5 Hal yang Nyebelin Dari Orang Berpasangan di Indonesia
Kemungkinan besar tulisan ini akan memancing drama di dunia maya. Namun, bila selama ini orang Indonesia banyak yang merasa sah-sah saja merundung para lajang, kenapa kami tidak bisa mengkritik kalian juga? Ini bukan perkara balas dendam, biar sama-sama berkaca saja.
Pertama, saya secara pribadi sebenarnya tidak punya masalah sama mereka yang sudah berpasangan. Apalagi bila mereka memang benar-benar bahagia dan tidak sungkan menunjukkan kebahagiaan mereka kepada semua orang.
Namun, mereka menjadi sangat mengganggu dan menyebalkan bila melakukan kelima (5) hal ini, terutama kepada para lajang:
Merasa hidup mereka jauh lebih baik daripada yang masih lajang.
“Elo belum benar-benar dewasa bila belum berani menikah.”
“Sepinter dan sesukses apa pun elo dalam berkarir, nggak ada gunanya kalo elo belum punya suami/istri.”
“Nggak usah baper, ‘kan kita cuman ngingetin. Apalagi, agama juga menganjurkan menikah.”
Sering dengar ucapan-ucapan seperti itu dari semua kenalan – baik keluarga sendiri maupun teman – yang sudah menikah? Mungkin mereka merasa yang mereka lakukan itu baik, ‘sekadar mengingatkan’ agar yang masih lajang jangan “keasyikan sendirian / mengejar karir / senang-senang / dan lain-lain”.
Tapi, alangkah sombong dan lancangnya mereka bila sampai menuduh yang lajang belum se-dewasa mereka. Okelah, mereka merasa lebih baik karena ‘sudah laku’. (Hiii … hari gini masih ada saja yang mau-maunya menyamakan diri dengan barang dagangan!) Padahal, kedewasaan seseorang tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan status menikah.
Buktinya? Banyak pasangan yang secara mental dan psikologis belum dewasa, sudah dipaksa menikah dengan alasan “menghindari zina”. (Padahal masih ada puasa.) Terserah sih, kalau mereka merasa sudah dewasa. Cuma ya, tidak perlu mengkerdilkan para lajang yang mungkin belum terpikir atau memang tidak mau menikah … hingga mereka yang sebenarnya memang mau menikah, tapi apa daya jodoh belum datang juga. Lain cerita kalau kamu Tuhan yang bisa langsung mendatangkan jodoh untuk mereka.
Sama … plis, gak usah deh, nyinyir dengan bawa-bawa prestasi dan kesuksesan mereka selama ini meskipun masih melajang. Kamu hanya terdengar seperti manusia iri dan dengki. Bukankah menikah seharusnya membuat kepribadian seseorang menjadi lebih baik?
Memaksa para lajang untuk segera mengikuti ‘jejak’ mereka.
“Buruan, sebelum kehabisan. Gak mau ‘kan, dicap perawan tua?”
“Gak kasihan sama orang tua kamu? Ntar mereka gak punya cucu, loh.”
Tolong, bedakan ajakan dengan paksaan. Ajakan yang baik hanya saran dan sebaiknya cukup diberikan sekali. Tidak perlu berkali-kali, seolah-olah kami para lajang belum cukup dewasa untuk mengerti dan mampu mengambil keputusan sendiri. Selain itu, tolong jangan samakan manusia dengan susu dalam kemasan karton. Pake ngomong expired segala … HIH!
Saya sudah tahu kalian akan bawa-bawa alasan jam biologis perempuan untuk menyuruh-nyuruh kami menikah. Makanya, kalian paling getol berbuat begini sama para lajang yang berjenis kelamin perempuan. Jujur saja, cap perawan tua sudah tidak menakutkan. Justru, takutlah bila sudah menikah, tapi tidak ada perbaikan juga dari kepribadian kalian.
Gak usah bawa-bawa orang tua kami, apalagi sampai merongrong mereka – atau anggota keluarga kami lainnya – untuk menyuruh-nyuruh kami segera menikah. Lagipula, soal jodoh dan anak itu urusan Tuhan. Memangnya kalian mau bantu mengurus anak kami nanti? Gak juga, ‘kan? Cuma ngomong doang.
Menyindir para lajang sebagai sosok egois dan menyuruh mereka untuk ‘berintrospeksi’ diri.
“Harusnya jomblo-jomblo introspeksi apa yang salah sama dirinya sampe gak ada yang mau sama mereka.”
“Elo terlalu pemilih kali, makanya gak nikah-nikah juga ampe sekarang.”
“Mungkin kalo elo belajar untuk gak egois dan mikirin diri sendiri melulu, bakal ada yang mau sama elo.”
Ahem, sebentar. Kamu siapa, ya? Apa yang bikin kamu yakin bahwa hanya karena sudah menikah, kamu lantas merasa sudah jauh lebih baik daripada yang masih lajang? Yakin, situ gak punya kekurangan? Daripada nyuruh-nyuruh orang lain introspeksi, mending banyak-banyak bersyukur deh, pasanganmu masih bisa tahan dengan segala kekuranganmu.
Ini juga komentar menyebalkan yang paling banyak terlontar dari mereka yang merasa sombong karena sudah menemukan pasangan hidup. Bagus, cari-cari saja kesalahan si lajang terus. Serba salah, memang. Asal pilih dibilang gampangan, giliran milihnya hati-hati malah dituduh picky. Tolong deh, kurang-kurangin maen asumsi, kalo gak mau jatuhnya jadi fitnah.
Benarkah semua lajang itu egois dan hanya memikirkan diri sendiri? Terus, apa kabar mereka yang mengurus orang tua mereka yang sudah tua – dan membiayai adik-adik mereka yang masih usia sekolah? Apa kabar mereka yang berkiprah sebagai pekerja sosial, membantu orang-orang yang membutuhkan tanpa pamrih? Egoisnya di mana, coba?
Jangan sampai status menikah malah mempersempit pandanganmu akan dunia, hingga asal menuduh saja. Ibadahmu sayang nantinya.
Menakut-nakuti para lajang bahwa mereka akan sendirian tak terurus saat tua, karena tidak punya anak.
“Nanti pas tua sebatang kara loh, gak ada yang ngurusin. Gak nikah, gak punya anak, dah.”
Loh, kok malah jadi nyumpahin yang masih lajang, sih? Berani-beraninya mendahului takdir Tuhan. Dari mana bisa tahu bahwa semua yang masih melajang akan bernasib demikian? Memangnya kita bisa tahu umur orang? Dari mana tahu semua pernikahan akan langgeng dan tidak aka nada perceraian, kematian pasangan, atau bahkan kematian anak?
Bukannya mau nyumpahin balik loh, yah. Meskipun situ niatnya bercanda, ucapannya jahat sekali. Saya gak bisa menjamin semua lajang penyabar diperlakukan seperti itu. Kalo gak mau bales didoain yang jelek-jelek, mending diam, deh. Gampang, ‘kan?
Sudah julid habis-habisan sama para lajang, buntutnya tidak punya malu saat ingin meminjam uang atau meminta bantuan lainnya sama mereka.
“Pinjem duit, dong. Lo masih single, ‘kan? Pasti duit lo banyak, karena lo kerja melulu sama belum harus bayar biaya sekolah anak.”
Nah, yang ini gak hanya nyebelin, tapi bikin saya mau ngakak. Sesudah habis-habisan julidin lajang dan berusaha bikin mereka merasa gak berguna, buntutnya kena batunya. Giliran butuh duit, barulah para lajang yang semula kamu hina-hina dari kemarin kamu cari-cari.
“Kok pelit, sih? Eh, elo tuh, masih untung. Belum tau rasanya pusing bayar banyak tagihan demi ngurus anak!”
Okelah, kamu merasa kebutuhanmu jauh lebih penting daripada si lajang, hanya karena kamu sudah (memilih) menikah. Tapi kalo habis jumawa baru sadar si lajang berguna juga, salah nggak sih, kalo banyak lajang yang merasa sikapmu itu nyebelin banget?
Nah, inilah lima (5) hal yang nyebelin dari orang berpasangan di Indonesia. Semoga kamu nggak kayak gini juga, ya!
Apa rasanya menjadi seorang pekerja purnawaktu sekaligus lepasan? Kadang kala rasanya seru. Menjadi produktif tidak hanya soal menghasilkan lebih banyak uang. Sebagai seorang perempuan lajang, saya beruntung mendapatkan cukup banyak waktu luang. Apalagi, pandemi #Covid19 yang masih berlanjut di tahun 2021 ini membuat saya kembali tidak bisa banyak keluar rumah.
Namun, ada kalanya saya kewalahan menjalani semua profesi tersebut sekaligus. Apalagi bila kebetulan, ada dua atau tiga pekerjaan dengan tenggat waktu yang nyaris berdekatan. Selain itu, saya masih menggunakan spreadsheet terpisah untuk setiap pekerjaan, sehingga tidak begitu efektif. Yang paling bahaya adalah saat saya fokus mengerjakan satu hal yang kebetulan paling rumit.
Nah, kalau sudah begini, bisa-bisa ada deadline yang terlewat. Apalagi kalau bukan gara-gara saya sendiri kesulitan memonitor semua perkembangan pekerjaan saya sekaligus. Lupa bercampur rasa panik sering menjadi satu.
Mengurangi Beban Pekerjaan? Hmm, Sepertinya Belum Rela
Saya paham, semua manusia punya keterbatasan masing-masing. Tidak ada yang sempurna, apalagi sampai berkekuatan super segala. Sudah banyak yang menyarankan saya untuk mulai mengurangi beban pekerjaan. Selain lelah secara fisik, kesehatan mental saya juga rentan terancam.
Mengurangi beban pekerjaan? Hmm, sepertinya belum rela saya. Hehe. Apalagi, pandemi virus Corona ini memunculkan ketakutan tambahan sendiri bagi banyak orang. Bagi saya, ketakutan tambahan saya ada dua (2), yaitu:
Takut kehilangan pekerjaan, yang berarti kehilangan penghasilan. Pandemi memang benar-benar menghasilkan efek yang menakutkan begini.
Karena tidak bisa banyak keluar rumah dengan leluasa seperti biasa, harus ada cara untuk membunuh kebosanan di rumah. Menambah penghasilan sampingan dari pekerjaan freelance adalah salah satu cara untuk mengisi waktu luang.
Namun, lama-lama saya sadar juga bahwa saya butuh bantuan. Menggunakan spreadsheet terpisah untuk mengecek perkembangan setiap pekerjaan lama-lama melelahkan. Saya membutuhkan bantuan aplikasi manajemen proyek untuk efisiensi dan efektifitasdalam bekerja. Cukup cek dalam satu tempat, maka saya bisa mengecek semua pekerjaan sekaligus. Tidak perlu terlalu ribet.
Berkenalan Dengan Aplikasi Tomps
Banyak aplikasi yang mendukung manajemen proyek untuk efisiensi dan efektifitasdalam bekerja. Namun, Tomps menawarkan kedua hal tersebut. Tools aplikasi ini dapat membantu kita melancarkan pekerjaan secara digital. Aplikasi ini sama-sama dapat diakses di ponsel maupun web. Jadi, bila ponsel sudah terasa berat karena sudah kebanyakan data, Anda masih bisa mengaksesnya dari laptop atau PC.
Hebatnya, Tomps juga bisa diakses kapan pun. Aplikasi ini dapat mempermudah interaksi semua pihak yang terlibat dalam proyek yang sama. Misalnya: project stakeholder dan vendor yang sedang mengerjakan social media dan online campaigns lainnya. Semua dapat dikerjakan secara mobile, sehingga mempermudah dan mempercepat penyelesaian proyek.
Seperti Apa Fitur Aplikasi Tomps?
Secara singkat, inilah fitur-fitur yang terdapat di dalam aplikasi Tomps:
Dashboard.
Dashboard berfungsi untuk memonitor semua proyek yang sedang dikerjakan. Tampilannya menarik, tidak membuat sakit mata. Bahkan, rekan-rekan atau teman-teman yang sedang didapuk menjadi PIC proyek mereka akan sangat terbantu menggunakan Tomps.
Daripada pakai spreadsheet terpisah dan mengisi laporan manual yang lebih memakan banyak waktu, lebih baik pakai aplikasi ini, bukan? Apalagi, era pandemi ini membuat kita sulit untuk bertemu dengan sesama karyawan atau kolega secara langsung.
Project.
Fitur ini membantu kita memonitor progress setiap proyek yang sedang dikerjakan. Di sini, kita dapat merencanakan detail proyek sesuai waktu yang telah disepakati bersama dengan semua pihak yang terlibat. Fitur ini juga membantu kita memastikan agar antar satu proyek dengan proyek lainnya (selama masih dikerjakan oleh tim yang sama), tidak sampai bentrok di tenggat waktu. Ingat, manusia tidak se-super itu.
Report.
Maunya sih, semua laporan bisa dikumpulkan di satu tempat sekaligus. Bila biasanya laporan proyek terpencar-pencar, sekarang tidak perlu lagi berkat aplikasi Tomps. Kita bisa melacak data, perkembangan risiko, masalah, hingga perubahan lainnya pada proyek secara lebih lengkap. Ada juga filter untuk membantu kita menargetkan beberapa hal yang sedang kita butuhkan saat itu.
Project cost.
Memonitor proyek secara manual mungkin ideal bila kita tidak begitu membutuhkan listrik. Namun, sayangnya banyak yang bisa ‘colongan’ dengan cara ini. Misalnya: me-markup dana, memanipulasi data, hingga menyembunyikan kesalahan. Dengan menggunakan aplikasi Tomps, semua hal tersebut dapat diminimalisir. Mau curang, cepat ketahuan – secara real-time lagi! Malunya pasti tidak terkirakan lagi.
Bahkan, fitur project cost dapat dilengkapi dengan maps. Fungsinya adalah agar kita bisa secara akurat mengetahui lokasi bukti yang diunggah ke dalam sistem. Dengan cara begini, manajemen proyekdapat berjalan secara efektif dan efisien.
Mau Paket Tomps yang Seperti Apa, Sih?
Jadi, ingin mencoba paket Tomps yang seperti apa? Sesuai kebutuhan, inilah beberapa paket yang bisa kita coba:
Basic.
Baru pertama kali menggunakan Tomps dan sedang menjajal aplikasi ini? Boleh juga mulai dari paket Basic. Baik untuk mengelola proyek perusahaan atau proyek internal, silakan coba paket ini. Tim kita akan sangat terbantu sekali.
Business.
Sedang mengerjakan banyak proyek, yang melibatkan banyak tim yang berbeda? Paket Business dalam aplikasi Tomps akan mempermudah kita mengikuti perkembangan setiap proyek dalam waktu bersamaan.
Pro.
Paket ini diperuntukkan untuk para professional yang sedang berkolaborasi dengan banyak pihak. Yang menyenangkan, paket Pro tidak punya batasan jumlah proyek dan pengguna.
Enterprise.
Untuk proyek-proyek perusahaan skala besar, kita bisa menggunakan paket Enterprise. Tanpa batasan jumlah proyek yang diikutkan, kita dapat memantau semua proyek sekaligus. Cara ini juga lebih aman dan nyaman.
On Premise.
Sedang di tempat klien saat memantau progress setiap proyek perusahaan Anda? Gunakan paket On Premise dari aplikasi Tomps. Ada client’s infra dan fitur penambahan pengguna, proyek, dan lisensi.
White Label.
Ingin visibilitas lebih banyak saat memonitor proyek-proyek perusahaan? Sesuai namanya, paket White Label bisa dipilih. Sama seperti versi On Premise, paket ini punya client’s infra danfitur penambahan pengguna, proyek, hingga lisensi. Bila kedua paket sebelumnya bisa di-customised secara minor, maka paket ini bisa di-customised secara major.
Lalu, Apakah Aplikasi Tomps Juga Cocok Untuk Pekerja Freelance?
Bila memang bisa, kenapa tidak? Apalagi, banyak pekerja freelance yang mungkin sedang butuh bantuan dalam manajemen proyek-proyek yang sedang mereka kerjakan. Apalagi bila beberapa proyek tidak hanya sekali selesai, melainkan harus secara bertahap. Agar tidak kelewatan, aplikasi Tomps dapat membantu Anda agar tetap bisa memonitor progress proyek tersebut.
Apa saja manfaat dari aplikasi Tomps yang dapat dirasakan oleh para freelancer?
Untuk manajemen proyek dan inventaris.
Mau atur jadwal, perencanaa, hingga investasi? Butuh laporan standard inventory? Aplikasi Tomps menjawab kebutuhanmu sebagai seorang pekerja freelance.
Untuk menyimpan dokumen digital.
Sistem digital aplikasi Tomps membantumu menyimpan dokumen digital secara rapi. Tidak perlu lagi acara mengunduh dan menunggah data-data penting dari tempat-tempat terpisah, padahal semuanya dibutuhkan untuk satu proyek saat itu juga.
Untuk mengurangi terjadinya penyimpangan dalam proyek.
Sebagai freelancer, salah satu risiko pekerjaan adalah saat berurusan dengan klien ‘bandel’. Tahu sendiri ‘kan, sehabis proyek selesai, klien kabur tanpa membayar. Untuk mencegah kemungkinan itu terjadi, gunakan aplikasi Tomps. Kamu bisa mengecek apakah klien memenuhi tenggat waktu pembayaran proyek.
Moga-moga sih, kamu tidak perlu sampai mengalami hal-hal yang tidak diinginkan saat bekerja, ya.
Untuk memonitor progress proyek secara real-time.
Bagaimana bila kamu terlibat dalam proyek jangka panjang dengan beberapa pihak terkait, bahkan meskipun statusmu adalah pekerja freelancer? Meskipun sudah mempunyai aplikasi Tomps, kamu masih bisa diundang oleh PIC proyek yang bersangkutan ke dalam akun Tomps mereka.
Begitu pula sebaliknya. Apa pun pilihan dan kesepakatan bersama, pastikan kamu bisa ikut memonitor progress proyek secara real-time.
Sebagai efisiensi sumber daya.
Pokoknya, aplikasi ini bikin waktumu hemat dan tenagamu tidak terbuang percuma. Pekerjaanmu jadi termonitor dengan lengkap, pas real-time pula. Biaya pun ikut terpangkas. Nah, ini dia yang namanya manajemen proyek untuk efisiensi dan efektifitas.
Jadi, masih ragu pakai Tomps? Jangan lagi, dong. Biar kerjamu semakin efektif dan efisien.
Bagi yang tumbuh di era pra-internet, mungkin televisi pernah menjadi hiburan dominan kalian. Saya tumbuh sebagai remaja canggung di pergaulan, yang lebih banyak mengurung diri di rumah dan kamar. Televisi dan radio pernah menjadi sahabat saya. Selain itu, saya juga terbiasa banyak membaca buku dan menulis catatan harian.
Siapa sangka, kebiasaan-kebiasaan yang dulu dianggap cupu dan nggak gaul ini lumayan menyelamatkan kewarasan saya di kemudian hari. Bahkan, sebelum pandemi #Covid19 terjadi, saya sudah lama belajar untuk beradaptasi hingga berkawan dengan sepi. Semua hobi ini sangat membantu saya.
Begitu pula dalam hal pertemanan.
Beda Pertemanan Masa Kecil, Remaja, Dengan Dewasa
Mungkin ini nggak bisa dipukul rata, ya. Saya yakin, setiap orang mempunyai kisahnya masing-masing mengenai pertemanan, baik sejak kecil, remaja, hingga dewasa. Kepribadian setiap manusia juga ikut berpengaruh dalam dinamika pertemanan. Mohon maaf, saya hanya bisa berbagi berdasarkan pengalaman pribadi saya di sini.
Pertemanan masa kecil.
Jujur, saya tidak begitu ingat pertemanan masa kecil saya. Saya hanya lebih banyak ingat dianggap sebagai anak aneh dan sangat berbeda dengan kakak perempuan saya yang kebetulan satu sekolah. Ada beberapa teman yang cukup dekat, namun begitu lulus tidak bertahan lama.
Pertemanan masa remaja.
Sama seperti saat SD, SMP adalah saat-saat tercanggung bagi saya. Ya, saya akhirnya punya sekelompok anak lain yang bisa saya sebut teman dekat dan baik. Begitu pula saat SMA. Namun, mungkin karena masih banyak yang menganggap saya aneh, saya masih lebih banyak menyendiri. Akhir pekan pun jarang keluar rumah seperti remaja normal pada umumnya.
Mungkin karena hobi menulis saya terasa lebih menarik saat itu. Saya lebih ingat buku-buku yang pernah saya baca atau film-film yang pernah saya tonton. Saya hapal hampir semua lagu favorit di radio. Saya pernah mengoleksi kaset-kaset dan CD-CD para musisi favorit saya.
Saya juga mulai banyak menulis. Buku harian, puisi, cerpen, hingga novelet. Pernah sih, menulis novel sekali. Waktu itu belum kepikiran untuk menerbitkannya di penerbit lokal. Buat senang-senang saja. Plotnya juga masih acak-adul dan tidak masuk akal.
Saya juga senang menonton film di bioskop dan konser musik. Meskipun cerita masa remaja saya tidak seseru film-film remaja Hollywood, setidaknya saya ingat saya cukup bahagia.
Pertemanan dewasa.
Anehnya, bila banyak yang bilang kalau pertemanan masa remaja itu paling indah, saya malah tidak sepakat. Saya malah lebih suka pertemanan dewasa, meskipun dinamikanya tidak pernah benar-benar stabil. Setiap saat bisa saja tiba-tiba berubah atau berganti.
Mungkin karena sejak kecil saya sudah terbiasa untuk bermain sendiri bila tidak ada teman. (Bukan berarti nggak butuh teman loh, ya. Ada bedanya.) Selain itu, saya sempat terheran-heran dengan beberapa contoh pertemanan masa remaja yang menurut saya malah “nggak masuk akal”.
Contohnya: ke mana-mana harus selalu bareng, pakai baju kembar, harus menyukai hal-hal yang sama. (Kecuali untuk urusan pacar, kalau nggak mau alamat rebutan.) Bahkan, kalau bisa punya musuh yang sama. Satu orang di grup pertemanan lagi slek sama si A, yang lain harus ikutan benci atas nama solidaritas.
Hahaha … sampai sini, saya mau tertawa. Sebentar dulu, ya … hahaha …
Lalu, apa yang terjadi bila kamu yang termasuk grup itu tiba-tiba punya keinginan beda? Misalnya, bosan pakai aksesoris sama, suka sama film atau musisi yang berbeda, hingga nggak selalu ingin ke mana-mana bareng mereka? Ada kalanya kamu ingin jalan sendiri, berteman dengan orang-orang lain juga, dan melakukan hal-hal yang hanya kamu yang suka – namun belum tentu disenangi mereka juga …
Bagaimana soal musuh? Nah, ini juga yang paling saya nggak suka. Okelah, mungkin orang yang disebut si teman memang terbukti menyebalkan. Tapi, kalau orang itu belum pernah berbuat salah sama saya, kenapa saya harus ikut-ikutan memusuhinya – hanya atas nama solidaritas dengan teman?
(Sekadar catatan: ketentuan di atas tidak berlaku untuk kasus kekerasan – termasuk pelecehan seksual. Bila teman saya menjadi korban perbuatan kriminal macam itu sehingga membuatnya membenci orang itu, tentu saja saya berdiri bersama korban. Setidaknya sampai terbukti sebaliknya.)
Selain itu, biasanya saya akan merasa gerah bila seorang teman yang tidak suka sama seseorang, lalu sampai mengatur-atur saya agar ikut memusuhinya juga. Bahkan, mereka sampai marah bila tahu saya masih bicara dengan orang yang mereka benci.
Tidak hanya itu. Pertemanan dewasa mengajarkan kita bahwa yang namanya adil itu belum tentu selalu 50 – 50. Misalnya: teman selalu punya waktu luang dan uang, sehingga sering ngajak nongkrong bareng atau ketemuan. Padahal, bisa saja kamu sedang sibuk, bokek, atau keduanya. Bila memang berpikiran dewasa, teman tidak akan mudah baperan bila kita sedang tidak bisa sering nongkrong bareng mereka.
Oke, mungkin ucapan saya terdengar agak kejam. Namun, intinya pertemanan masa dewasa tidak bisa disamakan dengan pertemanan masa remaja. Kita semua telah berkembang menjadi pribadi masing-masing, dengan ciri khas yang tidak mungkin bisa disamakan. Sebagai manusia, kita pun niscaya berubah. Bisa jadi dulu menyukai hal yang sama, kini sudah sulit untuk sepaham.
Merasa sedih, kehilangan, dan kesepian itu memang wajar. Namun, rasanya kekanak-kanakan bila kita berharap bahwa semuanya tidak akan berubah dan tetap sesuai kemauan kita. Namanya juga hidup. Bila memberi kebaikan, siap-siap untuk tidak selalu mendapatkan balasan yang sama maupun lebih baik. Kemungkinan itu selalu di luar kendali kita.
Ada seorang kawan lama yang sempat merasa bersalah. Menurutnya, saya terlalu baik. Saya selalu menyempatkan waktu untuk menanyakan kabarnya, sementara kadang dia ingat untuk melakukan hal yang sama untuk saya tidak. Menurutnya, saya layak mendapatkan teman yang jauh lebih baik darinya.
Ada juga seorang mantan teman yang mungkin hingga kini masih menganggap saya teman yang jahat. Menurutnya, saya sama sekali bukan teman yang pengertian. Saya bukan teman yang tahan mendengarnya curhat setiap saat, bahkan meskipun isi curhatannya selalu lebih banyak mengenai orang-orang yang dia pergunjingkan hanya karena dia tidak suka mereka. Di matanya, mereka selalu salah.
Intinya, dia bersikap seakan-akan seluruh dunia selalu memusuhinya. Berhubung bukan terapis berlisensi, saya pernah menyarankannya untuk mendapatkan bantuan. Eh, saya malah dimaki-maki sebagai teman yang jahat dan tidak pengertian. Padahal, sama seperti dirinya, saya manusia biasa yang juga bisa lelah.
Untuk kedua jenis teman tersebut, kadang saya hanya ingin berkata: “Selamat datang di pertemanan orang dewasa.” Tidak semua hal selalu tentangmu. Tidak ada yang statis dalam interaksi kita. Semua bergerak dinamis, seiring perubahan kita saat berhadapan dengan realita.
Tidak ada manusia yang 100 persen baik maupun jahat. Kita adalah kombinasi dari keduanya. Tapi, kita juga selalu dibekali pilihan untuk berbuat yang terbaik …
“STRINGS ATTACHED: Kunjungan Singkat Serial Pendek Komedi Romantis”
Untuk ukuran orang yang tengah skeptis akan romansa, saya tidak pernah mengira akan benar-benar menikmati membaca antologi fiksimini ini. Ditulis oleh Firnita Taufick, “Strings Attached” membawa saya kembali ke masa remaja.
Bagi banyak orang, masa remaja adalah masanya percaya akan cinta. Ini masanya cerita roman remaja, serial sinetron, dan komedi romantis Ini masanya kita lebih peduli apakah orang yang kita suka menyukai kita juga atau tidak.
Masa remaja adalah masa-masa patah hati nyaris terasa seperti akhir dunia … setidaknya pada awalnya. Seperti kata orang-orang: masih banyak ikan di laut. Tak peduli kamu bilang ke mereka kalau kamu vegetarian. (Bercanda!)
Ngomong-ngomong, saya merasa ‘dekat’ dengan banyak cerita di buku ini. Pada “Chapter I: Hope”, kita tahu rasanya debar-debar itu. Tahu ‘kan, seperti banyaknya kupu-kupu yang terbang menari-nari di dalam perut – saat melihat sosok yang kita taksir di sekolah / kampus. Bisa teringat – atau mungkin terbayangkan – saat berpapasan dengan mereka – di perpustakaan maupun di kedai kopi.
Pada “Chapter II: The Bliss”, saya teringat akan keajaiban, semua kemungkinan yang menyenangkan sekaligus menakutkan. Apakah perasaan ini nyata? Apakah si dia juga merasakan yang saya rasakan?
Seberapa lama perasaan ini akan berlangsung? Akankah saya patah hati saat fantasi ini berakhir? Bisakah saya merelakan orang itu secepat mungkin? Apakah saya akan menemukan seseorang yang lain lagi bila hal itu sampai terjadi?
“Chapter III: The Despair” mungkin yang terberat untuk saya baca. Tidak ada orang waras pun yang mau mengalami hal ini. Hubungan bisa saja berakhir. Pasangan bisa putus. Kadang kamu terpaksa mengucapkan selamat tinggal pada apa pun dan seorang pun yang kamu harap bisa tinggal lebih lama. Cinta sejati adalah konsep kekanak-kanakan, abstrak, dan mustahil. Kita sadar dan belajar akan hal itu seiring bertambahnya usia.
Tetap saja, mengenai romantika remaja, inilah semua fase yang mungkin akan kita semua lewati. Tidak ada tawar-menawar. Sudah bagian dari risiko.
Membaca “Strings Attached” akan membuatmu merasa pahit dan manis. Bahkan untuk pembaca yang skeptic akan roman seperti saya selesai membacanya dengan senyum. Siapa tahu? Mungkin keajaiban lama bernama cinta masih ada, bahkan meskipun kita masih ingin memastikan bahwa kita tetap berpegangan pada realita …
Eh, buku keduanya Firnita – “The Short Stories” – sudah ada di Gramedia, lho!
Mungkin saya terdengar julid, tapi saya yakin bukan saya saja yang berpendapat begini. Saya juga enggan menyebut nama influencer siapa pun sebagai contoh kasus. Tinggal Google atau cek yang lagi trending di medsos, kalian pasti langsung nemu.
Terserah sih, berhubung itu bukan akun atau platform saya. Apalagi kalau cara itu bisa bikin mereka dapat uang lebih banyak dari kerja kantoran biasa. Saya juga nggak mau mengatur-atur cara orang mencari nafkah, selama masih halal dan tidak merugikan orang lain.
Tapi, setelah melihat banyaknya contoh kasus oversharing kehidupan pribadi seorang influencer di dunia maya yang berujung ricuh, mungkin saya hanya bisa kasih saran untuk yang baru kepikiran untuk ikutan jadi influencer. Terserah sih, mau diikuti atau tidaknya.
Kenapa sih, kamu harus pikir-pikir lagi sebelum terlalu banyak berbagi soal kehidupan pribadimu di dunia maya? Ini dia tiga (3) alasan utamanya:
Nggak semua orang tertarik untuk mengetahui hidupmu.
Mungkin ini terdengar kejam seperti omongan julid mereka yang sirik. Pada kenyataannya, nggak semua orang tertarik untuk mengetahui hidupmu. Apalagi, bisa jadi yang kamu lakukan itu belum tentu seistimewa itu di mata mereka. Lain cerita kalau kontenmu menghibur, tapi lebih mendidik dan menginspirasi.
Misalnya: kamu suka banget sama satu jenis makanan tertentu, terus kepikiran bikin beragam menu dari bahan makanan tersebut. Atau kamu bisa memposting video parodi film-film lucu favoritmu. (Khusus ini, kamu memang harus jago akting beneran.) Atau kamu bisa bikin eksperimen sosial yang lain daripada yang lain. Misalnya: sehari pakai wig rambut warna pelangi di ruang publik.
Emang, untuk saran-saran di atas effort-nya lebih gede. Jadi gak asal nge-prank orang tapi gak berfaedah atau pun pamer barang-barang mahal tanpa tujuan jelas.
Kamu nggak bisa menyenangkan semua orang – dan nggak semua kritikus itu benci secara pribadi sama kamu.
Ayolah, bahkan sebenarnya kamu sudah tahu saat berinteraksi dengan sesama manusia lain di dunia nyata. Kamu nggak akan bisa menyenangkan semua orang, meskipun kamu sudah berusaha mengambil hati mereka. Namanya juga hidup. Cukup fokus sama hal-hal yang bisa kamu kendalikan dalam hidup ini.
Memang, nggak menutup kemungkinan bakal ada juga yang gerah dengan kontenmu. Apalagi bila menurut mereka konten kamu itu ‘enggak banget’. Nah, di sini kamu harus bisa menekan egomu dan bijak dalam menyeleksi: mana kritikus yang sebaiknya kamu dengerin dan mana yang asli haters.
Belum bisa bedain? Hei, nggak semua kritikus itu benci secara pribadi sama kamu, kok. Bisa jadi, tadinya mereka followers kamu yang kemudian merasa kecewa dengan mutu kontenmu. Kalau mereka memang punya saran yang bagus, kenapa nggak hargai mereka yang mungkin hanya ingin melihat kamu menjadi content creator yang lebih baik lagi? Toh, pada akhirnya, keputusan tetap ada di tanganmu.
Kalau mereka hanya mengkritik tanpa memberi solusi, apalagi ditambah dengan menghina menggunakan makian kasar, berarti mereka memang benci sama kamu. Nggak perlu membela diri atau menjelaskan apa-apa kalau memang kamu nggak merasa salah. Toh, meskipun kamu sudah berusaha menjadi lebih baik, kalau mereka masih begitu, berarti memang asli sentimen aja.
Bisa jadi, mereka lama-lama risih juga dengan kehidupan pribadimu yang terlalu sering kamu jadikan konten. Dengan semakin berkurangnya ruang untuk privasimu, kamu bisa rentan mengalami alasan berikut ini:
Demi menyenangkan semua orang, kamu rentan dikendalikan oleh followers-mu sendiri.
Memang menyenangkan rasanya disukai banyak orang, meskipun nggak semuanya kamu kenal secara langsung. Rasanya ngartis (jadi artis) dengan banyak penggemar. Rasanya kayak punya banyak teman.
Cuma, hati-hati aja. Kamu bisa kejebak dalam kondisi ini: jadi diatur-atur sama banyak orang lewat komentar-komentar followers kamu. Gara-gara takut kekurangan likes dan views hingga kehilangan followers, kamu jadi rela – bahkan mati-matian – mengubah dirimu menjadi sosok yang berbeda.
Kalau memang kamu-nya ingin berubah menjadi lebih baik demi kenyamananmu sendiri sih, nggak masalah. Lain cerita kalau kamu justru melakukannya demi menyenangkan dan memenuhi tuntutan orang lain. Apalagi, orang-orang ini statusnya orang-orang asing buatmu, bukan keluarga maupun teman.
Diatur-atur keluarga sendiri atau teman saja belum tentu semua mau. Ini, kamu malah menuruti orang-orang yang sama sekali nggak kamu kenal dan hanya kenal kamu lewat “pencitraan” di dunia maya.
Makanya, banyak yang harus dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk bikin konten dari kehidupan pribadimu. Jangankan sampai oversharing, berbagi sedikit saja juga belum tentu akan disukai semua orang. Kamu juga akan mudah tertekan secara mental bila tujuan utamamu bikin konten adalah biar disenangi banyak orang sekaligus monetisasi.
Jangan lupa juga untuk bersenang-senang, selama tidak merugikan diri sendiri maupun sesama. Jadilah inspirasi, alih-alih hanya “biar dilihat”. Sudah terlalu banyak influencer lokal yang melakukan hal serupa.