Jangan lancang mengatasnamakan cinta
bila hanya napsu yang ada
dan ego yang selalu bicara
mulut penuh dusta
Dasar bedebah!
R.
Jangan lancang mengatasnamakan cinta
bila hanya napsu yang ada
dan ego yang selalu bicara
mulut penuh dusta
Dasar bedebah!
R.
Andai semua ini adalah mimpi, aku tidak ingin segera bangun. Masih mau terus di sini.
Gelap sekali malam itu, terutama oleh pepohonan rimbun layaknya di taman kota. Jakarta tidak punya ini. Rerumputan kering bergemerisik karena terinjak oleh kaki-kaki kami saat melangkah.
Angin dingin di musim gugur bulan Mei berembus. Brrr…aku menggigil. Kenapa kutinggalkan jaketku di Honda putihnya tadi? Kaos hitam berlengan panjang dan scarf merah tuaku tidak cukup menghangatkan. Kulitku mulai meremang.
Kubuka mulut dan mulai menghirup. Astaga, rasanya seperti berada di dalam kulkas raksasa. Hidungku mengendus aroma rumput kering. Begitu asing. Lidahku juga jadi dingin. Tenggorokanku ikutan kering.
“Lihat.” Abangku menunjuk ke seberang perairan. Kurasakan mataku melebar takjub.
Opera House dan sekitarnya tampak begitu kecil. Lampu-lampu gedung kota yang berwarna-warni begitu kontras dengan Mrs. Macquarie’s Chair yang malam itu minim cahaya, tempatku dan Abangku berada malam itu.
“Kamu baru saja melihat keseluruhan kota Sydney,” katanya. Dia tampak tidak terganggu dengan angin dingin yang berembus, meski hanya berkemeja. Sudah biasa pastinya.
“Wow,” desahku. Entah apa yang harus kukatakan. Yang kutahu, aku telah jatuh cinta. Aku ingin kembali ke sini suatu saat nanti. Secepatnya kalau bisa.
“Sudah kuduga kamu akan menyukainya.”
Kami memang tidak sedarah, tapi aku sering berharap bahwa dia adalah abangku. Sangat lama kami berdua sudah saling mengenal, sampai-sampai dia bisa membaca perasaanku dengan mudah. Bahkan, seringnya sebelum aku berbicara.
Angin masih berembus, namun ada hangat yang menyeruak di hati. Aku tahu, dia sudah bisa menebak ucapanku berikutnya:
“Aku nggak mau pulang.”
Abangku tertawa. Dia menganggapku lucu dan konyol.
“Ya, ampun. Baru juga malam pertamamu di sini.”
Iya juga. Aku tersenyum geli, seiring celotehan samar flying fox di antara pepohonan.
R.
(Jakarta, 5 Juli 2018, pukul 21:00 – 21:30, MacDonald’s, Sarinah-Thamrin – Tantangan Menulis Mingguan Klub Penulis Couchsurfing Jakarta: “Gambarkan satu tempat favoritmu dengan menggunakan lima panca indera”.)
Aku tahu,
aku takkan kurus di bawah kakimu
Tidak ada yang secepat itu
Semua perlu waktu
Kau anggap aku pijakan
Mudah, tinggal kujatuhkan
Mungkin aku kejam
Kau yang mulai duluan
Aku tahu,
kau butuh merendahkan sesama
hanya agar kau tampak istimewa
seakan kau segalanya
Kau anggap aku tak berharga,
namun kau yang lupa berkaca.
R.
“No free lunches.”
Memang, nggak pernah benar-benar ada makan siang gratis. Kalo pun ada, rasanya jarang sekali. Anggap saja itu keberuntungan langka, terutama bagi Anda yang hidup di kota besar.
Mungkin saya terdengar sinis dan seperti kehilangan harapan. Tapi, jangan salah. Ada juga kok, yang beneran ikhlas membantu. Salah satu contohnya seorang teman yang semalam berhasil ‘menghidupkan’ kembali blog ini. Untuk itu, saya hanya mengucapkan banyak terima kasih. Apalagi, syarat darinya hanya satu:
“Teruslah menulis. Kamu udah di jalur yang tepat.”
Beruntunglah saya yang masih dikelilingi teman-teman yang baik ini. Tanpa mereka…ah, sudahlah. Nggak perlu jadi kelewat sentimental begini, dasar baperan! Hehehe…
Mungkin nggak semua seberuntung saya. Ada yang ditawarkan sesuatu oleh seseorang, namun syaratnya berat. Bisa jadi mereka harus membayar sejumlah uang, melakukan sesuatu, hingga mengorbankan waktu dan tenaga. Berbagai kemungkinan itu ada. Berhubung lagi membahas ini, saya penasaran:
Apa yang akan Anda lakukan bila seseorang ingin memberikan sesuatu, namun dengan syarat tertentu yang harus dipenuhi?
Bagaimana pula bila pemberian tersebut sesungguhnya memang sudah menjadi hak Anda, namun mereka menahannya dengan banyak alasan? Apakah Anda akan terus memperjuangkannya, terutama bila memang lagi butuh dan syaratnya nggak begitu berat?
Bagi saya, semua itu tergantung konteksnya. Bila pemberian itu bagian dari kuis, mungkin saya akan mempertimbangkan beberapa hal sebelum memutuskan. Misalnya: manfaat dari hadiah tersebut, persyaratannya tidak berat, hingga waktu dan tenaga yang ingin saya luangkan. Jadi, jawaban saya bisa iya atau tidak.
Namun, bagaimana bila yang mau diberikan sebenarnya sudah hak saya? Bila si pemberi masih aja menetapkan syarat untuk memperolehnya, apakah saya akan tetap memperjuangkannya, terutama bila emang lagi butuh banget dan syaratnya juga nggak berat-berat amat?
Jawaban saya: tidak. Untuk apa, bila sejak awal sudah terlihat jelas bahwa si pemberi hanya setengah hati atau tidak berniat memberikan hak saya? Mungkin ini harga diri yang berbicara. Namun, pada dasarnya, saya memang paling benci dan tidak sudi mengemis.
Berilah bila memang berniat, apalagi yang sudah menjadi hak mereka. Tidak perlu memperpanjang masalah dan membuat mereka susah.
R.
“AKU BERMIMPI MEMBUNUHMU”
Kau tersenyum
Aku kalem
Kau ingin mencium
Kau kupentung
Kau pun berhenti tersenyum
Ah, terlalu keras?
Astaga, kau tewas!
Kenapa aku tampak puas?
Sorot mataku keras
Giliranku menyeringai buas
Matilah kau, tukang selingkuh
Maaf, harus kubunuh
Amarah membuat otak keruh
Matilah, tukang selingkuh
Matilah…
Matilah…
Matilah…
…dan aku terbangun
tanpa senyum…
Aduh.
R.
(Jakarta, 27 Juni 2018 – 12:15)
“PUISI ROMANTIS UNTUK GADIS SKEPTIS”
Aku bukan perempuan romantis. Dulu mungkin iya, sebelum realita mengubahku menjadi sinis. Sebelum luka mengubahku menjadi seorang skeptis.
Bahkan, sejak remaja pun, fantasiku akan hal-hal romantis sudah keburu ‘dibunuh’ oleh cibiran. Mulai dari tubuh gendutku yang selalu dipermasalahkan, dianggap jelek, hingga diprediksi bakal selalu jadi penyebab susah dapat pacar.
“Jangan mau dibodohi rayuan cowok,” kata kakak perempuanku waktu itu. Ironisnya, dia sendiri pencinta lagu-lagu dan film-film romantis. Dia juga paling senang diberi bunga dan dirayu oleh pacarnya. “Itu hanya ada di fiksi.”
Jadilah aku termakan semua ucapan negatif tersebut. Lagipula, sebenarnya dulu aku juga tidak begitu suka dengan konsep pacaran. Untuk apa, sih? Jadinya kayak membatasi pertemanan. Sedikit-sedikit cemburuan. Terlalu banyak aturan.
Lalu, pada akhirnya berantem dan jadi drama. Kemudian putus dan musuhan. Mana masih satu sekolah lagi. Apa enaknya, sih?
Belum lagi kalau cowoknya sakit hati dan memutuskan untuk balas dendam. Misalnya: bikin gosip yang jelek-jelek soal si mantan pacar, bahkan sampai yang tingkat parah seperti: “Dia selingkuh”, “Dia matre”, hingga “Dia gampangan” dan “Eh, dia ‘kan udah nggak perawan lagi, bahkan sebelum sama gue.”
Maka rusaklah reputasi si cewek, bahkan sebelum ada bukti yang kongkrit. (Kalau pun memang benar, apa urusannya dengan seluruh dunia?)
Yang tahan mungkin akan cuek. Yang enggak, tahu-tahu keluar dari sekolah atau diam-diam depresi. Paling parah bunuh diri, seperti yang banyak diekspos di media sosial akhir-akhir ini.
Apa gunanya jatuh cinta kalau akhirnya terluka?
— // —
Aku bukan perempuan romantis. Pada suatu masa, barangkali iya. Puluhan, bahkan mungkin ratusan puisi dan prosa, sudah pernah kutulis atas nama cinta. Meskipun demikian, pada kenyataannya, aku tetap seorang lajang yang begitu takut memberi kesempatan pada cinta.
Di sinilah, mereka mulai menyalahkanku. Mengapa aku hanya termangu, tanpa sekali pun berusaha maju? Takut patah hati menjadi alasan basiku.
“Dari mana kamu tahu kalau belum pernah sekali pun mencobanya?”
“Jatuh cinta boleh, tapi tetap harus pakai otak! Hati-hati.”
Ah, sesederhana itukah? Buktinya, aku jadi serba salah. Terlalu hati-hati dibilang kelewat pemilih dan pengecut. Giliran mengambil risiko terus gagal, daftar hinaan bertambah. Mulai dari dianggap kurang hati-hati, kegeeran, sama desperate dan…nggak pake otak.
Begitu pula bila cowok yang kusukai mereka anggap ‘di bawah standar’:
“Nggak ada yang lain?”
Giliran sebaliknya:
“Yakin dia beneran suka sama kamu? Jangan-jangan hanya manfaatin kamu doang.”
Maka kamu tahu jadinya aku seperti apa. Aku kembali ragu. Maju-mundur. Makanya, pada akhirnya semua cowok yang kusukai selalu pergi. Mungkin ini terdengar cengeng, tapi inilah kenyataannya. Aku tidak tahu cara membuat mereka mau tinggal. Aku juga tidak mau memohon. Gengsi. Apa kabar harga diri?
Tanpa kusadari, lama-lama semua tulisanku berubah muram, kering, dan basi. Lebih banyak kisah patah hati dan dendam kesumat (kepada mereka yang dianggap menyakiti dan cari mati). Banyak juga kisah bunuh diri karena depresi.
Aku tidak romantis lagi. Lama-lama tulisanku mulai sering dikeluhkan pembaca: terlalu gloomy.
— // —
Aku bukan perempuan romantis. Dulu pernah, meski hanya sebentar. Habis itu, tidak lagi.
“Kutunggu kamu, cinta
Bagai lelaki menanti pengantinnya…”*
Apa maksudnya itu? Kamu mengirimiku puisi dengan dua bait itu sebagai sebagian isinya, tanpa penjelasan apa-apa. Apakah kamu sedang mencoba melamarku? Astaga, kamu bahkan belum kukenalkan pada Ibu.
Kita bahkan belum pernah sekali pun bertemu. (Maaf, Sayangku. Video chat tidak dihitung.) Masih kurang, karena kita belum pernah berinteraksi di dunia nyata, saling melihat bagaimana masing-masing di keseharian, dan semacamnya.
Mengapa dua bulan lalu kuputuskan untuk menerima ajakanmu membina hubungan jarak jauh ini?
Ada teman-teman yang lagi-lagi menyarankanku. Cobalah. Siapa tahu kali ini kamulah laki-laki baik yang memang untukku, jodohku.
Ya, aku percaya kamu laki-laki baik. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, ada laki-laki di luar sana yang membuktikan mereka salah. Aku pun cantik, berharga, dan patut dicintai. Sejak awal, kamu bahkan tidak takut atau gengsi untuk jujur mengenai kekuranganmu sebagai manusia.
Namun, apakah lantas aku bisa langsung jatuh cinta padamu dan menjawab ya, aku akan mengikutimu ke mana pun kau pergi? Apakah aku akan senaif itu, lalu tega meninggalkan keluarga dan melupakan aturan agama?
Aku mungkin mulai sayang padamu, namun akalku masih menjejak di bumi. Kita masih harus bertemu. Masih banyak yang harus kita bahas.
Mungkin, ada untungnya juga aku bukan perempuan romantis lagi. Aku jadi lebih hati-hati.
Semoga kamu serius. Aku muak kembali merasa (di)bodoh(i).
Mungkin, bila memang kamu orangnya, setelah ini aku bisa kembali menulis sesuatu yang romantis…
– Selesai –
(Jakarta, 4 Februari 2018)
“ATAS NAMA DENDAM”
1001 alasan kau kemukakan
atas nama dendam
yang penting ada pembalasan
agar dia selalu terkecam
“Dia bajingan.
Dia pikir dia pujaan.
Kenapa tidak mati saja?
Aku ingin bahagia.”
1001 alasan dan pemakluman
banyak pembenaran
kau terluka
harusnya dia juga
mata dibalas mata
semakin panas api angkara
bukan, bukan cahaya
semuanya buta…
R.
(Jakarta, 26 Juni 2018 – 15:30)
“TENTANG TUKANG SELINGKUH DAN KORBAN-KORBAN MEREKA”
Apa pun alasannya, dari dulu saya memang paling nggak tahan sama tukang selingkuh. Apalagi yang dengan bangganya memamerkan korban-korban mereka yang sama sekali nggak tahu apa-apa. Kayak piala aja.
Entah kenapa, masih banyak yang menganggap tukang selingkuh itu juara – apalagi yang wajahnya dianggap rupawan (cantik buat cewek atau ganteng buat cowok). Bahkan, banyak yang nggak segan-segan malah ‘mengamini’ perilaku mereka yang justru malah jauh banget dari kata ‘rupawan’.
“Ooh, karena sadar dia ganteng / cantik sih, makanya selingkuh. Coba kalo jelek, nggak tau diri namanya.”
Mereka nggak sadar, pujian menyesatkan maca itu (meski mungkin maksudnya bercanda, meski menurut saya norak!) justru malah menyuburkan perilaku menyakitkan bernama selingkuh. Menyakitkan? Ya iyalah, buat korban-korbannya! Mereka juga rakus, sih. Karena satu aja nggak cukup, mereka sampai harus ambil jatah orang lain.
Selain itu, ucapan tersebut juga dapat menimbulkan stigma bagi mereka yang dianggap berparas rupawan. Ada yang langsung dicurigai sebagai player. Ada juga yang meski jelas-jelas sudah berpasangan, masih dideketin dan dirayu-rayu juga sama yang lain.
Harapan mereka? Tentu saja agar yang dirayu dan dideketin mau-mau aja diajak selingkuh. Apalagi kalo kebetulan mereka juga punya rasa percaya diri yang sangat rendah, sehingga harus selalu dikagumi banyak orang.
Mau pelakunya laki-laki atau perempuan, menurut saya sama saja. Menyebalkan! And please, jangan bawa-bawa istilah ‘pelakor’ (perebut laki orang) yang norak itu. Kesannya hanya perempuan pihak yang bersalah, sementara laki-laki nggak berdaya menolak rayuan.
Nggak berdaya? Bah, lucu! Banyak juga perempuan yang nggak sadar telah dipermainkan, lalu langsung ditumbalkan dengan tuduhan ‘penggoda’ saat affair terkuak dan tercium pasangan sah (istri), sementara laki-laki yang berulah berlagak setia. Padahal, cadangan mereka di mana-mana. Benar-benar perilaku pengecut dan nggak bertanggung jawab!
Brengsek banget, ‘kan? Berarti tidak semua yang disebut ‘perempuan idaman lain’ atau apalah namanya yang menjadi biang keladi perselingkuhan. Bisa jadi selama ini mereka emang beneran nggak sadar udah ditipu mentah-mentah (bahkan sampai busuk pula) sama laki-laki yang mengaku cinta dan ingin setia hanya sama mereka. Bah!
Lalu, bagaimana dengan korban perselingkuhan? Selain patah hati, merasa tolol karena udah (di)bodoh(i) dengan sedemikian rupa, bersalah, jelek, nggak cukup baik, marah, dan benci – bisa jadi mereka malah sulit percaya cinta lagi. Emang tukang selingkuh peduli? Kebanyakan malah 11-12 sama psikopat / sosiopat sejati!
R.
“CINTA DARI MATA YANG DINGIN DAN MATI”
Kubaca ucapan manismu di layar
Cukup sudah kutersadar
Kau pasti berharap di sana
di tempat dia selalu berada
Dia mulai terbuai di angkasa
Dia sudah jatuh cinta
Kau pasti rajin bercerita
semua fantasimu tentangnya
Tidak, aku tidak mendendam
Murka telah kupendam
Suka-sukalah kau dengannya
Jangan sakiti dia – atau dia akan merana
Semoga hanya aku yang dikhianati
namun kau memang gemar bermain hati
Kau senang dapat banyak perhatian
Tapi bagiku, kau gampangan
Inilah cinta,
dari mata yang dingin dan mati
fantasi, penuh dusta sejati
Kuyakin kau akan segera bosan
tinggalkan dia dengan air mata tergenang
Kau rancukan cinta dengan senggama
penyihir kejam dengan mantar berbahaya
Tunggulah dinginnya balasan sempurna
Kau akan selamanya terluka!
R.
(Jakarta, 22 Juni 2018 – 20:30)
“POPMAMA.COM: Media Digital untuk Para Mama Generasi Milenial”
Belum jadi mama, tapi udah suka baca artikel tentang parenting, terutama buat para ibu? Kenapa enggak? Itulah yang saya lakukan, terutama demi kepentingan riset tulisan. Salah satunya, tentu saja, adalah membaca artikel konten dari media digital bernama PopMama.
Apa yang menarik dari media digital yang cocok untuk para mama generasi milenial ini? Yuk, kita ulik satu-persatu:
1.Desain website PopMama.
Meskipun tampil dengan konsep feminin dan lembut demi mendukung karakter sosok mama atau keibuan, nggak ada kesan kaku di sana. Malah sesuai dengan kata ‘pop’ yang diusung brand ini. Warnanya juga segar, jadi semakin enak dipandang.
Latar putihnya bikin tulisan artikel konten PopMama mudah dan enak dibaca. Bila ‘adik’-nya, PopBela, dikombinasikan dengan warna merah, maka PopMama pakai warna ungu yang lembut.
2.Konten-konten PopMama.
Menjadi mama pasti sibuk sekali. Bahkan untuk mama yang paling suka membaca sekali pun, meluangkan waktu untuk melirik barang satu-dua artikel saja mungkin sudah sulit. Nggak hanya si kecil, bahkan papa pun minta perhatian mama.
Karena itulah, konten-konten PopMama cocok sekali untuk dibaca Mama yang super sibuk. Ringkas, padat, dan tidak terlalu bertele-tele. Tiap artikel membahas topik seputar kebutuhan mama, entah dalam mengurus keluarga maupun merawat diri.
3.Desain hurufnya enak dilihat.
Berhubung nge-pop dan untuk para mama generasi milenial, PopMama juga perhatian sama desain hurufnya. Harus yang enak dilihat, biar mama nggak pusing bacanya. Apalagi bila harus berlama-lama menatap layar ponsel atau laptop Mama. Belum lagi bila mata Mama lelah karena bergadang menjaga si kecil yang sedang tidak enak badan.
Terus, apa lagi ya, yang seru dari PopMama?
4.Banyak artikel konten pilihan yang mewakili kebutuhan mama di PopMama.
Mama baru punya anak pertama dan jadi orang tua? Pastinya ada rasa deg-degan dong, ya. Jangan khawatir. Selain bisa tanya-tanya sama para mama lain yang sudah lebih berpengalaman, Mama juga bisa baca-baca artikel konten di PopMama.
Si kecil sedang sakit atau mogok makan? Ada juga tips cara menanganinya. Mama juga selalu diingatkan untuk tetap menjaga kesehatan tubuh dan merawat penampilan diri. Kalau bukan Mama, siapa lagi? Dengan tubuh sehat dan penampilan yang enak dilihat, Mama pasti lebih merasa nyaman dan makin bahagia dengan diri sendiri. Ingat, bila Mama happy, keluarga juga ikutan happy.
Ada juga kisah-kisah nyata tentang keluarga lain. Ada yang bahagia, ada yang bikin sedih. Nah, semoga kisah-kisah yang sedih tidak ikut bikin Mama sedih. Semoga Mama tidak perlu mengalami masalah yang sama dan tetap berbahagia dengan keluarga Mama.
Setelah itu, masih ada nggak ya, kelebihan PopMama lainnya? Oh, ternyata masih ada lagi, yaitu:
5.Tiga (3) fitur / tools andalan PopMama.
Apa sajakah ketiga (3) fitur atau tools tersebut?
PopMama memang media digital sahabat untuk para mama generasi milenial.
R.