Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Penggila Drama

Penggila Drama

Seharusnya kalian audisi saja

Banyak sinetron di layar kaca

Tak perlu pura-pura

Jadi diri sendiri dan apa adanya

Banyak cara mencari perhatian

dari wajar hingga berlebihan

Ada yang gila penghargaan

sampai kejam atau jadi anak kecil ngambekan

Silakan audisi

biar muncul di TV

Jangan di sini

mengganggu dan menyakiti

memaksa semua harus mengerti

Memangnya kalian ini siapa, sih?

Ingin selalu dianggap benar?

Yang ada, penonton bubar

Senang bersikap culas dan kasar,

bahkan hingga barbar?

Sudah, main saja di film drama

Bikin berisik dunia saja

Sebagai penonton, saya bosan luar biasa

Plotnya selalu sama

Lebih baik saya pulang

Macam kalian terlalu memuakkan!

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

Menyelamatkan Uang Orang Lain Bukan Alasan Kasih Spoiler Film

Menyelamatkan Uang Orang Lain Bukan Alasan Kasih Spoiler Film

Rasanya kok, ini udah kayak tradisi tahunan aja, yah? Tahun lalu, saat “The Avengers: Infinity War” tayang di bioskop, banyak yang jadi berantem hanya gara-gara perkara spoiler. Garis besarnya begini:

Yang tukang spoiler merasa sah-sah aja membocorkan sebagian atau bahkan seluruh isi cerita film yang kebetulan sudah mereka tonton duluan. Toh, mereka hanya merasa senang dan pengen ‘berbagi kegembiraan’. Ya, sekalian rada pamer dikitlah. Hehe.

Yang nggak suka tentu saja langsung menyebut para penyebar spoiler sebagai perusak mood orang yang mau nonton, egois, nggak asyik, hingga sombong – mentang-mentang udah nonton duluan.

Penyebar spoiler ternyata juga punya alasan lain. Ada yang kecewa dengan alur film yang mereka tonton duluan hingga langsung curhat di media sosial. Niatnya sih, baik – pengen menyelamatkan uang orang lain agar nggak terbuang percuma saat nonton film yang sama, karena menurut mereka nggak sesuai harapan.

Cuma, bisa aja orang berpendapat lain.

Tapi…ah, sudahlah. Itu terserah pilihan masing-masing. Terus, di mana posisi saya dalam drama pencinta versus pembenci spoiler ini?

Golput.

Saya bukan tipe yang akan dengan semangat nyebarin spoiler meskipun udah nonton film yang lagi ngehits dan menurut saya juga bagus. Toleran sedikitlah sama mereka yang belum sempat nonton. Nggak perlu juga ngatain mereka baperan hanya karena kesal dengan banyaknya spoiler.

Saya juga nggak akan protes dengan yang suka nyebarin spoiler. Silakan aja, mungkin lagi pada pengen viral dan ini satu-satunya cara…

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Tabir

Tabir

Foto:
https://unsplash.com/photos/3fppWGXoNWU (Rene Bohmer)

Banyak tabir di setiap wajah

Tak perlu pikir

Usahlah gundah

Ada sindir di balik senyum ramah

Tiada guna berbalas

Hanya bikin lelah dan malas

Banyak tabir untuk buatmu kalah

Sosok sempurna, nihil cela

Sembunyi cacat, rapi adanya

Gemar menghujat, mudah menghina

sesama tapi yang dianggap beda

direndahkan sedemikian rupa

demi tampak jaya

bebas merdeka

Sungguh jumawa

Tunggulah tabir terkuak

saat topeng sempurna mulai retak

Mereka akan berhenti tertawa

Aib terbuka, tak lagi jaya

Jatuhlah mereka

ke dalam hina yang sama

atau malah lebih tercela…

R.

Categories
#catatan-harian #lomba #menulis #tips

5 Cara untuk Mendidik Anak Usia Dini di Era Teknologi

5 Cara untuk Mendidik Anak Usia Dini di Era Teknologi

Seperti apakah peran keluarga dalam PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di era digital ini? Yang pasti semakin penting. Apalagi, dengan kemajuan teknologi saat ini yang kian pesat, anak dapat mengakses informasi apa pun. Bila tidak dibatasi sesuai umur, hal ini dapat berakibat perkembangan anak yang kurang baik.

Banyaknya sekolah berbasis PAUD menunjukkan kesadaran masyarakat mengenai pendidikan anak sejak dini. Salah satunya adalah Apple Tree Pre-school BSD. Selain itu, alangkah baiknya bila orang tua sendiri juga tetap mendidik dan mengasuh anak dari rumah.

Bersama Apple Tree Pre-School BSD, inilah lima (5) cara yang dapat dilakukan orang tua untuk mendidik si kecil di era teknologi:

  • Meluangkan waktu untuk anak di rumah, meskipun menjadi orangtua bekerja.

Baik ayah maupun bunda sama-sama punya peran penting dalam pendidikan anak di usia dini. Meskipun salah satu atau kedua orang tua sibuk, saat di rumah, luangkan waktu bersama anak. Dengan begini, Anda bisa sama-sama memantau perkembangan anak.

Anda bisa memulainya dengan selalu menyapa anak lebih dulu saat tiba di rumah. Alih-alih langsung bertanya soal tugas-tugas sekolah mereka, tanyakan kabar anak. Dengan begitu, mereka akan merasa diperhatikan tanpa terlalu dituntut. Memeluk mereka juga menambah kedekatan orang tua dan anak.

  • Biarkan si kecil bercerita dengan bebas tanpa takut dimarahi.

Biasakan agar anak selalu jujur dan terbuka, meskipun mereka melakukan kesalahan. Ada kalanya anak merasa malu karena tanpa sengaja melakukan sesuatu. Misalnya: memecahkan barang di rumah atau bertengkar dengan teman di sekolah. Pastinya, ini bukan pengalaman yang menyenangkan bagi mereka.

Meskipun ulah mereka bisa membuat Anda kesal, kurangi langsung bereaksi dengan marah-marah – apalagi sampai berlebihan. Jelaskan pada anak bahwa kesalahan apa pun yang mereka lakukan, lebih baik jujur mengakuinya. Setelah itu, Anda bisa mengajak si kecil untuk melakukan sesuatu, belajar dari kesalahannya.

  • Selain mengajak si kecil bercerita, bacakan juga cerita sebelum tidur.

Di era digital ini, kegiatan mendongeng anak sebelum tidur tampaknya mulai jarang dilakukan. Anak malah lebih banyak dijejali dengan tontonan di televisi atau bermain gawai (gadget), bahkan hingga larut malam.

Padahal, kegiatan ini dapat mendekatkan orang tua dengan anak. Selain itu, anak akan punya kebiasaan senang membaca karena mencontoh kedua orang tuanya. Sering mendengar dongeng sebelum tidur juga akan meningkatkan daya khayal anak, sehingga mempertajam sisi kreatif mereka.

  • Batasi interaksi mereka dengan gawai (gadget).

Bila belum terlanjur kecanduan, segera batasi penggunaan gawai (gadget) pada anak. Bahkan, sebaiknya anak jangan dibiarkan menggunakan gawai pada usia yang terlalu dini. Selain dapat mengganggu penglihatan mereka, gawai juga berpotensi membuat anak menjadi enggan bersosialisasi.

Daripada hanya menyuruh dan memaksa, berilah contoh dengan tidak selalu memegang gawai saat berada di dekat mereka. Bahkan, untuk mengalihkan perhatian anak dari gawai, ajaklah mereka berkegiatan di luar, seperti bersepeda, berolahraga, hingga sekadar jalan-jalan santai. Anak juga jadi lebih sehat.

Lakukan kegiatan tersebut setiap akhir pekan. Bila anak sudah terlanjur memegang gawai, terapkan peraturan dengan tegas. Misalnya: stop main gawai dua jam sebelum waktu tidur. Hal ini dapat mencegah anak mengalami susah tidur.

  • Aktivasikan perangkat pelindung untuk membatasi konten yang dapat mereka akses.

Alih-alih hanya menyalahkan dunia luar dan memboikot konten yang dianggap merusak mental anak-anak, mulailah semuanya dari rumah. Batasi konten yang dapat mereka akses dengan mengaktivasikan perangkat pelindung seperti nanny sites pada semua perangkat gawai di rumah.

Sebenarnya, PAUD (pendidikan anak usia dini) harus dimulai dari yang mendasar, seperti memperkuat gerak motorik mereka (melalui kegiatan fisik dan menulis) dan interaksi sosial (berkomunikasi dengan orang lain). Boleh saja membiarkan anak memegang dan bermain dengan gawai, asal ada batasnya.

#appletreebsd

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Memunculkan Si Jahanam

Memunculkan Si Jahanam

Suatu hari nanti,

semua akan diketahui

Dia akan tertangkap

terhukum dengan layak

Suatu hari nanti,

senyum palsunya takkan berguna lagi

Penggemarnya akan muak setengah mati

Tak semua orang akan bodoh selalu

selama mau melihat lebih jauh

Suatu hari nanti,

semua topengnya akan luruh

dan sosoknya akan jadi cemooh

Sudah ada beberapa

yang lebih dekat mengenalnya

Lebih baik?

Tidak

Suatu hari nanti,

kata-kata manisnya akan berubah pahit

keburukannya semakin menguasai

Sang jahanam akan dimunculkan

Segera, tiada lagi tempatnya melarikan diri

Dia sudah ditemukan

Nasibnya selesai

Untuk sekarang,

kita harus tetap tenang

agar dia tak bisa permainkan perasaan

Biarlah kita tampak bodoh di matanya

hingga saat dia kehilangan semua

termasuk kendali dirinya

Dia mungkin dapat menipu dunia yang buta

seakan dia lebih baik di mata semua

Suatu saat nanti, segera,

panggung takkan lagi miliknya

Semua aibnya akan terbuka

demi keadilan bagi semua korbannya

Munculkanlah si jahanam

beserta keburukannya yang nyata.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

Tentang Pilihan dan Perbandingan

Tentang Pilihan dan Perbandingan

Hidup ini penuh pilihan. Bahkan, saat merasa tidak punya pilihan pun,sebenarnya kita masih bisa punya pilihan sendiri. Tidak memilih pun sebenarnya juga sebuah pilihan.

Hehe, jangan bingung begitu, ah.

Ada beberapa pilihan hidup yang memang harus diceritakan. Apalagi bila pilihan itu tidak hanya akan mempengaruhi diri sendiri, tapi juga orang-orang terdekat.

Tapi, ada juga pilihan yang tidak perlu dilaporkan ke semua orang – dan bahkan ke siapa pun. Bukannya takut, ya. Tapi, untuk apa juga, sih?

Setiap pilihan pasti ada perbandingan. Ada juga pilihan yang akan membuat kita dibanding-bandingkan dengan orang lain. Ada yang menuai pujian, ada juga yang membuat kita dipandang sedemikian rendah.

Yang pasti, semua menginginkan pilihan terbaik untuk diri masing-masing maupun orang-orang terdekat. Sayangnya, ada kalanya kita tidak bisa menyenangkan semua pihak. Yang baik menurut kita belum tentu demikian bagi orang lain, begitu pula sebaliknya. Akan ada yang kecewa, namun itulah hidup. Wajar saja.

Ada juga yang menerima dan bahkan mendukung pilihan Anda. Mungkin mereka sepaham dan punya kebutuhan yang sama. Mungkin juga, mereka mengerti betapa berartinya pilihan itu bagi Anda. Tidak perlu selalu harus sepakat dalam segala hal kok, untuk akur. Tapi, itu bila semua pihak sama-sama mau mencoba saling memahami, ya.

Anda juga bisa memilih untuk bercerita atau diam saja mengenai pilihan hidup Anda. Kadang, demi menghindari perdebatan yang tidak perlu dan melelahkan, diam itu lebih baik. Ini bagi mereka yang memilih untuk menghindari drama buatan sesama.

Apalagi bila sudah main perbandingan dan caranya tidak adil pula. Manusia kadang memang suka lucu. Katanya mengakui perbedaan, tapi diam-diam (atau malah terang-terangan) berharap semua bisa sama seperti maunya mereka.

Yang paling parah, ada yang caranya pakai memaksa lagi. Kalau nggak mengejek, menyindir, ya mengancam-ancam. Mending jauh-jauh saja deh, sama orang-orang yang seperti ini.

Jadi, apa pilihan hidup Anda saat ini? Seperti biasa, boleh cerita atau enggak lho, ya. Saya mah, bebas.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Polusi Opini

Polusi Opini

Kau begini

Aku begitu

Menurutku A

B bagimu

Kita saling beropini

Sekalian sebar polusi

Tiada yang setuju

Semua punya mau

Enggan mengalah

Maunya marah

Padahal, belum tentu dapat apa-apa

Ah, sudahlah…

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

Alasan Saya Membenci Kata Sempurna

Alasan Saya Membenci Kata Sempurna

Ada apa dengan satu kata itu? Mengapa saya sangat membencinya? Sempurna. Mendengarnya saja sudah bikin bergidik.

Lebay? Bodo amat.

Memang, setiap orang punya ‘standar sempurna’ masing-masing. Misalnya: anak yang patuh pada orang tua selalu (bahkan tanpa syarat satu pun) dianggap sempurna bagi banyak orang.

Tapi, benarkah selalu demikian? Bagaimana bila anak itu jadinya selalu tergantung pada orang tua dan tidak bisa berpikir untuk diri mereka sendiri? Bagaimana bila sepeninggal mereka, si anak malah jadi sosok yang tidak mandiri, karena terlalu terbiasa didikte?

Bukannya saya menyuruh untuk melawan orang tua, ya. Memang, semua orang tua (yang baik, tentunya) pasti menginginkan yang terbaik bagi anak-anak mereka.

Tapi, kadang kriteria ‘sempurna’ bisa sangat menjebak.

Patriarki, Feodalisme, dan Kriteria Sempurna yang Menyiksa Perempuan

Saya mulai membenci kata itu begitu menyadari banyak standar ganda yang berlaku di masyarakat. Ada yang menurut mereka sempurna, ada yang tercela luar biasa. Bukannya tidak mau menghormati orang yang lebih tua, ya. Namun, kadang feodalisme bikin mereka merasa lebih sempurna hingga – ahem! – jadi gila hormat.

Contoh: ini pengalaman seorang teman yang pernah tinggal dengan keluarga pasangan. Selama itu, dia kerap disindir dan dihina-hina karena dianggap tidak memenuhi kriteria ‘istri sempurna’ menurut mereka. (Sayangnya, kasus semacam ini di Indonesia sudah kelewat banyak!) Bikin stres deh, pokoknya.

Bahkan, teman pernah dituntut secara terang-terangan oleh salah satu tetua di keluarga itu, di depan yang lain pula. Tuntutannya masa begini:

“Kalau dikritik sama yang lebih tua nggak boleh sakit hati. Harus terima!”

Enak ya, kalau usia yang lebih tua selalu jadi patokan untuk selalu merasa paling benar?

Pokoknya, banyak sekali alasan saya membenci kata sempurna. Intinya, kita tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang. Harapan yang mustahil. Apa pun kebaikan yang sudah kita coba lakukan, pasti ada saja yang masih menganggap kita tercela.

Saya sadar, saya tidak dianggap cantik sesuai standar ideal masyarakat patriarki dan media massa. Saya tidak kurus, kurang putih, kurang feminin, dan entah apa lagi. Saya juga berpikir kritis dan suka bertanya dan mendebat bila dirasakan perlu. Ada yang menganggap saya terlalu bawel, berisik, dan banyak maunya. Ada yang bilang saya terlalu serius dan nggak bisa santai.

Terserah sih, kalau mereka beranggapan begitu. Yang pasti, saya bukan orang yang senang dipaksa, apalagi pakai disindir dan diancam-ancam segala. Saya juga bukan robot yang asal menurut saja. Saya tidak mau dan tidak suka seperti itu, apalagi hanya untuk menyenangkan orang lain yang sebenarnya teramat rapuh.

Intinya, saya hanya mau mengalah bila menurut saya sudut pandang mereka masuk akal. Kasih saran boleh, tapi sisanya tetap keputusan saya. Mungkin di mata banyak orang, saya bukan perempuan sempurna. Terus kenapa? Apa hak mereka untuk mendikte saya? Kenapa mereka tidak membiarkan saya berproses dengan cara saya sendiri?

Sempurna hanya milik Tuhan. Kenapa manusia sering lupa? Mungkin karena mereka tidak sempurna, namun cenderung pelupa dan jumawa.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Monster Bermulut Manis

Monster Bermulut Manis

Aku pernah bertemu monster

yang bermulut manis

sangat meyakinkan

seakan kami punya hubungan

Monster ini tidak menakutkan

Bahkan, dia sangat tampan

Namun, ada yang terasa mengancam

semakin kamu mengenalnya

Hanya soal waktu,

sebelum dia gunakan rupa bagai senjata

selihai pawang ular

demi dapatkan dirimu di ruang eksekusinya

Bagaimana aku bebas?

Campuran permainan pikiran

sebelum akhirnya ditinggalkan

Seharusnya aku lebih waspada

Aku lolos darinya dan bertahan

Hanya itu yang harus kulakukan

Banyak luka trauma

Sebaiknya tak kutunjukkan semua

Anggaplah aku baik-baik saja

masih hidup dan bernapas

Satu masalah

yang masih buatku cemas

Monster itu telah mainkan semua kartu

dan ucapkan semua kata manis itu

Lain kali, saat bertemu sosok baru

namun dengan mulut manis yang sama,

bagaimana aku akan percaya

bahwa dia sebaik-baiknya lelaki?

Akan aman tidak, ya?

Bagaimana cara mencari tahu

bahwa dia bukan monster bermulut manis

yang akan siap melemparku ke ruang eksekusi?

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #tips

“Baca, Dong! Biar Paham”

“Baca, Dong! Biar Paham”

Maaf, saya tidak sedang membentak pembaca. Saya hanya tiba-tiba teringat dengan kebiasaan beberapa kenalan.

Indonesia sangat senang ber-media sosial. Itu sudah bukan rahasia lagi. Silakan cek FB, Twitter, IG, hingga aplikasi chat macam WhatsApp (WA). Ngomong-ngomong soal WA, pasti banyak yang kewalahan menangani grup WA di ponsel mereka.

Tidak Sabaran dan Yang (Merasa) Lebih Berilmu Tapi Sombong?

Memang, masih banyak orang Indonesia yang tidak suka membaca. Apalagi, di era digital ini, mereka lebih suka baca yang pendek-pendek saja dan menikmati yang visual. Instagram (IG) masih paling laku.

Kalau mau menulis di ranah digital saja disarankan agar tidak panjang-panjang amat. Paling sekitar 300 – 500 kata per artikel. Alasannya, biar yang baca nggak cepat bosan.

“Baca, dong! Biar paham.”

Memang, era digital membuat semuanya (terasa harus) serba cepat. Mungkin ini sudah pernah dibahas oleh banyak penulis atau blogger lain.

Sepertinya, gara-gara itu manusia sekarang jadi kurang sabar. Ini terlihat dari begitu cepatnya mereka share (dan reshare) informasi tanpa cek dulu dan lagi. Begitu yang mereka share ternyata hoaks, barulah pada ribut dan cari-cari alasan untuk menghindar. Yang masih sportif akan meminta maaf meskipun suasana terlanjur kacau.

Bercerita yang Tidak Tuntas

Jujur, saya termasuk orang yang tidak suka dengan cara bercerita yang setengah-setengah. Kayak nggak niat, gitu. Contohnya, pernah ada yang curhat begini soal orang yang sama-sama dikenal:

“Pokoknya dia nyebelin!”

“Iya, tapi nyebelinnya kenapa? Kasih contoh, dong.”

“’Kan barusan gue bilang dia nyebelin. Ngertiin, dong!”

“Lha, gimana bisa ngerti kalo ceritanya nggak lengkap gini – apalagi nggak ada bukti?”

“Nggak usah pake bukti! Pokoknya gue lagi kesel.”

*krik…krik…krik…*

Jangan tanya saya gimana rasanya saat waktu terbuang percuma, ikut dibikin kesal pula. Padahal, yang dengar juga nggak tahu pasti masalahnya, namun kayak dituntut untuk langsung paham dan setuju, gitu. Ini sama dengan satu contoh kasus lagi.

Nggak ada angin, nggak ada apa, ujug-ujug ada kenalan yang main share konten bermuatan politik (yang sayangnya negatif) di mutual group kami. Terus, habis itu langsung memaki-maki – pakai laknat atas nama Tuhan lagi.

Salah seorang teman di dalam grup tentu saja bingung dan bertanya: “Maksudnya apa, nih?”

“Baca, dong! Biar paham.”

“Iya, udah baca. Tapi maksudnya apa nih, share kayak begini?”

“Gue ‘kan udah bilang tadi. Masa gitu aja masih nggak ngerti juga, sih?”

Butuh beberapa anggota grup lain untuk menengahi, sebelum terjadi pertengkaran di dunia maya. Sayangnya, suasana sudah terlanjur nggak enak, apalagi si penyebar berita ngotot bahwa dirinya nggak salah.

Biasanya, kalau sudah bertemu model begini, saya memilih untuk tidak bicara apa-apa sama sekali. Jujur, saya malas setengah mati. Ya, kalau nggak perlu-perlu amat berurusan dengan mereka, ngapain juga cari-cari perkara? Ya, nggak? Hidup sudah ribet, nggak perlu ditambah lagi dengan drama bikinan sesama.

Saya suka gerah dengan mereka yang hobi bercerita setengah-setengah, pakai emosi pula. Manusiawi sih, ada orang yang memang emosian sehingga susah membagi informasi dengan lancar dan benar.

Sayangnya, orang-orang seperti ini suka nggak (mau?) mempertimbangkan dampak perbuatan mereka ke orang lain. Udah buang-buang waktu pendengar mereka, pake bikin keki segala lagi. Mungkin mereka juga bukan orang yang mau mendengar saran dari saya. (Halah, lagipula siapa sih, saya?)

Namun, bagi yang tidak keberatan, saran-saran ini mungkin bisa jadi pengingat bagi kita semua. (Ingat, saya bukan sekadar mengkritik, tapi sebisa mungkin juga nawarin solusi – yang kalau bisa biar semua pihak sama-sama enak.)

  1. Berilah jeda untuk diri sendiri dulu sebelum mulai bercerita.

Lagi kesal dengan seseorang atau sesuatu? Tarik napas pelan-pelan. Minum air putih. (Buat yang beragama, silakan membaca doa sesuai keyakinan masing-masing untuk menenangkan diri.)

Jangan biasakan diri mendadak ngamuk-ngamuk nggak jelas, ya. Masalahnya, nggak semua orang mau (dan bisa) mengerti Anda.

  • Coba tulis dulu di selembar kertas.

Sebelum asal mengirim pesan (apalagi ke grup online), coba tulis dulu yang ingin dikatakan di selembar kertas (atau di mana, kek. Di jidat sendiri juga nggak ada yang melarang.)

Sampai selesai, lalu baca lagi hingga habis. Dari situ, kita bisa mempertimbangkan dengan lebih cermat:

Sebenarnya, penting banget nggak sih, harus share informasi kayak gitu ke orang banyak? Apakah akan ada gunanya?

  • Pertimbangkan cara penyampaiannya.

Apa iya, harus pakai bentak-bentak atau kata-kata makian? Apa iya harus melaknat atas nama Tuhan? Memangnya Anda sendiri senang diperlakukan demikian?

Mau itu curhat politik, pribadi, atau apa pun, bukankah lebih enak bila disampaikan dengan cara yang lebih santun dan bijak? Kesal sih, boleh. Tapi, nggak perlulah sampai memaki-maki segala. Memangnya lupa dengan ajaran cara bercerita yang baik dan benar di sekolah dulu?

  • Anda tidak bisa mengontrol reaksi orang lain.

“Suka-suka gue dong, mau ngomongnya kayak apa! Situ kok jadi baperan?”

“Ya udah, lain kali nggak usah dengerin cerita gue kalo elo emang nggak suka!”

Sikap defensif jelas banget pada jawaban pertama di atas. Yang kedua lebih bersifat menyalahkan pendengar, hanya gara-gara reaksi mereka yang jauh dari harapan si pembagi informasi.

Tuh, ‘kan? Padahal, kenyataannya, kita nggak bisa mengendalikan reaksi orang lain atas cara kita bercerita. Yang ada malah kita yang terlihat labil di mata mereka. (Itu kalau peduli, ya.)

  • Hati-hati bila ingin melaknat orang lain atas nama Tuhan.

Bukan apa-apa, gimana kalau yang kebetulan kita laknat itu ternyata sebenarnya tidak bersalah? Gimana kalau suatu saat ternyata mereka diberi kesempatan oleh-Nya untuk bertobat tanpa sepengetahuan kita, sementara kita sendiri malah jadi yang melenceng gara-gara kesombongan diri sendiri?

Kalau dikira saya nggak pernah kayak gini, salah besar. Justru saya sendiri juga belajar dari pengalaman, makanya berani menulis yang seperti ini. Ngapain takut, bila demi kebaikan?

R.