Categories
#catatan-harian #menulis

“5 Orang Pintar Menurut Mata Awam Saya”

“5 Orang Pintar Menurut Mata Awam Saya”

Entah kenapa kepikiran untuk menulis tentang ini. Mungkin karena sekarang sudah makin banyak contoh ‘ajaib’ seputar orang pintar (dari yang asli pintar sampai yang pintar kw sekian.)

Jadi, inilah mereka:

1. Orang yang (beneran) pintar.

Orang ini bisa kelihatan dari banyak sisi. Juara satu di kelas, juara umum di sekolah, atau IPK selalu di atas 3.5 selama kuliah? Yang pasti, lebih banyak prestasi nyata ketimbang sensasi belaka.

Enggak hanya itu, mereka juga jago menghibur orang, kreatif dalam mendesain karya seni, jagoan olahraga di lapangan, hingga…jago padu-padan dalam hal berpakaian dan dandan. (Nah, tolong jangan nganggep mereka dangkal dulu. Enggak semua orang punya selera fashion yang bagus, lho.)

Apa pun jenis kepintaran mereka, bakalan makin oke bila mereka rela ‘membagi’-nya dengan orang lain yang mau belajar, alias enggak disimpen sendiri. Selain itu, mereka juga pintarnya karena usaha, bukan cuma-cuma. Otak cerdas kalo enggak terus dimanfaatkan sama aja dengan otot lembek akibat jarang (atau malah enggak) olahraga. Ups! *langsung noyor diri sendiri*

2. Orang pintar yang (terlalu) bahagia dengan diri sendiri.

Nggak ada yang salah dengan jadi pintar, apalagi sampai berbahagia karenanya. Selain hidup terasa lebih mudah, yang hormat dan kagum sama kita juga banyak.

Jeleknya? Terlalu bahagia bisa menciptakan kesombongan. Berbagi kepintaran dengan orang lain beda dengan sekadar memamerkannya. Bukan kagum yang didapat, lama-lama malah muak yang melihat.

Haruskah kita membenci sosok macam ini? Menurut saya sih, biarin aja. Mungkin diam-diam mereka belum yakin kalau mereka pintar dan berharga, makanya masih cari-cari pengakuan dengan cara pamer ke mana-mana. Nggak apa-apa, itu hak mereka. Mau sebal, kasihan, atau peduli setan, itu juga hak Anda.

Merasa keganggu? Cuekin aja, selama mereka nggak secara langsung menyakiti Anda. Ya, asal mereka nggak sampai menjadi kategori nomor berikut ini:

3. Orang yang pintar menjatuhkan orang lain di depan umum.

Saya enggak sedang bicara soal adegan slapstick basi, di mana Karakter A sengaja menyandung Karakter B hingga jatuh, lalu ngakak sepuas-puasnya sementara si B mengaduh kesakitan. Untuk orang macam ini, mungkin ada yang akan memberikan pembelaan yang enggak kalah basi dengan adegan di atas:

“Wajar, namanya juga orang pintar.”

Oke, apa IQ di atas 140-sekian berarti legitimasi untuk menghina atau merendahkan orang? Hmm, kok jadi inget psikopat atau sosiopat di film-film thriller psikologi, yah?

Orang pintar yang masuk kategori ini harus hati-hati, apalagi bila dengan enaknya mereka mengatai korban mereka yang marah dengan sebutan “baper” (bawa perasaan). Mungkin mereka bakalan komen begini:

“Enggak usah baper gitu, deh! B ajah. Gue ‘kan cuma bercanda. Abis elo,,,(lemot/terlalu serius/terlalu sensi/dll.), sih.”

Kenapa mereka harus hati-hati? Selain kemungkinan bakalan disumpahin kejedot ampe gegar otak kronis sama korbannya atau disakiti oleh mereka yang mau balas dendam, tipe ini juga berisiko mengalami kemandekan. Karena merasa udah paling pintar daripada yang lain, biasanya mereka malah enggak terpacu untuk memperbaiki dan mengembangkan diri. Padahal, mendiang Steve Jobs aja pernah ngomong gini:

“Stay hungry. Stay foolish.” (Jangan cepat puas. Jangan merasa sudah pintar.)

4. Orang pintar yang enggan kelihatan pintar.

Jenis ini juga terbagi dua lagi. Yang pertama, mungkin mereka hanya ingin merendah. Mereka merasa nggak ada gunanya juga pamer ke mana-mana atau bahkan masih merasa kurang pintar. Jadi, lebih baik mereka diam-diam mengembangkan diri, sampai saatnya mereka sudah cukup pede untuk unjuk gigi.

Yang kedua justru jenis yang paling berbahaya, yaitu yang diam-diam karena punya ‘agenda terselubung’ atau modus. Biarin aja banyak orang yang menganggap mereka bego, nggak ngerti apa-apa, dan diam saja pas di-bully. Justru ‘penyamaran’ mereka semakin sempurna berkat anggapan miring orang-orang tersebut.

Jangan senang dulu bila Anda merasa di atas angin karena pernah merendahkan orang lain, karena bisa saja balasan dari mereka akan lebih mengerikan. Ya, karena diam-diam mereka telah merencanakannya dengan super matang, termasuk menghitung jumlah ‘dosa’ Anda selama menyakiti mereka.

Pokoknya, tipe ini juga termasuk kalem dan hati-hati dalam berucap hingga bertindak.

5. Orang pintar…dengan tanda kutip. (Baca: “pintar”.)

Ada yang berusaha kelihatan pintar dengan cara-cara ‘ajaib’. Mulai dari sengaja dandan super rapi kayak karakter nerd/kutu buku di film-film – lengkap dengan kaca mata (padahal mata mereka masih sehat-sehat saja.) Ada yang sengaja bawa buku-buku tebal ke mana-mana. (Perkara itu buku beneran dibaca dan dimengerti, urusan belakangan.)

Begitu pula saat berdiskusi atau berdebat dengan orang ini. Entah kenapa, mendadak ragam definisi maupun istilah canggih, alias ‘kelas berat’ kayak tesis anak S2 keluar semua dari mulut mereka. Jika Anda termasuk orang awam dan langsung minder mendengarnya, wajar saja. Mungkin mereka sedang berusaha kelihatan pintar, alias mengidap ‘superiority complex’. (Duh, saya kok jadi ikutan, ya?)

Yang menggelikan bila terbukti bahwa mereka sebenarnya enggak ngerti-ngerti amat dengan semua jargon tersebut…atau bahkan salah menempatkannya pada konteks percakapan. Waduh.

Untuk yang satu ini, enggak usah benci-benci amatlah sama mereka. Biasa aja. Kalau peduli, bisa kita kasih tahu baik-baik bahwa mereka enggak perlu sedemikian rupa hanya buat bikin kita terkesan. Kalau enggak, diamkan saja.

Ada juga yang “pintar” karena “pemberian lebih” berupa indera ketiga. Nah, ada yang menggunakannya dengan niat menolong orang lain, ada yang malah menyalahgunakannya untuk mengambil keuntungan dari orang lain. Apa pun itu, buat saya percaya sama Tuhan tetap harus nomor satu.

Apakah semua orang bisa pintar? Bisa, meski mungkin kadarnya berbeda dan keahlian yang mereka kuasai juga tidak sama. Namanya juga manusia. Pasti ada ragamnya, dong.

Tapi, jangan harap semuanya bisa didapat dengan cara instan. Kebetulan, saya jadi ingat karakter kekasih dr. Reid (Matthew Gray-Gubler), dr. Maeve Donovan (Beth Riesgraf) dalam serial favorit saya, “Criminal Minds”(Awas, spoiler buat yang belum nonton episode ini!) Sebelum mati, Maeve sempet ngomong gini sama penjahatnya:

“Genious is hard work.” (Jenius itu hasil kerja keras.)

Orang pintar sih, banyak. Cuma, berapa yang benar-benar berkualitas hingga bermanfaat bagi orang lain, alias nggak cuma jadi bully yang tambah bikin keruh suasana?

Mau jadi orang pintar macam apa? Seperti biasa, selamat memilih dan bertanggung jawab.

R.

 

Categories
#catatan-harian #fiksimini #menulis #MondayFlashFiction

“MEMULAI KEMBALI”

“Memulai Kembali”

Aku tidak ingin menunggu. Aku ingin menciptakan waktu.

Ya, aku tidak ingin menunggu waktu yang tepat, karena itu hanya mitos. Tidak pernah ada waktu yang tepat. Yang tepat hanya waktu yang ingin kita sempatkan.

Aku ingin menciptakan momentum itu, saat kita nanti kembali bersama. Aku ingin kita memulai segalanya kembali dari awal, karena kita sama-sama menginginkannya.

Karena itulah, kusisihkan hari ini khusus untukmu. Kita tahu, sebelumnya sudah terlalu banyak kesalahpahaman. Terlalu banyak pertengkaran. Aku yang terlalu keras kepala dan kamu yang tidak mau mendengar. Lelah, lemah, kalah. Pada akhirnya, kita sama-sama mudah menyerah. Sudah, hentikan saja semuanya. Lebih baik kita jalan sendiri-sendiri saja.

Waktu pun berlalu. Namun, tak surut jua rasa rindu. Kita pun memutuskan untuk kembali bertemu. Jangan lagi menunggu. Belum tentu esok akan ada waktu luang itu.

Sekarang, di sinilah aku. Di kafe tempat kita pertama kali bertemu, menunggu. Tapi, di mana kamu? Kenapa yang datang malah sahabatmu?

“Hai, Damai.”

—***—

Maafkan aku. Maafkan aku yang sering ragu untuk meluangkan waktu denganmu.

Salahkan ego dan gengsiku. Bahkan, sejak kita berpisah dulu, aku sudah memendam siksa di dalam diamku.

Makanya, aku bersyukur saat kamu duluan yang akhirnya kembali menghubungiku. Semakin bersyukur saat tahu bahwa kamu pun memendam rindu. Baiklah, mari kita sama-sama berdamai dengan masa lalu. Saatnya memulai lagi yang baru.

Aku tahu, hari ini sudah kau sisihkan khusus untukku. Aku juga melakukan hal yang sama untukmu. Aku bahkan sudah berjanji akan lebih memperhatikanmu kali ini, tidak seperti dulu. Tidak ada lagi aku yang egois dan selalu merasa paling benar sendiri. Demi kamu.

Aku sudah pernah kehilanganmu. Jangan pernah sampai terjadi lagi…

Percayalah, sebenarnya aku ingin segera ke kafe itu lagi, setelah sekian lama. Aku ingin kita kembali bersama, seperti dulu.

Kuharap kamu percaya. Dengarkanlah sahabatku saat dia tiba. Lalu, kemarilah segera.

Semoga…aku masih ada…

—***—

“Damai, Adrian kecelakaan…”

 

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

“PUAS YANG BUAS”

“Puas yang Buas”

Mereka kerap hanya ada

berkumpul saat bahagia

Senyum dan polah si mungil di depan mereka

ibarat tontonan belaka

 

Ada yang tidak puas

selalu ingin lebih, bahkan hingga tandas

Mengaku manusia, namun buas

hanya saat dilihat, mereka berkoar-koar soal moralitas

 

Ayunan tangan dan selangkangan

pencipta banjir air mata

jerit jiwa-jiwa muda

kian terluka dan ternoda

 

Manipulasi emosi

tak cukup sekali

kalau perlu tanpa henti

sampai mereka tak bernyawa lagi

 

Ke manakah mereka?

Hanya diam seribu bahasa

setelah beralasan: “Bukan anak saya”,

atau: “Urusan keluarga mereka.”

Saat menutupi aib lebih berguna

jauh berharga daripada nyawa

 

Mereka pun terpencar

meninggalkan jiwa-jiwa rusak terpapar

perlahan kehilangan pendar

Tragedi kelar

Massa bubar

Tinggal cerita lama di surat kabar

 

Kapan mereka mau beraksi?

Haruskah menanti

saat mahluk buas itu mulai menyakiti

anak-anak yang mereka cintai?

 

Akankah mereka kian membisu,

dalam bumi yang makin membara

namun penuh jiwa-jiwa dingin, kosong, dan sunyi?

 

Karena mereka masih bernapas,

namun dengan nurani yang mulai kebas

perlahan terancam mati…

 

R.

 

Categories
#catatan-harian #menulis

“MUNGKIN SAYA BUTUH LIBURAN…”

“Mungkin Saya Butuh Liburan…”

Entah kenapa, menjelang akhir tahun selalu membawa penyesalan tersendiri. Belum inilah, masih kurang itulah. Ini juga bukan hanya perkara duit, melainkan pencapaian dalam hidup itu sendiri.

Apa yang sudah saya lakukan? Apa yang akan saya lakukan berikutnya?

Jangan salah. Saya masih senang dengan banyak hal yang saya lakukan sekarang, termasuk menulis.

Yang jadi masalah? Entah kenapa, rasanya ada yang monoton dalam hidup saya. Rasanya saya berubah menjadi robot. Bekerja secara otomatis. Menulis tanpa rasa.

Hidup, tapi seakan lupa untuk merasakan hidup itu sendiri.

“Mungkin lo butuh liburan kali,” saran seorang teman, saat kami bertemu untuk satu sesi karaoke penghilang stres. “Nulis sambil travelling ke mana dulu, gitu. Ganti suasana.”

Hmm, sebenarnya sudah lama sekali saya menginginkannya. Perkara duit selalu jadi kendala. Tapi…ah, ‘kan selalu ada cara lain.

Hanya saja, saat ini saya belum menemukannya.

Mungkin teman saya benar. Saya hanya butuh liburan…

R.

 

Categories
#catatan-harian #fiksimini #menulis #MondayFlashFiction

“Selepas Satu Malam Itu…”

“Selepas Satu Malam Itu…”

Bertemu denganmu adalah kesialan. Mengenalmu adalah kesalahan.

Bersamamu setara dengan kegilaan…meski sesaat.

Ya, mereka semua akan bilang aku melakukan kesalahan saat denganmu. Aku yang kata mereka sedang rapuh setelah patah hati terakhirku, sehingga tidak lagi mampu berpikir jernih. Kamu yang…ah, harus kusebut apa, ya? Bajingan? Tukang cari mangsa berupa mereka yang berjenis kelamin perempuan?

Pencari selingan? Ah, untungnya jadi kau, wahai laki-laki yang menganggapku menawan. Yang malam itu cukup lancang untuk menciumku, bahkan saat kencan pertama.

Yang langsung mengajakku ke kamar selepas makan malam, saat itu juga. Yang memberi saran konyol berupa role-playing:

            “Kita bisa jadi siapa pun yang kita inginkan malam ini.”

            Aku tersenyum. Ya, malam itu kuikuti saja permainanmu. Kita bisa jadi dua jiwa kesepian yang mencari pelampiasan. Persetan dengan moral! Aku muak terkungkung olehnya, sementara kalian para laki-laki bebas ke mana-mana dan “ngapain aja” – bahkan sama “siapa saja”.

            Mungkin, bagimu semua ini sama saja. Hanya rutinitas pengusir kebosanan sang petualang.

Lalu, bagaimana denganku?

Ah, entahlah. Sudahlah, aku tidak peduli lagi. Yang kutahu, kamu sangat tipikal. Kuyakin banyak sekali laki-laki sepertimu di luar sana. Ya, meskipun lagi-lagi mereka akan memberikan argumen basi yang sama, hanya agar aku tidak terlalu kecewa dan memandang suram pada cinta serta seluruh dunia:

“Tidak semua laki-laki…”

            Heh, mungkin benar. Tidak semua, tapi banyak, ‘kan? Seperti kamu contohnya. Bebas, tidak pedulian. Kamu ingin melakukan semuanya tanpa aturan maupun pengamanan. Sangat tipikal.

Setidaknya, kamu tidak pernah berpura-pura baik dan bermartabat, seperti mereka yang selalu berharap pada perawan di pelaminan, sementara mereka sendiri boleh suka-suka.

Pagi itu, kamu masih terlelap di ranjang kamar hotelmu. Semalam kamu bilang bahwa kamu terbiasa bangun siang, paling sekitar jam dua.

Cepat-cepat aku berpakaian. Lalu aku diam-diam keluar dari kamarmu dan kabur lewat tangga darurat gedung itu. Tidak ada ciuman, berbeda dengan semalam.

Tidak ada ucapan selamat tinggal. Tidak perlu, karena kita berdua sama-sama tahu. Kita tidak akan bertemu lagi setelah malam itu. Mungkin kamu akan meneleponku. Mungkin aku yang tidak mau. Tidak ada untungnya bagiku.

Hanya satu yang mungkin belum kamu tahu…atau bahkan tidak akan peduli. Malam itu, aku memberimu hadiah dari mantan suamiku. Mungkin diam-diam kamu juga sudah punya atau barangkali ada juga yang lainnya.

Tidak masalah. Kita bisa saling bertukar racun, saling membunuh dalam diam. Tidak perlu bilang-bilang. Toh, malam itu kita juga sama-sama senang.

Selamat menikmati hadiah terkutuk dari mantan suamiku, yang pernah dia dapatkan juga entah dari siapa di luar sana. Yang kini dan selamanya bersemayam dalam tubuhku, membunuh janin yang pernah kami ciptakan berdua.

Hadiah yang tak pernah kuminta itulah bentuk penghargaannya…untuk seorang istri yang selama ini setia, penurut, dan lebih banyak diam di rumah saja…

 

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

“CANDU DIGITAL”

“Candu Digital”

Ada saat mulut berucap

atau jemari lincah menari

di atas papan ketik laptopmu

atau ponsel terbaru

 

Apa yang keluar?

 

Pekerjaan?

Gosip dan gunjingan?

Informasi atau lelucon basi?

Ekspresi cinta atau benci?

Nasihat, motivasi, atau caci-maki?

 

Sudah kelar

Masih ramai atau sudah bubar?

 

Mulut berucap ibarat lidah mencecap

Telinga pengang, gagal mendengar

Gegap gempita di luar

Otak gegar dan jiwa bergetar

 

Jemari kian lincah

lebih lihai dari lidah

Mungkin sudah ahli, malah…

 

…sementara otak dan hati terancam (di)bungkam,

terlupakan di pojok gelap ruangan

seiring batin perlahan menghitam…

 

R.

(Jakarta, 19 Oktober 2016 – 17:00)

 

Categories
#catatan-harian #CSW-Club #menulis

“LIFESTYLE?”

“Lifestyle?”

Setiap orang punya kebiasaan masing-masing untuk mengisi hidup mereka dari hari ke hari. Ya, kegiatan suka-suka yang mereka lakukan. Karena sering, lama-lama jadi kebiasaan.

Kebiasaan itulah yang kemudian menjadi gaya hidup. Sebenarnya biasa saja, sih. Nggak gitu istimewa juga. Cuma diglamorkan dengan terjemahan bahasa Inggris, yaitu: lifestyle. Coba saja lirik majalah-majalah atau tabloid yang sampulnya warna-warni ceria itu. Lebih banyak yang memakai kata lifestyle, mengingat ‘gaya hidup’ agak kepanjangan.

Pernah ada yang menuduh saya nggak punya lifestyle. Haha, lucu sekali, bukan? Alasannya: saya nggak gitu suka nongkrong, main biliar, ke kafe, hingga minum-minum di bar. Kalau pun pernah beberapa kali terlihat di sana, itu pun karena diajak teman. Jarang-jarang. Kalau pun iya, nggak selalu sampai ikutan minum juga. (Dulu, sekarang udah enggak.) Biasa saja. ‘Kan berhak milih mana yang paling nyaman. Ngapain juga nyusahin diri sendiri, hanya untuk mengesankan orang-orang? Iya kalau mereka beneran teman. Kalau bukan?

Lucunya, yang menuduh saya nggak punya lifestyle dengan alasan yang sedemikian ceteknya itu sesama anak bangsa. Saya mah, ketawa saja. Apalagi pas dia dengan bangganya bilang bahwa lifestyle yang dia punya itu termasuk ngebir, main biliar, ke kafe atau bar, hingga clubbing. Kalau nggak gitu namanya bukan lifestyle.

Baiklah, terserah Anda, bung.

Buntutnya dia meminta nomor ponsel saya. Saya kasih…nomor bapak saya. (Haha!) Sori, bung. Lifestyle saya termasuk tidak memberi kesempatan laki-laki yang merendahan saya, tapi sebenarnya kelihatan banget nggak cerdasnya. Kasihan. Baca kamus dulu deh, mas. Silakan tanya guru Bahasa – Inggris dan Indonesia – kalau masih bingung juga. Bukan yang dulu hobi bolos sama tidur di kelas, ‘kan?

Haha, I know I’m bitchy kalau lagi kesal…dan saya percaya alasan saya masuk akal. Tapi rasanya berbeda dengan saat beberapa kali nongkrong di bar dengan teman-teman ekspat. Pas ada yang nanya apakah saya sering ke bar A atau pub B, jawaban saya selalu sama:

“I don’t normally do this.”

“I’m just observing.”

“I’m looking for an inspiration/story ideas.”

Respon mereka?

“Really? What do you normally do?”

“Let me guess. You’re a writer.”

Dari situlah obrolan berkualitas kemudian mengalir. Tentang buku, film, politik, sosial, hingga kelakuan orang-orang sekitar yang cenderung ‘ajaib’ – terutama setelah botol/gelas/pitcher ke sekian. Nggak ada yang saling merendahkan. Biasa saja.

Bukannya menggeneralisir. Hanya pengalaman pribadi.

Saya suka baca buku, terutama saat sendirian di kamar atau di kafe, dengan secangkir kopi di atas meja. Saya suka menulis (pastinya), menonton film, hingga menyanyi dan mengamati. Bagi saya, lifestyle setiap orang unik dan menarik. Selalu ada cerita yang bisa ditulis.

R.

(Jakarta, 11 November 2016 – Tantangan Menulis Mingguan Klub Menulis Jakarta’s Couchsurfing dengan tema: “Gaya Hidup/Lifestyle”.)

 

 

Categories
#catatan-harian #fiksimini #menulis #MondayFlashFiction

“SELEPAS BADAI PELURU…”

“Selepas Badai Peluru…”

Maafkan aku, Papa. Aku tidak bermaksud membuatmu kecewa.

Sudah lama aku terluka. Sejak Mama meninggal dan Papa semakin sibuk di kepolisian. Aku mengerti Papa sedih.

Tapi, sejak itu pula, kita tidak lagi banyak bicara. Memang, kita masih sesekali pergi berburu saat akhir pekan, kadang dengan Uncle Matt. Mama dulu suka protes dengan kegiatan kita.

“Frank, please. Freya bukan anak laki-laki.”

“Rhea, biarkan saja. Dia suka ikut berburu denganku.”

Mungkin yang ditakutkan Mama benar-benar terjadi. Aku tumbuh menjadi putri yang tomboy. Bahkan, saat beliau meninggal karena kecelakaan pun, aku berusaha tidak menangis di depan semua orang.

Tidak sepertimu, Papa. Namun, kali ini Papa menangis untuk alasan berbeda.

“Tolong, jangan bilang ini bukan ulah anakku. Bukan anakku, ‘kan?” Mata Papa merah, bengkak, dan basah saat melihatku dengan sorot pilu. Lalu, Papa menunjukku sambil berpaling, seakan jijik denganku. “Tolong, jangan bilang itu anakku.”

Papa? Hatiku sakit. Jauh lebih sakit daripada semua hinaan mereka di sekolah itu.

“Freya, kamu aneh. Freak banget!”

“Gembrot makan tempat.”

“Dasar pecundang!”

“Heh, Muka Jelek. Kenapa nggak mati aja, sih?”

Entah apa salahku, Papa. Aku hanya tidak mau diganggu. Papa pernah bilang, diamkan saja mereka. Sudah, namun mereka tidak mau berhenti. Aku juga sudah bercerita pada Mr.Brown, guru pembimbing sekolah.

Reaksi beliau juga sama saja, ditambah satu komentar menyakitkan: aku terlalu perasa. Mereka yang brengsek, aku yang salah karena marah? Beliau makan gaji buta, ya?

Oh, Papa. Berhentilah menatapku seperti itu. Berhentilah bertanya: “Kenapa, Freya?”

Kenapa? Kenapa??

Maaf, Papa. Aku sudah lelah. Aku muak dengan mereka semua. Mereka tidak mau diam. Padahal, aku tidak pernah mencari gara-gara.

Seharusnya Papa tidak lupa mengunci lemari senjata dan kotak pelurunya.

Maafkan aku, Papa. Aku harus melakukannya.

Hanya peluru yang akhirnya bisa mendiamkan mereka semua…

 

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

“SAAT JUMAWA BERTAHTA”

“Saat Jumawa Bertahta”

Ancamanmu begitu nyata

saat kau akhirnya di singgasana

Wahai, Sang Raja

Hati-hati dengan ucapanmu, Baginda

walau kau merasa seputih istana

 

Kau berharap tunduknya dunia

hanya karena kau begitu kaya

Kini kau makin berkuasa

merasa bebas semena-mena

Kau pikir kaulah segalanya

 

Coba tebak, ‘Yang Mulia’

Di mata-Nya, kau bukan apa-apa

Seperti kami yang bagimu bukan siapa-siapa

Nikmatilah jumawa

meski sementara

mumpung kau masih bernyawa…

 

R.

(Jakarta, 14 November 2016 – 8:30)

 

Categories
#catatan-harian #fiksimini #menulis #MondayFlashFiction

“PRIA PENUNGGU PANTAI”

“Pria Penunggu Pantai”

Selama beberapa hari di pantai itu, dia selalu di sana. Duduk di atas bukit berumput, memandangi lautan lepas. Tinggi dan tegap, tampak atletis dengan kaos putih dan celana kargo abu-abu tuanya.

Sebenarnya dia bukan tipeku, meski mungkin banyak wanita lain yang akan terpikat sosoknya. Wajah persegi, kulit coklat sempurna, alis tebal, hidung bangir, dan mata besar yang menyorot tajam bak elang.

Oke, dia lumayan tampan. Hari ketiga liburanku di sana, akhirnya tergoda juga aku. Bukan mendekatinya, meski memang aku naik ke bukit yang sama. Dudukku agak menjauh, sambil mengeluarkan buku sketsa dan peralatan gambarku dari dalam tas kanvas. Tak lama kemudian, aku memulai pada selembar halaman baru.

Tentu saja, karena bukitnya sepi, aku cepat ketahuan. Pria itu menoleh dan langsung tersenyum melihat yang sedang kulakukan. Malah aku yang salah tingkah.

“Lagi gambar apa?”

Kutunjukkan saja, meski malu-malu.

“Bagus,” pujinya tulus, meski yang terlihat di halaman itu baru garis dahi, hidung, bibir, dan dagunya. Aku senang sekali. “Terusin, dong.”

Aku menurut. Tidak butuh waktu lama sebelum kuperlihatkan lagi hasil akhir sketsa wajahnya. Pria itu tampak terkesan.

“Aku tersanjung,” ujarnya. “Terima kasih, ya.”

“Buatmu?” kutawarkan. Aku bahkan membubuhkan namaku pada bagian kanan bawah halaman: Artemia. Namun, pria itu menggeleng.

“Buatmu saja.” Saat membaca namaku, dia tampak kagum. “Namamu unik. Beda sama namaku.”

“Memang namamu siapa?”

“Raka.”

“Oke, Raka.” Kulihat sunset pertanda matahari sudah siap undur diri dari langit negeri ini. “Panggil saja aku Mia. Aku pulang dulu.”

“Hati-hati ya, Mia.”

Oke.” Baru saja aku berjalan beberapa langkah, ketika mendadak teringat ingin menanyakan sesuatu. Sayang, saat menoleh, Raka sudah tidak ada di tempat. Cepat sekali perginya.

Ah, sudahlah. Besok mungkin masih bisa ketemu lagi…

—//—

Aku memang masih sempat melihat Raka beberapa hari berikutnya, meski hanya saling melambai dari jauh. Sebenarnya ingin mengobrol dengannya lebih jauh, namun entah kenapa kuurungkan. Sepertinya dia tidak ingin diganggu dan aku juga bukan wanita yang mudah mendekati pria.

Hingga sore itu…

Baru saja aku melambai dan tersenyum pada Raka, ketika tiba-tiba terdengar jeritan ngeri dari pantai. Aku berbalik. Rasa ingin tahuku membuatku menghampiri kerumunan orang di sana. Mereka tengah mengelilingi sesuatu.

Dan aku pun melihatnya. Sesosok jenazah tenggelam yang terseret arus hingga ke pantai. Tubuhnya sudah sedikit biru dan bengkak, dengan kaos putih yang sudah kotor tercampur pasir.

Wajahnya…

Kupeluk tas kanvas isi buku sketsaku dengan jantung berdebar-debar. Kuarahkan kembali pandanganku pada puncak bukit, tempat Raka tadi berada.

Dia telah hilang. Pria penunggu pantai itu tidak lagi berada di sana…