Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Masa Lalu, Enyah Kau!

Masa Lalu, Enyah Kau!

Mengapa masih tak tahu malu?

Kamu masih mengincarku

Alasanmu sepanjang kaki seribu

hanya agar aku mau

berserah di ranjangmu

 

Dengan lancang kau sebut aku munafik dan dungu

hanya karena setia pada pilihanku

tidak seperti kau

bermain-main dengan prinsip sesukamu

 

Masih banyak yang mau

buang-buang waktu

hanya untukmu

Aku lebih berharga dari itu

Jangan memaksaku

meski dengan sindiran remeh di mulutmu

 

Enyah kau

Masa lalu harusnya di belakangku

bukan mengejar dan terus mengganggu

 

R.

Categories
#catatan-harian #lomba #menulis #tips

“Yuk, Ikut Melakukan Pencegahan ‘Stunting’ Demi Indonesia Sehat”

“Yuk, Ikut Melakukan Pencegahan ‘Stunting’ Demi Indonesia Sehat”

Sumber: http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/?s=stunting

Sebagai bangsa yang mencintai negerinya, visi menciptakan Indonesia Sehat merupakan keinginan kita. Tentu saja, untuk mewujudkannya juga tidak mudah. Mengingat masih banyak rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan, ada salah satu masalah yang berpotensi menciptakan ‘the lost generation’ atau generasi yang hilang di masa depan. Ya, masalah tersebut bernama ‘stunting’.

Sangat disayangkan bila hingga kini, masih banyak yang belum akrab dengan istilah ini. Tidak perlu menjadi dokter gizi atau ahli kesehatan untuk tahu. Yang diperlukan adalah kepedulian terhadap anak-anak sebagai generasi penerus bangsa. Untuk itu, mari kita lihat dulu sekilas tentang masalah ini.

Sumber: http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/?s=stunting

Sekilas Tentang ‘Stunting’

Bersiaplah, karena definisinya mengerikan. ‘Stunting’ adalah kondisi seorang anak yang kronis akibat sangat kurangnya asupan gizi ke dalam tubuh. Bahkan, stunting sudah mulai terjadi bila sejak dalam kandungan, ibu hamil tidak mendapatkan gizi yang cukup. Sayangnya, kondisi ini baru bisa terdeteksi saat anak menginjak usia dua tahun.

Jangan heran bila menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO atau World Health Organization), Indonesia menempati urutan kelima di dunia untuk kasus ‘stunting’ pada anak. Ini bukan prestasi. Daerah dengan kasus tertinggi masalah ini ada di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Riskesdas saja menyatakan bahwa hampir setengah populasi balita di sana – atau lebih tepatnya sekitar 40.5% – mengalami ‘stunting’.

Yang cukup memprihatinkan, rata-rata nasional kasus ‘stunting’ mencapai angka 37%.

Data WHO cukup mencengangkan: satu dari empat anak di seluruh dunia menderita pertumbuhan yang terhambat alias ‘stunting’. Ini berarti sekitar 178 juta anak yang berusia di bawah lima tahun mengalami pertumbuhan yang super lambat akibat masalah ini.

Ciri-ciri dan Gejala Penderita ‘Stunting’:

UNICEF mwmbagi kasus ‘stunting’ ke dalam dua kategori, yaitu:

  1. Kelas sedang dan berat.

Penderitanya anak-anak berusia 0 hingga 59 bulan, dengan tinggi jauh di bawah rata-rata alias minus.

  1. Kelas kronis.

Penderitanya anak-anak yang tinggi badan mereka di bawah 3 cm (masih di dalam kategori rentang umur yang sama.)

Tidak hanya tinggi badan yang jauh di bawah rata-rata untuk ukuran balita, anak-anak yang menderita ‘stunting’ juga mengalami perkembangan otak yang sangat lambat. Hal ini akan mempengaruhi kesehatan mental mereka serta mengganggu kemampuan belajar dan berprestasi di sekolah.

Beberapa risiko kesehatan lain yang mengintai anak-anak ini nantinya termasuk:

  • Diabetes.
  • Hipertensi.
  • Obesitas.
  • Kematian karena kasus infeksi.

Bayangkan bila jumlah ini bertambah setiap tahunnya. Bukan tidak mungkin lagi negara-negara berkembang (yang mempunyai masalah kemiskinan akut) akan semakin tertinggal dalam pembangunan. Selain berisiko menciptakan ‘the lost generation’, biaya kesehatan yang harus ditanggung pemerintah akan semakin membengkak.

Bagaimana Cara Mengatasi Masalah ‘Stunting’ Pada Anak Balita?

 

Sumber: http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/?s=stunting

Pemerintah Indonesia telah menyerukan ajakan bersama untuk melakukan pencegahan stunting pada anak. Ajakan ini resmi dimulai pada tanggal 16 September 2018 kemarin, tepatnya di Monumen Nasional.

Mengapa hanya mencegah, bukannya sekalian mengobati?

Kabar buruk bagi kita: ‘stunting’ atau terhambatnya tumbuh kembang anak akibat kurang gizi tidak bisa diobati bila sudah terlanjur terjadi. Yang bisa dilakukan hanyalah meminimalisasi kerusakan yang sudah ada. Pastinya, ini penyebab biaya kesehatan membengkak, mengingat ini sama saja dengan perawatan seumur hidup.

Berhubung masalah ini terbukti sudah dimulai sejak bayi masih berada di dalam kandungan, maka fokus pertama adalah ibu-ibu hamil. Bila ibu-ibu hamil tidak mendapatkan akses gizi yang cukup, maka jangan heran bila mereka kesulitan menjaga kesehatan janin di dalam kandungan.

Demi masa depan anak dan untuk mencegah kemungkinan lahirnya ‘the lost generation’ dalam jumlah banyak, sebaiknya kesejahteraan ibu jangan hanya jadi slogan. Sebelum menjadi ibu, setiap anak perempuan juga wajib mendapatkan akses pendidikan dan pekerjaan yang cukup memadai.

Terlepas dari tuduhan sinis seputar feminisme, sesungguhnya masalah ini juga menjadi perhatian para feminis. Inilah sebabnya pendidikan seks untuk remaja yang memadai jangan ditabukan, meski tetap harus disesuaikan dengan perkembangan usia mereka. Justru dengan pengetahuan yang cukup akan menghindari mereka dari hubungan seksual yang tidak aman (dan di luar nikah pula). Sehingga dapat menghindari kehamilan yang tidak direncanakan, apalagi dalam usia yang masih sangat muda (16 tahun ke bawah).

Bukankah jauh lebih aman bila pernikahan terjadi karena kedua belah pihak sudah sama-sama siap, baik secara fisik, materi, hingga emosional? Jadi, perempuan jangan hanya dianggap sebagai sumber fitnah maupun beban ekonomi. Bila tidak ingin mereka jadi beban ekonomi, pastikan mereka mendapatkan pendidikan dan pekerjaan yang baik selain gizi yang cukup.

Pernikahan dini juga rentan dari segi ekonomi, kesiapan mental, psikologis, hingga kesehatan fisik. Kehamilan remaja (dengan organ reproduksi yang belum tentu berfungsi sempurna untuk melahirkan) juga berpotensi menciptakan anak-anak dengan kondisi ‘stunting’. Apalagi bila ibu tidak lagi punya akses ke pendidikan, terutama kesehatan reproduksi dan gizi. Akses ke pekerjaan? Apalagi.

Kemungkinan di atas juga dapat diperparah dengan suami yang berpenghasilan rendah, kurang paham dengan pentingnya gizi bagi ibu hamil dan bayi, belum siap secara mental untuk mengayomi, dan malah tidak peduli.

Sudah banyak pernikahan dini, terutama di kelas ekonomi menengah ke bawah, yang berakhir dengan perceraian atau suami yang kabur untuk kawin lagi. Sementara itu, istri yang ditinggal dalam keadaan hamil atau harus mengurus bayi tidak mendapatkan dukungan berupa akses edukasi, pekerjaan yang mencukupi, dan bantuan mengurus anak selama dia harus bekerja mencari nafkah.

Jadi, jangan heran bila pernikahan dini juga berkontribusi besar dalam menciptakan anak-anak dengan kondisi ‘stunting’.

Setelah gizi ibu hamil tercukupi, barulah fokus ke bayinya saat lahir. Tidak hanya ayah yang berhak makan dengan gizi lengkap, ibu dan anak juga. Itulah cara efektif untuk melakukan pencegahan stunting.

Sumber: http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/?s=stunting

Program Pencegahan ‘Stunting’

Banyak program pencegahan ‘stunting’ yang dapat dilakukan. Tidak hanya pemerintah, keterlibatan masyarakat juga sangat dibutuhkan. Di Indonesia sendiri ada program Kampanye Gizi Nasional (KGN) yang menyasar posyandu-posyandu di Indonesia. Bahkan, para ibu juga diajak turut aktif berpartisipasi dalam penyuluhan, demi pengetahuan dan pelaksanaan program tersebut. Selain itu, tentu saja masih ada imunisasi sebagai perlindungan ekstra pada anak.

Sebagai sesama anak bangsa, kita bisa berpartisipasi mencegah masalah ini dengan beberapa cara sederhana. Selain lebih aktif menyumbang dana bagi kaum yang membutuhkan, sebisa mungkin jangan lagi suka membuang-buang makanan. Daripada tidak mampu menghabiskannya, lebih baik bagi porsinya kepada ibu-ibu dan anak-anak yang kekurangan gizi, namun tidak punya akses ke makanan yang lebih sehat.

Ingin mewujudkan Indonesia Sehat? Jangan sampai ada lagi satu orang anak pun yang menderita ‘stunting’ di negeri ini. Jangan hanya menunggu program dari pemerintah. Kita sebagai warga negara juga bisa terlibat dalam pencegahan ‘stunting’ – sekarang juga.

Sumber:

http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20180916/2427924/27924/

https://www.idntimes.com/hype/fun-fact/siti-anisah-2/fakta-penting-tentang-stunting-yang-wajib-kamu-tahu-c1c2/full

https://lifestyle.kompas.com/read/2017/02/08/100300123/mengenal.stunting.dan.efeknya.pada.pertumbuhan.anak

 

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Surat untuk Hampa

Surat untuk Hampa

Ini saatnya dia menulis surat
kepada siapa, entah untuk apa.
Ada rasa yang gagal tersirat
menguap sia-sia di udara.

Surat itu mungkin akan dia kirimkan
terpampang di dunia maya
satu dari puluhan juta bacaan
mungkin takkan terbaca siapa-siapa.

Mungkin surat itu akan dia simpan
hingga lenyap termakan asa.
Setidaknya rasa itu aman
dari kejamnya cerca dunia.

Untuk apa dia menulis surat itu?
Bukankah akan sia-sia belaka?
Ada yang kerap menikam kalbunya.
Mengapa, bila dia hanya ingin bernapas lega?

Ah, biarkanlah dia menghibur diri
meski kerap terusik tanya tentang cinta sejati…

R.

(Jakarta, 13 Februari 2014) 

Categories
#catatan-harian #menulis

Menulis Sebagai Aksi Anti (Pem)bungkam(an)

Menulis Sebagai Aksi Anti (Pem)bungkam(an)

Wah, apakah saya sedang memberikan pernyataan politis? Pakai istilah ‘anti (pem)bungkam(an)’ segala lagi.

Kenapa semuanya harus serba politis, sih? Padahal, ini perkara umum. Menulis pun bagian dari media komunikasi.

“Kenapa nggak ngomong aja, sih? Apa susahnya? Lagipula, orang Indonesia juga kebanyakan malas baca.”

Nah, justru nggak semua orang fasih berbicara. Ada yang khawatir dan yakin pasti takkan didengar. Selain itu, nggak semua orang Indonesia malas baca, kok.

Karena itulah, budaya menulis masih penting. Sangat malah. Salah satunya, tentu saja, sebagai bagian dari aksi anti (pem)bungkam(an).

Sekian.

R.

 

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Selamat Malam, Ilusi

Selamat Malam, Ilusi

Selamat malam, ilusi.

Hanya saat ini

kubiarkan kau berkuasa di alam mimpi.

Hanya di sana ‘kan kuserahkan diri.

 

Esok pagi, kau harus pergi.

Pergi dan jangan pernah kembali lagi.

Aku lelah kau ganggu berulang-kali.

Di dunia nyata ini,

kau hanya racun yang perlahan membunuh hati.

 

Hidup sudah cukup berat

tanpa hadirmu yang kerap menggugat.

Saatnya menendangmu dari benak,

berhubung aku sudah terlalu muak!

R.

(Jakarta, 13 April 2014)

Categories
#catatan-harian #menulis #tips

5 Kemungkinan Pahit Si Dia yang Anda Kenal Lewat Aplikasi Kencan Malas Lanjut Penjajakan

5 Kemungkinan Pahit Si Dia yang Anda Kenal Lewat Aplikasi Kencan Malas Lanjut Penjajakan

Banyak tips untuk perempuan mengenai cara bersikap, terutama pada laki-laki. Padahal, perempuan juga punya keinginan, berhak didengar, dan dipahami. Mari sama-sama bersikap adil.

Kesal karena sering mengalami hal ini? Baru kenalan dengan perempuan lewat aplikasi kencan. Awalnya hangat, lama-lama kok, dingin? Lalu, tahu-tahu dia ‘menghilang’ begitu saja. Paling parah Anda sampai diblokir atau dilaporkan ke admin segala dengan tuduhan pelecehan.

Nah, sebelum menuduh perempuan itu tukang PHP (pemberi harapan palsu), sok kecantikan, hingga lebay binti baperan (biasa banget, ‘kan?), coba cek dulu lima (5) kemungkinan pahit di bawah ini. Jangan-jangan Anda tanpa sadar melakukannya.

  1. Anda cuek sama profil yang sudah dia bikin dengan susah-payah.

Oke, istilah ‘susah-payah’ mungkin memang agak berlebihan. Tapi, tinggal asal klik ‘like’ sama ‘swipe right’ (geser kanan) hanya karena tertarik dengan foto cantiknya memang gampang.

Padahal, sebuah hubungan serius tidak hanya mengandalkan ketertarikan fisik belaka. Memang, mungkin banyak yang suka berbohong lewat profil mereka, entah soal berat badan atau kesukaan. Tapi, bukan berarti nggak ada yang serius, lho.

Ayolah, era digital jangan dijadikan alasan untuk malas membaca.

  1. Memang belum bertemu yang cocok saja.

Nah, mungkin awalnya kalian baik-baik saja. Setelah beberapa saat, kok chemistry tidak kunjung ada? Belum tentu karena Anda yang dianggap nggak cukup baik atau si dia yang sok laku atau kecakepan.

Ada banyak faktor lain di luar kendali Anda. Visi dan misi yang berbeda. Anda sendiri masih ingin pacaran dulu, sementara dia sudah ingin menikah – atau bahkan sebaliknya. Yang pasti, perasaan juga tidak bisa dipaksa.

  1. Bersikap posesif dan terlalu menuntut macam-macam, termasuk tidak menghargai privasi dan ruang geraknya.

Anda mudah kesal saat dia lama membalas pesan Whatsapp dari Anda. Bahkan, saat jelas hanya dibaca tanpa dibalas seketika, pikiran Anda negatif duluan. Begitu pula dengan telepon dari Anda. Akhir pekan selalu maunya ketemuan, tanpa peduli saat itu dia juga butuh berkumpul bersama keluarga maupun teman-temannya.

Singkat cerita, Anda seakan tidak peduli kalau si dia juga manusia dengan kehidupannya sendiri. Maunya, perhatian si dia hanya tercurah untuk Anda 100%. Lha, Anda siapa? Bahkan, Anda tidak peduli saat dia memberi alasan sedang jam kerja, makanya tidak menjawab telepon atau pesan dari Anda seketika.

Yang paling ganggu, Anda meneleponnya tengah malam. Bukan buat kasih kejutan ultah (padahal resmi jadian saja belum) maupun keperluan mendadak seperti Anda-nya kecelakaan dan minta dijenguk. Mungkin ini hanya dianggap romantis di film-film drama Korea.

Di dunia nyata? GANGGU BANGET. Asli. Ngebet sih, ngebet. Tapi siap-siap aja dijauhin karena jadi terkesan creepy. Nakutin banget. Kayak nggak ada kerjaan lain gitu.

  1. Lupa bahwa masih ada proses penjajakan yang harus dilalui, alias nggak beda sama kenalan lewat dunia nyata.

Jangan mentang-mentang kenalannya lewat aplikasi kencan, maunya semua harus serba cepat. Padahal, ini sama saja dengan kenalan lewat dunia nyata. Ada proses penjajakan yang tetap harus dilalui. Lain cerita sih, kalau Anda dan si dia sudah sama-sama sreg dan mau langsung lanjut serius.

Gambar: https://unsplash.com/photos/z40srU0ugCk
  1. Masih terjebak pola pikir ‘berburu dan menaklukkan’.

Eh, kok mendadak jadi kayak di hutan belantara begini, sih? Coba tanya lagi deh, sama diri sendiri:

Mau cari pasangan hidup – atau berburu hewan langka?

Selain itu, ini dia satu kesalahan klasik yang masih lazim dilakukan banyak orang. Anda lalu berusaha mengubahnya agar sesuai dengan maunya Anda. Contoh: meski menurut Anda cantik dan seru, si dia ternyata tomboi dan suka musik metal. Anda maunya dia lebih feminin sedikit, seperti lebih sering pakai gaun dan mendengarkan lagu pop.

Hah, selamat mencoba. Kalau dia memang ikhlas ingin berubah karena keinginan diri sendiri (dan merasa itu baik), baguslah. Kalau tidak? Ya, siap-siap saja kehilangan. Lucu sekali, bukan? Anda enggan menerima dia apa adanya, sementara dia dituntut untuk selalu mengerti maunya Anda. Standar ganda.

 

Moga-moga sih, lima (5) kemungkinan di atas tidak pernah terjadi dalam usaha Anda mencari pasangan. Kalau sudah terlanjur, Anda bisa bersabar dan introspeksi agar tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi. Semoga jodoh pasti bertemu ya, biar kayak lagunya Afghan.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Aku, di Benakmu

Aku, di Benakmu

Jika benakmu alam raya,
mungkin matamu akan penuh tanya
melihat sosokku yang tidak biasa.

Aku bukanlah planet yang biasa kau huni.
Kau lihat aku berotasi
mengorbitkan diri ke sana kemari,
sesuka hati.

Entah apa aku pernah jadi matahari.
Tak ada yang mengakui,
meski kadang aku bisa menyilaukan setengah-mati.

Apakah aku bulan?
Mungkin juga aku salah satu bintang
atau malah langit malam nan kelam.

Selamat berperang dengan tanya di benakmu.
Kadang, memang tak semua perlu kau tahu!

R.

(Jakarta, 6 April 2014)

 

 

Categories
#catatan-harian #menulis

5 Dampak Seminggu Hidup Tanpa Whatsapp

5 Dampak Seminggu Hidup Tanpa Whatsapp

Ini bukan eksperimen iseng-iseng. Belum lama ini terjadi pada ponsel saya, tanpa unsur kesengajaan apa pun.

Seperti biasa, aplikasi Whatsapp minta diperbarui secara berkala. Sayangnya, ponsel saya sudah sangat tua dan berat. Satu-satunya solusi kilat adalah mengganti kartu SD dengan yang baru.

Karena waktu itu belum ada biaya, maka jadilah saya sempat seminggu hidup tanpa Whatsapp. Dampaknya bisa sampai ada lima (5) :

  1. Ketinggalan info dari grup-grup Whatsapp yang ada.

Nggak bisa dihindari, orang Indonesia banyak yang suka pake aplikasi ini. Udah mudah, fiturnya enak, dan hemat pulsa (terutama pas di daerah yang nggak miskin wifi.) Coba, siapa yang ponselnya ampe berat dan lambat hanya gara-gara kebanyakan grup di Whatsapp?

Tanpa Whatsapp, saya hanya bisa bergantung pada kebaikan anak-anak yang menghubungi saya lewat jalur lain. Ada yang pake LINE, hingga SMS standar. Hihihihi.

  1. Dikira sengaja ‘menghilang’.

Tuduhan ini agak lebay, sih. Saya juga agak kesal dengan yang ujug-ujug ngeluh atau nanya dengan nada menuduh:

“Whatsapp lo aktifin, dong!”

Percaya deh, kalo waktu itu dana udah ada buat ganti kartu SD, saya nggak perlu hidup seminggu tanpa Whatsapp.

  1. Nyaris kehilangan pekerjaan

Hiks, untung setelah saya jelaskan masalahnya, hal itu tidak perlu sampai terjadi.

  1. Jadi tahu yang mana yang beneran peduli.

Kalo dipikir-pikir, manusia kadang lucu. Udah tahu saling terkoneksi lewat lebih dari satu media sosial dan aplikasi chatting. Hanya gara-gara Whatsapp, mereka sempet jadi gegar mendadak dan nggak langsung kepikiran untuk mengontak saya lewat jalur lain.

Untuk yang kepikiran, terima kasih.

  1. Sedikit damai.

Oke, mungkin kejujuran ini terdengar sedikit kejam. Jangan salah, punya grup Whatsapp yang rame asal faedah nggak masalah. Seru juga malah.

Namun, ada kalanya saya ingin beristirahat dengan tenang malam-malam. Untuk itu, beberapa grup Whatsapp yang sering ‘riuh’ pada jam-jam segitu suka saya ‘bisukan’ selama saya tidur.

Yah, itulah yang saya alami selama seminggu tanpa Whatsapp. Kalo Anda gimana?

R.

 

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Sebuah Penantian

Sebuah Penantian

Satu negeri dicekam tegang

menanti sebuah jawaban

harap-harap cemas akan kepastian

bagai riuh bercampur lengang.

 

Mau dibawa kemana kita?

Akankah semua berbeda

ataukah sama saja?

Haruskah kita terus waspada?

 

Wahai, calon pemimpin masa depan negara,

siapa pun Anda,

mohon jangan semena-mena.

Kami sudah muak dengan luka lama.

 

Semoga Anda cukup bijak

untuk tidak asal teriak

atau suka-suka bertindak.

Salah-salah bangsa ini bisa mati sesak!

 

R.

 

 

(Jakarta, 10 Juli 2014)

 

 

Categories
#catatan-harian #menulis

Tentang Nasihat dan Saran Gratis

Tentang Nasihat dan Saran Gratis

“Yeee…maaf deh, kalo kesinggung. Cuman mau kasih saran aja, kok. ‘Kan niatnya baik, mau bantuin.”

Ucapan teman tempo hari sempat membuat saya terdiam. Mau nggak mau saya sempetin mikir juga:

Apa bener, akhir-akhir ini saya jadi begitu mudah tersinggung?

Mungkin, bagi yang tidak (mau?) memahami pandangan berbeda ini akan menganggap saya angkuh dan keras kepala.

Sebenarnya, nggak ada yang salah dengan nasihat dan saran yang gratis. Apalagi bila pemberinya memang berniat baik. Serius.

Lalu, apa masalahnya?

Ada yang bilang, ini tergantung waktu dan tempat. Di sinilah kepekaan kita diuji.

Satu contoh: teman sedang mengalami masalah keuangan, sehingga saat ponselnya bermasalah, dia nggak bisa langsung memperbaikinya. Pastinya, nggak mungkin dong, dia bakal cerita-cerita ke semua orang kalo lagi ada masalah keuangan? Ayolah, yang ada dia disangka ngemis lagi.

Ingat, masih ada harga diri.

Celakanya, saat banyak yang sulit menghubunginya, keluhan mereka hanya satu: oleh: Johnson Wang

“Ganti dong, ponselnya. Jangan kayak orang susah.

Coba bayangin reaksi teman saat membaca pesan semacam itu di medsosnya.

Persis.

Contoh lain lagi: Anda sedang menyetir mobil. Entah karena satu atau lain hal, mobil Anda terpaksa melewati satu gang yang lebar amat juga enggak, tapi nggak bisa dibilang sempit juga. (Kayak lagu dangdut jadul: “Sedang-sedang Saja”.)

Meski sudah berhati-hati sekali, tak ayal musibah kadang susah dihindari.

BRAK! Satu ban depan amblas ke dalam lubang. Mau nggak mau, Anda mematikan mesin dan keluar dari mobil untuk melihat.

Dasar sial.

Para warga setempat berdatangan. Bukannya langsung gotong royong membantu (meskipun pada akhirnya itu yang mereka lakukan, untuk menghindari jalan makin penuh), yang keluar duluan malah ucapan-ucapan seperti:

“Ini gimana kejadiannya? Kok bisa sampe kayak gini?”

“Makanya hati-hati.”

Saya percaya, niat mereka ngomong begini sebenernya baik. Bisa jadi juga karena keceplosan belaka.

Sayangnya, komentar semacam itu sering banget keluar pada saat yang kurang pas. Daripada ngebahas masalah, mending coba cari jalan keluarnya dulu rame-rame, terutama bila waktu mendesak dan akibatnya bisa nyusahin banyak orang.

Percayalah, mungkin mereka yang sedang bermasalah sudah pernah mendengar nasihat yang sama. Bukannya mereka nggak mau dengar. Bisa jadi saat ini mereka sedang berusaha keluar dari masalah, namun nggak butuh tontonan, saran, atau bahkan kritikan.

Ingin lebih peduli? Cari tahu yang benar-benar lagi mereka butuhkan. Mungkin ada yang hanya ingin didengarkan. (Siap-siap sabar aja, ya.) Mungkin mereka juga butuh bantuan nyata, meski kadang terlalu gengsi memintanya. (Ya, gara-gara itu, takut tuduhan mengemis.)

Bila ada, sedang bisa, dan beneran peduli, kenapa enggak? Dampaknya jauh lebih nyata daripada hanya bolak-balik kasih saran, yang sama pula.

Kalo lagi nggak bisa kasih bantuan juga? Ya, nggak apa-apa juga. Doa aja juga boleh. Toh, hasil akhir tetap dari usaha mereka, bantuan yang didapat (termasuk doa), hingga restu Yang Maha Kuasa…

Kalau ternyata saya emang mudah tersinggung akhir-akhir ini, mungkin karena udah banyak lihat kasus yang sama. Tapi, tetep maaf juga, ya.

R.