Anda telah menyelesaikan masalah Anda.


Tidak ada yang salah dengan mempercayai yang ingin Anda percayai. Tidak salah juga bila ingin menyarankan hal yang sama kepada orang lain. Satu hal yang perlu Anda ingat adalah: yang berhasil bagi Anda belum tentu sama untuk orang lain juga. Cobalah untuk tidak tersinggung jika mereka tidak setuju dengan Anda – atau bahkan jika mereka tampaknya tidak tertarik untuk mencoba apa yang Anda lakukan.


2. Anda tidak dapat dan tidak mau mengerti orang-orang yang memilih secara berbeda dari Anda.


“Saya tidak mengerti dengan orang-orang saat ini. Saya merasa bahagia menikah / membesarkan anak-anak / menjadi wanita karier / memilih kehidupan seperti ini. ”


Orang-orang yang tersinggung biasanya terdengar seperti ini begitu usul mereka ditolak. Gini deh: bukan tugas Anda untuk mengubah hidup mereka menjadi persis seperti yang Anda inginkan. Mereka punya rencana sendiri. Jika mereka memilih untuk tidak mengikuti saran Anda, tidak selalu berarti bahwa mereka tidak menyukai atau bahkan menghormati Anda.


Tolong, tidak semua harus tentang Anda.


3. Anda mencoba membuat pilihan Anda terlihat baik dengan merendahkan pilihan orang lain.


“Saya memiliki kehidupan yang jauh lebih baik karena ini, sementara yang laing masih bekerja keras. Masalah dengan orang-orang yang mengira mereka cerdas adalah mereka selalu ingin menang sendiri. Ego mereka yang jadi masalah. “


Jika benar-benar percaya bahwa pilihan Anda sudah menjadi yang terbaik, lalu mengapa masih perlu merendahkan pilihan orang lain? Kenapa harus main perbandingan, sih? Mengapa semuanya harus menjadi kompetisi? Seberapa butuhnya Anda perlu merasa seperti seorang pemenang, sehingga Anda akhirnya mengganggu ketenangan pikiran orang lain?


4. Anda memaksakan kepercayaan dan pilihan Anda pada orang lain, seolah-olah pilihan Anda adalah satu-satunya contoh terbaik.


Ya, ya. Alasan terbaik Anda adalah bahwa Anda hanya bermaksud baik. Lagipula, pilihan hidup Anda tepat untuk Anda dan Anda benar-benar bahagia. Benar, kan?


Anda mungkin berpikir Anda tahu yang terbaik, tetapi Anda terdengar seperti orang yang tahu segalanya tentang mereka. Tidak ada orang dewasa yang suka didikte soal yang harus dilakukan dan dikuliahi soal pilihan hidup mereka, seolah-olah mereka terlalu bodoh untuk membuat keputusan sendiri. Selain itu, Anda mungkin terdengar seperti orang yang merasa sok paling benar sendiri.


Ada perbedaan antara memberi saran dengan bawel ngajarin. Nah, jika Anda masih tidak bisa membedakannya, periksa kembali bahasa Anda. Meskipun maksud Anda benar-benar baik, inilah masalahnya: jika mereka tidak meminta saran dari Anda, maka jangan berikan apa pun. Sesederhana itu. Jika Anda masih ingin, tanyakan apakah mereka tidak keberatan mendengarkan masukan Anda.


5. Anda menggunakan ad-hominem untuk melawan setiap argumen dari orang lain yang tidak setuju dengan Anda.


“Gak apa-apa kalo lo gak sepakat ama gue, tapi gue bisa liat kenapa hidup lo masih di situ-situ aja sekarang.”


“Ini yang saya pilih dan saya tidak peduli apa yang dikatakan tukang kritik. Saya tidak berharap mereka mengerti. “


Setiap orang bebas memilih yang mereka sukai dan tidak sukai. Namun, jika Anda akhirnya menutup diskusi yang sehat dengan cara seperti itu, bersiaplah untuk reaksi negatif yang lebih banyak. (Ya, termasuk didiamkan dan sikap masa bodoh.)


Menilai orang lain secara pribadi seperti itu tidak membuat Anda terlihat atau kedengaran bagus. Tidak masalah jika Anda yakin bahwa Anda benar dan Anda memiliki bukti yang valid untuk itu.

Anda masih bisa bahagia tanpa memaksakan pilihan Anda pada orang lain. Yap, ini bukan tentang Anda. Setiap orang datang dari latar belakang dan pengalaman yang berbeda. Hanya karena itu terjadi pada Anda, bukan berarti bakalan sama juga untuk orang lain – dan sebaliknya. Bersikaplah adil dan baik. Bukan Anda saja yang berhak mendapatkan pengakuan.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Rapuh

Rapuh

Bagai istana pasir

atau rumah dari tumpukan kartu remi.

Mudah tersingkir,

berhamburan ke sana kemari,

terhempas ombak biru-hijau yang dingin

maupun hempasan angin

hingga hancur berkeping-keping.

Selelah itukah dirimu,

hingga tiada tenaga

menggalau dan merapuh,

meski senyum menyembunyikan keluh?

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

Tentang Ultah, Hadiah, dan Kehadiran

Tentang Ultah, Hadiah, dan Kehadiran

Maaf, karena kesibukan, saya tidak sempat update blog saya sesering biasanya. Sebenarnya, saya sudah lama ingin menulis tentang ini.

Ya, November tahun ini saya berusia 38. Saya tidak akan mencoba menutup-nutupinya dengan bersikap sok muda. (Pembahasan ini ada di tulisan sebelumnya, “Usia Cuma Angka”.) Namun saya juga nggak mau sok bijak meskipun usia sudah pasti bakal dikategorikan ‘tua’ oleh banyak orang. Memang kenyataan. Mau gimana lagi?

Jujur, saya udah lama gak gitu peduli dengan perayaan ultah sendiri. (Saya malah lebih heboh sama ultah orang lain, apalagi kalo menurut saya mereka sangat penting. Bahkan, kalo bisa saya kasih hadiah sekalian lebih baik lagi.) Bukan karena nggak mau ketahuan tua (wong barusan udah blak-blakan ngaku umur sendiri, kok!)

Tentang Hadiah dan Kehadiran

Namanya juga transisi alami. Bila waktu kecil dulu selalu berharap kado setiap kali ultah, kini tidak lagi. Bukan, bukannya saya menolak bila dikasih kado – apalagi yang asyik-asyik macam buku tulis bersampul lucu (saya suka nulis), ditraktir makan hingga nonton film, atau…apa sajalah. Yang penting ikhlas dan gak ngeluh di kemudian hari. (Awas kalo sampai ketahuan ya, hehehe…)

Kalo sekarang? Ya, dapet syukur, enggak juga gak masalah. Lagipula, kalo mau kasih hadiah kadang juga nggak perlu saat-saat khusus, kok. Saya sendiri kadang juga suka random, alias mendadak menghadiahi diri sendiri dengan apa pun yang saya suka. Mau itu novel bahasa Inggris, nonton film di bioskop sendirian, sampai karaoke sejam (yang juga sendirian…serius.)

Kadang hadiah terindah bukan berupa barang. Kadang hadiah terindah adalah kehadiran orang-orang tersayang, terutama mereka yang sempat lama terpisah.

Singkat cerita, hari Sabtu itu sesudah ulang tahun saya, seorang teman sekaligus mantan rekan kerja mengajak ketemuan. Ngopi-ngopi, seperti dulu kala. Ada enaknya jadi imigran digital. Meskipun melek internet, kami sama-sama tidak terobsesi untuk mendokumentasikan pertemuan random kami sore itu.

Dia pernah menjadi inspirasi beberapa tulisan saya. Jika ada yang bertanya seberapa istimewanya dia, saya tidak mungkin menjadikannya inspirasi tulisan kalau dia tidak seistimewa itu. Jadi, meskipun tidak ada selfie atau pun keinginan untuk menulis lengkap kisah pertemuan atau reuni singkat kami sore itu, saya masih akan mengingatnya.

Malamnya, saya makan malam bersama keluarga. Sederhana saja. Sama sederhananya dengan pemikiran ini tentangnya:

Kadang cinta bukan soal bisa atau mau bersama atau tidak. Kadang cinta adalah menerima realita. Meskipun tidak bersama, masih jauh lebih baik berteman saja daripada pura-pura cinta padahal hanya memanfaatkan – atau malah tidak dianggap siapa-siapa…

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Cinta yang Cukup?

Cinta yang Cukup?

Gambar: https://unsplash.com/photos/17yojkc2so4

Seperti inikah rasanya

berusaha melupakan

tanpa ingin kehilangan?

Selalu ada ruang kosong itu

lowong di alam rayaku

tidak hampa,

hanya menunggu

selalu terbuka untukmu

Mungkin aku sedikit berdamai dengan waktu,

masih mencintaimu

tanpa harap kau mau bersamaku

Semua impian semu itu

sudah lama kutinggal di masa lalu

Selama kamu sehat, berbahagia, dan hidup,

kurasa itu sudah cukup.

R.

November 2019

Categories
#catatan-harian #CSW-Club #fiksimini #menulis

Takut

Takut

Gambar: julian-santa-ana-111265-unsplash

Aku takut menikah. Aku tahu, aku kedengaran putus asa. Mungkin juga parno luar biasa.

Aku sudah sering mendengar cerita-cerita seram. Calon suami yang katanya siap mendukung istri tetap berkarir di luar rumah langsung ingkar begitu sudah ijab kabul. Merasa sudah memiliki, suami pun menguasai. Melarang istri jadi diri sendiri. Pokoknya harus tunduk patuh tanpa kecuali.

Sumpah, aku ngeri.

Banyak juga calon suami yang belum apa-apa sudah tidak tahu diri. Berharap dan menuntut istri masih perawan, padahal mereka sendiri sudah tidak perjaka. Standar ganda munafik dan menjijikan.

Padahal, bisa jadi laki-laki semacam itulah yang berpotensi menyebarkan penyakit menular. Habis itu, paling yang dituduh juga istrinya. Dituduh selingkuh, padahal sudah dilarang keluar rumah dan jadi ibu rumah tangga saja. Bagaimana caranya, coba? Belum tentu istrinya yang kegatelan, mengundang-undang laki-laki lain ke rumah saat suaminya sedang tidak ada.

Tapi mungkin memang benar. Laki-laki kalau memang jahat dan sudah bosan, alasan apa pun mereka pakai untuk membenarkan perselingkuhan maupun perceraian.

-***-

Aku takut menikah, apalagi kalau sampai cerai. Bila karena salah satu meninggal, mungkin lain cerita.

Tapi, bagaimana bila cerainya gara-gara selingkuh atau KDRT? Sudah banyak cerita seram yang kudengar. Ini dunia nyata, bukan cerita dongeng. Tidak ada omong kosong macam “happily ever after”. Aku bukan anak-anak lagi yang mudah tertipu dongeng macam itu.

Semua pihak dalam pernikahan harus berusaha saling membahagiakan, sekaligus berusaha membahagiakan diri sendiri. It’s tricky. Bila keduanya sama-sama gagal, entah kenapa hanya salah satu pihak yang sering dituding sebagai biang keladi.

“Kamu kurang berusaha.”

“Kamu kurang melayani, kali?”

“Jangan-jangan kamu yang kurang menuruti suami.”

Begitu terus. Kurang, kurang, kurang, dan sekali lagi kurang. Tak peduli lelah luar biasa karena harus mengurus semuanya sendiri. Anak, urusan rumah tangga. Suami maunya tahu beres saja. Istri harus ikhlas.

Tak peduli suami tinggal main perintah, bahkan dengan nada kasar. Tak peduli tangannya suka melebamkan, alih-alih peluk menenangkan…

-***-

Aku…takut untuk menikah lagi. Banyak cerita di balik trauma. Aku sudah cerita semuanya.

Tidak ada yang namanya janda bebas stigma. Tidak semua orang (mau) berpikiran terbuka. Mereka lebih mudah percaya sama kata orang.

Kalau pun bertanya, kebanyakan membuatku muak. Para laki-laki yang entah kenapa menganggapku murahan. Ada yang langsung marah dan menyumpah-nyumpah begitu ajakan kencan atau lamaran menikah ditolak.

“Jangan sombong. Kamu tuh, cuma janda. Udah bagus masih ada yang mau!”

Ada juga yang iseng bertanya:

“Gak kangen ngewe?”

Menjijikan. ‘Kan bukan urusan mereka. Memangnya mereka pikir mereka siapa?

Belum lagi tatapan kebencian dari sesama perempuan. Astaga, memangnya suami mereka sebagus itu, apa? Aku justru ingin mencungkil mata-mata lancang mereka yang setiap kesempatan melirik genit padaku.

Tidak ada yang ingin jadi janda. Tapi, aku juga takut menikah lagi. Aku takut mengulangi kesalahan serupa.

Jadi, apa yang bisa kamu lakukan untuk meyakinkanku, bahwa kali ini akan berbeda?

-selesai-

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Reuni

Reuni

Hanya karena kau di sana,

tempat untukmu belum terganti.

Namamu masih di hati.

Aku hanya ingin bertemu kembali,

meski hanya sekali,

supaya bisa puas memandangi

sepasang mata biru

dan senyum hangat itu

agar abadi di benakku.

R.

(Jakarta, 8 November 2019, 22:00)