Categories
#catatan-harian #CSW-Club #fiksimini #menulis

Ekspedisi Terakhirku

“Ayolah, ini akan menyenangkan,” janjimu padaku dalam bahasa Inggris beraksen Rusia itu. “Travelling berdua, camping, menikmati hutan belantara. Aku bisa memotret alam sesukaku, sementara kamu bisa menulis. Kamu belum pernah travelling ke alam terbuka, ‘kan?”

Entah apa yang membuatku termakan oleh ajakanmu. Kamu yang begitu mempesona sejak awal bertemu. Kata teman-temanku (yang disertai jengit di wajah mereka) sih, kamu jauh dari tampan. Dekil dan berantakan malah. Kalau Mama sampai tahu aku diam-diam pacaran dengan laki-laki bule, gondrong, brewokan tapi nyaris botak di puncak kepala, berkacamata segede pantat botol, dan dengan tampilan kayak nggak mandi seminggu, beliau pasti akan mengamuk.

“Ayolah,” bujukmu sambil membelai ikal gelapku. Kalau sudah begini, aku suka luluh. Tambah luluh lagi saat kamu mencium bibirku dengan penuh napsu. Ah, ke manakah otakku? Biasanya aku selalu berhati-hati.

Mungkin karena saat itu aku sedang jenuh dan muak dengan tuntutan keluarga. Sudah di atas 30, kata mereka. Kapan menikah? Kenapa nggak bisa seperti kakakmu? Mungkin karena menurut mereka aku terlalu gemuk, makanya laki-laki tidak ada yang mau.

Tapi, kamu justru mengaku lebih suka dengan perempuan gemuk. Berbanding terbalik dengan sosokmu yang menjulang, rada kerempeng – tapi hebatnya kuat bawa tas gede pas travelling. Itulah yang kuperhatikan dengan kagum, saat akhirnya – ya, kuputuskan untuk ikut travelling perdana denganmu. Aku sampai bertengkar hebat dengan Tobey, sahabatku laki-laki Australia yang sudah lebih seperti abangku sendiri.

“Rina, please. Aku tahu perempuan macam apa kamu. Aku nggak mau kamu menyesal nanti.”

Kutinggalkan pesan untuk ibu kos sebelum pergi. Aku sengaja tidak memberitahu siapa-siapa lagi, meski ponsel tetap kubawa. Jujur, aku mungkin anak kota yang juga sedang merasa sangat bosan. Aku butuh petualangan.

Dan laki-laki seperti kamu begitu menggiurkan…

-//-

Tiga bulan berlalu. Mungkin aku praktis sudah jadi orang hilang saat itu. Di hutan, terutama yang belantara, waktu seakan berjalan lambat – bahkan nyaris berhenti. Setiap hari terasa sama. Tidak banyak manusia lain, hanya kita berdua. Aku dan kamu. Dengan alasan berhemat, kita akhirnya tidur satu tenda.

Oh, ayolah. Semua pasti sudah tahu apa yang kemudian terjadi. Apalagi, kamu begitu menggebu-gebu. Aku yang tadinya ragu akhirnya pun mau.

Hingga saat itu…

Sial, kenapa aku mual begini, ya?

“Kamu nggak apa-apa?” tanyamu saat aku banyak tertinggal di belakang. Tidak hanya itu, aku pun mulai sering ngos-ngosan dan ingin muntah. Kepalaku pusing, berputar hebat. Saat kulihat wajahku di layar kamera ponsel, astaga. Pucat bukan kepalang.

Aku tahu, yang kutakutkan selama ini akhirnya terjadi. Aku tidak bisa bilang kamu memaksaku, namun entah kenapa aku tidak menolakmu waktu itu. Mungkin karena malam itu hanya kita berdua di dalam tenda…di tengah hutan belantara…

Saat menyempatkan diri ke kota kecil, kudatangi apotik yang sekaligus minimarket. Ajaib, apotik sekaligus minimarket itu menjual test pack. Untunglah, di kota kecil itu belum ada peraturan aneh-aneh soal larangan menjual alat kontrasepsi, alat tes kehamilan, dan semacamnya secara terbuka.

Setelah membayar, buru-buru aku keluar. Aku harus mengetesnya segera. Aku hanya ingin memastikan…

-//-

“Nggak mungkin,” bantahmu saat kuberitahu hasil tes itu. “Aku ‘kan waktu itu pakai pengaman-“

“Mungkin nggak efektif,” tukasku dingin. Kulihat ponselku sudah penuh dengan notifikasi pesan. Ada ratusan. Mama…Tobey…teman-temanku yang lain…

Maafkan aku…

“Aku nggak bisa,” katamu sambil menggeleng-geleng. “Kamu tahu gimana keluargaku. Aku nggak pernah kenal ayahku dan ibuku – “

“Tapi aku nggak bisa pulang dalam keadaan begini!” Tangisku kini pecah. Barulah, di atas tebing dekat hutan, kulihat sosokmu yang sebenarnya. Liar, tak pedulian, dan sepertinya siap menyingkir dariku kapan saja. Kuraih tangannya. “Please…”

“Aku nggak bisa!” Tanpa sengaja kamu menepisku. Saat itulah aku tiba-tiba merasakan tubuhku melayang…jauh…jauh…hingga…

Jatuh. Lalu gelap.

-//-

Keluargaku datang menangisi jenazahku. Aku sendiri tidak tahan melihat separuh wajahku yang kini hancur karena menghantam karang di bawah air terjun. Ada yang melihatku, lalu melapor penduduk setempat. Kamu akhirnya diamankan pihak berwajib sebelum jadi sasaran amukan warga, tak peduli bila kamu membela diri dan bilang kalau itu kecelakaan.

Di sudut kamar jenazah, rohku terpaku, memandangi akhir ekspedisiku…

  • Tamat –
Categories
#catatan-harian #menulis

2021 – Semangat Baru

2021 – Semangat Baru

Maaf ya, lama gak update karena kerjaan baru yang lumayan bikin sibuk. Boleh saja perayaan tahun baru 2021 kemarin terasa sepi. Lebih banyak yang memilih di rumah. Tidak banyak juga yang bermain kembang api atau petasan.

Tapi, semangat jangan cepat redup.

Kembali saya mengikuti berbagai berita yang berseliweran di jagat digital. Tidak hanya berita terkini, namun juga dari orang-orang biasa. Ya, keluarga dan teman-teman di media sosial.

Saya juga baru memulai pekerjaan purnawaktu. Berhubung masih dalam tahap penyesuaian diri (kembali), maka saya belum bisa banyak bercerita soal itu di sini. Mungkin juga, saya takkan bercerita soal pekerjaan. Khusus di sini, saya lebih suka bercerita tentang hidup dan cinta sejati saya:

Menulis.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

Perjuangan Belum Selesai

Perjuangan Belum Selesai

Selamat Tahun Baru 2021. Memang, kali ini rasanya sepi. Nggak ada yang berkumpul, karena harus mengikuti aturan protokol kesehatan. (Yang gak mau ngikut mah, terserah ya…asal jauh-jauh dari yang masih ingin sehat. Selamat bikin kesel petugas kesehatan yang sudah amat sangat kelelahan!)

Jujur, saya sendiri malah ketiduran pada pukul 23:30. Gak lama, karena sejam kemudian terbangun lagi. Countdown terlewatkan.

Ah, sudahlah. Toh, sebenernya perayaan semacam itu juga gak penting-penting amat. Biasa aja.

Kabarnya sih, ada strain baru #Covid-19 dari Inggris. Virus ini juga sudah mulai menyebar.

Sungguh ironis. Belum kelar kita berurusan dengan #Covid-19 , eh…tahunya yang gelombang kedua udah nongol aja.

Hmm, yang ini bisa kita sebut Covid-20 gak, ya?

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Tak Perlu

Sumber: Isaiah Rustad

Tak Perlu

Tak perlu datang,

jika memang tiada keperluan.

Biar kugunakan waktu luang

untuk yang lebih layak dapat perhatian.

Tak perlu tinggal,

bila merasa seperti dipenjara.

Aku tak pernah memaksa,

meski kuakui, harap itu ada.

Tak usah bertingkah

seakan aku mencoba

membuatmu merasa bersalah.

Pergi saja.

Tak ada yang mengekang.

Aku tidak ,melarang.

Tak sudi aku mengemis

pada yang tiada

pada pemberi seadanya

namun tanpa ketulusan.

Tak perlu.

Serius, sungguh.

Benar-benar tak perlu.

Tiada yang lebih hina

dari yang suka berpura-pura

lancang menyebut kata cinta,

padahal iseng saja,

apalagi sampai beralasan kasihan belaka.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

BALI: Bagaimana Perjalanan di Surga Dunia Ini Membuat Saya Merindukan Bali

BALI: Bagaimana Perjalanan di Surga Dunia Ini Membuat Saya Merindukan Bali

Saya beruntung dapat mengenal penyair berbakat lainnya di Indonesia. Saya bertemu Indah P. di Malam Puisi Jakarta. Dia ada di sana untuk mempromosikan antologi puisinya – “BALI: The Journey in Heaven on Earth”.

Sejak awal, saya mengagumi semangat dan kepribadian Indah yang bersemangat, namun rendah hati. Kecintaannya pada seni, terutama puisi, sangat tulus. Ketika dia mempromosikan buku itu, saya memutuskan untuk membeli bukunya tanpa berpikir dua kali.

Jujur saja, buku ini membuat saya sangat merindukan Bali. Saya telah mengunjungi Pulau Dewata itu dua kali dan rasanya masih belum cukup. Indah benar tentang Bali yang magis. Memang ada sesuatu yang agung dan luar biasa tentang surga dunia ini.

Puisi-puisinya dalam antologi ini telah membawa saya kembali ke sana. Saya ingat angin sepoi-sepoi di tepi pantai, matahari terbenam yang menyilaukan, dan tarian Kecak yang ajaib. Saya ingat pemandangan alam yang indah dan penduduk yang ramah.

“The Sunset” mengingatkan saya pada perasaan yang saya miliki, ketika menyaksikan matahari terbenam di sana – pada kunjungan terakhir saya dengan seorang sahabat bermata hazel:

“This is the moment of serenity.

It will last forever, for eternity.

No one can take it away from me.

Because it has been engraved in my memory.”

Saya harus membaca buku ini lagi ketika pandemi # Covid-19 pertama kali melanda. Entah bagaimana, buku ini telah membantu saya bertahan dan menghabiskan waktu.

Nantikan puisi-puisi dan buku-buku berikutnya dari Indah P. Jika penasaran dengan karyanya, silakan cek IG-nya: @thefantasia.art

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Tentang Jeda dan Sepotong Cerita

Tentang Jeda dan Sepotong Cerita

Ingatan tua,

bersanding benak dan jiwa kanak-kanak,

mendamba jeda,

demi sepotong cerita

dengan harap serupa

sembuhkan hati penuh luka.

Yang didapat hanya jeda

jauh dari kecepatan cahaya

akan damba yang itu-itu saja.

Ada sepotong cerita,      

namun tokoh utama entah ke mana,

tinggalkan penonton kesepian

dan narator kebingungan.

Mau ke mana?

Saatnya beranjak dari jeda penuh duka,

meski sunyi tanpa suara.

Dendangnya hanya rekaman,

sementara penonton bungkam.

Ini bukan tempatnya

untuk ajang pamer luka,

berharap akan penawar yang tak pernah ada.

Meski indah, saatnya tinggalkan potongan cerita ini,

meski terasa belum selesai

dank au harap takkan pernah usai.

Tokoh utama sudah lama enggan bermain lagi,

tanpa peduli kau yang enggan mencari pengganti.

Yuk, sudahi.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

Menyambut 2021, Berharap Covid-19 Musnah Dulu

Foto: https://unsplash.com/photos/EcgyryGygeE

Menyambut 2021, Berharap Covid-19 Musnah Dulu

Tak terasa, kita sudah di penghujung tahun 2020. Bulan Desember ini, mungkin sudah banyak yang tetap ingin melaksanakan liburan di luar rumah. Banyak juga yang masih khawatir dengan situasi dan kondisi terkini. Makanya, mereka memutuskan untuk liburan di rumah saja. Bahkan, ada yang sudah lama sekali tidak bertemu teman-teman dan keluarga.

Kabar terakhir, angka penularan virus Corona sudah mencapai 8000-an lebih per hari di Jakarta. Hmm, enaknya gimana, ya? Bahkan, mereka yang sudah tertib mengikuti protokol kesehatan masih bisa terkena. Mau marah-marah ke siapa juga percuma. Yang ada kita hanya bisa berusaha.

Banyak sekolah-sekolah yang rencananya akan kembali membuka kelas-kelas biasa pada Januari 2021 nanti. Nah, sampai sini dilemma membuat suara para orang tua terbagi. Ada yang setuju untuk kembali membawa anak-anak mereka ke sekolah. Apalagi, mungkin anak-anak sudah banyak yang kangen dengan teman-teman mereka dan jalan-jalan keluar.

Namun, banyak juga orang tua yang masih belum siap. Alasannya tentu saja takut ketularan. Bahkan, meskipun sudah mengikuti protokol kesehatan, risiko itu tetap ada.

Jadi Enaknya Gimana?

Hmm, rada-rada tricky juga, karena belum tentu semua orang bisa mencapai nilai ideal dalam menjalani New Normal. (Jujur, saya sendiri sebenarnya kurang suka istilah itu. Saya lebih suka menyebutnya “Kebiasaan Baru”.) Ada yang masih harus keluar rumah untuk bekerja dan nggak semua orang punya koneksi internet yang bagus.

Ya, kita semua sedang menunggu vaksin Covid-19 yang diharapkan akan menyudahi pandemi yang praktis mempengaruhi seluruh dunia sepanjang tahun 2020. Apakah tahun 2021 berarti juga harapan baru? Yah, semoga saja begitu.

Yang pasti, jangan merayakan apa-apa kalau Covid-19 belum musnah dulu. Tapi, itu sih, terserah kalian. Jangan marah juga kalau masih banyak yang menjauhi atau menyalahkan kalian bila sampai ada yang ketularan. Masalahnya, ada penderita virus Corona yang sama sekali tidak menunjukkan gejala. Masa kalian masih tega pada sesama?

R.

Categories
Uncategorized

Prasangka

Prasangka

Enggan benakku dipenuhi olehnya

saat kau menghilang tiba-tiba.

Dulu kau pernah berkata,

tak layak kau kusebut teman,

apalagi sahabat.

Lalu apa?

Kau pergi tanpa pesan,

ibarat plot cerita

novel murahan

atau film kacangan.

Haruskah aku berurai air mata?

Yang pasti,

aku masih enggan berprasangka.

Takut tiada tara,

meski hati bertanya-tanya,

teracuni teori mereka akan kau yang sebenarnya.

Bagaimana bila bagimu,

aku tak pernah berarti apa-apa?

Bagaimana bila kamu takut berterus terang

sehingga lebih memilih menghilang?

Jika demikian,

lebih baik kamu terbuka.

Lebih baik kabar buruk kuterima,

daripada ketidakpastian.

Tapi…ah, untuk apa berprasangka?

Tak ada gunanya.

Aku bisa gila.

R.

Categories
Uncategorized

Balas Dendam Terbaik Adalah Ini

Balas Dendam Terbaik Adalah Ini

Gambar: https://unsplash.com/photos/17yojkc2so4

Saya merasa agak tergelitik melihat postingan seorang kenalan di media sosial. Singkat cerita, dia memposting sebuah meme kisah cinta singkat nan tragis:

Perempuan itu memilih meninggalkan kekasihnya yang berprofesi sebagai seorang barista dan menikahi lelaki lain yang lebih kaya. Cerita yang sangat klasik sekali, bukan? Kekasihnya seakan dianggap bukan siapa-siapa, apa lagi apa-apa.

Caption pada meme tersebut ibarat doa / sumpah si lelaki yang patah hati. Katanya, kelak si barista akan lebih sukses dan membuktikan pada sang mantan dan kekasih barunya, bahwa seharusnya dia layak jadi pilihan dan bukan untuk disepelekan. Seharusnya dia tidak begitu saja dicampakkan.

Hmm, sekilas mungkin akan banyak yang berpihak pada si barista yang malang. Kasihan, diputusin hanya gara-gara bukan dari keluarga kaya. Terus, pasti juga banyak yang akan membenci si perempuan itu. Berbagai sebutan familiar macam ‘matre’, ‘mata duitan’, dan sejenisnya pasti akan langsung keluar.

Lalu, bagaimana dengan si lelaki kaya? Pastinya juga kena cela. Mulai dari tuduhan ‘perebut pacar orang’ sampai nyinyiran khas menyentil kelas sosial: “Tajir mah, bebas.”

Mungkin banyak juga yang malah memaklumi pilihan si perempuan. Apalagi, masyarakat patriarki paling hobi bikin perempuan serba salah, apa pun pilihan mereka:

  1. Milih laki-laki yang tidak kaya dicibir, bahkan dianggap bodoh dan nggak realistis. Bahkan, tak jarang banyak juga yang kemudian nyinyir: “Emang hidup enak, makan cinta doang?”
  2. Kalo milih yang kaya juga nggak bebas celaan. Kata mereka, wajar bila perempuan cenderung memilih pasangan yang secara finansial sudah lebih mapan. (Baca: gaji tinggi, kaya, sudah punya fasilitas pribadi, atau minimal dari keluarga tajir melintir hingga bikin yang lain iri hingga nyinyir.) Apalagi, masyarakat masih beranggapan bahwa laki-laki-lah yang nantinya akan jadi kepala keluarga, yaitu pemberi nafkah. Perempuan tinggal ikut saja, karena perempuan-lah yang nantinya akan diurus.

Lucunya, begitu perempuan beneran milih lelaki yang kaya untuk jadi pasangan, masih juga ada yang mencela. Maunya apa?

Sebenarnya?

Bisa jadi, masalahnya lebih rumit daripada yang terlihat oleh mata kita sebagai orang luar.

Seperti biasa, menilai masalah orang lain dari permukaan (belaka) memang kebiasaan banyak orang. Selain gampang, rasanya juga sudah dianggap biasa saja. Apalagi bila ditambah dengan kredo standar bernama ‘kebebasan berpendapat’ dan alasan: “Biasanya kejadian kayak gini banyak dan mirip semua. Jadi benar, ‘kan?”

Ah, masa iya? Darimana Anda tahu? Udah bikin riset resmi – atau hanya percaya sama ‘kata orang’ dan asumsi pribadi? Hobi menggeneralisir emang kebiasaan banyak orang, tapi bukan berarti harus dibiasakan dan tidak membahayakan.

Kalau pun memang benar, haruskah selalu diekspos sedemikian rupa di dunia maya? Apakah ada yang sedang mencari dukungan dan pembelaan atas posisi mereka?

Bukankah malah akan menambah masalah? Ingat, kita nggak bisa mengontrol pikiran maupun pendapat orang-orang (baca: netizen) di luar sana. Selain itu, masih ada UU ITE (Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik). Jujur, saya sendiri bukan penggemar UU tersebut. Menurut pengamatan awam saya sih, UU ITE lebih banyak dipakai orang-orang baperan, cengeng, dan pengecut yang anti kritik – namun sialnya kebetulan lebih punya banyak uang untuk membayar pengacara dan waktu untuk meladeni pengkritik di pengadilan.

Ini pendapat saya doang lho, ya. Boleh nggak sepakat kalau merasa dapat manfaat dari UU tersebut. Kalau saya sih, mending cuekin yang menghina saya di medsos atau mengajak mereka bertemu secara pribadi. Nggak perlu bayar pengacara segala. (Duh, kayak saya mampu aja!)

Yang pasti, saya juga nggak butuh penonton, apalagi rombongan fans fanatik yang khusus membela saya secara militan. Masa menghadapi satu perundung yang menghina saya butuh ditemani? Memangnya anak kecil atau preman?

Bisa jadi, perempuan itu punya pertimbangan lain. Bisa jadi ini bukan melulu soal kekayaan, meski pasti banyak yang berasumsi demikian.

Hei, ini bukan berarti saya hanya dan selalu membela sesame perempuan lho, ya. Untuk soal seperti ini, ada baiknya kita melihat masalah dari berbagai sisi, bukan hanya pihak yang (merasa) jadi?) korban. (Tentu saja, cara ini juga belum tentu bisa diterapkan untuk semua masalah relationship yang ada.)

Yang terlihat di permukaan selama ini belum tentu mencakup semuanya. Kita juga nggak mungkin bisa tahu segalanya. Nggak ada manusia yang bisa begitu.

Kalau memang sudah cukup tahu banyak masalah sejenis, terus kenapa? Apa yang mau kita lakukan? Memangnya kita bisa melakukan sesuatu untuk mengubah keadaan tersebut?

Balas Dendam? Ngapain?

Saya akui, kadang saya sendiri masih suka tergoda untuk membalas dendam pada siapa pun yang pernah menyakiti saya dengan sedemikian rupa. Namun, untuk apa? Untuk apa si barista tersebut membalas dendam dengan cara berusaha mengalahkan si lelaki kaya dalam urusan harta?

Seorang teman (yang lebih bijak daripada saya) pernah bilang begini:

Balas dendam terbaik adalah berlalu tanpa menoleh lagi. Anggap saja mereka yang sudah pernah menyakiti Anda tidak berarti lagi. Memang susah sih, tapi bukannya nggak mungkin. Ini soal kemauan kuat untuk menjadi diri yang lebih baik tanpa (terlalu) memanjakan ego pribadi.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Lelaki yang Ingin Jadi Primadona

Lelaki yang Ingin Jadi Primadona

Gambar: brilio.net

Malam itu kau datang mengganggu.

Tindak-tandukmu jauh dari lucu maupun lugu.

Aku geli dengan lagak-lagumu,

serasa hanya untukmu mata seluruh dunia tertuju.


Wahai, bocah cilik pencari perhatian.

Sadarkah bahwa kau begitu membosan

kanterutama dengan keluhanmu seputar mantan?

Kau pikir akan ada yang merasa kasihan?


Ah, sudahlah.

Kata mereka, kau memang begitu adanya,

berlagak dominan,

enggan mengalah

berharap dikagumi, d

ianggap istimewa.


Mungkin semua akan berbeda

andai kau lebih tahu tata-krama

tidak menghakimi orang lain seenaknya

lebih sering mendengar daripada banyak bicara.


Malam itu, aku ingin tertawa

melihat kau begitu kecewa

saat tiada yang memandangmu bak primadona.

Sepertinya kau memang bukan segalanya.


Kurasa kau akan sakit hati

saat membaca puisi ini.

Jujur, aku terlalu geli untuk peduli.

Mungkin lain kali kau akan lebih tahu diri!


R.

(Jakarta, 27 Februari 2015)