Categories
#catatan-harian #menulis

“REALITA MENYEBALKAN PASTI JADI CERITA”

“REALITA MENYEBALKAN PASTI JADI CERITA”

Entah apa anak-anak zaman sekarang (sori, ogah pake istilah “jaman now” yang sebenernya merusak tatanan bahasa dan nggak konsisten pula) masih menikmati cerita-cerita dongeng. Mungkin masih, mungkin enggak. Mungkin ada, meski caranya berbeda.

Intinya, cerita-cerita dengan happy ending terbukti membesarkan generasi berpikiran optimis. Berbuat baiklah, maka Anda akan mendapatkan balasan yang baik pula.

Lalu, apa jadinya bila realita ternyata menyebalkan? Nggak sesuai harapan? Contohnya banyak, apalagi di usia dewasa.

Nggak hanya kecewa saat IPK tinggi justru tidak mengantarkanmu ke karir impian. Sebaik apa pun berusaha memperlakukan sesama di lingkungan sosial (mungkin juga baik menurut banyak orang, nggak hanya keyakinan pribadi), pasti ada saja yang nggak suka dan berusaha menjegal.

Salah siapa? Diri sendiri? Belum tentu. Memang itulah hidup. Sama halnya dengan urusan karir dan percintaan.

Pada dasarnya, semua orang ingin bekerja dengan baik. Jika dulu kita dengan mudahnya memandang sosok yang dipecat sebagai satu-satunya yang bersalah, sekarang sudah tidak lagi. Banyak pertimbangan lain yang menjadi penyebab. Salah satunya adalah ‘politik kantor’.

Merasa tidak diperlakukan dengan adil? Tenang, Anda bukan satu-satunya. Ada beberapa hal yang memang masih patut diperjuangkan, ada yang tidak. Lagi-lagi, semua terserah Anda.

Bergantung pada keuletan diri dalam melihat peluang bagus adalah salah satu ciri dan cara bertahan hidup. Bolehlah banyak yang menjanjikan macam-macam. Pada kenyataannya, banyak juga yang berani dan bahkan tega melanggar kesepakatan, apa pun alasannya.

Pada akhirnya, hanya diri sendirilah yang bisa diandalkan. Kadang tidak perlu ribut, membalas dendam, atau berharap kemalangan menimpa mereka yang pernah berbuat salah pada Anda. Ini juga berlaku di urusan percintaan.

“Kenapa dia begini sih, sama aku? Memangnya aku kurang apa?”

Jangan pernah percaya dengan pakem yang terlalu menggeneralisir. Orang yang baik pasti akan selalu mendapatkan jodoh yang baik. Kalau sampai dapat yang jahat, pasti ada yang salah dengan diri Anda. Introspeksi dulu.

Kalau nggak dapet-dapet? Apalagi.

Serius, jangan terlalu percaya. Pada kenyataannya, semua manusia berproses. Ada naik, ada turun. Nggak ada yang nyaris 100% baik, kecuali malaikat.

Jangan kagum dulu dengan mereka yang sukses dan bisa punya banyak gandengan yang bisa gantian – apalagi dalam saat bersamaan. Masih banyak hal lain yang jauh lebih layak dianggap prestasi. Kalau Anda orangnya, jangan dulu berbangga hati. Apalagi bila caranya pakai bikin orang baper setengah mati. Bayangkan itu terjadi pada anak sendiri. Masih bisa maki-maki, tapi ogah berkaca sendiri?

Jangan juga terlalu benci. Bisa jadi orang yang butuh begitu banyak ‘penggemar’ sebenarnya minder sekali. Tanpa mereka, dia ibarat kehilangan pengakuan dan citra diri.

Sedih itu wajar. Marah dan sakit hati itu manusiawi. Hati-hati dengan sikap jumawa mendadak dengan komentar: “Gue kurang baik apa, sih?”

Yakin Anda beneran sebaik yang Anda kira? Silakan jawab sendiri.

Saya pernah membaca wawancara Oprah Winfrey dengan penyanyi asal Inggris, Seal, mengenai masa lalunya yang kelam. Saat menyebut sang ayah yang abusive sebagai contoh yang baik, penonton sempat shock. Buru-buru Seal mengoreksi:

“Ayah saya adalah contoh nyata mengenai yang tidak boleh dilakukan.”

Hhh, lega. Kirain apa.

Realita menyebalkan pasti jadi cerita. Bukan, bukan selalu karena kita yang bermasalah, kurang keren, atau bahkan dianggap membosankan sama orang.

Bukan juga karena kita memang pantas diperlakukan demikian. Seperti percakapan dua orang yang pernah saya dengar suatu malam:

“Denger cerita tentang kantor lo yang sering telat kasih gaji tapi nuntut macem-macem setengah mati bikin gue jadi bersyukur sekali.”

“Hah, kenapa?”

“Bikin gue jadi lebih bersyukur sama kondisi gue. Meski usaha keluarga, gue tetap dididik keras, termasuk harus mulai dari level bawah banget. Tapi, seenggaknya mereka tetap bayar gaji gue sesuai kontrak.”

Bagaimana dengan urusan cinta? Bolehlah menyesal sudah pernah pacaran dengan orang itu. Ternyata dia tidak memperlakukan Anda dengan baik.

Namun, sayangnya ada orang yang memang bebal. Jadi, percuma juga berharap dia sadar akan kesalahannya. Tunggu saja sampai dia kena sendiri ganjarannya.

Justru dengan pernah bertemu dengan orang seperti dia, Anda jadi lebih tahu untuk memilih yang lebih baik berikutnya. Bahkan, bila suatu saat menikah dan punya anak, Anda bisa mengajari mereka untuk memperlakukan orang lain lebih baik. Siapa tahu? Hitung-hitung berbagi pengalaman, dengan harapan orang lain akan:

  • Menghindari kesalahan yang sama.
  • Lebih baik dengan sesama.
  • Lebih bersyukur dengan hidup mereka, apalagi kalau kebetulan memang masih lebih baik.

R.

 

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

“MEMORI SYDNEY 2”

“MEMORI SYDNEY 2”

Ke sanalah aku berlari

meninggalkan sakit hati

menenangkan diri

berburu inspirasi

 

Akankah ke sana lagi?

Aku rindu jalan-jalan sepi

Aku harus kembali

semoga dengan restu Ilahi…

 

R.

 

Categories
#catatan-harian #menulis

“YANG PALING KUBENCI DARI PATAH HATI”

“YANG PALING KUBENCI DARI PATAH HATI”

Patah hati. Pasti sudah banyak ide cerita, film, dan lagu tentangnya. Banyak juga yang jadi curhat gara-gara patah hati.

Yang berusaha menghibur, mulai dari yang hanya mendengarkan hingga memberi nasihat (yang mereka percaya sebagai proses penyembuhan)? Banyak juga. Bahkan, nggak semua bertahan lama. Kadang ada yang sampai gemas setengah mati hingga jumawa menghakimi.

“Move on aja susah amat, sih! Gue aja tiga bulan udah punya pacar lagi.”

“Kelamaan lo berdukanya. Manja amat, sih?”

Mau tahu yang paling kubenci dari patah hati? Bukan, bukan si penyebab patah hati. Tapi, bahkan patah hati saja terlalu digeneralisir.

Pertama, ini bukan hanya masalah putus sama pacar. Ada yang patah hati gara-gara cerai, ditinggal mati, hingga kehilangan hak asuh atas anak atau kematian binatang peliharaan. Tim sepak bola favorit kalah saja bisa bikin patah hati.

Panutan, kayak seleb atau politisi, bikin kecewa? Apa lagi. Korban perang yang terpaksa harus mengungsi? Luar biasa kalo nggak depresi, apalagi sampai ingin bunuh diri.

Terus, yakin penyembuhannya ama semua, cukup dengan nasihat “Move on aja”?

Kedua, ini dia yang paling kubenci. Oke, mungkin maksud mereka baik. Mereka nggak mau kita terlalu lama bersedih dan segera berbahagia lagi.

Tapi, proses tiap orang ‘kan, beda-beda lagi. Tergantung kasusnya. Bisa aja ada yang langsung move on dan segera punya pacar lagi. Perkara itu hanya rebound, beneran sayang, hingga hanya karena takut kesepian? Siapa yang tahu, sih? Ngapain buang-buang waktu berspekulasi? Mending urus diri sendiri.

Ada juga yang milih sendiri dulu. Celakanya, malah dituduh belum sembuh, sulit move on, hingga kelewat picky. Aduh, memangnya Anda siapa, sih? Yakin situ lulusan psikologi? Ada empati?

Ingin membantu orang sembuh dari patah hati? Pertama, cek dulu kapasitas diri. Nggak semua hal sama dan selalu bisa dimengerti.

Kedua, nggak yakin bisa kasih solusi? Stop menghakimi. Biar mereka menemukan obatnya sendiri.

R.

(Jakarta, 19 April 2018 – dari Tantangan Menulis Mingguan Klub Menulis Couchsurfing Jakarta. Tema: ‘kesembuhan’.)

 

Categories
#catatan-harian #fiksimini #menulis

“DARI JENDELA KAMAR HOTEL”

“DARI JENDELA KAMAR HOTEL”

Banyak yang bisa kau lihat dari jendela kamar hotel ini. Lantai enam cukup tinggi untuk melihat semuanya.

Gimana? Keren, sih. Cuma, andai saja aku nggak terbangun malam itu.

Waktu masih menunjukkan pukul 3:00 dini hari. Nggak sabar menunggu kegiatan kami berikutnya pukul enam. Mungkin itu yang bikin aku terbangun terlalu dini.

Aku enggan membuat teman-teman sekamar terbangun dengan menyalakan lampu, makanya aku jalan pelan-pelan di kegelapan. Untunglah ada yang membiarkan lampu kamar mandi menyala. Jadi, aku bisa menghampiri jendela tanpa khawatir menabrak barang-barang dan bikin keributan.

Kusibak tirai dan kulihat pemandangan di luar jendela. Masih gelap dan sepi banget. Kayaknya nggak ada seorang pun di luar sana. Ada sepasang lampu jalan yang masih menyala. Selain itu, nggak ada.

Mataku terpaku pada gedung hotel lain di seberang tempatku menginap. Jendela-jendela yang gelap itu mengingatkanku pada lubang-lubang – atau rongga-rongga tanpa bola mata. Teman-teman bilang aku kebanyakan nonton film-film horor.

Ada satu jendela di lantai lima yang lampunya masih menyala. Tirainya juga terbuka. Ada dua orang – laki-laki dan perempuan – berdiri di sana, saling berhadapan. Kayaknya lagi meributkan sesuatu. Sesekali mereka saling menuding sambil sama-sama melotot.

Mungkin cuma pasangan yang lagi berantem saat bulan madu, begitu tebakku. Baru saja aku mau kembali tidur, ketika tiba-tiba laki-laki itu menggenggam leher si perempuan. Perempuan malang itu langsung meronta-ronta sambil meringis kesakitan.

Laki-laki itu mencekiknya.

OH, TIDAK!

Tanpa berpikir panjang, kusambar ponselku dan menghubungi nomor darurat lokal. Untunglah, operator yang bertugas segera menjawab.

“Kayaknya saya baru saja menyaksikan pembunuhan,” bisikku, masih berdiri di samping jendela sambil menekan ponsel ke telingaku. Untunglah si operator segera menanggapiku serius, karena kulihat perempuan malang itu berhenti meronta-ronta dan akhirnya terkulai lemas, sebelum laki-laki itu melepaskannya hingga jatuh ke lantai. Kulihat laki-laki itu terengah-engah, sampai bahunya bergerak naik turun.

Setelah kuceritakan semua yang kulihat – termasuk ciri-ciri laki-laki dan perempuan itu – operator menanyakan nama dan lokasiku. Setelah kujawab, kudengar instruksinya, “Jangan ke mana-mana, Miss. Tenang. Jangan melakukan apa pun yang berisiko. Polisi akan segera tiba di sana.”

“Oke, cepatlah.” Lalu kuputuskan sambungan. Dengan gugup kuawasi jendela itu. Laki-laki itu masih di sana. Aku takut membangunkan teman-temanku.

Sekitar lima menit berikutnya, kulihat ke bawah dan sebuah mobil patroli polisi masuk ke parkiran hotel. Lalu kulihat kembali jendela di lantai lima, hanya untuk memastikan laki-laki itu belum kabur.

Dia masih di sana, memandangi korbannya. Dia tersenyum.

Lalu, sesuatu terjadi, yang sulit kupercaya dengan mataku sendiri.

Perempuan itu bangun, dengan bantuan laki-laki tadi. Keduanya berdiri sambil bertukar seringai, sementara sosok ketiga muncul dan terlihat olehku, dengan kamera terarah pada pasangan itu.

Oh, tidak. Apa yang telah kulakukan?

R.

 

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

“DRASTIS”

“DRASTIS”

Hanya butuh satu kata cinta

untuk mengubah gaya bercerita

menjadi lebih optimis dan ceria

sehingga pembaca ikut bahagia

 

Hanya butuh sepercik dusta

untuk merusak semua

mengubah alur cerita

kembali gelap dan bergelimang duka

 

Ah, cinta…

Betapa drastis pengaruhnya…

 

R.

(Jakarta, 30 April 2018 – 9:15)

Categories
#catatan-harian #menulis

“TENTANG FILM: SPOILER ATAU NO SPOILER?”

“TENTANG FILM: SPOILER ATAU NO SPOILER?

Hmm, kayaknya lagi pada ribut perkara spoiler film tertentu ya, minggu kemarin? Sebenernya, masalah ini udah ada dari dulu. Ya, bahkan sejak DVD bajakan, internet, hingga unduhan gratis belum kepikiran oleh siapa pun. (Yah, ketahuan deh, umur saya.)

Kalau era ’90-an dulu orang masih pada dulu-duluan ke bioskop saat film terbaru dirilis, sekarang sampai harus bikin acara khusus bertitel ‘premiere’ segala. Ya, biar tetap ada yang dateng dan makin rame, apalagi kalo filmnya emang udah ditunggu banget. Kadang sponsor bisa bejibun dan ampe artis serta para kru ikutan nongol.

Kemudahan era digital emang bikin semuanya jadi serba cepat. Saking cepatnya, ada yang jadi nggak sabaran dan lantas mau cari keuntungan lain. Ya, mulai dari beli DVD bajakan (yang biasanya lebih murah) hingga unduh gratisan sendiri.

Bahkan, ada yang nggak tanggung-tanggung: unduh sendiri, nonton gratis, terus jual lagi sebagai DVD bajakan. Dapet uang, lho.

Ah, lagi-lagi namanya juga Indonesia. Yang jualan DVD bajakan aja ampe punya lapak sendiri di mall sama trade centre. Hehehe…

Oke, balik lagi ke soal spoiler film. Hmm, enaknya gimana, ya?

Kalo zaman dulu, temen yang udah nonton satu film duluan di bioskop minimal masih nanya dulu sebelum cerita:

“Eh, nggak apa-apa nih, gue ceritain semuanya?”

Ada juga sih, yang hanya cerita sedikit, lalu menutupnya dengan: “Sisanya nonton sendiri, deh. Biar lebih seru.”

Sayangnya, kedua jenis teman di atas jadi ‘nggak banyak membantu’ begitu era media sosial sekarang. Gimana enggak? Banyak acara tebar spoiler film terkini (apalagi yang lagi trending banget) selancar tukang gosip di media sosial nyinyirin aib tetangga lewat status. Hihihihi….

Kalo udah kayak gini, apa daya? Mau marah juga percuma. Apalagi, seperti Anda, para penyebar spoiler ini dengan suka cita akan pake pakem yang sama:

“Suka-suka gue. Lo gak suka, tinggal gak usah baca / unfollow / remove / unfriend!”

Oh, wow. Sampai segitunya ternyata. Sementara itu, yang masih percaya dan merasa bahwa spoiler mengurangi kenikmatan nonton film beranggapan bahwa para penyebarnya termasuk:

  1. Orang-orang egois, gak mikir yang belum nonton dan merusak suasana.
  2. Pamer, mentang-mentang udah nonton duluan.
  3. Nomor 1 dan 2.

Lalu, gimana menurut saya sendiri?

Beruntunglah, saya seorang penulis yang bisa menikmati film dari sisi apa pun. Toh, sensasi menonton sendiri secara langsung dengan hanya mendengar cerita orang pasti berbeda.

Kalo bisa sih, jangan ada spoiler. Kalo emang udah kepalang, saya juga nggak akan menambah drama yang nggak perlu dengan marah-marah, apalagi sampai unfriend segala. Hadeuh, udah ribut karena politik, sekarang mau ribut karena spoiler? Please, deh!

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

“YANG MANA DIRIMU?”

“YANG MANA DIRIMU?”

Terombang-ambing

kau tunjukkan diri

kadang hangat, kadang dingin

bagai cuaca di bumi

selepas efek rumah kaca

kadang gerah, kadang bikin merinding

 

Yang mana dirimu?

Aku harus tahu

Mengapa cinta ibarat catur?

Setiap langkah harus diatur

Apakah kau hanya ingin

aku takluk secara utuh

agar kau dapat berkuasa penuh?

 

Jangan frustrasi

Yang ada malah lelah sendiri

sementara aku sudah muak sekali

Masa semua harus maunya laki-laki?

Katanya perempuan dihargai

bukan ditindas setengah mati

 

Jadi, yang mana dirimu?

Tak perlu takut terlihat lemah di hadapanku

 

R.

 

Categories
#catatan-harian #menulis

“BISNIS ONLINE ANAK MUDA: Mulai Dari Mana?”

“BISNIS ONLINE ANAK MUDA: Mulai Dari Mana?”

Generasi milenial – atau yang kerap disebut dengan ‘anak-anak jaman NOW’  – sering dipandang sebelah mata oleh generasi sebelumnya. Padahal, mereka adalah penerus bangsa dan umat manusia. Mereka juga bukan melulu tukang hura-hura. Hal ini terbukti dengan menjamurnya bisnis online anak muda.

Era digital semakin mempermudah banyak orang untuk memulai bisnis mereka sendiri. Bahkan, kamu tidak perlu lagi menunggu lulus kuliah, bekerja kantoran selama beberapa tahun, hingga mengumpulkan dana yang cukup untuk memulai bisnismu sendiri. Sekarang, sudah banyak bisnis online anak muda.

Sebelum era media sosial segencar sekarang, sebenarnya sudah banyak anak muda yang membuka bisnis kecil-kecilan mereka sendiri. Contoh: bisnis rumahan seperti berjualan camilan, produk fashion, hingga jasa pengetikan dan penerjemahan. Bahkan, hanya bermodal dari rumah sendiri juga bisa.

Era media sosial dan aplikasi chat semacam Whatsapp dan LINE semakin mempermudah mereka yang ingin membuka bisnis sendiri secara online. Semangat khas pelaku bisnis online anak muda sayangnya tidak dibarengi dengan strategi yang cocok, sehingga banyak yang gugur di tengah jalan.Apa penyebabnya? Apa yang salah? Menurut website Bisnis Millenial, ada empat (4) kendala yang sering terjadi bagi para pelaku bisnis online anak muda. Semua kendala utama tersebut adalah:

  1. Tidak punya produk yang unik atau terlalu terbawa arus pasar.

Mungkin ini memang kerap terjadi, terutama bagi pemula. Saat produk tertentu sedang tren dan digandrungi banyak orang, mereka pun ikutan berjualan yang sama. Mungkin pada awalnya menangguk keuntungan.

Namun, sama seperti halnya semua tren, orang akan cepat bosan saat tren berlalu. Penghasilan tidak lagi seperti dulu, sehingga ragu untuk maju atau mencoba sesuatu yang baru.

2. Persaingan lebih tinggi, cepat, dan kadang ganas.

Namanya juga era digital. Bukan satu saja yang ingin membuka bisnis online anak muda. Otomatis persaingan lebih tinggi, cepat, dan kadang panas. Bila salah strategi, penghasilan akan sulit bertambah, apalagi bagi yang kurang siap mental.

3. Ingin membuka bisnis online, tapi minder karena merasa tidak punya bakat.

Bisa jadi, awalnya hanya ikut-ikutan kawan yang sudah duluan punya bisnis online anak muda. Sayangnya, hal ini tidak dibarengi dengan ketrampilan – dan rasa percaya diri – yang memadai. Akibatnya, jangankan memulai. Memikirkan konsepnya saja masih bingung.

4. Punya semangat dan sudah mengikuti kursus online, tapi masih butuh bimbingan.

Kursus online untuk membuka bisnis memang membantu. Namun, pada akhirnya semua peserta akan punya ide masing-masing untuk jenis usaha mereka. Masalahnya, tidak semua langsung yakin bisa maju seketika. Ada yang masih butuh bimbingan.

Nah, kalau sudah begini, sebaiknya bagaimana, ya? Apakah maju terus pantang mundur tapi miskin strategi? Apakah mundur saja, menyerah, dan berhenti? Enggan mencoba lagi?

Hei, itu bukan sikap anak muda generasi milenial yang pantang menyerah. Bila masih bingung, gimana kalau kamu bergabung saja dengan Bisnis Millenial? Komunitas ini akan membantu para pelaku bisnis online anak muda yang masih membutuhkan bimbingan tambahan.

Dengan Bisnis Milennial, kamu bakal dibimbing langsung oleh para mentor berpengalaman, disertai praktik langsung di lapangan. Tidak hanya live mentoring, kamu juga bisa menonton video tutorial pendukung, mendapatkan info terbaru seputar dunia bisnis online anak muda, hingga belajar strategi jual.

Jadi, masih ragu membuka bisnis online anak muda? Sebaiknya jangan. ‘Kan sudah ada Bisnis Milennial.

 

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

“BISAKAH? MAUKAH? SIAPKAH?”

“BISAKAH? MAUKAH? SIAPKAH?”

Bisakah aku menjadi pahlawanmu,

meski tanpa kekuatan super

atau kostum dan topeng itu?

 

Bisakah?

Mungkin tidak

meski tetap mau

dan cinta terdengar semu

 

Maukah aku menjadi pahlawanmu,

meski mungkin tidak perlu

karena bisa saja kau meninggalkanku

dan ilusi cinta hanya menyisakan sembilu

 

Mungkin itu bukan peranku

dan kamu hanya ada

pengisi beberapa bab saja

namun bukan sebagai tokoh utama

dan cinta hanya fatamorgana

impian remeh gadis remaja

 

Siapkah aku

bila akhir kisah ini

hanyalah aku yang kembali

dan lagi-lagi sendiri?

 

R.

(Jakarta, 19/9/2017 – 10:05 am)

 

Categories
#catatan-harian #menulis

“MELAPORKAN PELAKU PELECEHAN DI BUS SHELTER TRANS-JAKARTA”

“MELAPORKAN PELAKU PELECEHAN DI BUS SHELTER TRANS-JAKARTA”

Oke, saya sudah melupakan trauma saya, jadi saya bisa menulis tentang ini.

Bulan lalu, pada 24 Maret 2018, saya menghadiri acara puisi di Warung Buncit, Jakarta Selatan. Acara selesai sekitar pukul sepuluh malam Sabtu itu.

Saya pergi ke halte bus Trans-Jakarta terdekat untuk menunggu perjalanan pulang. Ada seorang lelaki tua berdiri di sana, juga menunggu bus.

Awalnya, semuanya tenang dan baik-baik saja. Kami tidak berbicara satu sama lain, hanya dua orang asing dalam diam. Kemudian tiba-tiba, lelaki tua itu menyeringai ke arah saya. Dia tampak seperti sedang membetulkan celananya, tetapi ketika saya melihat tangannya mulai membuka kancingnya …

Saya tidak membuang waktu dengan diam saja. Saya berbalik dan bergegas menuju tangga dan kembali ke loket tiket.

“Pak?” Saya memanggil-manggil petugas dengan jantung berdegup kencang. Sudah pukul sebelas waktu. “Halo? Pak, tolong.”

Saya senang bahwa bajingan itu tidak mengikuti saya, tetapi saya tetap tidak ingin mengambil risiko. Saya tahu saya masih bisa melawannya sendirian di hari lain, tetapi saya juga butuh saksi lain.

Selain itu, laki-laki seperti itu pasti akan melakukan hal yang sama pada perempuan lain saat punya kesempatan. Tidak semua korbam cukup berani untuk melaporkan atau melawan.

“Ya, Bu?” Jawab seorang lelaki berseragam dari dalam bilik tiket. Ketika saya memberitahunya mengenai yang hampir terjadi, dia segera mengunci bilik dan kembali ke tempat kejadian dengan saya.

“Orang tua?” Dia bertanya. Ketika saya mengangguk, dia berkata, “Saya udah lihat sebelumnya di cctv dan mikir kok aneh ya, tetapi Ibu sudah keburu naik ke atas.”

“Tolong.” Oke, saya sebenarnya benci mengemis, tapi saat itu nggak punya pilihan. “Bapak bisa temani saya di sana, setidaknya sampai bus saya tiba atau dia pergi lebih dulu? Saya nggak mau sendirian sama orang itu.”

“Tentu saja, Bu.”

Jadi, staf berseragam itu melakukan seperti yang dijanjikan. Laki-laki cabul tadi tampak kecewa ketika melihat saya tidak sendirian lagi. Dia berusaha berbicara ringan dengan staf berseragam yang sedang bertugas. Saya tetap diam sambil mengawasinya dengan hati-hati.

Saya lega ketika si tua itu akhirnya naik ke bus yang menuju ke arah selatan. Sambil menunggu bus, saya ngobrol saja dengan staf berseragam untuk sementara waktu. Ternyata namanya Pak Jaelani. Penduduk Depok ini santai dan santun, yang mengaku hanya melakukan pekerjaannya.

“Saya benar-benar lihat yang terjadi yang tadi,” ulangnya. “Laporan seperti ini kami tanggapi dengan sangat serius, demi kenyamanan semua penumpang. Apalagi buat perempuan dan malam-malam begini.”

Kemudian Pak Jaelani cerita tentang penumpang perempuan lain yang pernah mengadu sambil menangis pas hari lagi sepi. Ternyata ada laki-laki muda yang sempat menggesek-gesekkan alat kelaminnya ke badan perempuan itu.

Iiih!

“Banyak laporan tentang pelecehan seksual di bus, Bu,” jelasnya. “Nggak ada bedanya, mau itu siang atau malam, ramai atau sepi. Rok mini atau baju tutupan semua. ”Pak Jaelani geleng-geleng dengan ekspresi kesal bercampur jijik. “Kalo orang otaknya emang udah sakit, ya sakit aja. Ibu udah bener langsung melapor. ”

“Ya, meski awalnya saya skeptis,” saya mengakui. “Bapak tahu sendiri ‘kan, biasanya malah lebih banyak yang nyalahin perempuan karena keluar sendirian, malam-malam pula.”

“Ah, orang-orang suka asal ngomong,” kata Pak Jaelani. “Kita nggak pernah tahu, perempuan itu bisa lagi bekerja lembur atau tugas lain atau tidak punya pilihan. Harusnya orang fokus pada pelaku dan bukannya korban kalo mau nyalahin. ”

Ketika bus saya akhirnya tiba, saya mengucapkan terima kasih lagi kepada Pak Jaelani sebelum naik. Saya pulang ke rumah malam itu dengan sedikit harapan.

Mudah-mudahan, lebih banyak orang menyadari AKAR MASALAH-nya selama ini …

 

R.