Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Surat untuk Hampa

Surat untuk Hampa

Ini saatnya dia menulis surat
kepada siapa, entah untuk apa.
Ada rasa yang gagal tersirat
menguap sia-sia di udara.

Surat itu mungkin akan dia kirimkan
terpampang di dunia maya
satu dari puluhan juta bacaan
mungkin takkan terbaca siapa-siapa.

Mungkin surat itu akan dia simpan
hingga lenyap termakan asa.
Setidaknya rasa itu aman
dari kejamnya cerca dunia.

Untuk apa dia menulis surat itu?
Bukankah akan sia-sia belaka?
Ada yang kerap menikam kalbunya.
Mengapa, bila dia hanya ingin bernapas lega?

Ah, biarkanlah dia menghibur diri
meski kerap terusik tanya tentang cinta sejati…

R.

(Jakarta, 13 Februari 2014) 

Categories
#catatan-harian #menulis

Menulis Sebagai Aksi Anti (Pem)bungkam(an)

Menulis Sebagai Aksi Anti (Pem)bungkam(an)

Wah, apakah saya sedang memberikan pernyataan politis? Pakai istilah ‘anti (pem)bungkam(an)’ segala lagi.

Kenapa semuanya harus serba politis, sih? Padahal, ini perkara umum. Menulis pun bagian dari media komunikasi.

“Kenapa nggak ngomong aja, sih? Apa susahnya? Lagipula, orang Indonesia juga kebanyakan malas baca.”

Nah, justru nggak semua orang fasih berbicara. Ada yang khawatir dan yakin pasti takkan didengar. Selain itu, nggak semua orang Indonesia malas baca, kok.

Karena itulah, budaya menulis masih penting. Sangat malah. Salah satunya, tentu saja, sebagai bagian dari aksi anti (pem)bungkam(an).

Sekian.

R.

 

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Selamat Malam, Ilusi

Selamat Malam, Ilusi

Selamat malam, ilusi.

Hanya saat ini

kubiarkan kau berkuasa di alam mimpi.

Hanya di sana ‘kan kuserahkan diri.

 

Esok pagi, kau harus pergi.

Pergi dan jangan pernah kembali lagi.

Aku lelah kau ganggu berulang-kali.

Di dunia nyata ini,

kau hanya racun yang perlahan membunuh hati.

 

Hidup sudah cukup berat

tanpa hadirmu yang kerap menggugat.

Saatnya menendangmu dari benak,

berhubung aku sudah terlalu muak!

R.

(Jakarta, 13 April 2014)

Categories
#catatan-harian #menulis #tips

5 Kemungkinan Pahit Si Dia yang Anda Kenal Lewat Aplikasi Kencan Malas Lanjut Penjajakan

5 Kemungkinan Pahit Si Dia yang Anda Kenal Lewat Aplikasi Kencan Malas Lanjut Penjajakan

Banyak tips untuk perempuan mengenai cara bersikap, terutama pada laki-laki. Padahal, perempuan juga punya keinginan, berhak didengar, dan dipahami. Mari sama-sama bersikap adil.

Kesal karena sering mengalami hal ini? Baru kenalan dengan perempuan lewat aplikasi kencan. Awalnya hangat, lama-lama kok, dingin? Lalu, tahu-tahu dia ‘menghilang’ begitu saja. Paling parah Anda sampai diblokir atau dilaporkan ke admin segala dengan tuduhan pelecehan.

Nah, sebelum menuduh perempuan itu tukang PHP (pemberi harapan palsu), sok kecantikan, hingga lebay binti baperan (biasa banget, ‘kan?), coba cek dulu lima (5) kemungkinan pahit di bawah ini. Jangan-jangan Anda tanpa sadar melakukannya.

  1. Anda cuek sama profil yang sudah dia bikin dengan susah-payah.

Oke, istilah ‘susah-payah’ mungkin memang agak berlebihan. Tapi, tinggal asal klik ‘like’ sama ‘swipe right’ (geser kanan) hanya karena tertarik dengan foto cantiknya memang gampang.

Padahal, sebuah hubungan serius tidak hanya mengandalkan ketertarikan fisik belaka. Memang, mungkin banyak yang suka berbohong lewat profil mereka, entah soal berat badan atau kesukaan. Tapi, bukan berarti nggak ada yang serius, lho.

Ayolah, era digital jangan dijadikan alasan untuk malas membaca.

  1. Memang belum bertemu yang cocok saja.

Nah, mungkin awalnya kalian baik-baik saja. Setelah beberapa saat, kok chemistry tidak kunjung ada? Belum tentu karena Anda yang dianggap nggak cukup baik atau si dia yang sok laku atau kecakepan.

Ada banyak faktor lain di luar kendali Anda. Visi dan misi yang berbeda. Anda sendiri masih ingin pacaran dulu, sementara dia sudah ingin menikah – atau bahkan sebaliknya. Yang pasti, perasaan juga tidak bisa dipaksa.

  1. Bersikap posesif dan terlalu menuntut macam-macam, termasuk tidak menghargai privasi dan ruang geraknya.

Anda mudah kesal saat dia lama membalas pesan Whatsapp dari Anda. Bahkan, saat jelas hanya dibaca tanpa dibalas seketika, pikiran Anda negatif duluan. Begitu pula dengan telepon dari Anda. Akhir pekan selalu maunya ketemuan, tanpa peduli saat itu dia juga butuh berkumpul bersama keluarga maupun teman-temannya.

Singkat cerita, Anda seakan tidak peduli kalau si dia juga manusia dengan kehidupannya sendiri. Maunya, perhatian si dia hanya tercurah untuk Anda 100%. Lha, Anda siapa? Bahkan, Anda tidak peduli saat dia memberi alasan sedang jam kerja, makanya tidak menjawab telepon atau pesan dari Anda seketika.

Yang paling ganggu, Anda meneleponnya tengah malam. Bukan buat kasih kejutan ultah (padahal resmi jadian saja belum) maupun keperluan mendadak seperti Anda-nya kecelakaan dan minta dijenguk. Mungkin ini hanya dianggap romantis di film-film drama Korea.

Di dunia nyata? GANGGU BANGET. Asli. Ngebet sih, ngebet. Tapi siap-siap aja dijauhin karena jadi terkesan creepy. Nakutin banget. Kayak nggak ada kerjaan lain gitu.

  1. Lupa bahwa masih ada proses penjajakan yang harus dilalui, alias nggak beda sama kenalan lewat dunia nyata.

Jangan mentang-mentang kenalannya lewat aplikasi kencan, maunya semua harus serba cepat. Padahal, ini sama saja dengan kenalan lewat dunia nyata. Ada proses penjajakan yang tetap harus dilalui. Lain cerita sih, kalau Anda dan si dia sudah sama-sama sreg dan mau langsung lanjut serius.

Gambar: https://unsplash.com/photos/z40srU0ugCk
  1. Masih terjebak pola pikir ‘berburu dan menaklukkan’.

Eh, kok mendadak jadi kayak di hutan belantara begini, sih? Coba tanya lagi deh, sama diri sendiri:

Mau cari pasangan hidup – atau berburu hewan langka?

Selain itu, ini dia satu kesalahan klasik yang masih lazim dilakukan banyak orang. Anda lalu berusaha mengubahnya agar sesuai dengan maunya Anda. Contoh: meski menurut Anda cantik dan seru, si dia ternyata tomboi dan suka musik metal. Anda maunya dia lebih feminin sedikit, seperti lebih sering pakai gaun dan mendengarkan lagu pop.

Hah, selamat mencoba. Kalau dia memang ikhlas ingin berubah karena keinginan diri sendiri (dan merasa itu baik), baguslah. Kalau tidak? Ya, siap-siap saja kehilangan. Lucu sekali, bukan? Anda enggan menerima dia apa adanya, sementara dia dituntut untuk selalu mengerti maunya Anda. Standar ganda.

 

Moga-moga sih, lima (5) kemungkinan di atas tidak pernah terjadi dalam usaha Anda mencari pasangan. Kalau sudah terlanjur, Anda bisa bersabar dan introspeksi agar tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi. Semoga jodoh pasti bertemu ya, biar kayak lagunya Afghan.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Aku, di Benakmu

Aku, di Benakmu

Jika benakmu alam raya,
mungkin matamu akan penuh tanya
melihat sosokku yang tidak biasa.

Aku bukanlah planet yang biasa kau huni.
Kau lihat aku berotasi
mengorbitkan diri ke sana kemari,
sesuka hati.

Entah apa aku pernah jadi matahari.
Tak ada yang mengakui,
meski kadang aku bisa menyilaukan setengah-mati.

Apakah aku bulan?
Mungkin juga aku salah satu bintang
atau malah langit malam nan kelam.

Selamat berperang dengan tanya di benakmu.
Kadang, memang tak semua perlu kau tahu!

R.

(Jakarta, 6 April 2014)

 

 

Categories
#catatan-harian #menulis

5 Dampak Seminggu Hidup Tanpa Whatsapp

5 Dampak Seminggu Hidup Tanpa Whatsapp

Ini bukan eksperimen iseng-iseng. Belum lama ini terjadi pada ponsel saya, tanpa unsur kesengajaan apa pun.

Seperti biasa, aplikasi Whatsapp minta diperbarui secara berkala. Sayangnya, ponsel saya sudah sangat tua dan berat. Satu-satunya solusi kilat adalah mengganti kartu SD dengan yang baru.

Karena waktu itu belum ada biaya, maka jadilah saya sempat seminggu hidup tanpa Whatsapp. Dampaknya bisa sampai ada lima (5) :

  1. Ketinggalan info dari grup-grup Whatsapp yang ada.

Nggak bisa dihindari, orang Indonesia banyak yang suka pake aplikasi ini. Udah mudah, fiturnya enak, dan hemat pulsa (terutama pas di daerah yang nggak miskin wifi.) Coba, siapa yang ponselnya ampe berat dan lambat hanya gara-gara kebanyakan grup di Whatsapp?

Tanpa Whatsapp, saya hanya bisa bergantung pada kebaikan anak-anak yang menghubungi saya lewat jalur lain. Ada yang pake LINE, hingga SMS standar. Hihihihi.

  1. Dikira sengaja ‘menghilang’.

Tuduhan ini agak lebay, sih. Saya juga agak kesal dengan yang ujug-ujug ngeluh atau nanya dengan nada menuduh:

“Whatsapp lo aktifin, dong!”

Percaya deh, kalo waktu itu dana udah ada buat ganti kartu SD, saya nggak perlu hidup seminggu tanpa Whatsapp.

  1. Nyaris kehilangan pekerjaan

Hiks, untung setelah saya jelaskan masalahnya, hal itu tidak perlu sampai terjadi.

  1. Jadi tahu yang mana yang beneran peduli.

Kalo dipikir-pikir, manusia kadang lucu. Udah tahu saling terkoneksi lewat lebih dari satu media sosial dan aplikasi chatting. Hanya gara-gara Whatsapp, mereka sempet jadi gegar mendadak dan nggak langsung kepikiran untuk mengontak saya lewat jalur lain.

Untuk yang kepikiran, terima kasih.

  1. Sedikit damai.

Oke, mungkin kejujuran ini terdengar sedikit kejam. Jangan salah, punya grup Whatsapp yang rame asal faedah nggak masalah. Seru juga malah.

Namun, ada kalanya saya ingin beristirahat dengan tenang malam-malam. Untuk itu, beberapa grup Whatsapp yang sering ‘riuh’ pada jam-jam segitu suka saya ‘bisukan’ selama saya tidur.

Yah, itulah yang saya alami selama seminggu tanpa Whatsapp. Kalo Anda gimana?

R.

 

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Sebuah Penantian

Sebuah Penantian

Satu negeri dicekam tegang

menanti sebuah jawaban

harap-harap cemas akan kepastian

bagai riuh bercampur lengang.

 

Mau dibawa kemana kita?

Akankah semua berbeda

ataukah sama saja?

Haruskah kita terus waspada?

 

Wahai, calon pemimpin masa depan negara,

siapa pun Anda,

mohon jangan semena-mena.

Kami sudah muak dengan luka lama.

 

Semoga Anda cukup bijak

untuk tidak asal teriak

atau suka-suka bertindak.

Salah-salah bangsa ini bisa mati sesak!

 

R.

 

 

(Jakarta, 10 Juli 2014)

 

 

Categories
#catatan-harian #menulis

Tentang Nasihat dan Saran Gratis

Tentang Nasihat dan Saran Gratis

“Yeee…maaf deh, kalo kesinggung. Cuman mau kasih saran aja, kok. ‘Kan niatnya baik, mau bantuin.”

Ucapan teman tempo hari sempat membuat saya terdiam. Mau nggak mau saya sempetin mikir juga:

Apa bener, akhir-akhir ini saya jadi begitu mudah tersinggung?

Mungkin, bagi yang tidak (mau?) memahami pandangan berbeda ini akan menganggap saya angkuh dan keras kepala.

Sebenarnya, nggak ada yang salah dengan nasihat dan saran yang gratis. Apalagi bila pemberinya memang berniat baik. Serius.

Lalu, apa masalahnya?

Ada yang bilang, ini tergantung waktu dan tempat. Di sinilah kepekaan kita diuji.

Satu contoh: teman sedang mengalami masalah keuangan, sehingga saat ponselnya bermasalah, dia nggak bisa langsung memperbaikinya. Pastinya, nggak mungkin dong, dia bakal cerita-cerita ke semua orang kalo lagi ada masalah keuangan? Ayolah, yang ada dia disangka ngemis lagi.

Ingat, masih ada harga diri.

Celakanya, saat banyak yang sulit menghubunginya, keluhan mereka hanya satu: oleh: Johnson Wang

“Ganti dong, ponselnya. Jangan kayak orang susah.

Coba bayangin reaksi teman saat membaca pesan semacam itu di medsosnya.

Persis.

Contoh lain lagi: Anda sedang menyetir mobil. Entah karena satu atau lain hal, mobil Anda terpaksa melewati satu gang yang lebar amat juga enggak, tapi nggak bisa dibilang sempit juga. (Kayak lagu dangdut jadul: “Sedang-sedang Saja”.)

Meski sudah berhati-hati sekali, tak ayal musibah kadang susah dihindari.

BRAK! Satu ban depan amblas ke dalam lubang. Mau nggak mau, Anda mematikan mesin dan keluar dari mobil untuk melihat.

Dasar sial.

Para warga setempat berdatangan. Bukannya langsung gotong royong membantu (meskipun pada akhirnya itu yang mereka lakukan, untuk menghindari jalan makin penuh), yang keluar duluan malah ucapan-ucapan seperti:

“Ini gimana kejadiannya? Kok bisa sampe kayak gini?”

“Makanya hati-hati.”

Saya percaya, niat mereka ngomong begini sebenernya baik. Bisa jadi juga karena keceplosan belaka.

Sayangnya, komentar semacam itu sering banget keluar pada saat yang kurang pas. Daripada ngebahas masalah, mending coba cari jalan keluarnya dulu rame-rame, terutama bila waktu mendesak dan akibatnya bisa nyusahin banyak orang.

Percayalah, mungkin mereka yang sedang bermasalah sudah pernah mendengar nasihat yang sama. Bukannya mereka nggak mau dengar. Bisa jadi saat ini mereka sedang berusaha keluar dari masalah, namun nggak butuh tontonan, saran, atau bahkan kritikan.

Ingin lebih peduli? Cari tahu yang benar-benar lagi mereka butuhkan. Mungkin ada yang hanya ingin didengarkan. (Siap-siap sabar aja, ya.) Mungkin mereka juga butuh bantuan nyata, meski kadang terlalu gengsi memintanya. (Ya, gara-gara itu, takut tuduhan mengemis.)

Bila ada, sedang bisa, dan beneran peduli, kenapa enggak? Dampaknya jauh lebih nyata daripada hanya bolak-balik kasih saran, yang sama pula.

Kalo lagi nggak bisa kasih bantuan juga? Ya, nggak apa-apa juga. Doa aja juga boleh. Toh, hasil akhir tetap dari usaha mereka, bantuan yang didapat (termasuk doa), hingga restu Yang Maha Kuasa…

Kalau ternyata saya emang mudah tersinggung akhir-akhir ini, mungkin karena udah banyak lihat kasus yang sama. Tapi, tetep maaf juga, ya.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Cerita Hari Ini?

Cerita Hari Ini?

“Ada yang ingin kau ceritakan hari ini?”

 

Entahlah.

Pertanyaan bagus.

Mungkin aku hanya lelah.

Memang, hidup tak selalu mulus.

 

“Mengapa?”

 

Terlalu lama aku bergelut dalam sunyi.

Untung belum sampai lupa suara sendiri.

Aku hanya ragu untuk memulai,

saat banyak yang menyuruhku berhati-hati.

 

“Oh, ya? Lalu ada cerita menarik apa hari ini?”

 

Tidak ada.

Sama nihilnya dengan ambisiku untuk menjadi tokoh utama…

 

R.

(Jakarta, 22 Mei 2014)

 

Categories
#catatan-harian #lomba #menulis #tips

Masih Suka Transaksi Manual? Coba Mandiri Online, Deh!

Masih Suka Transaksi Manual? Coba Mandiri Online, Deh!

Era digital ini telah banyak mempermudah kegiatan kita sehari-hari. Contoh: tadinya belanja harus ke toko, sekarang bisa online. Begitu juga dengan transaksi keuangan. Buat kamu nasabah Bank Mandiri, pasti juga sudah transaksi secara online, dong.

Belum? Padahal, sebagai nasabah langsung kamu sudah bisa lho, memanfaatkan kemudahan transaksi menggunakan mandiri online. Apalagi bagi kamu yang sudah punya laptop sendiri dan ponsel pintar. Tinggal manfaatkan keduanya untuk transfer maupun terima uang.

Mari cek dulu dua versi aplikasi Bank Mandiri, yaitu:

  • Mandiri online app alias Mandiri Mobile Banking.
  • Mandiri online web alias Mandiri Internet Banking.

Yang online app atau mobile banking dapat langsung diakses lewat ponsel pintar kamu. Yang online web alias internet banking bisa kamu cek di laptop. Enaknya, cukup dengan satu ID, kamu bisa langsung akses keduanya.

Aman Bayar Belanja Online dengan Bank Mandiri

Bayar belanja online dengan Mandiri dijamin aman, karena sampai dua lapis, yaitu:

  1. Lapis pertama:

Seperti yang sudah disebutkan tadi, kamu tinggal mengakses aplikasi digital Mandiri-mu dengan ID dan PIN akun yang sama. Mau di Mobile Banking atau Internet Banking juga bisa.

  1. Lapis kedua:

Setelah melalui lapis pertama, kamu masih harus menggunakan MPIN. MPIN ini adalah Kode Persetujuan atau Otentifikasi pemilik akun. Kamu bisa menggunakannya lewat device token Mandiri milikmu. Pastinya MPIN sudah harus dibuat saat kamu mendaftar langsung di kantor cabang Bank Mandiri.

Untuk lapis kedua, kamu bisa memilih menggunakan token atau langsung lewat ponsel. Ya, kecuali bila ponselnya kebetulan sedang di-charge atau ketinggalan di rumah.

Buat yang banyak keperluan, menggunakan dua aplikasi Mandiri ini bisa sangat membantu kamu, lho. Contoh: membayar tagihan bulanan listrik, air, ponsel, dan masih banyak lagi. Daripada meluangkan seharian untuk mengantri di kantor PLN seperti zaman ortu, mending pakai cara ini.

Apalagi bila kamu termasuk generasi milenial super sibuk. Senin sampai Jumat kerja, belum lagi kalau kena lembur. Akhir pekan lebih seru bila kamu ikut komunitas tertentu. Padahal, bisa jadi kamu juga masih perlu berbelanja ini-itu.

Nah, dengan aplikasi digital dari Mandiri ini, kamu bisa menghemat waktu. Misalnya: sebelum joging bersama si dia dan geng kalian, kamu masih sempat bayar belanja online untuk produk fashion favoritmu atau buku keluaran penulis keren. Waktu jadi tidak terbuang percuma alias efektif sekali.

Era digital juga semakin mempermudah generasi milenial untuk berinovasi. Misalnya: menciptakan aplikasi, membangun website, hingga mendesain toko online sendiri. Bukan cerita baru lagi bila banyak media digital untuk berbagi informasi. Salah satunya adalah Jadi Mandiri.

Apa Itu Jadi Mandiri?

Komunitas ini berisi banyak anak muda yang peduli dengan perkembangan diri, namun masih bisa tetap santai dan bersenang-senang. Makanya, banyak banget konten informatif dan mendidik di sini.

Di Jadi Mandiri, ada empat (4) kategori konten yang bisa kamu nikmati, yaitu:

  • Destinasi (terutama buat yang suka berwisata).

Sesuai nama rubriknya, Mandiri akan membuatmu lebih cepat mandiri dalam hal pengetahuan tentang keuangan. Tips dan info keuangan yang ada tidak akan bikin kamu pusing, karena bahasa yang dipakai ringan dan khas anak muda banget.

Generasi milenial terkenal dengan ide-ide segar dan keinginan mereka untuk cepat mencari penghasilan sendiri. Mereka juga lebih berani dalam bereksplorasi dan mengambil risiko keuangan.

Makanya, Jadi Mandiri bisa bikin kamu cepat sukses dalam berusaha. Ragam tips dan cerita inspirasional seputar entrepreneurship ada di sini. Jadi, kamu yang tadinya ragu untuk mulai berbisnis sedini mungkin udah nggak perlu takut lagi. ‘Kan banyak caranya di sini. Tinggal ikuti mana yang paling cocok dengan passion kamu.

Mau Daftar Mandiri Online? Buruan!

Segera datangi Kantor Cabang Bank Mandiri terdekat untuk daftar Mandiri Online. Cukup dengan KTP, Buku Tabungan, dan kartu ATM, kamu langsung mendaftar sebagai pengguna Internet Banking dan SMS Banking. Harus yang versi lengkap ya, biar bisa menikmati layanan transaksi finansial.

Setelah itu, barulah mengaktivasi akunmu.

Cara Mengaktivasi Mandiri Online

  1. Mobile Banking:
  • Untuk versi Mobile Banking, kamu bisa buka aplikasi digital Mandiri di ponsel kamu. Setelah itu, tinggal klik aktivasi.
  • Baca dulu syarat dan ketentuan yang muncul setelah klik aktivasi. Sesudah paham, tinggal klik ‘accept’.
  • Masukkan 16 digit nomor kartu debit Mandiri kamu, masa berlaku, dan tanggal lahir kamu. Sesudah lengkap, tinggal klik ‘Lanjut’.
  • OTP adalah One Time Password dan terdiri dari enam digit kode. Sesudah menerimanya lewat sms atau pop up, silakan gunakan nomor itu sebagai password untuk aplikasi digital kamu.
  • Lengkapi profile form yang muncul sesudahnya, mulai dari alamat email hingga foto profil. Setelah lengkap terisi, tinggal klik ‘Register’.

Nah, aplikasi digital Mandiri kamu sudah langsung bisa digunakan dari ponsel.

  1. Internet Banking.
  • Kunjungi website resmi Bank Mandiri. Klik Link Aktivasi Mandiri Online.
  • Lakukan langkah-langkah serupa seperti aplikasi digital Mandiri versi Mobile Banking di atas.

Nah, aplikasi digital Mandiri kamu sudah bisa langsung diakses melalui laptop.

Ragam Fitur Transaksi dengan Mandiri Online:

  1. Transaksi

Riwayat transaksi, mutasi rekening sebulan, hingga info saldo terkini dapat kamu cek.

  1. Transaksi untuk Bayar, Beli, dan Transfer.

Pembayaran tagihan, pembelian secara online, hingga transfer ke sesama pemilik akun Mandiri maupun antar bank bisa kamu lakukan di sini. Mengangsur pakai multipayment feature pun bisa.

  1. Online Extraordinary.

Mau buka deposito berjangka, top up e-money, dan top up e-cash? Gunakan fitur ini.

Proses Transaksi dengan Mandiri Online:

  1. Cek dashboard dan jumlah saldo. Lalu klik tiga garis horizontal di kiri atas.
  2. Pilih salah satu fitur yang tersedia. Setelah itu, klik transfer.
  3. Pilih menu transfer yang ada. Klik rekening tujuan dan jumlah uang yang mau kamu transfer. Klik “Tambah sebagai tujuan baru”.
  4. Jangan lupa konfirmasi bahwa nama dan nomor rekening tujuan sudah benar. Setelah itu, lengkapi data transfer, termasuk nominal dana dan berita acara. (Contoh: ‘bayar utang’.) Bila sudah, tinggal klik lanjut.
  5. Yakin sudah benar semua? Klik ‘Kirim’.
  6. Jangan lupa masukkan kode MPIN. Rampung deh, transaksi online Mandiri kamu.

Gangguan atau Kendala?

Seperti biasa, ada Mandiri Call: 14000 yang bisa kamu hubungi 24 jam seminggu. Kamu pasti akan dibantu dan dipandu.

Jadi, gimana? Masih mau pakai yang manual? Manfaatkan saja kemudahan transaksi menggunakan Mandiri online.

R.