Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Belum Berakhir

Belum Berakhir

Perjuanganmu belum berakhir, kawan.

Aku tahu, kau lelah dan muak.

Masih banyak yang harus kau lawan:

Mimpi buruk dan ketidakpastian.

Hantu masa lalu yang masih mengerikan.

Mereka yang tidak pedulian.

Perasaan terlantar, tak berdaya,

hingga ingin menyerah,

namun kutahu kau tak mudah kalah

meski wajar bila ingin marah.

Perjuanganmu belum berakhir,

meski merasa makin tersingkir

oleh realita yang membuat getir.

Jangan berhenti.

Percayalah Kasih Ilahi.

Berkat-Nya,

kau masih di sini,

berjuang dengan berani

melawan ketidakadilan ini.

Sesungguhnya,

kau adalah inspirasi.

R.

Categories
#catatan-harian #lomba #menulis

VivoBook Ultra A412DA: Pagi Buat Ngantor, Malam Buat Gaming

VivoBook Ultra A412DA: Pagi Buat Ngantor, Malam Buat Gaming

Sebagai blogger, rasanya sudah tidak mungkin hidup tanpa laptop, ya. Meskipun kini sudah ada yang namanya ponsel pintar atau tablet, rasanya tetap lebih nyaman bikin blog pakai laptop. Selain kapasitas lebih besar, spec-nya juga lebih mumpuni daripada ponsel maupun tablet. Intinya, laptop adalah senjata andalan para pekerja digital.

Salah satu laptop andalan pekerja digital adalah ASUS. Sekarang, ASUS sudah punya tipe VivoBook paling ringkas, lho. Namanya VivoBook Ultra A412DA. Pekerja digital yang lagi berburu laptop baru, laptop ASUS ini boleh dicek dulu, deh. Tampilannya yang berwarna-warni alias colourful dan juga stylish pasti bikin kalian tertarik, deh.

Sebgai blogger yang juga mobile, pastinya saya juga ingin laptop yang ringan dan ringkas untuk dibawa ke mana-mana. Meskipun bukan termasuk travel blogger, ‘kan ada kalanya saya harus bekerja dan berpindah-pindah tempat. Selain sebagai pekerja purnawaktu di sebuah perusahaan media, saya juga berkerja sebagai freelancer.

Foto: https://channel.asus.com/ExternalFile.aspx?path=a011bfa3e181490aa60f1419c70367ab

Sekilas Tentang ASUS VivoBook Ultra A412DA

Jujur, kadang rasanya agak berat membawa laptop jadul yang masih tebal. Meskipun ranselnya berbahan kuat, ada kalanya punggung terasa pegal. Apalagi kalau laptopnya diletakkan di dalam tas selempang (itu tuh, yang model postman’s bag) dan bahkan tas jinjing. Kalau tas selempang alamat bikin bahu pegal, tas jinjing bikin tangan kebas.

Hmm, enaknya gimana, yah?

VivoBook Ultra A412DA menjawab semua masalah di atas. Berhubung lebih tipis, ringan, dan ringkas, nggak ada lagi cerita pegal-pegal hingga jari tangan kebas. Mau ditaruh di dalam ransel, tas selempang, atau tas jinjing, sama saja. Berat tak usah dipikul, ringan tinggal jinjing sendiri, hehehe… (Joke-nya maksa, yah?)

Gimana nggak ringan, wong layarnya juga tipis banget, hanya 14 inci. Beratnya pun hanya 1,5 kg. Terus, fitur Windows 10-nya punya fitur keamanan bernama Windows Hello. Fitur ini punya tiga (3) varian warna, yaitu:

  • Transparent silver.
  • Slate grey.
  • Peacock blue.

Nggak heran ‘kan, kalo VivoBook A412DA ini disebut juga sebagai “The World’s Smallest, 14-Inch Colourful Notebook”?

Foto: https://channel.asus.com/ExternalFile.aspx?path=a011bfa3e181490aa60f1419c70367ab

Yang Butuh ASUS VivoBook Ultra A412DA

Pastinya saya dong, hehehe. ‘Kan sudah saya bilang dari awal. Tapi, selain pekerja digital seperti saya, banyak yang butuh laptop keren dan ringkas seperti ini, misalnya:

  • Mahasiswa yang nggak hanya buat ngerjain tugas, cari bahan kuliah online, sampai gaming juga.
  • Travel blogger (pastinya, berhubung termasuk bagian dari pekerja digital).
  • Ortu yang rela mendapatkan laptop ini untuk kebutuhan sekolah anak mereka.

Anda masuk kategori mana?

Kekuatan ASUS VivoBook Ultra A412DA

Apa lagi sih, yang bikin laptop keluaran ASUS ini layak buat diperjuangkan? Kekuatannya ada pada prosesor AMD Ryzen Mobile Second Generation. Dengan prosesor ini, mau kamu lagi ngerjain tugas atau santai sambil gaming, VivoBook ini tangguh banget. Performanya terbukti 48 persen lebih gesit daripada laptop lain yang berumur tiga tahun lebih tua.

Adanya fitur power-saving pada AMD SenseMI membuat penggunaan baterai laptop ini lebih efisien. Tidak boros dan bisa digunakan lebih lama tanpa harus mengandalkan kabel ke colokan listrik terdekat. Kerja jadi lebih anteng, apalagi saat gaming.

Ngomong-ngomong soal gaming, pada suka online game apa, sih? DOTA 2, League of Legends, CS:GO, atau yang lain? Saya sih, bukan seorang gamer. Tapi kalau nggak mau terlalu ribeut punya dua laptop (satu untuk ngantor/kuliah dan satu untuk hobi), mendingan pakai ASUS VivoBook Ultra A412DA saja.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Corong di Kepala, Jari-jemari Berkelana

Corong di Kepala, Jari-jemari Berkelana

Tolong copot corong itu dari kepala.

Terlalu bising suara.

Lumpuhkan jari-jemari

agar tak kelewat liar berkelana.

Aku?

Tak ada waktu,

tapi sudah tahu

bila sesuatu buntu…

R.

Categories
#catatan-harian #lomba #menulis

Tawaran Sequis Life Mengenai Pentingnya Asuransi Jiwa untuk Perlindungan Masa Depan

Tawaran Sequis Life Mengenai Pentingnya Asuransi Jiwa untuk Perlindungan Masa Depan

Apa yang ada di benak Anda saat mendengar kata ‘asuransi jiwa’? Dulu, seorang kawan lama pernah menganggapnya biasa saja. Katanya, optimis saja. Kalau memang nanti ternyata sudah saatnya mati, ya sudah. Tidak perlu memikirkan apa-apa lagi. Lagipula, tabungan asuransi belum tentu bisa diambil dengan sesuka hati kalau ada situasi darurat.

2 Peristiwa yang Mengubah Pandangan Saya Tentang Asuransi:

Terlepas dari anggapan kawan lama yang tampaknya lebih banyak tidak peduli, saya tidak setuju. Saya justru punya pengalaman bagus mengenai asuransi. Dari dua pengalaman inilah, saya semakin merasakan pentingnya asuransi jiwa untuk perlindungan masa depan:

  1. Sewaktu ayah sakit.

Saya kurang ingat persisnya seperti apa. Yang saya ingat hanya cerita ibu kalau saat almarhum ayah dulu terserang stroke untuk pertama kalinya, simpanan asuransi membantu untuk biaya kesehatan. Selain itu, anak-anaknya juga sempat tertolong secara finansial dari limpahan asuransi beliau dulu.

  • Sewaktu saya sempat kehilangan pekerjaan.

Ada satu masa di mana saya pernah sempat kehilangan pekerjaan. Sembari mencari pekerjaan berikutnya, saya sempat meminta sedikit tabungan asuransi saya dicairkan. Untunglah, tabungan tersebut cukup menyokong saya selama dua bulan hidup sendirian, sebelum akhirnya saya mendapatkan pekerjaan baru lagi.

Sejak dua kejadian tersebut, saya memutuskan untuk lebih mempercayakan investasi saya pada asuransi. Bagi orang awam, asuransi biasanya lebih terfokus pada kesehatan, bahkan terkait kematian. Padahal, banyak hal yang bisa dipelajari dari dunia asuransi.

Sekilas Tentang Asuransi

Dilansir dari Jurnal Ekonomi, Dr. H. Hamzah Ya’cub dalam bukunya yang berjudul “Kode Etik Dagang Menurut Islam”, asuransi berasal dari insurance atau assurance – dua kata dalam bahasa Inggris yang berarti ‘jaminan’. Pasal 246 Kitab Undang-undang Hukum Dagang (KUHD) juga menyebutkan bahwa asuransi adalah:

“Suatu perjanjian, dengan mana seorang penanggung mengikatkan diri kepada seorang tertanggung dengan suatu premi untuk memberikan penggantian kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, yang mungkin akan dideritanya karena suatu peristiwa yang tak tertentu.”

Jenis-jenis Asuransi Secara Umum

Jenis-jenis asuransi secara umum adalah:

  1. Asuransi Jiwa.

Asuransi jenis ini memberikan keuntungan finansial pada yang tertanggung  atas kematian pengaju asuransi. Tergantung penyedia asuransi, ada yang baru bisa dibayarkan sesudah kematian atau menjadi dana menjelang kematian si pengaju asuransi.

  • Asuransi Kesehatan.

Asuransi jenis ini cukup dikenal di Indonesia. Produk asuransi ini menangani masalah  kesehatan pihak tertanggung karena suatu penyakit dan biaya proses perawatan yang dibutuhkan. Umumnya, yang ditanggung terkait dengan cacat, cedera, sakit, hingga kematian karena kecelakaan.

  • Asuransi Pendidikan.

Asuransi jenis ini banyak digunakan oleh orang tua, terutama yang menginginkan masa depan terbaik bagi anak. Nominal biaya pendidikan yang bisa di-cover lewat asuransi jenis ini berbeda-beda, tergantung tingkatan pendidikan.

Ketiga jenis asuransi di atas termasuk yang paling banyak digunakan. Masih banyak juga jenis-jenis asuransi lain, seperti: asuransi kendaraan, asuransi kepemilikan rumah dan properti,  asuransi bisnis, asuransi kredit, asuransi kelautan, dan asuransi perjalanan yang sangat membantu saat traveling.

Berhubung tidak semua orang punya kendaraan, rumah dan properti, atau bisnis, asuransi jiwa, kesehatan, dan pendidikan-lah yang paling banyak peminat. Asuransi perjalanan juga banyak dipakai mereka yang suka dan memang sering traveling, apalagi yang harus ke luar negeri dalam waktu lama. Tapi Anda yang hanya sesekali traveling sebenarnya tetap perlu juga, lho.

Tentang Asuransi di Sequis Life

Sequis Life (atau PT. Asuransi Jiwa Sequis Life) sudah berkontribusi dalam bidang asuransi di Indonesia sejak 1984. Jenis-jenis asuransi yang ditawarkan oleh Sequis Life termasuk:

  • Asuransi jiwa.
  • Asuransi pendidikan.
  • Perlindungan dengan investasi.
  • Dana pensiun.
  • Asuransi kesehatan dan rawat inap.
  • Proteksi penyakit kritis.
  • Proteksi kesehatan wanita.

Setiap orang bisa mendapatkan produk asuransi Sequis Life sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing. Mulai dari yang umum hingga yang paling spesifik, semua ada di Sequis Life. Praktis, Anda bisa menggunakan beragam produk asuransi Sequis Life yang pas dan lengkap untuk seluruh keluarga.

Asuransi Jiwa Sequis Life

Contohnya: asuransi jiwa Sequis. Dengan tagline “WHOLE LIFE”, Sequis Life menawarkan ragam produk asuransi yang cocok untuk diri sendiri maupun keluarga, seperti:

  1. Asuransi Life Plan 100.

Sesuai dengan namanya, produk asuransi ini punya masa pertanggungan hingga 100 tahun. (Memang tidak semua orang dapat hidup selama itu, tapi siapa tahu?) Selain bisa dikombinasikan dengan asuransi tambahan, banyak fasilitas tambahan yang juga bisa dimanfaatkan.

  • Q Smart Life.

Dengan usia masuk 1 hingga 50 tahun, produk asuransi ini juga punya masa pertanggungan hingga 100 tahun. Masa pembayaran premi bisa dipilih: mau yang per sepuluh tahun atau 20 tahun?

  • Financial Smart Life.

Untuk produk asuransi ini, masa pembayaran premi mulai dari sepuluh tahun – dengan uang pertanggungan hingga 250 juta rupiah. Preminya pun bisa murah, yaitu mulai dari Rp2.500 per hari.

  • Q Life Legacy.

Produk asuransi ini termasuk yang paling menguntungkan. Selain perlindungan jiwa hingga 100 tahun, Anda bisa mendapatkan premi tetap dan menentukan masa pembayaran sendiri. Manfaatnya bila Anda meninggal dunia adalah 100 persen. Jadi, keluarga yang Anda tinggalkan dapat terlindungi secara finansial berkat asuransi ini.

Fasilitas Baru Transaksi Asuransi Jiwa Sequis Life

Sejak 2016, Sequis Life sudah menyediakan dua (2) fasilitas baru untuk transaksi asuransi jiwa mereka, yaitu:

Sekarang memang sudah bukan zamannya lagi bawa-bawa duit segepok ke mana-mana, meskipun dalam rangka situasi darurat. Selain berbahaya, Anda jadi kerepotan sendiri menghitung ulang semuanya begitu sampai di tempat pembayaran.

Sequis Life sekarang sudah punya kartu cashless, lho. Dengan kartu asuransi khusus ini, Anda bisa langsung transaksi secara digital untuk biaya perawatan di RS. Dengan menunjukkan kartu ini saat mendaftar untuk perawatan di RS, Anda bisa langsung menikmati layanan berupa cashless health treatment.

Fasilitas e-claim resmi diluncurkan oleh Sequis Life pada 11 Januari 2016. Dengan fasilitas ini, Anda dapat mengajukan klaim asuransi secara digital, baik lewat email, WhatsApp, maupun LINE. Cukup kirim foto dokumen klaim melalui WhatsApp atau LINE dengan nomor (62-0821)10002929 atau eclaim@sequislife.com .

Tentu saja, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Selain pemegang polis atau agen pemegang polis, pihak lain harus mendapatkan izin pemegang polis untuk mengajukan e-claim. Jika eclaim diajukan sebelum pukul 14:00 WIB, maka Anda akan mendapatkan keputusan klaim pada hari itu juga.

Namun, jika diajukan di atas pukul 14:00 WIB atau saat hari libur, keputusan klaim baru akan keluar H+1 hari kerja berikutnya.

Banyak pilihan asuransi yang dapat diambil untuk kesejahteraan Anda. Sequis Life menawarkan ragam produk yang memadai dan menjanjikan.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

Sebelah Mata, Satu Telinga

Sebelah Mata, Satu Telinga

Hanya singkatnya gambaran

yang kau rasa perlukan.

Tak perlu cerita lengkap

atau kau akan tergagap.

Percaya untuk memilih

atau sebaliknya,

memilih untuk percaya?

Tak perlu sedih

akan terlalu banyaknya angkara.

Sebelah mata.

Satu telinga.

Percuma bicara

bila bantahan yang akan selalu ada

meskipun sulit diterima.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

Yang Bisa Saya Pelajari dari Kecopetan Tiga Kali

Yang Bisa Saya Pelajari dari Kecopetan Tiga Kali

“Pada 30 Juli, sekitar jam 8:00 malam di halte Trans-Jakarta Karet-Kuningan, Jakarta Selatan, ada yang berani membuka ritsleting tas ransel gw dan mengambil telepon serta dompet gw. Gw baru sadar sekitar 30 menit kemudian. Nomor telepon gw adalah **-***********.

Kayaknya udah gak mungkin lagi bisa dapet itu dompet sama hape kembali. Jadi gw akan melakukan banyak tindakan prioritas besok, dari mengunjungi kantor polisi ke bank ke posko Trans-Jakarta dengan surat perintah polisi untuk izin menonton rekaman cctv mereka.

Siapa pun yang memiliki dompet dan telepon gw sekarang, bersyukur lo gak perlu berhadapan sama gw.”

Baiklah, saya tahu saya terdengar menakutkan ketika memposting itu di media sosial. Saya kira banyak orang sudah bisa tahu betapa takutnya saya ketika itu terjadi.

Sekadar info, ini adalah ketiga kalinya saya dicopet. Percayalah, ini bukan karena kecerobohan murni saya. Jakarta kejam dalam banyak hal. Singkatnya, izinkan saya menceritakan dua insiden serupa lainnya:

1. Di mal.

Pertama kali saya dicopet adalah di salah satu mal di Jakarta Selatan, sekitar satu dekade yang lalu. (Ya, bisa ketebak usia saya sekarang!) Malam itu dengan Ma, saya mencari sepasang sepatu baru.

Modusnya sama: seseorang menyelinap di belakang, membuka ritsleting tas kecil saya, dan kemudian mengeluarkan dompet saya. Syukurlah, ponsel lama saya sangat kecil dan tepat di bagian bawah tas di dalamnya. Aman, deh.

Tentu saja, saya tidak pernah mendapatkan dompet itu kembali. Saya sangat sedih hari itu, karena itu dompet yang keren banget (dengan gambar-gambar kucing di atasnya) hadiah dari kakak untuk ulang tahun saya. Plus, saya kehilangan foto teman-teman dan saya.

Apa yang paling bikin jengkel? Petugas polisi di kantor polisi dekat dengan rumah waktu itu meminta Rp10.000 (sebagai bagian dari biaya admin) untuknya mengetikkan laporan dompet saya yang hilang. Saya ingat bengong sebelum menjawab: “Pak, saya kehilangan dompet saya. Saya tidak punya uang. ”

Sayangnya, dia tidak peduli. Saya akhirnya menyerahkan kepadanya uang dari Ma … tentu saja dengan cemberut. Benar-benar melindungi dan melayani, ya?

2. Di bus, beberapa tahun kemudian.

Saya lupa tahun berapa, tetapi itu terjadi ketika saya berada di bus – dalam perjalanan ke tempat kerja. Merasa lelah karena kurang tidur, saya tertidur.

Sudah bisa ditebak yang terjadi setelah itu. Saya bangun dan menemukan ritsleting tas saya terbuka … dan dompet saya hilang. Untung bukan ponsel saya. Saya menyimpannya di suatu tempat di kantong bagian dalam tas.

Tetap saja, itu sangat menjengkelkan.

Untungnya, kali ini petugas polisi lebih ramah dan lebih simpatik daripada yang pertama ketika hal yang sama terjadi pada saya.

Sejak itu, saya benci naik bus umum. Trans-Jakarta relatif oke, asalkan penumpang lain nggak bertingkah kayak rombongan binatang liar merangsek masuk bus!

Dua peristiwa itu terjadi ketika saya masih tinggal bersama keluarga. Yang ini berbeda.

Saya sangat ketakutan malam itu. Setelah menenangkan diri, saya menelusuri kembali langkah-langkah saya dan bertanya kepada siapa pun di halte bus terakhir yang saya kunjungi. Tidak beruntung. Saya pulang ke rumah dengan tangan kosong dan penuh amarah.

Pertama, saya meminta semua kartu ATM saya di dompet untuk diblokir – via online. Kemudian saya mengirim email kepada atasan saya untuk izin absen agar dapat mengurus semua laporan yang barang hilang /  dicuri.

Setelah itu, saya memberi tahu siapa pun yang saya pikir perlu saya kabari. Keluarga saya, teman-teman saya, dan bahkan klien lepas saya dan editor saya saat ini. (Saya sedang mengerjakan buku.)

Tentu saja, saya mencoba melakukan beberapa pekerjaan malam itu, tetapi hanya berhasil menyelesaikan sedikit. Terlalu kesal, jadi akhirnya saya malah tertidur lelap.

– *** –

Pagi berikutnya, saya mencoba mencari ponsel melalui Google. Tidak beruntung. Siapa pun yang melakukannya pasti mematikan atau menukar kartu SIM saya. Untuk mengamankan semua data saya, saya menghapus telepon secara digital.

Kemudian saya pergi ke kantor polisi terdekat, yang jauh dari menyenangkan. (Emangnya pernah menyenangkan?)

Sebagai catatan, ini bukan film aksi Hollywood di mana polisi selalu bersedia membantu dengan langsung beraksi. Sama seperti sebelumnya, saya hanya bisa mengajukan laporan dan kemudian … itu saja. Tidak ada lagi. Jangan berharap terlalu banyak.

Mungkin seharusnya saya tidak berharap perlakuan istimewa. Kita berbicara tentang pejabat pemerintah, penegak hukum yang terlalu banyak bekerja, kelelahan, dan mungkin sudah melihat terlalu banyak keburukan di dunia. Tidak heran mereka menjadi skeptis … hampir sinis.

Tidak heran salah seorang petugas di lantai dua, yang telah membaca laporan pertama saya yang dibuat oleh petugas pertama di lantai pertama, mencibir:

“Ini hanya kasus kehilangan BIASA.”

BIASA. Terima kasih banyak. Meremehkan, ya?

Tidak ingin terpengaruh energi negatif mereka, saya meninggalkan kantor polisi dan langsung pergi ke bank. Sepanjang hari, semua yang saya lakukan ibarat tindakan darurat untuk mengatasi kehilangan.

Jangan tanya saya tentang pekerjaan hari itu. Saya mencoba untuk mengejar sebanyak yang saya bisa, bahkan ketika saya tidak pergi bekerja sama sekali. (Terima kasih, kehidupan digital!)

Apa yang saya pelajari dari pengalaman dicopet? Hanya satu, jangan sampai kecopetan. Anda tidak punya pilihan selain berhati-hati dan lebih sadar dengan sekitar. Ini penting, terutama jika Anda sendirian di kota-kota besar.

Jangan berharap terlalu banyak dari penegak hukum setempat. Ini bukan film di mana orang baik selalu menang. Terkadang Anda harus menerima bahwa Anda tidak mendapatkan yang Anda inginkan.

Jika Anda bertanya kepada saya, saya dapat memaafkan tanggapan dingin petugas tersebut – selama polisi lebih memperhatikan kasus-kasus seperti perkosaan, perdagangan manusia, dan pembunuhan. Saya masih tahu cara mendapatkan lebih banyak uang.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Jumawa

Jumawa

Siapa yang mati

dan menobatkanmu sebagai

Sang Ilahi?

Kau buatku geli,

wahai pencari atensi

ingin didengar sepenuh hati

dipuja-puji

setenga-mati

Mungkin ada yang cukup gila

untuk biarkanmu menang

Tiada guna

Kau begitu jumawa

Bila kau memang luar biasa,

kenapa hobi memaksa?

Kenapa begitu keras kepala?

Narcissus era terkini

Tiada cermin yang cukup

Karenamu, semuanya remuk

Otakmu penuh kepercayaan palsu

Padahal kau tidak sesempurna itu

Ayolah,

aku butuh yang lebih lucu

dari semua usaha gagalmu

untuk mengesankanku…

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

Yang Paling Ganggu Dari Pelawak Berlelucon Kasar

Yang Paling Ganggu Dari Pelawak Berlelucon Kasar

Dunia ini penuh dengan pelawak kasar. Mereka ada di mana-mana, termasuk seseorang yang Anda kenal. Mungkin Anda juga salah satunya.

Apa yang salah dengan bercanda? Tidak juga, selama lelucon itu dianggap pantas oleh audiens saat ini dan di waktu yang tepat. Apa yang membuat sebuah lelucon buruk? Ya, kebalikan daripada yang saya bilang barusan.

Jadi, apa yang bikin pelawak kasar itu ganggu banget? Ada jawaban yang di luar dugaan Anda.

Ngerti, kok. Pengen bikin orang terkesan, kan? Senang banget juga kalau kita dianggap lucu. Salah satu cirinya adalah saat mereka tertawa karena lelucon kita.

Namun, tidak semua lelucon itu lucu dan tidak semua orang (bisa jadi) seorang pelawak. Jika orang-orang berpikir terkadang Anda sangat serius, biarkan saja. Sama seperti ketika Anda berpikir mereka pelawak yang buruk. Terus kenapa, Anda dianggap ‘nggak asik’ hanya karena menolak (berpura-pura) menertawakan lelucon konyol mereka? Hanya karena Anda membela diri sendiri, setelah mereka mengolok-olok Anda?

Kebanyakan orang hanya mengidentifikasi pelawak buruk dari konten lelucon mereka. Entah itu lelucon yang hanya mengolok-olok orang tertentu hanya untuk iseng … atau lebih seperti penghinaan yang ‘tersamarkan’.

Sebenarnya, tipe pelawak ganggu lebih dari itu. Mereka sering salah memilih target lelucon mereka. Nggak apa-apa sih, toh pelawak profesional juga pernah salah kayak begini.

Sayangnya, kadang-kadang hanya segelintir orang yang mau belajar dan membuat setidaknya satu perubahan signifikan untuk menjadikan segalanya lebih baik. Yang lain hanya bersikap defensif dan mulai membuat semua alasan payah – didorong oleh ego mereka, atas nama hak pribadi dan superioritas yang memuakkan. Begini deh, teman-teman sekalian, kebiasaan buruk yang kemudian membawa mereka menuju kebiasaan buruk yang lain:

Memaksa orang lain untuk menertawakan lelucon konyol mereka dan menerima mereka apa adanya itu…kasar. Jika Anda memberi tahu mereka dengan jelas seberapa menyinggung lelucon mereka, mereka akan menyebut Anda terlalu sensitif. Mereka akan mengatakan bahwa Anda terlalu serius dan tidak dapat menerima lelucon mereka.

Beberapa dari mereka bahkan lebih lancang lagi. Mereka akan menyuruh Anda supaya bersikap biasa saja dan nggak usah kasar karena lelucon mereka. Bagus banget, ya? Setelah mereka menyinggung, mereka berani mengatur-atur perasaan Anda, supaya mereka tidak perlu merasa tidak enak atau merasa bersalah.

Dengan begitu, mereka tidak perlu meminta maaf. Khas narsis banget.

Harus tahan dengan pelawak ganggu ini adalah tantangan yang tanpa henti. Sangat disayangkan, tapi inilah hidup. Anda tidak pernah dapat benar-benar menghindari orang-orang seperti mereka. Mereka mendapatkan kekuatan mereka dengan menghabiskan energi Anda. Mereka hobi mengolok-olok orang lain lewat pujian palsu mereka.

Dengan begitu, mereka dapat bersikap tidak bersalah dan sok merasa terluka pada saat yang sama ketika orang lain yang mereka targetkan tersinggung oleh yang mereka katakan atau lakukan. Mereka harus memastikan tangan mereka tetap bersih. Intinya (harus) tetap Anda yang (diper)salah(kan).

Pelawak ganggu ada di mana-mana. Satu-satunya hal yang dapat dilakukan adalah membatasi interaksi Anda dengan mereka. Abaikan saja kenyinyiran mereka. Jika mereka mengharapkan – atau menuntut – agar Anda menurut, menertawakan lelucon bodoh mereka hanya untuk menyenangkan mereka, kita tahu siapa yang sebenarnya menyedihkan di sini. Tidak ada yang berhak mengatur-atur perasaan Anda setelah tersinggung.

Merekalah yang harus menjaga mulut dan jari mereka yang jahat. Anda masih suka bercanda, hanya saja bukan yang menyinggung. R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Alien

Alien

Asing di antara sesama

saling tatap curiga

bising tuduhan dan cela

geming tanpa usaha

hening kehilangan kata-kata

keping sisa hati terluka

pusing kepala…

…dan kita tak lagi berdaya,

dipecah, dibelah,

marah-marah,

hingga akhirnya…

…sama-sama kalah…

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

Ada yang Lucu dari ‘Menghamili Perempuan’?

Ada yang Lucu dari ‘Menghamili Perempuan’?

Ada yang lucu dari ‘menghamili perempuan’?

Rasanya emang harus nanya begini. Masalahnya, sudah dua kejadian terkait lelucon tentang ibu hamil yang menurut saya sama sekali nggak lucu:

Contoh kejadian pertama

Kejadian ini dialami oleh teman saya yang sedang hamil anak kedua. Waktu itu, dia naik transportasi publik. Karena sedang penuh, semua kursi terisi oleh penumpang lain. Teman pun memberitahu petugas mengenai kehamilannya pada petugas, sehingga petugas membantunya mencarikan kursi kosong.

“Permisi,” panggil si petugas. “Ada kursi kosong? Ada yang hamil, nih.”

Entah kenapa, mendadak seorang penumpang laki-laki langsung nyeletuk hingga beberapa penumpang lainnya tertawa:

“Kalo yang menghamili ada, nggak?”

Jangan tanya gimana reaksi teman saya waktu itu. Berdasarkan status yang ditulisnya di media sosial, teman mengaku ingin sekali menampar laki-laki yang mulutnya kayak nggak pernah masuk sekolah. Bener-bener nggak sopan!

Anggap saja laki-laki itu beruntung, karena teman saya masih ingat dia lagi hamil. Mana waktu itu juga pas bulan puasa lagi.

Contoh kejadian kedua

Atasan di kantor saya meminta saya mencarikan brand ambassador untuk maternity product klien kami. Dengan memanfaatkan banyaknya grup Whatsapp, saya meminta tolong pada para anggota, salah satunya di grup teman-teman lama. Eh, bukannya langsung dibantuin (atau minimal bilang enggak ada aja kalo memang nggak kenal calon potensial untuk jadi brand ambassador), teman-teman lama malah bercanda.

Bahkan, ada seorang teman laki-laki yang bercanda:

“Ada, tapi sebentar ya…gue hamilin dulu.”

Satu grup tertawa, termasuk anggota yang perempuan. Saya sendiri akhirnya merasa hanya buang-buang waktu meminta tolong sama mereka. Bukannya nggak suka bercanda, tapi ‘kan, ada waktu dan tempat yang tepat. Siapa tahu saat itu saya minta tolong karena sudah terdesak deadline.

Apa sih, yang lucu dari ‘menghamili perempuan’? Kenapa ketawa pas mikirin hal itu?

Saya yakin, kalo kedua laki-laki tadi saya tanya gitu, pasti pada nggak bisa jawab. Paling ngelesnya cuman, “Becanda, gitu aja serius amat.” Atau paling enggak, saya dituduh baperan dan diminta biasa aja, gak usah galak-galak amat alias nge-gas. Biasa banget, ‘kan? Mungkin lain cerita kalo yang negur mereka kebetulan juga sama-sama laki-laki. Gak tau, deh.

“Belum hamil aja udah sensi gini. Gimana entar?”

Padahal, saya yakin mereka udah nggak perlu dikasih tau lagi kalo buat perempuan, hamil ini perkara serius. Ini bukan soal pembuktian bahwa laki-laki yang menghamili mereka nggak masuk kategori MANDUL. Ini soal perubahan drastis dalam setiap aspek kehidupan mereka sebagai perempuan dan manusia.

Nggak hanya secara fisik, hormon juga udah pasti bakal mengubah kondisi psikis perempuan. Kayak teman saya yang tadinya bisa melenggang santai naik transport publik dan gak peduli kalo gak dapet kursi, sekarang mau nggak mau harus duduk. Bukan apa-apa, banyak kasus perempuan hamil kelelahan hingga hampir jatuh pingsan atau punya masalah hernia karena terlalu lama berdiri.

Laki-laki yang nggak pernah harus mengalami semua hal di atas tinggal menjadikan pengalaman menghamili perempuan sebagai bahan bercandaan. Ngakunya memuliakan perempuan, tapi kok gaya bercandanya gini amat, yah?

Jujur, saya bergidik. Tiba-tiba saya membayangkan pelaku pemerkosaan yang akhirnya ‘untung dua kali’ gara-gara kebijakan ‘damai’ maupun ‘menikahkan korban dengan pelaku’ sebagai solusi yang entah kenapa sering banget dipilih masyarakat negeri +62 ini.

Bisa aja ‘kan, laki-laki ini tadinya naksir korban, namun karena ditolak – jadinya dia menempuh jalan biadab ini demi mendapatkan si perempuan dengan cara apa pun? Toh, masyarakat juga masih akan tetap berpihak pada mereka. Korban jadi dipaksa nggak punya pilihan, kecuali ‘diikat’ seumur hidup dalam perkawinan yang sama sekali nggak mereka inginkan. Intinya, masyarakat lebih peduli bahwa korban terlanjur hamil tanpa suami, bukannya korban trauma dengan laki-laki yang memaksa menghamilinya.

Sampai sini, yakin masih ada mau ketawa soal menghamili perempuan?

Saya yakin, yang hobi bercanda soal menghamili perempuan sebenarnya sudah tahu bahwa ada nyawa yang dipertaruhkan di sini. Ya nyawa calon ibu, ya nyawa janin di kandungan. Tapi, mereka ngeh nggak, kalo perempuan masih harus merasakan berbagai kekhawatiran lain? Badan yang berubah, jadi lebih gemuk dan belum tentu bisa langsing lagi serta payudara kendur bikin insecure.

Takutnya, abis itu suami jadi nggak tertarik lagi sama istri…eh, terus cari-cari alasan buat selingkuh atau poligami. Gila, udah bertaruh nyawa demi anak, buntutnya malah ditinggal pergi. Nggak usah mendebat dengan argumen #TidakSemuaLakilaki, karena intinya memang banyak yang model begini. Gak usah berkelit.

Banyak bukti lain yang nunjukin kalo perempuan hamil itu bukan perkara remeh yang bisa dijadiin bahan lelucon, apalagi lelucon model fratboys barusan. Salah satunya soal stunting. Menurut data terkini dari artikel Katadata Januari 2019 kemarin, satu dari tiga bayi di Indonesia berisiko mengalami stunting. Penyebab awalnya dari ibu hamil yang kekurangan gizi. Bukan karena si ibu nggak mau makan makanan yang bergizi, tapi banyak juga yang mengalami kesulitan ekonomi.

Udah gitu, masih risiko disalah-salahin lagi. Ya, gak bisa ngatur duit belanja dari suami, gak ngurusin anak dengan baik. Ih!

Banyak juga perempuan usia remaja yang dipaksa menikah demi menghindari zina. Hamil terlalu muda membuat mereka lebih rentan terkena masalah kesehatan, termasuk risiko keguguran. Eh, lakinya malah cuman bisa bangga karena bisa menghamili yang lebih muda. Apa-apaan, sih?

Bukti terakhir ada di teman saya, Tiar Simorangkir dari @lamhorasproduction . Saat ini Tiar dan teman-temannya sedang merampungkan film dokumenter berjudul “Invisible Hopes”, tentang napi perempuan yang hamil dan terpaksa melahirkan serta membesarkan bayi mereka di penjara. Gak semua beruntung punya keluarga yang mau menampung anak mereka. Ada juga yang terpaksa menyerahkan anak mereka untuk diadopsi.

Mau menghujat perempuannya? Terserah, karena sebenarnya banyak dari mereka yang sebenarnya menjadi korban karena ditipu suami sendiri. Sudah nggak boleh kerja, nggak boleh bantah dan banyak nanya suami, tahunya suami kerja yang nggak halal (kayak jadi bandar narkoba). Begitu dicari-cari polisi, mereka kabur seperti pengecut, membiarkan istri sendiri ditangkap karena narkoba yang ditemukan di rumah mereka.

Lagipula, yang jadi masalah lebih kritis di sini juga kesejahteraan si anak.

Okelah, mungkin yang hobi bercanda soal menghamili perempuan belum sadar kalau itu termasuk pelecehan. Tapi, setelah membaca artikel ini, saya tanya sekali lagi, ya:

Yakin nih, kalau perkara ‘menghamili perempuan’ itu bisa kalian jadiin bahan lucu-lucuan?

R.