Corong di Kepala, Jari-jemari Berkelana
Tolong copot corong itu dari kepala.
Terlalu bising suara.
Lumpuhkan jari-jemari
agar tak kelewat liar berkelana.
Aku?
Tak ada waktu,
tapi sudah tahu
bila sesuatu buntu…
R.
Tolong copot corong itu dari kepala.
Terlalu bising suara.
Lumpuhkan jari-jemari
agar tak kelewat liar berkelana.
Aku?
Tak ada waktu,
tapi sudah tahu
bila sesuatu buntu…
R.
Apa yang ada di benak Anda saat mendengar kata ‘asuransi jiwa’? Dulu, seorang kawan lama pernah menganggapnya biasa saja. Katanya, optimis saja. Kalau memang nanti ternyata sudah saatnya mati, ya sudah. Tidak perlu memikirkan apa-apa lagi. Lagipula, tabungan asuransi belum tentu bisa diambil dengan sesuka hati kalau ada situasi darurat.
2 Peristiwa yang Mengubah Pandangan Saya Tentang Asuransi:
Terlepas dari anggapan kawan lama yang tampaknya lebih banyak tidak peduli, saya tidak setuju. Saya justru punya pengalaman bagus mengenai asuransi. Dari dua pengalaman inilah, saya semakin merasakan pentingnya asuransi jiwa untuk perlindungan masa depan:
Saya kurang ingat persisnya seperti apa. Yang saya ingat hanya cerita ibu kalau saat almarhum ayah dulu terserang stroke untuk pertama kalinya, simpanan asuransi membantu untuk biaya kesehatan. Selain itu, anak-anaknya juga sempat tertolong secara finansial dari limpahan asuransi beliau dulu.
Ada satu masa di mana saya pernah sempat kehilangan pekerjaan. Sembari mencari pekerjaan berikutnya, saya sempat meminta sedikit tabungan asuransi saya dicairkan. Untunglah, tabungan tersebut cukup menyokong saya selama dua bulan hidup sendirian, sebelum akhirnya saya mendapatkan pekerjaan baru lagi.
Sejak dua kejadian tersebut, saya memutuskan untuk lebih mempercayakan investasi saya pada asuransi. Bagi orang awam, asuransi biasanya lebih terfokus pada kesehatan, bahkan terkait kematian. Padahal, banyak hal yang bisa dipelajari dari dunia asuransi.
Sekilas Tentang Asuransi
Dilansir dari Jurnal Ekonomi, Dr. H. Hamzah Ya’cub dalam bukunya yang berjudul “Kode Etik Dagang Menurut Islam”, asuransi berasal dari insurance atau assurance – dua kata dalam bahasa Inggris yang berarti ‘jaminan’. Pasal 246 Kitab Undang-undang Hukum Dagang (KUHD) juga menyebutkan bahwa asuransi adalah:
“Suatu perjanjian, dengan mana seorang penanggung mengikatkan diri kepada seorang tertanggung dengan suatu premi untuk memberikan penggantian kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, yang mungkin akan dideritanya karena suatu peristiwa yang tak tertentu.”
Jenis-jenis Asuransi Secara Umum
Jenis-jenis asuransi secara umum adalah:
Asuransi jenis ini memberikan keuntungan finansial pada yang tertanggung atas kematian pengaju asuransi. Tergantung penyedia asuransi, ada yang baru bisa dibayarkan sesudah kematian atau menjadi dana menjelang kematian si pengaju asuransi.
Asuransi jenis ini cukup dikenal di Indonesia. Produk asuransi ini menangani masalah kesehatan pihak tertanggung karena suatu penyakit dan biaya proses perawatan yang dibutuhkan. Umumnya, yang ditanggung terkait dengan cacat, cedera, sakit, hingga kematian karena kecelakaan.
Asuransi jenis ini banyak digunakan oleh orang tua, terutama yang menginginkan masa depan terbaik bagi anak. Nominal biaya pendidikan yang bisa di-cover lewat asuransi jenis ini berbeda-beda, tergantung tingkatan pendidikan.
Ketiga jenis asuransi di atas termasuk yang paling banyak digunakan. Masih banyak juga jenis-jenis asuransi lain, seperti: asuransi kendaraan, asuransi kepemilikan rumah dan properti, asuransi bisnis, asuransi kredit, asuransi kelautan, dan asuransi perjalanan yang sangat membantu saat traveling.
Berhubung tidak semua orang punya kendaraan, rumah dan properti, atau bisnis, asuransi jiwa, kesehatan, dan pendidikan-lah yang paling banyak peminat. Asuransi perjalanan juga banyak dipakai mereka yang suka dan memang sering traveling, apalagi yang harus ke luar negeri dalam waktu lama. Tapi Anda yang hanya sesekali traveling sebenarnya tetap perlu juga, lho.
Tentang Asuransi di Sequis Life
Sequis Life (atau PT. Asuransi Jiwa Sequis Life) sudah berkontribusi dalam bidang asuransi di Indonesia sejak 1984. Jenis-jenis asuransi yang ditawarkan oleh Sequis Life termasuk:
Setiap orang bisa mendapatkan produk asuransi Sequis Life sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing. Mulai dari yang umum hingga yang paling spesifik, semua ada di Sequis Life. Praktis, Anda bisa menggunakan beragam produk asuransi Sequis Life yang pas dan lengkap untuk seluruh keluarga.
Asuransi Jiwa Sequis Life
Contohnya: asuransi jiwa Sequis. Dengan tagline “WHOLE LIFE”, Sequis Life menawarkan ragam produk asuransi yang cocok untuk diri sendiri maupun keluarga, seperti:
Sesuai dengan namanya, produk asuransi ini punya masa pertanggungan hingga 100 tahun. (Memang tidak semua orang dapat hidup selama itu, tapi siapa tahu?) Selain bisa dikombinasikan dengan asuransi tambahan, banyak fasilitas tambahan yang juga bisa dimanfaatkan.
Dengan usia masuk 1 hingga 50 tahun, produk asuransi ini juga punya masa pertanggungan hingga 100 tahun. Masa pembayaran premi bisa dipilih: mau yang per sepuluh tahun atau 20 tahun?
Untuk produk asuransi ini, masa pembayaran premi mulai dari sepuluh tahun – dengan uang pertanggungan hingga 250 juta rupiah. Preminya pun bisa murah, yaitu mulai dari Rp2.500 per hari.
Produk asuransi ini termasuk yang paling menguntungkan. Selain perlindungan jiwa hingga 100 tahun, Anda bisa mendapatkan premi tetap dan menentukan masa pembayaran sendiri. Manfaatnya bila Anda meninggal dunia adalah 100 persen. Jadi, keluarga yang Anda tinggalkan dapat terlindungi secara finansial berkat asuransi ini.
Fasilitas Baru Transaksi Asuransi Jiwa Sequis Life
Sejak 2016, Sequis Life sudah menyediakan dua (2) fasilitas baru untuk transaksi asuransi jiwa mereka, yaitu:
Sekarang memang sudah bukan zamannya lagi bawa-bawa duit segepok ke mana-mana, meskipun dalam rangka situasi darurat. Selain berbahaya, Anda jadi kerepotan sendiri menghitung ulang semuanya begitu sampai di tempat pembayaran.
Sequis Life sekarang sudah punya kartu cashless, lho. Dengan kartu asuransi khusus ini, Anda bisa langsung transaksi secara digital untuk biaya perawatan di RS. Dengan menunjukkan kartu ini saat mendaftar untuk perawatan di RS, Anda bisa langsung menikmati layanan berupa cashless health treatment.
Fasilitas e-claim resmi diluncurkan oleh Sequis Life pada 11 Januari 2016. Dengan fasilitas ini, Anda dapat mengajukan klaim asuransi secara digital, baik lewat email, WhatsApp, maupun LINE. Cukup kirim foto dokumen klaim melalui WhatsApp atau LINE dengan nomor (62-0821)10002929 atau eclaim@sequislife.com .
Tentu saja, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Selain pemegang polis atau agen pemegang polis, pihak lain harus mendapatkan izin pemegang polis untuk mengajukan e-claim. Jika eclaim diajukan sebelum pukul 14:00 WIB, maka Anda akan mendapatkan keputusan klaim pada hari itu juga.
Namun, jika diajukan di atas pukul 14:00 WIB atau saat hari libur, keputusan klaim baru akan keluar H+1 hari kerja berikutnya.
Banyak pilihan asuransi yang dapat diambil untuk kesejahteraan Anda. Sequis Life menawarkan ragam produk yang memadai dan menjanjikan.
R.
Hanya singkatnya gambaran
yang kau rasa perlukan.
Tak perlu cerita lengkap
atau kau akan tergagap.
Percaya untuk memilih
atau sebaliknya,
memilih untuk percaya?
Tak perlu sedih
akan terlalu banyaknya angkara.
Sebelah mata.
Satu telinga.
Percuma bicara
bila bantahan yang akan selalu ada
meskipun sulit diterima.
R.
“Pada 30 Juli, sekitar jam 8:00 malam di halte Trans-Jakarta Karet-Kuningan, Jakarta Selatan, ada yang berani membuka ritsleting tas ransel gw dan mengambil telepon serta dompet gw. Gw baru sadar sekitar 30 menit kemudian. Nomor telepon gw adalah **-***********.
Kayaknya udah gak mungkin lagi bisa dapet itu dompet sama hape kembali. Jadi gw akan melakukan banyak tindakan prioritas besok, dari mengunjungi kantor polisi ke bank ke posko Trans-Jakarta dengan surat perintah polisi untuk izin menonton rekaman cctv mereka.
Siapa pun yang memiliki dompet dan telepon gw sekarang, bersyukur lo gak perlu berhadapan sama gw.”
Baiklah, saya tahu saya terdengar menakutkan ketika memposting itu di media sosial. Saya kira banyak orang sudah bisa tahu betapa takutnya saya ketika itu terjadi.
Sekadar info, ini adalah ketiga kalinya saya dicopet. Percayalah, ini bukan karena kecerobohan murni saya. Jakarta kejam dalam banyak hal. Singkatnya, izinkan saya menceritakan dua insiden serupa lainnya:
1. Di mal.
Pertama kali saya dicopet adalah di salah satu mal di Jakarta Selatan, sekitar satu dekade yang lalu. (Ya, bisa ketebak usia saya sekarang!) Malam itu dengan Ma, saya mencari sepasang sepatu baru.
Modusnya sama: seseorang menyelinap di belakang, membuka ritsleting tas kecil saya, dan kemudian mengeluarkan dompet saya. Syukurlah, ponsel lama saya sangat kecil dan tepat di bagian bawah tas di dalamnya. Aman, deh.
Tentu saja, saya tidak pernah mendapatkan dompet itu kembali. Saya sangat sedih hari itu, karena itu dompet yang keren banget (dengan gambar-gambar kucing di atasnya) hadiah dari kakak untuk ulang tahun saya. Plus, saya kehilangan foto teman-teman dan saya.
Apa yang paling bikin jengkel? Petugas polisi di kantor polisi dekat dengan rumah waktu itu meminta Rp10.000 (sebagai bagian dari biaya admin) untuknya mengetikkan laporan dompet saya yang hilang. Saya ingat bengong sebelum menjawab: “Pak, saya kehilangan dompet saya. Saya tidak punya uang. ”
Sayangnya, dia tidak peduli. Saya akhirnya menyerahkan kepadanya uang dari Ma … tentu saja dengan cemberut. Benar-benar melindungi dan melayani, ya?
2. Di bus, beberapa tahun kemudian.
Saya lupa tahun berapa, tetapi itu terjadi ketika saya berada di bus – dalam perjalanan ke tempat kerja. Merasa lelah karena kurang tidur, saya tertidur.
Sudah bisa ditebak yang terjadi setelah itu. Saya bangun dan menemukan ritsleting tas saya terbuka … dan dompet saya hilang. Untung bukan ponsel saya. Saya menyimpannya di suatu tempat di kantong bagian dalam tas.
Tetap saja, itu sangat menjengkelkan.
Untungnya, kali ini petugas polisi lebih ramah dan lebih simpatik daripada yang pertama ketika hal yang sama terjadi pada saya.
Sejak itu, saya benci naik bus umum. Trans-Jakarta relatif oke, asalkan penumpang lain nggak bertingkah kayak rombongan binatang liar merangsek masuk bus!
Dua peristiwa itu terjadi ketika saya masih tinggal bersama keluarga. Yang ini berbeda.
Saya sangat ketakutan malam itu. Setelah menenangkan diri, saya menelusuri kembali langkah-langkah saya dan bertanya kepada siapa pun di halte bus terakhir yang saya kunjungi. Tidak beruntung. Saya pulang ke rumah dengan tangan kosong dan penuh amarah.
Pertama, saya meminta semua kartu ATM saya di dompet untuk diblokir – via online. Kemudian saya mengirim email kepada atasan saya untuk izin absen agar dapat mengurus semua laporan yang barang hilang / dicuri.
Setelah itu, saya memberi tahu siapa pun yang saya pikir perlu saya kabari. Keluarga saya, teman-teman saya, dan bahkan klien lepas saya dan editor saya saat ini. (Saya sedang mengerjakan buku.)
Tentu saja, saya mencoba melakukan beberapa pekerjaan malam itu, tetapi hanya berhasil menyelesaikan sedikit. Terlalu kesal, jadi akhirnya saya malah tertidur lelap.
– *** –
Pagi berikutnya, saya mencoba mencari ponsel melalui Google. Tidak beruntung. Siapa pun yang melakukannya pasti mematikan atau menukar kartu SIM saya. Untuk mengamankan semua data saya, saya menghapus telepon secara digital.
Kemudian saya pergi ke kantor polisi terdekat, yang jauh dari menyenangkan. (Emangnya pernah menyenangkan?)
Sebagai catatan, ini bukan film aksi Hollywood di mana polisi selalu bersedia membantu dengan langsung beraksi. Sama seperti sebelumnya, saya hanya bisa mengajukan laporan dan kemudian … itu saja. Tidak ada lagi. Jangan berharap terlalu banyak.
Mungkin seharusnya saya tidak berharap perlakuan istimewa. Kita berbicara tentang pejabat pemerintah, penegak hukum yang terlalu banyak bekerja, kelelahan, dan mungkin sudah melihat terlalu banyak keburukan di dunia. Tidak heran mereka menjadi skeptis … hampir sinis.
Tidak heran salah seorang petugas di lantai dua, yang telah membaca laporan pertama saya yang dibuat oleh petugas pertama di lantai pertama, mencibir:
“Ini hanya kasus kehilangan BIASA.”
BIASA. Terima kasih banyak. Meremehkan, ya?
Tidak ingin terpengaruh energi negatif mereka, saya meninggalkan kantor polisi dan langsung pergi ke bank. Sepanjang hari, semua yang saya lakukan ibarat tindakan darurat untuk mengatasi kehilangan.
Jangan tanya saya tentang pekerjaan hari itu. Saya mencoba untuk mengejar sebanyak yang saya bisa, bahkan ketika saya tidak pergi bekerja sama sekali. (Terima kasih, kehidupan digital!)
Apa yang saya pelajari dari pengalaman dicopet? Hanya satu, jangan sampai kecopetan. Anda tidak punya pilihan selain berhati-hati dan lebih sadar dengan sekitar. Ini penting, terutama jika Anda sendirian di kota-kota besar.
Jangan berharap terlalu banyak dari penegak hukum setempat. Ini bukan film di mana orang baik selalu menang. Terkadang Anda harus menerima bahwa Anda tidak mendapatkan yang Anda inginkan.
Jika Anda bertanya kepada saya, saya dapat memaafkan tanggapan dingin petugas tersebut – selama polisi lebih memperhatikan kasus-kasus seperti perkosaan, perdagangan manusia, dan pembunuhan. Saya masih tahu cara mendapatkan lebih banyak uang.
R.
Siapa yang mati
dan menobatkanmu sebagai
Sang Ilahi?
Kau buatku geli,
wahai pencari atensi
ingin didengar sepenuh hati
dipuja-puji
setenga-mati
Mungkin ada yang cukup gila
untuk biarkanmu menang
Tiada guna
Kau begitu jumawa
Bila kau memang luar biasa,
kenapa hobi memaksa?
Kenapa begitu keras kepala?
Narcissus era terkini
Tiada cermin yang cukup
Karenamu, semuanya remuk
Otakmu penuh kepercayaan palsu
Padahal kau tidak sesempurna itu
Ayolah,
aku butuh yang lebih lucu
dari semua usaha gagalmu
untuk mengesankanku…
R.
Dunia ini penuh dengan pelawak kasar. Mereka ada di mana-mana, termasuk seseorang yang Anda kenal. Mungkin Anda juga salah satunya.
Apa yang salah dengan bercanda? Tidak juga, selama lelucon itu dianggap pantas oleh audiens saat ini dan di waktu yang tepat. Apa yang membuat sebuah lelucon buruk? Ya, kebalikan daripada yang saya bilang barusan.
Jadi, apa yang bikin pelawak kasar itu ganggu banget? Ada jawaban yang di luar dugaan Anda.
Ngerti, kok. Pengen bikin orang terkesan, kan? Senang banget juga kalau kita dianggap lucu. Salah satu cirinya adalah saat mereka tertawa karena lelucon kita.
Namun, tidak semua lelucon itu lucu dan tidak semua orang (bisa jadi) seorang pelawak. Jika orang-orang berpikir terkadang Anda sangat serius, biarkan saja. Sama seperti ketika Anda berpikir mereka pelawak yang buruk. Terus kenapa, Anda dianggap ‘nggak asik’ hanya karena menolak (berpura-pura) menertawakan lelucon konyol mereka? Hanya karena Anda membela diri sendiri, setelah mereka mengolok-olok Anda?
Kebanyakan orang hanya mengidentifikasi pelawak buruk dari konten lelucon mereka. Entah itu lelucon yang hanya mengolok-olok orang tertentu hanya untuk iseng … atau lebih seperti penghinaan yang ‘tersamarkan’.
Sebenarnya, tipe pelawak ganggu lebih dari itu. Mereka sering salah memilih target lelucon mereka. Nggak apa-apa sih, toh pelawak profesional juga pernah salah kayak begini.
Sayangnya, kadang-kadang hanya segelintir orang yang mau belajar dan membuat setidaknya satu perubahan signifikan untuk menjadikan segalanya lebih baik. Yang lain hanya bersikap defensif dan mulai membuat semua alasan payah – didorong oleh ego mereka, atas nama hak pribadi dan superioritas yang memuakkan. Begini deh, teman-teman sekalian, kebiasaan buruk yang kemudian membawa mereka menuju kebiasaan buruk yang lain:
Memaksa orang lain untuk menertawakan lelucon konyol mereka dan menerima mereka apa adanya itu…kasar. Jika Anda memberi tahu mereka dengan jelas seberapa menyinggung lelucon mereka, mereka akan menyebut Anda terlalu sensitif. Mereka akan mengatakan bahwa Anda terlalu serius dan tidak dapat menerima lelucon mereka.
Beberapa dari mereka bahkan lebih lancang lagi. Mereka akan menyuruh Anda supaya bersikap biasa saja dan nggak usah kasar karena lelucon mereka. Bagus banget, ya? Setelah mereka menyinggung, mereka berani mengatur-atur perasaan Anda, supaya mereka tidak perlu merasa tidak enak atau merasa bersalah.
Dengan begitu, mereka tidak perlu meminta maaf. Khas narsis banget.
Harus tahan dengan pelawak ganggu ini adalah tantangan yang tanpa henti. Sangat disayangkan, tapi inilah hidup. Anda tidak pernah dapat benar-benar menghindari orang-orang seperti mereka. Mereka mendapatkan kekuatan mereka dengan menghabiskan energi Anda. Mereka hobi mengolok-olok orang lain lewat pujian palsu mereka.
Dengan begitu, mereka dapat bersikap tidak bersalah dan sok merasa terluka pada saat yang sama ketika orang lain yang mereka targetkan tersinggung oleh yang mereka katakan atau lakukan. Mereka harus memastikan tangan mereka tetap bersih. Intinya (harus) tetap Anda yang (diper)salah(kan).
Pelawak ganggu ada di mana-mana. Satu-satunya hal yang dapat dilakukan adalah membatasi interaksi Anda dengan mereka. Abaikan saja kenyinyiran mereka. Jika mereka mengharapkan – atau menuntut – agar Anda menurut, menertawakan lelucon bodoh mereka hanya untuk menyenangkan mereka, kita tahu siapa yang sebenarnya menyedihkan di sini. Tidak ada yang berhak mengatur-atur perasaan Anda setelah tersinggung.
Merekalah yang harus menjaga mulut dan jari mereka yang jahat. Anda masih suka bercanda, hanya saja bukan yang menyinggung. R.
Asing di antara sesama
saling tatap curiga
bising tuduhan dan cela
geming tanpa usaha
hening kehilangan kata-kata
keping sisa hati terluka
pusing kepala…
…dan kita tak lagi berdaya,
dipecah, dibelah,
marah-marah,
hingga akhirnya…
…sama-sama kalah…
R.
Ada yang lucu dari ‘menghamili perempuan’?
Rasanya emang harus nanya begini. Masalahnya, sudah dua kejadian terkait lelucon tentang ibu hamil yang menurut saya sama sekali nggak lucu:
Contoh kejadian pertama
Kejadian ini dialami oleh teman saya yang sedang hamil anak kedua. Waktu itu, dia naik transportasi publik. Karena sedang penuh, semua kursi terisi oleh penumpang lain. Teman pun memberitahu petugas mengenai kehamilannya pada petugas, sehingga petugas membantunya mencarikan kursi kosong.
“Permisi,” panggil si petugas. “Ada kursi kosong? Ada yang hamil, nih.”
Entah kenapa, mendadak seorang penumpang laki-laki langsung nyeletuk hingga beberapa penumpang lainnya tertawa:
“Kalo yang menghamili ada, nggak?”
Jangan tanya gimana reaksi teman saya waktu itu. Berdasarkan status yang ditulisnya di media sosial, teman mengaku ingin sekali menampar laki-laki yang mulutnya kayak nggak pernah masuk sekolah. Bener-bener nggak sopan!
Anggap saja laki-laki itu beruntung, karena teman saya masih ingat dia lagi hamil. Mana waktu itu juga pas bulan puasa lagi.
Contoh kejadian kedua
Atasan di kantor saya meminta saya mencarikan brand ambassador untuk maternity product klien kami. Dengan memanfaatkan banyaknya grup Whatsapp, saya meminta tolong pada para anggota, salah satunya di grup teman-teman lama. Eh, bukannya langsung dibantuin (atau minimal bilang enggak ada aja kalo memang nggak kenal calon potensial untuk jadi brand ambassador), teman-teman lama malah bercanda.
Bahkan, ada seorang teman laki-laki yang bercanda:
“Ada, tapi sebentar ya…gue hamilin dulu.”
Satu grup tertawa, termasuk anggota yang perempuan. Saya sendiri akhirnya merasa hanya buang-buang waktu meminta tolong sama mereka. Bukannya nggak suka bercanda, tapi ‘kan, ada waktu dan tempat yang tepat. Siapa tahu saat itu saya minta tolong karena sudah terdesak deadline.
Apa sih, yang lucu dari ‘menghamili perempuan’? Kenapa ketawa pas mikirin hal itu?
Saya yakin, kalo kedua laki-laki tadi saya tanya gitu, pasti pada nggak bisa jawab. Paling ngelesnya cuman, “Becanda, gitu aja serius amat.” Atau paling enggak, saya dituduh baperan dan diminta biasa aja, gak usah galak-galak amat alias nge-gas. Biasa banget, ‘kan? Mungkin lain cerita kalo yang negur mereka kebetulan juga sama-sama laki-laki. Gak tau, deh.
“Belum hamil aja udah sensi gini. Gimana entar?”
Padahal, saya yakin mereka udah nggak perlu dikasih tau lagi kalo buat perempuan, hamil ini perkara serius. Ini bukan soal pembuktian bahwa laki-laki yang menghamili mereka nggak masuk kategori MANDUL. Ini soal perubahan drastis dalam setiap aspek kehidupan mereka sebagai perempuan dan manusia.
Nggak hanya secara fisik, hormon juga udah pasti bakal mengubah kondisi psikis perempuan. Kayak teman saya yang tadinya bisa melenggang santai naik transport publik dan gak peduli kalo gak dapet kursi, sekarang mau nggak mau harus duduk. Bukan apa-apa, banyak kasus perempuan hamil kelelahan hingga hampir jatuh pingsan atau punya masalah hernia karena terlalu lama berdiri.
Laki-laki yang nggak pernah harus mengalami semua hal di atas tinggal menjadikan pengalaman menghamili perempuan sebagai bahan bercandaan. Ngakunya memuliakan perempuan, tapi kok gaya bercandanya gini amat, yah?
Jujur, saya bergidik. Tiba-tiba saya membayangkan pelaku pemerkosaan yang akhirnya ‘untung dua kali’ gara-gara kebijakan ‘damai’ maupun ‘menikahkan korban dengan pelaku’ sebagai solusi yang entah kenapa sering banget dipilih masyarakat negeri +62 ini.
Bisa aja ‘kan, laki-laki ini tadinya naksir korban, namun karena ditolak – jadinya dia menempuh jalan biadab ini demi mendapatkan si perempuan dengan cara apa pun? Toh, masyarakat juga masih akan tetap berpihak pada mereka. Korban jadi dipaksa nggak punya pilihan, kecuali ‘diikat’ seumur hidup dalam perkawinan yang sama sekali nggak mereka inginkan. Intinya, masyarakat lebih peduli bahwa korban terlanjur hamil tanpa suami, bukannya korban trauma dengan laki-laki yang memaksa menghamilinya.
Sampai sini, yakin masih ada mau ketawa soal menghamili perempuan?
Saya yakin, yang hobi bercanda soal menghamili perempuan sebenarnya sudah tahu bahwa ada nyawa yang dipertaruhkan di sini. Ya nyawa calon ibu, ya nyawa janin di kandungan. Tapi, mereka ngeh nggak, kalo perempuan masih harus merasakan berbagai kekhawatiran lain? Badan yang berubah, jadi lebih gemuk dan belum tentu bisa langsing lagi serta payudara kendur bikin insecure.
Takutnya, abis itu suami jadi nggak tertarik lagi sama istri…eh, terus cari-cari alasan buat selingkuh atau poligami. Gila, udah bertaruh nyawa demi anak, buntutnya malah ditinggal pergi. Nggak usah mendebat dengan argumen #TidakSemuaLakilaki, karena intinya memang banyak yang model begini. Gak usah berkelit.
Banyak bukti lain yang nunjukin kalo perempuan hamil itu bukan perkara remeh yang bisa dijadiin bahan lelucon, apalagi lelucon model fratboys barusan. Salah satunya soal stunting. Menurut data terkini dari artikel Katadata Januari 2019 kemarin, satu dari tiga bayi di Indonesia berisiko mengalami stunting. Penyebab awalnya dari ibu hamil yang kekurangan gizi. Bukan karena si ibu nggak mau makan makanan yang bergizi, tapi banyak juga yang mengalami kesulitan ekonomi.
Udah gitu, masih risiko disalah-salahin lagi. Ya, gak bisa ngatur duit belanja dari suami, gak ngurusin anak dengan baik. Ih!
Banyak juga perempuan usia remaja yang dipaksa menikah demi menghindari zina. Hamil terlalu muda membuat mereka lebih rentan terkena masalah kesehatan, termasuk risiko keguguran. Eh, lakinya malah cuman bisa bangga karena bisa menghamili yang lebih muda. Apa-apaan, sih?
Bukti terakhir ada di teman saya, Tiar Simorangkir dari @lamhorasproduction . Saat ini Tiar dan teman-temannya sedang merampungkan film dokumenter berjudul “Invisible Hopes”, tentang napi perempuan yang hamil dan terpaksa melahirkan serta membesarkan bayi mereka di penjara. Gak semua beruntung punya keluarga yang mau menampung anak mereka. Ada juga yang terpaksa menyerahkan anak mereka untuk diadopsi.
Mau menghujat perempuannya? Terserah, karena sebenarnya banyak dari mereka yang sebenarnya menjadi korban karena ditipu suami sendiri. Sudah nggak boleh kerja, nggak boleh bantah dan banyak nanya suami, tahunya suami kerja yang nggak halal (kayak jadi bandar narkoba). Begitu dicari-cari polisi, mereka kabur seperti pengecut, membiarkan istri sendiri ditangkap karena narkoba yang ditemukan di rumah mereka.
Lagipula, yang jadi masalah lebih kritis di sini juga kesejahteraan si anak.
Okelah, mungkin yang hobi bercanda soal menghamili perempuan belum sadar kalau itu termasuk pelecehan. Tapi, setelah membaca artikel ini, saya tanya sekali lagi, ya:
Yakin nih, kalau perkara ‘menghamili perempuan’ itu bisa kalian jadiin bahan lucu-lucuan?
R.
Masa kau sudi
dibandingkan sama kucing
yang tak tahan melihat ikan asin?
Ayolah.
Mana akalmu?
Katanya mahluk berlogika.
Masa mau jadi serendah itu?
Perempuan itu hanya lewat,
meski dia sendirian
jangan jadi alasan kau berlaku bejad.
Dasar bangsat!
R.
Hah? Dianggap bodoh kok, untung? Bukan harusnya merasa terhina, ya?
Saya yakin, banyak yang berpendapat begitu. Sudah sekolah tinggi-tinggi, tapi masih juga diremehkan – entah karena masih junior atau perempuan. Bahkan, mereka yang hobi meremehkan suka nggak tanggung-tanggung mengecilkan dan mempermalukan Anda di depan umum.
Tapi sebenarnya, Anda nggak perlu merasa tersinggung amat. Bahkan, Anda bisa memanfaatkan mereka yang menganggap Anda bodoh. Inilah tiga (3) keuntungan dianggap bodoh:
Sebenarnya, Anda juga nggak perlu cerita semuanya ke orang lain, termasuk mereka yang menganggap Anda bodoh. Biarkan saja. Justru Anda bisa lebih berkonsentrasi saat upgrade diri sendiri. Nggak perlu ditonton orang lain juga, ‘kan?
Entah itu skill, kepribadian, atau bahkan penampilan, Anda fokus sama diri sendiri. Tanpa banyak bicara, Anda bisa buktikan pada mereka bahwa selama ini mereka salah. Kapan? Ya, tinggal tunggu waktunya. Misalnya: saat mereka lengah dan berbuat kesalahan, lalu Anda datang dan membenarkan.
Eh, tapi sebenarnya nggak perlu begitu juga nggak apa-apa, hehe. Yang penting tetap bahagia dengan diri sendiri.
Orang yang menganggap Anda bodoh biasanya terlalu percaya diri dan cenderung sok tahu. Mereka sangat gemar berasumsi, bahkan meskipun nggak kenal-kenal banget dengan Anda. Daripada capek-capek berusaha menjelaskan kepada mereka atau membela diri, mendingan diam saja. Biarkan mereka mempercayai yang ingin mereka percayai.
Tanpa sadar, mereka merasa aman-aman saja membuka aib sendiri, seperti dua (2) hal ini:
Untuk yang terakhir, Anda bisa menyimpan semua ‘bocoran info’ dari mereka dengan sebaik-baiknya. Siapa tahu, suatu saat nanti bisa berguna.
Hihihihihi…..
Mungkin Anda akan tergoda untuk berbuat jahil atau jahat, mungkin juga tidak. Berhubung mereka lengah, kenapa tidak? Hitung-hitung, sekalian membalas dendam karena selama ini diremehkan.
Tapi…eh, ngapain juga, sih? Hati belum tentu tenang meski sakit hati terbalaskan. Lagipula, ini sama saja seperti di film-film drama thriller. Hanya karena mereka nggak sadar ditipu orang yang selama ini mereka anggap bodoh, bukan berarti orang lain nggak melihat yang sebenarnya.
Biasanya, yang pintar dan nggak banyak bicara yang lama-lama bisa tahu, bahwa Anda sebenarnya tidak sebodoh yang dikira. Makanya, jangan senang dulu saat merasa lolos-lolos saja setelah berhasil mengerjai orang yang selama ini menganggap Anda bodoh.
Hehe, untuk poin terakhir, sebaiknya jangan pernah dicoba, ya? Lain cerita kalau merasa hidup Anda kurang drama. Saya sendiri nggak menyarankan Anda agar pura-pura bodoh. Maksud saya, daripada mudah tersinggung karena diremehkan, buktikan saja lewat prestasi nyata. Nggak perlu sesumbar segala. Biasa saja.
Biarkan saja mereka percaya bahwa Anda bodoh luar biasa. Pada waktu yang tepat, giliran Anda yang paling akhir tertawa.
R.