Celetukan itu lazim banget terdengar. Entah maksudnya hanya untuk bercanda atau serius mencela. Yang pasti, kalimat itu sering banget keluar saat salah satu pihak kesannya lagi ribet banget, padahal keribetannya bisa dihindari.
Contoh: bingung mau pakai baju apa ke acara nongkrong bareng teman, padahal yang bagus-bagus udah selemari penuh. Nah, kalo ini bolehlah kita komentarin dengan: “Jangan kayak orang susah!” Keterlaluan aja sih, kalo masih berani bilang nggak punya baju buat keluar, kecuali kalo yang di lemari udah pada nggak muat semua.
Lalu ada contoh lain lagi. Teman Anda masih saja tahan dengan ponsel model jadul, sementara Anda sudah punya yang baru. (Ya, apalagi bila Anda termasuk yang doyan banget gonta-ganti ponsel setiap kali yang baru keluar.) Niat baik sih, ada untuk mengingatkan teman. Apalagi bila ponsel mereka lama-lama sudah ‘turun’ dari segi kualitasnya.
“Beli yang baru, dong. Jangan kayak orang susah gitu.”
Sekilas mungkin terdengar seperti gaya bercanda biasa. Apalagi, reaksi teman adalah tertawa. Tapi, coba deh, perhatiin cara mereka tertawa. Apakah ringan seperti biasa? Apakah ada senyum terpaksa di sana?
Reaksi pertama Anda mungkin akan menuduh mereka ‘baperan’. (Aduh, kenapa sih, pada doyan banget sama kata yang merendahkan begini?) ‘Kan Anda hanya bercanda. Biasa banget, ‘kan?
Reaksi kedua, bisa jadi Anda malah kurang peka. Lho, apa yang salah? Mana Anda tahu kalo mereka ternyata emang beneran lagi susah? Habis mereka nggak cerita!
Serius, nih? Emangnya harus nunggu dibilangin dulu baru ngerti? Apalagi bila Anda sudah lama berteman dengan mereka.
Lalu, gimana kalo ternyata mereka beneran jujur, bahkan cenderung blak-blakan, soal kondisi keuangan mereka? Seperti ini contohnya:
“Tinggal beli aja kali. Nggak usah kayak orang susah gitu.”
“Hmm…kebetulan, gue emang beneran lagi susah…”
*krik*
Pastinya langsung sunyi mendadak. Nggak nyaman juga ‘kan, saat akhirnya mereka (terpaksa) berterus terang seperti itu?
Meskipun dengan niat hanya bercanda, sebisa mungkin sekarang saya nggak asal nyeletuk dengan cara demikian. Kita nggak pernah tahu, suatu saat kita bisa aja berada di posisi beneran susah dan harus menerima bercandaan semacam itu.
Perang Komentar di Media Sosial Bikin Stres? Ini 4 Strateginya
Ingin anteng-anteng saja ber-media sosial? Balaslah komentar negatif secara cerdas. Kalau nggak penting-penting amat, diamkan saja.
Lihat dulu masalah yang sedang diperdebatkan.
Apakah masalahnya secara langsung relevan dengan hidup Anda sehari-hari? Misalnya: selebriti A digosipkan berkelakukan buruk karena suatu hal. Bila kebetulan kenal dengan si A dan kabar itu nggak benar, sebagai teman silakan membela – dengan bahasa yang masih sopan, ya.
Melihat nama-nama yang berkomentar.
Apakah ada yang dikenal? Bila ada, silakan ajak bicara baik-baik secara japri (jalur pribadi). Mereka boleh saja nggak sepakat sama suatu hal, namun tidak perlu memaksakan pendapatnya pada orang lain. Bila sampai marah, biarkan saja. Yang penting sudah menegur dengan baik-baik.
Berusaha nggak mudah terpancing emosi, meski mendapat ‘serangan’ berupa ucapan kasar.
Namanya juga manusia, pasti beda-beda. Ada yang kalem, ada yang enggak. Bukannya memaklumi sih, tapi kita nggak bisa mengendalikan pikiran dan perasaan orang lain. Kalau misalnya malah balik diserang dengan ucapan kasar, usahakan agar nggak mudah terpancing. Kelihatan sekali bahwa orang itu nggak bisa berdebat secara dewasa, karena lawan bicara selalu diserang secara personal. Entah dibilang masih kecil, sok tahu, atau kurang beribadah.
Memilih untuk diam.
Choose your battles wisely. Ini kata Ibu dan beberapa teman. Bukannya pengecut ya, tapi masih banyak kerjaan lain dalam hidup yang lebih penting daripada meladeni semua orang yang nggak setuju atau nggak suka sama kita. Toh, kita juga nggak bisa mengendalikan pola pikir mereka, begitu pula sebaliknya.
Ingin anteng-anteng saja ber-media sosial? Balaslah komentar negatif secara cerdas. Kalau nggak penting-penting amat, diamkan saja.
Saya pemarah. Jujur, ini salah satu sifat yang paling menyulitkan saya. Sekadar peringatan, saya termasuk yang tidak mudah lupa bila sudah pernah disakiti. Bahkan, semakin sulit lupa bila yang menyakiti merasa tidak bersalah sama sekali maupun berniat baik dengan meminta maaf.
Tenang, saya bukan tipe yang akan langsung meledak seketika. (Eh, apa justru malah lebih berbahaya, ya?) Kalau menahan diri agar tidak selalu mudah meledak seketika setiap kali ada masalah adalah sabar, maka mungkin saya termasuk lumayan. Banyak yang langsung cablak melabrak dan menyesal kemudian.
Kadang niat membalas dendam itu ada. Dicurangi itu tidak enak. Pengkhianatan itu memuakkan. Hidup rasanya tidak adil bila tukang selingkuh masih saja bisa punya pasangan, sementara yang jujur dan setia sepertinya selalu berakhir sendirian.
Padahal, tukang selingkuh pastinya hobi banget mempermainkan perasaan banyak orang. Bahkan, para korbannya pun dengan tega sering mereka sebut ‘baperan’ dan ‘playing the victim’.
Begitu pula dengan tukang curang. Mengapa hidup mereka sepertinya mulus-mulus saja? Mengapa mereka masih bisa pergi ke mana-mana dan bercerita yang jelek-jelek tentang Anda?
Sekali lagi, kadang yang bisa Anda lakukan hanyalah sabar menunggu. Sabar dan menunggu, sembari tetap berusaha bertahan hidup, tentu.
Sementara itu, lihatlah. Kehancuran akan menghampiri mereka satu-persatu. Semakin lama Anda dibuat menderita, maka semakin banyak yang akan dan harus mereka bayar nantinya.
Ya, lihat saja. Akan tiba saatnya tukang selingkuh kambuhan berakhir sendirian. Terlalu banyak korban berjatuhan. Lama-lama semua muak dengan ulah mereka yang kerap seenaknya, bahkan tanpa rasa sesal.
Begitu pula dengan tukang curang. Semakin rusaklah kredibilitas mereka bila hobi mengelak dari tanggung jawab dengan banyak alasan, bahkan termasuk yang paling tidak masuk akal.
Jadi, sabarlah. Semua akan terbayar pada waktu-Nya…
Awalnya, tulisan ini mau saya posting pas Hari Anak Nasional (25 Juli 2018) kemarin. Dasar lagi banyak kerjaan, akhirnya malah telat. Namun karena sayang, saya putuskan untuk mempersembahkan tulisan ini untuk kawan-kawan yang gemar bermain dengan anak-anak, terutama yang masih kecil-kecil.
Di luar pengaruh kehadiran gawai yang berpotensi mengganggu kedekatan antar manusia, saya setuju banget dengan kelima (5) keuntungan bermain dengan anak-anak di bawah ini:
Bisa istirahat sejenak dari kerumitan dunia orang dewasa.
Masih ingat enaknya masa kecil? Semoga penuh kebahagiaan, ya. Biasanya sih, masa kanak-kanak itu adalah masa paling banyak bermain. Main apa aja, meskipun pas sekolah disuruh belajar juga.
Anak kecil lebih jujur dan terbuka.
Sebelum keburu dibungkam oleh otoritas orang dewasa dan dikendalikan norma-norma (meski mereka memang tetap harus belajar sopan santun, sih), anak kecil lebih jujur dan terbuka. Kecuali lagi bermain peran (roleplaying game), mereka lebih suka apa adanya.
Kalau suka, mereka akan bilang. Kalau enggak, mereka enggak akan diam. Dari mereka, kita bisa belajar bahwa kadang menolak permintaan orang – apalagi yang enggak banget – adalah hak kita. Tentu saja, dengan cara yang lebih sopan dan alasan yang masuk akal. Bukan sekadar nggak suka alias sentimen belaka.
Anak kecil lebih banyak tertawa.
Ada sebuah penelitian di tahun ’90-an yang pernah membandingkan frekuensi tertawa seorang anak dengan orang dewasa dalam hari. Hasilnya benar-benar njomplang dan bikin miris. Bila anak kecil bisa tertawa sebanyak 300 kali sehari, maka orang dewasa hanya bisa…17 kali. Serius. Sedih, ya?
Inilah serunya bermain dengan anak-anak. Mereka lebih lepas dan mudah menemukan hal-hal yang mereka anggap lucu, meski yang paling remeh sekali pun. Yang pasti, yang mereka tertawakan bukan dengan maksud mengejek atau menjatuhkan orang lain.
Ya, beda banget sama orang dewasa.
Anak-anak biasanya pemimpi sejati dan lebih kreatif.
Kalau yang ini udah nggak terbantahkan lagi. Benak dan jiwa mereka masih murni. Daya khayal pun masih sangat tinggi. Ide-ide di kepala mereka masih mengalir segar, meski kerap liar.
Realita telah jauh mengubah hidup manusia saat dewasa. Banyak ide gila yang buntutnya hanya mandek di kepala. Apalagi alasannya kalau bukan khawatir duluan, takut nggak akan bisa terwujud.
Ayo, saatnya mulai bermimpi lagi dan lebih berani mewujudkannya. Belum terlalu tua, kok.
Anak kecil lebih mudah memaafkan.
Pernah melihat dua orang anak kecil berantem, terus nggak lama kemudian akur lagi? Menakjubkan, ya? Lagi-lagi ini karena jiwa mereka yang masih polos dan murni. Beda banget sama orang dewasa yang udah lebih gampang mendendam dan sakit hati.
Makanya, jangan heran bila teman saya lebih suka bermain dengan anak kecil ketimbang bergosip nggak jelas dengan sesama orang dewasa. Bagaimana dengan Anda?
‘Moving on’ atau ‘move on’ adalah sebutan untuk fase ‘melanjutkan hidup’ sesudah berakhirnya suatu hubungan. Biasanya sih, setelah melewati masa berduka, fase ini akan datang dengan sendirinya. Ada juga yang sekalian mengusahakannya, bahkan dengan sedikit ‘memaksa’.
Apa pun pilihan setiap orang, nggak apa-apa juga, sih. Terserah nyamannya masing-masing aja. Seperti biasa, yang jadi masalah adalah saat adanya usaha menyamakan (bahkan lagi-lagi dengan sedikit maksa atau sikap arogan) proses ‘move on’ mereka dengan orang lain. Tahu sendiri ‘kan, komentar-komentar menghakimi semacam:
“Galau melulu. Gue aja udah move on, masa elo belum?”
Padahal, satu jenis obat belum tentu cocok untuk semua jenis penyakit. Ya, bahkan meskipun gejalanya bisa dibilang nyaris mirip.
Oke, salah kaprah soal ‘moving on’ atau ‘move on’ termasuk:
1.Pokoknya harus cepat.
Emang, sebaiknya galau karena patah hati juga jangan kelamaan. Selain nggak baik buat kesehatan jiwa, jadinya juga malah ganggu orang. Nggak semua tahan terus-terusan dengerin curhatan Anda tentang si mantan. Nggak usah maksa atau baperan. Ini kenyataan.
Namun, pura-pura kuat dan berkoar-koar ke semua orang bahwa Anda sudah total melupakan si mantan juga bukan tindakan bijak. Mengapa? Apa ini gara-gara harapan mereka agar Anda bisa move on secepat mungkin? Relakah sampai harus membohongi diri sendiri?
Nggak masalah. Akui saja bahwa Anda masih sangat sakit hati. Meskipun nggak berarti harus selalu membicarakannya setiap hari, setidaknya itu langkah awal. Sisanya biar berproses secara alami. Fase penyembuhan memang nggak bisa dipaksa, bahkan dari pihak luar yang benar-benar sayang sama Anda.
2.Harus langsung jadian sama yang baru.
Gambar: https://unsplash.com/photos/Mx5kwvzeGC0
“Makanya, buruan cari yang baru biar cepet move on!”
Banyak yang percaya dengan teori ini. Kesannya jadi lajang lagi kok, menakutkan sekali? Sampai-sampai banyak yang menyangka bahwa dengan melajang kembali karena putus / cerai / ditinggal wafat berarti belum move on, karena terkesan enggan memberi kesempatan pada orang baru.
Padahal, bisa jadi mereka sedang senang-senangnya single lagi. Terus, ngapain jadi pada berisik, sih? Nggak perlulah, bikin mereka jadi merasa kurang sama diri sendiri.
Lagipula, memangnya ada jaminan, langsung jadian sama yang baru berarti udah move on? Yakin yang baru itu malah nggak jadi rebound?
3.Udah 100% nggak pernah sedih lagi.
Maunya semua orang juga gitu, tapi harapan kadang memang terlalu tinggi.
Kalau sesekali masih suka merasa sedih karena teringat mantan (terlepas seperti apa kelakukan mereka di masa lalu), biarkanlah. Nggak akan mungkin bisa 100% lupa, kecuali Anda robot yang selalu siap diprogram ulang atau korban kecelakaan hingga amnesia. Nggak mau juga, ‘kan?
Seperti biasa, asal jangan bablas dan malah jadi kelewat baperan. Ingat, semua ada batasnya.
4.Udah berhenti dengerin lagu-lagu dan pergi ke tempat-tempat yang penuh kenangan bersama mantan.
Nah, kalo yang ini sih, mau nggak mau bisa 50-50. Bisa jadi, yang bersangkutan beneran masih belum bisa move on. (Please, tahan dulu komentar nyinyirnya. Merasa lebih tegar nggak perlu juga dibarengi sama sikap brengsek ke orang lain!)
Tapi, bisa jadi sebenarnya mereka sudah lama move on, namun masih menyukai lagu-lagu dan tempat-tempat yang sama. Prinsip mereka adalah, nggak semua harus selalu dikaitkan dengan mantan. Jangan sampai kenangan tentang mantan merusak kesenangan mereka yang sudah lama ada.
Nah, jadi siapa yang baperan?
5.Enggan menerima mantan kembali, meski hanya sebagai teman.
“Kenapa sih, kayaknya kok dendaman amat? Masih belum maafin? Masih ada rasa? Namanya belum move on, dong!”
Nah, ini lagi asumsi sotoy banyak orang. Memang, terlalu mendendam dan kelamaan juga sama nggak baiknya dengan curhat terus-terusan soal mantan.
Tapi, ada kalanya perumpamaan ala lagu The Corrs, “Forgiven, Not Forgotten”, berlaku dalam hal ini. Maafin mantan? Udah. Nerima dia balik lagi, meski hanya sebagai teman? Belum tentu. Ya, harus lihat-lihat dulu. Gimana kalau sebelumnya, si mantan sudah terbukti lebih banyak menyebabkan kerugian daripada manfaat dalam hidup mereka?
Contoh: dulu mantan pernah sering bikin muka mereka babak belur atau hobi morotin. Nah, siapa yang cukup waras untuk menerima mereka kembali, meski sebagai teman?
Sekian dulu lima (5) salah kaprah soal moving on atau move on. Mau nambahin lagi? Boleh. Yang jangan kebiasaan sotoy.