Categories
#catatan-harian #menulis

Usia Cuma Angka

Usia Cuma Angka

Tiga kata dalam kalimat di atas memang benar. Banyak alasan di balik judul tulisan kali ini, yang kalau dalam Bahasa Inggris artinya: “Age is just a number.”

November tahun ini, saya berusia 38. Ya, sebagai perempuan yang kebetulan juga masih lajang, saya merasa tidak perlu malu untuk mengakuinya. Wong memang kenyataan, kok. Bertambah tua adalah takdir, secara alami tak mungkin bisa dihindari oleh siapa pun. Mau jutaan kali oplas juga percuma.

Cuma, saya memang masih suka bercanda seperti ini:

“Umur saya 19…untuk yang kedua kalinya.”

Hahaha, semoga pada paham, ya. Kalo enggak, ya maaf.

Nah, kembali lagi ke soal usia cuma angka. Banyak bukti yang kadang menunjukkan bahwa pernyataan itu benar. Menurut pengalaman saya sendiri, inilah beberapa buktinya:

  1. Masih ada yang mengira saya lebih muda dari usia sebenarnya.

Hehehe, boleh dong, sesekali narsis sedikit? Masih ada yang mengira saya lebih muda dari usia sebenarnya. (Yah, paling mentok satu dekade lebih muda. Lumayan banget, ‘kan?) Sampai-sampai ada yang pernah meminta izin melihat KTP saya gara-gara nggak percaya.

“Rahasianya apa, sih?”

Jujur…enggak ada sama sekali. Saya nggak berani bawa-bawa air wudhu seperti kebanyakan orang (entah serius atau bercanda). Saya hanya berusaha menerima hidup apa adanya. Toh, kalo apa-apa terlalu dibawa stres, yang ada kita juga ‘kan, yang menderita?

  • Lebih cuek berteman dengan dan belajar dari siapa saja.

Sebenarnya, dari dulu saya sudah berusaha cuek. Sayangnya, sekeliling dulu masih terkesan kaku dan terkotak-kotak. Yang senior temenan sama senior. Yang masih anak bawang suka nggak dianggap – dan akhirnya hanya berteman dengan yang seumur. Entah kenapa, ada rasa gengsi di situ.

Tapi itu dulu, pas masih zaman sekolah. Zaman kuliah adalah saat transisi, karena bertemu lebih banyak ragam manusia. Kadang yang senior justru lebih asik daripada yang seumur. Kadang yang lebih muda juga belum tentu manja dan nggak tahu apa-apa.

  • Sadar bahwa yang lebih tua juga belum tentu lebih dewasa.

Jujur, saya sendiri juga bukan penggemar feodalisme. Saya paling muak dengan sosok-sosok yang berkuasa (entah karena lebih tua, atasan, senior, atau siapa pun yang pegang uang dan pengaruh lebih banyak), namun jadi tamak dan gila hormat. Saking gilanya sampai nggak bisa bedain antara kritikan dengan hinaan.

Makanya, saya percaya bahwa yang lebih tua juga belum tentu lebih dewasa. Pemimpin nggak selalu benar. Yang muda juga nggak selalu bodoh dan tidak tahu apa-apa. Justru, bisa jadi mereka jauh lebih tahu kondisi sekarang daripada generasi sebelumnya yang mungkin sudah terlanjur di posisi nyaman.

Makanya, saya tidak anti atau alergi untuk belajar dari yang lebih muda. Tidak perlu terlalu memuja harga diri dan ego kalau ingin maju dan bisa bekerjasama dengan banyak orang. Lagipula, zaman sudah berubah…cepat lagi. Romantisme masa lalu (“Dulu lebih enak, bla…bla…bla…”) juga tidak akan membawa kita ke mana-mana, kecuali ninabobo belaka.

Saat ini, saya tidak mau menambah stres dengan target-target yang terlalu ngoyo. Saya hanya ingin berusaha melakukan yang saya bisa saat ini dengan sebaik mungkin. Kalau ada target-target khusus lainnya…hmm, sepertinya tidak perlu diceritakan. Takutnya kecewa bila ternyata kemudian tidak kesampaian.

Dengan kata lain, realistis aja, deh!

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Tanpa Mata, Telinga, dan Hati

Tanpa Mata, Telinga, dan Hati

Foto: https://www.freepik.com/free-photo/tensed-man-covering-ears-with-hands-with-his-eyes-closed_4167208.htm#page=1&query=ignorance&position=1

Percuma banggakan logika

bila hasil tak seberapa

malah buta

tuli akan kisah-kisah nyata

kejahatan pada sesama.

Apa hatimu tiada lagi guna

atau malah alpa?

Semudah itu kau bungkam

jerit-tangis para korban.

Bodyshaming
Foto: freepik.com

Kau sebut mereka mengada-ada

‘baperan’ semata

dan semua julukan penuh hina.

Tanpa mata, telinga, dan hati,

bukankah kau sama saja dengan mati?

Mahluk tak tahu diri

memilih tak peduli

andil dalam apati…

R.

Jakarta, Oktober 2019

Categories
#catatan-harian #menulis

Yang ‘Femes’ Belum Tentu Bagus

Yang ‘Femes’ Belum Tentu Bagus

Foto: https://unsplash.com/photos/Y1e3kANiFRg


‘Femes’? Maksudnya apa ini? Famous (ngetop) kali! Astaga, ini dia yang sering bikin saya gregetan: orang Indonesia yang hobi merusak bahasa. Gak hanya bahasa asing, bahasa sendiri saja juga begitu. Apa gak bisa menulis dengan cara normal? Apalagi, alasannya ada yang bilang biar trendi, ada yang bilang lagi bikin kata serapan baru.

Terserah, deh. Sebagai penulis, penerjemah, dan pengajar bahasa Indonesia dan Inggris, jujur saya pribadi merasa terganggu. Sekadar mengingatkan, sih. Mau dianggap terlalu kaku atau serius, ya silakan saja.

Eh, kok jadi melantur, yah?

Singkat cerita, saya pernah membaca status seorang teman mengenai keberhasilannya mencapai sesuatu. Komentar-komentar yang ada di media sosial seperti biasa: beragam. (Sekadar info, kebetulan saya lagi gak ikutan komentar).

Termasuk komentar yang seperti ini:

“Kita seprofesi, tapi beda nasib. Mungkin karena aku belum ‘femes’ kali ya, beda sama Mas.”

Seperti biasa, orang bebas berpendapat di media sosial. Setiap orang mungkin akan menangkap komentar di atas dengan perspektif berbeda. Ada yang kasihan, ada yang mungkin menganggap orang itu sinis.

Saya sih, tidak merasakan apa-apa saat membacanya. Mungkin karena komentar itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan saya. Namun, ada satu hal yang cukup menggelitik benak saya:

Famous = Pasti Bagus?

Kayaknya anggapan semacam ini akan selalu menemukan pendukungnya. Apalagi di era media sosial kayak sekarang. Gak peduli ngetopnya hanya sesaat bak supernova. Pokoknya, yang penting dilihat orang dulu, dianggap ada dan penting.

Sayangnya, banyak yang malah pakai cara ‘enggak banget’ buat caper (cari perhatian). Saya sih, rasanya gak perlu sampai memberi contoh spesifik, ya. Intinya, terkenal karena secara langsung maupun enggak mengajak orang berantem di media sosial itu sudah jadi modal andalan buat terkenal.

Saya hanya mau sepakat tiga (3) hal dalam hidup ini, terkait dengan kepopuleran:

  1. Semua butuh proses – dan hanya yang sabar yang bisa menjalaninya dengan ikhlas.
  2. Gak semua yang ‘femes’, viral, trending, atau apalah namanya itu pasti selalu bagus.
  3. Habis femes mau ngapain? Banyak yang gak bisa jawab karena memang belum siap.

Bila untuk yang pertama saja sudah sulit, apa kabar yang berikutnya? Era digital telah memberi kita sebuah ilusi bahwa semuanya selalu bisa dilakukan dan didapatkan secara cepat.

Akibatnya, kesabaran manusia semakin tipis saat ini. Ada kecenderungan membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain – dan ini bisa dua arah. Yang merasa sudah lebih besar dari orang lain langsung bersikap jumawa, sementara yang merasa kurang malah jadi stres, uring-uringan sendiri, hingga kurang bersyukur dengan yang sudah didapatkan.

Bagi yang memilih cara kontroversial untuk terkenal (terutama di dunia maya, ya) biasanya lebih banyak berpikir pendek. Pokoknya, orang harus ngeh dulu dengan keberadaan mereka. Terserah bila ada yang suka maupun benci. Daripada gak dilirik, alias merasa jadi biasa-biasa saja. Misalnya: sengaja mengajak berantem orang lain di media sosial demi biar viral.

Makanya, begitu kepikiran untuk mengubah diri atau image, jadinya gak semudah sekali klik langsung posting. Apalagi, orang mungkin sudah banyak yang terlanjur antipati dan menanggapi dengan persepsi miring. Yang ada malah dituduh pencitraan lagi.

Ngomong-ngomong jadi penasaran, nih. Apa sih, yang bikin Anda ingin famous?

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Tanpa Mereka

Tanpa Mereka

Suatu saat nanti,

aku ingin kau percaya lagi

kau akan bahagia

meski tanpanya di sisi.

Sama sepertiku

Dengan hati bebas dari sembilu

sesudah dia berlalu

dan sempat tinggalkan pilu.

Ya.

Aku ingin kau percaya.

Tanpa mereka,

kita berdua akan baik-baik saja.

Tak perlu terus berduka,

apalagi terlalu lama.

Siapa tahu?

Suatu saat nanti,

mungkin akan ada cerita baru…

…tentang kau dan aku…

R.

Jakarta, Oktober 2019

Categories
#catatan-harian #menulis

Tentang Bucin dan Yang Suka Julid

Tentang Bucin dan Yang Suka Julid

Sebenarnya, saya sedang enggan membahas tentang cinta, romansa, dan sebangsanya. Cuma, sayangnya saya juga sedang muak dengan politik. (Eh, kapan nggak muaknya ya, kalau sering begini?)

Budak. Mendengar satu kata itu saja sudah bikin berjengit. Apalagi, kalau disandingkan dengan kata lain, seperti:

Budak korporat:

Gambar: brilio.net

Dulu, istilah ini pernah beberapa kali saya dengar. Bahkan, pernah juga ada yang memperkenalkan diri sebagai ‘budak korporat’ – dengan nada bangga pula. Tapi, saya menangkapnya malah lain. Mungkin saya yang terdengar julid, tapi kok, ada kesan meremehkan profesi sendiri, meskipun terdengar bangga setengah mati?

Istilah ‘budak korporat’ memberi kesan bahwa mereka hanyalah jongos, pesuruh di dunia korporat. Tidak bisa maupun tidak boleh berpikir sendiri, selama masih terima gaji. Kesannya ada keluhan terpendam di balik sebutan itu.

Mungkin pekerjaan mereka memang berat dan rentan menimbulkan stres. Namun, setiap kali menerima gaji (yang biasanya sih, cukup tinggi), mereka suka mendadak amnesia pernah menyebut diri sendiri sebagai budak-nya korporat. Terserah sih, kalau mereka merasa demikian. Toh, masih lebih merana nggak punya pekerjaan hingga uang.

Bucin (budak cinta):

Orang Indonesia memang paling pintar dan kreatif dalam menciptakan hinaan baru. Kali ini berupa hinaan untuk yang hobi pamer pasangan ke semua orang atau kemesraan dengan kekasih mereka – baik di dunia nyata maupun social media.

Gak hanya itu, sih. Orang yang terlalu memuja dan sering mengalah sama pasangan (apalagi bila pasangan jelas-jelas salah) juga kena sebutan ‘bucin’.

Yang julid:

Sumber: https://unsplash.com/photos/4Bs9kSDJsdc

Okelah, saya akui…saya sendiri kadang-kadang masih suka julid. Mungkin, dulu juga ada masanya saya nyaris (catat ya, NYARIS) ikutan menjadi bucin.

Saya sama sekali nggak membenarkan mereka yang memilih bertingkah seperti ‘bucin’. Mungkin mereka memang sedang jatuh cinta dan sangat bahagia. (Pernah dengar tentang ‘lonjakan endorfin’ di dalam tubuh? Silakan Google sendiri.)

Namun, saya hanya bisa berdoa agar mereka selalu baik-baik saja dan orang yang mereka cintai juga memperlakukan mereka dengan baik. Sederhana saja, tho? Gak perlulah bersikap super sinis dengan menyebut mereka ‘bucin’. Ngapain? Apakah cara ini lantas akan membuat kita menjadi lebih baik? Yakin kita gak pernah melakukan hal serupa saat sedang tergila-gila dengan seseorang?

Kalau nggak pernah, terus ngapain sesumbar menyebut orang lain ‘bucin’, coba? Ingat, kadang sesuatu yang sering diucapkan bisa menjadi doa yang kemudian dikabulkan oleh Tuhan.

Manusia itu mudah sekali berubah hatinya. Awalnya mungkin suka A, besok-besok bisa jadi benci setengah mati dan memilih B. Begitu terus. Gak kebayang ‘kan, kalo suatu saat tiba-tiba kita sendiri yang bersikap seperti ‘bucin’, padahal dulu yang begitu kita permalukan setengah mati? Apa jangan-jangan kita suka menerapkan standar ganda, alias nggak apa-apa kalau pelaku ‘bucin’ itu ya…diri sendiri?

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Demi Senyummu

Demi Senyummu

Maafkan aku.

Mungkin aku tak tahu diri

membuatmu grogi

di tengah pembuatan Instastory.

Aku cuek memandangimu

hingga kau salah tingkah sendiri.

Namun, tahukah kamu,

bukan kau saja yang gugup setengah mati?

Jangan marah, ya.

Jangan takut juga.

Aku bukan psikopat gila.

Aku hanya senang mendengarmu bersuara,

tersenyum dan tertawa.

Saat itu,

aku sedang butuh senyummu

untuk cerahkan langit kelamku…

R.

Categories
#catatan-harian #lomba #menulis

Rasakan #XperienceSeru dengan Traveloka Xperience

Rasakan #XperienceSeru dengan Traveloka Xperience

Siapa sih, yang tidak kenal dengan Traveloka? Traveloka adalah perusahaan perjalanan daring Asia Tenggara terkemuka yang menyediakan berbagai kebutuhan perjalanan dalam satu platform. Dengan cara ini, pelanggan dapat membuat momen liburan bersama orang yang mereka cintai. Traveloka menawarkan penerbangan, hotel, kereta, paket penerbangan dan hotel, atraksi serta kegiatan, produk konektivitas, transportasi bandara, dan bus.

Terus, apa sih, yang dinamakan dengan Traveloka Xperience?

Termasuk bagian dari Traveloka, produk dan layanan ini hadir untuk melengkapi kebutuhan kita yang suka dengan travelling dan lifestyle. Misalnya: kita sedang atau akan berlibur ke suatu tempat dalam jangka waktu yang cukup lama. Nah, agar tidak bosan, pastinya kita berusaha mencari tahu dong, berbagai hal tentang tempat tersebut?

Dengan produk ini, kita bisa merasakan #XperienceSeru saat travelling. Dengan Traveloka Xperience, kita bisa menemukan banyak pencarian yang kita butuhkan selama travelling. Misalnya: atraksi, bioskop, event, hingga kuliner yang bisa kita cicipi. Kita juga bisa mencari seminar atau workshop yang sedang kita butuhkan bila kebetulan sedang melakukan perjalanan bisnis.

Ada ribuan pengalaman berwisata yang juga bisa kita nikmati di seluruh dunia berkat aplikasi ini. Metode pembayarannya pun bermacam-macam, jadi tidak perlu merasa ribet. Berhubung customer service mereka stand-by 24 jam, kita bakal sangat tertolong saat ingin bertanya atau membutuhkan sesuatu. Proses pemesanannya juga praktis dan tidak pakai lama.

Bahkan, lebih serunya lagi, Traveloka Xperience tersedia dalam enam pilihan bahasa. Keenam negara tersebut adalah Thailand, Filipina, Vietnam, Malaysia, Singapura, dan Australia. Makanya, pengguna dari enam negara terpilih ini tidak kesulitan untuk menikmati #XperienceSeru.

Tentu saja, kalau dihitung dengan Indonesia sendiri, produk ini ada di tujuh negara secara total. Sementara itu, keenam negara lainnya dapat melihat experience apa saja yang bisa mereka dapatkan bila berkunjung ke Indonesia.

Lalu, Apa yang Membuat Traveloka Xperience Begitu Istimewa?

“Lha, bukannya Traveloka biasanya juga sudah begitu? Lalu apa bedanya dengan Traveloka Xperience? Apa yang bikin produk ini termasuk ideal untuk #XperienceSeru?”

Wajar saja bila pertanyaan itu keluar dari mereka yang belum familiar sama produk ini. Yuk, kita ulik satu-satu hal-hal yang bikin Traveloka Xperience benar-benar layak dicoba.

  1. Ribuan #XperienceSeru Sesuai dengan Kebutuhan.

Mau nonton konser, habis itu wisata kuliner? Mau memanjakan diri di spa setelah seharian jalan-jalan atau menghadiri event? Traveloka Xperience akan mewujudkan semua keinginan tersebut, tergantung kebutuhan kita masing-masing.

  • Bebas memilih metode pembayaran.

Salah satu keribetan dari merencanakan traveling adalah masalah pembayaran. Nah, dengan Traveloka Xperience, kita bebas memilih metode pembayaran apa pun. Mau pakai kartu kredit, kartu debit, atau yang lainnya, semua bisa.

  • Pemesanannya cepat dan mudah dilakukan.

Tidak pakai lama. Dengan Traveloka Easy Access, tidak perlu mengantri lama lagi deh, di beberapa lokasi wisata.

  • Bebas dari kecemasan selama liburan.

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, customer service mereka stand by 24 jam. Kita bisa liburan dengan tenang, karena mereka selalu siap membantu bila kita membutuhkan sesuatu.

Aktifitas Seru yang Akan Saya Lakukan untuk Habiskan Waktu Dengan Traveloka Xperience

Saat liburan, biasanya saya hanya ingin bersenang-senang. Bolehlah sesekali kembali mengingat masa kanak-kanak dengan bersenang-senang di wahana permainan. Misalnya: ke Trans Studio Bandung, Jatim Park, Jogja Bay Water Park, dan masih banyak lagi. Tinggal andalkan Traveloka Easy Access dan tidak perlu lama mengantri.

Intinya, apa pun pilihan liburan Anda, Traveloka Xperience bikin Anda merasakan #XperienceSeru.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Habis Akal

Habis Akal

Habis akal

Hilang semua alasan

demi lanjutkan penindasan

Dasar sial!

Kau manfaatkan kuasa

puaskan diri injak sesama

Pelawak Berlelucon Kasar
Foto: unsplash

Omong kosong tentang moral

Terlalu sibuk dengan aib

Tak peduli yang lebih pelik

Dasar otak-otak bebal!

Hanya demi uang banyak,

congkakmu buat semua muak!

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

5 Gejala Workaholic Menurut Pengalaman Saya

5 Gejala Workaholic Menurut Pengalaman Saya

Jadi workaholic bikin bangga? Eits, nanti dulu. Justru Anda harus waspada. Menjadi seorang gila kerja bukanlah bentuk prestasi, apalagi bila sampai melelahkan diri sendiri.

Memang sih, mungkin Anda bisa menghasilkan uang lebih banyak daripada mereka yang mungkin kerjanya termasuk ‘biasa-biasa saja’. Mungkin inilah karir yang Anda cintai dan benar-benar nikmati.

Jangan-jangan, Anda sebenarnya juga takut jatuh miskin (lagi?) Mungkin Anda sudah pernah mengalaminya dan hal itu terasa begitu menakutkan. Kalau bisa sih, jangan pernah sampai kejadian lagi.

Sayangnya, kita suka lupa akan satu hal: manusia punya keterbatasan. Manusia bisa merasa lelah dan muak. Ini bukan perkara manja atau terlalu mudah dan cepat menyerah. Maunya yang serba gampangan. Ada banyak ragam faktor yang mungkin menyertainya.

Jadi, sebelum memutuskan untuk beristirahat lebih banyak dan teratur, coba cek kondisi kesehatan sendiri dulu, baik fisik maupun mental. Apakah kelima (5) ciri ini terjadi pada Anda?

  • Anda selalu kelelahan.

Ini aneh. Gak banyak gerak, tapi sering merasa capek. Makanya, yang nggak paham biasanya langsung menuduh Anda pemalas.

Pokoknya, Anda hanya mau tidur.

  • Tidur serba salah.

Saat melek, rasanya ngantuk banget – sampai-sampai sulit berkonsentrasi. Mood terganggu dan maunya merem terus.

Eh, giliran tidur malah nggak nyenyak. Ada sih, yang akhirnya malah cukup kalap tidurnya – meski dengan bonus mimpi-mimpi aneh, bahkan seram. Makanya, pas akhirnya bangun tidur lagi, badan malah lelah sekali, bukannya segar.

  • Kewaspadaan jadi berkurang.

Dua bulan lalu, saya pernah kecopetan ponsel dan dompet sekaligus dalam semalam. Bagi yang hobi victim-blaming mungkin akan dengan entengnya bilang saya ceroboh. Mungkin hal serupa belum pernah menimpa mereka.

Tenang, saya tidak akan mendoakan hal seburuk itu terjadi sama mereka, hanya untuk membuat mereka mengerti rasanya. Saya tidak perlu membuktikan apa-apa sama siapa pun. Yang saya tahu, malam itu saya juga sedang kelelahan, sehingga kewaspadaan berkurang.

  • Mudah jatuh sakit.

Ini juga sudah bukan cerita baru lagi, sih. Kebanyakan kerja, lupa jaga kondisi badan, dan sakitlah kemudian. Apalagi kalau sakitnya kebetulan sampai lama. Alamat hidupnya terganggu, deh.

Yang paling parah, sampai ada yang pernah dituduh kantornya mau diam-diam resign. Duh.

  • Intinya, jadi sangat kewalahan.

Jujur, saya sudah pernah mengalami defisit finansial yang cukup lama sehingga menjadi beban sesama. Pastinya malu hati dan nggak enak banget ya, meskipun mereka memaklumi dan (untungnya) masih mau membantu.

Namun, lagi-lagi saya juga sempat kebablasan hingga akhirnya kewalahan. Setiap kali ada tawaran kerja freelance, saya main ambil saja tanpa berpikir panjang. Inilah kebiasaan buruk yang harus segera saya hilangkan.

Begitu kecopetan dan kemudian jatuh sakit, barulah saya tersadar. Mau tidak mau saya harus mengurangi load pekerjaan saya yang sudah berlebihan biar hidup terasa lebih sehat, seimbang, dan pekerjaan terasa efektif.

Jangan menunggu sampai mengalami gejala-gejala di atas, ya. Jangan kayak saya. Usahakan hidup seimbang, meskipun sulit. Bekerja memang harus, namun jangan lupa untuk benar-benar menikmati hidup. Percuma punya uang banyak kalau buntutnya lebih banyak habis untuk berobat.

Mendingan buat traveling aja, hehehe…

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

Baru Suka, Belum Tentu Cinta

Baru Suka, Belum Tentu Cinta

Saya ingat curhatan salah seorang teman. Untuk orang yang disuka, teman cukup berani menyatakan rasa duluan. Namun, dia juga tidak mau sembarangan. Dia ingin mengecek beberapa hal penting tentang sosok yang sedang sangat disukainya, seperti: apakah dia sudah punya pasangan? Bila belum, mungkinkah dia merasakan hal yang sama juga?

Menurut saya sih, ini pendekatan cerdas. Naksir, suka, atau bahkan sampai jatuh cinta itu wajar. Namanya juga manusia. Asal jangan sampai berusaha merebut kebahagiaan orang lain juga, ya. (Nggak perlu saya jelasin di sini, pasti udah pada ngerti maksudnya.)

Namun, agar tidak terlalu banyak berharap hingga salah mengira, saya berusaha sedikit membantunya. Saya menanyakan tiga (3) pertanyaan retoris ini:

  • Yakin beneran suka, bukan kagum doang?

Ada yang mengaku naksir sampai tergila-gila dengan seseorang. Begitu kenal lebih dekat, ternyata sang pujaan hati mengecewakan. Hmm, langsung ilfil, deh.

  • Siap dengan reaksi si dia?

Nggak hanya diterima, ditolak juga bagian dari risiko. Siap ditolak, nggak? Apa Anda masih akan berharap suatu saat si dia akan berubah pikiran dan memberi Anda kesempatan? Apakah Anda bisa menghargai jawaban atau keputusan mereka untuk tidak menerima cinta Anda – serta tidak berubah menjadi orang menjengkelkan hanya karena sakit hati?

  • Apakah masih mau berteman dengannya setelah ditolak?

Cinta ditolak, dukun bertindak? Ih, ngapain juga, sih? Selain dosa, cintanya juga jadi palsu karena dipelet doang. Lain cerita kalau sudah menolak cinta, si dia jadi ilfil dan malas berteman dengan Anda lagi. Berarti dia tidak sebaik yang dikira selama ini. Bersyukurlah Tuhan menunjukkan kenyataan ini sedini mungkin.

Kalau si dia tidak merasakan hal yang sama, ‘kan masih bisa menolak baik-baik. Selama Anda tidak mendadak berubah menjadi psikopat menakutkan dan memaksa si dia menerima cinta Anda, kalian masih bisa kok, tetap berteman.

Makanya, saya menyarankan teman saya untuk berusaha mengenal sosok yang disukainya dulu dengan lebih dalam. Soalnya ada beda antara beneran suka dengan kagum saja.

Perspektif Naksir versus Cinta

Tambah usia, biasanya beda pula perspektif kita akan cinta. Lebih baik / realistis / kaya / bijak? Pastinya tergantung pengalaman masing-masing.

Jangan pernah menganggap cinta adalah segala-galanya. Hati manusia mudah berubah. Cerita dongeng hanya hiburan sesaat. Bolehlah berharap, tapi…

…jangan lupa, persiapkan rencana cadangan. Tahu sendiri ‘kan, kalau hidup ini penuh kejutan?

Mungkin karena inilah sekarang saya enggan terlalu berharap pada cinta sesama manusia. Boleh punya perasaan suka, asal tidak berlebihan. Biasa saja.

Lagipula, sesungguhnya perasaan suka itu juga belum tentu selalu akan berubah menjadi cinta. Bisa jadi baru kekaguman belaka, karena sesungguhnya cinta jauh lebih dalam daripada itu. Cinta adalah saat kekurangan pun tidak menyurutkan keinginan untuk tetap bersama, sekaligus tetap berusaha memperbaiki diri masing-masing setiap harinya…

R.