Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Dia Menulis dalam Gelisah

Dia Menulis dalam Gelisah

Dia menulis untuk batinnya yang resah,
jiwanya yang lelah oleh gelisah,
bak pengembara berlalu tanpa arah,
terombang-ambing – serba salah.

Dia menulis untuk menenangkan benaknya
yang penuh oleh sumbangnya suara-suara,
nada kejam gelegar tawa.
Dalam mimpi pun, dia tak lolos dari mereka.

Entah berapa lembar sudah habis tertulis.
Hatinya masih ingin menangis.
Kesabarannya kian menipis,
seiring cobaan yang senantiasa mengiris.

Hanya Tuhan yang tahu
bagaimana mencabut sembilu itu…

R.

(Jakarta, 22/9/2013 – 11:36 pm)

 

Categories
#catatan-harian #menulis

5 Alasan Memilih Jadi Silent Reader di WAG

5 Alasan Memilih Jadi Silent Reader di WAG

Kayaknya udah nggak perlu lagi nanya-nanya soal jumlah WAG (WhatsApp Group) di ponsel. Mulai dari grup keluarga, grup kantor, geng pertemanan, hingga komunitas. Pokoknya, sebut saja. Banyak banget deh, ampe ada yang perlu punya dua ponsel biar nggak berat.

Sama kayak di grup-grup lain di media sosial, pasti ada yang namanya ‘silent reader’. Nah, bila termasuk dalam kategori ini, kira-kira apa alasan Anda? Mungkin ada di dalam daftar di bawah ini:

  1. Banyak kerjaan lain yang jauh lebih mendesak di dunia nyata.

Kalo yang ini mah, udah jelas banget. Jangan harap komentar mereka akan muncul di grup pada jam kantor. (Hmm, kecuali untuk grup kantor.)

Bahkan, bisa jadi baru berhari-hari kemudian (atau pas akhir pekan sekalian) mereka baru sempet nimbrung lagi di grup. Itu pun bisa jadi karena dua alasan:

  • Di-mention
  • Emang lagi perlu dan sempet aja gitu.

 

  1. Emang cuma mau fokus ama yang perlu-perlu doang.

Bisa dibilang, ini kelanjutan poin sebelumnya. Selain emang sibuk (pake BANGET), mereka milih fokus ama yang menurut mereka paling bermanfaat. Makanya, hanya sesekali mereka komentar atau menyapa. Itu pun bila emang lagi penting banget hingga topik bahasan di grup yang lagi relatable banget sama mereka.

  1. Emang bukan tipe cerewet di media sosial mana pun.

Jangan sesekali tunjuk mereka jadi group admin, kecuali kalo mereka nggak sendirian megang jabatan itu. Nggak apa-apa. Jadiin aja mereka pengamat, Biasanya, tipe ini lebih teliti memantau chat history (termasuk menangkap ‘pelanggaran’ tertentu dari anggota grup).

  1. Topik yang dibahas emang lagi nggak menarik.

Hmm, bisa jadi sebelumnya mereka emang nggak gitu minat pas diajak gabung ke WAG tersebut. Namun, karena ada rasa nggak enak sama yang ngajak, akhirnya mereka lebih banyak jadi silent reader.

Topik yang lagi dibahas mungkin juga kurang menarik buat mereka. Makanya, jangan heran bila mereka jarang banget nimbrung.

  1. Mereka memang misterius.

Di zaman yang serba banyak terbuka gini, masih banyak kok, mereka yang lebih milih nggak banyak omong. Selain emang nggak suka umbar diri, mereka mungkin juga lebih suka jadi pengamat. Itu aja, sih.

Semua orang memang punya rahasia, tapi bisa jadi mereka takut keceplosan juga. Tahu sendiri ‘kan, jari-jari bisa jauh lebih lincah daripada mulut – bahkan saat otak lagi nggak bisa ngebut?

 

Nah, itulah kira-kira lima (5) alasan memilih jadi silent reader di WAG. Gimana dengan Anda?

R.

 

 

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Untuk Soledad

Untuk Soledad

Maaf, sayang.

Bagaimana bila saatnya menerima kenyataan?

Ketulusan tak selalu menang,

bila mereka tak anggap kau rupawan.

 

Maaf, sayang.

Tak ada gunanya bermuram-durja.

Ini saatnya kau tegakkan kepala,

menatap mereka tanpa perlu merasa kalah.

 

Ah, tahu apa mereka tentang sunyi?

Kau begitu dicintai oleh sepi

hingga hanya bayangmu yang kerap menepi.

Kau harus kuat, meski hanya sendiri.

 

Maaf, sayangku.

Terkadang cinta memang hanya ilusi berujung pilu…

 

R.

 

(Jakarta, 26 September 2013)

 

Categories
#catatan-harian #menulis

5 Alasan Saya Muak Bahas Politik

5 Alasan Saya Muak Bahas Politik

#2019CariGajiDolar

 

Yang di atas target pribadi saya. Boleh ditanggapi serius atau hanya bercanda. Yang pasti, ini lima (5) alasan saya nggak sudi lagi membahas politik:

 

  1. Pilihan saya adalah urusan pribadi.

Ini alasan paling utama, yang sebenernya dari dulu udah harus saya usung. Belajar dari banyak pengalaman nggak enak (nggak perlu dari diri sendiri juga, kok!), kali ini saya lebih memilih diam saja. Ngapain ikutan berisik?

Yang lain mau cerita soal pilihan mereka sambil berkoar-koar, terserah. Saya mah, nggak mau ikutan.

“Elo cari aman, ya?”

Enggak juga. Saya hanya mau cari damai. Terus kenapa? Situ masalah?

 

  1. Masih banyak topik lain yang tidak kalah menarik.

Okelah, ini memang musim kampanye sebelum Pilpres (Pemilihan Presiden) tahun 2019 nanti. Hitung-hitung pemanasan. (Melihat kelakuan bangsa kita akhir-akhir ini, kayaknya tahun depan bakalan banyak yang ‘gosong’, karena sekarang aja udah banyak yang panasan banget!)

Semua orang pasti punya pilihan sendiri-sendiri. Jagoan andalan mereka bela-bela, kalo perlu sampai mati-matian (dan kayaknya juga nggak bakalan sampai mati. Wong yang kemaren janji bunuh diri bila jawara mereka nggak kepilih sekarang ternyata masih hidup.)

Meskipun nggak ampe drastis milih topik yang cetek-cetek amat juga (kayak…yah, ngurusin urusan pribadi orang lain seperti yang udah banyak banget dilakukan sesama di sini), saya malas pusing. Mengamati perkembangan politik dalam diam sih, masih. Cuma, nggak perlu semuanya harus diumbar ke sana kemari juga, kali.

  1. Muak dengan galeri sindiran dan nyinyiran seputar politik di media sosial.

Sekali lagi, saya sadar saya nggak bisa mengontrol seluruh dunia. (Nggak mau juga, kali. Capek!) Daripada bete karena terlalu banyak model beginian, mending nggak usah ikutan. Tambah rame ntar jadinya.

Kenapa sih, makin banyak yang doyan drama? Segitu butuhnya sama banyak penonton, ya? Bahkan, kalo memang tidak suka, tinggal unfollow. Nggak usah bilang-bilang ke semua orang juga bila ingin melakukannya. Tinggal klik. Toh, mereka juga belum tentu peduli dengan peringatan semacam itu atau ancaman.

  1. Nggak semua orang mampu bersikap dewasa dalam menerima dan menanggapi perbedaan.

Nggak peduli umur, kadang semuanya sama saja. Mulut bisa balapan brengsek saling serang lawan bicara, hanya gara-gara pendapat beda dan jadi nggak suka. Begitu pula dengan lincahnya jari-jari mereka saat bikin status sindiran di media sosial.

Jujur, lama-lama saya ingin muntah.

  1. Manusia hatinya mudah berubah.

Saya sampai iseng bikin pepatah sendiri soal politik:

“Bila politik mau disamakan dengan pernikahan, potensi selingkuh sangat banyak.”

Saya nyinyir? Biarin. Namanya juga kenyataan. Bila nggak suka, itu bukan masalah saya.

Manusia mudah berubah hatinya. Udah pada tahu, ‘kan? Kita sendiri saja juga berpotensi sama. Gimana mereka yang mencalonkan diri jadi pemimpin negara? Janji manis di awal, setelah kepilih bisa lupa (atau pura-pura?)

Udah, ya. Saya nggak mau ikut ngebahas politik lagi. Capek.

 

“Jadi nanti milih siapa?”

Astaga. Barusana saya bilang apa?

R.

 

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Dia

Dia

Hari itu, dia tampak bahagia.
Senyum lebar menghiasi wajahnya.
Dalam sekejap, dia tampak dewasa.
Hilang sudah sifat kanak-kanaknya yang biasa.

Ah, benarkah karena cinta?
Wajahnya seakan tak pernah tersentuh duka.
Lengan kokohnya memeluk belahan jiwa,
seiring doa agar mereka abadi – selamanya.

Beruntungnya dia yang masih percaya.
Lihat, dia masih tertawa.
Kuharap kebahagiaannya berlangsung lama,
tanpa harus terkoyak realita…

R.

(Jakarta, 16 Oktober 2013)

 

Categories
#catatan-harian #menulis

Saat Tukang Gosip Berdagang…

Saat Tukang Gosip Berdagang…

Sabtu sore, ibu saya lapar dan minta ditemani makan. Kami memutuskan untuk mengunjungi salah satu dari dua warung makan yang pas di sebelah rumah. Warung itu pun juga pas bersebelahan, karena berada di lahan properti yang sama.

Biasanya, Ibu memilih warung yang paling kiri. Selain selalu ramai dan menunya enak-enak, pemiliknya ramah.

Namun, akhirnya Ibu memilih warung yang satunya. Alasan beliau:

“Sesekali nyoba yang lain. Lagipula kasihan, nggak tahu kenapa sepi gitu.”

Akhirnya, kami berdua makan di warung kedua. Menunya enak juga, sih. (Yah, berhubung saya memang doyan makan dan sulit objektif, makanya nggak jadi food blogger, deh. Hehe.) Pemiliknya sepasang suami-istri yang masih relatif muda. (Ya, kira-kira semudah saya, deh. Eh, lho kok…??)

Lalu, apa yang salah?

Kami baru mendapatkan jawabannya saat Sang Istri Pemilik Warung mulai buka mulut (sambil melayani, tentunya):

“Bu, Ibu tahu yang di sebelah?” tanyanya pada ibu saya. “Dia itu sebenarnya suka iri sama saya…”

Ya, Tuhan. Menguaplah selera makan saya seketika. Namun, berhubung perut masih lapar, saya habiskan juga. (Lagipula, nggak baik membuang-buang makanan, apalagi hanya gara-gara kesal sama orang. Rugi!)

Perempuan itu masih terus nyerocos tanpa henti. Ibu saya memang hebat. Tidak seperti anaknya yang emosian dan sudah siap meledak ini, wajah beliau tetap tampak tenang. Ekspresinya netral, sulit dibaca.

“Maklum aja ya, Bu. Namanya juga orang *****.” Astaga, belum berhenti-berhenti juga gunjingannya. Sampai sini, alis saya otomatis terangkat sebelah dan Ibu melihatnya sekilas. “Kerjanya pasti malas.”

Jujur, waktu itu saya sudah nyaris naik pitam. Tidak hanya karena mendengar komentar rasis, tuduhan perempuan itu juga terlalu menggeneralisir dan tanpa bukti.

Ibu saya kebetulan juga berasal dari suku yang dipergunjingkan perempuan itu. (Sengaja saya menyensornya untuk menghindari drama yang tidak perlu. Nama perempuan ini bahkan tidak saya sebut. Ini hanya jadi satu contoh kasus.)

Sekedar konfirmasi, ibu saya pekerja keras. Kalau tidak, bagaimana mungkin dulu kami bertiga mendapatkan pendidikan yang baik? Tidak hanya masih dipercaya mengurus acara reuni kantor setelah pensiun, Ibu bahkan punya usaha katering sendiri.

Selesai makan dan membayar, kami berdua burur-buru hengkang dari sana. Asli, serius. Nggak tahan.

“Pantas warungnya susah laku,” gerutu Ibu begitu kami sudah jauh. “Semua orang dia omongin.”

Saya hanya mengangkat bahu. Begitulah. Sama halnya dengan orang yang lama-lama sama sekali nggak punya teman. Kalau pun masih ada, belum tentu sedekat yang mereka inginkan.

Siapa yang tahan, sih? Hanya karena rajin menggosipkan satu orang dalam waktu lama, bukan tidak mungkin suatu saat giliran Anda yang jadi bahan pergunjingan mereka. Kemungkinan itu selalu ada.

Ya, sudah banyak buktinya. Mending jauh-jauh saja.

“Kamu kenapa tadi nggak nyeletuk aja kalo Mama orang *****?” tanya Ibu tiba-tiba. “Tumben tadi diem aja.”

“Karena tahu Mama bukan orang yang suka cari ribut.”

Kami hanya sama-sama nyengir sebelum berjalan pulang.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Ritme Hari

Ritme Hari

Kemana kita beranjak pagi ini?

Bersama atau sendiri,

mengais rezeki.

Menendang penghalang, maju dengan motivasi.

 

Kemana kita berlari siang ini?

Terus ke depan, di bawah terik mentari.

Jangan menyerah, meski cobaan di sana-sini.

 

Kemana kita berlalu sore ini?

Pulang, sebelum malam bertambah tinggi.

Berhenti, sebelum lelah terlalu menggerogoti.

 

Malam ini?

Biarkan diri lelap oleh sunyi.

Masih ada esok hari.

 

R.

 

 

(Jakarta, 23 November 2013)

 

Categories
#catatan-harian #menulis

Keluhan Setelah Ucapan Selamat

Keluhan Setelah Ucapan Selamat

“Selamat ya, kamu akhirnya dapet beasiswa ke *******.”

“Makasih.”

“Kamu beruntung ya, pinter. Beda dengan otakku yang pas-pasan…”

“……….”

-***-

“Waaah, elo dapet karir impian? Congrats!”

“Thanks.”

“Enak banget jadi lo. Gue merasa karir gue begini-begini aja. Nggak maju-maju. Mandek.”

“……….”

-***-

“Pacar baru, nih? Ganteng, deh. Bikin sirik.”

“Ah, nggak sampe segitunya juga kali. Biasa aja.”

“Serius. Ganteng banget. Gue kalo secantik elo mungkin juga bakalan dapet yang sama.”

“……”

 

Tiga contoh percakapan di atas pasti terasa familiar. Pernah kayak gitu? Yang mana Anda?

Bagi yang nggak terlalu mikirin (atau mungkin malah udah nggak peduli), ini mungkin hanya dianggap basa-basi. Namun, nggak jarang banyak yang malah keganggu banget dengan komentar tambahan yang demikian.

Pernah dengar pendapat seperti ini?

“Orang Indonesia susah banget nerima pujian dengan anggun, terutama perempuan, tanpa jatuh merendahkan diri.”

Contohnya seperti ini:

“Kamu hari ini cantik, deh.”

“Makasih, padahal aku nggak dandan, lho. Rasanya biasa aja.”

Tuh, ‘kan? Kenapa sih, nggak ngucapin terima kasih aja lalu udah? Beda lho, rendah hati dengan (me)rendah(kan) diri.

Ini juga berlaku buat yang hobi nambah-nambahin keluhan seputar diri sendiri setelah mengucapkan selamat atas kesuksesan orang lain. Entah itu keluarga, kawan, dan entah siapa lagi.

Barangkali, niat Anda hanya basa-basi. Mungkin maksudnya ingin merendah, namun jatuhnya malah makin ‘ganggu’. Banget. Serius. Selain terdengar mengasihani diri sendiri, ada kesan iri yang terpendam dengan kebahagiaan dan kesuksesan mereka yang Anda beri selamat.

Memang, semua yang serba ‘terlalu’ itu kurang baik. Terlalu bahagia, terlalu sedih, maupun terlalu minta dikasihani itu bikin Anda kelihatan nggak elegan.

Memang, semua orang pasti punya masalah. Namun, tidak perlulah melampiaskan kekesalan ke semua orang, apalagi yang tidak tahu apa-apa maupun yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah Anda. Nggak elok dan nggak adil juga, ‘kan?

Mengapa kita harus merusak kebahagiaan orang lain, hanya karena kita sedang sedih atau bermasalah? Padahal, tinggal bilang “selamat” dan selesai sudah. Nggak susah.

R.

 

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Antara Aku, Kamu, dan Hantu Itu

Antara Aku, Kamu, dan Hantu Itu

Aku berusaha berlari
saat hantu itu mengejarku
jauh-jauh dari masa lalu.
Kau pun berlari
namun mengajak sang hantu
menjajari tiap langkahmu.

Ah, apa maumu?
Aku tak sudi bertemu
pilu yang seperti dulu.
Tak heran langkahmu melambat.
Hantu sialan itu membuatmu terhambat
hingga semuanya memberat.

Aku masih berlari
sementara kau tanpa lelah mengekori
di belakangku, masih bersama hantu itu.
Tahukah kamu?
Kau dan hantu lama-lama menyatu,
mendorongku untuk terus mengambil langkah seribu!

R.

(Jakarta, 28 November 2013)

 

Categories
#catatan-harian #menulis

Surat Terbuka Untuk Yang Suka Merongrong Perempuan Soal Kapan Mereka Harus Menikah

Surat Terbuka untuk yang Suka Merongrong Perempuan Soal Kapan Mereka Harus Menikah

Sebenarnya, saya lelah harus membahas soal ini lagi. Rasanya nggak kelar-kelar. Selain bisa merusak relasi dengan sesama (terutama keluarga dan teman), terlalu sering merongrong perempuan soal kapan mereka akan menikah justru berpotensi ‘membunuh’ rasa percaya diri mereka.

Saya baperan? Tunggu dulu. Baca tulisan ini sampai selesai sebelum menuduh macam-macam.

Awal tahun 2000-an ditandai dengan perlawanan keras dari mereka yang mulai jengah keseringan ditanya soal kapan mereka akan menikah. Nggak hanya saat silaturahmi Lebaran, arisan keluarga juga bikin mereka lelah. Alasannya beragam, mulai dari bosan, malas, hingga merasa urusan pribadi mereka terlalu diatur-atur dan dihakimi.

Ada juga sih, yang sebenarnya nggak keberatan dengan pertanyaan “Kapan nikah?” Jawaban paling aman mereka yang masih lajang paling hanya: “Mohon doanya.” Sayang sekali, jawaban diplomatis ini kadang dianggap nggak cukup untuk menghentikan rongrongan ini.

“Sebenarnya bukan pertanyaan kapan nikah yang jadi masalah,” aku seorang teman. “Yang nyebelin, pas udah dijawab dengan mohon doanya, mereka masih belum puas juga. Kalo nggak mulai menceramahi panjang lebar, sering ‘cacat’ atau kekurangan kami seperti sengaja dicari-cari sebagai alasan belum berjodoh.”

Oh, I feel you, sis. Apalagi, pihak yang dituduh ‘terlalu usil’ dan pendukungnya sekarang malah balas tersinggung. Menurut mereka, yang mereka tanyakan itu selama ini sudah dianggap wajar di Indonesia. Kenapa sekarang malah jadi masalah?

“Lagipula, bersyukurlah masih ada yang memperhatikan,” begitu alasan mereka. “Nggak usah baperan, lah. Biasa aja.”

Duh, ternyata susah ya, membuat mereka mengerti bahayanya terlalu sering merongrong putri/saudari/sahabat perempuan Anda dengan pertanyaan “Kapan nikah?” dan komentar nyinyir yang kerap menyertainya. Nih, saya kasih beberapa contohnya:

  1. Kesannya ingin mendahului Tuhan dan jadi arogan.

“Nanti kamu keburu perawan tua. Udah susah laku, susah punya anak pula.”

“Memangnya kamu mau nanti pas udah tua, anakmu masih kecil-kecil?”

“Si A umur segini anaknya udah tiga. Kamu kapan?”

“Hidupmu belum lengkap dan ada artinya tanpa menikah, apalagi kalau kamu perempuan.”

Hati-hati bicara seperti itu sama yang masih melajang, terutama meski kalian sudah duluan menikah dan punya anak. Ada kesan kalian seperti lebih tahu dari Tuhan dan arogan. Ayo, nggak usah gantian baperan. Bisa kok, bersyukur akan rezeki masing-masing tanpa harus saling merendahkan.

Saya sedih mendengar perempuan masih saja disamakan dengan barang dagangan, terutama dengan istilah “laku-nggak laku” yang masih saja digunakan. Makin sedih pas melihat yang paling getol nyinyir itu justru sesama perempuan. Sepertinya mereka lupa, sebelum akhirnya menikah dan punya anak, dulu mereka juga di posisi yang sama dan pasti nggak nyaman diperlakukan demikian. Mana empatinya?

Selain itu, banyak yang berasumsi bahwa begitu menikah, semua perempuan bisa langsung hamil seketika. Ada yang harus mencoba dalam waktu lama, sebelum akhirnya berhasil punya anak. Ada yang belum, bahkan meski sudah menikah muda. Bisa jadi karena masalah kesehatan, bukan kurang usaha seperti yang kerap kali mudah dituduhkan.

  1. Bikin orang jadi sering mengeluh dan kurang merasa bersyukur.

Mungkin yang hobi merongrong dengan pertanyaan “Kapan nikah?” enggan bertanggung jawab atau seakan menutup mata terhadap akibat ini. Padahal, ulah mereka justru berpotensi bikin orang yang tadinya nggak apa-apa jadi merasa ada masalah. Yang tadinya berbahagia (dan pastinya tambah kelihatan cantik dong, ya) jadi bermuram durja dan kurang bersyukur sama hidup mereka.

Masih nggak percaya juga? Contohnya udah banyak banget, kok. Ada yang senantiasa mengeluhkan tubuhnya yang kurang kurus, hanya gara-gara berat badannya dijadikan ‘kambing hitam’ susahnya dia berjodoh (dan sekarang dijadikan tolak ukur keimanan lagi). Padahal, tubuh mereka masih termasuk sehat, apalagi bila rajin berolahraga.

Ada yang kesepian dan mengurung diri di kamar setiap Malam Minggu, karena malu dengan teman-temannya yang nggak jomblo. Padahal, sosialisasi dan traveling justru bisa membantu mereka menemukan jodoh.

Ada yang jadi merasa percuma sukses di karir, bila masih dianggap kurang sempurna hanya gara-gara belum menikah dan punya anak. Padahal, mereka juga membantu perekonomian keluarga, seperti merawat orang tua yang sedang sakit dan menyekolahkan adik-adik yang masih kecil. Kata siapa jomblo nggak berguna?

  1. Berpotensi bikin perempuan jadi ‘pelakor’ (perebut laki orang) maupun rentan jadi korban lelaki hidung belang.

Karena sering dianggap bahwa tanpa pasangan mereka nggak cukup baik, rasa iri perlahan mengendap. Hasilnya bisa kita lihat sendiri.

Ada yang lantas gelap mata dan jadi pelakor. Ada juga yang karena putus asa jadi mudah percaya sama rayuan gombal lelaki hidung belang. Bahkan, meskipun tahu pada akhirnya, tetap ada yang memilih ‘menutup mata’ terhadap kelakuan lelaki itu. Di benak mereka yang sudah terlanjur diracuni, yang penting ada pasangan.

Okelah kalau kalian masih merasa berhak bertanya mengenai kapan seseorang akan menikah. Tapi, coba kurangi komentar miring yang sama sekali nggak perlu, entah itu soal berat badan mereka atau semacamnya. Cukup doakan saja. Lagipula, sudah lupa kalau jodoh itu urusan Tuhan?

R.