Categories
#catatan-harian #CSW-Club #fiksimini #menulis

Bukan Kulkasku

Gambar: Kulkas siapa?

Aku tak punya kulkas.

Sejak pindah rumah untuk ngekos sendirian enam tahun lalu, aku tak pernah punya kulkas sendiri. Kulkas di kosan ada sih, meskipun kulkas bersama. Nama kerennya, kulkas komunal. Sama dengan dapur yang mau nggak mau harus berbagi. Ya, gantian masaknya dan kadang harus menahan murka saat ada yang lupa – atau memutuskan – untuk nggak cuci piring sehabis makan.

Selama enam tahun terakhir, aku sudah dua kali pindah kosan. Keduanya sama-sama punya satu dapur dan satu kulkas. Ada juga PRT yang dipekerjakan khusus cuci-gosok pakaian. (Untuk mencegah salah paham dan tuduhan, kamar penghuni tetap wajib dibersihkan oleh masing-masing penyewa. Kalo mau pakai jasa PRT, ya harus bayar ekstra.)

Oke, balik lagi ke soal kulkas.                   

Jujur, sebenarnya aku kurang merasa nyaman harus berbagi kulkas dengan orang asing. Di rumah keluargaku, sebenarnya aku sudah terbiasa berbagi kulkas dengan banyak orang. Di sini, aku harus siap menghadapi berbagai kemungkinan seperti ini:

  • Nggak kebagian tempat, gara-gara ada anak kos lain yang memonopoli isi kulkas. Mending isinya bakal mereka habiskan semua tiap bulan. Ini malah suka mereka biarkan mengendap sampai busuk. Hiii…
  • Kecurian bahan makanan yang sudah kamu beli dengan uangmu sendiri. Entah ada yang salah ambil, emang niat mengutil, pokoknya yang mungkin merasa bahwa “kulkas komunal berarti isinya milik bersama”. Padahal bungkus makanannya sudah dikasih nama. Yaaa…nggak gitu juga kali, Bambaaang!
  • Tergoda untuk mengutil makanan orang di kulkas di akhir bulan. Nah, ini bisa aja terjadi, terutama bila kebetulan kamu sudah keburu jatuh miskin di akhir bulan. Menunggu gaji cukup menyiksa, meskipun tidak seperti menunggu Rangga…eh, purnama…

Nah, aku termasuk yang mana, ya?

Kebetulan, aku termasuk yang paling jarang memakai kulkas. Bukan apa-apa, awal ngekos aku lebih banyak di luar rumah. Paling aku hanya sempat sarapan dan makan malam. Itu pun, makan malamnya juga nggak selalu di kosan, apalagi saat lembur di kantor.

Lalu, berbagai cobaan sempat mengubah alur hidupku selama jadi anak kos di Jakarta. Mulai dari kehilangan pekerjaan, terkena pemotongan gaji, hingga pernah menunggak utang hingga nyaris diusir dari kosan. Entah kenapa, alih-alih pulang kembali ke rumah Ibu, aku memilih bertahan.

Tahun 2020 ini, pandemi virus Corona kembali memaksaku untuk tidak banyak keluar rumah. Pastinya, aku lebih banyak meluangkan waktu di kosan berkat kebijakan WFH (work from home) dari kantor. Hmm, tapi sepertinya aku tetap sulit menggunakan kulkas bersama. Bukan aku satu-satunya penghuni kos yang terpaksa bekerja dari rumah.

Isi kulkas di kosanku ini masih tetap sama: penuh selalu. Ada berkantong-kantong daging beku nugget di deretan teratas, telur, mentega, margarin, bumbu-bumbu, sayuran, daging, buah-buahan, minuman botol, minuman kaleng, sama entah apa lagi. Aku selalu telat kebagian tempat di dalamnya. Mau tak mau, solusiku dari dulu hingga kini tetap sama:

  • Makan di warung sebelah. Lumayan, nggak perlu cuci piring.
  • Menerima makanan kering buatan Ibu, seperti abon dan teri kacang.
  • Menyisipkan sebagian kecil simpananku, seperti yogurt dan telur. Kadang juga ada cokelat batangan favoritku.

Setelah itu? Harapanku tetap sama: semoga nggak ada yang memutuskan untuk mengambil makananku dan semoga aku nggak tergoda mengambil yang bukan hakku saat sedang sulit.

Sekian.

R.

(Dari Tantangan Menulis Mingguan Online Klub Menulis Couchsurfing Jakarta, 16 Juli 2020. Tema: “Apa isi kulkasmu?”)

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Bukan (Selalu) Dendam

Foto: https://unsplash.com/photos/YpFtdLBNIvo

Bukan (Selalu) Dendam

Setiap salah jangan dianggap lumrah.

Bukan wajar, hingga korban diminta sabar.

Lelah diharap mengalah,

sementara yang salah makin kurang ajar.

Terlalu dangkal kau menyebutnya dendam.

Tidak bila sudah terlalu banyak.

Lama-lama korban pasti muak.

Jangan beri peluang.

Pelecehan tak boleh dibiarkan.

Jangan curang,

masih merasa berhak atas kebaikan,

sesudah korban terus kau hina-hina

sedemikian rupa.

Silakan.

Sebut ini dendam,

tapi mereka berhak atas keadilan,

sementara macam kau melenggang pongah,

lebih menjijikan daripada muntah!

R.

Categories
#catatan-harian #lomba #menulis

ASUS VivoBook S14 S433

Windows 10 Hello

ASUS VivoBook S14 S433 Untuk yang Ekspresif dan Berani Jadi Diri Sendiri

Di usia 38 ini, saya bersyukur sudah cukup merasa nyaman jadi diri sendiri. (Ya, sebagai perempuan, saya tidak takut memberitahu usia saya.) Sebagai seorang penulis dan penerjemah lepas – serta pengajar kursus Bahasa Inggris paruh waktu, saya menikmati hidup saya.

Sejak masa pandemic Covid-19, saya semakin menyadari pentingnya laptop untuk pekerjaan sehari-hari. Nah, sebagai pekerja digital dengan spirit “Dare To Be You”, pastinya senang dong, kalau saya punya laptop yang juga mengusung semangat yang sama.

Salah satu laptop yang cocok buat spirit saya ini ya, ASUS VivoBook S14 S433. Meskipun sempat ketinggalan peluncuran resmi produk ini pas tanggal 8 Mei 2020 kemarin di Facebook secara live oleh ASUS Indonesia, saya tetap penasaran dan memutuskan buat mengecek lebih lanjut.

Meskipun bukan termasuk Gen-Z, saya rasa saya masih berhak untuk bebas berekspresi. Nggak sok jaim gitu, hehe. Apalagi, melihat empat (4) pilihan warna ASUS VivoBook S14 S433 yang keren, trendi, dan stylish saja sudah bikin saya makin tertarik. Ada Indie Black, Gaia Green, Dreamy Silver, dan Resolute Red.

Desain dan Spesifikasi ASUS VivoBook S14 S433

Jadi, seperti apa sih, desain dan spesifikasi laptop ASUS VivoBook S14 S433?

Tampilan luarnya berbalut form factor Clamshell dan bermaterial aluminum alloy. Materialnya berdimensi 32.4 x 21.3 x 1.59 cm. Bobotnya adalah 1,41 kg. Bobot charger laptop ini adalah sekitar 200 gram. Makanya, laptop ini sangat ringan dan mudah dibawa ke mana-mana. Tas laptopnya juga kuat, jadi tidak akan mudah jebol.

Tidak hanya itu, lho. Laptop ini punya tombol Enter beraksen warna kuning. Jadi, kita tidak perlu lagi pusing mencari-cari di antara deretan tombol lainnya, karena sudah langsung kelihatan beda sendiri. Aksen warna kuning ini diberi nama ‘Yellow Gen-Z’. Keren, ya?

Keyboard-nya sendiri juga resisten terhadap percikan air. Jadi, nggak perlu panik saat keyboard kecipratan minuman favoritmu yang nyaris tumpah di atas meja. (Tapi ya, jangan sengaja juga mengguyurnya sekalian!)

Layar laptop ini 14 inci, sehingga gambarnya cukup besar dan jelas untuk dilihat. Prosesor 10th Gen Intel Core juga hemat daya, sehingga baterainya tidak cepat habis. Bahkan, baterainya bisa bertahan hingga 11 jam 45 menit. Bila sambil mengakses Google Chrome, produk ASUS ini bisa bertahan hingga sembilan jam 40 menit.

Selain itu, laptop ASUS VivoBook S14 S433 juga mempunyai beberapa fitur canggih yang bisa mempermudah kinerja penggunanya setiap hari, seperti:

  1. Sensor fingerprint.

Salah satu masalah menyebalkan yang dialami pengguna laptop adalah kata kunci login yang suka terlupakan hingga harus diganti secara berkala bila terlanjur di-hack. Nah, dengan adanya sensor fingerprint, masalah di atas bisa dihindari, lho. Kok bisa?

Laptop ini punya fitur Windows Hello. Login jadi lebih mudah, karena ada sensor sidik jari ini. Bahkan, penggunanya bisa memasang foto login dengan Windows Hello.

  • Teknologi fast charging.

Seberapa cepatkah baterai laptop ASUS VivoBook S14 S433 dapat terisi kembali? Hanya dalam waktu 40 menit, baterai sudah bisa terisi 50%. Wuiiih, berarti kira-kira hanya butuh satu jam 20 menit untuk mengisi penuh baterai laptop ini.

Jadi, tidak ada lagi acara menunggu lama sebelum bisa menggunakan laptopnya kembali. Pekerjaan masih banyak. Selain itu, memakai laptop dengan baterai terkoneksi ke kontak listrik juga bukan kebiasaan hemat energi.

  • Backlit keyboard.

Pernah harus bekerja di bawah penerangan temaram? Duh, semoga nggak keseringan, ya. Soalnya tidak bagus juga buat kesehatan mata. Fitur backlit keyboard ini bukan buat gaya-gayaan saja, lho. Tiap tombol keyboard jadi terlihat lebih jelas dengan adanya fitur ini, meskipun latarnya gelap.

Andai saya punya laptop ASUS VivoBook S14 S433, maunya sih, yang berwarna Resolute Red yang sesuai dengan nama saya, Ruby. Selain itu, pekerjaan saya sebagai penulis dan penerjemah lepas serta pengajar kelas online pasti juga akan lebih lancar.

ASUS VivoBook S14 S433 yang terbaik untuk Generasi Z yang ekspresif dan berani jadi diri sendiri.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Diam!

“………. -”

Apa?

“……………….. –”

Apa katamu?

“………………………… —”

Kamu tak bersuara.

“…………………………………. —-”

Apa yang hendak kamu bicarakan?

“………………………………………….. —–”

Kamu ngambek, ya?

“……….-“

Ah, kamu tak jelas maunya—

KAU YANG TAK PUNYA TELINGA!

KAU YANG BANYAK BICARA!

KAU LEBIH DENGARKAN MEREKA!

AKU SUDAH BERUSAHA,

TAPI KAU TERMAKAN FITNAH MEREKA!

BAH!!

KAU ANGGAP AKU CARI PERHATIAN,

MAHLUK BAPERAN!

PEDULI SETAN!!

SEKARANG DIAM!!!

DIAAAM!!!!

………………..

…..Diam (ssst…..)

Diam…..dan dengarkan.

Sekarang giliranku bicara.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

3 Jenis Manusia yang Percuma Kalo Didebat di Media Sosial

3 Jenis Manusia yang Percuma Kalo Didebat di Media Sosial

Era pandemi Covid-19 sepertinya bakalan berlangsung lebih lama dari harapan banyak orang. Meskipun banyak yang sudah keluar rumah menyambut “New Normal” (atau terpaksa), masih banyak juga yang lebih memilih swakarantina atau isolasi mandiri. Berhubung lagi nggak bisa banyak interaksi dengan orang di dunia nyata, maka media sosial lagi-lagi jadi pelarian.

Oke, kita semua udah tahu kalo media sosial selalu rentan jadi ajang debat. Kadang bisa nemu solusi dari masalah yang lagi diributin, tapi seringnya lebih banyak adu pendapat. Termasuk adu pinter-pinteran dan saling julid sampai Lebaran terasa bak hanya numpang lewat.

Males dan capek saat berdebat, padahal niatnya hanya mau berbagi pendapat? Biar hemat tenaga, pikiran, dan kewarasan, ini dia tiga (3) jenis manusia yang percuma kalo didebat di media sosial:

Foto: unsplash.com
  • Yang hobi nyinyir: “Kalian gak bisa nerima perbedaan pendapat, ya? Gak asik!”

Jangan ketipu dan langsung jatuh kasihan dulu dengan mereka yang pake argumen penutup ini saat kalah berdebat di media sosial. Jika mereka memulai debat dengan cara santun seperti: “Maaf, kayaknya kurang setuju dengan opini kamu karena…” masih wajar bila kemudian mereka sakit hati saat dibantah.

Tapi, siapa sih, yang gak kesel kalo dari awal niatnya emang udah nyerang duluan atau ngotot minta pendapatnya langsung diiyain? Misalnya: seorang blogger posting tulisannya tentang keperawanan dari segi medis, eh netizen malah ada yang langsung menuduhnya mengajak pembaca untuk berhubungan seksual sebelum menikah? Siapa yang nggak naik pitam, coba? Apalagi bila si netizen belum tentu baca tulisan si blogger sampai habis.

Tuduhan tipikal pengguna ad-hominem saat debat ini lagi banyak dipake nih, di media sosial. Niatnya sih, mau bikin yang nggak sepaham sama mereka untuk merasa bersalah dan minimal minta maaf. Sayang, usaha gaslighting mereka gagal. Yang ada, mereka malah terdengar seperti ini:

“Lo harus mau terima pendapat gue dong, meski beda.” Ehh, kok maksa? Terima fakta setiap orang beda pendapat bukan berarti Anda otomatis akan langsung dibenarkan. Jangan suka main standar ganda-lah!

  • Si tukang nuduh: “Kok mainnya nyerang / menggeneralisir?”

Ini kebiasaan buruk mereka yang doyan amat pake argumen #tidaksemualakilaki setiap kali ada yang membahas kasus kekerasan seksual terhadap perempuan. Sama juga dengan yang kemaren hobi teriak-teriak #alllivesmatter sebagai balasan untuk #blacklivesmatter.

Kenapa sih, kayaknya pada takut amat dituduh sebagai pemerkosa, padahal faktanya pelaku kekerasan seksual kebanyakan laki-laki? Bahkan, pelaku kejahatan ini yang kebetulan laki-laki juga mengincar korban laki-laki. Kalo memang mengaku baik, harusnya bisa dong, nggak hanya pake argumen basi #tidaksemualakilaki terus-menerus tanpa benar-benar melakukan sesuatu. Gak usah kesinggung.

Sama halnya dengan kampanye #blacklivesmatters terkait video penyiksaan George Floyd, laki-laki berkulit hitam, oleh petugas polisi berkulit putih di Minneapolis, Amerika Serikat kemarin. Coba, memangnya ada yang bilang bahwa hanya karena kampanyenya #blacklivesmatter, berarti nyawa orang lain, seperti kulit putih atau saya yang sawo matang, jadi kalah penting?

Faktanya, warga kulit hitam (termasuk saudara-saudari kita di Papua) banyak yang masih mengalami diskriminasi. Nggak hanya berupa kekerasan fisik. Mau masuk mal saja suka ditanya-tanya satpam lebih lama. Ada juga yang dengan tega menyebut mereka dengan nama binata…ah, sudahlah.

Coba cek kembali deh, privilege Anda, sebelum nuduh kalo hanya karena mereka dibela, lantas hak-hak dasar Anda sebagai manusia akan otomatis terpinggirkan. Nggak semua hal harus dipandang se-biner itu, kali. Parno amat.

  • Yang doyan ngambek: “Iya deh, kamu selalu benar. Orang lain selalu salah.”

Ini lagi yang makin terdengar seperti anak kecil. Namanya juga debat. Dalam perdebatan, pasti ada yang argumennya kuat dan ada yang lemah. Kalo masih mutusin bahwa ya, boleh setuju untuk nggak selalu sependapat, ya nggak masalah.

Lain cerita kalo dari awal niat mendebat adalah memaksa mereka agar sependapat dengan Anda. Begitu enggak, eh…Anda malah ngambek kayak anak kecil dan lantas bilang: “Iya deh, kamu selalu benar. Orang lain selalu salah.” Coba, siapa yang gak ogah meladeni kalo respon Anda udah kayak gitu? Gak beda sama nomor satu, Anda berusaha bikin mereka merasa bersalah dengan playing victim begitu.

Nah, ini dia tiga (3) jenis manusia yang percuma kalo didebat di media sosial, karena intinya dari awal mereka memang udah gak mau sepakat. Gak hanya itu, mereka juga keukeuh orang lain harus seiya sekata sama mereka. Daripada waktu, tenaga, sama kewarasan terbuang percuma, mending cuekin aja.

Moga-moga Anda juga bukan termasuk di antara mereka, ya. Semoga Anda sudah termasuk yang lebih dewasa.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Tentang Topeng-topeng Lama

Tak perlu masker pelindung dari Corona,

masih banyak pengguna

topeng-topeng lama

sembunyi cacat di jiwa.

Kini mereka bisa

jadi siapa saja

dari aktivis hingga pemuka agama

bersama pendengar dan pengikut buta.

Mereka tampak baik luar biasa,

tiada cela di mata,

halus tutur bahasa,

rapi atur perilakunya.

Biar, biarkan saja

bermain peranlah mereka

dengan topeng-topeng lama

ilusi sempurna untuk dunia

berharap puji-puja

seakan mereka bersahaja.

Hanya Tuhan,

para korban

mata-mata awas

melihat sisi culas

di balik topeng-topeng lama

yang merapat, kian menyatu dengan wajah.

Tak rela kehilangan penggemar,

namun menipu tanpa malu.

Suatu saat,

semua topeng mereka akan retak.

Habis sudah siasat!

R.

Categories
#catatan-harian #menulis

3 Alasan Saya Ogah Meladeni Internet Troll

Puasa nggak puasa, mereka selalu ada. Sial memang. Mulai dari sekadar kasih komentar jelek, menghina, hingga yang asli gak nyambung dengan yang lagi dibahas di postingan. Tujuannya?

Ya, bikin rame aja. Mungkin para internet troll itu kurang kerjaan (atau malah enggak punya kerjaan.) Mungkin mereka sadar kalo di dunia nyata, mereka sebenernya bukan siapa-siapa maupun apa-apa.

Bisa jadi internet troll ibarat macan ompong di dunia nyata. Hanya bernyali di dunia maya, tapi bungkam 1000 bahasa di dunia nyata. Makanya, inilah tiga (3) alasan saya sekarang sudah ogah meladeni internet troll:

  • Buang-buang waktu, tenaga, dan kewarasan diri sendiri.

Apa yang bisa didapat dari para internet troll dari melecehkan user lain di dunia maya? Rasa puas karena telah berhasil bikin orang lain kesal, merasa terganggu, hingga tidak tenang. Setidaknya, meski sementara, mereka bisa menikmati ilusi perasaan berkuasa.

Terus Anda dapat apa dari hanya meladeni mereka? Rasa marah, waktu yang terbuang percuma? Terganggunya kegiatan lain Anda di dunia nyata?

Yang pasti, lebih banyak ruginya. Paling parah, Anda malah juga bisa ikutan gila. Nggak mau, ‘kan?

Memang benar, ada kalanya yang waras sebaiknya mengalah…

Foto: unsplash
  • Internet troll sering sok berahasia.

Kalo diperhatiin, internet troll kebanyakan nggak berani pakai akun asli. Iyalah, mana mau mereka balas diincar sama korban pakai UU ITE.

Kalo pun pake akun asli, biasanya akunnya mereka set jadi private. Alasannya sih, biar akun mereka nggak gantian diserang netizen lain sesudah mereka bebas ‘nyampah’ di akun orang lain, tanpa rasa bersalah pula. Boleh saja bilang mereka curang.

Buat internet troll, itu namanya cari aman.

Jadi, ngapain pula terus nanggepin mereka, apalagi sampai buang-buang waktu berharga Anda? Mau report mereka juga percuma, karena mereka bisa ganti akun kapan saja. (Bahkan, kalo emang asli kurang kerjaan atau gak punya kehidupan lain yang lebih menyenangkan di dunia nyata, mereka bisa punya akun ganda di berbagai platform.)

Solusinya? Tinggal blokir terus-terusan kalo perlu.

Gambar: brilio.net
  • Internet troll rata-rata hanya ingin pansos (panjat sosial).

Banyak cara kilat buat jadi terkenal, tapi mereka lebih sering memilih yang negatif. Gak hanya asal kasih komen negatif di laman orang lain.

Kadang mereka juga sengaja bikin status kontroversial di media sosial. Tujuannya tentu saja hanya untuk caper (cari perhatian). Semakin banyak komentar berupa cacian yang mampir di laman mereka, jadinya semakin viral, deh.

Bahkan, mereka bakalan tambah senang bila konten sampah mereka sampai di-reshare / retweet / reupload. Intinya, mereka makin banyak dikenal tanpa perlu bersusah payah.

Nah, kalo udah gini, yang rugi siapa? Belum tentu juga mereka. Yah, setidaknya mereka nggak merasa. ‘Kan tujuan utama mereka hanya minta perhatian di dunia maya, berhubung di dunia nyata mungkin mereka merasa dianggap bukan siapa-siapa. Gak penting.

Makanya, sekarang saya sudah malas meladeni internet troll. Lebih baik cari kegiatan lain saja yang jauh lebih penting dan bermanfaat.

Lagipula, saya sibuk.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Jeda yang Terlalu Lama

Rasanya seperti menonton film di sinema

dengan proyektor kuno seadanya

18 frame per detik,

setiap adegan lamban, namun menggelitik.

Urusan tertunda.

Jadwal tinggal wacana,

meski ada yang berubah.

Demi aman, kata mereka,

banyak yang harus mengalah.

Dalam jeda yang terlalu lama,

apakah kamu baik-baik saja?

Apakah kamu sama sepertiku,

memeluk rahasia di balik pintu?

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #tips

“2 Nilai Filosofis Catur Ini Sebenarnya Bagus untuk Kehidupan Sehari-hari”

Jujur, saya paling payah dalam bermain catur. Entah karena nggak minat atau dulu malas menghapal banyak aturan buat tiap pion, pokoknya ini bukan olahraga favorit saya. Almarhum ayah sempat sampai frustrasi saat mengajarkan cara bermain catur.

Tapi, saya tetap suka dengan dua (2) nilai filosofis dalam permainan papan yang populer ini. (Sampai di universitas Rusia ada Jurusan Catur segala!) Apa saja, sih?

  • Harus berpikir setidaknya tiga langkah ke depan.

Ini alasannya banyak pemain catur profesional yang kelihatan cerdas sekaligus bijak. Ada juga sih, yang menganggap mereka terlalu banyak berpikir dan menganalisa segala sesuatu – sehingga jarang bertindak langsung atau spontan.

Sebenarnya, mereka cenderung sangat teliti dan lebih berhati-hati sebelum mengambil keputusan final. Makanya, keputusan mereka untuk melangkah atau melakukan sesuatu bisa memberi mereka lebih banyak waktu dan peluang untuk memenangkan pertandingan.

Dalam kehidupan sehari-hari, berpikir panjang sebelum berbuat sebenarnya bisa jadi pangkal selamat. Anda tidak akan terlihat seperti orang bodoh hanya karena kesalahan sepele. Anda juga penuh pertimbangan dan peduli bahwa keputusan Anda juga bisa mempengaruhi orang-orang sekitar, terutama yang terdekat.

  • Hanya bersuara saat bilang: “Skakmat!”

Memang sih, hal ini hanya berlaku saat pertandingan catur. Kalau hanya main biasa, pasti sesekali Anda masih mengobrol dengan lawan Anda.

Permainan ini memang membutuhkan konsentrasi tingkat tinggi, terutama saat berstrategi. Kalau teerus-terusan diajak ngobrol selama bermain, alamat isi kepala bisa buyar seketika. (Kecuali kalau ini taktik lawan untuk bikin Anda kehilangan konsentrasi. Untuk saat pertandingan betulan nggak boleh kayak begini, hihihi…)

Selain itu, kita bisa mempraktikkan strategi semacam ini dalam kehidupan sehari-hari. Tahu sendiri ‘kan, masih banyak manusia yang kerjanya omong doang, padahal belum tentu ada maknanya? Alih-alih bikin diri mereka kelihatan pintar, yang ada malah membuka aib sendiri.

Makanya, yang tidak banyak bicara belum tentu tidak percaya diri. Bisa jadi malah sebaliknya, karena mereka merasa tidak perlu bercerita segalanya kepada semua orang.

Mau jadi pemain catur profesional, sekaligus pribadi yang lebih bijak? Yang pasti butuh kendali diri lebih baik, disiplin, dan dedikasi. Kalau masih membiarkan diri sendiri dikendalikan ego, pastinya nggak mungkin bisa, sih.

R.

Categories
#catatan-harian #menulis #puisi

Suatu Hari Nanti

Sayangku, jangan bersedih.

Saat ini, anggap kita sedang diuji

banyak hal, termasuk untuk mandiri.

Berani berkawan dengan sepi,

meski kadang sesak oleh sedih.

Sayangku, simpanlah semua rindu

hingga nanti kita bertemu

tanpa takut akan virus itu

atau apa pun yang mirip hantu.

Hanya kau dan aku,

kembali bersatu.

Hingga saatnya nanti,

bertahanlah di masa kini.

Jadikan pandemi ini,

saat untuk tetap saling menghargai,

hingga waktunya bersama lagi.

R.