Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Lepas

Lepas

Ada yang harus dilepas bila terlalu lelah

seperti tangan anak-anak penuh mainan

namun enggan membaginya ke sesama

hingga semuanya berjatuhan

Namun hati masih bimbang

Terlalu banyak rasa sayang

meski sedikit waktu luang

untuk adil berbagi rata

alih-alih kewalahan…

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

14+ Hari Hidup Tanpa Ponsel

14+ Hari Hidup Tanpa Ponsel

Ini bukan eksperimen alias nggak sengaja. Sekitar satu setengah bulan lalu, saya kecopetan di halte/shelter bus Trans-Jakarta pada malam hari. Dompet dan ponsel raib dalam sekejap. Makanya, saya sempat mengalami yang namanya 14+ hari hidup tanpa ponsel. Seperti inilah rasanya:

  • Bingung.

Biasanya pegang ponsel, begitu kecopetan enggak. Pastinya bingung. Mau menelepon nggak bisa, mau setel alarm pun nggak mungkin juga…

  • Dianggap kayak ‘anak hilang’.

“Gue nelpon lo gak diangkat-angkat.”

“WA-ku kok nggak dibales-bales, sih? Nomormu masih yang sama, ‘kan?”

“Lu ke mane aje, sih? Dihubungi susah beut!”

Dikira menghindar, disangka anak hilang. Padahal ponselnya doang yang hilang gara-gara kecopetan.

  • Lumayan bisa ‘menghilang’ sesaat.

Hehe, lama-lama enak juga hidup sesaat tanpa ponsel. Tidur lebih nyenyak, bebas gangguan pesan. Bahkan, bebas juga gangguan pesan dari grup Whatsapp yang kadang bisa rame di jam-jam tidur…ups!

  • Jadi agak malas pergi jauh sendirian.

Yah, mau nggak mau masih ada rasa nggak aman yang tersisa. Apalagi kalo perginya sampai larut malam. Berhubung juga nggak bisa pake aplikasi ojek online gara-gara waktu itu belum ada ponsel (lagi), akhirnya lebih sering merepotkan teman dan orang lain. (Maaf, ya.)

Kalo lagi nggak ada yang bisa direpotin, alamat balik ngandelin Trans-Jakarta, taksi, hingga opang (ojek pangkalan). Akhirnya juga lebih banyak di rumah kalo lagi nggak perlu-perlu pergi amat.

  • Bisa tahu mereka yang beneran peduli.

Mungkin terdengar klise dan melankolis, tapi memang benar adanya. Biarin aja ada yang mau nyebut saya baperan. (Kesannya, punya perasaan dan jadi manusia biasa itu sebuah kelemahan bagi yang hobi komentar gitu ke sesama.)

Musibah dapat menunjukkan mana orang-orang yang beneran peduli sama kita. Nggak perlu sampai langsung berbaik hati mengganti ponsel kita (ngarep!), mendoakan yang terbaik saja sudah cukup. Serius. Mereka juga tidak mengganggu saya dengan banyak pertanyaan atau komentar bernada menyalahkan. Tahu sendiri ‘kan, beda sama ‘netizen maha benar’?

Menurut mereka, Anda pasti ceroboh kalau sampai kena musibah. Ada juga yang menduga Anda ‘kurang beramal’ atau bahkan ‘kurang beriman’. Hebat ya, kualitas keimanan seseorang langsung bisa diukur hanya dari musibah yang menimpa mereka?

Ah, sudahlah. Yang penting kini saya sudah punya ponsel. (Hmm, lebih tepatnya sih, Galaxy Tab.) Saya juga berhasil menyelamatkan nomor ponsel lama saya.

Terima kasih kepada berbagai pihak – baik teman maupun keluarga – yang telah menolong dan menyemangati saya saat musibah kemarin. Bagi yang menyalahkan dan menuduh saya ceroboh, saya hanya berdoa semoga musibah yang sama takkan pernah menimpa kalian.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Negeri Ini Butuh Puisi

Negeri Ini Butuh Puisi

Negeri ini butuh puisi

bukan puja-puji

kosong tanpa arti

retorika tanpa isi

yang di telinga jadi polusi

Negeri ini butuh puisi

bukan saling cela sana-sini

seakan merasa paling tinggi

apalagi paling suci

Yang ada malah saling benci

Negeri ini lebih butuh puisi

Kenapa, sih?

Kata mereka, puisi ibarat roman picisan sekali

Anggapan picik dari miskinnya budaya di hati

Bikin emosi

Negeri ini butuh puisi

Bukan polusi

Bukan pula caci-maki

Mungkin, tidak perlu ada yang luka atau mati

hanya gara-gara kalah bela negeri

Nonton olahraga bawa ego, alih-alih kesadaran diri

Kok tidak malu, sih?

Kapan sadarnya, nih?

Negeri ini sangat butuh puisi

Siapa tahu bisa damai

sungguhan, bukan lewat intimidasi

bebas dari ancaman, bebas berekspresi

Soalnya kalau masih begini,

jadinya makin sedih.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

“MALAM PUISI JAKARTA: Tentang Negeri yang Butuh Puisi”

“MALAM PUISI JAKARTA: Tentang Negeri yang Butuh Puisi”

Apa yang tengah dibutuhkan negeri ini akhir-akhir ini? Di media sosial, mungkin sudah banyak yang berspekulasi. Mungkin ada juga yang memutuskan untuk tetap nyinyir setengah mati. Ada yang hidup dengan apatisme tingkat tinggi, namun yang optimis juga masih banyak sekali.

Namun, sesekali luangkanlah waktu di malam Minggu. Lebih tepatnya, di Kaffeine Kline, Warung Buncit, Jakarta Selatan. Di sanalah Malam Puisi Jakarta selalu berkumpul. Kami bercengkerama, bergantian membacakan puisi atau sajak suka-suka. Mengapa suka-suka? Bisa milik sendiri, bisa karya pujangga yang sudah punya nama.

Bisa juga, karya dalam Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, maupun Bahasa Daerah atau Bahasa Asing lainnya. (Tentu saja, kecuali Bahasa Indonesia dan Inggris, mohon dibantu dari segi penerjemahannya, ya.) Yang penting, sama-sama bebas berekspresi dengan puisi.

Seperti yang kami lakukan pada hari Sabtu (7 September 2019) kemarin di sana. Dimulai sekitar pukul delapan malam, Malam Puisi Jakarta diawali dengan perkenalan dan pembacaan puisi oleh moderator malam itu, Al Muhtadi. Kemudian dilanjutkan dengan Rara Iswahyudi yang juga penggerak Malam Puisi Depok.

Sesudahnya, suasana mulai menghangat. Ada Budi Winawan yang berpuisi tentang pola, Mas Wahyu yang berpuisi tentang perjuangan lewat aroma semerbak kopi Sumatra. Tak ketinggalan Jeje, Melda, dan Lily yang rajin mengisi panggung Malam Puisi. Pokoknya, semakin banyak yang bersemangat untuk tampil berekspresi.

Ada juga Fahdiar yang membacakan puisi sesuai tema malam itu, “Negeri Ini Butuh Puisi”. Mas Dimas membacakan salah satu puisi karya Gus Mus, “Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana?” Sarita juga membacakan puisi karya sendiri tentang kota yang sebentar lagi tidak istimewa. (Tahu ‘kan, yang mana?)

Namun, malam itu Malam Puisi Jakarta kedatangan tamu istimewa. Nenek Siti Hajar yang berusia 70 tahun tidak mau kalah sama yang muda-muda. Dengan semangat membara, beliau membacakan puisi untuk Presiden Joko Widodo. Waaah, keren banget, deh! Sayang buat kalian yang ketinggalan.

Tapi, jangan khawatir, kok. Malam Puisi Jakarta masih akan ada setiap bulan, di tempat yang sama. Tunggu saja jadwal berikutnya. Cek terus kami di Twitter atau Instagram.

Sampai jumpa bulan depan. Teruslah warnai negeri dengan indahnya puisi. Sayang sekali kalau damai di hati rusak oleh benci dan caci-maki.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Bising

Bising

Ada bising yang tak terkendali

Suara mesin, lalu lintas, hingga tangisan bayi

Cukup kita yang menahan diri

hingga suasana tidak makin ramai.

Ada bising yang mungkin disukai

Suara party, konser musik terkini,

hingga pikiran diri sendiri

Selamat menikmati

meskipun yang lain belum tentu sehati

Ada bising yang tak tertahankan lagi

Ejekan para bully, tukang keluh tanpa henti

yang maunya selalu dimengerti

Ingin mereka pergi?

Banyak cara membuat mereka diam

Dari yang ringan

sampai yang kejam

Bijaklah saat menentukan pilihan…

Semoga tidak bising lagi

Semoga ada kedamaian sunyi

meski sesaat di hati…

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #tips

3 Tips Hadapi Pelaku Bodyshaming di Kantor

3 Tips Hadapi Pelaku Bodyshaming di Kantor

Sudah lama sekali saya merasa muak. Ya, saya sudah muak sekali dengan kebiasaan orang Indonesia yang satu ini: kalau basa-basi atau bercanda, bawaannya usil mengomentari fisik. Memang sih, nggak semua orang Indonesia kayak begini. (Please, nggak perlu juga mengingatkan saya dengan tagar #notallIndonesians. Kayak apaan aja, gitu.)

Sayangnya, yang model begini sudah banyak, paling kelihatan, dan berisik pula. Mendadak rasanya kayak balik ke zaman sekolah, padahal sudah sama-sama dewasa. Nggak lucu banget, ‘kan? Apalagi, mereka hobi banget asal mangap, lalu pakai alasan klasik sejagat:

“Cuma bercanda.”

Meskipun beralasan demikian, sebenarnya kita berhak kok, merasa tersinggung dengan ucapan mereka. Namun, biasanya mereka akan berusaha membela diri dengan menyebut kita baperan. Biasa banget, ‘kan?

Tenang, banyak cara untuk membungkam mereka, tanpa perlu memaki-maki. Tapi, saat ini saya baru kepikiran tiga (3) berdasarkan pengalaman sendiri, yaitu:

  • Tantang saja mereka dengan makan seperti biasa.

Sebenarnya, rekan kerja semcam ini hanya caper (cari perhatian), biar dianggap ada. Sayang, caranya nggak banget. Contoh: pas acara makan-makan di kantor. Rekan kerja lelaki ini menghampiri saya yang baru saja hendak menyuapkan sesuatu ke dalam mulut. Komentarnya:

“Cewek makannya nggak boleh banyak-banyak.”

Yang saya lakukan hanya ini:

Saya: “Oh, ya? Kata siapa?”

Dia: “Kata gue.”

Saya: “Oh, gitu yah?”

Lalu…saya tetap menyantap makanan seperti biasa dan tidak mempedulikan mereka. Kalau masih berisik juga, tinggal sumpal telinga sendiri dengan headset. Masih lebih mending dengerin musik metal ketimbang suara mereka. Ya, nggak?

  • Balas dengan elegan.

Kayak anak kecil banget, yah? Tapi, mau gimana lagi? Nggak semua orang se-dewasa yang mereka kira.

Mungkin mereka pikir mereka lucu. Misalnya: Anda lagi enak-enak makan kerupuk. Sebungkus nggak mungkin habis untuk sendirilah. Anda sudah halo-halo ke satu ruangan, mengizinkan mereka untuk datang dan tinggal ambil kerupuknya juga kalau pada mau.

Ehh…ujug-ujug mahluk yang satu ini menghampiri, lalu mulai bertanya-tanya soal kapan terakhir kali saya olahraga. (Memangnya kenapa saya harus menjelaskan soal itu sama dia?) Mulai dari nanya-nanyain jenis olahraga, frekuensi berolahraga, sampai menasihati mengenai yang boleh dan tidak boleh saya makan. Astaga, memangnya saya anak kecil, yah?

Buntutnya, orang ini malah mau minta kerupuknya. Konyol banget, ‘kan? Kenapa nggak dari awal aja ngomong baik-baik, ketimbang acara nyindir berat badan segala? Itulah yang kemudian saya katakan langsung padanya:

“Kalo mau minta, ya tinggal minta aja. Nggak usah pake basa-basi soal berat badan segala!”

Kalau orang macam ini kesal dengan respon seperti itu, biar saja. Siapa juga yang cari gara-gara duluan?

  • Diamkan saja – atau beri tatapan dingin nan tajam.

Kadang cara ini jauh lebih efektif daripada sekadar marah-marah. Saat mereka mulai iseng mencari gara-gara dengan Anda, pura-pura saja tidak dengar. Anggaplah mereka tidak beda dengan anak kecil yang sedang mencari perhatian gara-gara bosan.

Kalau mereka masih juga berisik, cukup pelototi mereka. Bahkan, kalau sudah kelewatan, bilang saja begini: “Mending ngebahas pekerjaan deh, daripada berat badan gue yang sama sekali nggak ada hubungannya!”

Memang sayang, nggak semua orang bisa benar-benar bersikap dewasa. Tapi, Anda juga nggak perlu ikut-ikutan mereka dengan bersikap kekanak-kanakan. Justru, cukup tunjukkan Anda bisa tetap elegan. Bodo amat dibilang galak.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Ramai

Ramai

Taman digital

Banyak pameran

Dari yang penting sampai remeh

Namun yang terakhir yang paling diperhatikan

Dari yang genting hingga receh

Banyak yang getir, hingga tumpahkan

1001 makian

Eh, mungkin lebih kali, ya?

Taman digital

Tempat orang suka-suka

Dari mahluk sosial hingga yang sok sial

Kamu yang mana?

Bila lelah,

apalagi sampai muak luar biasa,

keluarlah.

Toh, taman digital juga tak ke mana…

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

Botika: Chatbot untuk Customer Service

Botika: Chatbot untuk Customer Service

Saya pernah membaca sebuah artikel online tentang hal ini. (Sayang, saya lupa judul maupun tautan artikel tersebut.) Singkat cerita, salah satu kampus online di Amerika Serikat mempunyai seorang pegawai customer service andalan bernama Jill (atau Tracy, ya? Ah, saya lupa. Maaf, ya.) Jill menjawab semua pertanyaan yang masuk di kolom online dengan sigap.

Saking ramah dan sigapnya, sampai banyak yang terkecoh. Para mahasiswa (dan mungkin juga orang tua mahasiswa) sama sekali tidak menyangka bahwa sebenarnya mereka tengah berbicara dengan chatbot, alih-alih orang sungguhan.

Sekilas Tentang Chatbot

Fitur ini sudah mulai banyak digunakan berbagai perusahaan, terutama yang berbasis teknologi digital. Chatbot adalah tokoh atau karakter virtual yang dibuat menyerupai manusia semirip mungkin, dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan atau AI (artificial intelligence.) Bot sendiri juga singkatan dari internet robot.

Bagaimana cara membuat chatbot terdengar mirip dengan manusia sungguhan dan dapat menjawab pertanyaan dengan tepat sekaligus natural? Semuanya ada pada kata kunci (keyword). Lewat sistem pengoperasian yang membantu mendeteksi jawaban yang sesuai keyword yang diprogram, chatbot dapat menjawab pertanyaan dan terdengar seperti manusia normal yang mengobrol dengan Anda.

Nah, untuk mendukung chatbot agar dapat menjawab dengan cepat dan tepat, ada aplikasi pendukung lain. Ada yang namanya Machine Learning, Deep Learning, hingga NLP atau Natural Language Processing.

Lalu, bagaimana dengan masa depan dari customer service berbasis manusia?

Kelebihan dan Kekurangan Menggunakan Chatbot untuk Customer Service

Sekilas, ide menggunakan karakter virtual berupa AI terdengar fantastis. Apalagi, tenaga manusia ada batasnya. Mustahil memaksa mereka untuk terus online selama 24 jam nonstop. Yang ada mereka malah kelelahan.

Inilah tiga (3) kelebihan menggunakan chatbot untuk customer service:

  1. Bisa stand-by 24 jam.

Nah, ini yang paling penting. Apalagi, era digital menaikkan ekspektasi pelanggan pada perusahaan. Harapan mereka, harusnya bagian customer service bisa melayani mereka kapan saja secara online. Padahal, manusia punya keterbatasan. Tidak hanya dari segi jam kerja, tapi juga rentan mengalami kelelahan mental.

  • Lebih cepat berinteraksi dengan pelanggan.

Jawaban dari chatbot biasanya langsung ringkas, jelas, dan tanpa bertele-tele. Makanya, pelanggan yang membutuhkan kepastian cepat senang dengan respon seperti ini.

  • Memangkas anggaran untuk menggaji SDM dan lebih efisien.

Untuk slot 24 jam, setidaknya perusahaan harus menggaji minimal tiga hingga empat orang untuk posisi online customer service. Sudah begitu, bisa jadi mereka kurang bisa bekerja dengan maksimal saat sakit atau ada masalah lain. Ini berbeda dengan penggunaan chatbot yang lebih efisien. Pekerjaan lancar, semua tanya terjawab, dan minim drama. Beda sama manusia.

Namun, penggunaan chatbot ternyata juga ada kekurangannya, lho. Dua (2) kekurangannya adalah:

  1. Mematikan bisnis customer service berbasis manusia.

Lalu, bagaimana dengan masa depan dari customer service berbasis manusia? Banyak yang khawatir dengan hal ini. Dengan efisiensi chatbot, bisnis customer service berbasis manusia akan terancam mati. Apalagi, pelanggan yang ingin jawaban cepat kadang lupa bahwa petugas customer service yang mereka hadapi juga bisa lelah dan tidak selalu sigap menjawab.

Namun, benarkah selalu demikian?

  • Tidak semua keluhan dapat dijawab.

Tidak hanya berbagai pertanyaan terkait perusahaan, keluhan pelanggan juga wajib ditangani oleh customer service. Sayangnya, keluhan yang pasti beragam belum tentu dapat ditangani lewat chatbot saja.

Peran Botika dalam Customer Service Berbasis Digital

Lalu, di mana peran Botika dalam customer service berbasis digital? Produk Botika yang mudah digunakan, hemat biaya, hingga membantu merespon pelanggan lebih cepat merupakan keuntungan bagi perusahaan mana pun. Bahkan, secara otomatis chatbot merekam semua interaksi dengan pelanggan atau customer engagement. Semua yang direkam ini kemudian dapat dijadikan data analysis.

Meskipun lebih efisien daripada tenaga manusia, sebenarnya perusahaan tidak perlu selalu menggunakan chatbot secara total. Misalnya: chatbot hanya diaktifkan di luar jam kerja (9-to-5), sementara saat jam kerja masih menggunakan tenaga manusia di bagian customer service.

Jadi, sesungguhnya tidak perlu terlalu khawatir akan nasib customer service berbasis manusia. Semua bisa diatur secara beriringan bila mau. Seharusnya teknologi hadir untuk mendukung, tanpa harus secara total menggantikan fungsi manusia itu sendiri.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Belum Berakhir

Belum Berakhir

Perjuanganmu belum berakhir, kawan.

Aku tahu, kau lelah dan muak.

Masih banyak yang harus kau lawan:

Mimpi buruk dan ketidakpastian.

Hantu masa lalu yang masih mengerikan.

Mereka yang tidak pedulian.

Perasaan terlantar, tak berdaya,

hingga ingin menyerah,

namun kutahu kau tak mudah kalah

meski wajar bila ingin marah.

Perjuanganmu belum berakhir,

meski merasa makin tersingkir

oleh realita yang membuat getir.

Jangan berhenti.

Percayalah Kasih Ilahi.

Berkat-Nya,

kau masih di sini,

berjuang dengan berani

melawan ketidakadilan ini.

Sesungguhnya,

kau adalah inspirasi.

R.

Categories
#catatan-harian #lomba #menulis

VivoBook Ultra A412DA: Pagi Buat Ngantor, Malam Buat Gaming

VivoBook Ultra A412DA: Pagi Buat Ngantor, Malam Buat Gaming

Sebagai blogger, rasanya sudah tidak mungkin hidup tanpa laptop, ya. Meskipun kini sudah ada yang namanya ponsel pintar atau tablet, rasanya tetap lebih nyaman bikin blog pakai laptop. Selain kapasitas lebih besar, spec-nya juga lebih mumpuni daripada ponsel maupun tablet. Intinya, laptop adalah senjata andalan para pekerja digital.

Salah satu laptop andalan pekerja digital adalah ASUS. Sekarang, ASUS sudah punya tipe VivoBook paling ringkas, lho. Namanya VivoBook Ultra A412DA. Pekerja digital yang lagi berburu laptop baru, laptop ASUS ini boleh dicek dulu, deh. Tampilannya yang berwarna-warni alias colourful dan juga stylish pasti bikin kalian tertarik, deh.

Sebgai blogger yang juga mobile, pastinya saya juga ingin laptop yang ringan dan ringkas untuk dibawa ke mana-mana. Meskipun bukan termasuk travel blogger, ‘kan ada kalanya saya harus bekerja dan berpindah-pindah tempat. Selain sebagai pekerja purnawaktu di sebuah perusahaan media, saya juga berkerja sebagai freelancer.

Foto: https://channel.asus.com/ExternalFile.aspx?path=a011bfa3e181490aa60f1419c70367ab

Sekilas Tentang ASUS VivoBook Ultra A412DA

Jujur, kadang rasanya agak berat membawa laptop jadul yang masih tebal. Meskipun ranselnya berbahan kuat, ada kalanya punggung terasa pegal. Apalagi kalau laptopnya diletakkan di dalam tas selempang (itu tuh, yang model postman’s bag) dan bahkan tas jinjing. Kalau tas selempang alamat bikin bahu pegal, tas jinjing bikin tangan kebas.

Hmm, enaknya gimana, yah?

VivoBook Ultra A412DA menjawab semua masalah di atas. Berhubung lebih tipis, ringan, dan ringkas, nggak ada lagi cerita pegal-pegal hingga jari tangan kebas. Mau ditaruh di dalam ransel, tas selempang, atau tas jinjing, sama saja. Berat tak usah dipikul, ringan tinggal jinjing sendiri, hehehe… (Joke-nya maksa, yah?)

Gimana nggak ringan, wong layarnya juga tipis banget, hanya 14 inci. Beratnya pun hanya 1,5 kg. Terus, fitur Windows 10-nya punya fitur keamanan bernama Windows Hello. Fitur ini punya tiga (3) varian warna, yaitu:

  • Transparent silver.
  • Slate grey.
  • Peacock blue.

Nggak heran ‘kan, kalo VivoBook A412DA ini disebut juga sebagai “The World’s Smallest, 14-Inch Colourful Notebook”?

Foto: https://channel.asus.com/ExternalFile.aspx?path=a011bfa3e181490aa60f1419c70367ab

Yang Butuh ASUS VivoBook Ultra A412DA

Pastinya saya dong, hehehe. ‘Kan sudah saya bilang dari awal. Tapi, selain pekerja digital seperti saya, banyak yang butuh laptop keren dan ringkas seperti ini, misalnya:

  • Mahasiswa yang nggak hanya buat ngerjain tugas, cari bahan kuliah online, sampai gaming juga.
  • Travel blogger (pastinya, berhubung termasuk bagian dari pekerja digital).
  • Ortu yang rela mendapatkan laptop ini untuk kebutuhan sekolah anak mereka.

Anda masuk kategori mana?

Kekuatan ASUS VivoBook Ultra A412DA

Apa lagi sih, yang bikin laptop keluaran ASUS ini layak buat diperjuangkan? Kekuatannya ada pada prosesor AMD Ryzen Mobile Second Generation. Dengan prosesor ini, mau kamu lagi ngerjain tugas atau santai sambil gaming, VivoBook ini tangguh banget. Performanya terbukti 48 persen lebih gesit daripada laptop lain yang berumur tiga tahun lebih tua.

Adanya fitur power-saving pada AMD SenseMI membuat penggunaan baterai laptop ini lebih efisien. Tidak boros dan bisa digunakan lebih lama tanpa harus mengandalkan kabel ke colokan listrik terdekat. Kerja jadi lebih anteng, apalagi saat gaming.

Ngomong-ngomong soal gaming, pada suka online game apa, sih? DOTA 2, League of Legends, CS:GO, atau yang lain? Saya sih, bukan seorang gamer. Tapi kalau nggak mau terlalu ribeut punya dua laptop (satu untuk ngantor/kuliah dan satu untuk hobi), mendingan pakai ASUS VivoBook Ultra A412DA saja.

R.