“Yuk, Aktif Jadi Pendonor Darah untuk #AksiSehatCeria”
Semua pasti sudah tahu, kesehatan adalah anugerah tak terhingga. Bila termasuk yang bugar dan tahu cara menjaga kesehatan, pasti lebih mudah melakukan #AksiSehatCeria. Sebagai rasa syukur atas kesehatan tubuh, boleh dong, berbagi dengan sesama. Tidak perlu uang, bisa juga dengan donor darah.
Sumber: biologimu.com
Nah, apa saja manfaat donor darah? Anda yang bergolongan darah O (universal) adalah pendonor yang paling dibutuhkan, terutama dalam kondisi darurat. Bayangkan banyaknya orang yang dapat tertolong, bahkan yang berbeda golongan darah.
Beberapa manfaatnya pasti sudah Anda ketahui bila sudah rajin melakukannya, yaitu:
Mengurangi kadar zat besi dalam darah dan menyelamatkan kesehatan jantung Anda.
Kelebihan zat besi dalam darah sangat berbahaya bagi jantung, karena menyebabkan kardiovaskular. Jangan sampai Anda mendadak terkena serangan jantung atau stroke, hanya karena jarang – atau malah tidak pernah – menjadi pendonor darah.
Tidak hanya jantung yang selamat, hati pun juga.
Zat besi yang berlebih di dalam darah tidak hanya membahayakan jantung. Organ lain yang terancam olehnya adalah hati. Karena hati berfungsi menetralisir racun, jangan sampai hati teracuni oleh banyaknya zat besi di dalam darah.
Menambah pasokan sel darah merah.
Mungkin sewaktu kecil ada yang pernah takut kehabisan darah hanya gara-gara menjadi pendonor. Padahal, yang terjadi justru sebaliknya. Ibarat daur ulang, darah yang didonorkan akan langsung diganti dengan yang baru berkat fungsi sumsum tulang belakang.
Sebagai program diet yang aman.
Percaya atau tidak, menjadi pendonor darah juga dapat membantu menurunkan berat badan. Yang pasti, bukan berarti Anda harus menguras darah lebih banyak lagi, ya. Cukup 450 ml saja dan 650 kalori sudah bisa dibakar. Ini setara dengan usaha merampingkan pinggang dengan olahraga biasa.
Merasa lebih positif dan bahagia karena bisa membantu sesama.
Beramal tidak melulu dikaitkan dengan uang. Bahkan, manula yang masih rajin jadi pendonor darah (ini dengan catatan kondisi tubuh mereka masih memungkinkan, ya) mengaku merasa lebih sehat, bugar, dan bahagia. Positif sekali, bukan?
Hitung-hitung sekalian tes kesehatan gratis.
Ini berlaku bagi yang suka lupa untuk melakukan medical checkup. Saat mau mendonor darah, sebelumnya Anda akan dites kesehatan dulu. Tes ini untuk menentukan kelayakan kondisi fisik Anda sebagai pendonor darah.
Jika belum sempat melakukan medical checkup, ini dia manfaat donor darah untuk Anda. Anda bisa sekalian memeriksakan diri, terutama mulai dari: nadi, tekanan darah, suhu tubuh, hingga kadar Hb atau Hemoglobin.
Semoga setelah dicek, Anda tidak menemukan beberapa virus penyebab penyakit membahayakan, termasuk: Hepatitis B dan C, HIV, sifilis, dan masih banyak lagi. Bila sampai ada, sayangnya Anda sudah tidak boleh mendonorkan darah lagi.
Menurunkan risiko kanker.
Bagi yang rajin menjadi pendonor darah, Anda bisa sekalian mencegah sel-sel kanker agar tidak berkembang di dalam tubuh.
Lalu, bagaimana cara menjadi pendonor darah yang baik?
Yang pasti, jangan sampai kurang tidur sebelum mendonorkan darah. Sebagai pemilik golongan darah O (universal), saya suka sedih saat ditolak menjadi pendonor hanya gara-gara kurang tidur. Selain itu, perbanyak minuman air putih dan makanan sehat (jangan yang berlemak seperti menu cepat saji dan es krim).
Menu seperti daging merah dan sayuran yang kaya akan zat besi sangat penting bagi pendonor darah.
Khusus perempuan usia produktif dan subur: pastikan tidak sedang datang bulan, karena termasuk yang dilarang untuk mendonorkan darah. Jika sudah selesai, beri jeda minimal seminggu sebelum boleh menjadi pendonor darah.
Jangan lupa, pakailah baju yang lengannya mudah digulung untuk mempermudah proses pendonoran darah.
Selesai mendonorkan darah, bangunlah ke posisi duduk pelan-pelan. Jangan langsung memaksakan diri bila merasa pusing atau mual. Tunggulah lima jam sebelum melepas perban. Angkat lengan lebih tinggi bila darah masih keluar dan tekan sampai pendarahan berhenti.
Kompres es selama 24 jam setelah perban dibuka dapat mengurangi nyeri pada luka terbuka. Bila masih nyeri, ganti dengan kompres air hangat.
Tuh, manfaat donor darah ternyata banyak, lho. Ingin melakukan #AksiSehatCeria lainnya? Cek saja DokterSehat untuk inspirasi Anda.
Satu malam, saya pergi ke sebuah warung indomie dan roti bakar. Saat itu memang sedang cukup ramai, sehingga butuh waktu agak lama untuk mendapatkan roti bakar cokelat favorit saya.
Malam itu, saya duduk di antara dua pengunjung yang kebetulan sama-sama menjengkelkan. Lelaki besar di samping kanan saya merokok sambil bercanda dengan teman-teman se-gengnya. Tidak masalah sih, namun nggak perlulah sampai harus heboh menggebrak-gebrak meja beberapa kali.
Sialnya, lelaki itu tidak peduli saat saya meliriknya dengan tatapan sinis, sambil berusaha memastikan teh hangat saya tidak tumpah oleh ulahnya. Apalagi, kaki mejanya juga sudah agak reyot. Dasar sial, lelaki itu malah balas melirik saya dengan ekspresi terganggu. Huh!
Awalnya, saya kira perempuan di samping saya masih mendingan. Namun, telinga saya langsung sakit seketika saat dia bercanda dengan teman lelakinya yang duduk pas di depannya. Sepertinya mereka sedang membahas teman mereka yang juga seorang lelaki, hingga tahu-tahu perempuan itu mencela dan menakut-nakuti sambil tertawa:
“Jangan mau dateng sendirian ke rumah cowok itu kalo diundang. Ntar diperkosa, lho!”
Entah apa mereka sedang mengejek teman lelaki mereka yang mungkin termasuk kategori LGBT. Yang pasti, saat itu juga saya gatal ingin langsung menegur:
“Pemerkosaan bukan bahan bercandaan, Mbak!”
Sayangnya, saya bukan orang yang mudah mau ribut sama orang yang nggak dikenal, bahkan meskipun saya yakin saya benar. Dengan miris saya harus menerima, bahwa masih banyak sekali manusia Indonesia yang nggak peka. Nggak lelaki maupun perempuan. Masih banyak yang berasumsi bahwa korban pemerkosaan pasti HANYA perempuan.
Kalau sampai lelaki jadi korban pemerkosaan, pasti gara-gara LGBT. Pasti gara-gara lelakinya lemah sehingga tidak bisa melawan.
Pokoknya, di benak mereka, motif pemerkosaan pasti dan selalu seksual. Padahal, jelas-jelas karena relasi kuasa.
Saya harap banyak yang mau lebih membuka mata, hati, dan berempati. Bukan, bukan meminta untuk mengasihani mereka, seolah-olah mereka sudah tidak berharga lagi.
Cobalah mendengarkan cerita mereka tanpa interupsi. Kurangi menghakimi. Apa pun yang pernah mereka alami, mereka masih manusia berharga yang berhak untuk hidup bahagia.
Tidak ada yang minta diperkosa. Tidak ada yang lucu juga dari tindakan kekerasan, tak terkecuali secara seksual. Bayangkan Anda dipaksa melakukan sesuatu oleh orang lain dengan ancaman dan hinaan, hanya karena mereka merasa bisa dan berkuasa.
Bayangkan tubuh, jiwa, pikiran, dan perasaan Anda dijajah dan disakiti sedemikian rupa, hanya demi kesenangan mereka. Bayangkan perjuangan mereka untuk merebut hidup kembali. Transisi dari merasa jijik, kotor, malu, dan bersalah – menuju benci dan amarah – hingga usaha berdamai dengan diri sendiri.
Tidak bisa atau tidak mau membayangkan? Ya, sudah. Saya juga tidak mau memaksa. Namun, jadilah manusia yang baik dengan tidak lagi menertawakan penderitaan sesama. Sekali lagi, jangan jadikan pemerkosaan, pelecehan seksual, dan isu kekerasan lainnya sebagai bahan bercandaan.
Buat yang berprofesi sebagai komedian, semoga bisa mencari topik yang lebih cerdas dan tidak menyakiti perasaan sesama, ya. Saya tahu, profesi Anda harus selalu punya bahan bercandaan yang up-to-date atau sebisa mungkin lebih kekinian.
Kalau sudah kehabisan bahan, mungkin bisa beralih profesi. Pasti juga sudah pada tahu ‘kan, pepatah ini?
“Diam saja bila tidak yakin bisa berbicara yang baik.”
Masa perlu menunggu jadi korban dulu supaya tahu? Saya yakin Anda tidak ada yang mau.
Hah, untung di mananya? Bukankah tukang nyinyir itu lebih banyak menuai masalah, ya? Percaya atau tidak, ternyata beneran ada keuntungan bagi orang yang hobi mengomentari segala sesuatu atau setiap orang dengan pedas. Bisa sampai lima (5) lagi. Serius.
Nah, inilah lima (5) keuntungan jadi tukang nyinyir:
Lebih kreatif dalam menyentil pihak tertentu yang enggan menerima ‘kebenaran pahit’ dari Anda.
Mungkin ini salah satu hal yang paling dipercaya mereka yang masuk ke dalam kategori ini. Mereka yakin peran mereka di dunia ini adalah menyampaikan kejujuran, sepahit apa pun itu. Kalau sudah bicara baik-baik namun yang bersangkutan tidak terima, mereka masih punya cara lain.
Hasilnya? Bisa jadi yang disindir makin tidak terima dan melawan. Namun, jangan-jangan yang hobi nyinyir memang tidak berani terus terang sama yang mereka mau sindir. Hmm…
Berbagi pahala. (Semoga, ya.)
Wah, karena saya bukan orang yang tepat untuk berasumsi soal pahala dan dosa, makanya saya tambahkan selipan “Semoga, ya” di atas. Hehehe.
Hmm, mungkin beberapa pihak yang masih berbaik hati “mengingatkan” si tukang nyinyir termasuk yang bisa mendapatkan pahala. (Mungkin lho, ya.)
“Udah, nggak usah terlalu ngurusin orang lain. Toh, udah pada gede dan tau konsekuensi tindakan sendiri.”
“Mbok ya, mulai kurang-kurangin dong, ghibah-nya. Apalagi di medsos. Emang situ udah sempurna apa?”
“Kalo nggak suka ‘kan bisa ngomong langsung baik-baik, nggak usah nyinyir kayak gini?”
Lalu, bagaimana dengan si tukang nyinyir sendiri? Dapat pahala juga nggak, ya? Wah, kalau itu jangan tanya saya. Bilang saya ‘semoga’, bila niatnya memang hanya ingin menyampaikan kebenaran pahit, meski caranya asli julid bikin perut melilit.
Gambar: https://unsplash.com/photos/RdmLSJR-tq8
Minimal paham sedikit job desc-nya Malaikat Atid (pencatat amal buruk alias dosa).
Yah, meskipun dalam hal ini, fokusnya masih lebih banyak ke dosa-dosa yang dilakukan orang lain. Dosa-dosa sendiri? Mana sempat, hihihihi…
Lebih cepat mendapatkan perhatian (terutama dari pihak yang tersindir).
Semua yang punya hobi nyinyir – terutama di media sosial – pasti sudah hapal risiko ini. Sama seperti skandal atau tragedi, topik sindiran pasti langsung mendapatkan perhatian. Ragam reaksi pasti juga ada, banyak malah.
Yang pasti, terutama dari pihak yang merasa tersindir. Sisanya paling hanya mereka yang cari hiburan gratis sekaligus baru belajar realita hidup. (Jiahh, bahasanya!) Ya, ibarat saksi-saksi mata namun juga bisu (kecuali bila mereka sedang bergosip dengan sesamanya soal topik sindiran si tukang nyinyir.)
Kedua belah pihak berada pada posisi ‘cukup sama-sama tahu’.
Menurut tukang nyinyir, minimal sudah ketahuan mana yang keras kepala dan mana yang baperan. Menurut pihak yang tersindir (apalagi sampai berkali-kali), lain kali mereka tidak perlu terlalu banyak bercerita pada yang suka nyinyir. Bahkan, kalau perlu tidak usah bercerita apa-apa sekalian.
Nggak cerita apa-apa juga sama, tetap jadi bahan sindiran. (Kalau ini mah, sentimen akut namanya.)
Jadi, itulah lima (5) keuntungan jadi tukang nyinyir. Ada tambahan lain, mungkin?
Sumber: https://unsplash.com/photos/6bKpHAun4d8 oleh Toa Heftiba
“Budak Statistik Sosial: Tentang Persepsi, Generalisasi, dan Stigmatisasi”
Statistik ada karena penelitian. Statistik dibuat oleh manusia. Mereka ada untuk mengidentifikasi masalah, menemukan solusi, dan menemukan fakta atau temuan ilmiah dan sosial.
Sebagai contoh: di Indonesia, lebih banyak mahasiswa di fakultas teknik, sedangkan mahasiswi sebagian besar di fakultas sastra. Kebanyakan perempuan menghabiskan lebih banyak waktu untuk berbelanja, sementara laki-laki hanya membeli yang mereka butuhkan.
Baik secara langsung atau tidak, statistik sosial seperti ini membentuk persepsi kita. Salah satunya termasuk lebih mudah percaya dengan suara mayoritas.
Generalisasi
Lalu apa yang membuat seseorang menjadi budak statistik sosial? Pertama-tama, tidak ada yang salah dengan meyakini statistik. Statistik tidak berbohong. Anggap saja sebagai petunjuk ketika Anda menghadapi subjek yang sama di lain waktu.
Sayangnya, beberapa orang cenderung menjadi budak statistik sosial. Salah satu gejalanya adalah betapa mudah bagi mereka untuk menyamaratakan semuanya.
Misalnya: Saya secara pribadi malu untuk mengakui bahwa ya, orang Indonesia telah dikenal sebagai ‘jam karet’. Mintalah mereka ketemuan pukul tujuh dan mereka mungkin akan muncul setidaknya 30 menit kemudian. Yang terburuk mungkin mereka yang datang dengan permintaan maaf ‘ala kadarnya’ atau tidak sama sekali. Hanya cengar-cengir tanda senewen.
Tidak heran ada yang kagum ketika saya datang tepat waktu atau lebih awal. Masih ada lebih banyak lagi.
Banyak yang agak kaget begitu tahu saya tidak suka memakai make-up dan belanja. Jika ingin melihat saya lebih ‘dandan’, tunggu saja sampai saya datang ke pernikahan. Saya juga hanya berbelanja sesuai kebutuhan. Rasanya percuma bicara ketika komentar paling umum yang saya dapatkan adalah:
“Kamu orang Indonesia yang aneh.”
“Elo aneh. Bukankah perempuan biasanya … “
Tuh, ‘kan?
Stigmatisasi
Apa yang salah dengan generalisasi? Tidak ada. Namanya juga reaksi manusia normal. Karena mengandalkan statistik dan yang biasanya kita lihat setiap hari, kita cenderung merasa lebih aman dengan cara itu. Setidaknya kita tahu sesuatu yang umum tentang orang berjenis kelamin ini atau ras itu, hewan dari spesies tertentu, produk yang terbuat dari bahan-bahan ini-itu, dan sebagainya.
Merasa kaget dan agak terkejut ketika tahu bahwa beberapa dari mereka mungkin sedikit berbeda juga normal. Berikut contoh lain berdasarkan pengalaman pribadi saya:
Beberapa lelaki Indonesia masih terkejut ketika tahu saya juga mendengarkan heavy metal. Langsung saya dicap ‘tomboy’. Seorang rekan lelaki saat itu bahkan seperti tidak terima sehingga sampai berkomentar begini:
“Lo ‘kan cewek. Harusnya dengerin grup-grup pop menye-menye, seperti boyband atau semacamnya. ”
Yah, saya juga mendengarkan musik seperti itu sih, namun bukan itu intinya. Siapa dia, mengatur-atur saya harus mendengarkan musik apa?
Menggeneralisir adalah reaksi spontan yang normal. Sayangnya, reaksi ini jadi tidak asyik begitu berubah menjadi stigmatisasi. Berdasarkan contoh sebelumnya, melihat sesuatu yang berbeda selalu membuat kita merasa tidak aman – bahkan cenderung mengancam bagi sebagian orang. Dunia terasa jauh lebih aman ketika semuanya berjalan sesuai dengan yang selalu kita tahu dan yakini. Bukannya yang tidak bisa ditebak.
“Kenapa cewek suka heavy metal? Bukankah itu terlalu keras untuk telinga sensitif mereka? ”
“Kenapa cowok tidak suka olahraga? Kamu cowok atau bukan, sih? ”
“Produk ini tidak apa-apa, kok. Kamu saja yang aneh sendiri. “
Sekadar mengingatkan, statistik sosial itu bikinan manusia. Yang membuat kita rentan jadi budak statistik sosial adalah ketika kita memilih untuk hanya peduli pada suara mayoritas. Mereka menjadi satu-satunya suara yang kita dengarkan dan percaya dengan sepenuh hati. Yang berbeda itu aneh. Harusnya mereka semua (setidaknya mencoba) menyesuaikan diri. Pengalaman pribadi mereka (dianggap) tidak relevan.
Di masyarakat, orang berbeda dan mampu berevolusi secara alami, bukan oleh tuntutan sosial. Akan selalu ada statistik sosial baru yang mungkin menyanggah statistik sosial sebelumnya. Siap-siap saja.
Bagaimanapun, kita tidak selalu tahu (dan memahami) segalanya.
Sebagai bangsa yang mencintai negerinya, visi menciptakan Indonesia Sehat merupakan keinginan kita. Tentu saja, untuk mewujudkannya juga tidak mudah. Mengingat masih banyak rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan, ada salah satu masalah yang berpotensi menciptakan ‘the lost generation’ atau generasi yang hilang di masa depan. Ya, masalah tersebut bernama ‘stunting’.
Sangat disayangkan bila hingga kini, masih banyak yang belum akrab dengan istilah ini. Tidak perlu menjadi dokter gizi atau ahli kesehatan untuk tahu. Yang diperlukan adalah kepedulian terhadap anak-anak sebagai generasi penerus bangsa. Untuk itu, mari kita lihat dulu sekilas tentang masalah ini.
Bersiaplah, karena definisinya mengerikan. ‘Stunting’ adalah kondisi seorang anak yang kronis akibat sangat kurangnya asupan gizi ke dalam tubuh. Bahkan, stunting sudah mulai terjadi bila sejak dalam kandungan, ibu hamil tidak mendapatkan gizi yang cukup. Sayangnya, kondisi ini baru bisa terdeteksi saat anak menginjak usia dua tahun.
Jangan heran bila menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO atau World Health Organization), Indonesia menempati urutan kelima di dunia untuk kasus ‘stunting’ pada anak. Ini bukan prestasi. Daerah dengan kasus tertinggi masalah ini ada di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Riskesdas saja menyatakan bahwa hampir setengah populasi balita di sana – atau lebih tepatnya sekitar 40.5% – mengalami ‘stunting’.
Yang cukup memprihatinkan, rata-rata nasional kasus ‘stunting’ mencapai angka 37%.
Data WHO cukup mencengangkan: satu dari empat anak di seluruh dunia menderita pertumbuhan yang terhambat alias ‘stunting’. Ini berarti sekitar 178 juta anak yang berusia di bawah lima tahun mengalami pertumbuhan yang super lambat akibat masalah ini.
Ciri-ciri dan Gejala Penderita ‘Stunting’:
UNICEF mwmbagi kasus ‘stunting’ ke dalam dua kategori, yaitu:
Kelas sedang dan berat.
Penderitanya anak-anak berusia 0 hingga 59 bulan, dengan tinggi jauh di bawah rata-rata alias minus.
Kelas kronis.
Penderitanya anak-anak yang tinggi badan mereka di bawah 3 cm (masih di dalam kategori rentang umur yang sama.)
Tidak hanya tinggi badan yang jauh di bawah rata-rata untuk ukuran balita, anak-anak yang menderita ‘stunting’ juga mengalami perkembangan otak yang sangat lambat. Hal ini akan mempengaruhi kesehatan mental mereka serta mengganggu kemampuan belajar dan berprestasi di sekolah.
Beberapa risiko kesehatan lain yang mengintai anak-anak ini nantinya termasuk:
Diabetes.
Hipertensi.
Obesitas.
Kematian karena kasus infeksi.
Bayangkan bila jumlah ini bertambah setiap tahunnya. Bukan tidak mungkin lagi negara-negara berkembang (yang mempunyai masalah kemiskinan akut) akan semakin tertinggal dalam pembangunan. Selain berisiko menciptakan ‘the lost generation’, biaya kesehatan yang harus ditanggung pemerintah akan semakin membengkak.
Bagaimana Cara Mengatasi Masalah ‘Stunting’ Pada Anak Balita?
Pemerintah Indonesia telah menyerukan ajakan bersama untuk melakukan pencegahan stunting pada anak. Ajakan ini resmi dimulai pada tanggal 16 September 2018 kemarin, tepatnya di Monumen Nasional.
Mengapa hanya mencegah, bukannya sekalian mengobati?
Kabar buruk bagi kita: ‘stunting’ atau terhambatnya tumbuh kembang anak akibat kurang gizi tidak bisa diobati bila sudah terlanjur terjadi. Yang bisa dilakukan hanyalah meminimalisasi kerusakan yang sudah ada. Pastinya, ini penyebab biaya kesehatan membengkak, mengingat ini sama saja dengan perawatan seumur hidup.
Berhubung masalah ini terbukti sudah dimulai sejak bayi masih berada di dalam kandungan, maka fokus pertama adalah ibu-ibu hamil. Bila ibu-ibu hamil tidak mendapatkan akses gizi yang cukup, maka jangan heran bila mereka kesulitan menjaga kesehatan janin di dalam kandungan.
Demi masa depan anak dan untuk mencegah kemungkinan lahirnya ‘the lost generation’ dalam jumlah banyak, sebaiknya kesejahteraan ibu jangan hanya jadi slogan. Sebelum menjadi ibu, setiap anak perempuan juga wajib mendapatkan akses pendidikan dan pekerjaan yang cukup memadai.
Terlepas dari tuduhan sinis seputar feminisme, sesungguhnya masalah ini juga menjadi perhatian para feminis. Inilah sebabnya pendidikan seks untuk remaja yang memadai jangan ditabukan, meski tetap harus disesuaikan dengan perkembangan usia mereka. Justru dengan pengetahuan yang cukup akan menghindari mereka dari hubungan seksual yang tidak aman (dan di luar nikah pula). Sehingga dapat menghindari kehamilan yang tidak direncanakan, apalagi dalam usia yang masih sangat muda (16 tahun ke bawah).
Bukankah jauh lebih aman bila pernikahan terjadi karena kedua belah pihak sudah sama-sama siap, baik secara fisik, materi, hingga emosional? Jadi, perempuan jangan hanya dianggap sebagai sumber fitnah maupun beban ekonomi. Bila tidak ingin mereka jadi beban ekonomi, pastikan mereka mendapatkan pendidikan dan pekerjaan yang baik selain gizi yang cukup.
Pernikahan dini juga rentan dari segi ekonomi, kesiapan mental, psikologis, hingga kesehatan fisik. Kehamilan remaja (dengan organ reproduksi yang belum tentu berfungsi sempurna untuk melahirkan) juga berpotensi menciptakan anak-anak dengan kondisi ‘stunting’. Apalagi bila ibu tidak lagi punya akses ke pendidikan, terutama kesehatan reproduksi dan gizi. Akses ke pekerjaan? Apalagi.
Kemungkinan di atas juga dapat diperparah dengan suami yang berpenghasilan rendah, kurang paham dengan pentingnya gizi bagi ibu hamil dan bayi, belum siap secara mental untuk mengayomi, dan malah tidak peduli.
Sudah banyak pernikahan dini, terutama di kelas ekonomi menengah ke bawah, yang berakhir dengan perceraian atau suami yang kabur untuk kawin lagi. Sementara itu, istri yang ditinggal dalam keadaan hamil atau harus mengurus bayi tidak mendapatkan dukungan berupa akses edukasi, pekerjaan yang mencukupi, dan bantuan mengurus anak selama dia harus bekerja mencari nafkah.
Jadi, jangan heran bila pernikahan dini juga berkontribusi besar dalam menciptakan anak-anak dengan kondisi ‘stunting’.
Setelah gizi ibu hamil tercukupi, barulah fokus ke bayinya saat lahir. Tidak hanya ayah yang berhak makan dengan gizi lengkap, ibu dan anak juga. Itulah cara efektif untuk melakukan pencegahan stunting.
Banyak program pencegahan ‘stunting’ yang dapat dilakukan. Tidak hanya pemerintah, keterlibatan masyarakat juga sangat dibutuhkan. Di Indonesia sendiri ada program Kampanye Gizi Nasional (KGN) yang menyasar posyandu-posyandu di Indonesia. Bahkan, para ibu juga diajak turut aktif berpartisipasi dalam penyuluhan, demi pengetahuan dan pelaksanaan program tersebut. Selain itu, tentu saja masih ada imunisasi sebagai perlindungan ekstra pada anak.
Sebagai sesama anak bangsa, kita bisa berpartisipasi mencegah masalah ini dengan beberapa cara sederhana. Selain lebih aktif menyumbang dana bagi kaum yang membutuhkan, sebisa mungkin jangan lagi suka membuang-buang makanan. Daripada tidak mampu menghabiskannya, lebih baik bagi porsinya kepada ibu-ibu dan anak-anak yang kekurangan gizi, namun tidak punya akses ke makanan yang lebih sehat.
Ingin mewujudkan Indonesia Sehat? Jangan sampai ada lagi satu orang anak pun yang menderita ‘stunting’ di negeri ini. Jangan hanya menunggu program dari pemerintah. Kita sebagai warga negara juga bisa terlibat dalam pencegahan ‘stunting’ – sekarang juga.