Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Setan di Dalam Jiwa

Setan di Dalam Jiwa

Aku bersyukur

Kau akhirnya kabur

bagai pengecut lari dari tanggung jawab

sesudah membuat perempuan berharap

 

Lalu kau makin berlagak

bak dewa dipuja-puja

demi cinta banyak kaum Hawa

sementara kau permainkan mereka

 

Aku masih bersabar

Bukan aku yang mengejar

Kau yang memulai

lalu hanya bisa berlari

mencari korban lain lagi

meninggalkan barisan sakit hati

 

Aku salah menilai

Kau bukan lelaki sejati

Hanya wujudmu yang manusia

namun dengan setan di dalam jiwa…

 

R.

 

Categories
#catatan-harian #menulis #tips

Diam Atas Nama Kemuakan

Diam Atas Nama Kemuakan

Sesungguhnya ada kemuakan tak terkira saat berkali-kali harus menghadapi hal yang sama. Kadang diam (dan bersikap masa bodoh) adalah satu-satunya cara untuk tetap waras.

Lagipula, malas juga buang-buang waktu dan tenaga. Untuk apa ribut dengan mereka yang mentalitasnya begitu – dan hanya segitu – saja?

Bayangkan bila ada sesama perempuan yang tidak Anda kenal dengan dekat. Entah demi bisnis atau keperluan sementara, Anda terpaksa harus berbaik-baik dengan mereka, terlepas dari perilaku mereka yang sesungguhnya tidak patut.

Entah ada angin apa, ujug-ujug perempuan itu banyak menanyakan hal yang sangat pribadi. Bayangkan perasaan Anda (sebagai sesama perempuan) saat harus terlibat dalam percakapan tidak menyenangkan ini:

“Sudah nikah?”

“Belum.”

“Umurnya berapa?”

“36.”

“Kenapa belum menikah?”

“Ya, belum ada aja.”

Lalu, tatapan perempuan itu jatuh ke tubuh Anda yang kebetulan tambun. Dari caranya melirik, yaitu ke atas dan ke bawah, Anda langsung tahu. Anda sedang dinilai, seperti biasa. Ini bukan peristiwa perdana.

“Nggak mau coba diet? Udah pernah belum?”

Tuh, ‘kan?

Kadang Anda terlalu malas dan muak berurusan dengan pencari drama yang caranya sama. Memang ada orang-orang yang merasa hidup mereka terlalu biasa, kurang istimewa. Agar lebih bahagia, mereka sampai harus merendahkan – kalau perlu menjatuhkan – sesama, di depan umum pula.

Karena itulah, orang-orang seperti mereka hanya patut mendapatkan satu senyuman ‘sopan’. Cukup satu saja, tidak perlu lebih dari itu. Orang-orang seperti mereka tidak berhak mendapatkan senyum tulus dari Anda. Toh, belum apa-apa mereka sudah menilai dan menghakimi.

Belum kenal? Tidak masalah. Tidak perlu kenal bagi mereka yang merasa sudah tahu segalanya.

Kadang diam adalah tembok penanda kemuakan. Biarkan mereka berpikir suka-suka, sementara Anda tinggal melenggang saja. Semoga mereka nanti masih cukup sabar saat orang lain berbuat sama pada putri-putri mereka.

Atau, jangan-jangan mereka malah memperparah suasana, sehingga putri-putri tercinta sendiri semakin merasa JELEK luar biasa?

Ah, sudahlah. Anggap saja bukan urusan Anda. Anggap saja mereka belum lulus dari “ujian menjaga lisan”.

Sayang sekali.

R.

 

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Puisi Bukan Solusi

Puisi Bukan Solusi

Puisi hanya pelarian,

saat banyak yang ingin kau ungkap,

meski tak banyak keberanian.

 

Puisi hanya pelarian,

saat kau terlalu takut dan lelah

kehilangan tenaga menghadapi kenyataan.

 

Puisi bukan solusi.

Lihat, masih ada yang belum tuntas.

Puisi hanyalah penawar ilusi.

 

Wahai, pujangga.

Mau sampai kapan kau terdiam?

Kapan kau akan mulai bersuara?

 

Ceritakan padanya

sekisah cinta yang nyata.

Memang, ada kemungkinan kau akan terluka.

Karena jawabnya

bisa jadi penentu karyamu berikutnya…

 

R.

 

 

(Jakarta, 30 Juli 2014)

Categories
#catatan-harian #menulis

Dari Rayuan Manis Hingga Ancaman Itu…

Dari Rayuan Manis Hingga Ancaman Itu…

Kata mereka, perempuan ibarat setengah manusia. Hanya separuh akal, sisanya lebih banyak perasaan. Benar-benar menghina. Makanya, jangan heran bila perempuan lajang selalu dianggap kesepian. Kurang berharga, karena tidak ada lelaki di sampingnya.

Tunggulah sampai mereka berusia di atas 30. Penghakiman lama-lama terasa membunuh. Perawan tua tidak laku. Pecundang di mata keluarga. Dianggap kurang cantik. Apalagi bila tubuhmu kebetulan juga tambun. Mereka menjadikannya kambing hitam penyebab lawan jenis enggan melirikmu.

Sesungguhnya kamu tertekan, bukan kesepian. Kamu ditekan sedemikian rupa agar sempurna sesuai standar mereka. Bahkan, sesama perempuan pun juga tega menyerang. Yang puritan menganggapmu kurang berusaha mencari pasangan. Yang liberal menganggapmu terlalu jual mahal.

“Gimana kamu mau dapet cowok kalo gini caranya?”

Dunia maya memberimu banyak kemungkinan. Kamu bisa bertemu dan kenalan dengan siapa saja, bahkan bisa dibilang tanpa batas. Rasa sepi yang mendera akibat tekanan sosial membuatmu akhirnya mempertimbangkan…dia.

Awalnya hanya perbincangan biasa di ruang bicara. Kalian tertawa, bercanda, dan berbagi cerita. Sastra, terutama puisi, menjadi pengikat rasa. Niatmu hanya ingin berteman, namun dia menginginkan lebih. Katanya, sudah lama dia tidak menemukan cinta. Dulu dia telah menyia-nyiakan banyak kesempatan.

Ibarat pendosa yang mengakui kesalahannya, dia memintamu berempati. Tidak butuh waktu lama untuk hatimu agar tersentuh.

Namun, entah kenapa, sebagian dari dirimu masih ragu. Kalian belum pernah bertemu. Bagaimana mungkin dia bisa begitu yakin kalian akan bersama? Dunia mungkin akan tertawa. Mungkin dia akan dianggap pendusta, sementara kamu dungu luar biasa.

Beberapa orang terdekatmu punya beragam reaksi. Ada yang ikut bahagia saat tahu dia mengaku mencintaimu. Apalagi, sudah terlalu lama kamu sendiri. Sudah saatnya, begitu kata mereka. Kamu sudah terlalu tua. Jangan banyak menawar. Terima saja cintanya. Berilah dia kesempatan.

Setelah cukup lama berpikir, menimbang, dan memantapkan hati, kamu setuju memberinya kesempatan. Lelaki itu bahagia sekali. Kalian berdua pun mulai menyusun rencana untuk bertemu.

Awalnya cukup indah. Namun, masih ada janggal yang mengganjal. Beberapa kali dia memintamu untuk lebih menunjukkan tubuhmu di depan kamera. Kamu menolak, meskipun dia pun melakukannya untukmu. Ada rasa enggan dan tidak nyaman yang kamu sembunyikan. Ada rasa takut kehilangan, karena selain itu, dia sebenarnya sangat manis.

Hingga satu saat, seorang perempuan lain yang satu grup di media sosial menghubungimu. Semula kamu ragu. Namun, insting menyuruhmu untuk mendengarkannya dulu. Ada sesuatu yang harus kamu tahu.

Pengakuan perempuan itu, disertai bukti-bukti berupa chat history, mengubah segalanya sejak itu. Hatimu mendadak beku. Lidahmu kelu. Ingin menangis dan menjerit, namun air matamu seakan telah membatu.

Perempuan itu menangis saat bercerita tentang lelaki yang sama. Lelaki yang mengaku mencintainya, lalu memintanya telanjang di depan kamera. Lelaki yang juga menunjukkan seluruh tubuhnya. Bukan, bukan kamu saja. Perempuan itu juga bukan satu-satunya. Pasti masih banyak di luar sana.

Saat perempuan itu didiamkan begitu lama, akhirnya dia mencari tahu. Dari laman media sosial, dia menemukan koneksi lelaki itu denganmu. Dia harus melakukannya diam-diam. Lelaki itu telah mengancamnya. Foto-foto screenshot dan videonya akan dia sebar di dunia maya, bila perempuan itu berani bercerita.

Perempuan itu telah menyelamatkanmu. Dia telah berbuat kesalahan. Dia kesepian. Suaminya sedang terasa begitu jauh. Dia menyesal. Kamu memutuskan untuk enggan menghakiminya. Dia pahlawanmu.

Semula, kalian berencana ingin menjebak lelaki itu. Sayangnya, lelaki itu tiba-tiba memblokirmu dari media sosial. Begitu saja. Sempat lama kamu tenggelam dalam luka akibat pengkhianatan. Bajingan itu mungkin sudah mengincar banyak perempuan.

Masih adakah lelaki yang bisa dipercaya? Masih beranikah kamu percaya?

Sejak peristiwa naas itu, kamu bersahabat dengan pahlawanmu. Lelaki itu lenyap di media sosial, setelah sejumlah laporan pelecehan di dunia maya yang serupa dari beberapa perempuan lainnya. Ada rasa takut dia akan kembali, meski dengan identitas berbeda. Dia mungkin marah dan akan membalas kalian.

Mungkin saat ini, lelaki itu masih bisa lolos. Bersama sahabat barumu, kamu memutuskan untuk melawan pelaku semacam ini. Jangan sampai ada yang jadi korban lagi. Karena itulah, cerita ini dibagi.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Diamnya

Diamnya

Ada kecewa dalam diamnya.

Kau tahu apa?

Hanya bisa mengira-ngira

sesuatu yang belum tentu benar adanya.

 

Kapan terakhir kali kalian bicara?

Benar-benar bicara, bukan sekedar basa-basi belaka.

Rasanya sudah terlalu lama atau mungkin saat itu tak pernah ada.

Mengapa baru sekarang kau merasakan jurang pemisah yang kian menganga?

 

Dia masih saja kecewa dalam diamnya.

Yakin tidak ada apa-apa?

Kapan terakhir kali kau benar-benar jadi pendengar,

selain hanya terus menuntutnya agar senantiasa bersabar?

 

Siapkah kau saat dia tiba-tiba berhenti bicara,

karena terlalu lama kau bersikap bagai dinding tanpa telinga?

 

R.

(Jakarta, 12 Juli 2014)

 

 

Categories
#catatan-harian #menulis

Terlalu Baik?

Terlalu Baik?

Elo jadi orang terlalu baik, sih. Makanya dimanfaatin orang terus.”

Sering banget denger ucapan kayak gini? Jangan-jangan Anda yang malah rajin ngomong begini atau ditegur begini sama orang lain. Mungkin gara-gara gemas sama temen yang diem aja meski udah tahu pacarnya selingkuh. Mungkin juga karena ada temen yang kesel saat Anda memilih ikhlas, meski jelas-jelas hak Anda dirampas.

Tapi, kapan sih, perbuatan seseorang itu dianggap ‘terlalu baik’? Apakah terus memberi namun nggak pernah dihargai sama yang menerima? Bagaimana bila yang memberi sama sekali enggak berharap balasan apa pun, alias ikhlas? Yang penting udah niat memberi, terus selesai. Bila yang menerima justru nggak tahu terima kasih atau malah bersikap kurang ajar, itu lain cerita. Case closed.

“Hari gini mana ada orang sebaik itu? Bego aja kali, mau dikerjain orang lain terus.”

Apakah melakukan kebaikan tanpa pamrih itu identik dengan kebodohan? Bayangkan Nabi Besar Muhammad SAW yang rajin memberi makan pengemis buta yang saban hari mencelanya, tanpa tahu sosok yang berbaik hati memberinya sedekah.

Okelah bila ada rasa kecewa karena kebaikan tidak dihargai. Itu manusiawi. Wajar. Tapi, kenapa kita lantas harus ‘membunuh’ keinginan untuk berbuat baik dengan komentar-komentar merendahkan seperti: “Jangan terlalu baik, nanti dimanfaatin orang lain” ?

Bayangkan jadinya bila semua orang selalu penuh perhitungan dan rasa curiga terhadap sesama. Menolong sesama dengan harapan akan dibalas dengan cara yang sama – atau minimal dihargai-lah. Bila tidak, lain kali tidak usah menolong orang itu. Bahkan, kalau perlu balaslah sekalian dengan perbuatan yang menyakitkan.

Yang lebih ekstrim, ada yang sampai jadi takut untuk membuka hati dan berbuat baik pada sesama. Takut ditipu, takut disakiti, hingga takut dianggap bodoh bila ternyata yang dibantu malah tidak tahu diri.

Lama-lama, semua orang jadi berhenti saling peduli. Apatis dan sibuk dengan urusan sendiri.

Jangan pernah meremehkan mereka yang rela berbuat baik pada sesama, meski dengan risiko disakiti atau ditipu mentah-mentah. Yang bodoh adalah mereka yang nggak pernah menghargai kebaikan, sekecil apa pun di mata mereka.

Karena mereka-lah yang nanti baru menghargai arti kebaikan, saat tidak lagi memperolehnya secara cuma-cuma. Lalu, bagaimana dengan yang rajin berbuat baik? Meski belum tentu mendapatkan balasan dari mereka yang pernah menerima kebaikannya, seisi dunia bisa melihat betapa berartinya sosok ini.

Lalu, kebaikan akan berbalas kebaikan berkali lipat, meski belum tentu dari tangan yang sama…

R.

 

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Nyinyiran Khas Ngambekan

Nyinyiran Khas Ngambekan

“Kau selalu benar.

Aku selalu salah.”

Logikamu bubar

karena enggan kalah

meski bukti terhampar

Kalau perlu sebar-sebar kabar

Peduli setan dengan lelah

 

“Kau selalu main korban.

Aku terus yang jahat.”

Astaga, debatan khas anak kecil ngambekan.

Situ sehat?

Caramu kotor, memuakkan.

Gampang amat?

 

Memang,

berdebat terus tidak sehat

apalagi sama yang hobi ngambekan

Baik, anggap saja kamu yang menang

Kalau tidak, kasihan

Kamu gila pembenaran,

sementara aku hanya ingin tenang

 

Sudah, jangan merengek saja

Cukup kuladeni mereka yang lebih dewasa

Ternyata kita terlalu beda

Kau harus selalu lebih tinggi agar bahagia,

meski yang lain harus merendah

(pura-pura) rela mengalah

hanya agar kamu tidak marah

layaknya sosok bermental bocah

BAH!

 

R.

 

Categories
#catatan-harian #menulis #tips

7 Tips Receh Biar Nggak Mudah Nyinyir

7 Tips Receh Biar Nggak Mudah Nyinyir

Duh, kok saya malah jadi ngebahas ini lagi, ya? Abis gimana? Udah menjelang Pilpres (Pemilihan Presiden) lagi dan mulut-mulut nyinyir (serta jari-jemari jahil di atas papan ketik) kembali beraksi.

Eh, sebenernya enggak juga, deh. Manusia emang punya kecenderungan doyan nyinyir. (Sialnya termasuk saya juga kadang-kadang, hehehe. Serius. Beneran kadang-kadang.) Biar nggak jadi kebiasaan, ini dia tujuh (7) tips receh yang bisa Anda coba. Gampang banget, kok.

  1. Terimalah fakta bahwa setiap orang itu emang…BEDA.

Kalo ada yang hobi banget nyuruh-nyuruh Anda supaya jadi sama atau malah berubah seperti orang lain, rasanya gimana? Pastinya nggak mau, ‘kan? Apalagi bila kebetulan orang itu nggak Anda suka.

Begitu pula sebaliknya. Nah, biar adil dan sama-sama enak (semoga), terima aja fakta bahwa manusia itu nggak ada yang sama. Beneran, lho. Jangan sampai sebatas ucapan aja, tapi nggak ada praktiknya.

  1. Segera sadar diri begitu mulai banyak yang menjauhi.

Nggak hanya jumlah followers yang berkurang di media sosial. (Itu juga kalo Anda peduli, ya.) Di dunia nyata, orang seakan enggan mendekat. Ada apa, ya?

Jangan-jangan karena selama ini Anda punya hobi nyinyir terang-terangan. Apa-apa harus jadi bahan sindiran. Sekali-dua kali mungkin masih nggak masalah. Lama-lama, siapa juga sih yang tahan? Anda sendiri juga belum tentu kalo saban hari urusan sama model begini.

  1. Jangan keseringan berurusan dengan tukang nyinyir.

Emang, mutusin tali silaturahim itu nggak baik, apalagi bila yang termasuk manusia model begini itu masih teman, rekan kerja, atau bahkan…keluarga sendiri. (Ups!)

Sayangnya, keseringan deket sama pemilik mulut nyinyir juga nggak sehat. Selain bikin Anda jadi ikutan mikir negatif melulu, lama-lama bisa jadi stres, deh.

Habis itu, bertambahlah jumlah orang nyinyir di dunia. Kayak yang udah ada belum cukup bikin pusing aja.

Biar aman, mending interaksinya sama tukang nyinyir seperlunya aja. Serius. Biar tetap waras juga.

  1. Hindari sirik nggak penting gara-gara postingan di media sosial.

Nah, ini kebiasaan yang harusnya udah hilang, tapi kok rasanya sulit, ya? Padahal udah pada tahu ‘kan, kalo semua yang tampak ‘indah’ di postingan IG temanmu belum tentu aslinya sesempurna itu? Bisa aja cuma pencitraan.

Terus, kalo ternyata emang terbukti pencitraan kenapa? ‘Kan yang repot harusnya mereka, bukan Anda. Kalo nggak suka, tinggal unfollow biar nggak usah lihat atau baca. Kalo Anda sendiri mau ikutan pencitraan juga terserah. Apa pun itu, toh Anda juga yang harus bertanggung jawab sendiri nantinya.

  1. Bila sulit, minimal kurangin berdebat atau sindir-sindiran dengan orang lain – siapa pun itu – di media sosial maupun dunia nyata.

Nggak capek, apa? Meski yakin Anda yang benar, belum tentu mereka mau terima. Yang ada malah tanding nyinyir-nyinyiran (yang jelas-jelas nggak ada di cabang olah raga mana pun hingga berakhir jadi debatan macam anak kecil ngambekan:

“Iya, deh. Kaum elo nggak pernah salah. Kaum gue salah melulu.”

“Lo kayaknya doyan banget deh, playing victim. Makanya jadi orang jangan baperan mulu.”

Saya yakin Anda masih punya pekerjaan lain yang lebih penting daripada meladeni macam mereka. Ya, kecuali bila ada kegiatan nyinyir yang dibayar, bahkan kalo perlu sampai ngalahin gaji bulanan Anda.

  1. Lebih baik diem-diem aja tapi banyak berprestasi (yang sungguhan lho, ya.)

Ini mungkin juga udah sering banget diulang-ulang. Ampe bosen? Biarin. Nggak usah banyak omong. Biarkan prestasi yang bicara. Mungkin sebagian tukang nyinyir akan diam, mungkin malah makin cari-cari kesalahan. Nggak apa-apa. Anggep aja latihan jadi selebriti nanti.

Siapa tahu? Suatu saat Anda akan jauh lebih berguna bagi dunia, sementara mereka nggak ke mana-mana. Ya, masih di situ-situ aja, jadi yang mensukseskan Tim Nyinyir Nasional.

  1. Nggak (mudah) baperan begitu kelar baca tips receh ini.

Merasa ada yang ‘makjleb’ di hati begitu kelar baca tulisan ini? Maaf, itu bukan tanggung jawab saya sama sekali. Hihihihi…

Kalo nganggep saya pun nyinyir dengan cara ini, silakan balas di komen. Saya termasuk nyante nanggepin kritikan. Siap-siap aja tambah baper. Hihihihi (lagi.)

 

Jadi, udah pada siap ngurangin hobi nyinyir? Ayolah. Jadiin dunia ini tempat lebih ramah, biar sama-sama bahagia. Ya, nggak?

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Biasa Tidak Selalu Benar

Biasa Tidak Selalu Benar

Aku lelah.

Lagi-lagi kita kembali ke jalur yang sama.

Kamu tak jua berubah,

belum dewasa juga.

 

Mau sampai kapan kita terus begini?

Terlalu sering kau sesuka hati,

menuntut perhatian sana-sini

sampai aku muak setengah mati.

 

Ah, sudahlah.

Tak ada yang akan berbeda.

Kali ini, jangan harap aku akan selalu sudi mengalah.

Harusnya usia menjadi saat berkaca, bukan sekedar angka.

 

Kau memang terlalu egois untuk mengerti

aku pun punya kehidupan sendiri!

 

R.

(Jakarta, 24 Agustus 2014)

 

Categories
#catatan-harian #menulis

Perbaikan Kilat

Perbaikan Kilat

Tidak ada yang salah dengan era digital ini. Saya tidak akan menjadikannya kambing hitam, tidak seperti beberapa generasi sebelumnya. (Hehehe, maafkan saya, ya.)

Bagaimana mau menyalahkan, kalau saya juga mendapatkan manfaat dari era digital? (Dua contohnya adalah menjadi penulis dan penerjemah lepas.) Suka tidak suka, semua kembali kepada manusianya masing-masing. Beberapa orang memang akan selalu seperti itu. Namanya juga beda kebiasaan.

Beberapa generasi yang lebih tua kerap mengeluh soal generasi saat ini, alias generasi milenial. Gara-gara terbiasa mendapatkan segala sesuatu yang serba cepat, mereka jadi lupa menghargai prosesnya.

Akibatnya, mereka jadi kurang berempati dengan yang mereka anggap lambat. Malas? Mungkin tidak juga. Mereka hanya menginginkan perbaikan kilat untuk hampir semuanya. Tidak ada waktu untuk menunggu. Banyak yang harus dilakukan.

Haruskah mereka disalahkan? Mereka lahir dan besar di zaman serba kilat ini. Pastinya beda dengan zaman kakek-nenek kita. Semuanya berjalan sangat cepat, yang entah bagaimana menyebabkan rentan stres. Ini berlaku bagi yang belum terbiasa.

Memang benar sih, ada beberapa hal yang sebaiknya memang lebih cepat dibenahi. Kita membutuhkan yang cepat untuk menghemat waktu, agar dapat melakukan hal-hal lain yang menurut kita tidak kalah penting.

Namun, tidak semuanya membutuhkan hal yang sama. Beberapa hal memakan waktu cukup lama. Salah satunya adalah menjadi milyuner. Tidak mungkin dong, mendapatkan uang banyak dalam semalam? Kecuali kalau kita tahu caranya.

Saatnya sadar bahwa yang segera itu mengambil keputusan dan maju. Jam terus berdetak. Dunia tidak pernah menunggu siapa pun.

Nah, bila strategi awal masih terasa lambat, kenapa tidak coba cari cara lain? Misalnya: kita bekerja dari Senin sampai Jumat, pagi hingga sore. Gaji bulanan ada, namun impian besar – seperti jadi milyuner misalnya – kok masih terasa jauh, ya? Apalagi kebutuhan sehari-hari juga banyak.

Sampai sini, kita bisa memilih. Mau terus bersabar pakai cara yang sama – atau berusaha mencari alternatif yang sedikit lebih cepat? Yang pasti, kita harus berani mencoba dan siap bertualang dengan beragam kemungkinan yang ada.

Itu semua ada di tangan kita. Yang pasti, jangan mau hanya jadi milenial biasa. Saatnya jadi milenial – sekaligus milyuner.

Penasaran? Silakan klik tautan di bawah ini:

http://bit.ly/2BBmFip

Semoga sukses, ya.

R.