Jujur, saya paling payah dalam bermain catur. Entah karena nggak minat atau dulu malas menghapal banyak aturan buat tiap pion, pokoknya ini bukan olahraga favorit saya. Almarhum ayah sempat sampai frustrasi saat mengajarkan cara bermain catur.
Tapi, saya tetap suka dengan dua (2) nilai filosofis dalam permainan papan yang populer ini. (Sampai di universitas Rusia ada Jurusan Catur segala!) Apa saja, sih?
Harus berpikir setidaknya tiga langkah ke depan.
Ini alasannya banyak pemain catur profesional yang kelihatan cerdas sekaligus bijak. Ada juga sih, yang menganggap mereka terlalu banyak berpikir dan menganalisa segala sesuatu – sehingga jarang bertindak langsung atau spontan.
Sebenarnya, mereka cenderung sangat teliti dan lebih berhati-hati sebelum mengambil keputusan final. Makanya, keputusan mereka untuk melangkah atau melakukan sesuatu bisa memberi mereka lebih banyak waktu dan peluang untuk memenangkan pertandingan.
Dalam kehidupan sehari-hari, berpikir panjang sebelum berbuat sebenarnya bisa jadi pangkal selamat. Anda tidak akan terlihat seperti orang bodoh hanya karena kesalahan sepele. Anda juga penuh pertimbangan dan peduli bahwa keputusan Anda juga bisa mempengaruhi orang-orang sekitar, terutama yang terdekat.
Hanya bersuara saat bilang: “Skakmat!”
Memang sih, hal ini hanya berlaku saat pertandingan catur. Kalau hanya main biasa, pasti sesekali Anda masih mengobrol dengan lawan Anda.
Permainan ini memang membutuhkan konsentrasi tingkat tinggi, terutama saat berstrategi. Kalau teerus-terusan diajak ngobrol selama bermain, alamat isi kepala bisa buyar seketika. (Kecuali kalau ini taktik lawan untuk bikin Anda kehilangan konsentrasi. Untuk saat pertandingan betulan nggak boleh kayak begini, hihihi…)
Selain itu, kita bisa mempraktikkan strategi semacam ini dalam kehidupan sehari-hari. Tahu sendiri ‘kan, masih banyak manusia yang kerjanya omong doang, padahal belum tentu ada maknanya? Alih-alih bikin diri mereka kelihatan pintar, yang ada malah membuka aib sendiri.
Makanya, yang tidak banyak bicara belum tentu tidak percaya diri. Bisa jadi malah sebaliknya, karena mereka merasa tidak perlu bercerita segalanya kepada semua orang.
Mau jadi pemain catur profesional, sekaligus pribadi yang lebih bijak? Yang pasti butuh kendali diri lebih baik, disiplin, dan dedikasi. Kalau masih membiarkan diri sendiri dikendalikan ego, pastinya nggak mungkin bisa, sih.
Wabah Corona memaksa kami semua berhenti ke kantor. Untungnya, tidak sampai berhenti bekerja. Bahkan, jam bekerja kami semakin fleksibel layaknya pekerja lepas / freelance. Meskipun jam kantor resminya 9 to 5, gara-gara beralih jadi WFH (Work From Home), ada kalanya kami dihubungi di luar jam-jam kerja yang wajar. Bahkan, sampai rapat video-call segala.
Jujur, kadang aku sebal dengan kebiasaan baru ini. Misalnya: rapat sesudah jam makan malam. Biasanya, pada waktu itu aku sudah leha-leha di depan TV, nonton serial favoritku. Kadang aku juga duduk membaca buku atau mendengarkan lagu di radio. Kalau sudah terlalu lelah, biasanya aku memilih tidur lebih cepat.
Apa boleh buat. Karena kebanyakan staf kantorku juga orang tua (termasuk si bos), waktu bekerja disesuaikan. Kebanyakan dari mereka harus memenuhi kewajiban sebagai orang tua dulu. Mengurus anak, termasuk menemani mereka belajar – berhubung sekolah mereka juga ikutan online. Berbelanja bahan makanan. Membayar tagihan. Membersihkan rumah dan masih banyak lagi.
Ada untungnya sih, masih melajang di era Corona ini. Apalagi bila tinggal sendirian seperti aku. Aku hanya harus mengurus diriku sendiri. Merasa sepi, sesekali pasti terjadi. Tapi, nikmati saja waktu luang yang ada sebisa mungkin. Setidaknya aku masih punya pekerjaan, meskipun gaji terpangkas sedikit karena kita tidak perlu lagi uang transport untuk ke kantor.
Malam Selasa, ternyata ada rapat tim. Seperti biasa, aku sudah siaga di depan laptop kesayanganku. Meskipun di rumah, aku tetap mengenakan kemeja rapi dan rok panjang. Biasa, untuk berjaga-jaga bila tiba-tiba harus berdiri di depan webcam. Aku tidak ingin terlihat tidak pantas, berhubung hitungannya masih bekerja.
Singkat cerita, rapat berlangsung selama sejam. Kebanyakan rekan kerjaku tampak cuek, hanya mengenakan kaus dan jins. Tidak apa-apa sih, sampai tiba-tiba salah seorang hampir berdiri, sebelum tersadar dan buru-buru menutupi bawahannya dengan selimut. Di kamera, kami semua nyengir geli. Ada yang terkikik.
Hmm, makanya berdandan rapi saat rapat live di chatroom tetap penting. Beda kalau hanya chatting dengan teman-teman dekat.
“Ran, tumben kamu pakai rok panjang,” tegur Anna, salah satu rekan kerjaku di tim. Waktu itu, aku sedang berdiri sebentar untuk meluruskan punggungku sebelum duduk kembali.
“Lagi malas pakai celana panjang,” ujarku cuek.
Ketika rapat sudah selesai, aku mematikan webcam, laptop dan bernapas lega. Dengan perlahan aku beranjak ke tempat tidur. Setelah duduk di ranjang, dengan hati-hati kulepaskan satu kaki palsuku sebelum tertidur.
Selama ini, aku berhasil menyembunyikan rahasiaku di kantor. Sebelum pindah ke perusahaan ini, aku pernah mengalami kecelakaan yang membuat satu tungkaiku harus diamputasi. Untunglah, berkat terapi berbulan-bulan, akhirnya aku bisa kembali berjalan seperti orang normal. Tidak ada yang curiga, karena aku tidak pernah terlihat pincang. Toh, yang diamputasi masih di bawah lutut. Aku masih bisa menekuk kakiku.
Bukan apa-apa, aku hanya tidak ingin dikasihani. Bayangkan, apa jadinya kalau tadi aku rapat tanpa bawahan yang cukup panjang…
Sudah sebulan lebih aku tidak keluar rumah. Wabah Covid-19 atau yang lebih dikenal dengan Virus Corona sukses membuat seluruh dunia kalah – atau lebih tepatnya, dipaksa mengalah.
Semua rencanaku bubar jalan. Mau menerbitkan buku puisi Bahasa Inggris perdanaku, editorku harus pulang dulu ke kampung halamannya. Apa boleh buat, rencana itu terpaksa ditunda. Pekerjaanku apa lagi. Tidak ada lagi acara ke kantor (padahal hanya itu satu-satunya kesempatanku untuk mengobrol dengan si periset imut-imut dari Estonia. Singkat cerita, kami berkenalan dan jadi teman hanya gara-gara tanpa sengaja rebutan kursi di co-working space tempat kami bekerja.)
Orderan menulis jadi terpangkas. Mau tidak mau, aku terpaksa berjibaku lebih giat lagi mencari order tambahan. Kalau tidak, ya judulnya tidak makan. Iya kalau jadinya kurusan. Kalau buntutnya sakit dan rentan ketularan? Hiii…aku belum siap berkafan dan masuk kuburan.
Tadinya, Mama minta aku pulang. Tentu saja, permintaan beliau terpaksa kutolak demi keamanan semua orang. Mama sudah di atas 60, tinggal sama para keponakan yang menderita asma. Kira-kira?
Mau tidak mau, aku terpaksa bertahan hidup seorang diri. Mulai berhemat, meski sebisa mungkin tetap harus makan. Baca buku, termasuk yang sudah pernah dan akhirnya kuulang. Menulis seperti orang gila. Menyanyi meskipun bukan diva. Nonton TV sampai bosan luar biasa. Mendengarkan radio biar kamar nggak terasa sepi-sepi amat.
Banyak video-call sama teman-teman, meski belum tentu ada stok bahan obrolan.
Banyak cerita cukup lucu sepanjang wabah Covid-19. Bila harus kusebutkan, entah beneran lucu atau miris. Misalnya: ada saat aku mencoba video-call dengan Mama. Diangkat sih, tapi butuh beberapa detik bagiku untuk menyadari kenapa di layar hanya tampak pipi beliau.
Yah, Mama kira itu hanya voice-call. Huhuhu…padahal lagi ingin melihat wajah beliau…
Jalan masuk ke pemukiman tempat tinggalku diportal. Jangan mikir aneh-aneh dulu soal caraku untuk keluar-masuk, hanya untuk belanja di Alfamart. Berhubung bukan sosok atletis, nggak mungkin kan, tiba-tiba aku sok-sokan lompat galah?
Dalam tiap radius beberapa meter, ada dispenser dan botol sabun cair yang nganggur. Fungsinya tentu saja buat cuci tangan gratis. Satu waktu, aku menderita bosan akut hingga iseng bikin balon-balon dari gelembung sabun saat cuci tangan. Kutiup-tiup dengan suka cita hingga balon-balon sabun tersebut mengudara. Rasanya cukup menyenangkan…
…hingga kusadari mata-mata para tetangga yang tengah menatapku, seolah-olah aku sudah gila.
Apa lagi, ya? Oh, ini juga hobi yang sudah pernah kulakukan waktu kecil. Aku hobi mengejr-ngejar kucing di jalanan. Biasanya baru berhenti bila kucing incaranku ngumpet di bawah mobil, masuk ke rumah orang, atau loncat ke atap rumah sekalian.
Bila masih loncat ke atap mobil? Hihihihi…belum puas rasanya bila belum bikin si kucing trauma. Biasanya mobil itu kugoyang-goyangkan hingga si kucing akhirnya terpaksa loncat dan pindah ke tempat persembunyian lain.
Sialnya, pas menjelang tengah malam sehabis belanja di Alfamart, aku agak terlalu heboh menggoyang-goyangkan mobil tempat kucing incaranku mangkal di atap. Nggak hanya si kucing yang loncat menyelamatkan diri, aku juga harus lari gara-gara alarm mobil mendadak berbunyi. Gak mungkin kan, aku punya penjelasan bagus saat para tetangga sekitar – termasuk yang punya mobil – keluar dan memergokiku di TKP?
Entah kapan wabah ini berakhir. Moga-moga, aku masih waras sesudah Corona tertangani…
Ini kasus pertamaku. Aku datang ke vila besar berlantai dua dengan kolam renang di halaman belakang. Malam itu, jam di ponselku sudah menunjukkan pukul 11:45. Nyaris tengah malam.
Jenazah
lelaki itu terkapar di ruang tengah, berlumuran darah. Permadani Turki yang
mahal itu ternoda. Darah mulai mengering dari luka terbuka di perut lelaki itu.
Sang
Istri yang tersedu-sedu sedang diwawancarai oleh Detektif Senior di ruangan
lain. Tim Forensik sibuk memotret, menyapu berbagai permukaan untuk mencari dan
mengumpulkan contoh sidik jari dan barang-barang bukti lainnya. Tim Pemeriksa
Medis yang termasuk bagian dari Tim Forensik kemudian membawa jenazah ke
laboratorium mereka untuk divisum lebih lanjut.
Katanya
sih, usaha perampokan yang gagal total. Perampok Amatiran yang masuk terpergok
Sang Suami (yang sekarang berstatus Almarhum atau Korban) dan mereka pun
berkelahi. Pecahan kaca di dekat jenazah Sang Suami membuktikan bahwa
kemungkinan besar senjatanya adalah salah satu potongan dari pecahan kaca yang
ada. Lukanya agak terlalu lebar untuk pisau biasa.
Namun,
berdasarkan laporan sementara Tim Forensik dan yang kulihat, ada yang janggal.
Pertama,
kenapa hanya pintu belakang yang menuju kolam renang terbuka dan jendela besar
di sampingnya yang pecah? Tembok di belakang terlalu tinggi untuk dipanjati
dengan cepat. Kecuali ada manusia super di dunia nyata dan pelakunya pakai alat
pendaki (niat banget!), terlalu
mustahil untuk jadi jalur masuk dan keluar.
Kedua,
hanya ada jejak kaki berdarah yang mengarah ke halaman belakang…dan berhenti
pas di pinggir kolam renang.
“Dez, coba lihat ini, deh.”
Ben,
salah satu anak Tim Forensik, menunjukkan foto-foto file rumah sakit terdekat. Kulihat Sang Istri sering sekali harus
ke UGD (unit gawat darurat) di sana. Patah lengan. Kaki keseleo. Hidung patah. Gigi tanggal. Mata lebam.
Semuanya
tertulis: KECELAKAAN. Tapi kok, sering sekali, bisa sampai sebulan-dua bulan
sekali selalu harus ke rumah sakit atau berobat ke dokter?
“Ben, aku mau nyebur dulu.”
“Hah?” Terlambat. Byur! Hanya berbekal senter tahan air, aku menyelam untuk menyinari lantai kolam renang. Tak peduli sudah tengah malam dan aku akan menggigil kedinginan…
Foto: unsplash.com
-***-
“Dez, kamu ngapain?” Detektif
Senior bingung melihatku menggigil karena basah kuyup. Kutunjukkan sebilah
besar pecahan kaca yang kutemukan di dasar kolam renang.
“Senjata pembunuhan.”
Mendadak
Sang Istri tampak gugup. Kuperhatikan satu tangannya yang ternyata sedang
diperban. Kutanya:
Pertanyaan
basa-basi ini mungkin sudah biasa dan normal bagi dua orang yang saling kenal
lama – dan mungkin juga saling sayang. Contohnya:
Mama:
“Hari ini hujan deras. Kamu lagi
ngapain?”
Saya:
“Lagi di kosan. Baru aja pulang.”
Namanya
juga emak-emak. Wajar saja kalau saban hari ngecekin keberadaan anak-anaknya
kalau lagi kangen. Gak peduli bila anak-anaknya sudah dewasa dan (relatif) bisa
jaga diri sendiri.
Yang Bikin Ilfil
Sayangnya,
basa-basi serupa justru malah bikin ilfil bila bukan dari orang yang tepat.
Sering
banget denger keluhan dari banyak teman perempuan soal ini. Singkat cerita,
begini masalahnya:
Kenalan
sama cowok di aplikasi kencan / dating
apps / media sosial – pokoknya online. Berdasarkan profil masing-masing,
semula kayaknya mereka merasa saling cocok, gitu.
Sayangnya,
pas mulai kontak-kontakan, cowok yang semula tampak menarik ternyata malah gak
asik buat ngobrol. Habis, basa-basi seringnya kayak gini doang lewat DM /
japri:
“Lagi ngapain?”
“Baru bangun.”
“Oh. Udah makan?”
“Kan barusan aku bilang baru bangun.”
“Oke, makan dulu, gih.”
(Padahal,
yang disuruh udah bukan anak kecil lagi. Kalau lapar ‘kan tinggal
ambil/masak/beli sendiri, terus, makan, deh. Habis perkara.)
Kelar
makan:
“Udah makan?”
“Udah.”
“Makan apa?”
*krik…krik…krik…*
Nah,
ngerti ‘kan, kenapa obrolannya jadi berasa garing banget? Yang keseringan
ditanya basa-basi begini (apalagi tiap hari) pasti lama-lama bete, merasa
diperlakukan seperti anak kecil.
Ini
kabar buruk, Tuan-tuan sekalian. Jujur aja, kalo cara pedekate kalian kayak
gini, semua perempuan yang pernah kalian suka bakalan cepat bosan. Gak usah
nuduh mereka sombong, banyak maunya, dan gak mau kasih kalian kesempatan.
Nih,
saya blak-blakan aja, ya. Niat saya hanya ingin membantu kalian, wahai
Tuan-tuan yang masih suka bingung mau ngobrol apa sama gebetan.
Biar obrolan (setidaknya) sedikit lebih lancar, silakan coba lima (5) saran di bawah ini:
Banyak cari referensi obrolan seru.
Hari
gini, pedekate jangan modal rayuan basi, tapi juga gak perlu selevel Einstein,
kok. (Ada juga cewek yang ilfil sama cowok yang hobi pamer kecerdasan.) Yang
penting, Anda punya wawasan cukup luas. Bukan alasan males nyari atau bingung
mulai dari mana, karena kalo mau cari-cari lewat Google sebenarnya banyak.
Percaya
deh, lebih baik coba cara ini ketimbang selalu nanya apakah si dia udah makan
apa belum.
Jangan
hanya peduli dengan penampilan luar si gebetan.
Saran
di atas khusus kalian yang beneran ingin mencari pasangan serius, ya. Okelah,
saya gak bilang kalian gak boleh tertarik sama perempuan yang kalian anggep
cantik atau menarik secara fisik.
Tapi,
sebuah hubungan tidak akan bertahan lama bila kalian hanya peduli dengan yang
ada di permukaan. Baca juga profilnya. Saya yakin, perempuan secantik
supermodel pun akan bosan bila obrolan kalian hanya seputar check-in kayak absensi sama guru piket
sekolah.
Coba
variasikan obrolan.
Daripada
cuma nanya udah makan apa belum, mending ajak si dia makan bareng aja sekalian.
Anda juga bisa cerita Anda lagi suka atau habis makan apa. Tanyakan juga menu
favoritnya, termasuk restoran dan lain-lain. Pokoknya, kembangin aja percakapan
seputar topik kuliner ini.
Oke,
ini hanya contoh. Intinya, biarkan percakapan mengalir apa adanya. Gak perlu
dibuat-buat atau berlagak (paling) tahu segalanya. Jadi sendiri aja.
Gak
usah merasa terancam dengan kecerdasan si dia.
Ini
kesalahan yang banyak dilakukan laki-laki. Pas mulai ngobrol dengan perempuan
incaran dan ternyata dia pintar, langsung deh, pada mundur teratur. Alasannya
apa lagi kalo bukan minder dan merasa terancam.
Ada
juga sih, yang berusaha mengubah si perempuan. Mulai dari menyebutnya terlalu
kaku, serius, gak asik, hingga yang terang-terangan bilang begini:
“Jangan pinter-pinter amat. Ntar
cowok pada takut.”
Terus,
habis ngomong gitu masih ngarep perempuan bakal menurut dan mengubah diri
mereka sendiri, terus kasih kalian kesempatan? Ha-ha, hari gini. Please, dah!
Setiap
manusia punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Gak perlu merasa insecure. Biasa aja. Justru, sebuah
hubungan akan semakin meriah dengan saling berbagi ilmu. Jika masih menganggap
perempuan (bahkan yang sedang disukai) adalah saingan – apalagi ancaman – hanya karena menurut Anda dia
sangat cerdas, berarti masalahnya bukan di perempuan itu.
Anda-lah
yang belum siap menjalin hubungan serius dan dewasa, karena masih menganggap
perempuan cerdas sebagai saingan yang mengancam. Gimana mau kerjasama sebagai
pasangan untuk membangun relasi yang sehat, kalau belum apa-apa sudah insecure duluan dan parno si dia bakalan
meremehkan Anda?
Gimana
kalo si dia ternyata terbukti sombong? Ya, udah. Langsung cari aja yang menurut
Anda enggak. Gak perlu maksa, apalagi pake acara nyinyir dan ngancem-ngancem segala.
Udah gak zaman merespon penolakan dengan cara yang teramat kekanak-kanakan.
Gak
usah maksa kalo ternyata si dia gak tertarik juga.
Ini
juga salah satu kesalahan yang banyak dilakukan laki-laki di dating app. Baru aja kenalan sebentar,
ekspektasi terlanjur tinggi. Maunya langsung sama-sama suka dan lantas jadian.
Nah,
lagi-lagi saya harus mengingatkan: ini
bukan dongeng atau sinetron. Memang, banyak orang yang bisa bikin Anda
kecewa, sebaik apa pun usaha Anda untuk menyenangkan mereka.
Namun,
percuma juga memaksa mereka untuk menyukai Anda lebih dari sebagai teman.
(Sekali lagi, gak usah sinis juga dengan konsep ‘friendzone’, karena masih jauh lebih baik daripada dimusuhin dan
dicap ‘creepy’.) Kalo gak kuat dengan
penolakan, mending mundur ketimbang bikin drama yang gak perlu.
Anda
juga gak suka ‘kan, bila ada cewek yang maksa-maksa Anda harus mau jadian sama
mereka? Yang ada malah Anda katain gampangan dan putus-asa lagi.
Coba
asah dulu kemampuan ngobrol Anda, siapa tahu ada yang mau. Jangan lupa, semua
yang bagus-bagus itu ada prosesnya, lho. Kalau mau terus bersabar sambil
berusaha tanpa ngoyo, ntar ketemu
juga dengan jodoh. Yang penting, coba terus dan harus tahu kapan harus beralih
ke yang lain dan gak gengsi untuk terus memperbaiki diri.