Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Diam di Depan Pencela

Bodyshaming
Foto: freepik.com

Diam di Depan Pencela

Diam di depan pencela?

Bukan masalah, biasa saja

Biarkan mereka bicara

hingga menulis suka-suka

sementara kamu hemat suara.            

Simpan tenaga.           

Diam di depan pencela?

Butuh sabar dan usaha

Latihan secara berkala

Kadang cobaan luar biasa,

karena mereka suka menghina

tak kira-kira.

Diam di depan pencela?

Ada banyak cara

Rata-rata mudah saja

Anggap saja mereka tiada

Sibukkan diri dengan yang berguna

Setidaknya,

waktumu tak percuma.

Saat pencela akhirnya

sudah kehabisan suara

bahkan hilang tenaga,

tersadarkah mereka

waktu hilang sia-sia

sementara dirimu sudah jauh di depan mata?

R.

Categories
#catatan-harian #lomba #menulis

Kenapa Penting Sih, Untuk Lebih Melek Asuransi?

Kenapa Penting Sih, Untuk Lebih Melek Asuransi?

Apa yang ada di benakmu saat pertama kali mendengar kata ‘asuransi’? Mungkin banyak yang akan langsung teringat dengan ‘asuransi jiwa’. Sama seperti tabungan lainnya, kita harus menabung dulu untuk bisa merasakan manfaatnya di kemudian hari. Misalnya: saat kita harus berobat ke rumah sakit atau saat kecelakaan terjadi.

Terutama saat pandemi Covid-19 ini, asuransi jiwa sudah terasa semakin penting dan genting. Bahkan, bisa bahaya juga bila kita masih belum sadar juga akan pentingnya melek asuransi.

Sebelumnya, apa sih, asuransi itu?

Sekilas Mengenai Asuransi

Asuransi adalah sebuah kesepakatan antara pihak penanggung (yaitu perusahaan) dengan pihak tertanggung (yaitu nasabah). Dalam kesepakatan ini, nasabah diharuskan membayar premi kepada perusahaan untuk mengganti berbagai risiko yang kemungkinan besar dapat terjadi di kemudian hari.

Beberapa risiko yang dapat ditanggung oleh asuransi adalah sebagai berikut:

  • Kerusakan
  • Kematian
  • Kehilangan yang diderita akibat peristiwa di luar dugaan

Meskipun banyak yang masih mengasosiasikan asuransi dengan kesehatan jiwa, sebenarnya fungsinya tidak hanya itu. Selain sebagai perlindungan kesehatan, asuransi juga berfungsi sebagai proteksi keuangan demi membantu ketahanan hidup nasabah, terutama karena peristiwa di luar dugaan.

Semakin Pentingnya Asuransi di Tengah Pandemi

Sudah bukan rahasia lagi bahwa wajib sadar akan pentingnya melek asuransi, terutama di tengah pandemi. Seperti yang sudah kita lihat akhir-akhir ini, pandemi Covid-19 telah berdampak sangat besar bagi masyarakat di seluruh dunia. Ada yang sampai kehilangan pekerjaan karena terkena PHK (pemutusan hubungan kerja), bisnisnya bangkrut, jatuh sakit, depresi, hingga tidak punya tabungan lagi.

Apalagi, penyakit akibat virus Covid-19 (mulai dari yang pertama di tahun 2020 hingga Delta, Delta Plus, serta Omicron mulai di akhir 2021 ini) belum ada obatnya hingga kini. Kita baru bisa memproteksi diri dengan vaksinasi (maksimal dua kali ditambah satu booster) serta mematuhi protokol kesehatan yang berlaku. Memakai masker dan menjaga jarak sudah menjadi kewajiban di era new normal ini.

Bila sudah memulai tabungan asuransi, baguslah. Teruskan usahamu demi mendukung ketahanan dan kualitas hidup. Bagi yang belum, tidak ada salahnya untuk memulai sekarang. Belum terlambat, kok. Mintalah semua dukungan yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas hidup.

Mengapa Kita Harus Sadar Akan Pentingnya Melek Asuransi?

Banyak alasan bagi kita untuk mulai menyadari pentingnya punya asuransi. Beberapa alasan yang saya ketahui adalah sebagai berikut:

  • Sebagai dana darurat.

Kecelakaan atau jatuh sakit merupakan contoh paling mudah diingat. Keduanya merupakan musibah. Pastinya, tidak ada seorang pun yang ingin mengalaminya.

Namun, kecelakaan maupun jatuh sakit sama-sama tidak selalu bisa dihindari. Bayangkan bila kita butuh berobat segera, namun terkendala biaya. Asuransi akan membantumu dalam hal ini.

  • Sebagai simpanan jangka panjang.

Suka atau tidak, kita tidak akan selamanya bisa bekerja mencari uang. Tidak semua orang beruntung mendapatkan pekerjaan seumur hidup atau terlahir dari keluarga kaya raya. Apalagi bila ada orang-orang lain yang bergantung secara finansial pada kita, seperti: orang tua sepuh, pasangan (bagi yang menikah), adik-adik yang masih usia sekolah atau belum punya pekerjaan, hingga anak-anak.

Nah, meskipun amit-amit semoga tidak kejadian, bagaimana bila suatu saat kita tiba-tiba kecelakaan atau jatuh sakit dan meninggal dunia? Bagaimana dengan mereka yang tergantung secara finansial pada kita? Bila kita mendaftarkan mereka sebagai pihak tertanggung premi asuransi, maka kita masih dapat melindungi mereka.

Simpanan jangka panjang juga bisa digunakan untuk membayar keperluan darurat. Misalnya: asuransi mobil atau properti yang hancur akibat bencana alam.

  • Sebagai antisipasi terhadap kemungkinan penyakit baru yang ada.

Pandemi Covid-19 menjadi contoh nyata semakin pentingnya melek asuransi. Virus Corona yang telah menyerang seluruh penduduk di dunia sejak akhir 2019 tidak hanya berdampak secara kesehatan. Kekhawatiran akan penyebaran virus tersebut menyebabkan gerak ekonomi kita menjadi amat terbatas. Yang tadinya bebas leluasa ke kantor kini harus lebih banyak di rumah.

Banyak bisnis yang tumbang karena gagal mendapatkan profit. Banyak karyawan yang terpaksa di-PHK.

Karena itulah, belum terlambat untuk memulai tabungan asuransi. Pilihlah yang sesuai dengan kebutuhan. Jangan lupa banyak bertanya kepada pihak penawar asuransi.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Barisan Perundung

Barisan Perundung

Barisan perundung

Tak tahu diuntung

Manfaatkan pendukung

Bikin hak korban buntung

Barisan perundung

Sialnya makin beruntung

Para pengecut mendukung

Lewat bungkam tak berujung

Ah, bagaimana membasmimu?

Ibarat kecoak, berbiak selalu

Mati satu, tumbuh seribu

Kian banyak, menindas tanpa malu

Barisan perundung minta dibunuh

Pongahnya bikin suasana keruh

Bersikap cengeng saat dituduh

Makin lama makin bikin gaduh

Mau jadi apa negara ini

dengan makin banyaknya manusia yang cacat hati?

Apakah integritas telah lama mati

berganti perundung nan keji?

Sialnya, jumlah pengecut lebih banyak lagi

lewat wajah-wajah tak peduli

atau dukungan buat perundung

demi cari aman sendiri …

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

Kata Orang dan Pemikiran Saya: Hidup Dimulai di Usia 40?

Kata Orang dan Pemikiran Saya: Hidup Dimulai di Usia 40?

“Life begins at/after 40.”

Banyak yang bilang begini saat ultah saya November kemarin. (Iya, saya sudah 40 sekarang.) Jujur, saya sempat terbingung-bingung.

Bila hidup dimulai saat seseorang berusia/sesudah 40 tahun, berarti kemaren-kemaren ke mana aja? Ngelindur apa koma?

Banyak teori seputar pernyataan soal usia 40. Iseng-iseng saya cek lewat Google:

  • Ada buku motivasi berjudul sama karya Walter B. Pitkin. Cuma, kalo tanya saya, kayaknya saya nggak gitu tertarik baca. (Tumben, mengingat saya masih jadi pencinta setia buku meskipun di era digital ini.) Takutnya isi bukunya sudah nggak gitu relevan lagi dengan zaman sekarang.
  • Ada yang bilang, usia 40 berarti (harusnya) usia seseorang sudah ‘ajeg’ dengan banyak hal. Ya, sudah selesai dengan dirinya, sudah jelas tujuan hidupnya, dan sudah punya cukup banyak keahlian untuk bertahan hidup. Yang pasti, udah bukan saatnya lagi terlalu main-main dengan banyak hal.
  • Ada juga yang beranggapan bahwa usia 40 berarti mulai siap kehilangan lebih banyak. Ya, kehilangan masa muda, jatah umur, sampai orang-orang yang dulunya dekat sekarang jauh. Bahkan, meskipun jauhnya belum tentu karena musuhan juga.

Selain itu, dunia karir dan percintaan juga mulai berkurang dari segi ‘keramahan’. Apalagi kalau kebetulan kamu seorang perempuan. Di dunia karir (terutama akhir-akhir ini), lebih banyak perusahaan yang memilih rekrutan yang berusia lebih muda. Realistis saja. Yang belum punya banyak pengalaman kerja relatif lebih bisa digembleng, belum terlalu keras kepala seperti yang sudah lebih tua, dan … bisa dibayar murah.

Dalam dunia percintaan (terutama di Indonesia) sialnya, perempuan lajang berusia 30+ paling banyak dipojokkan. Dibilang perawan tua-lah, udah gak laku-lah, sampai disuruh jangan terlalu milih. Ironisnya, pas masih muda juga dinasihatin agar jangan terlalu agresif. Gak konsisten, deh.

Yang bisa bertahan tetap waras hanyalah mereka yang mau belajar bersikap cuek. Pada kenyataannya, berusaha memenuhi standar orang lain terus-terusan itu lama-lama memuakkan. Enak di mereka, rugi di kita. Mereka bebas ngebacot sampai puas, lalu malah milih cuci tangan pas kita celaka karena mencoba mengikuti maunya mereka.

Bagi saya, hidup bukan dimulai di usia 40. Hidup itu (harus terus) berlanjut!

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Harapan yang (Harus) Terpendam

Sumber foto: Rawpixel (Unsplash.com)
Kadang, harapan itu seperti harta karun.
Sebaiknya sembunyikan.
Terlalu berharga untuk kau pamerkan.
Awas, kecurian!
Selain itu, siap-siaplah jadi bahan tertawaan.

Harganya mungkin seperti napasmu,
yang kian pendek dan terus memburu
terkikis ucapan mereka yang merasa lucu
saat menilai harapmu tak sepenting itu.
Percayalah, satu kata pun mampu
mengoyak seisi kalbu.

Bisa juga seharga lebih dari permata,
meski tak tampak wajah yang suka.
Jangan tertipu topeng para pencela.
Saat kau tak awas,
mereka akan sikat harapmu sampai tandas.

Jadi, harapan itu seperti harta karun.
Sembunyikan, kubur dalam-dalam.
Cukup kamu yang paham
bahwa perwujudannya tak mungkin dalam semalam
dan lebih aman dalam diam …

R.
Categories
#catatan-harian #menulis

Menonton Hidup di Media Sosial

Menonton Hidup di Media Sosial

Di media sosial, hidup kita dinilai dari sebaris status. Sepotong cerita yang tidak lengkap, namun dianggap sumber paling tepat. Hidup kita dipuja-puji dari dua-tiga baris doa, dicela dari separagraf-dua paragraf curhatan. Bahkan, tak jarang foto dan video yang kita tampilkan pun siap jadi sasaran.

Yang sadar punya banyak pilihan. Mereka bisa memoles citra diri mereka agar terlihat mengesankan. Siapa tahu, status atau postingan berikutnya akan banjir pujian. Rasanya membahagiakan, bukan? Bagai candu gratisan, kita merasa seperti mendapatkan tambahan teman. Apalagi, pandemi Covid-19 sialan ini sudah bikin kita sulit ke mana-mana.

Yang tidak sadar mungkin memilih dikendalikan begitu saja dengan situasi media sosial yang cair, berubah, kadang dalam waktu super cepat. Terlalu cepat bahagia saat banyak yang suka, lalu terlalu jatuh dalam nelangsa saat dicela. Penonton di media sosial memang sangat reaktif, cenderung tanpa banyak berpikir. Tanpa sadar, mereka semua begitu mudah dikendalikan.

Di media sosial, hidup kita dinilai hanya dari sebaris status. Yang terlihat rajin membagi doa tampak bagai orang saleh. Yang sering curhat langsung dianggap kesepian, gila perhatian. Yang marah-marah dituduh kurang bersyukur dan perusak suasana. Banyak yang rebutan panggung di dunia maya, demi kebanggaan semu sesaat. Aku. Ada aku. Lihat aku, jangan dia. Pokoknya aku!

Orang yang berbagi kabar bahagia, seperti kelahiran anak, kesuksesan mereka masuk universitas bergengsi, hingga momen jadian dan lamaran, langsung dianggap pamer. Anak-anak yang gemar berbahasa asing di ruang publik langsung dianggap tidak menghargai bahasa dan budaya sendiri. Yang berbahasa daerah dituduh sok eksklusif, sementara yang menuduh kerap menggunakan bahasa nasional sendiri sesuka hati. Perkara ejaan hingga tata bahasa mereka anggap: “Ah, cuman segitu doang. Salah sedikit, ribet amat!”

Banyak yang menganggap standar hidup mereka sudah paling ideal. Suami bekerja, istri harus jadi ibu rumah tangga. Belum punya anak (apalagi setelah bertahun-tahun menikah) dianggap bermasalah. Baru punya anak satu, dianggap kurang. Punya anak banyak, dianggap tidak kira-kira menilik realita. Ekonomi makin susah, kerusakan lingkungan sudah makin parah.

Mereka yang merasa menjadi anak paling berbakti pada orang tua kemudian menghujat juga seorang anak yang pernah menitipkan ibunya di sebuah panti jompo. Yang harusnya tidak diumbar kemudian terjadi juga. Pelakunya adalah salah satu pekerja di panti jompo tersebut. Meskipun sudah tahu akan bahayanya serba terbuka di media sosial, mereka pun memposting foto ibu tersebut dengan kalimat yang menyakitkan.

“Ibu dibuang anak di panti jompo.”                                  

Entah apa tujuan pelaku menyebarkan kabar seperti itu. Entah kenapa sampai menyebut tempat itu setara dengan tempat sampah. Bukankah itu sama saja dengan menghina rumah sendiri dan seisinya?

Lalu, apa hak mereka yang menghujat, bahkan menyumpahi bahwa si anak akan masuk neraka segala? Bantuin enggak, nyakitin iya. Apakah dengan kekasaran semacam itu, si anak akan serta merta menuruti mereka? Padahal, kenal saja juga tidak. Ikut merasa dirugikan juga tidak. Sungguh, kadang jari-jemari bisa jauh lebih berbahaya daripada isi kepala yang serba penuh cerca.

Kadang … Lebih Baik Tidak Usah Cerita Pada Siapa-siapa

Ini bukan perkara anak kecil ngambekan. Bukan juga pandemi Covid-19 yang jadi penyebab. Masalah ini sesungguhnya sudah lama terjadi, namun kelamaan dibiarkan. Saking lamanya dibiarkan, lama-lama banyak yang menganggapnya normal. Biasa saja, komentar khas mereka yang (terpaksa memilih) mati rasa.

Interaksi sosial dengan sesama manusia lama-lama jadi tidak begitu menyenangkan lagi. Semakin takut atau malas orang bercerita, meskipun bukan UU ITE penyebabnya. Penghakiman dan semangat menghujat tanpa ampun dari sesama, bahkan meskipun belum tahu kisah lengkapnya. Tak heran, kini lebih banyak yang menemukan nyaman dalam kesendirian.

Sudah, tidak perlu cerita apa-apa. Tidak perlu jelaskan pada siapa-siapa. Diam saja. Biarkan mereka terus mencari cacat dari sesama, hanya agar semakin puas menghujat dan merasa diri bebas dari dosa.

Jika hidupmu dinilai hanya dari sebaris status, maka silakan nilai mereka dari komentar yang mereka keluarkan dengan mudahnya. Tidak perlu membalas. Tidak ada gunanya. Biarkan mereka percaya hanya yang ingin mereka percaya. Mereka mengira sudah mendapatkan kisah lengkapnya, seperti biasa. Mereka merasa berjasa telah melaknat sosok yang mereka anggap penuh cela.

Mungkin, hanya sampai situ kemampuan mereka menghargai waktu luang yang ada. Hanya sekian …

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Melalui Mata Mereka

Melalui Mata Mereka

Maafkan aku.

Aku hanya ingin melihatmu,

bukan dari mata ini

atau mata sosok yang kau cintai

dulu maupun kini.

Bukan dari para sahabat yang selalu mendukungmu

atau musuh yang benci setengah mati.

Aku ingin mengenalmu

melalui mata mereka

sosok-sosok yang pernah tumbuh bersama

dan mengenalmu paling lama.

Aku hanya ingin tahu

sudah cukupkah cinta untukmu

bahkan sejak dari dalam rumah?

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #tips

5 Kesalahan yang Masih Sering Dilakukan Pengguna Aplikasi Kencan

https://unsplash.com/photos/KgLtFCgfC28

5 Kesalahan yang Masih Sering Dilakukan Pengguna Aplikasi Kencan

Pandemi #Covid19 masih jadi penghambat berbagai interaksi sosial. Mau ke mana-mana masih diikuti perasaan waswas. Acara kumpul-kumpul di ruang publik masih harus pakai batasan.

Yang masih lajang dan sedang mencari calon pasangan mungkin juga menggunakan aplikasi kencan atau dating app/web. Nah, entah kenapa, saya melihat masih banyak yang melakukan lima (5) kesalahan umum ini.

Obrolan garing sih, masih bisa diasah supaya asik. Cuma, lima (5) kesalahan umum ini dijamin bisa bikin targetmu di aplikasi kencan jadi malas menanggapi atau ilfil sekalian (apalagi kalau mereka mencari yang beneran serius, bukan buat sesaat):

  1. Malas baca profil karena terlalu fokus sama foto.

Oke, saya nggak mau munafik. Siapa sih, yang nggak tertarik sama wajah tampan atau cantik di foto profil seseorang? Perkara asli, hasil photoshop, atau colongan dari punya orang lain itu urusan belakangan. Yang penting suka.

Tapi, hubungan gak cuma mengandalkan tampang yang ‘enak dilihat’, bukan? Gimana kalo pas ngobrol garing? Gimana kalo ternyata aslinya dia kasar, gak sopan, dan gak menghargai kamu? Lain cerita sih, kalo kamu butuhnya hanya ‘piala berjalan’  buat dipamerin ke mana-mana, tapi sebenarnya kamu sama sekali nggak (mau) peduli sama kepribadian, pikiran, dan perasaan mereka.

https://unsplash.com/photos/1-Osp6CvhXc

2. Gak perhatian sama profil.

Sudah capek-capek menulis profil di akun aplikasi kencan, buntutnya nggak dibaca. Malah kasih pertanyaan yang itu-itu saja, padahal di profil sudah tercantum cukup jelas. Contoh: saya sudah menulis profesi saya, buntutnya ada saja yang mengirim DM dengan pertanyaan ini:

“Kerja di mana?”                                              

Itu masih mending. Ada juga dari luar negeri yang pernah bertanya asal negara saya. Selain itu, kadang rasanya percuma saya sudah pasang DISCLAIMER gede-gede soal kebijakan memberikan nomor ponsel. Kalau masih merasa belum nyaman setelah interaksi selama sebulan pertama, ya tidak akan saya berikan. Bahkan, saya nggak merasa perlu menjelaskan apa-apa. Memangnya yakin, mereka nggak akan tersinggung?

Orang yang nggak perhatian sama profilmu sejak awal biasanya nggak cukup perhatian untuk mengenalmu. Maunya kamu yang harus (lebih) perhatian sama mereka.

https://unsplash.com/photos/XL-hPDNeZvs

3. Belum apa-apa sudah berani merayu, bahkan melamar.

Entah scammer atau korban cerita dongeng, strategi awal mereka selalu mirip. Mulai dari memuji foto kita, seperti menyebut kita cantik/tampan, hingga mengaku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Halah, padahal ketemu beneran aja belum!

Berdasarkan banyak cerita yang sudah beredar, baik di dunia nyata maupun lewat dunia maya, ketemu sama orang kayak gini di aplikasi kencan kudu hati-hati. Berbagai bahaya mengintai, mulai dari kasus penipuan (catfishing / scamming) sampai usaha penculikan yang berujung pada perdagangan manusia. Nah, lho. Gimana nggak ngeri, tuh?

https://unsplash.com/photos/lSMf7GJoDz4

4. Terang-terangan berpikir mesum.

Nah, ini lagi yang menjijikan. Apakah normal bagi orang dewasa untuk mikirin seks? Normal-normal saja. Mau sering berfantasi soal itu juga masih wajar. Gak laki gak perempuan, sama aja.

Yang jadi masalah adalah bila kamu ceritakan fantasimu itu pada sembarang orang. Bila kebetulan yang kamu kenal di aplikasi kencan tidak masalah dengan hal itu, baguslah.

Lain cerita bila orang yang baru kamu kenal di sana ternyata nggak suka dan merasa jijik dengan ulahmu. Bila beralasan “Biasanya nggak apa-apa, kok”, jatuhnya tetap nggak sopan. Memangnya kamu bisa baca pikiran orang? Enggak, ‘kan? Percuma juga main perkara untung-untungan, apalagi mentang-mentang selama ini kamu sudah sering ketemu orang yang nggak keberatan dengan kemesumanmu yang salah tempat.

Jangan salahkan mereka bila kamu ditolak, dimaki-maki, dilaporkan ke admin, hingga diblokir maupun akunmu di-suspend. Kalau mau aman, nggak usah sotoy deh, berasumsi semua orang akan suka dengan pendekatanmu.

https://unsplash.com/photos/8s9cDpite-8

5. Menganggap targetmu bukan orang sibuk.

Mentang-mentang kenalannya di aplikasi digital, kamu jadi lupa tata krama dan batasan. Kamu lupa kalau si dia juga masih manusia biasa. Punya pekerjaan, kesibukan, pokoknya kehidupan sendiri. Sama saja seperti kamu.

Makanya, kamu nggak berhak menuntut si dia untuk segera membalas pesanmu. Apalagi sampai marah-marah dan mengancam segala. ‘Kan bisa tanya baik-baik dulu mengenai kesibukannya, ketimbang menuduhnya hanya ingin mempermainkanmu. Siapa juga sih, yang suka asal dituduh sama orang yang belum kenal pula? Nggak mau gitu juga, ‘kan?

Hargailah privasinya. Kalau masih susah, coba bayangin, deh. Mau nggak, tengah malam kamu mendadak ditelepon sama orang yang ingin ngobrol ngalor-ngidul, tanpa peduli udah ganggu tidur nyenyakmu?

https://unsplash.com/photos/LDcC7aCWVlo

Nah, inilah lima (5) kesalahan yang masih suka dilakukan oleh para pengguna aplikasi kencan digital. Moga-moga nggak termasuk kamu, ya!

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Lucu

Foto: https://unsplash.com/photos/QFZ_72_NxIQ

Lucu

Aku terhibur akan manusia-manusia sepertimu

Kau jadikan hampir seluruh hidupmu

hiburan gratis sejuta umat

mimpi indah siang bolong untuk rakyat

Lalu,

kau gelagapan saat tak semua suka

melihat aibmu yang kau umbar ke mana-mana

Lantas kau merasa difitnah?

Tapi tenang.

Semua penggemarmu ada di garda terdepan,

siap membelamu mati-matian.

Perkara kamu benar atau salah,

biar itu urusan belakangan

Yang penting bukti kesetiaan

Kini kau minta privasimu dihargai

Hihihihi … apa arti privasi?

Kamu juga yang membukanya sendiri,

bahkan tiap hari,

hingga tanpa henti

Jangan takut dengan kritikus

Boleh saja menuduh mereka pembenci

Sayang sekali,

untuk semua penonton yang bereaksi,

bukan kau yang pegang kendali

Tak bisa kau pilih-pilih jenis konsekuensi

Bukankah risiko tetap kau yang tanggung sendiri?

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

“JADI KORBAN KEKERASAN KOK, MALAH BANGGA?”

“JADI KORBAN KEKERASAN KOK, MALAH BANGGA?”

Pertanyaan ini sering mampir di benak saya setiap kali melihat kebanggaan semu (dan kerap berlebihan) dari generasi lama. Dari angkatan tua ini, kalian pasti pernah dengar ocehan sejenis yang mengagung-agungkan diri (dan rekan-rekan seangkatan mereka), tapi sekaligus merendahkan generasi muda (yang di bawah mereka):

“Dulu digampar bokap ampe nyaris bonyok gak sampai ngadu, kok. Anak-anak sekarang pada lembek banget. Baru ditabok sekali aja udah mewek, terus curhat ke mana-mana, galau di medsos. Pake bawa-bawa hak asasi segala … “

Hmm, apa jangan-jangan malah kalian lagi yang lebih sering ngomong kayak gini ke generasi yang lebih muda?

Oke, saya paham kalau yang namanya ‘generation gap’ (jarak antar generasi atau angkatan) akan selalu ada. Wajar saja bila beda pemahaman hingga pandangan hidup, berhubung tumbuh besar di zaman berbeda. Cuma, kewajaran ini jadi nggak asik saat salah satu generasi merasa lebih unggul daripada generasi lainnya. Dalam hal ini, generasi yang lebih tua meremehkan yang lebih muda. Ini hanyalah wajah lain dari ‘ageism’.

Gak Semua Memang, Tapi …

… banyak. Sudahlah, nggak usah bawa-bawa angka hanya untuk mengecilkan masalah. Satu orang sok dari generasi mana pun saja sebenarnya sudah masalah.

Ngomong-ngomong, jadi korban kekerasan kok, malah bangga? Berasa prestasi, ya? Butuh disakiti dari direndahkan orang lain dulu, baru merasa kuat? Butuh merendahkan orang lain dulu yang tidak bernasib sama – lebih beruntung malah – hanya dianggap lebih jagoan?

Kenapa, sih? Pada gila validasi, gara-gara dulu waktu kecil (merasa) nggak pernah (dianggap) berarti?

Berani bertaruh, yang merasa jagoan karena merasa sudah ‘survive’ jadi korban kekerasan nggak akan mau kalau sampai harus mengalami hal yang sama lagi. Cara kalian merendahkan generasi sekarang sebagai generasi yang ‘manja-manja dan payah’ sebenarnya hanya proyeksi kegetiran diri sendiri dan dendam sama masa lalu.

Wajar kok, kalau merasa sakit hati dan berpendapat bahwa hidup ini tidak adil. Masa kecil kalian mungkin lebih banyak menderita daripada generasi sekarang yang menurut kalian lebih banyak enaknya. Memangnya akan mengubah keadaan bila melampiaskan rasa frustrasi kalian dengan cara merendahkan mereka? Memangnya akan mengembalikan waktu yang sudah hilang?

Seperti biasa, saya paling muak sama kesombongan macam ini. Sudahlah, bilang saja niat kalian hanya ingin balas dendam ke generasi yang sama sekali tidak tahu apa-apa soal masa lalu pahit kalian, lalu kalian minta bertanggung jawab atas perasaan kalian. Terus, kalian kecewa begitu respon mereka adalah langsung balas melawan, karena sudah lebih sadar akan – yes, kalimat yang menurut kalian hanya jadi andalan anak manja saat didisiplinkan – hak asasi mereka sebagai manusia. Berbeda dengan zaman kalian dulu.

Main perbandingan dengan generasi sekarang juga nggak adil dan percuma. Memangnya kalian sudi generasi kalian dinilai sebagai angkatan yang kaku, arogan, dan hobi memaksakan kehendak? Atau malah nggak peduli? Paling kalian cukup memberi cap ‘kurang ajar’, ‘nggak sopan’, sama ‘nggak respek sama yang lebih tua’ kepada yang mengkritik kalian? Gitu ‘kan, cara mainnya? Padahal semua manusia sama-sama bisa salah, berapa pun umurnya.

Biasa, namanya juga senioritas. Yang nggak suka atau nggak terima terus berani melawan cukup kalian sebut ‘cengeng dan manja’. Gaslighting orang hanya biar diri sendiri merasa lebih superior emang paling gampang!

Setiap generasi punya masalah dan tantangan masing-masing, kok. Jadi, nggak usahlah merasa yang paling tangguh se-jagad, padahal sesungguhnya inner child kalian yang terluka. Mending cari bantuan profesional ketimbang melampiaskan amarah kalian ke generasi yang sama sekali nggak tahu apa-apa masalah kalian dulu. Udah gak adil, salah tempat pula!

Cobalah berdamai dengan realita agar tidak menjadi sosok menyebalkan. Toh, kejulidan kalian sama “enaknya” jadi generasi sekarang juga nggak akan menghasilkan apa-apa yang berguna. Waktu nggak akan bisa otomatis diulang.

Kecuali … yah, kalian mau usaha dan bisa bikin mesin waktu, terus balik ke masa lalu …

R.