Akhir 2020 kemarin, saya mendapat kehormatan untuk menghadiri acara peluncuran buku kumpulan puisi berjudul “Yang Tak Kunjung Reda” karya Azwar Aswin. Buku ini adalah kumpulan puisi keduanya, sesudah “Perpanjangan Waktu”. Mewakili komunitas Malam Puisi Jakarta, saya juga beruntung mendapatkan kepercayaan untuk membacakan dua puisi beliau berjudul “Yang Belum Kuceritakan Padamu” dan “Yang Tak Kunjung Reda”. Acara ini berlangsung di Zoom pada satu akhir pekan – Malam Minggu – yang menurut saya sangat berkesan.
Sesuai janji saya pada Azwar Aswin, inilah review bukunya dari saya:
Membaca kumpulan puisi “Yang Tak Kunjung Reda” ini telah menjadi pelarian menyenangkan bagi saya. Saya yakin, saya bukan satu-satunya yang mencari hiburan semacam ini di era pandemi #Covid19. Bahkan, membaca buku sudah lama saya lakukan sejak kecil dan semakin terasa manfaatnya sekarang.
Bolehlah menyebut pendapat saya subjektif. Puisi-puisi Azwar Aswin dalam buku ini begitu mudah dicerna, namun tidak sampai jatuh pada kualitas ‘receh’. Banyak tema kekinian yang dikemas dengan jujur, ringkas, dan tanpa terkesan sok tahu. Setiap baitnya penuh dengan permainan kata yang ringan, bahkan terkesan jenaka dalam beberapa puisi.
Salah satu puisi yang menurut saya cukup jenaka adalah “Receh”:
Kau masih saja rebahan
sambil menikmati jajanan rasa mecin
dan berulang kali tertawa karena hal-hal receh.
Sangat relevan, bukan? Bukankah itu gambaran sehari-hari masyarakat kita hari ini, terutama di daerah pinggiran perkotaan? Apalagi dengan semakin mudahnya akses ke makanan ringan berbahan MSG (yang disebut jajanan rasa mecin dalam puisi “Receh”) dan teknologi digital. Sudah pemandangan lumrah saat melihat pengguna teknologi digital beragam usia tertawa-tawa karena konten video receh di TikTok sambil mengunyah sebungkus keripik kentang.
Lalu, apa yang waktu itu membuat saya memilih puisi “Yang Belum Kuceritakan Padamu”? Saat itu, isi puisi tersebut tengah terasa sangat relevan dengan situasi yang sedang saya alami. Tanpa harus bercerita lebih banyak dan detail mengenai yang saya alami dan rasakan saat itu, bagian terakhir puisi ini sepertinya sudah cukup mewakili:
Di antara derita dan gempitanya suasana
ada sederetan sisa hidup
yang belum kuceritakan padamu …
Saat sempat, semoga saya masih bisa mendapatkan buku kumpulan puisi perdana Azwar Aswin yang berjudul “Perpanjangan Waktu”. Terima kasih atas kesempatannya untuk mengenal karya-karya Azwar Aswin. Terima kasih juga kepada Malam Puisi Jakarta yang telah mengenalkan saya pada penyair Indonesia yang hingga kini masih produktif menulis puisi dan opini.
Semoga Yang Tak Kunjung Reda adalah semangat untuk terus berkarya …
Loh, kok gitu? Mungkin banyak yang akan bereaksi seperti itu saat membaca judul tulisan ini. Kaget, kesal, atau malah nggak suka? Ah, itu mah, sudah biasa.
Bahkan, saya nggak akan heran kalau sampai ada yang bilang saya sinis. Nggak apa-apa, ngomong aja. Emang suka ada batas tipis-tipis kok, antara yang sinis dengan yang realistis.
Oke, saya akan langsung menjelaskan alasan judul tulisan kali ini bisa sampai begini depresifnya:
Cerita dongeng dan komedi romantis itu hanya obat penenang sementara.
Cerita dongeng tentang putri, pangeran, dan cinta sejati memang hanya cocok untuk anak kecil. Gak, sama sekali nggak ada yang salah dengan cinta sejati. Bagus malah. Sah-sah saja kalau masih mau percaya, terutama hari gini.
Cuma, jangan lupa untuk tetap melek dengan realita, ya. Boleh sih, memberi harapan pada si kecil kalau kebaikan biasanya juga akan berbalas dengan kebaikan. Bisa sama, bisa lebih baik lagi.
Saat cinta tak berbalas sesuai harapan, pasti semuanya akan merasa kecewa. Nggak apa-apa, butuh waktu juga untuk merasa sedih sampai puas. Nggak perlu buru-buru, meskipun orang lain pada bilang kamu kelamaan nggak move on.
Bila cerita dongeng cocok untuk anak kecil, maka komedi romantis cocok untuk remaja. Saya tidak sedang menghina. Saya sendiri juga pernah remaja, jadi tahu rasanya.
Andai saja cinta semudah dan seklise rom-com (romantic comedy), mungkin akan semakin lebih banyak yang ingin menikah. Di Indonesia, sekarang aja udah banyak banget yang menikah – entah karena ingin atau didorong-dorong sama society, bahkan meski tanpa bantuan finansial yang berarti. (Iye, nyuruh doang, bantuin kagak!)
Pada kenyataannya, tidak semudah itu. Tidak semua orang mendapatkan keuntungan semudah itu. Ada kalanya, kamu bukan tokoh utama yang selalu bisa mendapatkan segalanya. Bahkan meskipun banyak teman yang bilang kamu baik pun, belum tentu hal itu akan terjadi. Kadang itu hanya ilusi.
Bila kamu bukan tokoh utama, siap-siap saja untuk lebih sering patah hati. Siap-siap bila hampir setiap saat dipaksa kembali menelan kekalahan yang sama – bahkan sampai muak semuak-muaknya:
Si dia selalu memilih yang lain. Maaf, kamu hanya bisa jadi teman. Lebih baik daripada tidak sama sekali, alias tidak jadi siapa-siapa-nya si dia. Kamu sama sekali bukan tipenya.
Makanya, baik cerita dongeng maupun komedi romantis hanya obat penenang sementara. Lebih baik sering-sering saling mengingatkan, bahwa kebahagiaan diri sejatinya tanggung jawab dan usaha pribadi.
Kadang kamu hanya bisa berusaha sebaik mungkin, apa pun hasilnya nanti.
Sudahlah, tidak ada resep ‘saklek’ untuk cinta. Kadang ini bukan masalah kamu kurang cantik / kurang kaya / terlalu gemuk / terlalu pintar / kurang atau terlalu baik dan entah apa lagi. Lagipula, hanya tiga (3) hal pasti terkait perkara cinta:
Hati manusia mudah berubah.
Setiap manusia punya pengalaman berbeda.
Manusia tidak tahu segalanya.
Lupakan kepercayaan basi: “Kalau kamu baik dan menarik, orang yang kamu suka akan balas menyukaimu secara otomatis.” Paham menyesatkan ini malah akan menumbuhkan sikap pamrih dan sok baik – pokoknya self-entitled sekali. Tahu, ‘kan? Contohnya, laki-laki yang marah saat ditolak oleh perempuan yang sama sekali tidak tertarik sama dia suka ngomel begini:
“Udah gue baik-baikin malah ditolak. Emang dasar ceweknya aja yang sok kecakepan, sok laku!”
Kadang kamu memang terpaksa harus menerima kenyataan bahwa … ya, hidup ini memang tidak adil. Bisa jadi, orang baik kadang kalah dengan yang (dianggap) ‘menang tampang / tajir doang’. Kadang, yang suka bikin banyak orang patah hati justru malah yang lebih menarik – karena dianggap lebih menantang. Yang sudah baik dan bersedia meluangkan waktu malah dianggap membosankan – bahkan cenderung … murahan.
Beginilah serba salah hidup di tengah society yang gemar mempermainkan emosi sesamanya. Bagi mereka, yang penting kamu baru dianggap laku dan menarik kalau ada pasangan. Yang tadinya baik dan sabar lama-lama jadi terkena efek negatif dan mulai bersikap sok baik tapi pamrih, seakan perhatiannya wajib dibalas dengan baik juga. Yang bejad tapi banyak penggemar semakin merasa di atas angin, selalu mempermainkan perasaan para penggemar mereka.
Sedih, ya?
Sedih? Ngapain jadi (dibawa) sedih? Silakan pikir dan putuskan sendiri: mau kuantitas apa kualitas? Mau pasangan yang benar-benar sayang atau yang hanya menganggapmu pelarian, mainan, atau bahkan sasaran untuk ditaklukkan? Situ bangga jadi rebutan, kayak barang diskonan?
Makanya, nggak usah terlalu pusingin omongan julid orang soal “Jangan terlalu baik kalo nggak mau dimanfaatin orang dan dianggep membosankan, karena kurang menantang.” Tetap jadi diri sendiri saja yang baik dan tidak menyakiti orang lain. Jangan lupa selalu berhati-hati dan belajar dari pengalaman.
Pada kenyataannya, tidak ada yang abadi di dunia ini.
Terserah saja bila ada orang-orang yang mengejekmu dengan sebutan ‘tak laku’, hanya karena kesannya kamu lajang melulu. Toh, kamu bukan barang dagangan – di toko diskon pula. Jangan mau dianggap serendah itu. Kamu manusia, sama seperti mereka.
Ya, kamu manusia biasa yang hanya bisa berusaha sebaik mungkin. Biar saja mereka mengasihanimu yang cintanya ditolak melulu. Setidaknya, kamu jadi belajar untuk tidak menggantungkan kebahagiaanmu pada orang lain.
Pada kenyataannya, tidak pernah ada resep ‘saklek’ untuk cinta. Sudahlah, yang kebetulan sudah diberikan jodoh oleh Tuhan tidak usah sok ‘paling bahagia’ di dunia. Biasa aja. Bukan berarti kamu yang beruntung lebih baik daripada yang masih lajang.
Ingat, apa pun masih bisa terjadi. Hati manusia mudah berubah, jadi nggak usah terlalu percaya diri. Yang pacaran masih bisa putus, yang menikah pun bisa cerai. Kalau tidak, bisa juga ditinggal mati. Tidak ada yang abadi.
Lagipula, namanya juga rezeki. Setiap orang dapatnya berbeda-beda. Jangan sampai kesombonganmu yang merasa terlalu bahagia karena sudah punya pasangan bikin Tuhan memutuskan untuk mengambil rezekimu kembali.
Bukannya mau nakutin atau nyumpahin loh, ya. #Sekadarmengingatkan …
5 Hal yang Harus Disiapkan Saat Menulis dan Memposting Artikel Opini
Hari gini pasti udah banyak banget yang (doyan) beropini. Gak hanya di media sosial, di media digital lainnya (terutama yang alternatif dan terima karya kontributor lepasan) juga ada. Mau nulis di blog sendiri juga bisa.
Cuma, harus siap-siap bila artikel opini yang sudah terpublikasi – bahkan sampai viral – menuai beragam reaksi. Gak hanya pujian, celaan juga pasti ada. (Makin banyak juga bila isi artikelmu asli ngaco atau dianggep kontroversial – atau malah keduanya.) Tahu sendiri ‘kan, dunia nyata (ternyata) juga sama saja.
Biar nggak kaget, ini lima (5) hal yang harus kamu siapkan saat menulis dan memposting artikel opini:
Biarpun opini, lebih oke pake riset.
Seperti yang sudah disebutkan, setiap orang bebas beropini. Meskipun bukan bersifat berita (news), lebih oke lagi kalo tulisanmu pake riset serius juga. Hal ini akan mengurangi kemungkinan tulisanmu dituding pembaca sebagai ‘curhatan doang’ atau tulisan yang bersifat (terlalu) subjektif.
Hmm, kalo pun emang berawal dari curhatan, trus kenapa? Namanya juga sharing pengalaman sendiri. Kalo bohong namanya fiksi.
Usahakan melihat/memaparkan setidaknya dua sisi berbeda secara berimbang.
Dalam setiap topik pasti ada beragam opini. Nah, tulisanmu akan semakin kaya bila mau mengulas topik tulisan tidak hanya dari satu sisi. (Baca: pendapat yang paling kamu setujui saja.) Biarkan pembaca belajar menganalisa suatu masalah tidak hanya dari perspektifmu.
Bisa jadi kamu sudah yakin benar akan satu hal. Tidak masalah. Boleh kok, mempertahankan pendapatmu. Selama juga punya bukti pendukung yang kuat, maka makin valid-lah pendapatmu saat ditulis.
Namun, menyebutkan pendapat lain yang berlawanan dengan pendapatmu juga penting, loh. Selain menunjukkan bahwa kamu mengakui adanya perbedaan (termasuk perbedaan pendapat), kamu tidak akan terdengar seperti orang yang ‘merasa paling benar sendiri’. Udah ya, soalnya yang gitu udah banyak banget, nih.
Cantumkan sumber-sumber tulisan lain yang mendukung pendapatmu di dalam artikelmu.
Sama seperti di dunia nyata, banyak macam orang di dunia maya. Mulai dari yang hanya asal komentar tanpa membaca (kecuali hanya judulnya), sampai yang punya argument berupa tulisan tandingan.
Bahkan, banyak juga yang emang niat membantah. Nah, kalau sudah begini, siap-siap hadapi aja, deh. Memang, meskipun misalnya argumen mereka (ternyata) terbukti lebih valid, nggak semua tahu atau bahkan peduli untuk pake cara yang santun untuk menegur.
Semoga kamu nggak akan mudah kepancing sama mereka yang sombong dan gemar merendahkan sesama karena merasa lebih benar. Mulai dari yang hobi menyindir “Belajar lagi yang bener deh, baru nulis beginian” sampai yang melenceng jauh – menuduhmu cari sensasi belaka.
Yang penting, sumber-sumber tulisanmu jelas dan dapat dipertanggung jawabkan. Contoh: jurnal ilmiah, media digital yang sudah terkenal bagus reputasinya (bukan yang hobi sebar gosip), dan masih banyak lagi. Mau dari blog orang lain juga boleh, selama isinya benar-benar kredibel.
Siapkan mental saat membaca berbagai komentar pembaca.
Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, ada pembaca yang baru lihat judul artikel saja sudah langsung komentar. Ada juga yang masih bisa objektif saat berkomentar, itu pun karena sudah membaca tulisanmu sampai habis. Yang nggak suka lantas mengajak ribut? Banyak juga.
Apa bedanya orang di dunia nyata dengan dunia maya? Mereka jauh lebih berani di dunia maya, karena bisa pake akun samaran. Yang biasanya kelihatan sopan sehari-hari ternyata malah jauh lebih kasar saat di social media.
Mempersiapkan mental bukan hanya perkara jangan ‘baperan’ (bawa perasaan – satu istilah yang sebenarnya sangat saya benci, karena sudah terlalu sering dipakai mereka yang sok tangguh untuk mengejek dan merendahkan sesama.) Okelah, banyak komentar sadis menyakitkan di dunia maya, tapi nggak semuanya harus atau layak kamu tanggapi.
Sayang bila waktumu terbuang hanya untuk meladeni mereka yang senang cari ribut demi sensasi (viralitas). Hidupmu pasti masih jauh lebih menarik daripada mereka. Lagipula, memangnya mereka sudah berani berkarya?
Yuk, mending nulis lagi aja terus…
Siapkan stok untuk ide tulisan-tulisanmu berikutnya.
Sama seperti musisi, hindari hanya menjadi ‘one hit wonder’. Jangan langsung puas hanya karena satu tulisan viral, habis itu berhenti begitu saja. Saatnya menggali ide lain dan terus menulis.
Bila memang suka menulis, lanjutkan saja. Tak perlu terlalu memusingkan komentar orang lain, apalagi yang tidak kamu kenal dan belum tentu punya karya yang (lebih) bagus. Cukup ikuti saran-saran yang menurutmu berguna dan kembali berkarya.
Pepatah ‘anak tidak pernah meminta dilahirkan’ memang benar adanya. Bahkan, tidak ada seorang pun anak yang bisa memilih orang tua mana yang akan melahirkan mereka.
Pada Sabtu (3 April 2021, pukul 19:00), saya memenuhi undangan Tiar Simorangkir, sutradara film dokumenter “Invisible Hopes” , untuk menghadiri gala premier terbatas di Plaza Senayan. Mengapa terbatas? Berhubung masih pandemi #Covid19, mau tidak mau yang diundang juga harus terbatas. Semua demi keamanan.
Tanpa intro yang terlalu panjang, saya langsung paham begitu melihat keseluruhan liputan kru Lam Horas Film selama berada di rutan (rumah tahanan) dan lapas (lembaga pemasyarakatan) khusus perempuan di Pondok Bambu, Jakarta Timur. Banyak sekali detail penting yang tidak boleh terlewat untuk menggambarkan kondisi rutan yang memang ‘apa adanya’.
Mungkin agak sulit bagi banyak orang untuk bersimpati pada narapidana perempuan kasus narkoba. Baik sebagai pemakai, pengedar, hingga kurir, semua ada di Pondok Bambu.
Ada juga yang merupakan ‘korban sampingan’ , gara-gara suami atau pasangan mereka yang lebih dulu terlibat dengan kasus narkoba. Apa daya, patriarki memang masih membuat banyak perempuan tergantung hidupnya pada suami. Entah karena menurut atau sama sekali tidak tahu bisnis suami.
Namun, terlepas dari apa pun penyebab para perempuan ini menjadi napi – dalam kondisi hamil pula – semoga film ini mengingatkan kita untuk tetap memanusiakan mereka. Apalagi, bayi-bayi yang terlahir di dalam penjara bersama mereka membutuhkan lingkungan yang jauh lebih layak untuk tumbuh sehat. Kondisi penjara yang sudah penuh sesak, panas, dan kandungan gizi yang kurang dalam makanan para napi bukanlah tempat ideal bagi para bayi untuk tumbuh besar.
Apalagi, stres berlipat ganda yang sering dialami para napi perempuan membuat mereka sering melampiaskan amarah kepada anak-anak mereka sendiri. Padahal, anak-anak itu tidak bersalah. Mereka tidak pernah memilih dilahirkan oleh ibu-ibu yang terlibat kasus narkoba, apalagi sampai harus lahir di penjara.
Kedutaan Besar Norwegia dan Kedutaan Besar Swiss mendukung proses pembuatan film “The Invisible Hopes”. Saran saya sih, bagi yang mau menonton, siap-siap stok tisu, yah. Hehehe. Selain itu, bersabarlah, karena film dokumenter menarik ini akan tayang di bioskop pada bulan Mei 2021.
Semoga sesudah menonton film ini, semakin banyak yang tergerak untuk membantu anak-anak yang kurang beruntung karena terlahir dan besar di penjara selama dua tahun pertama mereka. Apalagi, ibu-ibu mereka mengaku tidak meminta terlalu banyak: bantuan berupa pakaian, susu, hingga kebutuhan para bayi untuk buah hati mereka.
Untuk sementara, yuk lihat cuplikan resminya di sini:
Percaya atau tidak, pertama kali aku naik bus kota adalah saat tahun keduaku kuliah. (Maaf, bus sekolah tidak ikut dihitung.) Ini gara-gara aku muak jadi bahan tertawaan anak-anak lain di kampusku waktu itu. Kata mereka, aku anak manja, anak mami. Ini gara-gara mereka sering melihatku selalu diantar dan dijemput mamaku sendiri, meskipun usiaku sudah 18 tahun.
Singkat cerita, tadinya aku ingin segera ngekos seperti anak-anak lainnya pas mulai kuliah. Bayangan seru petualangan anak kos dekat kampus sudah memenuhi benak. Sudah kubayangkan banyak ide cerita yang bisa kutulis.
Apa daya, orang tua waktu itu melarang. Saat ingin naik bus, Mama juga keberatan. Alasan beliau, selama masih bisa diantar-jemput keluarga sendiri, kenapa mau repot-repot mengeluarkan ongkos naik bus? Hhh…pokoknya sulit membuat beliau memahami maksudku saat itu – hingga jujur saja…sempat bikin frustrasi.
Tahun kedua di kampus, akhirnya Mama mengalah. Namun, beliau mengajukan satu syarat: seminggu pertama, aku harus ditemani oleh teman kuliah yang sudah pernah naik bus dan kebetulan jurusannya searah. Wita, salah seorang teman sekelasku saat itu, mengajukan diri. Kebetulan, Mama dan ibunya Wita juga teman lama. Maka, jadilah Wita dipercaya Mama untuk “mendampingi”-ku naik bus kota.
Setelah merasakan manfaatnya, barulah Mama mengakui bahwa keputusan beliau membiarkanku naik bus sendiri memang tepat. Apalagi, beliau kemudian sudah mulai lelah dan berhenti mengantar dan menjemputku. Beliau juga bahkan belajar naik angkot dan bus dariku seiring waktu. Padahal, dulu waktu beliau seumurku boro-boro. Almarhum Aki sangat melindungi anak-anak perempuan beliau di rumah.
-//-
Setelah bekerja, naik bus sudah menjadi kebiasaanku sehari-hari. Santai, meski kadang lelah juga. Banyak pengalaman aneh-aneh juga, mulai dari dirayu penumpang laki-laki yang entah kenapa menginginkan nomor ponselku, pernah kecopetan karena jatuh tertidur di bus, jadi korban pelecehan seksual (sialan, memang banyak penumpang laki-laki yang sebiadab ini sama perempuan!), hingga kesasar karena salah naik bus.
Bahkan, pernah juga malam-malam bus mendadak menurunkan semua penumpangnya di pinggir jalan, padahal tujuan kami belum sampai. Alhasil, aku pernah nekat jalan kaki barang 1 – 2 kilometer hingga sampai rumah. Kenapa tidak naik angkot? Selain jalanan sudah mulai sepi di atas jam sepuluh, kadang suka ngeri juga naik angkot yang sudah sepi. Apalagi, pernah ada kasus perampokan dan pemerkosaan di angkot. Tidak, terima kasih.
Pernah juga aku berhadapan dengan pengamen yang mengerikan. Kalau hanya menyanyi-nyanyi dengan suara sumbang terus meminta sumbangan dengan paksa sih, masih bisa tahan. Masalahnya, kadang mereka suka bikin demo yang seram-seram, seperti menyilet tangan sendiri dan mengisap darahnya. Lalu, mereka bernarasi semacam: “Beginilah kami bila terdesak karena lapar…”
Jangan tanya sebanjir apa keringat dinginku saat selesai demo, salah satunya duduk pas di sampingku di bangku belakang. Ya, masih sambil memamerkan tangannya yang luka-luka. Cara intimidasi paling ampuh untuk membuat penumpang – terutama yang perempuan – terpaksa memberikan uang. Iya kalau hanya tangan mereka yang disayat. Kalau…
Ah, sudahlah…
Aku bersyukur sudah tidak dianggap anak cemen lagi sama teman-teman kampus atau siapa pun begitu mereka tahu akhirnya aku bisa naik bus sendiri. Saat Trans-Jakarta mulai beroperasi, kuputuskan untuk lebih mengutamakan naik Trans-Jakarta bila memungkinkan. Setelah dipikir-pikir, kenapa harus membuktikan diri ke siapa pun dengan menderita berjejalan di dalam bus – hanya biar nggak dibilang anak manja? Manusia berhak memilih yang paling nyaman buat mereka, bukan?
-//-
Saat akhirnya pindah rumah untuk ngekos sendirian di tengah kota, frekuensi naik busku jadi berkurang. Ya, kadang masih suka naik Trans-Jakarta. Namun, bila sedang terburu-buru, aku lebih memilih menggunakan jasa ojek – apalagi saat kemacetan di Jakarta semakin menggila. Kadang bila sedang manja-manjanya, aku memilih naik taksi.
Ya, kamu sudah bisa menebak alur cerita berikutnya saat era ojek dan taksi online muncul. Sekali lagi, bila memang ada pilihan yang lebih nyaman dan menguntungkan, kenapa tidak? Kenapa harus bertahan sama yang menyiksa, bila bisa mendapatkan kenyamanan lebih?
Kini, aku lebih banyak bekerja dari rumah. Bahkan sebelum pandemi, aku sudah mulai membiasakan ritme hidup seperti ini. Hanya sesekali aku menggunakan bus sebelum pandemi.
Apakah aku kangen naik bus? Hmm, mungkin hanya Trans-Jakarta. Kalau suruh balik lagi naik bus kota yang biasa, ogah. Selain suka ngetem lama, mereka juga ngebut gila-gilaan, menjejalkan penumpang seperti ikan sarden kalengan, hingga…suka menyuruh penumpang turun di pinggir jalan seenaknya, padahal tujuan belum sampai. Belum lagi kernet bus yang tiba-tiba suka memaki-maki, marah-marah nggak keruan. Siapa yang tahan?
Daripada berusaha menjegal sama yang bikin penumpang merasa lebih aman dan nyaman, mendingan mereka usaha meningkatkan kualitas pelayanan…
…sebelum keburu dijual kiloan kayak yang sudah terjadi…