Categories
#catatan-harian #fiksimini #menulis

“BESAR PASAK DARIPADA TIANG”

“Besar Pasak Daripada Tiang” (Tantangan Menulis Kontenesia Gathering, 19 Februari 2017)

Dulu saya sempat berjanji pada kru redaksi Kontenesia. Janji apa? Saya akan mem-posting tantangan menulis lucu-lucuan ini waktu di Jogja.

Namun, catatan kemarin sempat hilang. Berdasarkan ingatan, inilah tantangan menulis lucu-lucuan yang sempat saya lakukan bareng Saudara Adi waktu itu:

“Besar Pasak Daripada Tiang”

(Dua orang baru saja dinobatkan sebagai pemburu vampir. Tugas perdana mereka? Membasmi pasukan vampir yang menguasai satu kota. Namun, malam itu keduanya sibuk berdebat perihal penggunaan senjata.)

Adi: “Kita pake tiang aja.”

Ruby: “Apa? Nggak salah, tuh? Mending pake pasak aja.”

Adi: “Ah, ngapain? Tiang lebih gampang ditemukan. Lebih panjang pula.”

Ruby: “Tapi pasak lebih besar.”

Adi: “Tiang!”

Ruby: “Pasak!”

Adi: “Tiang!”

Ruby: “Pasak!”

Adi: “Tiang!”

Ruby: “Pasak!”

(Sayangnya, pertengkaran mereka terdengar oleh pasukan vampir. Kedua pemburu vampir itu pun tewas mengenaskan…bahkan sebelum melaksanakan tugas perdana mereka. Semuanya gara-gara mereka sibuk meributkan senjata apa yang mau mereka gunakan: pasak apa tiang?)

Sekian.

Garing? Biarin. Kadang ini yang bisa didapat dari mengikuti tantangan menulis selama 30 menit. Tapi, waktu itu sih, kami cukup bikin ketawa para kru redaksi.

Ingin tahu kami bisa menulis apa lagi? Tenang, tidak hanya lelucon jayus. Kami juga bisa menulis yang serius. Cek saja website kami di http://kontenesia.com/.

R.

 

Categories
#catatan-harian #menulis

“SENDIRIAN VERSUS BARENGAN”

“SENDIRIAN VERSUS BARENGAN: Mau Mandiri atau Main Tunggu-tungguan?”

Dalam perjalanan ke bioskop terdekat, saya papasan sama teman dan pacarnya. Kami pun terlibat dalam percakapan ini:

Teman: “Mo kemana?”

Saya: “Nonton.”

Teman: “Nonton apaan?”

Saya: (menyebutkan judul film)

Teman: (sumringah) “Wah, aku juga mo nonton itu sebenernya.” (langsung nyenggol dan berpaling pada pacarnya) “Tapi dia gak mo nonton itu, sih.”

Pacar: (nyengir)

Teman: (melihat saya) “Mo nonton ama siapa?”

Saya: “Sendiri.”

Teman: (kaget) “Kok sendiri?”

Oke, adegannya saya pause dulu sampai sini, ya. Ntar lanjut lagi.

Pasti sudah banyak yang membahas ini di artikel-artikel lainnya. Saya sendiri pernah menulis tentang ini di sini. Seorang teman dengan blog film-nya, Distopiana, juga pernah menulis hal serupa.

Kenapa, ya? Apa yang salah dengan melakukan apa-apa sendirian? Lagipula juga nggak ganggu orang. Hak asasi pribadi lho, sama kayak bernapas.

Entah kenapa banyak yang langsung memandang saya dengan aneh – atau bahkan terang-terangan menganggap kebiasaan ini menyedihkan, kayak yang bersangkutan nggak punya teman sama sekali.

Oke, sekarang kita lanjutkan lagi sisa obrolan tadi:

Saya: “Iya, sendiri.”

Teman: “Minggu depan aja, deh. Aku gak bisa kalo sekarang atau weekend ini.”

Saya: (menaikkan sebelah alis) “Aku bisanya sekarang.”

Teman: (tampak kecewa) “Oh, oke. Met nonton kalo gitu.”

Bisa dibilang, saya suka menjaga keseimbangan sebisa mungkin dalam hal ini. Nggak ada hubungannya dengan fakta bahwa saya anak tengah. Ada kalanya saya memang ingin bersenang-senang dengan orang lain atau sekelompok orang, seperti: keluarga, teman, atau siapa saja.

Ada kalanya saya hanya ingin melakukan sesuatu sendirian dan rasanya seru juga. Lagipula, kalo dipikir-pikir, nonton film di bioskop sendirian juga nyaman. Kenapa harus selalu menunggu teman? Toh, pas film diputar, kita akan sibuk dengan alam pikiran masing-masing saat menonton. Kalo ngobrol mah, namanya ganggu penonton lain. (Ini juga etiket yang entah kenapa masih belum juga dipahami mayoritas penonton Indonesia, sayangnya.)

Kalo mo nonton sambil ngobrol mah, mending di rumah aja. Nunggu film itu keluar di saluran berbayar macam HBO atau TV lokal (iya kalo ditayangin).Cari DVD ori (kalo ada budget dan bila Anda sangat menghargai karya seni) atau bajakan – atau ngunduh sekalian yang gratisan kalo emang udah nggak sabaran. (Risiko tanggung sendiri, seperti biasa.)

“Tapi ‘kan lebih seru kalo abis nonton langsung ada temen yang bisa diajak diskusi soal film itu.”

Hmm, mungkin itu menurut Anda. Terserah, sih. Tiap orang ‘kan, beda-beda. Termasuk saya. Mungkin saja ada yang tidak merasakan hal itu sebagai kebutuhan yang sangat mendesak.

Butuh banget diskusi sama teman? Nontonnya juga nggak perlu selalu barengan. Bisa aja Anda nonton sekarang sementara besok giliran teman, terus pas ketemu langsung diskusi, deh.

Salah satu yang kadang bikin saya segan saat harus melakukan sesuatu barengan orang lain adalah…perkara main tunggu-tungguan. Ya, nunggu semua teman segeng punya waktu luang di saat yang sama. Nunggu si dia lagi nggak sibuk.

Nunggu ada yang mau nemenin…

Apa iya semua harus kayak gitu? Apalagi bila misalnya selera hiburan Anda termasuk minoritas. Teman-teman segeng lebih suka K-Pop, sementara Anda sukanya musik indie. Si dia ogah diajak nonton musikal, sementara Anda muak nemenin dia nonton film action yang premis ceritanya begitu-begitu aja.

Selain itu, bayangin juga bila Anda sudah janjian sama mereka, entah itu untuk nonton bareng atau cuma ketemuan. Ehh, di saat-saat terakhir mereka malah batal datang. Masih bagus kalo ngabarin atau ngasih alasan.

Kalo enggak? Tinggal coret nama mereka dari daftar undangan, apalagi bila keseringan. Tunggu aja mereka ngabarin bila udah nggak sibuk lagi. Gitu aja, nggak usah pake drama.

Paling parah bila Anda sudah kepalang beli tiket. Meskipun misalnya mereka janji akan mengganti duit yang terlanjur hilang, tetap saja menjengkelkan.

Bila acaranya memang benar-benar yang ingin Anda tonton, apakah lantas nggak jadi cuma gara-gara “nggak ada yang nemenin”? Justru malah Anda yang rugi.

Takut garing atau mati gaya? Justru ini saat Anda bisa fokus total sama yang Anda tonton. Nggak perlu keganggu sama temen yang suka komentar atau nyalain hape yang sinar di layarnya bisa bikin sakit mata dan Anda jadi ingin membanting hape mereka ke lantai.

Nggak perlu keganggu pas si dia mendadak ngajak ngobrol atau… (*silakan isi sendiri, saya malah ngeri, hihihi*) Bukannya sok moralis ya, tapi saya bukan orang yang rela buang-buang duit dengan niat nonton film di bioskop…buntutnya malah “bikin adegan film sendiri”. Males banget.

Selain itu, Anda pegang kendali penuh atas hiburan yang Anda inginkan hari itu. Nggak perlu kalah suara sama teman-teman segeng soal selera. Nggak perlu berdebat dengan si dia soal genre pilihan.

Dengan kata lain, ini hari bebas konflik. Silakan puas-puasin memanjakan diri. Nggak perlu tergantung atau menuruti siapa saja (kadang dengan setengah hati, dengan alasan nggak mau ribut atau dicap perusak suasana alias “nggak asyik”.)

Lagipula, kalo merasa bahwa menghabiskan waktu dengan diri sendiri adalah menyedihkan, bayangkan anggapan mereka yang menghabiskan waktu dengan Anda.

Ya, persis.

R.

 

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

“CERMIN UNTUK SANG PRIMADONA”

“Cermin untuk Sang Primadona”

Terkejutlah, wahai sang primadona

kau yang gemar pura-pura

berlagak bersahaja

hanya agar dikagumi semua

namun dusta adanya

 

Ada tipu dalam senyummu

Sikap manis yang palsu

Kau kira kau begitu lucu

setiap kali merendahkanku

 

Aku tak heran, wahai primadona

Aku sudah biasa dihina

termasuk dianggap perasa

Lama-lama aku diam saja

 

Akan ada masa

tabirmu tersibak sempurna

di depan mereka semua

yang melihatmu apa adanya

 

Ah, sekian saja

Ternyata kau punya cacat yang sama

Selamat berkaca

Aku bahkan tak lagi perlu berucap apa-apa…

 

R.

 

Categories
#catatan-harian #menulis

“5 ALASAN SAYA BUKAN FASHION BLOGGER”

Fashion? Saya? Mungkin yang sudah kenal dan pernah melihat saya tidak akan percaya. Mungkin ada juga yang berharap bahwa akhirnya – sebagai perempuan – saya mulai lebih peduli penampilan. Tapi…ah, kenapa sih, harus selalu dikaitkan dengan ‘perempuan’?

Oke, memang perempuan rata-rata suka dandan dan peduli penampilan. Nggak cuma food blogger, fashion blogger juga banyak. Apakah lantas saya juga wajib ikutan?

Inilah lima (5) alasan saya bukan fashion blogger:

1. Saya memang aslinya nggak gitu suka dandan.

Kapan saya pernah kelihatan dandan? Saat kerja, acara formal, atau ke kawinan. Nge-date mungkin termasuk, meski tergantung jenis acaranya.

Gara-gara pada jarang melihat saya dandan, banyak yang minta: “Tiap hari kayak gini, dong. Biar cantik.” (Hiks, jadi kalo enggak berarti enggak cantik, dong? *baper kumat* )

Alamat bisa telat ngantor dan kurang tidur kalau mau dandan maksimal seperti yang mereka minta kalau tiap hari. Mungkin banyak perempuan lain yang tidak keberatan dan itu terserah mereka. Tapi saya…

 

2. Saya chubby, tomboy, dan…sempet minder.

Dulu sih, fashion untuk kategori XL belum semarak dan semodis sekarang. Pilihannya masih sangat terbatas. Makanya, saya sempat malas belanja pakaian, kecuali kalau memang udah kepaksa banget. Misalnya:

  • Baju lama udah kesempitan. (Hiks, selalu malu mengakuinya.)
  • Warnanya sudah pudar dan kainnya menipis. (Alamat “turun pangkat” jadi baju tidur.)
  • Rusak atau robek.
  • Mulai diprotes banyak orang: “Perasaan baju lo itu-itu terus, deh. Nggak ada yang lain apa?” (Beliin-lah, jangan cuma protes doang. Hehehe.)

Kebetulan, saya juga tomboy. Lebih suka pakai kaos dan celana panjang (yah, meski sekarang mulai sedikit lebih kompromi). Dulu suka kesal saat ke bagian pakaian perempuan dan nggak nemu ukuran saya.

Solusinya? Beli baju laki-laki atau pinjam punya adik yang sudah lama tidak dipakai. Tapi, lama-lama adik protes: “Beli sendiri-lah!” Kakak perempuan juga sama: “Jangan pake baju cowok terus, dong!”

Solusi dari Mama? Beli kain dari toko lalu ke penjahit langganan. Selain itu, lebih banyak berburu barang di distro atau ITC.

From: dreamstime.com

3. Saya memang nggak suka belanja baju maupun ke salon.

Saya lebih tertarik ke bazaar buku murah daripada midnight sale. Yang bikin kesel, komentar-komentar yang muncul seperti ini:

“Kok aneh, ya? Padahal elo ‘kan cewek.”

Begitu pula soal ke salon. Kalau nggak kepaksa banget, mendingan nggak usah. (Catatan: Jangan pernah sekali pun menyuruh saya bereksperimen seperti ini: meluruskan/mengecat rambut dan mencabut alis. Lebih baik cabut geraham bungsu daripada cabut alis dan merusak tekstur rambut. TITIK.)

Padahal, nggak lantas saya langsung berganti kelamin ‘kan, hanya gara-gara nggak suka dua kegiatan itu? Memang, kadang manusia suka aneh. Ngakunya menerima perbedaan, tapi giliran tahu soal ini, saya langsung dianggap ‘ajaib’. Padahal ini soal selera, kayak hobi dan makanan favorit.

4. Saya lebih suka sepatu keds dan sandal daripada high heels. Saya bakalan lebih memilih ransel atau tas besar sesuai keperluan.

Entah siapa yang mula-mula punya ide gila bernama sepatu hak tinggi dan menyebar paham bahwa perempuan pasti akan terlihat lebih cantik dan seksi saat memakainya. Bahkan, dengar-dengar malah bangsawan laki-laki di Prancis dulu memakainya atas nama simbol status.

Padahal, lama-lama sepatu high heels amat menyiksa, apalagi yang model stiletto. (Cocok buat senjata pembunuhan. Serius. Tonton aja “Single White Female” kalo nggak percaya.) Selain berisiko kecelakaan saat lari, susah jalan, hingga hak yang tersangkut di lubang trotoar, ini dia daftar beberapa gangguan kesehatan kaki akibat kelamaan memakai high heels:

  • Tumit pecah-pecah
  • Jari-jari kapalan
  • Kuku kaki mudah retak
  • Nyeri sendi
  • Kemungkinan terkena varises di usia senja

Dengan kata lain: seksi di mananya? Mau itu bikinan si Juragan Jimmy atau Mas Manolo yang harganya sampai berdigit-digit itu, tetap saja saya ngeri bila harus memakainya dalam waktu lama.

Hehe, kayak saya sanggup beli aja…

5. Sudah banyak fashion blogger lain yang lebih keren.

Contohnya? Silakan cek punya teman saya: Talkative Tya atau beberapa fashion blogger kece lainnya di sini: https://www.hitsss.com/ini-dia-10-fashion-bloggers-influencers-indonesia-nan-stylish-dan-populer-bagian-1/.

Jadi, kalau mau cari tips seputar penampilan atau review produk kosmetik terbaru, jangan di sini, ya.

R.

 

Categories
#catatan-harian #menulis

“MENGHADAPI MULUT BESAR DENGAN DIAM”

“Menghadapi Mulut Besar dengan Diam”

Siapa sih, yang cocok dapat julukan ‘mulut besar’? Tukang membual? Bully yang hobi menjatuhkan Anda, baik dengan nyinyiran halus hingga makian kasar – terutama di depan umum?

Apakah itu tukang gosip yang hobi menyebar aib, fitnah, hoax, dan sejenisnya?

Menurut saya, ketiganya termasuk bermulut besar. Meskipun tingkat keparahannya berbeda-beda, mereka sama-sama merusak. Ya, merusak reputasi diri sendiri hingga hubungannya dengan orang lain.

Tukang membual, bully, dan tukang gosip tanpa sadar sama-sama berbagi satu ‘benang merah’: mencari pengakuan akan eksistensi diri mereka dari orang lain.

Tukang membual hanya ingin dikagumi, bahkan meski dengan risiko ketahuan sebagai pembohong. Bully ingin dihormati sekaligus ditakuti.

Tukang gosip? Hmm, mungkin yang ini sedikit lebih kompleks. Selain pada dasarnya memang senang bercerita, mungkin mereka takut kehilangan bahan obrolan hingga penonton setia. Mereka sangat senang jadi pusat perhatian, meskipun dengan cara yang…yah, tahulah. Jauh dari berkelas.

Tapi, ada juga tukang gosip yang memang sengaja ‘cuap-cuap’ untuk ‘memanaskan suasana’, sekaligus menjatuhkan orang yang nggak mereka suka atau anggap saingan/lawan. Ya, mau nggak mau memang ada juga penggemar dan pencari drama di dunia nyata yang seperti ini. Sepertinya mereka kurang piknik atau malah kurang sibuk, hingga sempet-sempetnya kayak gini.

Bersyukurlah bila Anda (dan semoga saya) termasuk yang selalu berusaha agar tidak terjebak menjadi satu atau lebih jenis ‘mulut besar’ yang disebutkan barusan. Sayangnya, kita akan selalu ketemu model begini di dunia nyata. Ketimbang stres, enaknya gimana, ya?

Dulu, saya sempat nggak sepakat sama Mama seputar menghadapi si ‘mulut besar’. Kebetulan, saya juga termasuk temperamental. Ada yang mengajak saya ribut (padahal saya berusaha nggak pernah usil ama urusan orang lain), rasanya ingin saya timpuk pakai meja. (Entah gimana caranya, apalagi mengingat rata-rata meja itu berat.)

Saran beliau?

Diam saja.

Serius? Beneran. Baru akhir-akhir ini saya merasa bahwa beliau ada benarnya juga. Seperti apa contohnya?

 

1. Menghadapi si tukang membual.

“Ooh, semalem gue abis dinner ama anak bos perusahaan A di penthouse B. Dia baik banget, deh…” (Padahal bukan kencan, tapi urusan bisnis doang.)

“Gue selalu berusaha bijak dan diam aja saat orang-orang nyinyir ama gue.” (Padahal habis itu posting status #nomention di media sosial yang jelas-jelas tentang mereka.)

“Yang nyerang kemaren ada tiga orang, gede-gede pula. Untung gue yang menang.” (Padahal semalam ceritanya cuma ada satu dan pulangnya yang bersangkutan pake acara babak-belur.)

Nggak usah keki, meski keganggu ama model begini. Cukup sibukkan diri Anda. Kalo peduli dan ingin mengajak mereka ‘memanfaatkan kreatifitas’ yang muncul di otak mereka, silakan sarankan profesi ini: PENULIS FIKSI.

Inget, penulis fiksi ya, jangan penulis konten hoax. Udah banyak banget soalnya di sini.

2. Menghadapi si verbal bully.

Banyak alasan kenapa mereka senang mem-bully Anda. Mungkin mereka kurang perhatian dan mencari sosok yang bisa mereka kendalikan. Tough luck kalo strategi basi mereka udah lama kebaca sama Anda.

Jika memang Anda pernah bersalah sama mereka, cukup tanyakan Anda pernah salah apa dan segeralah minta maaf bila memang Anda yang salah. Jika tidak, boleh juga tanyakan kepada mereka apakah mereka punya kesibukan lain selain “bersenandung tidak riang” di telinga Anda, karena – jujur – saat ini Anda sedang nggak butuh mendengar suara mereka. (Bully balas di-bully, hehe.)

Cara bijak Mama? Diam, sambil menunggu mereka ‘kelepasan’, melakukan ‘cacat’ yang sama yang pernah mereka tudingkan ke muka Anda.

Misalnya: pernah ada yang usil selalu dengan berat badan saya, namun ternyata dia kesal saat ada yang usil dengan pilihan gaya hidupnya. Ada juga yang menganggap saya terlalu lemot menanggapi candaan orang (hey, padahal masalah beda selera, lho. Lagipula, nggak semua orang harus jadi komedian, jadi ngapain saya maksain diri? Hahaha!)

Kenyataannya, yang menuduh itu ternyata sama aja sensinya. Lucu, ‘kan?

Ah, sudahlah. Lain cerita bila mereka memang hobi pasang standar ganda. Daripada lelah karena drama, mending cabut aja.

3. Menghadapi si tukang gosip.

Kalo nggak kenal objek yang jadi bahan gosip, nggak usah ikutan nyahut atau komentar. Kalo kenal baik dan merasa kesal, boleh juga membela mereka, selama Anda punya bahan argumen yang kuat. Tahu sendiri ‘kan, rata-rata tukang gosip mudah nggak mau ngalah, karena mereka merasa jadi ‘the it source’?

Nggak perlu juga ngabarin ke korban gosip kalo mereka diomongin. Meski niatnya baik, sama aja dengan adu domba kali. Apa bedanya Anda dengan si tukang gosip sendiri? Cukup klarifikasi baik-baik tanpa menyebut nama si tukang gosip.

Kalo diri sendiri yang jadi korban gosip? Santai. Kalo emang nggak bener, ngapain pusing? Cukup jawab seperlunya bila ada yang mencari tahu kebenaran kabar miring itu. Bila terlanjur disinisin sama beberapa orang, nggak usah repot ngejar-ngejar mereka untuk memberi penjelasan. Justru dari situ Anda bisa tahu mana yang benar-benar teman Anda.

Bila tahu pelaku penyebaran gosip Anda, nggak usah nyindir-nyindir mereka dengan status #nomention di media sosial. Selama mereka nggak bernyali ngomong langsung, anggap aja mereka nggak ada. Nggak level ribut sama pengecut. Hidup terlalu berharga untuk drama nggak penting kayak gini.

Tapi, mari perlakukan kasus ini dua arah. Terlalu merasa diomongin orang? Jangan-jangan ada ucapan atau perbuatan Anda yang selama ini bikin mereka nggak nyaman, nggak suka, atau sakit hati. (Please, jangan terlalu tinggi menilai diri sendiri dulu dengan ngatain mereka “baper”.)

Kenapa mereka nggak langsung ngomong ke Anda? Jangan-jangan selama ini Anda-lah yang enggan mendengar dan selalu merasa paling benar, terus buntutnya ngambekan. Repot, ‘kan?

 

Menghadapi mulut besar dengan diam? Kata siapa gampang? Tapi, bolehlah terus dicoba. Hitung-hitung belajar sabar.

R.

 

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

“NYATA”

“Nyata”

Akulah nyata bagimu

bukan saat kita saling melempar senyum

atau saling menatap geli dengan senyum dikulum

bahkan bukan selalu saat-saat bahagia itu

 

Aku lebih nyata bagimu

saat benakmu penuh ide-ide itu

agar aku sesuai yang kau mau

namun kau sama sekali tak mengenalku

 

Aku semakin nyata bagimu

bukan sosok ideal, sesuai kriteria

yang akan selalu buatmu bahagia

Ah, kata siapa kamu sendiri segalanya?

 

Aku nyata,

meski di matamu takkan pernah sempurna

Selamat kecewa

karena kau sendiri lupa berkaca…

 

Memangnya kau pikir kau dewa?

 

R.

 

Categories
#catatan-harian #menulis

“SAAT DIAM TIDAK SELALU ‘EMAS’…”

“Saat Diam Tidak Selalu ‘Emas’…

Saya pernah menonton film anak-anak berjudul “An American Girl: Chrissa Stands Strong”. Meskipun untuk anak-anak, film ini membahas masalah yang cukup serius dengan pesan mendalam.

Chrissa anak baru di sekolah. Keluarganya baru saja pindah dari kota lain. Sifatnya yang pendiam dan pemalu membuatnya susah beradaptasi dan bergaul.

Lebih rumit lagi, Chrissa menjadi target penindasan geng Tara, yang berasal dari keluarga kaya dan populer. Menurut Tara dan gengnya, Chrissa konyol, cupu, dan sangat lemah. Mereka juga menindas Gwen, teman sekelas Chrissa yang juga pendiam dan penyendiri.

Saat hanya berupa ledekan, Chrissa masih berusaha mengacuhkannya. Namun, kekerasan fisik dan verbal yang dilakukan Tara dan teman-temannya semakin menjadi-jadi.

Punggung Chrissa pernah ditusuk oleh pensil. Rambut Gwen pernah dipotong secara sembarangan sebelum Tara tertawa sambil menghina: “Nah, sekarang kamu beneran kayak anak gelandangan.” Saat itu, Ibu Gwen baru saja kehilangan rumah sehingga keduanya harus tinggal di tempat penampungan untuk sementara.

Tara bahkan pernah menyebar gosip buruk tentang Chrissa. Namun, saat Chrissa memintanya berhenti, Tara malah balas mengancam:

“Kenapa? Mau jadi tukang ngadu kayak pengecut?”

Ada ucapan menarik dari Nenek saat Chrissa akhirnya mulai terbuka pada keluarganya mengenai bullying yang dialaminya di sekolah:

“Seseorang baru disebut tukang ngadu bila niatnya murni ingin menjatuhkan orang yang diadukan. Yang kamu lakukan adalah speaking up, melaporkan tindakan kekerasan teman sekolahmu agar tidak berlanjut. Justru pelaku bullying semakin berani karena korban mereka selama ini diam saja dan membiarkan diri terus disakiti karena takut melawan.”

Dalam novel remaja berjudul “Kana di Negeri Kiwi” karya Rosemary Kesauly, Kana sakit hati diputusin Rudy. Alasannya? Rudy nggak suka tubuh Kana yang bertambah gemuk.

Akibatnya, Kana jadi minder dan hobi mengeluhkan hal itu pada sahabatnya, Joy. Di luar dugaan, Joy yang cerdas dan pendiam justru punya masalah yang lebih pelik lagi.

Di rumah, Joy diperkosa ayah tirinya saat ibu dan adiknya sedang pergi. Karena diancam akan dibunuh beserta ibu dan adiknya, Joy tidak berani bercerita. Gadis malang itu pun lama-lama tertekan dan menderita depresi.

Puncaknya, Joy nyaris tewas setelah sang ayah tiri memaksanya mengonsumsi obat penggugur janin yang dibeli di pasar gelap. Untunglah, Kana menemukan sahabatnya dan langsung membawanya ke RS sebelum terlambat. Ayah Joy kemudian ditangkap polisi.

Pada kenyataannya, memang laki-laki termasuk pelaku kekerasan terbanyak di dunia. Saya enggan bermain statistik di sini, karena sudah banyak yang melakukannya. Intinya, siapa pun pelakunya dan apa pun jenis kekerasannya, saya tetap tidak setuju. Bahkan, saya sendiri pernah menjadi pelaku kekerasan. (http://www.magdalene.co/news-902-i-was-an-online-bully.html)

Benarkah diam selalu ‘emas’? Diam yang menahan rasa sakit tidak lantas menjadikan Anda seorang jagoan. Diam ini kemudian bisa berbuah dendam, entah kepada pelaku saat korban sudah cukup kuat untuk membalas atau orang lain sebagai pelampiasan. Siklus kekerasan pun berlanjut bagai lingkaran setan, baik kepada orang lain maupun diri sendiri. (Contoh: menyakiti atau membunuh diri sendiri.)

Menganggap saya “LEBAY” (berlebihan) atau “BAPER” (bawa perasaan)? Sumpah, saya paling benci dua kata itu, apalagi bila diucapkan saat korban belum selesai bicara.

Tidak hanya dua kata sialan yang sangat merendahkan itu, tuduhan “TUKANG NGADU” juga sering dipakai pelaku kekerasan untuk membungkam korban. Mengapa demikian? Semua pelaku kekerasan PENGECUT, apalagi bila mainnya keroyokan. Mereka enggan disalahkan. Inilah cara dangkal mereka membela diri.

Bagaimana dengan ancaman, terutama pembunuhan? Sama saja pengecutnya. Mereka kira mereka jagoan. Padahal, ada logika sederhana yang enggan mereka terima:

“Kalau sudah yakin bahwa diri sendiri kuat dan berkualitas, kenapa harus melemahkan orang lain, hanya untuk mencari perbandingan?”

Dalam “An American Girl: Chrissa Stands Strong”, ternyata Tara sangat takut tersaingi Chrissa dalam tim renang. Untuk menyingkirkan saingan, Tara menggunakan cara kotor, yaitu menakut-nakuti Chrissa agar tidak betah dan keluar dari tim. Berkat dukungan keluarga, teman-teman, dan guru, Chrissa akhirnya berani melawan Tara dengan cara yang elegan.

Dalam “Kana di Negeri Kiwi”, ayah tiri Joy pengangguran, sementara ibunya bekerja. Bukannya berusaha keras mendapatkan pekerjaan agar bisa seperti istrinya, perasaan inferior malah membuatnya memperkosa putri tirinya sendiri.

Kedua alasan di atas sama sekali tidak bisa dimaklumi. Alasan saya sebagai pelaku cyber-bullying dulu juga tidak bisa dibenarkan: muak dihina terus-terusan karena ukuran tubuh, sehingga melampiaskannya pada gadis kurus yang entah kenapa selalu dianggap lebih ideal dan lebih cantik oleh masyarakat patriarki.

Lalu, bagaimana bila ternyata Anda adalah pihak yang dicurhati oleh korban kekerasan, terutama bila mereka orang terdekat? Sudikah mendengarkan cerita mereka hingga selesai? Mau dan mampukah Anda berempati, meskipun berikutnya hanya bisa membantu semampu Anda (terutama karena bukan terapis andal)?

Ataukah Anda akan menyebut mereka dengan ketiga ucapan bernada sangat hina itu – “BAPER”, “LEBAY”, dan “TUKANG NGADU PENGECUT”? Apakah Anda akan berlaku sama seperti pelaku kekerasan maupun banyak orang lain di luar sana?

Apakah dengan entengnya Anda akan meminta mereka untuk bersabar dan “Jangan buka-buka aib orang”? Akankah Anda menuduh mereka dengan “Mungkin ada perbuatan kamu yang bikin mereka begitu”?

Sudah pernah di posisi mereka? Yakin Anda kuat? Yakin bisa sabar saat pasangan menuduh Anda sebagai ‘mahluk tolol nggak berotak’ setiap kali dia marah?

Yakin Anda nggak bakalan tersiksa dan depresi, saban hari bolak-balik ke UGD dengan luka-luka dan cerita bohong yang sama? Yakin Anda masih akan aman-aman saja? Bila masih kuat, baguslah. Tapi ingat, nggak semua kayak Anda kalau memang Anda mengklaim demikian.

Masih belum tahu bedanya ‘tukang ngadu’ sama mereka yang benar-benar butuh bantuan dan perlindungan?

Jangan sampai ucapan “BAPER”, “LEBAY”, hingga “TUKANG NGADU” bikin mereka malas dan akhirnya berhenti bercerita. Bisa jadi, itulah saat terakhir Anda masih bisa mendengar suara mereka.

Bisa jadi, ‘diam’ itu kemudian benar-benar ‘membungkam’ mereka untuk selamanya. Bisa jadi mereka lelah dengan dunia atau pelaku memutuskan untuk menghabisi nyawa mereka. Mengapa? Karena kita yang enggan berbuat apa-apa. Memilih buta dan menutup telinga. Membiarkan hati mati rasa dan terlalu menyombongkan logika.

Jika demikian, masih pantaskah ‘diam’ itu dianggap emas?

TIDAK.

 

R.

Sumber:

https://en.wikipedia.org/wiki/An_American_Girl:_Chrissa_Stands_Strong

http://www.goodreads.com/book/show/1539982.Kana_di_Negeri_Kiwi

http://www.magdalene.co/news-902-i-was-an-online-bully.html

http://www.vemale.com/lentera/102290-belajar-dari-nilam-sari-berani-bicara-lawan-kekerasan-emosional.html

Categories
#catatan-harian #menulis

“5 ALASAN SAYA BUKAN FOOD BLOGGER”

“5 Alasan Saya Bukan Food Blogger”

Indonesia memang berisi ragam budaya, termasuk dalam hal makanan. Kalau orang Indonesia berkumpul, pasti harus ada makanannya. Mau itu camilan atau makan besar, di rumah atau di resto, pokoknya harus ada.

Apa pun acaranya, jangan lupa makan-makan. Makanya, banyak orang Indonesia yang masih hobi menodong traktiran, menguber diskon di restoran, hingga berharap diundang ke kawinan. Hehehe…

Tidak heran, banyak sekali food blogger di Indonesia. Ada yang cuma karena doyan makan, senang makan sambil nongkrong, hingga beneran suka masak. Bahkan, yang serius sampai membahas latar belakang budaya dan filosofi makanan tersebut.

Lalu, kenapa saya nggak ikutan? Lima (5) alasan ini mungkin dapat menjawab pertanyaan Anda:

1. Saya memang suka makan, namun belum jago masak dan jarang nongkrong.

Selain memang kebutuhan dasar manusia, saya memang suka makan. Ngapain sok jaim? Cuma, rasanya nggak seru kalau hanya itu yang jadi andalan dalam menjadi food blogger. Selain jarang nongkrong (kecuali kalau ada yang mengajak atau memang lagi mood aja), saya juga belum jago masak.

Bahkan, pernah saya keracunan hasil eksperimen sendiri di dapur – sup makaroni dengan campuran daging salmon – yang pastinya GAGAL TOTAL!

2. Saya malas menghadapi kemungkinan komentar-komentar basi dari mereka yang sudah pernah melihat wujud saya.

“Oh, kamu food blogger, toh. Pantes…GENDUT.

Plak!

3. Saya termasuk sulit objektif soal makanan.

Ini sering bikin kesal sahabat saya yang suka masak. Setiap kali dia meminta saya mencoba resep barunya, jawaban saya cuma ada dua: enak atau enak banget.

Kalau sampai ada yang benar-benar nggak enak, kemungkinannya cuma dua:

– Rasanya benar-benar memuakkan sampai bikin saya mau muntah.

– Saya sedang sakit.

Sekian.

4. Saya nggak gitu suka foto-foto makanan dan memamerkannya di blog maupun media sosial.

Daripada keburu dingin, mending langsung dimakan. Apalagi bila saya sudah keburu lapar. Paling gemas kalau pas lagi nongkrong bareng teman, terus mereka melarang saya langsung makan.

“Sebentar ya, Bi.” Klik-klik. “Sabar, gue tau elo udah laper.”

“Buruan.” Begitu kelar…hap!

Selain itu, alasan ini masih relevan dengan alasan nomor dua. Saya ogah dengan kemungkinan munculnya komentar-komentar semacam ini:

“Ya, ampun. Lo makannya beginian semua? Pantes…GENDUT.

*langsung semprotin sambel sebotol ke muka yang ngomong*

5. Sudah banyak food blogger yang lebih keren.

Jujur, saya nggak mau ngekor. Menurut kawan sesama blogger yang sudah lebih profesional, lebih baik cari ciri khas sendiri.

Kalau mau cari info tentang makanan atau tempat nongkrong seru, jangan di sini. Cari saja di Tempat Nongkrong Seru atau QRaved. Atau Google dan tanyalah teman-temanmu yang lebih sering nongkrong daripada saya, hehe.

Lalu, ciri khas saya apa, ya? Seorang teman blogger sudah pernah menebaknya dan dia benar. Kalau menurut kalian apa?

R.

 

 

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

“KABUT BENAK”

“Kabut Benak”

Kabut menggayut

benak gelap tersaput

Ada lelah dan kalut

 

Wajah-wajah hantu

di balik kabut nan beku

Panas-dingin sendi mengilu

Hati pedih tertikam sembilu

 

Kabut benak

terseret ke peraduan, kau diajak

Lupakan penat

Longgarkan sesak

Belajar pasrah

menerima lelah dan kalah…

 

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

“KOK NGGAK NGUNDANG-NGUNDANG?”

“Kok Nggak Ngundang-ngundang?”

Awal tahun 2017 ini, dua orang kawan baik mengundang saya ke pernikahan mereka. Karena acaranya di luar kota, jauh-jauh hari cuti mengajar hari Sabtu sudah saya urus. Bahkan, sampai niat mau beli tiket kereta segala.

Sayangnya, pas hari H saya malah jatuh sakit. Untung tiket kereta belum terbeli. Daripada konyol pingsan di jalan, mending batal sekalian.

Hiks. Kedua kawan saya untungnya pengertian dan berharap saya cepat sembuh, namun tetap saja saya sedih. Intinya, hari itu saya hanya bisa mengirim doa.

Lima tahunan silam, seorang sahabat lama minta maaf karena tidak bisa mengundang saya ke pernikahannya. Mengapa demikian? Ternyata acaranya di luar negeri, tempat kediaman calon suami.

Selain itu, kedua keluarga calon mempelai sudah sepakat bahwa acaranya akan sangat sederhana dan privat. Hanya keluarga dan kerabat dekat yang diundang.

Karena membayangkan mahalnya biaya (dan saat itu saya juga nggak mungkin ke sana), akhirnya saya hanya menenangkan sahabat dan mengirim doa untuknya.

Saat sahabat kemudian berganti status di media sosial (waktu itu masih era pra-Facebook, alias Friendster) menjadi ‘married’, banyak kawan lamanya semasa kuliah langsung heboh.

“Kok nggak ngundang-ngundang, sih? Kirain kita temen!”

Jujur, saya nggak mau berada di posisi sahabat saat itu. Pasti nggak enak banget, meskipun yang hobi komen gitu justru bukan teman-teman dekat, alias pas masih sekampus pun negur aja enggak.

*krik…krik…krik…*

Tapi, gimana kalo ternyata bener-bener teman dekat? Apa kasusnya selalu seperti saya dan sahabat saya waktu itu?

Sebenernya, saya males banget pake argumen basi macam: “Maklum, namanya juga orang Indonesia. Deket nggak deket, pasti ngarep undangan. Lumayan, sekalian makan gratisan.” Saya juga nggak munafik. Mengingat suka makan, dapet makan gratisan pas kondangan selalu bersyukur.

Siapa juga yang nggak pernah kecewa? Mungkin dulu emang pernah nongkrong bareng sebelum lama terpisah oleh kesibukan masing-masing. Namun, sepertinya mereka lupa mengirimkan undangan saat mau menikah.

Apa jangan-jangan undangannya nyasar, ya?

Ah, sudahlah. Daripada terus nyinyir dan bergunjing gak asyik di belakang mereka, mending cek dulu deh, beberapa kemungkinan di bawah ini:

1. Mereka ingin pernikahan sederhana dan kebetulan dananya terbatas.

Tahu sendiri ‘kan, biaya hidup semakin tinggi setiap tahun? Apalagi bila kedua mempelai memutuskan untuk tinggal di kota besar. Untuk mengakalinya, dana harus dipangkas. Sayangnya, ini juga berakibat ‘terpangkas’- nya daftar undangan. Kebetulan, nama Anda ikut terkena. Kenapa?

Mana saya tahu? Mungkin mereka lebih memprioritaskan keluarga besar, apalagi bila jumlahnya sangat banyak. Yang penting cukup sah, bukan? Selain itu, mereka ingin mencegah kemungkinan Anda datang, namun mengomel-ngomel akibat kehabisan makanan di meja prasmanan.

2. Mereka ingin pernikahan sederhana dan privat.

Ada yang berprinsip bahwa pernikahan yang sah dan sakral tidak perlu mengundang banyak orang. Meskipun selama ini sering nongkrong bareng mereka, Anda nggak bisa berbuat apa-apa bila nama Anda nggak ikut tercantum di daftar undangan. Mau ngatur-ngatur apalagi mengemis? Janganlah.

Nggak perlu ngambek atau nyinyir. Cukup berbesar hati, apalagi bila masih bisa beli makanan sendiri.

3. Ada prioritas di luar resepsi gede-gedean.

Mungkin mereka memilih menabung untuk membeli rumah atau apartemen sendiri dulu, daripada menggelar resepsi gede-gedean – demi mengundang orang banyak – tapi buntutnya masih tinggal di “Pondok Mertua Indah”. Siapa tahu?

4. Undangan nyasar atau hilang di tengah jalan.

Ayolah, nggak semua orang suka menyebar undangan lewat media sosial. Lagipula, cara lama lebih berkesan dan elegan.

Ini bukan cuma terjadi di novel, lirik lagu, atau film. Selain kasus salah tulis alamat, bisa jadi saat baru pindahan, Anda yang lupa mengabari mereka. (Nah, kalo ini salah siapa?)

5. Mereka…lupa.

Hayo, jangan baper dulu. Ini bisa terjadi bila tadinya kalian sering nongkrong bareng, lama-lama makin jarang akibat ‘kesibukan masing-masing’. Apalagi bila sampai beda kota/negara.

Lama-lama? Wajar tho, bila mereka lupa? Siapa tahu bukan Anda satu-satunya (yang merasa) teman dekat mereka. Siapa tahu ada yang benar-benar mereka anggap teman dekat. Siapa tahu sosok-sosok lain itulah yang ada nggak pas mereka lagi gembira aja dan bikin mereka merasa nyaman.

Jadi, mereka-lah yang diprioritaskan.

6. Anda yang justru selama ini terlalu sibuk.

Sering menolak ajakan nongkrong bareng mereka? Bisa jadi, lama-lama mereka malas mengundang Anda untuk ke acara apa pun…termasuk pernikahan mereka.

7. Kalian tidak ‘sedekat itu’.

Meski pahit, terimalah kenyataan ini. Sering nongkrong bareng hingga curhat-curhatan (apalagi termasuk rajin saling memberi likes pada postingan masing-masing di media sosial) nggak lantas menjamin Anda sedekat itu sama mereka.

Solusinya? Cukup beri mereka selamat yang tulus saat bertemu, tanpa menyinggung-nyinggung: “Kok nggak ngundang-ngundang?” Mungkin mereka merasa perlu menjelaskan, tapi jangan banyak berharap. Belum tentu Anda sendiri siap mendengarkan alasannya. Hehehe… *seringai kejam*

8. Teman baik?

Sebelum menuduh mereka sebagai teman yang nggak peduli, coba cek diri sendiri dulu: sudahkah Anda menjadi teman yang baik selama ini? Mungkin, selama ini ada ucapan atau perbuatan Anda yang nggak bikin mereka nyaman. Namun, mereka malas terus terang. Bisa jadi Anda termasuk sosok mudah ngambekan dan selalu merasa paling benar sendiri, bahkan saat ditegur baik-baik sekali pun.

Tapi, gimana kalo mereka yang ‘bermasalah’? Ya, sudah. Ngapain ngarep undangan mereka? Masih banyak kegiatan lain yang bisa Anda lakukan.

Kecewa boleh, asal jangan kelihatan kayak orang yang minta dikasihani. Hargailah diri Anda sedikit.

9. Kombinasi dari kedelapan hal di atas.

Banyak kemungkinan yang terjadi di sini. Sekian.

Karena inilah, saya agak takut menuduh: “Kok nggak ngundang-ngundang?” Memangnya mereka nggak bakalan kecewa, jika teman yang sudah merengek-rengek minta diundang – buntutnya malah nggak datang? Yang lebih parah, nggak kasih kabar pula.

Buat mereka yang pernah mengundang saya ke pernikahan mereka, terima kasih. Bila saat itu berhalangan, saya mohon maaf.

Bagi yang tidak mengundang? Tenang, saya tidak marah. Saya bahkan tetap mendoakan yang terbaik untuk kalian semua.

Semoga saat giliran saya tiba, tidak ada yang terlewat hingga kecewa akibat undangan tak sampai. Aamiin…

R.